Thursday, April 5, 2012

Pencarian Ilmu di Era Modern

oleh Hasan Al-Jaizy

Kami dapatkan, risalah Syaikh Muhammad ibn Al-Utsaimiin tentang wasilah modern dalam mencari ilmu sangat sesuai realita dan menunjukkan bagusnya pemahaman beliau akan waqi. Berikut kesimpulan2 dan faedah yang kami tangkap dari risalah beliau:

1. Mungkin saja seorang yang mencukupkan diri pada kitab dan mendengar kajian lewat MP3 atau radio, menjadi seorang yang alim [baca: berilmu]

2. Buku adalah representasi dari penulisnya. Terlebih rekaman kajian, yang mendengarnya sama dengan mendengar kajian secara langsung.

3. Kalimat "Barangsiapa yang mencukupkan pada buku, maka ia lebih banyak salah [faham] nya" tidak benar secara mutlak dan jua tidak salah secara mutlak.


Yang ini dari kami [melihat realitas langsung]:

[1] Kuliah di kampus Islami, TIDAK MEMASTIKAN seorang pelajar menjadi alim dan layak disebut ustadz setelah lulusnya; karena semua tergantung pada dirinya dan kualitasnya. Selama ia kuliah, apakah ia benar belajar atau sekedar formalitas!?

[2] Begitu juga, menghadiri kajian secara rutin, meski terpuji dan termasuk bagian dari Jihad, tidak memastikan attender menjadi alim kemudian. Jangan samakan antara kajian rutin mingguan atau 2-3 x seminggu dengan talaqqi pada seorang Syaikh tiap hari.

[3] Ada mungkinnya seorang yang sangat rajin membaca rutin hingga memiliki kadar ilmu yang kuat dan LEBIH KUAT dibanding seseorang yang rajin menghadiri kajian. Karena ibroh di sini bukan sekedar 'aktif', melainkan jawaban dari pertanyaan: 'Apakah ia mengambil faedah dan menjaganya?'

[4] Ada mungkinnya seorang yang rajin browsing Internet untuk mencari ilmu lebih berilmu dibanding seorang yang kuliah di kampus Syariah. Bahkan, orang yang mencukupkan pada kajian rekaman MP3 namun didengar setiap hari di berbagai aktifitas lebih berpeluang besar untuk menjadi seorang alim dibanding yang rutin kuliah atau ikut kajian namun tak muraja'ah.


Mungkin ada beberapa ikhwan menyangkal:

"Asal atau dasar mencari ilmu adalah hadir dalam kajian, sebagaimana ulama salaf. Sedangkan mencukupkan diri pada kecanggihan teknologi [PDF, Maktabah Syamilah, mp3] adalah bid'ah"

Tanggap:

"Ya, benar. Dasar mencari ilmu adalah talaqqi langsung dengan bimbingan seorang syaikh/ustadz. Tapi jangan lupa realitas ini:

Dalam satu pengajian, terdapat 100 orang. Sang ustadz ceramah, belasan pertanyaan di otak tertera. Mau bertanya pun tidak mungkin, karena ada puluhan ikhwan juga ingin bertanya. Setelah kajian, segalanya selesai, faedah2 adalah yang tercatat di notes [itu pun kalau mencatat]. Itu pun akan berfaedah kalau muraja'ah, nah...kalau tidak!?

Bandingkan dengan ini:

Seseorang mendownload mp3 kajian penjelasan kitab Tauhid, misalnya. Untuk mp3 pertama, ia dengarkan pagi hari, lalu diulang pada sore hari, dan sebelum tidur pun ia dengarkan ulang. Tak lupa mencatat. 

Sekarang, lebih kuat mana faedahnya?

Cap bid'ah di sini pun membutuhkan 'penyangkalan'. Jangan bermudah2an dalam mencap ini-itu bid'ah.

Walau tak disangkal, dasar mencari ilmu adalah bimbingan syaikh dan ustadz. Pertanyaannya: Apakah Syaikh dan Ustadz di pengajian membimbingmu? Atau, bukankah engkau hanya hadir dan menyimak?"


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/360815313959860

No comments:

Post a Comment