Tuesday, June 12, 2012

Manhaj Takut-takutan

oleh Hasan Al-Jaizy

Ada suatu gejala hati yang luput dari pembahasan banyak orang masa kini.

Untuk memahaminya, kita bentangkan melalui sebuah cerkat [cerita sikat]:

[1]
"Adalah ASW seorang pemuda yang semangat ikut pengajian dan majelis2 dzikir. Ia suka sekali jika bertemu teman2 sepengajian. Suatu saat, ia mendengar kabar buruk bahwa ternyata pemimpi majelisnya adalah seorang yang memiliki kelainan arah syahwat [misalnya]. Lalu itu tersebar. Dan ternyata banyak anak-anak majelis yang mengaku padanya bahwa mereka adalah korban pelecehan. ASW pun yakin kebenaran kabar itu. Namun ia tak peduli....tak peduli juga ketika teman-teman luar majelis menyuruhnya keluar dari majelis sesat tsb. Ia bersikukuh. Bukan karena apa-apa, namun karena ia TAKUT tidak diakui seorang Ahlus Sunnah [versi mereka] lagi jika keluar dari majelis."

[2]
"Adalah SW seorang ikhwit [baca: ahkwat] baru mengenal sebuah manhaj yang bertaburan dalil-dalil dan terasa begitu haq. Ia juga mengenal komunitas yang "sekata-sehati-sehidup-tapi-mati-sedniri-sendiri"; sehingga ia merasakan kedamaian bersama mereka. Namun, semakin kemari, semakin kental ia dengan komunitas tersebut; hingga seakan tidak ada satu kalimat pun melainkan harus selaras-sejalur-sealiran dengan apa yang diajari oleh ustadz-ustadzah. Jika ustadz mengatakan A, semuanya harus A, tidak ada yang boleh mengatakan E, meski kadang sang ikhwit merasa E lebih bagus-peduli-normal-moderat-syar'i dibanding A. Ketika umat bertanya padanya: 'Bagusan mana: A atau E?' Ia pun menjawab 'A' karena TAKUT jika mengatakan E, ia tidak diakui Ahlus Sunnah lagi, atau satu aliran dengan kawan2."


Menyedihkan adalah

--> Ketika seseorang berpura-pura dalam berucap yang selaras dengan apa yang diinginkan jua oleh rekan sealirannya; sementara hati tak hendak melafadzkannya dan berkata lain.
--> Ketika seseorang menyatakan nistanya fanatisme, sementara ia sendiri adalah seorang fanatik tanpa sadar.
--> Ketika seseorang lebih TAKUT pada cap dibanding berkata benar.

Majelis yang di dalamnya ada pendidikan doktirinisasi tanpa menerima kritisasi, akan menyebabkan murid-murid terlatih untuk berpura-pura menerima dan menyebarkan doktrin yang sama, padahal segala itu justru berlandaskan rasa takut pada imam, guru dan kawan-kawan.

Betapa adanya seseorang mencela ini dan itu, mengatakan ini sunnah dan itu bid'ah, hanya karena ingin 'diakui' bahwa ia adalah teman satu golongan. 

Dan seterusnya...dan seterusnya...

Pahit ketika melantunkan kebenaran, itu lebih manis dibanding manisnya rasa ketika dianggap dan diakui, padahal hati menginginkan lain.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/402601589781232

No comments:

Post a Comment