Sunday, January 12, 2014

Tentang Kebenaran Yang Harus Diikuti


oleh Hasan al-Jaizy

Wajiblah kita ketahui bahwa Allah Ta'ala tidaklah jadikan kebenaran berdasarkan akal-akal manusia, tidak pula hawa-hawa manusia. Jika engkau ditanya, 'Apa itu hawa?', maka jawablah serupa ini:

ميلان النفس إلى ما تستلذه من الشهوات من غير داعية الشرع

"(Hawa adalah) kecenderungan jiwa pada apa yang ia nikmati/senangi dari syahwat (kesenangan) tanpa pijakan syariat." [at-Ta'riifaat, hal. 257, al-Jurjany (w. 816 H), Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, cet. 1 - 1403 H]

Kenapa tidak berdasarkan akal semata? Karena akal-akal manusia saling berbeda. Hawa mereka seringkali saling bertentangan. Andaikata kebenaran berpijak pada hawa manusia, maka akan saling berbedalah sebagaimana bedanya warna, wajah, dan tabiat tiap dari mereka.

Karena itulah, ingatlah firman Allah:

وَلَوِ ٱتَّبَعَ ٱلْحَقُّ أَهْوَآءَهُمْ لَفَسَدَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ


"Andai kata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya." [Q.S. Al-Mu'minuun: 71]

Ingatlah jika begitu, bahwa kebenaran datangnya dari Allah dan dari Rasul-Nya; dari al-Kitab dan as-Sunnah. Begitulah, meskipun mungkin sedikit pengikut dan pemeluknya. Mungkin menjadi minoritas, namun janganlah tertipu akan kuantitas, melainkan gagaslah kualitas.

Seorang imam yang zuhud, gurunya para guru, Syaikhul Islam Fudhayl bin Iyadh (w. 187 H), pernah berkata:

اتَّبِعْ طُرُقَ الْهُدَى وَلَا يَضُرُّكَ قِلَّةُ السَّالِكِينَ وَإِيَّاكَ وَطُرُقَ الضَّلَالَةِ وَلَا تَغْتَرَّ بِكَثْرَةِ الْهَالِكِينَ

"Ikutilah olehmu jalan-jalan hidayah (petunjuk)! Janganlah sedikitnya pengikut jalan mencelakakanmu. Dan jauhilah olehmu jalan-jalan dhalalah (kesesatan)! Janganlah banyaknya orang-orang hancur (yang mengikutinya) membuatmu tertipu." [Lihat: al-I'tisham, 1/136, asy-Syathiby, Daar Ibn al-Jawzy KSA]


Wallahu a'lam.

2 comments:

  1. alhamdulillah ana tunggu-tunggu tulisan antum disini akhirnya muncul lagi...

    ReplyDelete