Tuesday, June 19, 2012

Fiqh Itu Berdasarkan Kaedah-kaedah

oleh Hasan Al-Jaizy

Kesimpulan bagus dari Syaikh Ahmad ibn Umar Al-Hazimi:

الفقه كله مبني على قواعد، لا يمكن أن يوجد مسألة واحدة فقهية إلا و لها أصل قاعدة فقهية أصولية

"Fiqh itu segalanya berdasarkan pada kaedah-kaedah. Tidak mungkin ditemukan satu masalah Fiqhiyyah kecuali ia memiliki asas/landasan kaedah, entah itu kaedah fiqhiyyah atau kaedah ushuliyyah." [Syarh Al-Qawaaid wa Al-Ushuul Al-Jaami'ah]


Tambahan:

Dalam menetapkan hukum untuk sebuah masalah Fiqhiyyah, perasaan dan kecenderungan jiwa tidak boleh menjadi asas utama. Jikalau boleh, maka dampaknya:

--> Fanatisme madzhab itu tak tercela
--> At-Tatabbu' bi Al-Ashal [mengikuti hukum-hukum yang dianggap lebih enak sesuai hati dalam perkara khilafiyyah dan menolak hukum-hukum yang tidak sesuai dengan hati] atau juga dikenal At-Tatabbu' bi Ar-Rukhas tidak tercela
--> Semua orang [baca: thalib ilm] diperbolehkan menentukan hukum-hukum sekehendak diri dan pendapatnya semata.


 Dan ini semua akan berdampak pada tikaman-tikaman juga porak-poranda hukum Islam. Karena:

1. Tikam Menikam: Tiap individu akan merasa perasaannya lebih benar tanpa memperhatikan kaedah yang tetap [atau: nash]. Akibatnya: tiap-tiapnya berfanatik pada rasa dan menyerang 'perasaan' satu sama lain. Padahal mereka sedang berbicara tentang hukum Allah !!!

2. Porak-Poranda Hukum: Kebid'ahan akan berkembang pesat dan Sunnah yang murni akan redup hingga tak ada sama sekali. Dan inilah yang terjadi di agama Syi'ah, penyimpangan dan kebid'ahan yang dibuat oleh Imam2 mereka berhasil meliburkan kemurnian Sunnah dan memperkasakan pendapat manusia. Lebih tepatnya bukan 'pendapat', melainkan 'nafsu'.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/405702186137839

No comments:

Post a Comment