Monday, November 19, 2012

Sketsa XV

Rupanya Purnomo tidak puasa mutih selama 3 hari sebelum malam ritual. Ia membatalkan puasa mutihnya dengan melahap pepes bawal 3 hari berturut-turut di kedai tanpa sepengetahuan para sesepuh golongan hitam. 

Geram Ki Joko memuncak. Tiba-tiba ia berseru keras, "Bukan kau satu-satunya penghalang ritual ini! Ada pihak lain yang berupaya menggagalkannya!!!!" 

"KALIAN YANG BERSEMBUNYI DI BALIK ILALANG, KELUARLAH! Sebelum kucincang kalian semua!!!" teriak Ki Joko Bodo keras sekali.

Serentak 7 pasang mata lainnya menatap ke arah ilalang yang ditunjuk Ki Joko....!!!

Siapa? Ada siapa di balik ilalang????

Beberapa helai ilalang itu pun bergerak; menandakan ada kehidupan di sana. Belum sempat menampakkan diri, terdengar suara keras dan membenci, "PURNOMO! Aku sungguh tak pernah menyangka seumur-umur kau terlibat dalam kesesatan ini!!!"

Purnomo terhenyak dengan teguran keras itu. Yang lebih mengejutkannya, ia sangat mengenali suara itu. Berludah-ludah ia telan demi seimbangkan rasa gugupnya.

"PURNOMO! Kau dahulu bukanlah orang yang mudah ikut. Kau punya pendirian! Sekarang, kau membebek pada setan-setan ini???" tegur orang misterius itu lagi. Ki Joko menggeram.

"Keluarlah kau, penakut! Kau menantangku tuk menguliti habis kau punya kulit???"

Maka, keluarlah dari ilalang itu sosok yang membuat semuanya terkaget. Tercekat. Tak menyangka! Ki Haji Asnawi! Seorang sepuh perguruan hijau! Bagaimana mungkin ia ada di sini!???? Ki Joko pun terkaget tak habis fikir!

"Kalian tentu kaget keberadaanku di sini! Aku sudah kirakan itu. Namun kekagetan kalian tak sebesar kagetku melihat Purnomo di sini!"

Purnomo merunduk dan merasa serba salah. Ia ditinju dari golongan hitam, ditegur keras pula oleh golongan hijau. Apakah ini sudah saatnya ia harus ke golongan sawah? Ingin sekali ia terduduk, lalu terjatuh karena keberatan fikiran. Ingin pula ia berkata, "Maafkan aku, guru!" Namun kalimat itu terasa tak pantas dibibirkan kini.

Dan Ki Joko, sejatinya cukup gentar menghadapi Haji Asnawi. Ia membenci tokoh ini karena memang sulitnya dipengaruhi dan terjaga dari magis. Namun, sebagai dukun satanis terkenal, ia kedepankan gengsi.

"Ki Asnawi, jangan kau kira aku tak gentar dengan kehadiranmu. Memang, itu cukup mengagetkan, namun ada atau tidaknya engkau bisa aku selesaikan. Kau hendak berduel denganku di sini, sehingga kita tahu siapa yang akan hancur?"

"Jangan, Ki Joko...Jangan berlaku segegabah itu," seru seorang pengikut ritual dari perguruan hijau. Karena bagaimanapun ia juga merasa Haji Asnawi adalah guru dan pembesar perguruannya.

"Kau pula! Ingin ikut aku atau guru tuamu itu? Jika hendak kembali padanya, jangan dekati aku dan bersiaplah kehancuranmu menjelang fajar. Juga kau, Purnomo!" gertak Ki Joko penuh amarah.

Ia menambahkan, "Ki Asnawi, dengan kekuatanku, kau bisa ku musnahkan tak lama lagi!" Ki Joko menatap Haji Asnawi dengan sombong.

Sementara di sisi ilalang yang berlawanan, 3 pendekar muda terdiam menonton semuanya. Mereka tidak berkata apapun. Mereka membeku karena terkaget. Ki Joko Bedon dikiranya akan menunjuk tempat persembunyian mereka. Rupanya ada orang yang juga mengintip di balik ilalang seberang. Dan lebih mengejutkan lagi, orang itu adalah Ki Haji Asnawi!!! Bagaiman mampu orang setua beliau ke tempat ini di kegelapan dan kesendirian???? Seberapa sakti beliau???

"Aku tak sendirian," tangkis Haji Asnawi dengan kewibawaan tercurah besar. "Aku di sini bersama orang lain. Mereka lebih muda dariku dan darimu. Dan kau takkan bisa mengalahkan mereka, wahai Dukun Setan!"

"Cuih! Siapa mereka itu? Aku tak peduli! Yang ku tahu belum ada yang bisa kalahkan keilmuanku!"

"Hmm...kalimat sombongmu akan berhenti di situ. Kupanggil saja mereka. Ayo, keluarlah kalian dari ilalang," seru Haji Asnawi.

Lalu terdengarlah suara gesekan dan terlihat ada ilalang yang bergoyang dari suatu sudut....Ki Joko menunggu dengan sedikit kecemasan...siapakah itu????

....

No comments:

Post a Comment