Showing posts with label Kritik. Show all posts
Showing posts with label Kritik. Show all posts

Thursday, October 22, 2015

Kekeramatan Yang Kurang Diimpikan

oleh Hasan al-Jaizy

Kemarin sempat interview beberapa calon pegawai. Selain miris pada diri sendiri yang masih belum seberapa, ternyata ada kemirisan tambahan melihat para calon. Calon-calon guru di beragam disiplin ilmu dunia, seperti matematika, kimia, biologi, bahasa Indonesia sampai English. Saya tidak mempertanyakan keahlian mereka di bidang duniawi, tapi standar baca al-Qur'an dan wawasan keislaman teman-teman kita ini masih minim. Ini tanpa perasaan kelak di endingnya saya lebih baik dari mereka.

Sebagaimana menjadi rahasia umum yang sudah menjadi konsumsi bibir publik, banyak dari dokter sekarang, menakut-nakuti ibu hamil apalagi yang masih belia usianya dan belum punya experience cukup dalam kehamilan. Ujung-ujungnya rekomendasikan supaya bayi terlahir dengan cara Caesar. Penyakit demi penyakit atau gejala negatif dijabarkan dengan semangat oleh dokter beserta bidan asistennya. Bahkan kadang diceritakan, sang dokter terkesan maksa. Rupa-rupanya tidak sedikit kasus kongkalikong. Apalagi kalau mengejar duit? Bumil panik mendengar dor dor dari dokter. Saya pernah menyaksikan ini sebagai suami bumil.

Saya pikir, ini dokter apa teroris? Tahu ini orang lagi mengandung, kok malah main dor dor begitu saja. Lembut dikit kek. Ngarti dikit kek perasaan bumil ini. Saat dokter ngoceh terus berentetan sebut kasus-kasus parah, saya tatap tajam muka beliau. Saya pernah melihat Didier Drogba lari sana-sini kejar bola meneror para pemain yang sedang pegang bola, demi cari apresiasi pelatih dan penonton, yang ujung-ujungnya duit. Kok mirip ya ngototnya. Vonis penyakit dan harus langsung dibelek perutnya di awal cek kedokteran, dengan bahasa semaunya tanpa mikir perasaan, adalah hal yang jauh dari kamus kebijakan.

Kenapa mengejar Caesar, wahai dokter? Padahal Caesar kan sudah meninggalkan program lamanya. Apakah Anda mau sama dengan para penyelenggara tematik yang berburu Caesar dan yang semacamnya supaya hadirin dan duitnya banyak?

Akhirnya, saya pindah pilihan. Tidak mau ke dokter itu lagi. Saya browsing Inet, ditemukan beragam cerita kenakalan sebagian dokter. Mirip-mirip. Intinya kejar duit.

Alhamdulillah, ketemu RS yang profesional. Swasta dan biayanya lumayan membuat saya semakin tersadar bahwa saya harus lebih mendekatkan diri pada Allah. Pelayanannya memuaskan secara psikologis. Para dokter dan pasukannya sampai satpamnya membuat kami merasa comfort. Tempatnya juga nyaman dan wangi. Tak apa soal biaya kan soal rizki. Yang penting kita usaha supaya istri dan anak lebih tenang. Safety first, money later. Setelah dapat safety, giliran money bill, baru kita menangis later. Hehe.

Walaupun dari sisi profesionalisme dokter-dokter dan bawahannya ini saya acungi jempol tapi ada saja yang kurang buat saya. Vital. Apa itu? Sisi religiusitas!!! Ini nih. Mereka bekerja secara profesional duniawi. Andai mereka terpoles ke agama, saya akan senang menemukan suster-suster itu sering menyebut nama Allah, tidak hanya memberikan advice of health melainkan dibalut juga dengan menekankan sisi tawakal pada Allah. Tapi sayangnya tidak. Karena mereka tidak dididik untuk itu.

Inilah. Kita butuh Rumah Sakit Islam lebih banyak lagi. Bukan label Islam semata, tapi nilai moral pegawainya sangat islami.

Nah, kembali ke interview itu, saya berhadapan dengan para calon guru baik ikhwan maupun akhwat, dengan membawa otak Biologi, Kimia dan lain-lain. Di tempat saya kerja, nilai religiusitas sesuai pemahaman Salaf sangat diusahakan. Kinerja para pegawai relatif stabil. Prestasi demi prestasi terbangun. Meski saya sendiri belumlah seberapa mampu memperbaiki diri. Tapi wajib bersyukur kalau kita sudah mulai berusaha menanamkan jiwa religiusitas di tempat kita bekerja.

Saya iri sama teman-teman yang mahir Biologi. Kepingin kuasai Biologi. Miris hati kalau naik motor lihat pepohonan atau jalan di jalanan lihat hewan, tapi nothing to say tentang spesies, kehidupan, anatomi dan anything about them. Hanya bisa berkata mereka ciptaan Allah. Tapi apakah teman-teman anak Biologi sendiri, iri sama teman-teman yang faham baca kitab, mahir baca al-Qur'an?
Padahal di dalam al-Qur'an, disebutkan beberapa nama hewan, disebutkan beberapa macam tumbuhan. Selemah-lemah rumah adalah rumah laba-laba. Secara scientific, bagaimana membuktikannya? Kita sama-sama imani ayat itu, tapi secara keduniaan dan pembalutan sains, saya belum mengerti detail dan saya berharap mengerti.

Siapapun pegawai, kalau menjunjung nilai religiusitas di bidangnya, insya Allah akan lebih disukai.
Karena pegawai yang tak religius, dia hanya dapat dunia. Adapaun pegawai yang menjaga agamanya di gaweannya, dia dapat dunia dan dia punya saham di akhirat.



Tuesday, March 26, 2013

Perahu Retak ... Bahtera Karam

oleh Hasan Al-Jaizy


Era 90-an, lebih tepatnya sekitar 1997, ada sebuah lagu yang salah satu petikan liriknya tak terlupakan.

"Aku heran....aku heran..."

Itu adalah salah satu lagu yang populer di masa saya masih bersekolah SD, di samping 'Mungkinkah', 'Gerimis Mengundang' dan lainnya. Karena saya saat itu masih SD, mungkin di antara pembaca yang tiba-tiba merasa lebih 'senior' akan menggumam, 'Wah, itu mah masa-masa saya SMA'.

Saya sendiri tidak hafal liriknya, namun selalu teringat lirik tersebut 'dipleseti' oleh teman saya ketika itu. Teman saya bernama Faris. Teman SD saya. Asalnya:
 

Wednesday, February 6, 2013

Pendidikan Kuburan Keramat

oleh Hasan Al-Jaizy

Dulu, kuliah di Madinah, Mekkah, Riyadh, Yaman, bahkan di lipia, adalah sebuah kejarangan dan tantangan. Banyak pelajar berhasrat, namun takdir untuknya tak semuanya tersirat. Sehingga lulusan sana adalah orang2 yang tahu agama, melebihi pengetahuan di atas rata-rata.

Itu masih hingga sekarang. NAMUN, kadarnya tak sewajar dahulu. Pelajar ilmu syariah akademik sekarang toh banyak yang 'ga jadi'. Mudah2an bukan termasuk saya dan kawan-kawan sekalian. Sekarang, semua orang bisa belajar ilmu syariah. Baik berbayar atau gratis.

Jikalau Internet benar-benar dimanfaatkan maksimal, bukan tidak mungkin anak pengajian rutin mingguan 2x, bisa setara pengetahuannya dengan anak-anak akademik formal. Ini jika kita tidak melihat dari segi kapasitas penguasaan ilmu alat mereka (Arabic, Ushul Fiqh dst). Tapi, Internet kini benar-benar curahan rahmat sekaligus...

fitnah

Satu sisi, saya pribadi senang sekali dengan kemajuan kawan-kawan Jogja yang dengan kegigihan, keteraturan, keseimbangan dan 'konspirasi' yang rapi bisa menjadikan generasi yang ngampus ilmu dunia, tapi bisa juga ngaji ilmu akherat. Sehingga, lahirlah para asaatidzah yang tadinya tak mempunyai latar belakang pondok pesantren atau pedepokan religius. Ini karena kegigihan dan konspirasi yang patut diacungi jempol dan dicontoh.

Namun, di sisi lain, saya menerawang sesuatu ke depannya. Sebelum saya jabarkan, perlu ditekankan bahwa tiada gading yang tak retak. Satu sisi Internet adalah rahmat, satu sisi Internet bertaburan kualat. Satu teori dan metode boleh keren di masa kini, namun di masa depan bisa ditinggalkan.

Begini:

Friday, February 1, 2013

Lapang Dada Omongan Saja

oleh Hasan Al-Jaizy


"Lapang Dada Omongan Saja"

Seperti mengatakan bahwa hukum shalat berjama'ah adalah wajib dengan dalil-dalil yang sah, namun menyebut orang yang tidak mengatakan wajibnya shalat berjamaah berarti munafik. Ini sama dengan menyebut jumhur ulama adalah munafik. Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi'i, secara tidak langsung (atau langsung?) disebut munafik! Begitu pula ulama madzhab ketiganya.

Namun, jika dikatakan bahwa enggan shalat berjama'ah atau membencinya (bukan karena meyakini ketidakwajibannya) adalah ciri orang munafik, maka ini tepat.

Dan, bukankah yang munafik itu, yang meyakini wajibnya shalat berjama'ah tapi ketika malas dan tidak ketahuan orang yang sependapat dengannya, ia meninggalkan shalat berjama'ah? Ini juga nyata. Meyakini kewajibannya, membela keyakinannya, membantah atau menggugat yang berseberang dengan keyakinannya, namun dalam beberapa kondisi tak termaafkan, mengamalkan apa yang berlawanan dengan keyakinannya.

Wednesday, January 30, 2013

Hizby Bak Mandi...eh...Hizby Bak Oase

oleh Hasan Al-Jaizy



Berkali-kali, entah di dunia nyata atau selainnya, saya dengar ikhwah hizbiyyuun (langsung saja saya cap 'Hizbiyyun' karena kita -saya dan mereka- sama-sama tahu bahwa mereka ber-tahazzub secara nyata; meskipun jangan-jangan saya sendiri juga Hizby karena bersahabat dengan mereka) mengutip perkataan emas yang baru:

"Kalian seharusnya contoh saudara kalian [baca: golongan kalian] di Mesir! Mereka kini lebih terbuka wawasannya. Mereka sudah punya partai sekarang. Dahulu, bukankah mereka dan juga kalian paling anti dengan partai!? Sekarang, justru karena situasi dan ijtihad non-kolektif (dalam artian: tidak disepakati semua kalangan dari berbagai negara), mereka punya partai. Namanya sudah jelas: HIZB. Hizb Cahaya. Hizby. Tak apa-apa toh ngizby?"

Tanggapan saya (sebagai orang kecil tidak masalah jika dituduh Hizby) adalah:

[1] Kalian berfikir bahwa seluruh kaum S di Mesir itu sepakat atas pembangunan Hizb tersebut; padahal tidak! Mereka terbagi menjadi 2. Satu mendukung, dan satu mengkritisi. Saya pribadi -karena bukan orang sana dan tidak punya keahlian- tidak mendukung tidak pula mengkritisi. Tetapi, berusaha menghormati karena itu adalah hasil ijtihad 'sebagian' dari ulama mereka.

Saturday, January 26, 2013

Kalong Kuburan Keramat!


oleh Hasan Al-Jaizy

Menuru Mas Ari, teman FB saya, "Kecepatan internet Indonesia, berada pada posisi 115 dunia!" Seperti itulah status FB nya.

Anda boleh heran dengan posisinya; disebabkan negara kita sebenarnya 'kaya' dan berpenduduk banyak. Pengguna internet -saya yakin- termasuk terbanyak di dunia. 

Tapi, saya tidak heran. Dan tidak heran juga kenyataan tersebut [kecepatan yang tergolong 'terlambat ngebut' dibanding 114 negara dalam skala umum nasional] MENYEBABKAN:

...beberapa orang ketika baru dapat rejeki bisa mendownload sesuatu dengan IDM berkecepatan 500 kbps atau 1 mbps atau malah 3 dan seterusnya, pada KESENENGAN. Lalu upload foto hasil screenshot, kemudian tag teman-teman yang diharapkan akan 'takjub' dan semoga akan bertanya, 'Wah, loe kok bisa gitu, gan? Koneksi dewa! Gimana caranya, gan?'

Friday, January 25, 2013

Tak Kasih Tahu Step-stepnya


oleh Hasan Al-Jaizy

Tak kasih tahu step-step-nya:

[1] Tanam kecintaan atau fanatisme tersembunyi pada suatu golongan. Kemudian:

[2] Kritik pedas-pedas terus mereka yang belajar, mengamalkan dan mendakwahkan Sunnah, tapi lembek terhadap bid'ah dan pelakunya. Kemudian:

[3] Bongkar zallat dan kesalahan para asatidzah dari golongan itu. Kemudian:

[4] Mulai belajar kritik Al-Albany dan semacamnya. Bisa dimulai dengan sindir-sindiri dulu, not straight, tidak langsung. Tapi, kelamaan akan berani jika sudah 'merasa' cukup ilmu dan senjata pembantahnya. Jika Al-Albany sudah bisa dikritik, otomatis yang 'selevel' di bawahnya sangat lebih bisa. Kemudian:

[5] Telaah karya 3 mastero: Ibn Taimiyyah, Ibn Qayyim dan Ibn Abdul Wahhab. Pelajari sejarah hayat mereka dan karya-karya mereka. Untuk apa? Untuk mencari apa yang perlu dikritisi. Kalau ketemu, catat dan kumpulkan bahan bantahan. Atau pakai trik sebelumnya, boleh pakai sindir-sindir dulu, tidak langsung dan tidak sharih. Kemudian...

...kemudian...pertanyaan kita adalah, "Apakah benar kita mencari ilmu?"

Mungkin langkah-langkah di atas tak Anda lihat gejalanya pada manusia kini. Dan betapa banyak kini yang mencari ilmu. Tapi...

"Apakah benar kita mencari ilmu?"

Wednesday, January 23, 2013

PAKTA MAULID, Yang Merupakan "Bid'ah Hasanah"

oleh Hasan Al-Jaizy


[1] 
Ketika kita memperbincangkan masalah Maulid, antara pro, kontra dan tawaqquf [no pro no kontra just nyimax], ada yang nyeletuk:

"Hare gene masih ributin Maulid?"

Padahal, yang ribut atau yang paling ribut atau yang tukang ribut adalah teman-teman yang Maulid-an, terutama di Kuburan Keramat.

[2] 
Maulid itu, sekali lagi, adalah bid'ah hasanah.

Bid'ah = Mengada-ada dalam agama = Jelek
Hasanah = Bagus

Jelek tapi bagus? Kontradiktif, bukan? Biar tidak berbenturan, kita simpulkan bahwa:

Bid'ah Hasanah = Jelek Yang Dibagus-bagusi

Jadi: "Maulid Nabi adalah kejelekan yang dibagus-bagusi atau yang dianggap bagus atau YANG BISA DIGANTI namanya supaya terkesan bagus."

[3]
Maulid itu menciptakan 'keberkahan' tersendiri. Dan ini relatif menguntungkan bagi para penjual kopiah, CD dan peniaga lainnya. Tapi, yang paling diuntungkan tentu saja para pebisnis religius, baik itu ustadz/habib/kyai/ulama yang menjadikan Maulid ladang meraup keuntungan finansial atau pamor, baik dengan cara menitip nomor rekening, atau menggelar acara yang requiring sumbangan atau infaq [baca: iuran faqsa] bagi pengikutnya.

Lebih-lebih para penjaga kuburan keramat. Mereka akan gagah malam Maulid-an. Sebentar lagi duit mengalir deras. Kalau perlu, main tipu-tipu sedikit, baik dengan cara menaruh kendi, bejana atau semacamnya berisi air kembang, mengklaim keberkahan, atau jualan kitab kecil wiridan yang dibisniskan. Berkah, bukan?

[4]
Maulid itu bahasa pelosoknya: "BIRTHDAY". Demi Birthday, banyak yang rela safar. Tapi, demi shalat jama'ah yang jelas diperintahkan, sedikit sekali. Memang boneng, gan...kalau yang namanya bid'ah terangkat, sunnah bakal turun, baik itu sunnah yang bersifat wajib, atau tidak wajib.

Apakah ada yang memakai lilin sekalian? Nanti jam 12 malam tiup lilin bareng.

[5]
Tidak dipungkiri lagi, bahwa mafsadat dan madharat banyak sekali terkandung dalam perayaan Maulid. Tapi, masa bodoh lah dengan yang namanya bid'ah, syirik, dan lainnya. Yang penting: having fun, bisa keluar rumah, rame-rame nongkrong, dan tentu saja: cinta Nabi.

Cinta Nabi tapi ternyata tidak cinta sunnah Nabi. Saking cintanya terhadap Nabi, dan tidak cintanya pada sunnah Nabi, akhirnya melakukan bid'ah hasanah.

[6]
Dalih Nabi berpuasa hari Senin, dikatakan sebagai perayaan hari kelahiran Nabi. Emeng keseng!

Lucunya:

a. kawan-kawan pro-Maulid tidak pernah menyinggung masalah puasa Senin-Kamis.
b. kenapa tidak pada Maulid-an setiap hari Senin? Kok cuma setahun sekali? Oh iya, saya lupa, namanya juga Hari Ulang Tahun. ckck

[7]
Dikatakan, kita yang mempermasalahkan Maulid dan bid'ah, adalah pemecah belah. Padahal, ada teori begini:

"Sesuatu yang asalnya mulus, dipecahkan disebabkan kedatangan sesuatu yang memecahkannya setelah kemulusannya."

Syariat Islam asalnya mulus dan murni; lalu datanglah bid'ah yang menggores kemulusannya. Pelaku bid'ah lah yang menjadikannya tergores dan terpecah-belah.

Syariat Islam asalnya tidak mengenal perayaan Maulid Nabi. Lalu, datanglah Maulid Nabi, sesuatu yang baru. Dengan kedatangannya, protes di sana-sini. Disebabkan Maulid, perpecahan terjadi.

[8]
Jika satu keburukan dilakukan, ditakutkan bercabang dan melahirkan keburukan baru. Dan itulah yang terjadi pada Maulid.

Maulid itu buruk...eehh...hasanah dink...lalu tumbuhlah amalan-amalan baru, seperti wiridan bareng di depan kuburan keramat. Karena tidak puas wiridan di atas tanah dan tikar, akhirnya kuburannya dibuat seperti rumah dan berlantai kinclong. Tidak puas hanya wiridan, didatangkanlah gendang dan rebana. Tidak puas dengan itu, dibawalah speaker dan sound system. Tidak puas dengan itu, lama-lama saya yakin: kalian akan menjadi orang gila.

Dan bukan sebuah hot news jika seorang sufi bertingkah selayaknya orang gila dan kehilangan akal.

[9]
Sebagian peraya Maulid tidak tahu apa-apa, sebagian tidak mau tahu apa-apa, sebagian tahu tapi berkata, 'Cyus miyapa!?', sebagian sudah tahu tapi tak peduli apa-apa, dan semoga Allah memberi petunjuk pada semuanya, tak terkecuali kita.

[10]
Maulid itu adalah bentuk Natal dengan cover Islami. Jikalau Natal dinamai Maulid, maka sah-sah saja. Atau bahkan nama Maulid lebih cocok untuk Natal. Karena keduanya sama-sama:

"Memperingati/merayakan Hari Lahir Nabi"

Lucunya, sebagian ulama tarikh [sejarah] tidak menyatakan Nabi lahir tanggal 12 Rabi'ul Awwal. Dan...beliau wafat kapan, btw?

Maulid itu adalah bentuk Natal dengan cover Islami. Masalah buat umat Islam? Masalah!


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/492474554127268

Tuesday, January 22, 2013

Mengejar Wahabi + Mengeramatkan Kuburan Keramat!


oleh Hasan Al-Jaizy

Ternyata kita ini hebat dan keramat! Lebih keramat dari para wali Allah, yaitu para sahabat, tabi'in dan seterusnya.

Lho, kok bisa? Begini ceritanya:

Seorang salafi mengatakan kepada seorang Sufi:

Salafi: "Saudaraku, usahlah kau dan kawanmu merayakan Prophet's Birthday atau Hari Ultah Nabi 1434. Itu tidak ada syariatnya sama sekali."

Sufi: "Ah, kau ini. Usahlah larang-larang aku dan kawanku. Niatku baik, kau tahu?"

Salafi: "Iya, tapi hal semacam itu baiknya kita tinggalkan, kawan."

Sufi: "Memangnya ada pelarangan Maulid di Al-Qur'an dan Hadits yang berbilang begini: 'Wahai kaum muslimin, janganlah kalian bermaulid!" Ada tak?"

Saturday, January 12, 2013

Mengangkat Kuburan Keramat


oleh Hasan Al-Jaizy

Keterkenalan orang, jangan salahkan keterkenalannya. Jangan salahkan orangnya yang terkenal itu. Jangan salahkan orang-orang yang mengenalnya. Tapi, salahkan dirimu, kok orang lain yang terkenal, kamu yang mempermasalahkan!? Memangnya situ siapa ya?

Banyak orang miskin mencibir melihat orang-orang kaya. Padahal orang-orang kaya tersebut tidak menindas mereka. Menyenggol mereka pun tidak. Tapi, kenapa si miskin sebal sendiri?

Memangnya orang kaya atau orang terkenal salah ya karena mereka kaya atau karena terkenal?

Tadinya tidak terlihat salah sama sekali...

Tapi rata-rata orang yang berada di ketinggian akan dianggap bersalah dan dituntut oleh orang-orang di bawahnya. Meskipun mereka belum tentu bersalah.

Friday, January 11, 2013

Belum Kiamat, Tetapi [Kayaknya] Sudah Terlambat

oleh Hasan Al-Jaizy



Tahun-tahun belakangan dan sampai sekarang atau sepertinya masih terus berlanjut, sebut saja mas Justin Habibers dan teman-temannya selalu meledek orang-orangan sawah yang celananya terangkat itu, "Surga sudah kalian pesan ya? Kalian pemegang kunci surga ya? Kalian punya hak menentukan siapa masuk surga siapa masuk neraka ya?"

Tapi, mas Justrin Habibers dan Supi Herandehs juga konco-konco dari perguruan silat sealiran sepertinya hari-hari ini sedang sibuk. Atau mungkin sedang menikmati masa liburan kuliah. Atau memang tutup mata tutup telinga jika ternyata ada seorang sesepuh mengatakan:

"Siapa yang tidak memilih pilihan kita, yaitu Raja Dangdut, ketika dia wafat, dia tidak masuk surga!"

Thursday, January 10, 2013

PAIN IN THE ASS!


oleh Hasan Al-Jaizy


Disimpulkan oleh Ibnul Qayyim [w. 751 H]bahwa membuka pintu Ta'wil [yang rusak] adalah penyebab kehancuran alam serta kerusakan diin [agama] dan dunia. [Ash-Shawaa'iq Al-Mursalah, 1/348]

Ta'wil yang dimaksud bukanlah ta'wil bermakna tafsir yang sesuai dengan pemahaman salaf; melainkan sebuah aplikasi memahami teks dengan cara menyimpangkan makna zahir hakikat menuju makna yang tidak zahir atau tidak sebenarnya TANPA dalil yang sah. Bahkan terkadang dimaknai dengan makna yang tidak dikenal sama sekali pencocokannya dalam bahasa.

Contoh:

Jika saya katakan, "Saya melihat singa di hutan"
Ta'wil yang rusak adalah memahami kata 'singa' tersebut adalah kelinci berwarna kuning. Hal ini tidak pernah dijadikan penggunaan sama sekali dalam bahasa, baik formal ataupun keseharian.

Dan ta'wil yang melenceng tanpa disertai dalil yang sah, tidak lain dilahirkan oleh penyakit hati; yaitu ittiba' al-hawa. Apa lagi selain ini? Jika seorang liberal memaknai jilbab dalam Al-Qur'an bukan jilbab sebenar penutup aurat, melainkan jilbab hati, maka ia WAJIB mendatangkan qarinah atau dalil untuk menguatkan pemaknaan tersebut. Jika tidak mendatangkan apapun selain pendapat pribadi dan kelompok, maka ia telah:

Tuesday, January 8, 2013

Numero Uno [Number Wahid]


oleh Hasan Al-Jaizy

Dengar-dengar, Prancis adalah negara yang sangat demokratis. Katanya lagi, Prancis itu sangat menjunjung makhluk Feminis.

Hasil positifnya : Perancis menjadi negara yang tingkat pemerkosaannya tertinggi dari semua negara di dunia.

Ah, itu kan katanya. Tapi, kita bisa memetik hikmah. Setidaknya, kita sudah bisa membuktikan, jika Feminisme itu bagus. Bisa melucuti jilbab, bra dan celana dalam; disebabkan Hak Asasi Monyet. Monyet dan anjing saja boleh, kena manusia tidak boleh?

Di lain kesempatan, Bu Yeni Wahid, yang merupakan anaknya bapaknya pluralisme, the so-called Wali itu, mengatakan bahwa Saudi Arabia mempunyai tingkat perkosaan lebih tinggi di banding negara Eropa.

“Kasihan, sudah benci penerapan syariat, berdusta pula. Berdasarkan statistik resmi, negara ‘papan atas’ kejahatan perkosaan terhadap warganya justru diduduki oleh negara-negara Eropa. Bagaimana dengan Arab Saudi? Dari 116 yang diteliti, Arab Saudi justru di peringkat terbawah yakni ranking 115,” ungkap seorang da’i, Ustadz Abdullah Haidir yang dilansir laman facebook fimadani, Selasa (8/1/2013).

Tidak heran toh? Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya?

Memang numero one [satu-satunya yang seperti itu] dalam bahasa Arab, berarti 'Wahid' ya?


Sunday, January 6, 2013

YAHUDI, PERGURUAN HIJAU DAN PENOLAK KEBENARAN!!!


oleh Hasan Al-Jaizy


Sebelum meneruskan membaca tulisan ini, penulis menghimbau pembacanya agar berusaha melapangkan dada. Selain itu, penulis juga menganjurkan agar pembaca tidak berpura-pura berlapang dada, yakni: 'ngakunya' berlapang dada namun rupanya ada kesumat mendendam di dalamnya.

Abdullah bin Salaam dikenal dahulu sebelum keislamannya sebagai seorang tokoh dan alim Yahudi. Ia mengenal tepat kitab yang disucikan oleh kaum Yahudi. Ia mengenal tepat sifat dan zaman kemunculan Nabi terakhir dalam agama Tauhid.

Diceritakan oleh Muhammad bin Ishaq, bahwa beliau telah diceritakan oleh keluarga Abdullah bin Salaam perihal dirinya dan keislamannya. Ia [Abdullah bin Salam] pernah mengakui, "Ketika aku mendengar tentang Rasulullah -Shallallahu alaihi wa Sallam-, aku sudah mengetahui namanya, sifatnya dan zamannya [1]."

Generasi Tidur Pagi


oleh Hasan Al-Jaizy


Tidur pagi, jika bukan disebabkan kurangnya istirahat malam, melainkan disebabkan kebiasaan, adalah KEBURUKAN. Jika itu adalah kebiasaan seorang bapak-bapak yang memiliki anak, maka ini adalah KEBURUKAN yang sangat buruk! Jika itu adalah kebiasaan seorang ibu yang memiliki anak, maka ini LEBIH BURUK lagi. 

Jika itu adalah kebiasaan anak muda, -terutama mahasiswa masa kini-, maka itu adalah BURUK.

Calon pemimpin bangsa ini rupanya punya kebiasaan buruk, yaitu tidur pagi. Setelah shalat Shubuh, tidur pagi.

Thursday, January 3, 2013

Memalingkan Tahdzir


oleh Hasan Al-Jaizy

Tahdzir bermakna memperingatkan.

Tahdzir adalah bagian dari nasihat. Dan sebagaimana jarh, itu semua adalah bagian dari amar ma'ruf nahi munkar. Ketika kita men-jarh nama orang sesat dengan tujuan agar manusia lari darinya dan tidak terkena fitnah kesesatannya, maka kita telah mengamalkan sebuah nasihat untuk umat.

Namun, tahdzir yang hanya didasari ingin mempermalukan semata, atau diamalkan oleh orang yang tidak/belum berhak, maka berpotensi negatif hasilnya.

Sekarang, mungkin Anda akan menoleh ke para Ghullat Tahdzir atau Ghullat Tajriih; sambil mengingat kekonyolan apa yang mereka lakukan/katakan. Bagaimana jika sekarang kita menatap diri sendiri!? Apakah kita sudah muak introspeksi diri dalam hal ini!? Kita ini terbiasa menyuruh mereka bercermin dan menimpali segala mal-praktek tahdzir, tajrih, tabdi' dan tafsiq kepada mereka, dengan perasaan merasa diri sendiri sudah 'selamat' dari itu kekonyolan. Inilah yang mungkin bisa disebut:

Mentahdzir Maling


oleh Hasan Al-Jaizy


Sejujurnya saya merasa sebal sangat jika melihat suatu notes atau artikel blog yang saya tahu itu bukan hasil karya pemilik keduanya; melainkan hanya tekan Ctrl C + V atau retyping, namun sama sekali TIDAK menyebutkan sumber atau nama penulis aslinya [creator] atau minimal [ini paling minimal] menulis 'copas dari teman' dan kalimat semacamnya.

Kalau catatan atau artikel tersebut bukan hasil nukilan murni, melainkan hasil tulisannya yang mirip sekali dengan artikel lain, namun dibedakan gaya penyampaiannya dan berbeda kalimat-kalimatnya, maka ini layak disebut karyanya; karena memang ia memiliki hasil perasan otak di dalamnya. Bukan murni hanya gerakan singkat jemari.

Dan kebanyakan manusia yang melakukan itu [copas buta tanpa penyebutan sumber/link atau penulis asli] disebabkan beberapa hal:

Wednesday, January 2, 2013

Numpang Beken II


oleh Hasan Al-Jaizy

Di antara bentuk-bentuk tingkah yang sebenarnya memalukan terkait kebekenan seseorang adalah ucapan-ucapan semacam ini:

"Dia dulu teman main petasan waktu kecil."

"Dia dulu teman sekelas saya." [lalu bercerita tentang diri temannya yang sudah beken saat masih muda tanpa diminta tanpa ditanya]

Ronaldikin pun ketika tua berkata pada temannya tentang Lionel Mecin, "Dulu, gue tu sezaman sama doi, bro. Kita juga bebarengan sama zamannye Neymar. Ada juga Sapi Herandehs dan Inisetan."

Ditanggapi oleh temannya, "Ciyus lu-lu pada megang apaan, bro?"

Angka-angka Bisa Menjadi PITNAH Atau Rahmat [?]


oleh Hasan Al-Jaizy

Ketika itu saya hampir memasuki pintu rumah. Pulang dari kampus di siang hari. Masih sekali teringat petikan kalimat Syaikh Al-Munajjid dalam salah satu rekaman kajian yang kala itu saya dengar. Maknanya:

"Angka-angka sekarang banyak menjadi PITNAH!"

Dan itulah yang sedang ingin saya bahas; namun bukan sisi PITNAHnya saja, melainkan sisi rahmatnya juga.

PITNAH berasal dari Fitnah, yang berasal dari Arabic. Fitnah dimaknai dalam dunia Arab atau Islam sebagai :

--> 'sesuatu yang buruk' [makna paling umum]
--> 'ujian/cobaan/musibah' [makna umum]
--> 'kemaksiatan/kekufuran/kesyirikan' [makna khusus; karena ini berkaitan dengan agama].

Angka-angka bisa menjadi fitnah, atau rahmat. Saya berikan beberapa gambarnya secara instan:

Tuesday, January 1, 2013

NOL!

oleh Hasan Al-Jaizy

Selama kau belum memulainya, kau takkan pernah bisa.

Lebih-lebih kau mengharap tinggi-tinggi untuk masa depanmu, sementara memulai pun kau tak mau.

Lalu kau pun berencana memulai dengan langkah besar, hingga cepat sampai. Ku kira kelak bukanlah puncak yang kau pijak, melainkan dada yang sesak. Orang yang tak biasa melakukan sesuatu namun tergesa, ia akan kehabisan lagu dan raib tujuannya.

Uang sejuta takkan jadi tanpa 100 perak.

Maka, jika punya 100 sekarang, tabunglah ia. Esok kau kan punya uang lebih dan sisihkan terus. Jika menunggu 5000 baru menabung, ketika kau mendapatkan 5000, kau sudah bersyahwat ingin membeli apapun. Dan langkahmu kembali ke:

NOL!