oleh Hasan Al-Jaizy
Para gadis yang disebut akhwat itu, selama berselancar di situs ini, setidaknya menjaga diri agar jangan sampai kekagumannya terhadap seorang lawan jenis terendus, tercium dan tersebar begitu saja di tengah warga. Simpan baik-baik jika memang punya rasa. Jangan menabur cerita. Bahkan kisi-kisinya pun tidak perlu diwarta. Simpan saja.
Karena meskipun tidak semua, tetapi banyak gadis [baik disebut akhwat, ikhwit, ikhwan atau gaswat] yang sudah mencapai usia 22 ke atas, apalagi menjelang 30 dan belum menemukan teman bobo, rentan pada fikiran-fikiran ke penyebaran undangan.
Baru kagum sebentar, mungkin sudah berfikir 'sepertinya dia jodohku'.
Tambah kagum, jadi berdoa 'Ya Allah, jadikanlah ia pasanganku'.
Muhawalah [berusaha] interaksi, lalu diladeni, jadi berfikir 'Kyaaa, jangan-jangan dia memang benar jodohku'
Lalu mencari cara bagaimana agar perasaan di hatinya tertuang dalam kehidupan nyata. Entah bicara pada teman perihal manusia yang dikagumi. Atau sekadar bikin status mujmal [global atau tidak jelas dan tidak tertentu menuju ke siapa] yang menghembuskan kekaguman. Atau yang lebih terasa 'salehah', berdoa, "Ya Allah, jadikanlah ia jodohku. Jikalau ia bukan jodohku, maka jadikanlah aku jodohnya."