Showing posts with label nasihat. Show all posts
Showing posts with label nasihat. Show all posts

Tuesday, July 16, 2013

Tidak Memprotes Hikmah Ilahi

[Risalah Ibnul Jauzy: “Tidak Memprotes Hikmah Ilahi”]

MASALAH ini telah dibahas berkali-kali, namun mengulanginya secara permanen sangat penting untuk mengingatkan hati.

Seorang mukmin wajib ketahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Pemilik Yang Mahabijaksana yang tak melakukan kesia-siaan, dan pengetahuan ini melarangnya memprotes takdir-Nya.

Sejumlah makhluk telah memprotes Allah dan hikmah-Nya. Itu adalah tindakan yang menjadikan seseorang kafir. Makhluk pertama yang memprotes hikmah Allah adalah Iblis dengan mengatakan, “Aku lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan aku dari api sedang ia Engkau ciptakan dari tanah.” [Q.S. Al-A’raf: 12], yakni tindakan-Mu mengunggulkan tanah atas api adalah tindakan yang tidak sesuai dengan hikmah!!!

Sunday, July 14, 2013

Hakekat Kesabaran

Hakekat kesabaran adalah suatu akhlak mulia yang dimiliki seseorang, yang dengannya ia mampu menahan diri dari perbuatan yang tak baik dan tak patut. Sabar adalah salah satu kekuatan seseorang yang dengannya pribadinya menjadi baik.

Al-Junaid bin Muhammad pernah ditanya perihal kesabaran. Ia pun menjawab:

تجرع المرارة من غير تعبس

"(Kesabaran ialah) seperti engkau meneguk minuman pahit tanpa bermuka masam."

Dzu An-Nun berkata:

التباعد عن المخالفات والسكون عند تجرع غصصى البلية وإظهار الغني مع حلول الفقر بساحات المعيشة

"(Kesabaran ialah) menjauhi segala amalan menyimpang, tabah kala cobaan datang, serta bersikap di depan manusia seolah berkecukupan, padahal sebenarnya ia miskin dan pada nafkah hidup betapa ia membutuhkan."

Ada yang berpendapat bahwa kesabaran adalah menghadapi musibah dengan etika yang baik. Ada pula yang berpendapat bahwa kesabaran adalah bersikap tidak membutuhkan apa pun kala alami musibah serta tak mengeluh.

Amr bin Utsman Al-Makky berkata:

Tuesday, March 26, 2013

Musafir Perjuangan

oleh Hasan Al-Jaizy


Berawal seseorang dari ketiadaan, lalu berakhir pula dengan ketiadaan. Berawal penciptaan seseorang dengan kesepian dan kesendirian, lalu berkhir pula dengan keduanya. Berawal terlahir manusia dengan keentahan dan ketidaktahuan, dan apakah engkau ingin mengakhiri dengan jawaban, "Aku tidak tahu!" !?

Yang merawatmu sejak sebelum hijrahmu dari perut ibu menuju perut bumi adalahAllah. Yang menjagamu di dalamnya. Setelah keluarnya pun kau tetap Dia jaga. Sepanjang suratan dan siratan sirah hayatmu, Dia lah yang mengaturnya. Rizki telah tertunaikan tanpa setitikpun terkurangi. Nasib telah ditakdirkan tanpa setitikpun kezaliman. 

Apakah kau mengingat-Nya? Bagiamana cerita hatimu kini akan-Nya?

Dia Dia...Dia-lah yang menciptakan kedua orang tuamu, yang menitipkan pada keduanya dirimu. Makhluk pertama yang peduli terhadapmu adalah ibumu. Kemudian, masih ibumu. Lalu, ibumu tak henti peduli. Setelahnya, muncullah nama bapakmu.

Tuesday, February 5, 2013

Mengenang Suyuthi Tuk Kedua Kali

oleh Hasan Al-Jaizy


Ini untuk orang-orang yang merasa dirinya sengsara. Kasihan sekali orang-orang semacam ini. Atau yang lebih kasihan adalah yang merasa paling sengsara, paling miskin dan paling menderita. Padahal ia hidup di negara aman. Ia tidak sedang dikejar hewan-hewan. Rumahnya tidak sembarangan digrebek Densus 88. Tetapi kenapa merasa paling besar ia punya kesengsaraan?

Padahl semua dari kita adalah orang kaya. Boleh kaya akan makna, tapi pastinya kaya akan fisik. Ada percakapan Haji Asnawi dan Suyuthi:

Haji Asnawi: "Ada apa, anakku?"

Suyuthi: "Pak Haji, hidup saya seolah paling sengsara. Saya kere sekali. Mau menikah dengan manusia, namun modal tidak ada. Mau beli laptop, namun uang tidak ada. Bayar kredit pun tak mampu. Mau beli baju pun tidak ada. Padahal saya pengen sekali membeli ketiganya: manusia, laptop dan baju. Tapi yang saya dapat malah gundukan puntung rokoknya Pak De Su'aid. Pak Haji, saya miskin sekali. Berikanlah solusi."

Haji Asnawi: "Baiklah, kamu bisa bahasa Arab, kan? Dan kamu suka baca kitab juga, kan? Lalu kamu mudah menghafal Al-Qur'an, Hadits dan matan-matan, kan?"

Suyuthi: "Yoi, Pak Haji."

Sunday, February 3, 2013

Kalau Baru Selintas, Jangan Diomongi!

oleh Hasan Al-Jaizy


"Kalau Baru Selintas, Jangan Diomongi!"

Kalau memang berniat ingin memberi (sedekah) pada orang lain, baiknya jangan sekadar lafadz, "Saya ingin memberi dana ke fulan (B)" lalu disampaikan melalui A menuju B. Jangan sekadar lafadz, baik lisan maupun tulisan.

Dengan kabar dari A, maka B akan berbesar harapan; karena merasa ada yang akan membantunya. B tidak bisa disalahkan akan harapannya. A pun hanya menyampaikan kabar gembira.

Namun, jika kemudian calon pemberi sedekah ini lupa akan lafadznya, ini sangat tidak baik. Sangat tidak baik. Bahkan bisa mencederai hati manusia. B memang sebelumnya tidak ngarep; tetapi tentu ketika dibukakan pintu harapan, ia menjadi ngarep. Ini manusiawi sekali; terlebih dalam keadaan sulit. Ia akan kecewa dan malah menambah tidak enaknya hati.

Begitu pula A, sebagai penyampai kabar. Ia juga merasakan tidak enaknya. A , jika mau menanyakan atau menagih, ia pun tidak enak. Kesannya seperti peminta-minta. Terlebih B, yang tidak kenal dengan si calon pemberi. B jauh lebih malu lagi.

Saran kami: Jika Anda ingin melakukan sesuatu berkenaan dengan maslahat orang lain, selama itu BARU SEBATAS FIKIRAN TERLINTAS, lebih baik tidak usah diucapkan dulu. Jika memang sudah bertekad, kabarkanlah dan jangan lupakan ucapan setengah janji.

Ini lebih terjadi pada wanita; karena baru sekali terlintas fikiran, langsung diwartakan. Ini bisa berdampak negatif.

Monday, January 28, 2013

Islamic Book Fair 2012 = Kuburan Keramat II


oleh Hasan Al-Jaizy

Islamic Book Fair 2012 = Kuburan Keramat II

Hari itu, semua teman sekelas saya terlihat ceria sekali. Dari yang biasa tidur di kelas, menjelang jam pembagian uang, ia tegak dan sigap. Jangan-jangan itu saya sendiri. Kita pun ke maktabah [perpustakaan], tempat di mana pesangon 2 juta itu dibagi-bagi.

Dan entah siang itu atau esoknya, tapi sepertinya siang itu juga, saya berencana ke IBF. Sebelumnya, saya mencari teman perjalanan yang juga berencana mau ke sana siang itu. Ternyata sahabat saya yang master hurup F dan P ini berencana sama. Kalau begitu, siang ini kita akan berdua ke IBF. Sebelumnya, saya harus mengunjungi rumah kosnya terlebih dahulu. Kita makan bareng di sana.

Maka, pergilah kita berdua. Naik Busway. 

Maka, sampailah kita berdua. Turun Busway.

Maka, berjalanlah kita berdua. Menjauhi Shelter Busway.

Maka, sampailah kita berdua. 

Pengunjungnya banyak juga. Kita berdua keliling-keliling. Sahabat saya ini rupanya selain mencari beberapa kitab Arab, ia mencari beberapa kitab terjemahan bidang Aqidah/Tauhid buat kurikulum di sekolah yang dahulu ia belajar di sana. Dia sudah menjadi 'tokoh' kecil di daerahnya. 

Jangan Banyak Tawa!


oleh Hasan Al-Jaizy

Fawaid 0028: "Jangan Banyak Tawa"

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa Sallam- bersabda:

لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ , فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

"Janganlah kalian banyak tertawa. Sesungguhnya banyak tertawa itu mematikan hati." [H.R. Ibnu Majah, no. 4191 dan 4193]

أَقِلَّ الضَّحِكَ ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

"Sedikitkanlah tawa. Sesungguhnya banyak tertawa itu mematikan hati." [Adabul Mufrad, no.246]

Al-Munawi mengatakan:

وهو كيفية يحصل منها انبساط في القلب مما يعجب الإنسان من السرور ويظهر ذلك في الوجه والإكثار منه مضر بالقلب منهي عنه شرعا وهو من فعل السفهاء والأراذل مورث للأمراض النفسانية 

"Dan (tertawa) itu adalah tata cara mendapatkan perluasan di hati dari apa yang dikagumi oleh manusia perihal kesenangan. Hal itu terpancar di wajah manusia. Dan memperbanyak tertawa berbahaya bagi hati. Ia terlarang secara syar'i. Itu adalah perbuatan sufahaa' [orang-orang bodoh] dan rendahan yang dapat mewariskan penyakit-penyakit kejiwaan." [Faidhul Qadiir Syarh Al-Jami' Ash-Shaghiir, Zainuddin Al-Munawi, 1/162]

At-Thiiby berkata:

Sunday, January 27, 2013

Pengangkatan Derajat Orang Alim

oleh Hasan Al-Jaizy


Fawaid 0025: "Pengangkatan Derajat Orang Alim"

Allah Ta'ala mengabarkan secara khusus tentang diangkatnya derajat orang berilmu dan beriman. Allah Ta'ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا۟ فِى ٱلْمَجَٰلِسِ فَٱفْسَحُوا۟ يَفْسَحِ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟ يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍۢ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌۭ

"Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." [Q.S. Al-Mujaadilah: 11]

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa Sallam- bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

"Sesungguhnya Allah mengangkat dengan Al-Qur'an beberapa kaum dan Allah pun merendahkan beberapa kaum dengannya." [H.R. Muslim, no.817 dan Ahmad no.232]

Berdakwah di Dua Dunia

oleh Hasan Al-Jaizy

Jika Anda tidak berdaya berdakwah di dunia nyata, maka budidayakan berdakwah di dunia maya. Namun, jika Anda berdaya di keduanya, utamakan di dunia nyata. Dan jika dakwah Anda berjaya di kedua dunia, wasiat terbaik adalah tetaplah istiqamah dan jangan takabbur.

Manusia yang tak berdaya di dunia nyata, belum tentu ketidakberdayaannya disebabkan oleh dirinya. Kadang Allah menguji manusia dengan kenyataan pahit dan kesempitan yang nyata. Dan inilah rahmat Allah. Ketika seolah segalanya tersumbat di dunia nyata, dunia maya Dia ciptakan. Untuk memberikan kesempatan belajar mengajar bagi siapapun yang di dunia nyata kesulitan.

Beberapa gadis 'dikurung' orang tuanya dan dilarang keluar mencari ilmu, meskipun hanya ke pengajian. Mereka mengeluh dan iri pada siapapun yang bebas terbang ke masjid atau kampus manapun. Namun, Allah membuka bagi mereka pintu kesempatan di dunia maya. Di sana, ia bisa temukan taman-taman, yang di dalamnya ada jembatan persaudaraan bahkan jembatan menuju surga.

Dan beberapa manusia, jelas tak punya nama besar di lingkungannya, tak terpandang dan tak teranggap. Bahkan, sekali ucapan dan seruan dari mulutnya selalu berbalas penolakan. Namun, Allah membuka bagi mereka pintu kesempatan di dunia maya.

Jika Anda bisa merengkuh keduanya, yakni dua dunia, maka Anda mampu memanen pahala tiap kala.

Kerusakan Di Muka Bumi Adalah Kemaksiatan Terhadap-Nya

oleh Hasan Al-Jaizy


Fawaid 0024: "Kerusakan Di Muka Bumi Adalah Kemaksiatan Terhadap-Nya"

Allah Ta'ala berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ قَالُوٓا۟ إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ

"Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan." [Q.S. Al-Baqarah: 11]

Abu Al-Aaliyah [w. 93 H] berkata tentang ayat di atas: "Yakni janganlah kau bermaksiat di muka bumi, karena orang yang bermaksiat kepada Allah di muka bumi atau menyeru kepanya, maka ia benar-benar telah membuat kerusakan di muka bumi Allah. Perbaikan bumi dan langit hanyalah dengan taat kepada Allah dan Rasul-Nya." [Tafsir Ibn Abi Hatim no. 121]

Jika banyak manusia yang hidup kota berharap lebih sehat hidupnya, mereka serukan slogan "Back To Nature". Namun, seorang mukmin yang benar-benar beriman, demi ishlah dan maslahat hayat, ia akan serukan "Back To Al-Kitab and Sunnah".

Allah Ta'ala telah mengabarkan pada kita tentang saudara-saudara Yusuf alaihissalam dalam firman-Nya:

Friday, January 25, 2013

Kalau Memang Belum Saatnya Married...


oleh Hasan Al-Jaizy

Kalau memang merasa belum saatnya married, karena belum mampu secara finance, atau karena mau konsentrasi belajar dulu, atau faktor lain, ada 2 tarekat:

[1] Tarekat yang baik: jangan main senggol main kenal main senyum-senyum sama perawan donk. Apalagi kalau sudah sengaja komunikasi ga penting.

[2] Tarekat yang jelek: main senggol, colek, genit-genitan, senyum-senyum. Mengicar komunikasi ga penting. Baru ada gadis nanya sedikit, langsung diperhatikan.

[3] Tarekat yang munapik: di depan rakyat menampakkan muka 'galau' karena masih single dan sebagainya. Padahal, diam-diam main senyum di belakang layar, berburu, dan selainnya. 

Kegalauan itu untuk diobati atau dioles. Bukan dipelihara dan dijadikan sebagai topeng. Apalagi dijadikan sebuah kekonyolan dengan kelebayan yang tak berhenti. Obati dengan menikah jika memang merasa sudah waktunya dan mampu. Kalau belum, obati dengan ibadah, cari mulfit an-nadzar [hal yang memalingkan pandangan dan perhatian], contohnya: konsentrasi kerja, menuntut ilmu dengan giat, membantu ortu, membuat karya, membentuk organisasi dan masih banyak lagi.

Friday, January 11, 2013

Sebuah Renungan

oleh Hasan Al-Jaizy

Mungkin di zaman dahulu, di awal-awal tersebarnya Islam dan di tengah gelora ilmu juga tadwiin-nya, jika para ulama diberi wasiat atau nasehat agar istiqamah dan tetap beradab, mereka merenung...atau mungkin menangis.

Mungkin di zaman sekarang, di saat kitab-kitab tersebar dengan 'seenaknya', soft copy maupun hard copy, jika para pencari ilmu 'senior' diberi wasiat atau nasehat agar istiqamah dan tetap beradab, mereka melebarkan dan menipiskan bibir. Bisa jadi senyum-senyum saja, namun dalam hati membatin:

'Siape elu!?'

Dan bukan tidak mungkin itu terjadi pada seorang ustadz sekalipun.

Ketika ilmu memang dipelajari sangat-sangat...namun tidak terasuki dalam jiwa, maka akhlak dan hati benar-benar mencerminkannya. Kita -anggaplah- banyak membaca, membahas, memperbincangkan, mengutip, menulis dan menghadiri majelis, namun apakah benar ilmu kita resapi?

Kadang kita sungguh-sungguh iri dengan seorang yang baru hafal doa sedikit tapi kemudian rutin mengamalkan. Sementara beberapa halaman dari buku-buku tebal kita lahap....

...knowledge collectors sometimes are worse than the "I-don't-know-anything" people.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/486355564739167

Tuesday, January 8, 2013

Mengukir Nisan Kuburan Keramat


oleh Hasan Al-Jaizy


Pak Aris berkata di salah satu komentar pada salah satu statusnya di akunnya di suatu ketika:

"Apa beratnya sih nulis sumber kutipan, kan lebih pendek daripada copasannya yg panjaaaang panjaaaang itu..?"

Kalimat di atas dalem sekali. Saking dalemnya, yang terjerumus ke dalamnya mungkin bisa merasa sakit. 

Gabungkan dengan seseorang yang mengirim pesan di FB menulis:

"*Pencipta karya tulis = tidak mempermasalahkan karyanya dicopas tanpa membubuhkan namanya karena pada dasarnya ia tetap mendapat pahala dari Allah.
*Ahli (copas,nukil,sadur) = seharusnya menampilkan sumber sebuah tulisan untuk menjaga amanah ilmiyah.
KESIMPULAN
"Menyertakan sumber dari sebuah tulisan amatlah penting untuk mengetahui kevalidan tulisan itu,tidak lebih.(bukan supaya penulisnya terkenal)"

Monday, January 7, 2013

Pelangi Payungi Bumi


oleh Hasan Al-Jaizy


Air mata itu lebih terasa mengalir jika manusia merundukkan kepalanya. Jarang ada manusia menangis dan menumpahkan isi hatinya dalam kondisi kepala menengadah.

Si keras kepala dan si sombong jarang menangis. Kepalanya terlalu sering menengadah. Merasa di atas siapa-siapa.

Kepala yang tegak itu baik ditampilkan depan makhluk.
Namun selamanya di depan khalik, tundukkan kepala.

Tegar adalah ketika ia menegak wajar di hadapan manusia selagi badai mempermainkan lembaran-lembaran sirah hayat, selagi merunduk di depan Sang Pencipta manusia. Jika Dia hendaki badai berganti pelangi, pelangi akan mengganti. Jika Dia hendaki pelangi terhapus badai, badai menghapus.

Lihatlah hujan-hujan atau gerimis itu. Tiap titisannya turun ke bawah, tiada ke atas. Dan setelah hujan terbit garis-garis pelangi, seperti setelah menangisnya manusia, terbit harapan-harapan baru.

Maka bangkitlah wahai manusia dari keterpurukan; karena selama roda kehidupan berjalan, tiap sulit dan mudah hadir silih berganti. Tiap sakit ada obatnya. Dan tiap obat ada kadarnya. Jika begitu adanya, mengapa ada manusia merasa putus asa dengan qadar?


Sunday, January 6, 2013

YAHUDI, PERGURUAN HIJAU DAN PENOLAK KEBENARAN!!!


oleh Hasan Al-Jaizy


Sebelum meneruskan membaca tulisan ini, penulis menghimbau pembacanya agar berusaha melapangkan dada. Selain itu, penulis juga menganjurkan agar pembaca tidak berpura-pura berlapang dada, yakni: 'ngakunya' berlapang dada namun rupanya ada kesumat mendendam di dalamnya.

Abdullah bin Salaam dikenal dahulu sebelum keislamannya sebagai seorang tokoh dan alim Yahudi. Ia mengenal tepat kitab yang disucikan oleh kaum Yahudi. Ia mengenal tepat sifat dan zaman kemunculan Nabi terakhir dalam agama Tauhid.

Diceritakan oleh Muhammad bin Ishaq, bahwa beliau telah diceritakan oleh keluarga Abdullah bin Salaam perihal dirinya dan keislamannya. Ia [Abdullah bin Salam] pernah mengakui, "Ketika aku mendengar tentang Rasulullah -Shallallahu alaihi wa Sallam-, aku sudah mengetahui namanya, sifatnya dan zamannya [1]."

Thursday, January 3, 2013

G.A.L.A.U.


oleh Hasan Al-Jaizy

G.A.L.A.U.

[Bacaan Untuk Manusia; Yang Bukan Manusia, Jangan Pura-pura Bisa Baca!]

Orang yang punya cita-cita tinggi, adalah seorang yang berbeda. Ia memiliki karakteristik yang tidak kau temukan pada semua manusia. Jangankan pada kesuksesannya kelak, bahkan pada penyesalan hingga kegalauannya adalah sesuatu! Orang bercita tinggi menyesal banyak habiskan waktu tidak untuk membangun mimpi menjadi nyata. Dan itulah salah satu bentuk kegalauan mereka.

Galau adalah awal mula dari iradah. Sedangkan kesuksesan adalah akhir dari iradah, sekaligus natijah [hasil] dari ikhtiar [usaha].

Kenapa manusia galau? Karena ia menginginkan sesuatu! Dan menginginkan sesuatu bermakna ia ingin mencapai sesuatu yang ia inginkan/harapkan.

Kegalauan itu relatif dan nisbi. Ia dihukumi tergantung pada bentuk iradah, bukan bentuk kegalauan itu sendiri. Jika ia galau karena iradahnya adalah ingin mendapat pacar segera atau karena diputuskan pacar baru saja, maka ini adalah galau yang bodoh dan tercela. Namun, jika ia galau karena iradahnya adalah ingin segera menikah, namun ditolak oleh banyak incaran, atau belum punya modal, atau merasa kurang pede, maka ini adalah galau yang wajar dan bahkan bagus.

Memalingkan Tahdzir


oleh Hasan Al-Jaizy

Tahdzir bermakna memperingatkan.

Tahdzir adalah bagian dari nasihat. Dan sebagaimana jarh, itu semua adalah bagian dari amar ma'ruf nahi munkar. Ketika kita men-jarh nama orang sesat dengan tujuan agar manusia lari darinya dan tidak terkena fitnah kesesatannya, maka kita telah mengamalkan sebuah nasihat untuk umat.

Namun, tahdzir yang hanya didasari ingin mempermalukan semata, atau diamalkan oleh orang yang tidak/belum berhak, maka berpotensi negatif hasilnya.

Sekarang, mungkin Anda akan menoleh ke para Ghullat Tahdzir atau Ghullat Tajriih; sambil mengingat kekonyolan apa yang mereka lakukan/katakan. Bagaimana jika sekarang kita menatap diri sendiri!? Apakah kita sudah muak introspeksi diri dalam hal ini!? Kita ini terbiasa menyuruh mereka bercermin dan menimpali segala mal-praktek tahdzir, tajrih, tabdi' dan tafsiq kepada mereka, dengan perasaan merasa diri sendiri sudah 'selamat' dari itu kekonyolan. Inilah yang mungkin bisa disebut:

Wednesday, January 2, 2013

"Aqil Ahli Andalus"


oleh Hasan Al-Jaizy

Diriwayatkan ada seorang bernama Yahya bin Yahya melakukan safar untuk mencari ilmu menuju kediaman Imam Malik. Dan ia (Yahya) saat itu masih kecil. Lalu ia pun mendengarkan Imam Malik hingga memahami banyak perkara agama. Imam Malik kagum akan kepribadian dan kepintaran Yahya. 

Diriwayatkan suatu hari Imam Malik sedang duduk bersama beberapa temannya di suatu majelis. Lalu ada seseorang berkata, "Hey, ada gajah!" Maka, kawan-kawan Imam Malik pun keluar untuk melihatnya. Kecuali Yahya, ia tetap terduduk di tempatnya.

Imam Malik bertanya padanya, "Kamu tidak [ikut] melihat gajah itu? Gajah tidak ada di Andalus!"

Maka Yahya berkata pada beliau, "Aku datang ke sini jauh dari negeriku untuk melihatmu, belajar dari ilmumu, dan aku bukan datang untuk melihat gajah."

Seketika Imam Malik takjub dengan jawabannya. Beliau pun menjulukinya:

عاقل أهل الأندلس

********

Tamparan untuk kita.

Kita datang ke sana dari rumah untuk trend, sembari menikmati wajah penceramah.

Kita datang ke sana dari rumah untuk diketahui bahwa kita ce-esan.

Kita datang ke sana dari rumah agar jumlah dan hitungan absensi nama kita tak melebihi batas yang ditentukan manajer akademik.

Kita datang ke sana dari rumah agar melihat teman-teman, bisa ngumpul atau bisa kopdar.

Kita datang ke sana berharap menyimak sang ustadz mengomentari kejadian-kejadian terbaru, fitnah teranyar dan pembahasan tentang kelompok lain.

Kita datang ke sana karena apalagi............................?

Kita banyak-banyak bicara kita harus menimba ilmu dan mengamalkannya, dan ternyata.....

kita tidak seperti Aqil Ahli Andalus, kita seolah Aqil Akal Bulus.

Sunday, December 30, 2012

Bingkisan Untuk Saudara Nun Jauh Di Sana


oleh Hasan Al-Jaizy


Jika diperkenan memberi bingkisan, inilah isinya yang sederhana:

[1] Jadikan ikhlas adalah asas ibadah jemarimu kala mengetik, kakimu kala berjalan, matamu kala membaca, lisanmu kala menasihati, segalamu kala beribadah. Nyalakan pelita itu; sesungguhnya tidak sedikit yang beribadah, namun hati menggulita.

[2] Ilmumu akan dijamah berkah jika kau dengannya bersedekah; sebagaimana hartamu akan diberkati jika dengannya kau suka berbagi. Maka, ketika kau senang dengan ilmu yang kau punya, buktikan rasa syukurmu dengan membaginya.

[3] Dahulu menulis ulang di catatan terasa hadirkan ingatan dan keberkahan; kini kau bisa menulis ulang di status; dan jika kau ikhlas berbagi, insya Allah ilmu semakin menancap di hati.

Saturday, December 29, 2012

Apakah...?


oleh Hasan Al-Jaizy

Apakah kita penebar manfaat melalui status, catatan dan lainnya di sini?

Jika jawabannya 'Ya', maka syukurlah pantas kita rasakan. Setelah jawaban 'ya', masih ada soalan lain:

"Apakah memang kita ikhlas murni melakukannya untuk kebaikan atau ketinggian diri semacam pencitraan?"

Maka, jawablah dengan suara hati dan gaungkan di jiwa sendiri.

Kenapa kita bertanya seperti itu?

Karena bukan tidak mungkin seorang yang mengawali pagi hari dengan kesempurnaan ikhlas, lalu di siang hari tergiur pujian, menjelasng sore letih dipuji dan ketika malam berbangga diri sambil mengingat kebaikan sendiri sebelum tidur.

Yakni, awalnya bisa jadi kita begitu tulus menebar manfaat, kemudian dipuji karenanya, merasa senang dengan pujian [yang ini tidak salah], namun terlena dan merasa bahwa pujian manusia lah upah baginya hingga ia puas sendiri.

Mana yang lebih 'mengena' di jiwa kita?

a. Ilmu yang kita sebarkan, atau
b. Komentar manusia

?

Rahasiakan jawaban. Sungguh ini hanya diperuntukkan untuk bercermin saja. Semoga jalan kita tetap melurus.