Wednesday, November 14, 2012

Sketsa VIII



Suyuthi, Syirazi dan Nawawi komat-kamit membaca ayat Kursi namun suara tangisan tak kunjung usai. Sepertinya baterainya belum lama di-cas. 

Suyuthi mengepalkan tangan. Ia harus membalikkan badan dan melihat apa dan siapa gerangan di makam itu. Apakah benar itu temannya yang sedang menangis? Namun itu suara tangisan wanita. Atau lebih tepatnya, bersuara seolah nenek-nenek. Atau, malah nenek temannya?

Sembari menggamit tangan Nawawi untuk mendapatkan energi kekuatan hati untuk membalikkan badan, Suyuthi membalikkan badan....

DAN...

Suyuthi dalam kesamaran pandangan melihat ada seonggok tubuh di bawah beringin. Suara tangisan nenek-nenek dari sana. Berbaju putih. "Nawawi, Syirozi, balikkan badan. Kau lihat itu sekarang!" bisiknya dengan suara yang amat rendah namun tergesa.

Perlahan Nawawi dan Syirozi membalikkan badan sembari komat-kamit. Entah sudah berapa juz terlampaui namun hanya Ayat Kursi ia berisi.

Mereka bertiga memandang putih-putih di sana. Syirozi menelan ludahnya. Dan berharap ludah yang sudah ditelan kembali lagi agar stok ludahnya tidak habis. "Apakah itu temanmu, kawan?" tanyanya pada Suyuthi.

"Sungguh aku tiada mengerti. Aku pun tak hendak memastikannya. Butuh banyak nyawa dan tenaga dalam agar beraniku ke sana," tukas Suyuthi. Matanya tak jera memandang. Rasa penasaran dan ketakutan saling bercumbu satu sama lain. Belum ada pemenangnya. Ia membatin kemudian, 'Apakah benar itu Basuki, temanku yang ditanam di tempat ini malam ini? Aku dengar kabar dari para pendekar bahwa ia sedang mencari salah satu cabang ilmu hitam. Kiranya malam ini ia ingin menyempurnakan sesuatu dengan ritual. Tetapi mengapa suaranya semacam nenek-nenek berpunya? Aku tak kuasa menahan adanya penasaran.'

"Kawan, bagaimana jikalau kita lempar ia dengan kerikil atau semacamnya?" kata Nawawi. Ide bagus. Suyuthi menyetujui. Namun Syirozi agak keberatan, "Aku kurang mampu sempurnakan beraniku tuk tunaikannya. Biarlah kalian berdua mewakiliku."

Suyuthi pun terawal melempar beberapa butir kerikil dengan nekadnya. Bermodal nekad dan bismillah. Begitu pula dengan Nawawi. Namun mereka tak mampu memastikan apakah lemparan itu kena sasaran.

Tiba-tiba tangisan itu berhenti. Putih-putih itu terlihat bergerak sedikit. Hening. Sepi. Ngeri. Cekam. Keempatnya tergantikan kini dengan suara geraman. Geraman yang kuat.

"Mau apa kalian menggangguku?" teriak makhluk di bawah beringin. Tak perlu mencari tanda tanya, ketiga pendekar muda itu pun lari kocar-kacir ke jalan yang sebelumnya mereka lewati. Berlari terus tanpa peduli. Berlari bertiga. Hingga kemudian kembali ke gubuk angker Mbah Maherjein. Di sana mereka berhenti dan nafas-nafas tersengal menterjemahkan keletihan yang hinggap di jasad tiap-tiap mereka.

"Itu tadi....suara Basuki. Temanku. Benar. Ia adalah Basuki. Aku kenal sekali suara itu!" kata Suyuthi sembari mengatur nafas.

"Lalu, gerangan siapakah yang nenek-nenek yang menangis?" tanya Syirozi.

"Aku pula tak menahu. Namun kukira Basuki sedang dirasuki setan. Aku pernah saksikan petapa terasuki setan dan berubah suaranya. Kiranya itu salah satu tahap peninggian ilmu hitamnya. Entahlah, kawan. Kita harus ke tempat lain," tukas Suyuthi. Meskipun kejadian demi kejadian telah dialami, ia tak hendak menamatkan riwayat cerita malam itu. Karena memang, ia sudah lama bertekad membongkar banyak hal yang sangat tidak ia setujui dari perguruan hijau.

"Kemana lagi kau akan membawa kami berdua?" tanya Nawawi dengan penasaran membuncah. Hatinya setengah keruh tersebab peristiwa-peristiwa seram yang langsung tersaksikan olehnya malam ini.

"Kita harus ke Petilasan Sunan Blacan. Cukup jauh dari sini. Namun aku menahu akan satu jalan pintas menujunya. Kita harus hati-hati menelusurinya. Jalan yang akan kita lalui sering menghadirkan yang gaib dan pernah menggaibkan yang hadir."

"Apa maksudmu itu, kawan?"

"Sering terlihat keganjalan tampakan jika kau melewati jalan itu. Dan pernah pula ada cerita pertapa pencari ilmu hitam hilang di semak-semak jalan itu. Jalan itu pun selayaknya tiada mungkin disebut jalan; karena kita benar-benar akan menginjak rerumputan dan tumbuhan-tumbuhan liar. Kita akan dinaungi banyak pohon-pohon berbisik. Kau siap?" tanya Suyuthi.

Syirozi cukup gentar rupanya setelah dengar cerita itu. "Aku tak yakin, kawan. Tidakkah sebaiknya kita pulang saja ke gubuk masing-masing. Ingat, ketika anjing gunung melolong nanti, siaran langsung Liga Champion dimulai. Bukankah lebih menyenangkan menyaksikan permainan dibanding penampakan?"

Kemudian, sang dalang pun tiba-tiba datang menyeruak, "Tuh kan...salah lagi. Ini zaman pendekar! Belum ada sepakbola! Ayo, benang merahnya! Huh! Sudah seru-seru malah jadi terpeleset! Lanjutkan!"

Suyuthi pun menjawab, "Jika memang kau hendak pulang, maka pulanglah dengan kakimu sendiri dan tanganmu. Aku takkan antarkan jasadmu. Dan kau tak tahu jalan pulang. Di beberapa bagian dari hutan, ada perkumpulan serigala buntut putih yang sudi menyerang siapapun yang mendekat. Dan aku tahu dimana mereka sehingga bisa hindari daerah itu. Sedang kau berdua tiada menahu. Pilihan ada di tanganmu."

Mau tak mau, mereka pun ikut. Seketika, Syirozi pun juga bertekad meneruskan perjalanan. Menuju Petilasan Sunan Blacan!

....


No comments:

Post a Comment