Showing posts with label Serial REALITAS. Show all posts
Showing posts with label Serial REALITAS. Show all posts

Sunday, March 4, 2012

REALITAS : "Tajam"

oleh Hasan Al-Jaizy

Tajam tidak berarti keras...sementara yang keras hampir selalu tidak tajam alias tumpul. Bedakan antara benda tajam dan benda keras.

Umumnya menjadi tajam karena diasah atau diruncingkan. 
Umumnya menjadi keras karena kaku [jumud] atau baku atau beku.

Benda tajam, sekecil apapun ia, mampu menusuk dan melukai bagian dalam.
Benda keras, sebesar apapun ia, tak

 terkodrat tuk menusuk, namun sekedar melukai bagian luar.

Jikalau engkau menebar duri/paku tajam di jalan, siapapun yang menginjaknya akan rugi atau tersakiti.
Jikalau engkau menebar benda keras di jalan, menginjaknya jarang wariskan dampak.

Karena tajamnya sesuatu, ia tetap tajam dan mampu menyakiti yang menyentuhnya.
Sementara kerasnya sesuatu, ia hanyalah keras dan tak mampu menyakiti sebelum ada yang menggerakkannya.





Oleh karena itu:

Ketajaman nalar, kalimat, pemikiran dan sikap kritis seseorang seringkali dihasilkan karena terasah.
Kekerasan sikap, kalimat, pemikiran dan pendirian seseorang seringkali adalah tabiat asli yang tanpa terasah pun sudah keras.

Ketajaman bisa dimanfaatkan dan berguna jika memang dimanfaatkan dan digunakan.
Kekerasan seringkali tak bermannfaat dan tak berguna, malah mesti dikira 'negatif'.

Kalimat yang tajam, berbungkus sindiran, singgungan, pertanyaan atau kritikan, adalah hasil pemikiran.
Sementara kekerasan sikap dan jiwa, seperti memukul, kesombongan, teriak dan lainnya, justru hasil dari kurangnya berfikir.

So, THINK!








Saturday, January 21, 2012

REALITAS: "Beberapa Kesalahan Pandangan Non-LIPIA Terhadap LIPIA"

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa KESALAHFAHAMAN individu non-LIPIA tentang mahasiswa LIPIA:

KESALAH-FAHAMAN PERTAMA

--> "Mahasiswa LIPIA faham keseluruhan agama, apapun cabangnya"

Imbas: Mereka ditanya segalanya tentang agama sekan mahasiswa ini sudah sederajat ulama yang bisa berfatwa. Padahal untuk menguasai ilmu Syariat membutuhkan waktu yang amat panjang tak terhitung tahun. 

Faktor lain: Mereka mengkiaskan status 'mahasiswa' umum yang sudah pintar berargumen dan bicara di depan umum dengan mahasiswa konsentrasi syariah yang TIDAK BOLEH berbicara Syariah kecuali dengan ilmu.

FAKTA LAPANGAN [UMUM]: 
- Rata-rata kampus lain yang berjurusan agama 'bobrok' kualitas keilmuan dan pengamalan mahasiswanya
- Namun mereka yang 'bobrok' itu giat berbicara dan berdebat di forum-forum dan event-event.
- Jurusan/Fakultas religius, jika tak membudidayakan penguasaan bahasa Arab, kualitasnya tetap rendah.


KESALAHFAHAMAN KEDUA

--> "Mahasiswa LIPIA satu manhaj semuanya."

Imbas: Pengabaian fakta bahwa dalam LIPIA terdiri dari mahasiswa didikan umum, pesantren tradisional, modern, otodidak dll dan latar belakang pendidikan berbeda menyebabkan manhaj individual berbeda pula.

Faktor: LIPIA adalah kampus internsnl milik Kerajaan Saudi Arabia dan para dosen Syariah sejatinya adalah para Syaikh dari manapun mereka berasal. Sehingga LIPIA dianggap full-Saudi.

FAKTA LAPANGAN [UMUM]:
- Dalam tes masuk, tiada persyarakatn Anda harus bermanhaj ini itu
- Latar belakang pendidikan mahasiswa berbeda-beda
- Perbedaan itu terjaga dengan baik

LIPIA bukan pesantren yang memaksakan murid2 SMA sederajat untuk berseragam luar dan dalam.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/313539362020789

Monday, January 16, 2012

Serial REALITAS : "Maslahat Syahwat"

oleh Hasan Al-Jaizy

Kenapa gadis muda ['akhwat' as you call] lebih memilih menjadi TTM lelaki muda ['ikhwan' as you call] dibanding status resmi-non-resmi?

Karena hal tersebut menciptakan maslahat syahwat bagi keduanya.

==> Maslahat syahwat untuk si gadis: Ia tak merasa terikat dengan status; bisa bermain hati lebih bebas dan perasaan itu tetap bisa 'main' tanpa harus terkait den
gan status.

==> Maslahat syahwat untuk si lelaki: Ia tak merasa terikat dengan tanggung jawab berstatus; bisa bermain hati lebih bebas; bisa 'memalsukan' antara realitas dan kekosongan status.

Tahukah kamu? Hal semacam ini lebih berbahaya daripada pacaran biasa [yang tak berujung pada zina]?

Jika kamu tahu itu, maka kamu pun juga sebenarnya tahu kan bahwa ikhwan-akhwat yang melakukannya sebenarnya tahu?

Mengangguk lebih baik daripada menjawab 'tidak' dengan terbata-bata. Semoga itu bukan lagi aku, kamu atau mereka.