Thursday, January 3, 2013

FALSAFAH PENSIL I

oleh Hasan Al-Jaizy


Pensil itu seperti dirimu dan kehidupanmu.

[1] Pensil itu berbentuk panjang tersedia. Ketika kau membelinya dari toko, ia masih tumpul, belum bisa digunakan secara utuh. Sebagaimana hidupmu di awal umur. Dahulu, setelah kau dikeluarkan dan keluar dari perut ibumu, belumlah kau menjadi siapa-siapa. Kau hanya disebut anak manusia. Kau belum menciptakan apapun selain tangisanmu itu, keharuan kedua orang tuamu dan apalagi? Kala itu, kau masih tumpul tak berbekal. Bahkan kau keluar dengan ketelanjangan, ketidaktahuan dan ketidakpunyaan.

[2] Pensil kemudian akan diraut perlahan-lahan, hingga mulailah ia melancip.

==> Sebagaimana kemudian di masa balita, kau mulai dilatih oleh ibumu berbicara. Perlahan-lahan kau mulai berbahasa. Kau pula dilatih berdiri perlahan-lahan. Zaman pun bercerita bahwa hari demi hari terambil demi les berdiri. Setelah itu, kau pun mulai pandai berbahasa dan berdiri.

[3] Pensil dipakai untuk menulis. Dan pensil meminta pemiliknya juga untuk menyediakan penghapus, untuk menghapus apa yang dituangnya di muka kertas. Sehingga sesuatu yang kurang baik, bisa diubah menjadi baik. Sehingga sesuatu yang salah, bisa diganti dengan yang benar. Sehingga sesuatu yang kurang sempurna, bisa disempurnakan.

==> Sebagaimana kamu, digunakan dan berguna. Kau pun membutuhkan introspeksi diri, cermin dan penghapusan. Sehingga jika kau berbuat tidak baik, kau dikritik dan berusaha memperbaiki. Sehingga ketika kau melakukan kesalahan, kau memohon maaf dan terbimbing untuk berlaku benar. Sehingga ketika kau merasa banyak kekurangan dalam dirimu, kau berusaha menutupinya dengan kelebihan semampumu. Kau berusaha menyempurnakan diri; meskipun kau tahu takkan pernah sempurna.

[4] Namun, setelah dipakai beberapa kali, warna pensil melemah. Ia pun diraut kemudian hingga tajam kembali.

==> Sebagaimana kau dahulu dan sepanjang umurmu, ada masa-masa lemah. Kau pernah sakit. Kau pernah putus harapan. Kau pernah dibelai kegagalan. Kau pernah patah hati. Kau pernah disakiti. Kau pernah ditinggalkan. Kau pernah...kau pernah....kau pernah...berlarut masa, hingga tibalah masanya....

[5] Pensil semakin memendek. Memendek. Memendek. Hingga tak mampu lagi pemiliknya menggunakannya. Akhirnya ia pun dibuang karena tak memberikan guna lagi.

==> Sebagaimana umurmu kemudian tersisa sedikit. Semakin sedikit. Semakin sedikit. Kau pun semakin merasa hayatmu akan berakhir. Eksistensimu akan berhenti. Kau tidak butuh melancipkan diri lagi. Hingga seolah manusia lain tak membutuhkanmu lagi sebagaimana dahulu, di masa kau masih bisa mengasah diri, memperbaikinya dan memproduksi. TETAPI:

[6] Pensil, biarpun ia sudah tak digunakan lagi dan hilang dari genggaman empunya, ia telah memberi banyak jasa. Ia telah menumpahkan banyak ukiran dan tulisan. Tulisan itu dibaca banyak makhluk. Bahkan dengannya, ia bisa menjadi awal kesuksesan.

==> Sebagaimana engkau di masa hidupmu. Kau menoreh banyak karya, produksi, bantuan, usaha dan upaya, kawanku. Dan karya jua usahamu melegenda. Banyak orang mengambil kebaikan dan manfaat darinya. Hingga ketika kau sudah tiada, karya dan upayamu masih ada. Seolah-olah karya dan usahamu lebih panjang berumur darimu. Manusia akan ingat dan mengenangmu melaluinya; dalam sedarnya mereka tahu bahwa kamu sebenarnya sudah tiada.

Banyak hikmah dari ciptaan, namun alangkah banyak ciptaan tak menggali hikmahnya.

No comments:

Post a Comment