Sunday, December 23, 2012

CAT : [57] "GIGI-GIGI ANAK-ANAK"

oleh Hasan Al-Jaizy


Seperti Ariel, murid saya yang kemarin -sudah tahu ujian akhir term- malah tidak hadir. Cari masalah saja anak itu. Membuat guru dan staf menambah beban. Gigi Ariel yang kotak-kotak rupanya bisa sedikit menetralisir perasaan. Tadinya dongkol sedangkal dengkul. Tapi sudah tidak dongkol lagi.

Seperti Hasan, murid saya di Borneo dulu. Anak Madura yang paling bandel sepedepokan. Umurnya baru 7-8. Kepala botak dan besar berbentuk. Sangat bandel dan bisa menghina guru di depannya. Kumal, sulit disuruh mandi, bau pembuangan sampah dan nakalnya minta ampun. Tetapi jika sedang waras, ia baik dan penurut. Kalau sudah senyum, terlihatlah gigi-gigi lucu kotak-kotak tapi kotor.

2008, pernah hiking, jalan kaki dari Bogor menuju Kab. Sukabumi [tepatnya Parungkuda]. Menelusuri rel kereta api yang ketika itu sedang tidak beroperasi. Berdua bersama teman lama. Di tengah perjalanan, kami bertemu dengan sekumpulan anak-anak desa. Mereka sedang

bermain di sebuah parit. Tepi rel. Adem sekali desa itu. Rupanya mereka sedang mencari ikan kecil sore itu. Beberapa anak menyerok air. Berharap mengais ikan. Airnya jernih. Sampingnya sawah-sawah. Di kolong langit.

Lalu kami sapa anak-anak itu. Sayang saya tak bisa berbahasa Sunda. Sementara teman saya bisa. Untung saja di sana tidak ada gadis atau emak-emak bicara Sunda. Kalau tidak, bisa klepek-klepek saya. Lebih untung lagi Sunda Bogor tidak se-aduhai- Sunda Bandung atau Cianjur.

Anak-anak itu riang sekali. Saya pegang beberapa kepala mereka. Anak-anak desa. Mau jadi apa kalian nanti? Jika aku sudah menua nanti, kelakkah kalian jadi pemimpin bangsa ini? Anak-anak kota sudah terlanjur gila. Kalian tetaplah di sana dengan kepolosan dan ceria.

Lalu, saya ajak foto bareng...mereka senang sekali. Kami pun berpisah. Melanjutkan perjalanan...menuju Sukabumi.

4 hari kemudian, saya kembali telusuri rel menuju Bogor. Kali ini sendirian. Teman saya menyerah. Jam 9 pagi start dari stasiun Parungkuda. Saya berjalan kaki. Teman saya naik angkot ke Bogor.

Siang menjelang Ashar. Entah berapa kilo terlampaui. Saya melewati daerah anak-anak 4 hari lalu. Kembali saya lihat mereka sedang bermain. Ada sebuah lapangan di dekat rel. Saya memperhatikan mereka sambil berjalan. Mereka pun kemudian melihat saya. Beberapa mereka bersorak. Menyambut saya. 'Itu om yang waktu itu,' salah satu mereka berteriak. Itu seingat saya.

Lalu mereka menghampiri. Beberapa bicara bahasa Sunda. Tapi, yang saya fahami, mereka minta difoto lagi. Akhirnya kita foto bareng lah. Lihatlah gigi-gigi anak-anak itu. Mereka tersenyum dan tertawa. Riangnya mereka.

Setelah berfoto, kita berpisah. Salam berpisah. Dadah dadah. Melambaikan tangan. Menyentuh perasaan. Ada beberapa orang desa sepertinya melihat. Momen itu selalu teringat.

Yang kini saya berfikir mungkin mereka sudah kelas 6. Atau sudah SMP. Kelak mereka yang memimpin bangsa. Dan kenapa bertanya tentang mereka? Kenapa berfikir mereka? Apakah sudah telat saya berfikir bahwa saya pun masih ada kesempatan menggembala?

Anak-anak itu begitu polos. Jika mereka tertawa, mereka tanpa pamrih pamerkan gigi. Tak peduli bentuknya kotak atau jajaran genjang. Bahkan ada yang kerucut.

Sedangkan yang dewasa tidak lagi polos. Tidak lagi bisa sembarangan tertawa dan pamerkan gigi.

Kenapa begitu?

Karena ketika kita menyadari kekurangan sendiri, seketika kepolosan semakin tak terwujud.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/477559925618731

No comments:

Post a Comment