Sunday, May 20, 2012

Masalah Wanita Dalam Dakwah

oleh Hasan Al-Jaizy

Masalah Wanita dalam Dakwah 

Sebenarnya bukan perkara remeh sedikitpun, dan juga perkara besar, melainkan perkara yang teramat besar. Karena ini berkaitan dengan citra, nama, hati dan agama. Artinya, ketika seorang dai terperangkap dalam jerat setan melalui wanita:

1. CITRA: citra dia sebagai dai yang tadinya terbangun megah bisa runtuh tiba2. Ingatlah berita tentang seorang dai kondang asal Bandung yang tersohor beberapa tahun lalu dengan kalimatnya yang sangat bagus dan easy-to-listen, easy-to-understand. Padahal beliau hanya berpoligami, tidak berpacaran. 

2. NAMA: nama dia yang sebelumnya terendus harum bisa tak terendus lagi. Atau bahkan nama tersebut dianggap tak punya massa lagi, entah massa yang bermakna kuantitas bobot atau massa yang bermakna pendukung/pengikut.

3. HATI: hati yang di fajar dakwah sejernih telaga Kautsar, namun mengeruh sekeruh mendung di tengah perjalanan dakwah; dan di petang, warna hati seperti kelam senja tak bertuankan matahari tak tersinarkan rembulan. Akhirnya gelap kemudian. INILAH YANG PALING BERBAHAYA! Ikhlas telah tergadai, dan syahwat membayarnya. Kepada Allah semata kita berharap agar hati kita ditetapkan dalam ruang keikhlasan, tak sedikitpun ruh ikhlas kita keluar dari celah-celah dan lubang-lubang kecil ruang itu. 

4. AGAMA: dan ketika seorang dai ia mengatasnamakan agama dalam theater dakwahnya, namun tujuannya adalah pujian, sanjungan atau wanita, maka ia akan dapatkan segalanya kecuali balasan di surga. Naudzubillah. Agama dijadikan alas demi keinginan jiwa?


Dan jikalau seorang dai, thalib al-ilm atau siapapun muslim masih memiliki orang tua yang hidup, hendaknya berbakti senantiasa dari fajar hari ini hingga fajar esok hari, dan terus bergulir. Agar senantiasa pula mereka ridha terhadap sirah atau perjalanan hidupnya hingga menjadi berkah direstui.

Tidak ada yang lebih ikhlas manusia mendoakan manusia lain kecuali seorang ibu atau ayah pada buah hatinya. 

Selagi ada kesempatan, maka jangan tunggu hingga di akhir sempatnya. Karena ketika tiada sempat terwujud, maka menangis dan menyesal takkan menghadirkan kesempatan. Separuh nafas bait doa ibu untuk anaknya lebih berharga dibanding sebanyak apapun air mata keluar dari anak ketika kesempatan berbakti telah tiada.

Selagi orang tua masih hidup, marilah kita hadirkan kehangatan bagi mereka. Karena kehangatan itu....semoga hangatkan pula kondisi kita dunia akhirat. Amiiin. Untuk semua dai, thalib al-ilm, dan muslim.



No comments:

Post a Comment