Wednesday, December 12, 2012

CAT : [26] "ABABIL"


oleh Hasan Al-Jaizy


Sebuburnya, saya tidak bisa menertawai tingkah Ababil terus menerus. 
Sekujurnya, saya dahulu juga pernah merasakan sebagai Ababil sebagaimana normalnya manusia dalam fase itu.
Sebujurnya, saya juga memiliki murid-murid ababil yang benar-benar suka melempar batu panas lewat mulut.
Sekuburnya, saya tentu teringat masa-masa sebagaimana mereka jalani...

...dan dahulunya saya belum tentu lebih baik dari sekarangnya sebagian Ababil.

Ababil adalah singkatan dari ABG Labil. ABG adalah singkatan dari Anak Baru Gede. Seorang dewasa boleh geleng-geleng atau tertawai tingkah-tingkah Ababil. Tapi wajarnya ia harus ingat dahulu ia juga mengarungi masa labil.

Jika ada pembaca tidak pernah merasa menjadi labil di suatu tahap kehidupannya, maka bersyukurlah, karena kadang manusia merasa dirinya tidak pernah berbuat sesuatu yang benar-benar pernah ia perbuat namun terlupa.

Bahkan terkadang kita -ketika mengingat tingkah masa lalu-, kita tersenyum sendiri, atau menyesal sendiri, atau sedih sendiri, karena kekonyolan masa lalu. Sekarang penulis mengajak untuk tidak menoleh ke tingkah-tingkah orang lain. Tapi tengoklah balik tingkah masa lalu. Ada hal tabu, memalukan dan memilukan yang memualkan untuk diingat. Itu tingkah masa lalu kita.

Lalu, rupanya kita adalah penertawa Ababil.

Jadi, anak-anak SMP akan menertawai kekanak-kanakan anak SD; padahal dahulu mereka juga seperti itu, atau lebih konyol dari itu.

Atau, anak-anak kuliahan menertawai kelabilan anak sekolahan; padahal dahulu mereka juga makhluk-makhluk labil, atau lebih labil dari itu.

Juga, orang-orang dewasa menertawai kegalauan anak kampus [mahasiswa]; padahal dahulu mereka sendiri ketika masih ngampus suka galau, atau lebih galau dari itu.

Lalu, bapak-bapak tua geleng-geleng melihat tingkah manusia yang lebih muda atau di bawah generasinya; sembari mengingat dahulu ia seperti mereka, atau lebih tidak baik dari mereka.

Dan, ikhwan-ikhwan pengajian menertawakan orang-orang jahil non-pengajian; padahal dahulu mereka juga tidak kenal pengajian, atau punya kondisi lebih buruk dari mereka.

Bagaimana jika orang-orang berilmu menertawai orang-orang bodoh di depan manusia dan mereka?

Ababil membutuhkan perawatan dan penanganan khusus. Karena masa seperti itu, adalah masa 'pencarian' dan 'pembentukan'. Tidak ingin disebut kanak-kanak terlebih diperlakukan seperti mereka. Namun, bukan pula mereka manusia dewasa yang telah berkembang akalnya.

Ababil akan mengerti kelabilan diri mereka kapan? Ketika dewasa. Ketika mereka menertawai tingkah mereka sendiri atau bersama teman-teman. Namun, masa-masa labil adalah yang paling sensasional dan terkenang, jika tidak dihabiskan di dalam ruang kamar atau pojokan kelas untuk membaca buku.

No comments:

Post a Comment