Wednesday, June 13, 2012

Cerita Nyata

oleh Hasan Al-Jaizy

Ini adalah cerita dari dan berkenaan dengan seorang mahasiswa yang juga merangkap menjadi pengajar suatu ilmu. Yang diajar kali ini juga mahasiswa, namun dari kampus lain.

Suatu hari Minggu, ia pergi mengajar menuju sekitar tempat tinggal para mahasiswa yang akan diajar. Menuju tempat itu agak sulit, selain karena jauh, tidak ada angkot yang menjangkau. Ia pun pergi dengan kereta ke sebuah stasiun. Sampai stasiun yang dituju, ia menunggu di sebuah halte. Bukan menunggu bis/angkot, melainkan jemputan; karena akan ada seorang mahasiswa yang menjemputnya nanti. 

Hanya saja, ternyata ia harus lama menunggu di terik siang yang panas. Sedang tidak asyik-asyik menunggu, ia didatangi seorang nenek-nenek. Si nenek mukanya melas sekali. Nenek tersebut pun 'curhat', menceritakan kejadian yang barusan dialami. Ternyata [dari cerita tersebut], ia baru saja dicopet di kereta. Ia kehilangan dompet dan beberapa barang yang ada harganya. Tasnya disilet. Ia ingin kembali pulang ke rumahnya di suatu daerah di Bogor. Tangisan kecil pun terburai dari wajah si nenek.

Si nenek meminta derma si mahasiswa; barangkali ia bisa membantu. Di saat itu juga, fikiran si mahasiswa berkecamuk, karena:

1. Ia dalam keadaan lapar yang sangat [berfikir bagaimana ia makan!?]
2. Kondisi sangat panas dalam penungguan
3. Uang yang ia punya hanya sekitar 18.000 [berfikir bagaimana ia makan dan pulang!?]
4. Kecurigaan dan prasangka bahwa mungkin saja nenek ini adalah penipu yang berpura-pura

Saking bingungnya, si mahasiswa merasakan matanya memaksa untuk mengeluarkan air mata. Namun ia urung menangisi diri sendiri. Akhirnya ia pun merogoh semua kantong dan mengumpulkan uang-uang yang ia bawa. Jumlahnya sekitar 18.000. Ia pun menyuguhkan 15.000 ke nenek tersebut, seraya berkata:

"Cuma segini uang saya. Ini sisanya juga cuma 3.000 buat saya. Nenek ambil saja buat pulang ke Bogor."

Nenek tersebut pun berterima kasih sangat. Dan si mahasiswa pun mengantarkannya ke loket statsiun untuk membantunya membeli karcis ke Bogor. Lalu mereka berpisah.

Tentu saja setelah itu fikiran si mahasiswa masih berkecamuk. Bagaimana ia makan nanti?Ia bimbang apakah harus 'ngutang' ke muridnya? Tapi itu memalukan baginya. Yang ada kemudian hanya harapan yang tidak jelas.

Kemudian segalanya berjalan lancar. Ia dijemput, lalu mengajar hingga maghrib; sekitar 4 jam ia mengajar. Ia menyembunyikan rasa laparnya selama mengajar. Uang yang hanya tersisa 3.000 hanya mampu membayar karcis kereta ekonomi. 

Selepas maghrib, ia temukan sesirat amplop di bingkisan makanan dari murid. Tak perlu saya ceritakan detail apa yang terjadi dan dilakukan setelah itu, yang intinya ketika ia membuka amplop tersebut, ia temukan uang 150.000. Dan sama sekali setitik pun ia tak pernah berharap dan membayangkan hari itu akan mendapatkan uang.

Dari 15.000 menjadi 150.000? Berapa kali lipat? 10X LIPAT!!!!


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/403159483058776

No comments:

Post a Comment