Showing posts with label Bid'ah. Show all posts
Showing posts with label Bid'ah. Show all posts

Wednesday, July 17, 2013

Halo? Apakah Saya Ada? 3

oleh Hasan Al-Jaizy

Saya agak khawatir jika memerangi Syi'ah itu hanya karena trend. Yakni: ketika teman-teman dumay nya riuh mempermasalahkan Syi'ah, ikut-ikutan berkoor.

Mentalnya ada mirip dengan kasus maling di keramaian stasiun. Ketika ada yang teriak maling, serempak pada ikut-ikutan. Padahal tahu jelas kasusnya pun tidak. Syukur jika ada informan yang jujur. Namun, rata-rata pengunjung stasiun menang di teriak ramai-ramai dan mencelanya. Lalu memukul senafsu-nafsunya saat sudah ketemu 'maling'nya.

Mentalnya ada mirip juga dengan kebiasaan masyarakat yang ketika para jurnalis membentangkan berita hot, langsung para pemirsa pada angkat bicara. Semua mengutuk. Setelah berita hot habis, para pemirsa tenang kembali. Lupa semua itu. Nunggu hal lain yang akan menjadi masyhur atau trend.

Saya agak khawatir jika memerangi Syi'ah itu hanya karena ikut-ikutan, sehingga secara normal enggan menggali pengetahuan tentang Syi'ah. Menunggu informan. Atau hanya ingin meramaikan saja.

Saturday, February 2, 2013

Mari Bersama MENGGALI KUBURAN KERAMAT!

oleh Hasan Al-Jaizy



Saya sangat cemburu, ketika mendengar khutabaa' di masjid-masjid, atau di majelis-majelis, menyampaikan kalimat-kalimat ajaib yang menggugah dan terkesan berlebih, sehingga memacu manusia atau pendengar untuk takjub. Saya cemburu karena rupanya kalimat itu dinisbatkan kepada Al-Mustafha, Muhammad -shallallahu alaihi wa sallam-. Saya cemburu karena dengan keajaiban kalimat itu, tak sedikitpun keterangan sahih atau dhaifnya atau maudhu'nya. Tak sedikitpun penyebutan siapa perawinya. Apa mungkin disebabkan kitab-kitab kuning yang mereka pelajari dan dalami memang tak mencantumkan sedikitpun akan itu? Atau mungkin mereka terlalu longgar, super permisif dan tak peduli sama sekali akan keabsahan dan kepalsuan penisbatan kalam pada Nabi.

Bukan karena benci terhadap para khuthabaa'; melainkan ini kecemburuan yang juga diliputi rasa takut. Lancang mengklaim sesuatu tersambung pada Nabi, sementara tak terbukti dan tercurigai tidak tersambung. Lancang mengklaim bersanad dan berketurunan dari keluarga Nabi, sementara tak menjulurkan bukti bahkan terkesan suspicious bahwa itu hanya sebuah pencitraan semata.

Dan apa hasil dan natijah dari longgarnya manusia pada hal seperti ini? Bid'ah ( baik itu disebut hasanah atau dhalalah), takhayyul, khurafat dan ketidakpedulian akan sunnah.

Friday, January 25, 2013

POTRET KUBURAN KERAMAT


Foto ini saya ambil tadi saat adzan Isya. Rumah tersebut berisikan kuburan seorang Habib beserta beberapa 'wali' lainnya. Sekitar ada 5 atau 6 kuburan di dalamnya.

Agak heran juga kenapa jema'ah dzikirnya dan pendoa tadi hanya segitu. Padahal malam ini adalah malam keramat sekali, karena [1] Hari 'Ulang Tahun' Nabi dan [2] Malam Jum'at, yang terkenal amalan di dalamnya untuk:

[1] Ritual Yasinan, bukan Kahfian
[2] Bisnis Kuburan Keramat
[3] Ganggu orang 

Tetapi saya prediksikan jam segini [jam 9] jema'ahnya makin banyak. Tapi tak sebanyak jema'ah Majelis2 terkenal; karena sepertinya majelis2 itu sudah online di kuburan keramat lain. 

Apakah ini bid'ah?

Sebagian bilang iya, sebagian bilang tidak, sebagian hatinya bilang iya namun lisannya tidak berani bilang iya; entah karena takut dicela atau takut ga dianggap oleh kelompoknya atau takut kehilangan jema'ahnya atau faktor lain.

Yang boneng adalah ini tentu saja bukan bid'ah. Alasannya:

[1] Itu adalah ritual ekspresif yang menunjukkan kecintaan mereka terhadap Nabi dan keturunannya. Tidak seperti Anda, yang tidak cinta Nabi dan keturunannya. Mereka ingin mendekatkan diri pada Allah dengan cara mendekatkan diri pada mayyit keturunan 'suci'.

Allah menghikayatkan perkataan orang-orang musyrik. Ini firman Allah:

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَآءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى اللهِ زُلْفَى

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (QS. Az Zumar: 3)

[2] Mereka itu berdzikir, bershalawat, dan menyebut asma Allah. Kompak malah. Tidak seperti Anda, malah diam, pesbukan, menyalah-nyalahkan. Jangan merasa paling boneng sendiri! Dan mereka memakai speaker dan mengeraskan suara untuk membuktikan kecintaan dan menebar syiar agama ke umat. 

Sementara Allah menyuruh muslim dengan perintah ini:


ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَيُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Berdoalah kepada Robb-mu dengan merendahkan diri dan dengan suara yang lirih. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al A’raaf: 55)

[3] Masing-masing punya tata cara beribadah. Dilarang merasa paling boneng!

Dan Rasulullah lah yang membantah mereka:


من عمل عملا ليس عليه أمر نا فهو رد

“Barangsiapa yang mengamalkan amalan yang tidak berlandaskan perintah kami, maka amalan itu ditolak”.

Nah, bisa disimpulkan.

Mereka tentu saja merasa lebih benar dari dalil-dalil di atas. Tidak seperti Anda, cuma bisa diam di rumah, cuma bisa pesbukan, cuma bisa ini itu. Jadilah seperti mereka, sudah bisa membuat hal-hal baru, ritual-ritual updated/renewed dan mengada-ada dalam agama.



Wednesday, January 23, 2013

PAKTA MAULID, Yang Merupakan "Bid'ah Hasanah"

oleh Hasan Al-Jaizy


[1] 
Ketika kita memperbincangkan masalah Maulid, antara pro, kontra dan tawaqquf [no pro no kontra just nyimax], ada yang nyeletuk:

"Hare gene masih ributin Maulid?"

Padahal, yang ribut atau yang paling ribut atau yang tukang ribut adalah teman-teman yang Maulid-an, terutama di Kuburan Keramat.

[2] 
Maulid itu, sekali lagi, adalah bid'ah hasanah.

Bid'ah = Mengada-ada dalam agama = Jelek
Hasanah = Bagus

Jelek tapi bagus? Kontradiktif, bukan? Biar tidak berbenturan, kita simpulkan bahwa:

Bid'ah Hasanah = Jelek Yang Dibagus-bagusi

Jadi: "Maulid Nabi adalah kejelekan yang dibagus-bagusi atau yang dianggap bagus atau YANG BISA DIGANTI namanya supaya terkesan bagus."

[3]
Maulid itu menciptakan 'keberkahan' tersendiri. Dan ini relatif menguntungkan bagi para penjual kopiah, CD dan peniaga lainnya. Tapi, yang paling diuntungkan tentu saja para pebisnis religius, baik itu ustadz/habib/kyai/ulama yang menjadikan Maulid ladang meraup keuntungan finansial atau pamor, baik dengan cara menitip nomor rekening, atau menggelar acara yang requiring sumbangan atau infaq [baca: iuran faqsa] bagi pengikutnya.

Lebih-lebih para penjaga kuburan keramat. Mereka akan gagah malam Maulid-an. Sebentar lagi duit mengalir deras. Kalau perlu, main tipu-tipu sedikit, baik dengan cara menaruh kendi, bejana atau semacamnya berisi air kembang, mengklaim keberkahan, atau jualan kitab kecil wiridan yang dibisniskan. Berkah, bukan?

[4]
Maulid itu bahasa pelosoknya: "BIRTHDAY". Demi Birthday, banyak yang rela safar. Tapi, demi shalat jama'ah yang jelas diperintahkan, sedikit sekali. Memang boneng, gan...kalau yang namanya bid'ah terangkat, sunnah bakal turun, baik itu sunnah yang bersifat wajib, atau tidak wajib.

Apakah ada yang memakai lilin sekalian? Nanti jam 12 malam tiup lilin bareng.

[5]
Tidak dipungkiri lagi, bahwa mafsadat dan madharat banyak sekali terkandung dalam perayaan Maulid. Tapi, masa bodoh lah dengan yang namanya bid'ah, syirik, dan lainnya. Yang penting: having fun, bisa keluar rumah, rame-rame nongkrong, dan tentu saja: cinta Nabi.

Cinta Nabi tapi ternyata tidak cinta sunnah Nabi. Saking cintanya terhadap Nabi, dan tidak cintanya pada sunnah Nabi, akhirnya melakukan bid'ah hasanah.

[6]
Dalih Nabi berpuasa hari Senin, dikatakan sebagai perayaan hari kelahiran Nabi. Emeng keseng!

Lucunya:

a. kawan-kawan pro-Maulid tidak pernah menyinggung masalah puasa Senin-Kamis.
b. kenapa tidak pada Maulid-an setiap hari Senin? Kok cuma setahun sekali? Oh iya, saya lupa, namanya juga Hari Ulang Tahun. ckck

[7]
Dikatakan, kita yang mempermasalahkan Maulid dan bid'ah, adalah pemecah belah. Padahal, ada teori begini:

"Sesuatu yang asalnya mulus, dipecahkan disebabkan kedatangan sesuatu yang memecahkannya setelah kemulusannya."

Syariat Islam asalnya mulus dan murni; lalu datanglah bid'ah yang menggores kemulusannya. Pelaku bid'ah lah yang menjadikannya tergores dan terpecah-belah.

Syariat Islam asalnya tidak mengenal perayaan Maulid Nabi. Lalu, datanglah Maulid Nabi, sesuatu yang baru. Dengan kedatangannya, protes di sana-sini. Disebabkan Maulid, perpecahan terjadi.

[8]
Jika satu keburukan dilakukan, ditakutkan bercabang dan melahirkan keburukan baru. Dan itulah yang terjadi pada Maulid.

Maulid itu buruk...eehh...hasanah dink...lalu tumbuhlah amalan-amalan baru, seperti wiridan bareng di depan kuburan keramat. Karena tidak puas wiridan di atas tanah dan tikar, akhirnya kuburannya dibuat seperti rumah dan berlantai kinclong. Tidak puas hanya wiridan, didatangkanlah gendang dan rebana. Tidak puas dengan itu, dibawalah speaker dan sound system. Tidak puas dengan itu, lama-lama saya yakin: kalian akan menjadi orang gila.

Dan bukan sebuah hot news jika seorang sufi bertingkah selayaknya orang gila dan kehilangan akal.

[9]
Sebagian peraya Maulid tidak tahu apa-apa, sebagian tidak mau tahu apa-apa, sebagian tahu tapi berkata, 'Cyus miyapa!?', sebagian sudah tahu tapi tak peduli apa-apa, dan semoga Allah memberi petunjuk pada semuanya, tak terkecuali kita.

[10]
Maulid itu adalah bentuk Natal dengan cover Islami. Jikalau Natal dinamai Maulid, maka sah-sah saja. Atau bahkan nama Maulid lebih cocok untuk Natal. Karena keduanya sama-sama:

"Memperingati/merayakan Hari Lahir Nabi"

Lucunya, sebagian ulama tarikh [sejarah] tidak menyatakan Nabi lahir tanggal 12 Rabi'ul Awwal. Dan...beliau wafat kapan, btw?

Maulid itu adalah bentuk Natal dengan cover Islami. Masalah buat umat Islam? Masalah!


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/492474554127268

Tuesday, January 22, 2013

Mengejar Wahabi + Mengeramatkan Kuburan Keramat!


oleh Hasan Al-Jaizy

Ternyata kita ini hebat dan keramat! Lebih keramat dari para wali Allah, yaitu para sahabat, tabi'in dan seterusnya.

Lho, kok bisa? Begini ceritanya:

Seorang salafi mengatakan kepada seorang Sufi:

Salafi: "Saudaraku, usahlah kau dan kawanmu merayakan Prophet's Birthday atau Hari Ultah Nabi 1434. Itu tidak ada syariatnya sama sekali."

Sufi: "Ah, kau ini. Usahlah larang-larang aku dan kawanku. Niatku baik, kau tahu?"

Salafi: "Iya, tapi hal semacam itu baiknya kita tinggalkan, kawan."

Sufi: "Memangnya ada pelarangan Maulid di Al-Qur'an dan Hadits yang berbilang begini: 'Wahai kaum muslimin, janganlah kalian bermaulid!" Ada tak?"

Monday, January 21, 2013

Maulid Nabi [Prophet's Birthday] adalah BID'AH HASANAH!

oleh Hasan Al-Jaizy

Seorang faqih yang pintar bisa menghasankan Maulid Nabi sehingga hukumnya menjadi Jaiz. Diputer-puter...lalu menjilat...dicelupkan sehingga jadilah sebuah TALBIS. Bisa jadi itu berupa syubhat yang sulit dijawab; atau malah tidak bisa dijawab oleh banyak orang.

Ya akhii...Maulid Nabi itu bid'ah hasanah! Jangan merasa paling benar sendiri. Apalagi membid'ah-bid'ahkan. ckckck....

Sekali lagi...Maulid Nabi itu adalah bid'ah hasanah [bid'ah yang baik]...baik secara finansial, laba, keuntungan, RIDHA MANUSIA, persatuan antar warga, persatuan antar ormas, yayasan dan sebagainya. Ini adalah hasanah, bukan?

Seharusnya nama Maulid Nabi itu dihapus saja! Diganti dengan nama lain, yang membuat semua manusia tidak memandang negatif, menilai sebagai bid'ah dan tudingan miring. Gimana kalau diganti: "Muhadharah Nabawiyyah", atau "Daurah Nabawiyyah" dan sebagainya?

Hmmm...setidaknya ada upaya men-talbis. Supaya apa? Supaya tidak disalahkan. Supaya tidak dibid'ahkan. Supaya apa lagi?

Ayolah...contohlah Islam Liberal. Beuuuh...keren namanya. Islam bebas. Independen. Tidak saklek. Tidak kaku. Islam Liberal! Beuuuhh...tapi intinya, substansinya, madhmuun-nya, yo menolak agama.

Kalau Maulid Nabi diganti Haflah Nabawiyyah atau Muhadharah Nabawiyyah, misalnya. Tidak pakai embel 'Maulid'. Kesannya adalah haflah atau muhadharah. Dan memang benar. Tetapi....dilakukan sebagai 'nama lain' dari Maulid Nabi.

===========================

Sekali lagi...maulid Nabi itu bid'ah hasanah.

BID'AH HASANAH!

Bid'ah = jelek [karena mengada-ada]
Hasanah = bagus

Bid'ah Hasanah = Jelek Yang Dibagus-bagusi

"Maulid Nabi Adalah Bid'ah Hasanah"

Berarti: Maulid Nabi adalah kejelekan yang dibagus-bagusi atau yang dianggap bagus atau YANG BISA DIGANTI namanya supaya terkesan bagus.

============================

Apakah Maulid Nabi [merayakannya] adalah ibadah? Jika ia ibadah, maka mungkin Anda akan mengingkari dengan alasan:

"Huh! Sahabat itu paling cinta Nabi. Tapi ga ada tuch peringatan hari kelahiran beliau mereka ungkapkan idenya! Lau kaana khaira lasabaquuna ilaih!"

Hehehe...itu alasan klasik.

Klasik? Iya. Kuno! Tidak mempan! Orang-orang yang menyetujui Maulid Nabi tidak mempan dengan alasan itu. Bahkan, jikalau sudah ada penggabungan berbagai dalil plus perkataan-perkataan ulama yang mengingkari Maulid Nabi, tetap ada celah untuk mengeyel. Cari terus celah dan gali terus. Akhirnya apa? Ga ada akhirnya. Mengingkari tidak, menyetujui pun berat. Jadi? Ngegantung tapi terkesan membela Maulid Nabi.

Lho..lho...ocehan saya muter-muter yo?

Yo wes, saya sarankan Maulid Nabi itu diganti aja dengan nama lain, bukan "Prophet's Birthday", apa kek gitu yang selamat dari tudingan bid'ah dari orang-orang yang merasa benar karena berpegang pada Al-Qur'an dan As-Sunnah. wkwkwk...Wajar mereka merasa benar karena berpegang pada keduanya...lho, daripada si anu, merasa benar berpegang pada anunya. Iya toh?


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/491554930885897

Ujian Dirasat 'Perayaan Ulang Tahun Nabi'

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa soalan perihal Maulid Nabi [perayaannya/peringatannya dengan bentuk perayaan]:

[1] Apakah Maulid Nabi adalah:
a. Ibadah murni?
b. Adat murni?
c. Ibadah yang diadat-adatkan?
d. Adat yang dijadikan ibadah?

[2] Jika Maulid Nabi [baik perayaan atau peringatannya] ditiadakan dari bumi ini, apakah berdosa kaum muslimin?

[3] Seorang Muslim yang tidak setuju akan Maulid Nabi, apakah ia berdosa?

[4] Seorang Muslim yang setuju akan Maulid Nabi, apakah ia berpahala?

[5] Seorang Muslim yang masih belum jelas, hatinya tidak setuju, namun mungkin karena kelompoknya atau saudaranya adalah peraya Maulid Nabi, maka ia menzahirkan kesetujuan, apakah ia berdosa atau malah berpahala?

[6] Jika mau jujur, yang tergambar sekarang dari Maulid Nabi itu kebaikan murni atau percampuran antara baik dan buruk?

[7] Jika mau jujur, yang kita lihat sekarang dari perayaan Maulid Nabi, lebih besar mana: keburukan atau kebaikannya? Maslahat atau madharatnya? Ma'ruf atau Munkarnya?

[8] Anggaplah yang namanya bid'ah itu tidak ada [sebenarnya ini hasrat banyak orang dari kelompok tertentu, yakni tidak ingin istilah bid'ah itu ada dalam Islam]. Nah, sekarang, siapa yang berani mengatakan 'kalian bebas membuat ritual baru, perayaan baru, selain Nisfu Sya'ban, Nuzulul Qur'an, Maulid Nabi, Awal Muharram [satu suro], Khatam Al-Qur'an dan lain-lain'? Ada yang berani?

[9] Anggaplah bid'ah itu tidak ada dan anggaplah Anda seorang mufti. Ratusan ribu umat menanti fatwa Anda. Anggap juga Maulid Nabi adalah sebuah kebaikan, bermaslahat, bermanfaat dan mempersatukan umat. Ya, anggaplah ketiga hal itu [no bid'ah, Anda mufti dan Maulid itu baik]. Setelah itu, apakah Anda berani berfatwa menganjurkannya dengan berkata, "Wahai kaum muslimin, rayakanlah Maulid karena itu adalah kebaikan!"? Atau hati Anda merasa berat dan mengingkarinya? Kenapa masih merasa berat padahal bid'ah itu tidak ada, Anda adalah mufti dan Maulid adalah kebaikan???

[10] Apakah itu cukup membuktikan bahwa istilah bid'ah itu benar-benar ada [dan harus ada], Anda bukan seorang mufti dan Maulid Nabi bukanlah sebuah kebaikan?

Jika mengatakan 'tidak', maka saya pribadi angkat tangan. Kita serahkan perkara hati pada Allah kemudian.

Oh ya, ini ada satu kalimat hadiah dari saya untuk diri saya dan juga para 'mufti':

رضى الناس غاية لا تدرك

"Ridha manusia adalah capaian yang tak tercapai"

And take care...boleh jadi manusia ridhai kita karena kita menjawab sesuai kehendaknya, padahal hati kita ingkari jawaban sendiri. Ya, bisa jadi manusia ridhai sekarang, tapi hati-hati akan sebuah tempat yang panas, yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan.

9 Rabi'ul Awwal 1434


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/491293187578738

Sunday, January 6, 2013

YAHUDI, PERGURUAN HIJAU DAN PENOLAK KEBENARAN!!!


oleh Hasan Al-Jaizy


Sebelum meneruskan membaca tulisan ini, penulis menghimbau pembacanya agar berusaha melapangkan dada. Selain itu, penulis juga menganjurkan agar pembaca tidak berpura-pura berlapang dada, yakni: 'ngakunya' berlapang dada namun rupanya ada kesumat mendendam di dalamnya.

Abdullah bin Salaam dikenal dahulu sebelum keislamannya sebagai seorang tokoh dan alim Yahudi. Ia mengenal tepat kitab yang disucikan oleh kaum Yahudi. Ia mengenal tepat sifat dan zaman kemunculan Nabi terakhir dalam agama Tauhid.

Diceritakan oleh Muhammad bin Ishaq, bahwa beliau telah diceritakan oleh keluarga Abdullah bin Salaam perihal dirinya dan keislamannya. Ia [Abdullah bin Salam] pernah mengakui, "Ketika aku mendengar tentang Rasulullah -Shallallahu alaihi wa Sallam-, aku sudah mengetahui namanya, sifatnya dan zamannya [1]."

Thursday, January 3, 2013

PITNAH SPEKER!


oleh Hasan Al-Jaizy

Speker itu bisa menjadi pitnah; jika dipegang oleh Justin Habibers dan Supi Herandehs. Karena para Habibers dan Supi paling getol ganggu manusia, tetangganya dan tetangga orang; dengan alasan dzikir jama'i atau Yasinan dan seterusnya.

Saya mau jujur dari hati mengatakan bahwa, "Kadang mereka lebih terlihat gila dari orang gila."

Kenapa? Karena teriak-teriak dengan wiridan. Suaranya melengking kadang-kadang. Bahkan kadang sengaja dijelek-jelekkan, atau terkesan sengaja dipilu-pilukan. Ini bener-bener pitnah!

Saya pribadi terseksa dengan ini. Besok mau ujian, jadi kesulitan belajar gara-gara Habibers dan Supi semacam itu. Seharusnya habibers pengertian dan sayangi telinga rakyat sebagaimana namanya: Habib. Seharusnya Supi-supi itu juga rendah suara dan ga teriak sembarangan sebagaimana namanya: Sufi.

Kalau tidak ada speker, para Habibers dan Supi tidak bisa membisingkan lagi. Tujuan mengumpulkan jema'ah malam Jum'at sepertinya cuma satu [intinya]:

"MENGGANGGU ORANG"

Kalau begini, saya bisa apa? Cuma bisa ngedumel di mari. Mau protes, masalahnya kadang mereka lebih tuli dari kebo dengerin Walkman. Dan juga ga mungkin secara kondisi protes.

Kalau begini, dan situ ga terima dengan curhatan saya, ga usah dibawa-bawa ke pembahasan 'Pitnah Pesbuk', 'Pitnah Wahabib', 'Lintah Berkedok Dzikir' dan seterusnya.

Kalau sudah tahu saya lagi curhat begini, ya tidak usah tanya ulang, 'Lagi curhat ya?' Entar jadi dimirip-miripi Yahudi pula.

Sekarang, ini masalah sekali buat saya mendengar dengungan mereka.

Kalau Habibers sudah ketemu Supi, beginilah jadinya: GANGGU WONG! Kalau listrik mati atau speker meledak, bubaran deh. Ga ada lagi dzikir. Wong dzikir nya mereka itu tujuannya satu: GANGGU WONG!

Saya sedang esmosi sekilo ini!

Saturday, December 22, 2012

CAT : [55] "HARI EMAK SEBELUM HARI NAKAL"


oleh Hasan Al-Jaizy


22 Desember. Hari emak. @n@k @n@k @lAy pun merayakan atau at least memperingati hari emak. Selebihnya kemana saja? 

Harusnya hari ini anak-anak nakal memperingati emaknya, setelah sudah setahun penuh tidak ingat emaknya. Malah lebih ingat emak pacarnya. Hari ini istimewa sekali; karena yang biasanya durhaka tiba-tiba kelihatan berkrama meski cuma sehari. Setelah itu dan esoknya tidak ada peringatan hari emak.

Kasihan emak. Cuma dapat jatah sehari. Sisanya tidak diperingati. Bagaimana dengan bapak? Anak? Paman? Bibi? Babu?

Tapi memang perlu difahami juga. Kita tidak bisa menyalahkan 100%. Seandainya tidak ada

Friday, December 21, 2012

CAT : [51] "NAKAL 25 DESEMBER"


oleh Hasan Al-Jaizy


Sebentar lagi 25 Desember. Katanya ada perayaan kelahiran Yesus Kristus. Tanggal itu sakral bagi sebagian manusia. Recommended untuk yang kemarin hari merayakan Maulid Nabi Muhammad. Tidak heran kalau mereka ikut-ikutan merayakan kelahiran Nabi lain [Nabi Isa] yang dianggap tuhan oleh umat lain.

Pak De Su'aid tiba-tiba menyangkal, "Kami tidak akan merayakan perayaan agama lain! Itu tradisi mereka! Kita punya tradisi Islami sendiri. Dan itu masalah buatmu, anak muda?"

Betapa Pak Su'aid mungkin sedang alpa bahwa ada yang mengatakan sesungguhnya peringatan 40 harian dan semacamnya adalah hasil adopsi atau pernikahan antara 2 agama dalam bentuk praktek ritual. Itu tradisi siapa? Nabiku dan Nabimu serta para sahabatnya tidak kenal tradisi

Thursday, November 1, 2012

Penunggu Makam Keramat

oleh Hasan Al-Jaizy

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa Sallam- bersabda:

الأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلاَّ الْحَمَّامَ وَالْمَقْبَرَةَ

"Bumi semuanya masjid [tempat sah bersujud] kecuali kamar mandi dan kuburan." [H.R. Ibnu Hibban]

Dan setan perlahan-lahan menyeret manusia untuk mengubur masjid-masjid dan memasjidkan kuburan-kuburan. Yakni, ketika tersaksikan oleh mata sendiri, saudara-saudara kita yang semoga diberi hidayah oleh Allah, menjadikan masjid seakan kuburan yang begitu angker dan pantang diziarahi. Sementara kuburan para wali seakan masjid yang harus disucikan dan beribadah di atasnya.

Jika sudah begitu menjijikan di pandangan,

Monday, October 29, 2012

Kiranya Bermanfaat, Namun Rupanya Pendulang Dosa

oleh Hasan Al-Jaizy

Orang-orang merugi adalah yang tertipu dengan amalan baik mereka sendiri. Yakni, amalan tersebut dikiranya baik dan bermanfaat, padahal justru sia-sia atau bahkan mendatangkan mafsadat.

Ada hikmah dari 2 ayat ini:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِٱلْأَخْسَرِينَ أَعْمَٰلًا * ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

"Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya." [Q.S. Al-Kahfi: 103-104]

Diriwayatkan bahwa ayat ini berkenaan

Friday, October 12, 2012

Bayangkan Jika Memang Ini Terbayang [Untuk Sebagian Teman ASWAJA]


oleh Hasan Al-Jaizy

Bayangkan jika kuburanmu disucikan, melebihi sucinya tempat ibadah [mushalla, langgar atau masjid]...tidak terbayang? Kalau begitu:

Bayangkan jika kuburan ibumu kau sucikan, melebihi sucinya masjid. Lalu kau tambah nisan dan ubin. Tidak puas, lalu kau jadikan sebuah atap di atasnya. Fikirmu, ibumu akan 'kehujanan' di musim hujan dan 'kepanasan' di musim panas.

Bayangkan itu...

Bayangkan jika kuburanmu dibentuk seperti rumah, bertembok, beratap, berkaca, padahal kau hanyalah bangkai...BANGKAI....mayat di tanah yang sedang menerima adzab ataupun nikmat, sesuai dengan amalmu di dunia. Tidak terbayang? Atau terlalu lucu untuk dibayangkan? Kalau begitu:

Thursday, September 20, 2012

Kalau Dianggap Sudah Baik..


oleh Hasan Al-Jaizy

Kalau sesuatu sudah dianggap sebuah kebaikan, maka penganggapnya baik tidak akan terima jika sesuatu tersebut dianggap buruk dan mengganggu. Contoh globalnya: Jika seseorang meng-hasan-kan [menganggap baik] suatu ritual dan teman lainnya mem-bid'ah-kan ritual tersebut, maka sang muhassin [yang menghasankan] tetap berteguh pada ritual hasan nya. Dan sang mubaddi' [yang membid'ahkan] tetap bersikukuh pada anggapannya. Kedua pihak merasa benar pada masing2 anggapan.

Boleh jadi, dengan saling gontok menggontoki, maka perpecahan [semakin] terjadi. Lalu, yang pertama tertuduh siapa?

Tuh kan, nyari tuduhan lagi. Baiklah. Sekarang real saja; kita menoleh ke lukisan kenyataan di masyarakat. Sebelum Subuh adalah masa sunyi dan momen tertepat untuk bermunajat, berdzikir dan shalat sunnah. Tapi, mulai jam 4, di banyak spot di kota Jakarta, masjid-mushalla menjadi tempat yang begitu ramai.

Monday, September 17, 2012

Laksana Mantra Tanpa Makna

oleh Hasan Al-Jaizy

...yaitu doa dengan ketidaktelitian pelafalan sehingga mengubah-ubah makna atau bahkan menafikan adanya makna. Baiklah, setidaknya ada niatan berdoa dan berusaha melafadzkan. Tapi, bayangkan saja jika seorang abdi tunduk meminta perkara pada sang raja dengan lafadz-lafadz yang berarti kosong. 

Doa memiliki kekuatan tersendiri bagi pribadi religius. Bisa saja ia tak melafalkan, tetapi hati berdoa. Dan kekuatan terbesar memang ada di hati. Namun bagi sebagian jemaah shalat jama'ah di sebagian besar langgar, mushalla dan masjid, doa itu bagaikan mantra tak bermakna.

Sang Imam atau wakilnya berdoa dan diamini oleh jumhur. Kita tidak sedang berbicara apakah itu bid'ah atau bukan. Kita sedang mengupas kejanggalan dalam ritual penting. Lihat bagaimana orang2 tua tersebut berdoa terbirit-birit sehingga banyak makna terkelupas dan etika terbengkalai. Sulitnya lagi, ketika yang muda berusaha memberitahu secara halus, mereka tidak terima. Atau jikalau terima nasihat, hembusannya keluar dari telinga kiri.

Maka, baiknya bagi yang punya kesempatan belajar Arabic atau Tajwid, belajarlah. Bagi yang bisa mengajar, tentu itu lebih baik dan mulia. Semua ada tugas dan jatahnya. Berdoa itu kan kepada Allah. Tata caranya juga tidak sembarangan dan tidak suka-suka. Buat Allah kok suka-suka!?

Sebagai calon pemimpin dan penerus orang2 tua, sudahkah berbekal untuk menyambut mentari esok?

Saturday, September 8, 2012

Rasanya Sedih...

oleh Hasan Al-Jaizy

Rasanya sedih sekali dengan kampung halaman saya sekarang, dan meskipun terulas menjadi satu buku, tetap saja yang merasakan kesedihan ini adalah saya. Jikalau ada pembaca atau orang lain yang juga sedih, tidak mesti sama takarannya.

Yang paling membuat sedih adalah fenomena Habib dan pengagungan terhadap kuburannya. Memang, sejak dahulu nama Habib Kuncung dikenal bukan lazimnya warga biasa; tapi tidak sesohor sekarang.

Rasanya sedih melihat kuburan-kuburan yang dahulu kala tampak kuno selayaknya kuburan; kini dibuat begitu megah, bahkan ada serupaan dengan Ka'bah bentuknya.

Rasanya sedih melihat ratusan dan pernah ribuan berbondong ke sana demi ziarah; dengan alasan ziarah orang suci atau wali. Dan sulit untuk dinafikan bahwa kebanyakan adalah meminta-minta dan mengkultuskan tidak pada tempatnya. Dari pengikut majelis dzikir hingga politisi pernah datang. Salah satunya Foke beberapa hari lalu.

Rasanya sedih ketika saya baru saja bangun dari tidur, mendengar dzikir-dzikir teriakan mereka. Ya, jam segini dan akan berlanjut hingga sekitar 00.00.

Saya merasa wajar dan punya hak untuk dirundung kesedihan; karena ini adalah kampung saya, di mana saya tak jauh terlahir dan menghabiskan masa kecil yang indah. Sementara para perusak begitu besar, megah dan banyak sekali. Dan seperti butuh waktu berabad membersihkan ini semua.

Dari ungkapan rasa sedih yang tertulis, barulah seserpih ia terhunus mewakili apa yang tertera di hati.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/438484746192916

Tuesday, August 28, 2012

Lisan Tak Berhati

oleh Hasan Al-Jaizy

Pernah Sufyan Ats-Tsaury berkata [yang maknanya]:

"Seseorang yang [kau katakan] kau mencintainya di jalan Allah, ketika ia mengada-adakan suatu amalan ibadah atau berbuat bid'ah dan kau tidak membencinya karena Allah, maka sesungguhnya kau tidak mencintainya di jalan Allah."

Sementara memang benar, perkara ritual ini bid'ah atau bukan selalu menjadi perselisihan dan perbedaan pendapat. Namun, jika Allah telah memberi Anda ilmu dan pemahaman, kemudian menjadikan Anda mampu membedakan mana yang lebih condong pada bid'ah atau bukan, maka bersikaplah sebagaimana mestinya. Bait-bait hati dan kepalsuan lidah atau tulisan tangan juga akan diminta

Saturday, August 18, 2012

Mudik = Bid'ah?

oleh Hasan Al-Jaizy

Mohon maaf jika seakan pembahasan ini memperkeruh genangan air putih di tengah dahaga umat akan kesucian jiwa. Pertanyaan semacam ini benar-benar exist. Di antara manusia ada yang bertanya karena penasaran atau justru kebingungan. Di antara manusia ada yang bertanya karena memang bermaksud menyindir. Di antara manusia tidak terfikir olehnya pertanyaan ini.

Sekarang: Apakah mudik menjelang lebaran tergolong sebagai bid'ah?

Tentu kita tidak langsung mengatakan: 'YA' atau 'TIDAK'. Ini perlu pembahasan lebih lanjut di kalangan asaatidzah dan ulama yang -saya fikir- lebih baik ulama asli negeri ini, bukan ulama negeri padang pasir; karena tidak segala perkara di segala petak bumi bisa dihakimi oleh mereka begitu saja.

Juga, mengangkat pembahasan ini bukan untuk menghakimi secara final. Saya hanya mau mencurahkan fikiran dan tanda tanya saja. You know, hembusan fikiran manusia biasa bisa diterima bisa ditolak. But, take a heed and listen...


 [1] Tinjauan Ibadah...atau Muamalah?

Apakah mudik adalah murni sebuah ibadah, atau sebuah wasilah menuju ibadah? Atau apakah mudik merupakan sebuah perkara muamalah tak berdalil sehingga manusia [ahlu al-ilm] diberi kesempatan ber-ijtihad untuk menentukan baik-buruknya atau bahkan bisa mengira halal-haramnya. 

Pertanyaan di atas saya pribadi belum bisa menjawab dengan pasti. Jika ada sumbangsih jawaban dari kawan2, tentu saya berterima kasih; terutama jika itu bersifat pencerahan, bukan penghancuran.


[2] Tinjauan Kias dalam Perkara

Jika seseorang mengatakan: "Mengkhuskan mudik sebelum lebaran itu bid'ah karena tak tertera adanya di zaman salaf!" [mungkin] berdasarkan fatwa yang ia baca, maka...

saya bertanya-tanya: "Teman sekampus saya kebanyakan orang non-Jakarta, sebagian ndeso sebagian wong kuto. Mereka tidak punya kans dan kesempatan pulang ke negeri asal mereka kecuali saat liburan. Kalau begitu, apakah pengkhususan mudiknya mereka di masa liburan tergolong bid'ah? Atau tergolong perkara muamalah yang berupa: mengambil kesempatan selagi ada?"

Karena kata 'lebaran' mirip dengan 'liburan'. Di masa lebaran, hampir semua orang libur dari kerjanya. You know, para pemudik bermudik berdasarkan dua hal: 1. Taking a chance [mengambil kesempatan selagi ada] dan 2. Follow the good tradition [mengikuti tradisi yang 'baik']. Jika mudik sebelum lebaran di-bid'ah-kan, maka banyak sekali mbah-mbah [kakung atau putrinya] sedih karena sang buah hati tak kunjung pulang.

Sementara kau tahu: "Ibu-bapak tak mencari-cari onggokan uang kirimanmu...tetapi ibu-bapak mencari-cari keberadaanmu dan kebersamaanmu"


[3] Tinjauan Maslahat dan Madharat

Betul sekali jika dikatakan: 'Mudik lebaran tidak ada contohnya di masa salaf', tapi apakah segala yang tak tercontohkan oleh salaf mengartikan wajibnya ia bernama 'bid'ah' secara syar'i? I don't think so...but if you think so...I still don't so....so?

So, kita juga perlu menimbang perkara ini dari segi maslahat. Sebenarnya sudah tersirat di atas, bahwa mbah-mbah dan segenap kerabat akan tenggelam dalam rindu jika anak negeri tak kunjung pulang. Dan SMS, telepon, e-mail bahkan rekening di masa-masa lebaran tak mengobati kerinduan bunda pada kandung. 

Belum lagi jika kita bertanya: 'apakah semua adat dan tradisi suatu negara yang tak tercontohkan oleh salaf langsung dihakimi bid'ah?'. Dan ini berkaitan dengan maslahat pula. Betapa mungkinnya si anak akan tersiksa batin di rantau mengingat ortu di kampung berlebaran dengan keluarga sementara ia tetap ghaib di kampung. Menimbulkan madharat baru berupa perasaaan sedih?


Tapi, ada beberapa simpulan:

[1] Bagi yang final menghakimi bahwa mudik khusus sebelum lebaran itu bid'ah , maka : jangan mudik sebelum Ied Al-Fithr. Karena bisa terkena dua macam dosa: 1. Dosa melakukan bid'ah, 2. Dosa melakukan sesuatu yang dianggap terlarang tapi tetap melakukannya. Gimana?

[2] Bagi yang bingung perihal bid'ah atau tidak, tinggalkan kebingungan dan tinjau perkara dari segi maslahat dan mafsadatnya.

[3] Bagi yang final menghakimi bahwa mudik adalah perkara murni muamalah yang belum menyentuh ibadah sehingga hukumnya boleh, maka go ahead: buapak dan nyak menunggumu.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/431441776897213

Friday, August 3, 2012

Beberapa Point

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point yang merupakan cita-citamu semoga:

[1] Kebangkitan bangsa yang sebenarnya akan terwujud jika dilandasi 'kebangkitan ulama'

[2] Kebangkitan ulama akan terwujud jika ulama-ulama nya berilmu sahih dan beramal salih

[3] Ilmu sahih dan amal salih tidak akan tersatukan dengan ketidakikhlasan, pelanggaran dan bid'ah

[4] Keikhlasan takkan terwujud kecuali jika Allah begitu dikenal
[5] Pelanggaran akan terus terjadi jika syahwat adalah pemimpin
[6] Bid'ah akan terus tercipta selagi jauhnya manusia akan sunnah Nabi

[7] Tiada kebangkitan ulama, terlebih bangsa yang besar ini, jika niat tak beres, batasan terlanggar dan ibadah dibuat-buat.

[8] Semoga Allah membantu kita dalam mewujudkan keikhlasan dan membersihkan diri dari pelanggaran terlebih bid'ah. Jika Allah membantu seorang hamba dalam segalanya itu, maka berkahlah amalan dan tiada upaya pembenaran sebuah kesalahan belalak juga syubhat


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/426595297381861