Showing posts with label Kampus. Show all posts
Showing posts with label Kampus. Show all posts

Sunday, October 25, 2015

What I Am Now Is Better Than What I Was

oleh Hasan al-Jaizy


Kadang saya iri sama rekan-rekan mahasiswa. Burden of life mereka masih berkutat di kampus, organisasi, tugas dan ujian. Rata-rata begitu. Kadang saya cemburu sambil menyesal akan masa kemahasiswaan saya sendiri dulu. Ada rasa mau kembali ke jaman itu lalu belajar lebih lagi. Sepertinya rata-rata sarjana ada pikiran begitu. Sepintar apapun.

Tiap fase selalu lahir sesalan. Sesal kenapa tidak dari dulu belajar lebih giat. Saya cemburu akan masa lalu atau mahasiswa yang belajar giat sampai malam demi gapai cita-cita. Dulu kalau begadang, dikerubuti buku. Sekarang kalau begadang sama buku, istri langsung cemburu. Keren kan?

Ternyata saya sadari, what I am now is better than what I was kala itu. Dan setiap kamu pun harus sadari, bahwa kamu versi kini adalah gift yang tiada di diri kamu masa lalu. Apa yang kamu punya kini, belum tentu kamu punya masa lalu. Apa yang terhilang telah berlalu. Apa yang berlalu, kenangan tak terhilang. Jika mau kita pikir, rasa syukur kita kadang hilang, padahal kenikmatan dari Allah jumlahnya tak terbilang.


Saturday, December 22, 2012

CAT : [53] "DALAM KERAGAMAN"


oleh Hasan Al-Jaizy


Dalam keragaman, bukan klaim dan pengakuan yang dibutuhkan. Tetapi sosialisasi dan amalan lebih diminta ia punya perwujudan. Justru klaim dan pengakuan [self-proclaiming] seringkali menimbulkan kerutan di dahi manusia tak segolongan. 

Setelah membaca tulisan teman sekelas saya ini: [http://www.facebook.com/saed.clpy/posts/303411959778414] yang berjudul 'Aku Muhammadi Bukan Muhammadiyah', saya tertarik menulis tulisan ini. Pemuda asal Cilacap ini memang sedang gencar dan semangat menulis. Salah satu hal yang membuatnya termotivasi menulis adalah pembahasan tentang ikhtilaf dan tanawwu' di lapangan.

Sekarang, ada pertanyaan:

"Bangsa Indonesia, ada berapa suku [atau katakan sub-ras]?"

Katanya, ada ratusan. Baiklah. Sekarang, saya bertempat tinggal di daerah Kalibata, Jakarta. Masukkan semua perwakilan dari tiap suku di Indonesia ke daerah saya untuk tinggal menetap

Wednesday, December 12, 2012

CAT : [25] "DIMENSI [ANAK PENGAJIAN] SALAFY atau DIMENSI [ANAK KAMPUS] GADO-GADO?"


oleh Hasan Al-Jaizy


Yang ribut soal manhaj itu ya kita, para muqalliduun, para murid yang di luar pengajian berisik soal perpecahan.

Dikira kita, kita bisa men-solving problematika jarh-tajrih, hadzhr-tahdzir dan seterusnya. 

Saya pribadi -segala puji bagi Allah- ya hidup di komunitas pelajar ilmu syar'i. 2 dimensi yang saya lihat bedanya.

1. Dimensi Salafy [komunitas teman2 Salafy -anakpengajian-; terutama di FB]
2. Dimensi Thullab Al-Ilm [komunitas teman2 kampus LIPIA; campuran, gado-gado; tapi mereka memiliki derajat ilmu yang bagus]

Beberapa perbedaan dari pengamatan saya pribadi:

Friday, December 7, 2012

CAT : [13] "MENGENAL BEBERAPA DOSEN KAMI"

oleh Hasan Al-Jaizy


[1] Syaikh Dr. Ajuuz, seorang doktor dari Mesir. Dosen yang satu ini terkenal dengan ilmunya yang luas, telaten, rajin dan suara yang menggempakan kelas. Sulit tidur ketika hadir di kajian beliau, meskipun sudah diniatkan sebelumnya bulat-bulat. Beliau ahli dalam ilmu Hadits [Musthalah], dan Fiqh. Beliau pernah mengkaji Fiqh Perbandingan dengan kitab Bidayatul Mujtahid beberapa pertemuan di semester 2 Syariah, kemudian Fiqh-Hadits dengan kitab Subulus Salam di semester 2 dan 6. Pernah juga beliau mengajar Tafsiir selama satu semester dengan kitab Fathul Qadiir.

[2] Syaikh Dr. Al-Azaazy, seorang doktor dari Al-Azhar, Mesir. Beliau spesialis ilmu Ushul Fiqh. Biarpun kadang lucu terlihat, namun tegas dan garang. Tegas dan garangnya pun lucu. Tapi, lucunya itu tegas dan garang. Mahasiswa yang terlambat beberapa detik atau menit setelah ia masuk, akan dipukul punggungnya sebagai hukuman. Beliau mengajar kami Ushul Fiqh dengan kitab Raudhatun Naadzir.

[3] Ustadz Kyai Muhammadun Lc, MA, seorang pakar fiqh asjowo, alias aseli dari jowo. Logat

Tuesday, December 4, 2012

CAT : [6] "ANAK PENGAJIAN JANGAN SONGONG"

oleh Hasan Al-Jaizy


Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya berusaha mengajak makhluk hidup yang membacanya untuk mengerti makna 'kaji', 'kajian', 'pengajian', 'mengaji', pengkajian' dan 'mengkaji'.

--> "Kaji" bermakna pelajaran dan penelitian atau penyelidikan atau sesuatu. 

--> "Kajian" bermakna sesuatu yang dikaji atau pengajian.

--> "Pengajian" bermakna pengajaran, pembelajaran, pembacaan Al-Qur'an atau kajian, atau proses perbuatan itu semua.

--> "Mengaji" bermakna membaca Al-Qur'an atau belajar membaca Al-Qur'an (tadarrus).

--> "Pengkajian" bermakna pembelajaran, penelitian, pembahasan, pencarian, penyelidikan, penelaahan, atau proses perbuatan itu semua.

--> "Mengkaji" bermakna mempelajari, meneliti, membahas, mencari, menyelidiki, menelaah.

Sementara...

"Anak Pengajian" = Anak di sini dimaknai orang yang secara rutin ikut pengajian, baik itu pengajian Al-Qur'an, maupun pengajian ilmu

Monday, November 26, 2012

Senin Pagi


oleh Hasan Al-Jaizy

Menggabungkan ngampus dan ngegawe adalah hal yang tidak mudah. Tugas kampus dan amanat gawe. Atau dalam makna lain: mencari ilmu sembari mencari duit.

Teman-teman yang hidup di rumah kos berfikir, 'Apa yang musti dikeluhin, Tong? Bukannya loe tinggal bareng keluarge? Ga perlu bayar kos dan biaya makan, kan?'

Ah, begitulah fikiran mereka. Tidak berfikir bahwa orang yang hidup di rumah bersama keluarga juga harus ikut memikirkan problematika dalam keluarga. Kalau mahasiswa perantau, meskipun jauh dari kampung halaman, rata-rata uang dikirim pula dari ortu. Mau pinjam uang, banyak teman siap memaklumi dan membantu. Dan tidak perlu mikirin rumah di kampung.

Kudu-kudu sabar kuliah di atas 4 tahun. Kalau mahasiswa umumnya, usia belajar 3 tahun di kampus sudah membuat hati gatal-gatal ingin cepat lulus lalu kerja dan beranak. Duh, gimana jadinya kalau mereka kuliah hingga 5 tahun atau 7? Seberapa besar hati untuk bersabar!?

Senin Pagi, Senin berkah insya Allah. Mencari ilmu di paginya, mencari uang setelah paginya.


Saturday, October 27, 2012

BUKAN Title Yang Paling Diperlukan

oleh Hasan Al-Jaizy

Title atau titel yang kita gunakan bermakna 2: JUDUL dan GELAR KESARJANAAN.

[1] JUDUL

Seorang penulis bebas menentukan judul dan bebas menulis. Kecuali jika ia menulis karya ilmiah formal sebagai tugas atau persyaratan kelulusan akademik. Judul dirancang sedemikian rupa sehingga mencakup kandungan tema dan disetujui oleh penulis, pembimbing dan selain keduanya. Isi juga harus berkualitas.

Dalam dunia tulis-menulis, JUDUL BUKAN SEGALANYA. Jika seseorang merancang sebuah judul kontroversial, namun isinya menina-bobokan pembaca, maka ia adalah penulis yang buruk dan sekadar CARI PERHATIAN. Karena yang sejatinya dicari pembaca adalah isi dan kandungan tulisan. Ada bedanya antara 'penulis' dan 'pewarta'. Penulis menulis untuk menuangkan ide atau apapun yang tertuang dalam fikiran. Sementara 'pewarta' memberitakan berita dan kabar.

Wajar jika

Tuesday, September 18, 2012

LIPIA = Gado-gado?

oleh Hasan Al-Jaizy

Seseorang berkata: "Saya menolak kuliah di LIPIA, karena seperti kebun binatang. Campur aduk ga jelas; ada JIL, IM, HTI, Salafy dst. Bahkan ada syaikh atau dosennya yang berangkat pakai [celana] jin atau isbal."

Jawaban nyolot:

"Masalah buat loe?"
"Kalo ntu masalah buat loe, trus gue kudu bilang 'wah' gitu?"
"Kalo gue udah bilang 'wah', terus loe bangga gitu ama prinsip dan manhaj loe?"

Jawaban tidak nyolot:

Begitulah orang yang tidak tahu, tidak pernah belajar dan merasakan atmosfir belajar di LIPIA tapi ngoceh bahkan ngejek. Kita perlu memaklumi jika yang bicara adalah anak baru lulus SMA atau pondok kemarin sore, tepatnya pas bedug magrib. Dan mudah-mudahan yang bicara seperti itu bukan anak pengajian yang belum lama kenal Salafiyyah, lalu saking semangatnya menumpas kejahatan, kedunguan dirinya sendiri lupa ditumpas.

"Saya menolak kuliah di LIPIA"

Dan siapa yang

Thursday, August 30, 2012

Beberapa Point

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point yang setuju tidak setuju, memangnya saya nyuruh setuju?

[1] Penghujung Ramadhan kemarin, saya bercengkrama dengan seorang ustadz hafidz lulusan s1 Al-Azhar Mesir. Salah satu hal yang saya ingat adalah kalimat beliau: 'Kalau di Mesir, gelar akademik tidak disematkan di nama seseorang kecuali gelar Doktor. Tidak seperti negara kita, dengan embel Drs., dianggap sudah bergelar.' Tapi, memang sebenarnya sudah bergelar.

[2] Lalu saya berfikir. 'Lha, di Indonesia juga kalau seorang ustadz sudah ada sisipan dua huruf Lc setelah namanya, maka ia dapat perhatian. Kalau bikin pengajian2 mingguan atau bulanan, atau daurah, biasanya akan ada seperti ini:

Pemateri: Ust. Mujarrih Al-Mubaddi' Lc

[3] Kalau sudah ada Lc, orang akan berfikir: 'Ini kalau tidak lulus dari lipia, mungkin lulusan Madinah.' Padahal sebenarnya sematan seperti itu bisa saja kamuflase. Siapa tahu Pak Ustadz waktu ngampus juga belajar pas ujian saja? wkwkwk....

[4] Tapi, tidak boleh su'udzan juga. Bisa jadi sang ustadz sebenarnya tidak mau ada embel-embel seperti itu, cuma panitia penyelenggara dan desainernya yang sengaja; demi kemaslahatan. Karena itu adalah salah satu upaya dan daya tarik. Tidak salah toh menyihir orang dengan perkara2 mubah dan tidak dusta?



Sunday, July 1, 2012

Koruptor Ilmiah

oleh Hasan Al-Jaizy

Kata mereka: 'Tuhan tidak memberikan beban kecuali di luar batas kemampuan manusia'
Seperti: [لا يكلف الله نفسا إلا وسعها]: "Tidak akan Allah membebani sejiwa melainkan semampunya"

Lalu mereka tambahi: "Tetapi beberapa dosen membebani mahasiswa di luar batas kemampuan dan keilmuan mereka."

Alasan dosen: 'Kalian kan mahasiswa, latihlah untuk berkembang dan mengembangkan sendiri. Kalian bukan siswa sekolah yang disuapi guru.'

Indeed...sebagian dosen benar-benar pintar 'mempersulit' dalam pembebanan, dan 'mempermudah' ketika ada 'bayaran', dan mengajarnya tidak berkualitas plus semau sendiri.

Dosen-dosen tersebut bisa dikategorikan sebagai 'koruptor ilmiah'

Wednesday, June 20, 2012

Kampus-kampus

oleh Hasan Al-Jaizy

Perbincangan antara ku dan nya [teman lama]:

Ku : "Kalau [belajar] ke Madinah, pulang2 bakal jadi ustadz [alim] benar2 berilmu ya?"

Nya : "Ah, ga juga."

Ku : "Berarti, tergantung orangnya juga donk?"

Nya : "Iya. Wong si XXX [kakak kelas kami dulu di pondok] lulus Madinah, sekarang malah jadi penjaga toko."

Ku : "Duh, sayang banget tuh ya. Padahal di sana lebih enak buat nyari ilmu syar'i"


Beberapa point dari kami:

1. Kampus-kampus adalah kampus; pencipta kader-kader, namun tidak memastikan semua kader benar-benar tercipta.

2. Kampus-kampus adalah wasilah-perantara-jembatan. 

3. Semua itu tergantung manusianya mau bagaimana. Jangan sangka semua thalib di Jamiah Madinah, Mekkah, Riyadh, atau LIPIA lulus dengan kapasitas ilmu yang memadai. Tidak semuanya.

4. Ilmu Syar'i tidak hanya di kampus-kampus yang telah disebutkan di atas. Ilmu Syar'i bahkan ada di buku catatan Anda, kitab-kitab di rumah Anda dan juga di HP atau PC.

5. Minder karena dari selain kampus di atas bukanlah kewajaran. Dan thalib yang belajar di kampus2 yang tersebut di atas, namun tidak ada bekas sama sekali [terlebih saat liburan], maka wajib baginya minder dan malu.

6. Untuk zaman sekarang, nama kampus TIDAK BISA menjadi neraca kualitas seseorang begitu saja. Namun dari segi global, nama kampus menunjukkan identitas dan kualitas.

7. Mahasiswa yang memang mahasiswa pembelajar, terlihat di masa liburan. Jangan seperti mahasiswa yang ngampus sekedar formalitas [terlebih yang di kampus ternama]; semacam ini giat kegiatan, molor belajar reguler, kerja keras sebelum ujian, liburan malah menjadi kepiting sungai alias yuyu [jalan selalu miring atau mundur tak maju-maju].


Kata bapak saya sekitar tahun 2004-05 atau bahkan lebih jauh lagi, yang intinya:
-> Mahasiswa dulu = buku dan referensi harus diupayakan didapat, lalu dipelajari benar2
->Mahasiswa kini = buku dan referensi asal dapat, belum tentu dipelajari benar2, cuma dicomot yang kira2 perlu

Dari saya:
-> Efek dulu = sarjana masih hafal nama-nama buku dan pengarangnya, bahkan isi buku secara global
-> Efek kini = sarjana kurang atau bahkan tidak hafal nama-nama buku dan pengarangnya. Jika ditanya isi buku secara global, penjabarannya meleset.

Bapak saya:
-> Mahasiswa dulu = Duit disimpen dan dikorbankan buat biaya ongkos dan juga BUKU
-> Mahasiswa kini = Duit dihamburkan dan dikorbankan buat melengkapi fashion, style dan PULSA

Dari saya:
-> Efek dulu = mahasiswa memperhatikan buku-buku original dan menghargainya
-> Efek kini = mahasiswa memperhatikan bonus pulsa, sekarat tanpa HP sehari, tidak lugu namun banyak yang dungu [kosong berisi], plus: CUKUP BUKU BAJAKAN, FOTOCOPYAN atau....sudah ada Internet gitu loch

=> Mahasiswa dulu ngetik makalah/skripsi dengan mesin tik yang butuh perjuangan cukup dan lumayan meletihkan [makanya banyak bapak2 sekarang kalau ngetik menekan keyboard keras2; efek adat masa lalu]

=> Mahasiswa kini ....

Correct me if I'm wrong
Blame yourself if you're wrong

http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/406657572708967

Wednesday, May 23, 2012

Iseng Menyentil Tapi Nyata

oleh Hasan Al-Jaizy


Lulus pesantren, atau sekolah umum berkualitas, langsung menonton Mayat-Mayat Cinta yang saat itu lagi nge-trend. Akhirnya tertarik ke Mesir tuk meneruskan 'belajar'. Sebelum berangkat, angan2 itu membanjiri. Dapat teman baru, komunitas berbeda, sejuta pengalaman, bertemu makhluk2 berbeda bangsa, dan tentunya dapat ilmu. Belajar di kampus tertua di dunia? Siapa tak tergiur?

Ah, besar asa di awal, di akhir belum tentu sampai. Wong ternyata setelah di sana kesehariannya sama sekali tak tercermin sebagai 'pelajar-berangan-tinggi' kok. Ikut ngumpul bareng teman2 Indo? Ok. Khususnya, teman yang se-bahasa daerah. Pergi menggelandang ke sana ke mari? Ok. Yang penting pengalaman. Mengadakan kegiatan2 mengatasnamakan organisasi ini dan itu? Ok. Positif itu. Sekarang, maka efek dari 'ngampus'nya?

Baiklah. Efek itu ada tentunya. Tentu saja ada. Efek dari mbolos tanpa uzur, mentang2 satu kelas berisikan +100 mahasiswa, dosen tak peduli kamu ada atau tidak, absensi [what? who cares?] itu seperti anak sekolahan saja.

Syukurlah, pulang-pulang membawa nama dan gelar: Sarjana luar negeri, atau sarjana Al-Azhar. Yang penting pulang bawa nama, toh zaman sekarang orang lebih banyak melihat ke papan nama daripada makna nama tersebut. Jadi: jangan belagak idealis dech [???].

Ah, itu cuma beberapa kasus kok...ga semuanya.
Ayo, kawan-kawanku yang kuliah di sana, nanti pulang jangan kecewakan kami dengan pepesan kosong ya, tapi tunjukkan pada kami bahwa kalian pulang membawa nama dan arti.


Yang maknanya:

Mencari ilmu bukan karena trend, tapi karena supaya berilmu.
Kalau mencari ilmu karena trend, yang didapet ya trend itu sendiri, sementara ilmunya, terbang ke ketiadaan.

Mau jadi trend-setter atau tren-follower?

Kalau cuma mau jadi pengikut trend, ya cukup mengekor saja. Tak perlu kualitas dan padatnya isi dipikirkan.
Tapi kalau mau jadi trend setter atau jadi contoh baik, maka jangan cuma ikut-ikutan. Galilah potensi itu dan perhatikan kualitasnya.

Yang ngerasa tersinggung, silahkan ngerasa ya...toh perasaan itu harus ada kalau memang benar-benar terjadi. Iya, kan?


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/391798010861590

Sunday, April 22, 2012

Gelar

oleh Hasan Al-Jaizy

Sekedar mengingatkan kembali:

Kelak gelar yang kau punya atau titel yang kamu raih, tentu akan ditanyakan dan diminta pertanggungjawaban.
Jika memang tak ingin takut nantinya, takutlah sekarang dari pertanyaan2 ini:

==> Untuk apa gelar dan titel itu tertuju?
==> Semua itu nikmat, karunia dan keutamaan, bagaimana kamu mensyukurinya?
==> Apakah kamu cocok dan pantas mendapatkannya?

Silahkan disepelekan, sambil mencari-cari celah dan alasan. Ini sekedar mengingatkan, agar kita senantiasa tak menghancurkan diri sendiri dan tak menghancurkan orang lain, meskipun niat kita tak seperti itu.

Saturday, April 21, 2012

Cerita Sedikit Tentang Rasa Dari Saya

oleh Hasan AL-Jaizy

Cerita sedikit tentang Rasa dari Saya

DULU, saya berfikir begini:
2009: lulus s1
2012: lulus s2
Maka saya menjadi seorang yang berderajat di atas kebanyakan orang seumuran. I tell you now: saya mempunyai ijasah s1 tahun 2009 yang sampai sekarang belum dan enggan saya ambil. Insyaf saya setelah berfikir merenungi dan melihat realitas. Ijasah tersebut tak berharga bagi saya, meski uang telah keluar. Karena itu hasil dari kampus yang sama sekali tak membuat saya 'ilmiah'.

Jikalau ingin, sedari 2009 saya teruskan s2 dengan bantuan, support ataupun dana dari beberapa orang. Namun, ternyata hingga kini, ijasah s1 sama sekali tak mau saya sentuh.

Dulu, saya berfikir bahwa saya layak menjadi sarjana muda hingga orang bisa memandang. Sekarang, fikiran itu selalu saya ludahi.
Dulu, saya targetkan tahun 2012 sudah bergelar MA. Sekarang, kertas pemetaan target tersebut sudah saya robek-robek.


 Haluan itu berubah ketika:

--> Melihat realitas di kampus-kampus
--> Melihat kualitas di kampus-kampus
--> Pembelajaran realitas bahwa ketergesaan memberikan kesuksesan dini yang palsu
--> Jijik melihat orang bergelar namun tak berkualitas
--> Jijik melihat orang memamerkan gelar namun....?
--> Gelar adalah wasilah, BUKAN TUJUAN. Sebagian orang menipu diri sendiri dengan mengatakan: 'Saya mencari gelar untuk wasilah', tapi ternyata mereka menjadikan gelar sebagai tujuan. Seakan gelar adalah segala yang harus dicapai.
--> Gelar adalah wasilah. Dan wasilah, jika dipakai, maka akan DITANYA dan DIPERTANGGUNGJAWABKAN kelak.
--> Ketika sudah ternama, jangan lupa, apa yang terucap, apa yang terfatwa, apa yang tersirat di hati: akan DITANYA dan DIPERTANGGUNGJAWABKAN kelak.


 I keep myself at LIPIA, studying until the end of the limited time. 

Ketergesaan mungkin akan melahirkan pencapaian tujuan, namun lebih mungkin akan melahirkan ketiadaan pencapaian.

1. Sekarang sudah menjamur 'sarjana-sarjana' muda...dan ilmu mereka hasilnya seperti tidak ada.
2. Nanti akan menjamur 'lulusan-lulusan s2'...dan ilmu mereka ada, namun tak seberapa.
3. Kelak semua akan berlomba menjadi 'Doktor'...dan tidak semua Doktor mengingatkan diri bahwa kelak gelar tersebut akan dipertanyakan dan diminta pertanggungjawabkan di hari nanti.

Silahkan berlomba mencari gelar ini dan itu. Insya Allah ada hasilnya. 

Dan jangan lupa: jika niat di hati hancur, batal segala.



"Gelar awalnya mahal, tapi kemudian akan murah"

Dulu gelar s1 mahal harga dan juangnya, sekarang dipermurah sebagian. Lalu ada yang sungguh murah, tinggal membeli. AKhirnya: lahirlah sarjana-sarjana karbitan.

Gelar s2 masih mahal rupanya sekarang. Tapi, kelak akan dipermurah dan dipermudah sebagian. Dan lahirlah....

Gelar s3 tentu saja mahal dan tidak sembarang orang. Tapi, kelak akan dipermurah dan disembarangkan. Dan lahirlah...

Itulah yang saya maksud: FITNAH. Bukan gelar secara dzat yang buruk, namun seiring berjalan waktu, semakin dekat kiamat, semakin banyak orang yang haus gelar untuk memuaskan hatinya, TANPA ingat semua itu bisa menjadi fitnah dunia akhirat.

SEMENTARA:

"Ilmu dan kualitas awalnya MAHAL, tapi kemudian akan selalu MAHAL"



Thursday, February 2, 2012

Belajar Sekujur Hidup


oleh Hasan Al-Jaizy

Tidak hanya berlaku bagi ilmu bahasa, tapi juga SEMUA cabang ilmu. Kuliah untuk sekedar dapat ijasah atau lulus membawa nama kampus???

Apakah ingin menjadi seperti pelacur...melacur diri dan kenikmatan; namun semua itu semu, bohong, dusta dan tak berarti kecuali dosa!? Bagaimana jika ada yang melacuri nama kampusnya atau ijasahnya; sementara kualitasnya bermakna semu, bohong, dusta dan cover semata!?


Kasihan sangat mereka yang belajar Bahasa Arab di kampus, lalu setelah lulus, bahasa tersebut berhenti sama sekali dipelajari, padahal masih minim sekali. Alasan: Kerja, Ga ada waktu, keluarga.

Jadi, selama kuliah, belajar itu untuk apa??? Sementara suatu ilmu tak hanya dikuasai 4-5-6 tahun lalu ditinggalkan begitu saja. Apa gunanya lalu???


Untuk yang ingin buka pikiran:

[1] Sekolah, kampus dan kelulusan hanyalah wasilah/perantara, bukan tujuan utama. 

[2] Jika mengejar dan mendewakan wasilah, maka tujuan takkan tercapai. 

[3] Jika mengejar tujuan tanpa wasilah, takkan mungkin memulai.

[4] Wasilah itu tak terbatas, sedangkan tujuan terbatas.


Mari kasihani diri masing2: karena tidak ada yang menjamin seperti apa yang terjadi nanti bagi diri sendiri.

http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/322049761169749

Tuesday, January 17, 2012

LEARN FROM LIFE : "Macam Mahasiswa Saat Liburan"

Beberapa pertanyaan berbeda jurusan dan karakter terhembus dari beberapa mulut:

a. Pas liburan, mau travel/pergi ke mana?
b. Buku apa yang bakal dilahap pas liburan, kira2 berapa buku?
c. Ada game baru ga buat liburan?
d. Cabang ilmu/skill apa yang bakal dipelajari pas liburan? Bertani? Bahasa Asing? Sastra? Menjahit?
e. de el el


Menurut Saya:
Justru kepribadian seorang pelajar/mahasiswa sebenarnya lebih terbukti ketika liburan. Apakah ia akan menghabiskan liburan untuk hal2 yang bermanfaat terkait dengan bidang keahliannya, atau bahkan mau memanfaatkan waktu kosong untuk mempelajari cabang ilmu baru. This is good.

Atau apakah banyak/kebanyakan seperti mahasiswa yang kuliah karena terpaksa, tugas karena kewajiban...saat liburan ia menjadi seperti ANAK SEKOLAH: hanya main game, bercanda, ke rumah teman atau malah 'ngerengek' minta travel/pergi ke suatu tempat.

Ada pula mahasiswa yang di lembaran masa aktif kuliahnya ia aktif belajar sambil berorganisasi, tapi saat liburannya kepalanya berantena, menjadi lamban dan malas seperti keong bekicot.


Untuk yang mau menghabiskan waktu travelling ke tempat2 asing, it's ok...good. Namun diharapkan travelling nya tidak sekedar 'hiburan'. Layak pula ada hal baik atau pelajaran yang dipetik dari travelling.

Untuk yang mau membaca buku dan mentargetkan jumlah buku, you are great!

Untuk yang mengadakan acara-event bermanfaat [bukan event konser atau hiburan2 sia2], you are great! Keep rocking!

Untuk yang mempelajari ilmu baru, you are great!
Untuk yang membantu ortu di sawah/ladang/dapur, you are GREAT!


Untuk yang MENGHABISKAN waktu pada GAME online/offline atau sekedar kongkow bareng teman having fun, GO BACK TO YOUR CHILDHOOD, YOU CHILDISH RETARDED BEING!

http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/311692892205436

Saturday, December 31, 2011

Perputaran Perasaan

oleh Hasan Al-Jaizy


[1] Anak sekolah [SMA] berangan-angan kuliah dan anggapnya keren; saat kuliah nanti ternyata biasa-biasa saja.
[2] Seseorang mendamba kul di LIPIA dan anggapnya keren; setelah masuk, ternyata semuanya biasa-biasa saja.
[3] Yang bermimpi kul di TimTeng, dan anggapnya luar biasa; setelah dikabulkan ke sana, ternyata tak seheboh seperti yang terfikir sediakala.
[4] Toh banyak muda-mudi yang tadinya bersyahwat tinggi menuju Al-Azhar Mesir tersebab oleh novel; setelah nyampe, ternyata biasa saja...banyak yang 'maen-maen' malah.


 So:

==>'Jika kamu ingin meneruskan studi di sebuah kampus 'ternama' karena keren atau ingin dianggap, ditakutkan nanti setelah masuk [atau bahkan sampai lulus], kekerenan yang kau inginkan adalah kualitasmu yang rendah'

==>'Jika kamu ingin menguasai suatu bidang/ilmu karena keren atau ingin dikesan keren, ditakutkan nanti di pertengahan akan putus asa kesulitan; karena pembelajar yang tidak ikhlas cenderung 'nyari-gampang' dan 'ga-mau-susah' atau 'pengen-cepet'


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/301540149887377

Monday, November 14, 2011

Lulusan Mana?

oleh Hasan Al-Jaizy

Suatu saat, kita akan ditanya: "LULUSAN mana?"
Lalu kita jawab dengan sebuah nama kampus terhormat atau tidak.
Mereka sandarkan kepercayaan kualitas kita dengan nama tsb.
Lalu kita merasa AMAN, meski mungkin saja kualitas kita NOL.

Luput keaslianmu karena manusia bisa saja tertipu oleh nama dan kata.


 3-4-5-6-7 tahun belajar di sekolah-perkuliahan

tenang terasa setelah lulus, apakah semuanya berakhir?

Kita akan DITANYA dan DIMINTA PERTANGGUNGJAWABAN atas segala kualitas sebagai cerminan syukur nikmat!
Kita akan DITANYA dan DIMINTA PERTANGGUNGJAWABAN atas segala kualitas sebagai cerminan syukur nikmat!
Kita akan DITANYA dan DIMINTA PERTANGGUNGJAWABAN atas segala kualitas sebagai cerminan syukur nikmat!
Kita akan DITANYA dan DIMINTA PERTANGGUNGJAWABAN atas segala kualitas sebagai cerminan syukur nikmat!
Kita akan DITANYA dan DIMINTA PERTANGGUNGJAWABAN atas segala kualitas sebagai cerminan syukur nikmat!
Kita akan DITANYA dan DIMINTA PERTANGGUNGJAWABAN atas segala kualitas sebagai cerminan syukur nikmat!
Kita akan DITANYA dan DIMINTA PERTANGGUNGJAWABAN atas segala kualitas sebagai cerminan syukur nikmat!

TIDAKKAH KITA TAKUT?


Di HARI NANTI, kita akan ditanya:

"Apa yang kau lakukan di kampusmu?"
"Bagaimana kau memanfaatkan biaya semester, untuk bermain atau menimba ilmu?"
"Mana hasil dari belajarmu 3-4-5 TAHUN?"
"Apa yang telah kau amalkan darinya? Untuk apa ia dipergunakan??"
Lalu, rasa aman kala di dunia berubah menjadi kecemasan

TERBONGKAR keaslianmu karena Yang Maha Mengetahui [Allah Ta'ala] mengetahui jelas segalanya tentangmu!


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/275978929110166