Thursday, April 19, 2012

HASAD [IRI]

oleh Hasan Al-Jaizy

HASAD [Iri]

I. MUQADDIMAH

HATI. 
Jika di sana ada denyutan hidup, maka di sana ada keinginan. 
Jika di sana ada keinginan, maka di fikiran ada gambaran. 
Jika di fikiran ada gambaran, maka di lapangan ada percontohan. 
Jika di lapangan ada percontohan, maka pasti ada pelaku mencontohkan.
Jika telah tercontoh dan dianggap baik, maka lahirlah keinginan.
Jika ada keinginan, hasrat itu nyata.
Namun tidak semua hasrat yang nyata menjadi kenyataan.

II. PEMBAGIAN HASAD DALAM ISLAM

Dalam Islam, Hasad [Iri] terbagi menjadi dua:
1. Hasad yang Tercela [الحسد المذموم]
2. Hasad yang Terpuji [لحسد الممدوح]


III. HASAD YANG TERCELA

Pengertian: 
أن يتمنى المسلم زوال النعمة عن أخيه المسلم، بحيث إنه يكره حصول هذه النعمة لأخيه المسلم
"Seorang Muslim benci akan adanya kenikmatan pada saudaranya dan berharap kenikmatan tersebut hilang darinya." [islamweb.net]

Hasad semacam ini adalah pangkal dari kesombongan, meskipun awalnya sang penghasad adalah orang yang bersih hatinya.
Ingatlah kisah Iblis, dengan hasad ia menjadi sombong dan durhaka, meskipun sebelum terciptanya seorang khalifah untuk bumi, Iblis adalah hamba Allah yang begitu taat.

Hasad semacam ini yang kita sebut Iri Dengki

Contoh:
A adalah mahasiswa yang berprestasi dalam khitabah [ceramah] sehingga mampu menjuarai beberapa kompetisi. Di sisi lain, B adalah mahasiswa yang merasa mempunyai kemampuan ceramah namun tak punya kesempatan untuk menginjak rumput lapangan atau sekedar merasa punya kemampuan semata. Si B pun merasa iri dengan 'kelebihan' si A, entah dari segi prestasi, atau dari segi skill. Ia berharap kelak si A tak mampu lagi berceramah apapun sebabnya. Dan ia berharap kelak dirinya lah yang akan mengungguli atau menggantikan tahta kemasyhuran.


 IV. HASAD YANG TERPUJI atau BOLEH

Pengertian:
أن يتمنى الإنسان حصول النعمة له كما حصلت لأخيه المسلم، ولكن من غير أن يتمنى زوالها عنه
"Seorang Muslim berharap mendapatkan kenikmatan seperti kenikmatan yang telah didapatkan saudaranya, namun tanpa ada harapan agar kenikmatan tersebut hilang dari saudaranya."

Hasad semacam ini sama sekali tidak dilarang. Bahkan terkadang menjadi hasad yang terpuji; selagi kenikmatan tersebut adalah kebaikan yang bermanfaat, seperti hafalan Al-Qur'an atau sedekah. Tabiat manusia adalah iri terhadap kebaikan yang ada pada orang lain. Sebagaimana seringkali kita bermimpi ingin menjadi seorang hafidz Al-Qur'an, atau guru, atau dosen, atau seorang pengusaha besar yang senang memberi. Hasad semacam ini kita sebut Iri, dan juga disebut Ghibtah.

Contoh:
""Tidak dibenarkan iri hati kecuali kepada dua orang; seorang lelaki yang dikaruniai Allah hapalan Al Qur’an maka ia membacanya sepanjang malam dan siang, dan seorang lelaki yang diberi Allah harta lalu ia menginfakkannya sepanjang malam dan siang”" [Hadits Sahih Muttafaq alaih]


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/370165149691543

Pertanyaan: "Apakah mungkin hasad yang buruk dan yang baik itu tercermin di dunia maya ketika seorang Muslim menggunakannya?"

Jawaban: "Selama ada kehidupan dalam sebuah space, maka di sana akan ada rasa iri, entah baik atau buruknya ia berbentuk. Dan dunia maya adalah sebuah space yang 'hidup' dan aktif, karena terdapat di dalamnya tercermin eksistensi kehidupan.


 Contoh real di Facebook saja [yang terdekat]:

[1] A cukup aktif di FB dan meng-exist-kan diri dengannya via updating status bermanfaat atau wasilah lain. Sehingga, banyaklah orang menimba faedah darinya dan ujungnya punya banyak teman baik. Lalu, B juga sering menyelam di FB namun tidak punya keinginan atau kemampuan seperti si A. Ia pun iri sehingga berharap semoga si A akan ketahuan aib pribadinya atau dijelek-jelekkan di depan orang agar hilanglah kebaikan-kebaikan tersebut. Atau, si B justru menjuluki si A dengan julukan atau cap yang tidak sesuai dan tak tercermin, seperti 'Sok Alim', 'Sok Bersih', Sok Putih', 'Sok Clean', 'Tukang Membangun Citra', dan semacamnya.

[2] A [sebagaimana keterangan sebelumnya] berteman dengan X di dumay. X adalah orang yang ingin seperti A dalam hal positif, namun tak mampu. Tapi, irinya X ini tak menjadikan ia berharap agar kenikmatan untuk A terhilangkan, malah justru X berdoa semoga A menjadi orang yang semakin baik dengan kenikmatan tersebut.


 Ada kalimat:

"Iri Tanda Tak Mampu"

Cuma, terkadang orang yang dengki itu sebenarnya mampu, namun ia tak mengasah kemampuannya, melainkan sekedar menyibukkan hati untuk mengalamatkan kejelekan pada pihak yang lebih baik darinya.

Boleh juga kita katakan: "Iri karena dikalahkan" atau "Iri karena disaingi"


Plus:

Iri itu sebenarnya tidak enak dan melelahkan. Terlebih jika menjadi dengki, justru akan menyakitkan hati sendiri.
Namun, diirikan itu sebenarnya enak dan mengademkan. Terlebih jika diirikan karena kebaikan, mungkin saja itu bisa memacu diri sendiri untuk menjadi lebih baik.

Nah, sekarang...Anda mau mana: Cuma jadi pengiri, atau pengen diirikan dalam kebaikan?

Hati-hati: Rasa iri yang ditimbun, disimpan tanpa ada upaya atau penyeimbangan, sangat berpotensi menjadi dengki!


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/370171019690956



No comments:

Post a Comment

Post a Comment