Sunday, September 30, 2012

Logikanya Gus Su'aid


oleh Hasan Al-Jaizy

Rupanya, kebiasaan ngeritik orang yang dimiliki oleh Purnomo adalah turunan karakter bapaknya, yaitu Gus Su'aid. Gus Su'aid adalah orang terkenal; karena berprestasi dan jenius. Banyak hafalan, dapat gelar akademik di negeri padang pasir, pintar bicara dan 'nyelekit'. Kalau Purnomo suka sekali mengkritik orang2 atasan, seperti mudir, direktur, ketua organisasi dan lainnya, Gus Su'aid lebih suka mengkritik aliran-aliran yang menurut dia keras dan tidak sesuai pemikiran kelompoknya.

Mungkin ada yang bertanya, Sketsa II kemarin kok ga ono terusane? Malah buka lapak baru. Nah, yang bertanya begitu dalam fikirannya, berarti kena jebakan batman. Anyway....

Gus Su'aid ini dongkol sekali dengan ajaran dari pondok sebelah. Bukan karena ia dulu punya kenangan pahit bersama pengurus pondok tersebut, melainkan sekadar sebal karena pondok sebelah dia pandang begitu keras dan kaku. Dulu, terorisme yo ga ono. Sekarang, sikit-sikit tersiar kabar bom, tawuran, pelecehan pemeluk aliran lain dan sebagainya. Nah, Gus Su'aid ini kepingin semua orang tidak ekstrim dan harus sesuai pemikirannya. Bagi Gus Su'aid, semua aliran dalam Islam yo podo mlebu surgo; cuma caranya ya different-different [beda-beda...wkwk].

Akhir-akhir ini Gus Su'aid diwawacandai oleh beberapa wartawan utusan dari koran Terjajah. Kesempatan emas. Terlebih topik wawacanda mengenai ekstrimisme dan radikalisme yang terjadi. Berikut cuplikan singkatnya:

--> Terjajah: "Gus, sampeyan pernah bilang, pondok sebelah itu radikal dan ekstrim. Dasarnya apa?"

--> Gus Su'aid: "Dasarnya ya ga berdasar. Cuma sebal aja. Mosok pondok saya ngadain marawisan, langsung dibilang bid'ah. Pondok saya ngadain ziaroh ke makam Wali Band, langsung dibilang syirik atau pro-maksiat. Ntar jangan-jangan kalau saya ikut tawuran SMA, dibilang khowarij pula."

--> Terjajah: "Kalau dari sisi ilmiah atau dari tinjauan histroris?"

--> Gus Su'aid: "Ini cuma sisi perasaan saja kok. Kita kan sesama manusia kudu jaga perasaan antar kota antar provinsi. Kalau memang mereka beda kota beda provinsi secara adat atau ideologi, mbok yo jangan seudele ngecap kami bid'ah dan syirik gitu. Kalau tinjauan historis, se'...tunggu 2 hari lagi. Saya belum tahu jawabannya gimana. Ntar tak tanya anak sulungku, Purnomo. Dia lebih mahir soal merekayasa histroi. Sekarang dia lagi rapat di Forum Tahdzir Islamy [FTI]."

--> Terjajah: "Adakah kaitan radikanya mereka dengan luar negeri?"

--> Gus Su'aid: "Ada. Ya, karena dana pembangunan dan segalanya mereka dari negara padang pasir yang memiliki aliran air keras. Jadi, pendanaan juga memberi influence pada ideologi. Belum lagi, lulusan negeri minyak banyak yang ngajar dan mengajari faham radikal."

--> Terjajah: "Bukannya sampeyan juga ambil gelar doktor di negeri minyak?"

--> Gus Su'aid: "Itu dhulluuu..."

--> Terjajah: "Apakah Anda juga melabeli Raja Minyak sebagai pendana ekstrimis?"

--> Gus Su'aid: "Oh, tentu tidak. Harus dibedakan. Saya cuma melawan radikalisme, bukan individu tertentu terlebih Raja Minyak. Saya menghormatinya kok. Kamu tahu sendiri toh, saya dulu lulus di sana? Jangan sampai nanti ada pemberitaan bahwa saya mencaci Raja Minyak lho!"

--> Terjajah: "Tenang, Gus. Kira-kira, ada berapa pesantren beraliran ekstrimis radikal di negeri ini?"

--> Gus Su'aid: "Yang baru terdata, ada 12. Di antaranya: Al-Amak, Al-Jabar, Al-Kalin, Al-pukat, Al-Umni, Al-Asan dan lainnya. Biasanya ustadznya memakai nama Abu-abu gitu."

--> Terjajah: "Apakah di pondok yang Anda asuh sekarang ini, ada ustadz atau santri yang berpaham condong pada radikalisme?"

--> Gus Su'aid: "Ada, tapi jangan kasih tahu siapa-siapa ya. Ini rahasia! Jangan direkam. Saya bisiki saja."

"Namanya Suyuthi. Dia pintar membantah kami-kami para senior dan sesepuh. Makanya, kami berusaha buat dia tidak betah dengan cara memotong gajinya dengan alasan rasional."

No comments:

Post a Comment