Sunday, April 1, 2012

Haruskah Segala Kritik Didengar?

oleh Hasan Al-Jaizy

Ibarat seorang ayah akan dicela selagi ia tunggangi unta, dan anaknya berjalan iringi keduanya.

Bagaikan seorang anak akan dicela selagi ia tunggangi unta, dan ayahnya berjalan iringi keduanya.

Bak ayah dan anak akan dicela selagi keduanya tunggangi unta, dan tampak ia terbebani berat keduanya.

Laksana ketiganya, takkan habis berujung celaan dan kritikan, selagi kaki masih mampu berpijak...selagi pusara tak mengandung jasad

Maka, jangan berhenti berjalan karena celaan takkan terhenti. Jikalau kau berhenti, celaan semakin cepat alirnya menghantui. Selama yakinnya engkau meniti jalan lurus, maka tetaplah lurus.

Karena:

Hati pendengki takkan irinya berhenti
Lisan pelaknat takkan berisitirahat
Jika sabar dan keteguhan bukanlah keistimewaan
Lalu, apalah arti sebuah kemenangan?

Sementara kemenangan takkan hadir tanpa jerih
Biar tersiram cela...meski luka-luka terasa perih
Bukankah malam adalah selimut gelap adanya?
Lalu terbitlah kemudian mentari setelah berakhirnya

Tiada akhiran jika tiada awalan
Tiada perjalanan tanpa tepian
Tiada temu jika tiada berpisah
Tiada riang tanpa diselingi gelisah

Dan bukankah tabiat dunia adalah ujian dan fitnah?
Dan bukankah taubat dari dunia mewariskan maghfirah?
Dan mengapa pujian adalah ujian?
Dan mengapa ujian itu penuh celaan?



No comments:

Post a Comment