Showing posts with label Kenangan. Show all posts
Showing posts with label Kenangan. Show all posts

Tuesday, March 26, 2013

Perahu Retak ... Bahtera Karam

oleh Hasan Al-Jaizy


Era 90-an, lebih tepatnya sekitar 1997, ada sebuah lagu yang salah satu petikan liriknya tak terlupakan.

"Aku heran....aku heran..."

Itu adalah salah satu lagu yang populer di masa saya masih bersekolah SD, di samping 'Mungkinkah', 'Gerimis Mengundang' dan lainnya. Karena saya saat itu masih SD, mungkin di antara pembaca yang tiba-tiba merasa lebih 'senior' akan menggumam, 'Wah, itu mah masa-masa saya SMA'.

Saya sendiri tidak hafal liriknya, namun selalu teringat lirik tersebut 'dipleseti' oleh teman saya ketika itu. Teman saya bernama Faris. Teman SD saya. Asalnya:
 

Monday, January 28, 2013

Islamic Book Fair 2012 = Kuburan Keramat II


oleh Hasan Al-Jaizy

Islamic Book Fair 2012 = Kuburan Keramat II

Hari itu, semua teman sekelas saya terlihat ceria sekali. Dari yang biasa tidur di kelas, menjelang jam pembagian uang, ia tegak dan sigap. Jangan-jangan itu saya sendiri. Kita pun ke maktabah [perpustakaan], tempat di mana pesangon 2 juta itu dibagi-bagi.

Dan entah siang itu atau esoknya, tapi sepertinya siang itu juga, saya berencana ke IBF. Sebelumnya, saya mencari teman perjalanan yang juga berencana mau ke sana siang itu. Ternyata sahabat saya yang master hurup F dan P ini berencana sama. Kalau begitu, siang ini kita akan berdua ke IBF. Sebelumnya, saya harus mengunjungi rumah kosnya terlebih dahulu. Kita makan bareng di sana.

Maka, pergilah kita berdua. Naik Busway. 

Maka, sampailah kita berdua. Turun Busway.

Maka, berjalanlah kita berdua. Menjauhi Shelter Busway.

Maka, sampailah kita berdua. 

Pengunjungnya banyak juga. Kita berdua keliling-keliling. Sahabat saya ini rupanya selain mencari beberapa kitab Arab, ia mencari beberapa kitab terjemahan bidang Aqidah/Tauhid buat kurikulum di sekolah yang dahulu ia belajar di sana. Dia sudah menjadi 'tokoh' kecil di daerahnya. 

Islamic Book Fair 2012 = Kuburan Keramat I

oleh Hasan Al-Jaizy


Islamic Book Fair 2012 = Kuburan Keramat I

Seorang sahabat saya, sekelas di kampus, berasa dari Sunda, beberapa minggu yang lalu menanyakan sesuatu pada saya. Pertanyaan itu yang kembali menguak memori masa silam di tahun 2012. Kenangan berharga, yang ingin saya ceritakan di sini. Bukan bermaksud merendah atau berbangga. Tetapi, kenangan ini spesial sekali untuk saya.

Pertanyaan sahabat saya adalah, "Gimana Maret nanti, mau ke Book Fair bareng lagi ga?"

Saya terkejut dengan pertanyaan itu. Karena sudah lama tak mengingat IBF. Tentu saja saya berharap bisa datang ke event penting -bagi saya- itu. Bukan sekedar datang, namun mengais kitab-kitab yang lama saya idamkan. Itu pun kalau punya duit. :hammer

Brrr...selepas pertanyaan itu, saya termangu. Mengingat kenangan spesial. Sesuatu yang amat berharga.

Begini ceritanya:

Wednesday, January 23, 2013

Baa Bii Buu Ba


"Baa bii buu ba'. buuban baniba'...dan seterusnya.

Anak-anak kecil itu, my sons...my doughters....bercanda dengan nada-nada itu. 

Ah, biarkan sejenak keceriaan dan canda tawa mereka dengan nada-nada itu.

Kelak, ketika mereka besar, mereka akan sadar betapa berartinya nada-nada itu, dan betapa besarnya jasa guru-guru ngaji mereka. 

Dulu, guru-guru ngajiku pun ajari seperti itu. Pula zikir selepas shalat. Masih teringat masa-masa itu. Wajah guru-guru, yang mungkin sebenarnya mereka bukan seorang ahli, bukan seorang expert; namun mereka telah mendidik dan menanam benih pahala. 

Guru-guru masa kecil...yang tak lagi ku tahu di mana sekarang. Pernah ku dengar salah satunya wafat karena sakit.

Mereka akan pangling melihat kemasakinian yang jauh berbeda dengan masa lalu. 

Jangan bersedih dan merenung, wahai guru-guru anak-anak...wahai guru TPA dan semacamnya. Kalian bersusah payah dan bersabar membaja sekarang; kelak kalian akan diingat jasa-jasanya oleh mereka, ketika mereka besar dan dewasa. Kau sedang menabur tunas yang akan tumbuh meraksasa; sebagian akan menjulang ke langit selayak sukses selangit, sebagian tidak.

Kalian adalah orang-orang kuat.


Saturday, January 12, 2013

Cerita Pendek Kenangan Masa Itu

oleh Hasan Al-Jaizy


2005 dulu, ada seorang murid bernama Zubaidah. Ia dijuluki Benyet. Umurnya kisaran 14 kala itu. Mungkin kelahiran 1991. Ia adalah anak Dayak. Keluarganya penganut Kristen. Ia, bersama adiknya yang lugu namun nakal, masuk Islam. 

Keduanya tinggal bersama kami, di Pondok pelosok Parit Sembin, Kalbar. 

Zubaidah, suatu hari dalam masa haid, berkata kepada Bu Ina, pengasuh asrama putri, yang terbuat dari kayu dipenuhi anak-anak miskin dan yatim piatu, "Bu Ina, aku kangen membaca Al-Qur'an."

*******

Masih 2005, ada seorang murid putri bernama Hosna. Ia pelajar berusia 14 tahunan. Anak Madura. Bersekolah di pondok kami, namun tidak tinggal di asrama. Ia pulang balik tiap hari ke rumah. Letaknya beberapa kilo. Perlu lewati beberapa hutan karet. Yang jikalau saya bayangkan gadis-gadis kota ini bernasib seperti dia, mungkin celana-celana akan cepat basah.

Tuesday, January 1, 2013

Seringkali Kangen Masa Itu

oleh Hasan Al-Jaizy

Sering sekali saya pribadi rindu akan masa itu. Yaitu masa-masa di mana saya, sebagai seorang thuwailib pemula [dan masih hingga kini], belum mengenal istilah semacam 'Tahdzir', 'Hizbiyyah', dan seterusnya. Dahulu -mungkin karena memang pergaulan kami hanya di dalam pondok- kami tidak begitu mengenal kalimat semacam itu. Mungkin pernah dengar, namun sangat asing.

Malam ini, iseng-iseng membuka sebuah forum Islami yang insya Allah semuanya bermanhaj sahih dan berilmu. Berharap mendapat ilmu dan pemahaman baru di dalamnya yang bermanfaat dan bisa dimanfaatkan. Namun, yang rupanya membekas kini bukanlah atsar [bekas] dari ilmu, melainkan sakit di hati dan kesedihan kecil namun mendalam. Bukan bermaksud melukiskan seberapa putihnya hati sendiri; karena tidaklah penulis lebih baik dari pembaca tulisannya.

Beberapa thread dengan judul-judul menarik menarik saya untuk membukanya. Dan saya lihat sang syaikh hingga murid-muridnya [baca: pengikutnya] men-jarh [menikam] beberapa nama bertubi-tubi tanpa henti. 

Friday, December 28, 2012

Ustadz Mahmud + Ust Ihya [Cerita Untuk Pembaca]


oleh Hasan Al-Jaizy

Ust. Mahmud adalah seorang ustadz berasal dari Indonesia Bagian Timur yang dahulu ketika di pondok adalah orang yang selalu saya hindari, juga teman-teman. Karena beliau dahulu sangat tegas. Sekitar satu jam sebelum adzan Subuh, beliau sudah teriak-teriak membangunkan kami shalat. Ketika itu saya masih kelas 3 SMP. 

Pondok kami terletak di kaki Gunung Merbabu. Jangankan malam, siang pun dingin. Namun karena tersiram sinar matahari, menjadi sejuk. Namun, ustadz yang satu itu, di tahun itu, semangat sekali membangunkan kami. Saya dan teman-teman se-aliran, selalu menggerutu.

Kami tidak menyukainya. Geram melihat beliau. Paling minimal, kami mengucapkan 'ck' sebagai ekspresi kekecewaan dan kesebalan. Dan beliau tahu banyak santri tidak menyukainya. Namun, beliau tetap tegas.

Sunday, December 23, 2012

CAT : [57] "GIGI-GIGI ANAK-ANAK"

oleh Hasan Al-Jaizy


Seperti Ariel, murid saya yang kemarin -sudah tahu ujian akhir term- malah tidak hadir. Cari masalah saja anak itu. Membuat guru dan staf menambah beban. Gigi Ariel yang kotak-kotak rupanya bisa sedikit menetralisir perasaan. Tadinya dongkol sedangkal dengkul. Tapi sudah tidak dongkol lagi.

Seperti Hasan, murid saya di Borneo dulu. Anak Madura yang paling bandel sepedepokan. Umurnya baru 7-8. Kepala botak dan besar berbentuk. Sangat bandel dan bisa menghina guru di depannya. Kumal, sulit disuruh mandi, bau pembuangan sampah dan nakalnya minta ampun. Tetapi jika sedang waras, ia baik dan penurut. Kalau sudah senyum, terlihatlah gigi-gigi lucu kotak-kotak tapi kotor.

2008, pernah hiking, jalan kaki dari Bogor menuju Kab. Sukabumi [tepatnya Parungkuda]. Menelusuri rel kereta api yang ketika itu sedang tidak beroperasi. Berdua bersama teman lama. Di tengah perjalanan, kami bertemu dengan sekumpulan anak-anak desa. Mereka sedang

Thursday, December 20, 2012

SALATIGA, SELALU DALAM KENANGAN : [9] "PASAR MALING"


oleh Hasan Al-Jaizy


2004. Ketika itu saya masih mondok. Saat liburan dan pulang kota, pergi ke pasar Jatinegara. Mau apa? Hunting buku atau majalah bekas. Majalah yang saya cari ketika itu adalah majalah Humor. Humor adalah majalah era 90-an yang sudah tidak aktif lagi. Karena itulah saya cuma dapat bekasan. Itu pun mencarinya sulit. Harus keliling toko-toko buku bekas, kemudian mewawacandai penunggunya. Menanyakan eksistensi makhluk gaib...eh, majalah Humor di lapaknya.

Di kota Salatiga, dikenal sebuah bagian dari pasar, bernama Pasar Maling. Yang menjulukinya ya anak pondok saya. Istilah pondok lainnya: Suq Sariq. Kenapa dinamakan Pasar Maling? Karena isinya barang loakan. Murah meriah, bekasan dan sanad barangnya wallahu a'lam. Perawinya majhul semua dan penjualnya muttaham bil kadzib! Tertuduh berdusta. Muttaham bis sariqah! Tertuduh nyolong. Wong

Monday, December 10, 2012

SALATIGA, SELALU DALAM KENANGAN : [8] "Majlas" (1)


oleh Hasan Al-Jaizy


Majlas berasal dari Arabic. Ia adalah sebuah masdar dengan wazan 'Maf'al' yang bermakna 'perbuatan duduk'. 

Majlas yang saya maksud adalah sebuah tradisi klasik pondok berupa pengumpulan roh-roh beserta jasadnya di suatu majlis (tempat/waktu) sembari nyemil (memakan makanan kecil) atau nyerob (meminum minuman ringan). 

Tradisi ini adalah warisan nenek moyang Arab-Indo yang berpengaruh keras pada sosiologi masyarakat pondok. Saya berbicara tentang Majlas di pondok saya, bukan di pondok selain pondok saya. Jika ada kesamaan rupa dan nama, jangan salahkan gerimis mengundang.

SALATIGA, SELALU DALAM KENANGAN : [9] "Majlas" (2)

oleh Hasan Al-Jaizy


Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, bahwa makanan afdhal untuk majlas di pondok kami adalah keripik kartini. Tidak masalah jika itu bukan keripik kartini. Boleh kripik Kembangsari atau Salatiga dll. Yang penting murah meriah. Dan cukup lama habisnya. 

Untuk majlas, biasanya santri-santri urunan/patungan. Lalu salah satu atau beberapanya pergi ke warung membeli semua makanan dan minuman. Kembali ke tempat majlas, makanan digelar biasanya dengan cara menumpahkan kripik ke lantai.

Topik Majlas

Topik majlas macam-macam dan apapun semaunya, selama bukan topik pelajaran di kelas atau muhadharah. Makanya, majlas dengan

Wednesday, November 28, 2012

Tentang Kerinduan


oleh Hasan Al-Jaizy

Tentang kesempatan bersua dan berkumpul kembali bersama teman-teman SD dulu, itu sangat mungkin. Karena mereka adalah anak-anak kelahiran sekota. Sebagian anak gedongan. Mudah dicari.

Tentang kesempatan bersua dan berkumpul kembali bersama teman-teman pondok dulu [SMP-SMA], itu masih mungkin namun cukup sulit. Mereka tinggal di kota lain, provinsi lain, bahkan beragam pulau. Ada yang kini berdomisili di perkotaan. Ada pula yang kembali ke desa.

Namun, tentang kesempatan bersua dan berkumpul kembali bersama rekan-rekan guru di Pondok Hidayatul Muslimin Parit Sembin Kalimantan Barat, belum terbayang mungkinnya. Sebagian mereka sudah berpencar tak berkabar kemana.

Terlebih tentang kesempatan bersua dan berkumpul bersama anak-anak kami,

Friday, November 9, 2012

SALATIGA, SELALU DALAM KENANGAN : [7] "Topeng!"


oleh Hasan Al-Jaizy

Di episode 6 kemarin, saya telah mengupas para Iqballers. Mereka adalah makhluk-makhluk pondok yang saya kenal bernama Iqbal. Iqbal yang terdekat dengan saya bernama panjang Iqbal Mu'ammar Rosyad. Teman sejak 1999 dan sampai kapan entah. Hanya untuk sekarang, jarak yang terlalu jauh, memisahkan kedekatan kita.

Iqbal yang satu ini merupakan salah satu teman pertama yang saya kenal di masa pendaftara calon santri baru. Dulu, ia pualing heboh sendiri ketika saya, Adnan (santri lama) dan Fairuz (santri lama) memakai kaos merah yang sama, bertuliskan Brigade Life Skill. Ia tak henti mempertanyakan kenapa kok bisa sama.

Darinya juga, saya belajar menggunakan satu kosakata baru yang belum pernah saya tahu sebelumnya di Jakarta. Kosakata itu berbunyi "THOK". Biasanya digunakan wong Jowo untuk mengungkapkan kecukupan, seperti "Sijhi Thok", maksudnya Satu Saja. Bisa juga disingkat Sithok.

Dulu, tahun 1999, ada seorang remaja 'keren' duduk di bangku SMA, tepatnya kelas 3, bernama Marthena Taufan Hafian. Pinter, cakep dan 'tidak-alim'. Dikenal pinter benar-benar. Dikenal cakep tidak benar. Paling benar: tidak alim. Nah, remaja keren ini punya panggilan 'Topeng', ple-setan dari Taufan yang merupakan nama aslinya. Asalnya dari Cirebon. Topeng yang satu ini juga jago main bola. Merupakan pendekar team sepakbola pondok bernama Khoibar Soldiers bersama legenda pondok lainnya bernama Mu'min Aziz.

Ketika Iqbal Mu'ammar masih di kelas 1 SMP, ia dekat sekali dengan Topeng. Karena kedekatan itulah, keduanya identical. Setelah si Topeng lulus pondok, julukan 'Topeng' diwariskan ke Iqbal. Dan untuk 2000 kemari, Iqbal Mu'ammar dikenal dengan sebuat 'Iqbal Topeng'. Begitulah

Thursday, November 1, 2012

SALATIGA, SELALU DALAM KENANGAN : [6] "Iqballers"

oleh Hasan Al-Jaizy

Mulai episode ini, saya insya Allah akan membahas teman-teman yang paling TERAWAL saya kenal di pondok. Yaitu ketika masih di masa pendaftaran calon santri baru. Di antara mereka adalah Iqbal Mu'ammar Rosyad, seorang anak kecil asal Madiun. Dia adalah salah satu teman pondok pertama dan terakhir yang terdekat dengan saya. Pertama, kenal saat masa pendaftaran. Terakhir, beberapa tahun kemarin, sebelum dia hijrah ke Solo.

Sebelum lanjut membahas teman saya ini, saya hendak sampaikan para Iqballers pondok. Mereka adalah makhluk-makhluk bernama Iqbal yang saya kenal selama mondok. Berikut daftarnya:

Wednesday, October 31, 2012

SALATIGA, SELALU DALAM KENANGAN : [5] "Sepak Takraw"


oleh Hasan Al-Jaizy

"Sepak Takraw adalah jenis olahraga campuran dari sepak bola dan bola voli, dimainkan di lapangan ganda bulu tangkis, dan pemain tidak boleh menyentuh bola dengan tangan." [Wikipedia]

Benar sekali. Di pondok ada lapangan khusus voli, yang setengahnya masuk ke area lapangan sepakbola. Sepakbola + voli = takraw. Namun, kami tidak punya lahan khusus takraw. Akhirnya jadilah lapangan bulu tangkis sebagai lahan bermain takraw.

Saya mengenal takraw di pondok ini. Di masa calon siswa baru, saya suka menikmati pertandingan sepak takraw. Tepatnya menonton di pinggir lapangan bulu tangkis, di depan kamar tidur calon santri baru. Saya teringat seorang santri bernama Siradjuddin, senior jauh, lulusan SMA/I'dad Mu'alimin tahun 1999. Beliau seangkatan bersama Ust. Rijal Yuliar Putananda, Ust. Agung Wahyu Adi dan lainnya. Beliau berasal dari Bogor.

Yang membuat saya teringat akan beliau adalah kaosnya. Sore itu ia memakai kaos Bologna, sebuah klub papan tengah Serie A Italia. Baju Bologna mirip Barcelona. Merah-biru. Bertuliskan di depan: Granarolo. Bologna adalah tim jagoan teman saya di SDIT dulu. Namanya Farhan Islami, adiknya teman sekelas saya. Di bagian belakang tertera nama 'Signori'. Wah, Giuseppe Signori ketika itu adalah salah satu pemain masyhur dari Italia. Terkenal akan kaki kirinya yang tajam. Tajam di klubnya [Bologna], namun kurang tajam di timnas Italia. Ciri khasnya adalah menendang penalti hanya dengan satu langkah.

Yang juga menarik perhatian saya adalah seorang santri lama bertubuh kecil dari Semarang. Namanya Abdurrahman Al-Ghifari. Suaranya selaras dengan ukuran tubuhnya. Lumayan cempreng. Dia sering sekali saya lihat menjadi wasit. Saat saya sudah menjadi santri beneran, dia suka meledek-ledek. Tapi, ledekannya itu adalah candaan ala Tengaran. Oh ya, sebenarnya anak-anak Tengaran suka sekali melucu [ketika di pondok]. Serius dikit, tapi lucunya banyak. Akan dikupas kapan-kapan insya Allah.

Terkadang kita dapatkan santri-santri bermain takraw memakai sarung; sehingga ketika menendang tinggi, mereka harus memegang sarungnya. Mau lari-lari mengejar bola malah ribet sendiri. Atau ada yang memakai peci/kopiah; sehingga ketika bola di atas dan harus menyundul, mulut mereka menganga lalu des. Menyundul. Peci dan bola sama-sama terbang. Bayangkan saja sendiri.

Ketika saya masih SMP, sepak takraw sangat populer. Namun, kemudian pamoritas takraw terkikis di era 2002 ke sininya lagi. Ketika saya masih kelas 1 SMP, santri-santri kelas 3 SMA [3 Mua'limin] mempopulerkan sepak takraw di kelasnya. Tapi, yang ini unik. Karena bukan memakai bola takraw, melainkan kok untuk badminton. Jadi, mereka bermain di kelas. Mengatur meja-meja kelas. Tanpa modal jaring, namun jaring bisa diganti dengan deretan kursi-kursi atau sekadar taruh sapu panjang di antara dua meja. Mereka bermain itu dengan asyiknya. Dan banyak di antara kami, anak-anak SMP meniru-niru kemudian.

Di antara pemain takraw pondok masa lalu adalah Yasir Abdul Hakim atau Achink [Jakarta, lulusan 2000], Kudus [Balikpapan], Aso [Makkah-sar], Fathullah atau Atul [Sinjai Sulsel, lulusan 2004], Muhammad Haekal Aula [Pontianak, lulusan 2000], Abdurrahman Hamzah [Balikpapan, lulusan 2001], Muhammad Kholis [Balikpapan, lulusan 2002] dan sebenarnya masih banyak lagi.

Di zaman saya SMA/Mu'alimiin, sepak takraw sudah redup. Bulutangkis masih populer. Juga voli tak senyaring dulu lagi suara dentuman bolanya.

http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/457768877597836

SALATIGA, SELALU DALAM KENANGAN : [4] "Mas Boy, Dai Teladan"


oleh Hasan Al-Jaizy

Status ini adalah episode selanjutnya tentang Mas Boy. Ada cerita yang bertahun-tahun terkubur tak tersiar di telinga manusia tentang perjalanan dakwah Mas Boy yang one in a million. Jarang ditemukan orang seperti beliau. Rela berkorban, ikhlas dan diridhai manusia.

Saya pribadi 'menganjurkan' pembaca, jika bisa men-share cerita ini, agar tidak berat hati untuk men-share nya. Jika bisa meng-copas nya ke blog atau apapun wadahnya, agar ringan hati untuk men-share-nya. Dan saya meminta para pembaca, jika sedianya ada yang bisa ditiru dari beliau dari metode atau inspirasi, maka MOHON DOAKAN beliau. Semoga Allah meninggikan derajat beliau. Tulisan ini dibuat tanpa sepengetahuan beliau sama sekali. Dan mungkin beliau sudah lupa akan penulis ini.

MAS BOY, DAI TELADAN YANG TERKENANG

Tahun 2000, Mas Boy dikirim oleh pondok saya untuk mengabdi di MTS Al-Irsyad desa Wonosari, Kabupaten Ngawi. Letaknya di kaki Gunung Lawu. Di pondok saya, tiap santri yang lulus akan kena jatah mengabdi, yaitu menjadi dai. Disebar atau dikirim ke pondok-pondok atau daerah-daerah untuk mengajar apapun yang dibutuhkan di sana. Namun,

GELAP TANPA LISTRIK : [3] "Arungi Gelap Demi Ular"


oleh Hasan Al-Jaizy

Dulu, ketika masih di Salatiga dan Pontianak, berjalan susuri tempat gelap dan kurang baik untuk kesehatan, merupakan 'amalan' yang sudah biasa. Tapi, ketika saya kembali tinggal di Jakarta, malah memperkecut hati. Mungkin karena Jakarta ini ramai. Jadi terbiasa dalam keramaian. Andai terbiasa hidup di lingkungan sepi dan gelap, maka biasalah. Tidak heran, jika orang-orang Jakarta diminta berjalan sendiri di tempat-tempat sepi pedesaan, mereka bakal terguncang jiwanya, seakan terancam nyawanya. Hmm...meski ada sebagian kecil yang memang sudah punya sifat berani.

Di Pontianak dahulu, saya dan rekan-rekan, juga bersama murid-murid tinggal di pondok yang jauh dari pergaulan. Karena letaknya di ujung sekali. 4 kilo dari jalan mobil. Dan daerah itu asalnya adalah hutan belantara. Pohon-pohon banyak ditebang. Kadang ada orang-orang Dayak yang tinggal di tepi parit. Tapi, mereka sering menghilang.

Berjalan 4 kilo sendirian di gelap malam bukan hal ajaib ketika itu. Keadaan memang menyihir kami tuk berani lahir dan batin. Perlu pula jalan 'nyeker' tak beralas kaki. Karena kadang harus rela terjelembab dalam lumpur. Lumpur pun bisa

GELAP TANPA LISTRIK : [2] Situs-situs Gelap di Pondok dan Sekitarnya

oleh Hasan Al-Jaizy

Sebenarnya pembahasan ini suatu saat insya Allah akan dituturkan secara jujur kelak di salah satu episode dari serial SALATIGA, SELALU DALAM KENANGAN. Tapi, boleh lah pagi ini iseng-iseng menuliskan beberapa darinya di sini. Setelah sebelumnya membahas Jakarta, kini merambat ke Salatiga, dan yang berikutnya akan menyosor ke Pontianak.

Di pondok saya, ada beberapa situs gelap dan remang-remang. Ketika masih kelas 1 SMP [Mutawasithah/Tsanawiyyah], situs gelap yang memiliki reputasi buruk terdekat adalah di bawah tangga asrama blok Khoibar. Letaknya persis di antara perpustakaan dan blok Hudaibiyyah . Di dekat kamar saya. Perpustakaan ketika itu on 24 jam. Tidak ada pengurus yang mengatur dengan baik; padahal bukunya banyak. Nah, bawah tangga itu adalah daerah berlantai namun kotor. Gelap tak diterangi. Banyak sampah dan pakaian bekas dibuang di sana pada waktu itu.

Suatu larut malam, saya terjaga mendengar seseorang berjalan di tangga. Suara langkahnya keras dan beraturan. DUG....DUG...DUG....Hati saya pun dag....dig....dug...der....DAIAAAA!

Lalu pemilik langkah itu berjalan

SALATIGA, SELALU DALAM KENANGAN : [3] "Mas Boy"


oleh Hasan Al-Jaizy

Para calon santri baru gelombang pertama, harus tinggal di dalam pondok berhari-hari. Hampir seminggu. Syukurlah, mudahnya little Hasan bergaul pada manusia semenjak masih es de, menjadikan ia mudah mendapat teman-teman baru. Tanpa harus canggung dan main gunung es dulu. 

Kami, para calon santri baru, ditempatkan di sebuah ruangan yang normalnya atau aslinya adalah kelas ITQ [sebuah jenjang untuk anak SD yang dipesantrenkan]. Ruangan itu terletak di depan pondok, dekat dengan pos satpam dan gerbangnya. Ia juga berada di depan lapangan bola takraw. Lapangan itu bisa dijadikan tempat bermain takraw. Bisa pula tempat bermain badminton. Kadang, malah bisa dijadikan tempat bermain bola [dengan bola plastik]. Jadi, flexible...connected to anyone's will.

Mas Boy, adalah seorang pria Jawa berperawakan tinggi. Usianya ketika itu di atas 20, menurut perkiraan penulis. Beliau adalah orang pertama yang kami [calon santri baru] kenal. Ramahnya

Tuesday, October 30, 2012

SALATIGA, SELALU DALAM KENANGAN : [2] "Brigade Life Skill"


oleh Hasan Al-Jaizy

Ayah ibu mengirim anaknya ini karena ada rasa kekhawatiran terhadap pergaulan anak kota ini. Terlebih, ibunya bapakanya ibu saya [buyut saya dari Betawi] ketika masih hidupnya dahulu dan kecilnya saya, mendoakan, 'Semoga anak ini menjadi ulama [kyai].' Doa yang diriwayatkan oleh ibu saya ini, begitu melegenda. Doa biasa, sebagaimana doa saya untuk teman-teman pencari ilmu. Namun, seperti ada pesan luar biasa...seakan itu adalah wasiat dari beliau: 'Lu kudu jadi orang, tong!'

Kemudian saya pun merelakan diri mengubur harapan kanak-kanak untuk melanjutkan sekolah bersama teman-teman dekat. Dengan bekal seadanya, saya dan pak lik [adiknya bapak saya] berangkat ke Salatiga untuk mendaftar di pendaftaran gelombang pertama. Untuk masa pendaftaran+tes, sekiranya membutuhkan waktu 1 minggu.

Sesampai di sana, hawa masih sangat dingin. Seingat saya,