Sunday, July 14, 2013

Menata Kehidupan Dengan Akal

ORANG berakal mengatur kehidupannya di dunia dengan akalnya. Jika ia miskin, ia akan bersungguh-sungguh bekerja dan mencari uang agar ia tak terhina di mata makhluk. Lalu ia pun mengurangi jumlah pengeluarannya dan memuaskan diri dengan apa yang ada. Karena itu, ia pun hidup dalam keadaan terbebas dari budi orang lain dan terhormat di tengah masyarakat. Sedang jika ia kaya, ia wajib mengatur pengeluarannya, karena ia bisa saja jatuh miskin, lalu ia mesti menghinakan diri kepada orang lain. Salah satu bentuk bencana adalah boros dan melampaui batas dalam berbelanja karena ingin menghina musuk. Padahal, tindakannya ini sejatinya justru bisa membuat musuh menyihirnya.

Seseorang seyogyanya mengambil jalan tengah dalam segala situasi, serta menutupi sesuatu yang tak layak diceritakan kepada orang lain.

Suatu saat, seorang petugas yang memandikan jenazah menemukan uang yang banyak. Ia lantas membelanjakannya sesuka hati. Ketika cerita penemuan uang itu diketahui orang banyak, harta yang ada di tempatnya disita. Ia pun kembali menjadi tak punya apa-apa.


Tindakan bijaksana adalah menyimpan harta, hemat dalam berbelanja dan merahasiakan sesuatu yang semestinya dirahasiakan. Sedang tindakan ceroboh adalah memberitahu istri tentang jumlah harta yang dimiliki. Karena jika sedikit, ia akan dihina. Sedangkan jika banyak, istrinya akan menuntut tambahan pakaian dan perhiasan.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَلَا تُؤْتُوا۟ ٱلسُّفَهَآءَ أَمْوَٰلَكُمُ ٱلَّتِى جَعَلَ ٱللَّهُ لَكُمْ قِيَٰمًۭا وَٱرْزُقُوهُمْ فِيهَا وَٱكْسُوهُمْ وَقُولُوا۟ لَهُمْ قَوْلًۭا مَّعْرُوفًۭا

"Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik." [Q.S. An-Nisa: 5]

Anak juga tak boleh diberitahu jumlah harta, demikian pula sahabat, kita tak boleh menceritakan rahasia kita kepadanya, karena ia sangat mungkin berubah menjadi musuh. Seorang penyair berkata:

احذر عدوك مرة ... واحذر صديقك ألف مرة
فلربما انقلب الصدي ... ق فكان أعلم بالمضرة

"Pasanglah satu kewaspadaan terhadap musuhmu
Tapi pasanglah seribu kewaspadaan untuk temanmu
Karena temanmu bisa saja menjadi musuhmu
dan ia lebih mengerti keburukan (untukmu)"


No comments:

Post a Comment