Wednesday, December 12, 2012

CAT : [23] "CUCI MATA"

oleh Hasan Al-Jaizy


Mata saya dua biji. Berapapun yang Anda punya, saya nggak nanya. Mata saya terpejam ketika tidur. Saya tidak tahu, mungkin saja mata Anda tetap terbuka ketika tidur.

Mata, kata orang, adalah jendela dunia. Dengannya, kita melihat alam. Kita bisa melihat penampakan huruf-huruf di buku, paras cantik wanita, nampannya wajah sebagian pria, dan betapa mengerikannya waria.

Seseorang akan condong melihat ulang apa yang ia suka. Pria-pria suka curi-curi pandang. Fitrahnya, mereka sukai wajah cantik menarik atau kebeningan. Tapi, penyalahgunaan itu tetap dipermasalahkan. Karena tidak memfungsikannya sebagaimana wajarnya jika ditinjau dari segi agama dan sosial. Sedangkan wanita, objek pandang, adalah makhluk yang paling mudah merasa dipandang. Perasaan mereka peka sekali. Jadi matching, cocok dan serasi. Pria peka

dengan pemandangan tertentu, sementara wanita peka ketika dipandang.

Wanita yang tidak memakai jilbab misalnya. Ketika ia berjalan di jalanan lalu kebetulan melihat seorang pria yang juga kebetulan sedang melihat dirinya, maka secara otomatis tangan wanita -entah kiri atau kanan atau kanan kiri oke- akan menyentuh salah satu bagian dari kepalanya. Untuk apa? Untuk menata rambut. Ada perasaan takut meski sedikit terlihat tidak gres dipandang.

Ketika seorang wanita merasa dipandang oleh pria yang guanteng atau pria yang ia kagumi atau pria yang ia sukai, maka perasaan itu akan membuat beberapa anggota tubuhnya merespon. Seperti tangan tadi.

Tapi, itu urusan mereka.

Cuci Mata adalah perbuatan bersenang-senang dengan melihat pemandangan yang bagi pemilik mata indah. Idiom ini kerap dipandang negatif, karena menyangkut masalah syahwat, nafsu, dan iler. Tetapi tidak mesti begitu jika mau melebarkan sayap makna cuci mata.

Pantai -menurut sebagian orang- adalah tempat wisata yang terbaik untuk mencuci mata dan wisata panorama.

Perpustakaan -bagi minoritas manusia- adalah tempat ternyaman untuk mencuci mata dan wisata keilmuan.

Cuci mata di perpustakaan membutuhkan syahwat ilmiyyah membaca buku. Orang yang jarang baca buku atau tidak pernah masuk perpus akan grogi atau gentar sendiri ketika pertama masuk perpus. Seperti kawan-kawan kita yang sholatnya setahun sekali atau yang tidak pernah shalat di mushalla. Ketika masuk mushalla selain Jum'atan, mereka merasa asing dan grogi sendiri.

Bagi para pembaca buku yang kecanduan, sehari tidak cuci mata dengan melihat deretan huruf-huruf berbaris, maka hidupnya akan terasa hampa. Orang yang membaca Al-Qur'an tiap selepas shalat wajib dengan mushaf tertentu, ketika lepas sehari luput dari mushaf tersebut, ia akan merasa rindu sejadi-jadinya.

Beberapa teman yang belum Allah rizkikan kemampuan membaca kitab gundul, melihat kitab gundul dengan kepusingan tersendiri. Berbeda dengan orang Arab yang terbiasa membacanya, atau pelajar yang sehari-hari mempelajarinya, justru bagi -sebagian- mereka kegundulan tulisan itu adalah taman-taman indah berbunga yang bisa dipetik darinya banyak-banyak bunga.

Dari situ kita ambil sebuah benang merah. Benang putih juga boleh. Yakni bahwasanya untuk menjadikan amalan mencuci mata bermakna, maka pelaku tidak hanya sekadar memandang dan menatap. Melainkan harus ada pemaknaan, gambaran makna, dan bayangan.

Para pencuci mata di pantai, tidak sekadar menatap sembari melongo dan menjulurkan lidah. Mereka mencerna apa yang dipandang.

Sekarang, bagaimana dengan para pembaca buku? Apakah mereka sekadar cuci mata memuaskan mata dengan penampakan barisan huruf saja? Tentu tidak, ndro. Tetapi harus ada pemaknaan, gambaran dan bayangan di akal dan hati.

Maka, jadilah pencuci mata yang benar-benar mencuci.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/473128259395231

No comments:

Post a Comment