Showing posts with label [Serial MENGEJAR WAHABI]. Show all posts
Showing posts with label [Serial MENGEJAR WAHABI]. Show all posts

Tuesday, January 22, 2013

Mengejar Wahabi + Mengeramatkan Kuburan Keramat!


oleh Hasan Al-Jaizy

Ternyata kita ini hebat dan keramat! Lebih keramat dari para wali Allah, yaitu para sahabat, tabi'in dan seterusnya.

Lho, kok bisa? Begini ceritanya:

Seorang salafi mengatakan kepada seorang Sufi:

Salafi: "Saudaraku, usahlah kau dan kawanmu merayakan Prophet's Birthday atau Hari Ultah Nabi 1434. Itu tidak ada syariatnya sama sekali."

Sufi: "Ah, kau ini. Usahlah larang-larang aku dan kawanku. Niatku baik, kau tahu?"

Salafi: "Iya, tapi hal semacam itu baiknya kita tinggalkan, kawan."

Sufi: "Memangnya ada pelarangan Maulid di Al-Qur'an dan Hadits yang berbilang begini: 'Wahai kaum muslimin, janganlah kalian bermaulid!" Ada tak?"

Monday, November 12, 2012

Mengejar Wahabi

oleh Hasan Al-Jaizy

Di beberapa daerah, Wahabi dikejar-kejar. Ada juga di suatu daerah, Wahabi diusir. Tapi, mau sampai kapan pun, Wahabi malah tambah nyebar.

Dongkolnya Pak De Su'aid sudah memuncak ketika dia melihat Suyuthi pulang dari ziaroh ke pondok Wahabi yang selama ini ia musuhi. Bahkan koran Terjajah sudah meliput dan menerbitkan hasil wawacandanya terkait pondok itu. 

Suatu hari, Pak De Su'aid berniat berbincang 4 mata dengan beberapa orang kepercayaannya secara terpisah waktu. Dia ingin mendapat masukan bagaimana caranya mengenyahkan Suyuthi tanpa dimarahi Haji Asnawi. Dan juga bagaimana memfitnah pondok sawah itu.

Orang pertama yang ditemui adalah dia yang disebut Syaikh Than, seorang kadzuub [pendusta kelas bawal merah]. Syaikh Than memiliki reputasi buruk sehingga pernah mendapat ban dan blokir dari beberapa admin forum-forum. Ia juga punya link menuju orang-orang Syi'ah, satanis kuburan. Percakapan mereka pun diadakan di bawah rimbunan pohon bambu. Tepat di purnama ke 2 pada bulan ke tujuh.

Pak Su'aid: "Bagaimana ini, gus Than!? Saya sudah tidak punya alih sabar ingin menendang anak itu. Apa hendaknya petuahmu agar aku melakukan sesuatu?"

Syaikh Than: "Tenang saja, Ki Sanak. Jangan gegabah dan terlalu kentara. Pasukan Mataram yang kita tahu, mereka ingin tegakkan NKRI terang-terangan. Mereka terlalu mencolok di mata rakyat. Sementara mereka sendiri tidak punya prinsip yang teguh selain kalimat, 'NKRI harga mati!'. Meskipun kita termasuk dari mereka, tetapi kita pergunakan cara lain!"

Pak Su'aid: "Rupanya aku sedang mendengar sebuah permulaan dari nasihat bijak dari engkau. Gerangan apa yang hendak kau sarankan untuk hamba?"

Syaikh Than: "Kau tahu aku memiliki kemampuan menyihir manusia dengan penaku dan kedustaanku?"

Pak Su'aid: "Maksudmu, tongkat sihirmu semacam pulpen or something?"

Syaikh Than: "Gila lu, Ndro. Tentu saja tidak. Kan sudah saya beri Combantrin. Haduh....fikirkan baik-baik, Ki Sanak. Aku bisa membuat 3 trilogi kitab yang semuanya telah tertata di fikiranku."

Pak Su'aid: "Saya berfikir ide mu pasti HEBAT!"

Syaikh Thann: "Ya iyalah! Masa Ya IAIN. Itu mah kampus anak saya!"

Friday, June 15, 2012

MENGEJAR WAHABI : "Definisi Wahabi?"

oleh Hasan Al-Jaizy


[Definisi Wahabi?]

"Di kampung ane parah. Ada penceramah [baca: kyai] kondang diundang ke kampung buat ceramah. Ceramahnya emosional. Sampai di akhir ia berdoa: 'ALLAAHUMMAL'AN WAHHABIYYIIN' [Ya Allah, laknatlah orang2 Wahabi]. Masalahnya, ia adalah kyai terkenal, tapi kok melaknat begitu!?"

Di atas adalah seonggok cerita dari seorang teman sekelas di kampus, yang ia bukan seorang Wahaby [juga saya dan Anda], tentu saja muslim [juga saya dan Anda].

Pertanyaan ini selalu ada:

--> Apakah Wahaby itu?
--> Siapakah Wahaby itu?

Ada beberapa kisi-kisi:


1. "Wahabi adalah orang yang jenggoten"
Dalil: Ada ustadz pengajian dan majelis ta'lim menjelek-jelekkan lelaki yang berjenggot ; karena itu adalah ciri khas orang2 Wahaby.

Tanggapan: Rusak sekali. Bahwa Nabi, para sahabat, tabiin sampai beberapa kyai NU di masa lampau itu masyhur jenggoten. Ngakak berguling-guling lah kita kalau mereka semua disebut 'Wahabi'.


2. "Wahabi adalah orang yang cingkrangen"
Dalil: Masyhuur

Tanggapan: Tetap rusak. Karena ikhwan2 Jama'ah Tabligh juga memenuhi persyaratan ke-Wahabi-an: jenggoten dan cingkrangen. Namun mereka tidak tahu apa itu Wahabisme. Yang di fikirannya sebatas khuruj untuk dakwah, bagaimana caranya tinggal di masjid orang, dan...apa lagi?
Plus, beberapa tokoh Dragon Ball tidak pernah tahu Wahabisme. Ninja Hatori, dalam perjalanan mendaki gunung lewati lembah tak pernah disangka sebagai seorang Wahaby. Apalagi Wiro Sableng 212. Alih-alih disebut Wahabi, wong ngaji aja belum tentu bisa kok. Tapi, mereka semua cingkrangen!


3. "Wahabi adalah yang jenggoten, cingkrangen, suka membid'ahkan dan mengkafirkan kaum muslimiin"

Tanggapan: Mau berapapun persyaratan untuk masuk ke definisi Wahabi, tetap saja rusak. Wong otak orang2 anti-Wahabi saja sebenarnya sudah mulai rusak; cuma ga sadar saja. Nah, karena rusaknya itu, jadi lebay. Lebay dalam beribadah dan lebay dalam memahami perkataan orang.

Jadi, ketika ada orang yang mengatakan Maulid itu bid'ah [misalnya], langsung disebut 'Wahabi'? Lho, sebagian teman2 Ikhwani juga mengatakan 'Merayakan hari Ulang Tahun Nabi itu bid'ah' [meskipun bagi mereka: merayakan hari ulang tahun partai itu tidak bid'ah =DOR!]. Apakah mereka Wahabi? Tentu saja tidak!

Dan mengkafirkan ini seperti apa maksudnya ya? Kalau mengatakan: 'Orang2 Syi'ah [Imamiyyah] itu kafir; karena mereka menuhankan Ali dan para imam, mencela sahabat dan menuduh Al-Qur'an telah dirubah', ini adalah perkataan orang2 muslim keseluruhan. Oh iya, saya lupa kalau dedengkotnya sampeyan itu 11-12 dengan Syi'ah.


4. "Wahabi adalah yang berseberangan dengan Aswaja"

Tanggapan: Nah, ini dia yang kudu lebih digali lagi. Aswaja di sini Ahlus Sunnah versi siapa? 
Jangan sampai ada monyet mengaku-ngaku sebagai nenek moyang manusia demi mengangkat harkat-martabat monyet. 

Masalahnya, sekarang ada kelompok orang-orang yang merasa PALING BENAR, PALING BERILMU dan PALING BERKUASA UNTUK BERIBADAH mengaku-ngaku sebagai Ahlus Sunnah, padahal mereka ini Ahlul Bid'ah wal Jama'ah [Abwaja]. 
=> Mereka ini merasa paling benar sendiri; karena ga mau diprotes, dikritik padahal kritikannya disertai ayat Al-Qur'an dan Hadits.
=> Mereka juga merasa paling berilmu. Ada juga yang mengklaim berilmu karena mendapat sanad langsung; atau mendapat mimpi dari Rasul dsb. Benar, mereka adalah orang berilmu; karena mengilmui bagaimana caranya menipu.
=> Mereka juga paling berkuasa untuk beribadah. Lihat saja majelis dzikir dan ta'lim nya. Sudah mirip konser dzikir; ilmunya ga dapet. Kelihatannya berkuasa sekali di malam-malam berisik, gaduh, kampungan dan songong.

Apakah Aswaja yang dimaksud adalah yang tersifati seperti di atas ini?

Jika 'iya', maka banyak sekali orang2 Wahaby di dunia ini. Karena saya, keluarga saya, teman2 saya dan puluhan ribu orang berakal lainnya, mual melihat kelompok di atas. Dan kita semua berseberangan dengan mereka.


Beberapa kalimat:

STEP 1 => "Wahabi adalah orang2 yang merasa paling benar!"
STEP 2 => "ASW menyalahkan semua Wahabi!"
STEP 3 => "Orang yang menyalahkan orang yang merasa paling benar adalah orang merasa lebih benar daripada orang yang merasa paling benar"
STEP 4 => "ASW merasa lebih benar dari Wahabi yang merasa paling benar [menurut mereka]"

KESIMPULAN: "ASW adalah jenis orang yang merasa paling benar...merasa lebih benar dari siapapun"


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/404194039621987

Tuesday, May 8, 2012

MENGEJAR WAHABI : Belajar dari Internet? -Kritik Untuk Pengkritik-

oleh Hasan Al-Jaizy


[Belajar dari Internet? -Kritik Untuk Pengkritik-]

Ada satu kritikan yang tidak ilmiah terlontar dari saudara-saudara bermadzhab Syafi'iyyah dalam Fiqh dan beralur Asy'ariyyah dalam Aqidah: 'Salah satu tanda-tanda kebanyakan kaum Wahabi adalah memakai nama depan ABU untuk nama akun FB di Internet'. Sebenarnya ini bukan kritikan; namun 'gelitikan', karena penamaan Abu Fulan itu tak menjadikan saldo rekening beberapa majelis Habib surut dan melorot. Lalu kenapa dipermasalahkan?

Barangsiapa yang mempermasalahkan sesuatu yang bukan sebuah masalah, maka dia sebenarnya mencari-cari masalah, atau dia sendiri adalah masalah. Maka kita permasalahkan si 'dia'.

Kemudian, tudingan pada kaum Wahabi Indo, bahwa mereka 'sekedar' belajar dari Internet, dari Blog, situs Islami [baca: situs Wahabi], atau catatan2 di FB. Tudingan ini sebenarnya kurang bisa diterima; namun boleh jadi ini memang sebuah angin panas bagi beberapa ikhwah [minoritas] yang memang merasa cukup belajar dari Inet.

Terimalah kritikan itu selagi melakukan 2 hal: koreksi diri dan meraba medan atau lapangan.


1. Koreksi Diri 

Belajar dari Inet, selama yang dipelajari adalah sahih, valid, terekomendasikan dan terpercaya [keseluruhan: sesuai Qur'an-Sunnah-Ijma dan tak melanggar], maka itu adalah bentuk modern dalam mencari ilmu. Tidak bisa disalahkan. Namun jika mencukupkan diri atau bahkan mendewakan teknologi, ini bisa menjadi masalah.

Dalam mendalami agama, tentu kita butuh pembimbing, terlebih untuk ilmu alat [macam: Arabic, Ushul Fiqh, Musthalah Hadits]. Dan pembimbing sejati tak berbentuk tulisan atau kaset, tapi dia adalah manusia alim.

Nah, kita koreksi diri dan terima kritikan tersebut; karena mungkin saja itu memang teguran untuk kita. Kita di sini bermakna: Semua muslim yang hendak belajar; tak terbatas pada golongan tertentu.


 2. Lihat Lapangan

[A] Yang kita saksikan, justru rata2 makhluk2 yang dicap sebagai Wahabi, mereka rutin ke pengajian. Dan kerennya, pengajian mereka memang ILMIAH. Artinya: Jika kajian tersebut berdurasi 2 jam, maka selama 2 jam itu ustadz pengkaji berbicara dengan ilmunya; bukan menghabiskan waktu untuk dzikir semata. Karena dzikir juga ada waktu tersendiri. Shalawat juga bisa untuk masing2; di rumah, di jalan, di bis, di kamar dst.

[B] Yang kita saksikan, justru rata2 makhluk2 yang mencap mereka sebagai Wahabi, lalu men-testimoni diri sebagai Ahlus Sunnah atau pengikut dzurriyyat Nabi, ke pengajian memang rutin. Dan kerennya, SEBAGIAN pengajian mereka jauh dari kesan ilmiah. Artinya: Jika kajian atau majelis tersebut berdurasi 4 jam, maka selama 3,5 jam isinya sekedar shalawatan keras2, terkadang membuat bising 'mengatasnamakan-dzikir'. Sisanya, 30 menit kajian, sang ustadz kemudian berbicara. Materinya: sederhana, tidak usah yang berat2; karena kalau berat, mereka tidak kuat. Intinya: Tidak kuat mencari ilmu yang berat, tapi kuat untuk shalawat keras-keras di malam yang pekat. Ilmiah?

[C] Perbedaan signifikan: Rata2 [tidak semua] orang2 Wahabi setelah pengajian, ilmu masih tercantol, sehingga ketika diminta tuk menjabarkan isi kajian, akan siap sedia menjabarkan. Berbeda dengan mayoritas anak2 majelis anti-Wahabi, setelah pengajian, semua kembali pada 'ketidaktahuan' dan tak tampak bekas pengajian. Yang ada setelah pengajian: ngumpul, kongkow bareng, ngakak bareng, ghibah bareng, yang cowo-cewe datang berpasangan berpapasan kembali berpepesan semula, dan jangan lupa: ada beberapa yang hamil.

Apakah status ini berdusta? 
Jawab: Fakta tidak berdusta; tapi pendusta fakta adalah pendusta.


 Nah, setelah kita:
--> Mengupas, merogoh, mengobok-obok fakta, kembali ke laptop kritisasi: Apa salah jika kaum Wahabi yang belajar sungguh2 atau setengah sungguh di pengajian, menambah maklumat dan memperkayanya lewat Internet?

Tentu tidak; kan sudah saya beri Combantrin.....maksudnya, tentu tidak salah, kan sudah dapat ilmu juga dari guru pengajian.

Yang lucu: Katanya suka datang ke majelis, tapi tak ada bekas ilmunya, lalu internet digunakan untuk chat, game, non-sense, sekali yang ingin ilmiah, malah mengunjungi situs majelis hanya untuk mencari Ijasah Dzikir, rekomendasi dzikir, minta doa sekedar, tanpa belajar sungguh2 dari Internet. LOL.

Lebih lucu lagi: Jika tingkah di atas berlarut-larut, lalu mengkritik pihak yang memang 'belajar' benar2 untuk mendapatkan ilmu, membuang kebodohan dalam diri dan berdakwah lewat Internet. 

Maling merasa aman jika ia berteriak 'Maliiing'.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/383123338395724

Monday, December 12, 2011

Mengejar Wahabib

oleh Hasan Al-Jaizy

Habib X, seorang habib masa kini yang seolah tampak seperti satu-satunya 'pendekar bersanad' atau 'tukang ijasah dzikir' mengatakan:

"Wahabi dan kelompoknya, mereka itu tak hafal 10 hadits pun berikut sanad dan hukum matannya"


TANGGAPAN:

--> Lulusan SMA Pondok Pesantren ane rata2 hafal puluhan hadits dan tahu sanadnya; karena Kutubus Sittah mencukupi.

--> Rata2 para Syaikh, Ulama atau Ustadz yang dibenci Habib M itu, justru mengutarakan hadits sahih beserta sanadnya di kajian, ceramah, muhadharah dan liqo'.

--> Sebaliknya, kita tidak tahu Habib X sebenarnya hafal lebih dari 10 hadits berikut sanad dan hukum matannya atau tidak hafal. 

--> Yang masyhur diketahui, Habib X adalah penumpang trend dan penampang muka di baliho jalan raya.

--> Belum bisa dipastikan kepastian keilmuan Habib X; meskipun tersedia forum Tanya-Jawab di situs. 

--> Tulisan/jawaban Habib X rata2 tidak atau belum tentu menunjukkan keilmuan dan keilmiahan, tapi PASTI menunjukkan Nomor Rekening Majelis dan Nomor Rekening Pribadi atas nama pribadi. Inikah tingkah ulama BERSANAD? Bersanad saldo?


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/291163680925024