Showing posts with label Suku. Show all posts
Showing posts with label Suku. Show all posts

Saturday, December 22, 2012

CAT : [53] "DALAM KERAGAMAN"


oleh Hasan Al-Jaizy


Dalam keragaman, bukan klaim dan pengakuan yang dibutuhkan. Tetapi sosialisasi dan amalan lebih diminta ia punya perwujudan. Justru klaim dan pengakuan [self-proclaiming] seringkali menimbulkan kerutan di dahi manusia tak segolongan. 

Setelah membaca tulisan teman sekelas saya ini: [http://www.facebook.com/saed.clpy/posts/303411959778414] yang berjudul 'Aku Muhammadi Bukan Muhammadiyah', saya tertarik menulis tulisan ini. Pemuda asal Cilacap ini memang sedang gencar dan semangat menulis. Salah satu hal yang membuatnya termotivasi menulis adalah pembahasan tentang ikhtilaf dan tanawwu' di lapangan.

Sekarang, ada pertanyaan:

"Bangsa Indonesia, ada berapa suku [atau katakan sub-ras]?"

Katanya, ada ratusan. Baiklah. Sekarang, saya bertempat tinggal di daerah Kalibata, Jakarta. Masukkan semua perwakilan dari tiap suku di Indonesia ke daerah saya untuk tinggal menetap

Sunday, October 14, 2012

...Suku-suku Agar Kalian Saling Kenal IV


oleh Hasan Al-Jaizy

Ketika itu, ada beberapa orang sedang safar. Mereka berjalan jauh. Seorang dari mereka kemudian kepalanya terkena batu, entah bagaimana jadi dan caranya, batu itu pun melukai kepala. Namun hal tersebut tentu saja tak merubah situasi kaum yang sedang safar. Mereka berjalan sebagaimana lazimnya.

Orang yang terluka kepalanya pun ketika tertidur, bermimpi basah alias junub. Tentu saja kemudian ia wajib untuk mandi junub, agar terizinkan secara syar'i untuk menunaikan shalat wajib. Lalu ia bertanya pada kawan-kawannya, "Kepala saya sakit. Apakah saya mendapat rukhsah [keringanan] untuk ber-tayammum saja, tanpa mandi?"

Teman-temannya berkata, "Kami lihat engkau tak punya alasan kuat untuk mendapat keringanan, saudara. Kau mampu untuk mandi."

Maka ia pun mandi,

Saturday, October 13, 2012

...Suku-suku Agar Kalian Saling Kenal III

oleh Hasan Al-Jaizy

Dan memang, saudaraku, dakwah itu harus diniatkan sebagai menegakkan kalimat Allah. Menegakkan kebenaran. Bukan menegakkan cengkraman kelompok sendiri, atau partai dan semacamnya. Ya, mungkin saja hal tersebut ada manfaatnya, tapi marilah kita mengaca pada kaum salaf jua pengikutnya, mereka mencari ilmu, beramal dan berdakwah murni demi Allah. Embel-embel hizb, party dan semacamnya tidak ditemukan. Jikalau ada, semoga Allah memaafkan mereka dan kita semua.

Apakah suku-suku diciptakan agar sekedar kenal? Tidak hanya itu. Kalian saling mengenal agar kalian saling tahu bagaimana menyampaikan kebenaran agar diterima dalam perbedaan adat, tradisi atau budaya.

Di antaranya adalah bahasa. Bahasa asing bisa menjadi kendala besar. Bagaimana bisa seorang dai yang medok Jawa datang ke pedalaman Irian Jaya atau tidak usah jauh-jauh, ke pedalaman Banten saja untuk menyampaikan risalah? Satu negara namun asing berbahasa. Mengenali bahasa orang-orang setempat bisa menjadi kewajiban bagi dia yang ingin menegakkan kebenaran.

Apakah hizb-hizb diciptakan agar saling kenal? Hmm...sulit juga untuk

Friday, October 12, 2012

.... Suku-suku Agar Kalian Saling Kenal II


oleh Hasan Al-Jaizy

Ya, you know...saya suka dengan cerita teman-teman akan kampungnya. Meskipun seringkali detail dan globalnya terlupa, tapi itu kan bukan masalah buat loe. 

Di kampung seorang teman, tersebutlah legenda2 kampung yang menjadi cerita rakyat. Catatan: ketika masih SD saya suka sekali memakan buku-buku serial cerita rakyat yang ada di sekolah. Tapi, tetap saja, teman-teman kala itu lebih suka memakan bangku.

Kembali ke cerita kampung teman saya di Jateng ini. Dahulu dikenal di kampung seorang dukun sakti (baca: satanic) yang dilawan secara frontal oleh para kyai setempat. Jadi, jaman dulu itu, musuh kyai adalah dukun. Kalau sekarang, musuh kyai (dai-ustadz) lebih banyak lagi. Di antaranya, kaum sepilis, kuffar, teroris, Justin Habibers, dan lainnya. Tapi lucunya, justru beberapa calon kyai sedang sibuk memecahbelah

.... Suku-suku Agar Kalian Saling Kenal I


oleh Hasan Al-Jaizy

Saya termasuk orang yang sangat suka mendengar teman bercerita tentang desanya. Mulai dari karakter manusia, letak geografis, gambaran agrikultural, budaya atau adat, dan lain-lain. Berkumpul bersama majmuk manusia dari latar daerah berbeda memberikan rasa tertentu. Hal itu saya rasakan sejak teman-teman sekelas saya masih memakan bangku sekolah di pondok. Sekarang, teman-teman kampus saya malah memakan bangku kuliah. Kasihan sungguh teman-teman saya, bangku kok dimakan!?

Begitu juga keseharian bergaul bersama teman-teman berlatar pendidikan berbeda. Dari pondokan hingga super umum. Juga ada perbedaan pemikiran religius yang tidak parah tentunya. Keseragaman yang kaku bisa menghancurkan indahnya keberagaman. Bukankah lebih baik kita beragam namun tetap memakai seragam?

Seragam itu banyak fungsinya. Di antranya adalah untuk mempersatukan yang awalnya berbeda-beda. Kalau saya mendengar cerita-cerita perjalanan dakwah teman atau siapapun di kampung, selalu hadir rasa haru. Dakwah di kampung juga penuh tantangan dan bahkan kadang beresiko. Sehingga pendekatan orang kampung tidak dengan sekadar bicara halal haram lalu dalil dan selesai. Jika ikut syukur, jika tidak ikut berarti sesat. Ups, kalau yang begini bukan di kampung saja, di kota pun juga tak seenaknya. Hanya, masyarakat kampung adalah masyarakat taqlid buta. Mereka tidak melihat zahir dalil. Toto kromo justru bisa menjadi sila pertama yang tersakti. Dan juga, mereka takkan rela dilabeli sebagai orang2 bertaqlid buta alias membebek. Lagipula, ngapain juga

Sunday, September 16, 2012

Anak Betawi, Ketinggalan Jaman, Katenye

oleh Hasan Al-Jaizy


[Baca semuanya...Tidak Setengah-setengah]

Sebelum saya lanjutkan, ada perlunya pemberitahuan bahwa mengalir di darah saya darah Betawi, turunan emak, babehnya emak dan seterusnya. Dan saya terlahir plus tumbuh di masa kecil di tanah Betawi, di lingkungan Betawi dan seterusnya. 

Jawara Betawi sendiri yang menyanyikan: 'Anak Betawiii ketinggalan jaman, katenye.' Lalu dilawan dengan bait di lagu yang sama: 'Siape bilang anak betawi ga berbudaye?' Seakan lagu tersebut, yang berkibar di era 90-an, menjadi senjata untuk mendeklarasikan bahwa: 'Anak Betawi gak kayak yang lo sangke'. Hanya sayangnya, lagu yang menjadi theme 'Si Doel Anak Sekula'an' itu malah tidak memberikan jawaban pada tanda tanya dari orang2 Jawa dan selainnya. Yang seharusnya, ada kalimat yang benar-benar menegaskan bahwa Anak Betawi juga punya budaya, ikut perkembangan zaman dan bisa exist.

Wait! Sebentar. Lagu itu rupanya cuma theme atau anthem yang tidak mesti menjawab tanda tanya. Justru kalau kita mau mengamati, serial Si Doel itulah jawaban dari anak-anak Betawi. Karena kala itu, ketika orang2 Jawa, Sunda dan Sumatera mulai mengeroyoki anak Betawi dan mulai menggerogoti tanah dan budaya Betawi, anak Betawi menjawab dengan lugas. Apa Jawabannya? Jawabannya adalah Si Doel Anak Sekolahan.

Juga, Lenong Rumpi di era 90-an adalah jawaban. Saat itu, mernutu saya, acara Lenong Rumpi dan humor-humor Betawi masih lucu. Kalau sekarang, acara humor Betawi tidak lucu lagi. Sungguh ga lucu. Yang lucu malah kelakar Pak Gubernur atau kelompoknya ketika mengatakan, 'Orang Betawi yang ga milih orang betawi sebagai pemimpin kota ini, mendingan minggat aja.' Nah, ini baru lelucon yang berkualitas, merakyat namun berpengaruh pula pada kaum elite.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/440775472630510