Showing posts with label Pesantren. Show all posts
Showing posts with label Pesantren. Show all posts

Wednesday, March 27, 2013

Kepentingan Apreasiasi Dari Pendidik Terhadap Yang Dididik


oleh Hasan Al-Jaizy

Apresiasi, menurut thefreedictionary.com adalah "an expression of gratitude". Itu salah satu pengertian apresiasi menurut mereka. Maksudnya adalah 'sebuah ekspresi atau ungkapan atas sikap berterima kasih'. 

Apresiasi bisa diwartakan dengan 'tongue language' atau 'body language'. Misal dari bahasa lisan adalah mengatakan 'Thank you', atau 'That's great' dan selainnya. Misal dari bahasa tubuh adalah memberi isyarat seperti mengacungkan jempol, tersenyum, dan lainnya. Akan kita kupas contoh lain setelah membahas:

"Kepentingan Apreasiasi Dari Pendidik Terhadap Yang Dididik"

Apresiasi adalah sebuah ekspresi yang banyak diabaikan dan diremehkan para pendidik, mulai dari orang tua, guru sekolah, guru les/kursus/bimbel, hingga para atasan, mulai dari presiden, menteri, direktur, bos dan seterusnya. Padahal, pengungkapan apresiasi, terdapat makna positif dan efek yang bagus terhadap manusia. Pendidik yang kaku dan menyeramkan adalah makhluk yang paling sulit mengapresiasi suatu usaha dan karya pihak yang dididik. Begitu juga dengan atasan yang tidak mau tahu kinerja dan proses -yang ia inginkan hanya hasil terwujud-. 

Wednesday, February 6, 2013

Pendidikan Kuburan Keramat

oleh Hasan Al-Jaizy

Dulu, kuliah di Madinah, Mekkah, Riyadh, Yaman, bahkan di lipia, adalah sebuah kejarangan dan tantangan. Banyak pelajar berhasrat, namun takdir untuknya tak semuanya tersirat. Sehingga lulusan sana adalah orang2 yang tahu agama, melebihi pengetahuan di atas rata-rata.

Itu masih hingga sekarang. NAMUN, kadarnya tak sewajar dahulu. Pelajar ilmu syariah akademik sekarang toh banyak yang 'ga jadi'. Mudah2an bukan termasuk saya dan kawan-kawan sekalian. Sekarang, semua orang bisa belajar ilmu syariah. Baik berbayar atau gratis.

Jikalau Internet benar-benar dimanfaatkan maksimal, bukan tidak mungkin anak pengajian rutin mingguan 2x, bisa setara pengetahuannya dengan anak-anak akademik formal. Ini jika kita tidak melihat dari segi kapasitas penguasaan ilmu alat mereka (Arabic, Ushul Fiqh dst). Tapi, Internet kini benar-benar curahan rahmat sekaligus...

fitnah

Satu sisi, saya pribadi senang sekali dengan kemajuan kawan-kawan Jogja yang dengan kegigihan, keteraturan, keseimbangan dan 'konspirasi' yang rapi bisa menjadikan generasi yang ngampus ilmu dunia, tapi bisa juga ngaji ilmu akherat. Sehingga, lahirlah para asaatidzah yang tadinya tak mempunyai latar belakang pondok pesantren atau pedepokan religius. Ini karena kegigihan dan konspirasi yang patut diacungi jempol dan dicontoh.

Namun, di sisi lain, saya menerawang sesuatu ke depannya. Sebelum saya jabarkan, perlu ditekankan bahwa tiada gading yang tak retak. Satu sisi Internet adalah rahmat, satu sisi Internet bertaburan kualat. Satu teori dan metode boleh keren di masa kini, namun di masa depan bisa ditinggalkan.

Begini:

Thursday, January 24, 2013

PINTER DIKIT dan MODERN DIKIT I

oleh Hasan Al-Jaizy


Sekarang, selain dituntut 'pinter dikit', ternyata kita kadang tertuntut untuk modern dikit. Kenapa dituntut pinter dikit? Karena zaman sekarang informasi itu bagaikan banjir tak bermusim. Maksudnya, karena tidak ada musimnya, jadi banjir terus. Tiap hari [pagi, siang, sore, malam] Anda bisa menikmati luasnya pemandangan dunia, baik dengan audio maupun visual. Kenapa tertuntut modern dikit? Karena Uwong ndeso saja sudah kenal HP bagus, sewajarnya uwong kuto harus lebih bagus lagi. 

Natijah Tuntutan Pinter

Di antara natijah tuntutan pinter dikit adalah menukil dengan menyebutkan sumber nukilah. Kalau Anda perhatikan buku karya modern, terutama yang berkaitan dengan Syariah [mencakup Aqidah, Al-Qur'an, Hadits, Fiqh, Akhlaq dll], kita mulai terbiasa melihat footnote di hampir tiap halaman. Cobalah Anda beli 5 buku yang semacam itu. Dikit-dikit, ada tulisan H.R. Bukhari, atau nama-nama kitab yang dinukil isinya. Baca buku semacam itu selama 1 bulan. Nah, di bulan kedua, beralihlah ke buku yang kering kerontang akan footnote. Isinya seolah-olah pendapat pribadi penulis, tanpa mengutip dari sumber lain. Anda akan merasa kekeringan. Kenapa? Karena terbiasa bermain di taman yang penuh bunga footnote. Dan ini adalah salah satu bentuk 'pinter dikit'; yaitu tumbuhnya benih kritis dan tidak cepat percaya. 

Monday, December 10, 2012

SALATIGA, SELALU DALAM KENANGAN : [8] "Majlas" (1)


oleh Hasan Al-Jaizy


Majlas berasal dari Arabic. Ia adalah sebuah masdar dengan wazan 'Maf'al' yang bermakna 'perbuatan duduk'. 

Majlas yang saya maksud adalah sebuah tradisi klasik pondok berupa pengumpulan roh-roh beserta jasadnya di suatu majlis (tempat/waktu) sembari nyemil (memakan makanan kecil) atau nyerob (meminum minuman ringan). 

Tradisi ini adalah warisan nenek moyang Arab-Indo yang berpengaruh keras pada sosiologi masyarakat pondok. Saya berbicara tentang Majlas di pondok saya, bukan di pondok selain pondok saya. Jika ada kesamaan rupa dan nama, jangan salahkan gerimis mengundang.

SALATIGA, SELALU DALAM KENANGAN : [9] "Majlas" (2)

oleh Hasan Al-Jaizy


Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, bahwa makanan afdhal untuk majlas di pondok kami adalah keripik kartini. Tidak masalah jika itu bukan keripik kartini. Boleh kripik Kembangsari atau Salatiga dll. Yang penting murah meriah. Dan cukup lama habisnya. 

Untuk majlas, biasanya santri-santri urunan/patungan. Lalu salah satu atau beberapanya pergi ke warung membeli semua makanan dan minuman. Kembali ke tempat majlas, makanan digelar biasanya dengan cara menumpahkan kripik ke lantai.

Topik Majlas

Topik majlas macam-macam dan apapun semaunya, selama bukan topik pelajaran di kelas atau muhadharah. Makanya, majlas dengan

Friday, November 9, 2012

SALATIGA, SELALU DALAM KENANGAN : [7] "Topeng!"


oleh Hasan Al-Jaizy

Di episode 6 kemarin, saya telah mengupas para Iqballers. Mereka adalah makhluk-makhluk pondok yang saya kenal bernama Iqbal. Iqbal yang terdekat dengan saya bernama panjang Iqbal Mu'ammar Rosyad. Teman sejak 1999 dan sampai kapan entah. Hanya untuk sekarang, jarak yang terlalu jauh, memisahkan kedekatan kita.

Iqbal yang satu ini merupakan salah satu teman pertama yang saya kenal di masa pendaftara calon santri baru. Dulu, ia pualing heboh sendiri ketika saya, Adnan (santri lama) dan Fairuz (santri lama) memakai kaos merah yang sama, bertuliskan Brigade Life Skill. Ia tak henti mempertanyakan kenapa kok bisa sama.

Darinya juga, saya belajar menggunakan satu kosakata baru yang belum pernah saya tahu sebelumnya di Jakarta. Kosakata itu berbunyi "THOK". Biasanya digunakan wong Jowo untuk mengungkapkan kecukupan, seperti "Sijhi Thok", maksudnya Satu Saja. Bisa juga disingkat Sithok.

Dulu, tahun 1999, ada seorang remaja 'keren' duduk di bangku SMA, tepatnya kelas 3, bernama Marthena Taufan Hafian. Pinter, cakep dan 'tidak-alim'. Dikenal pinter benar-benar. Dikenal cakep tidak benar. Paling benar: tidak alim. Nah, remaja keren ini punya panggilan 'Topeng', ple-setan dari Taufan yang merupakan nama aslinya. Asalnya dari Cirebon. Topeng yang satu ini juga jago main bola. Merupakan pendekar team sepakbola pondok bernama Khoibar Soldiers bersama legenda pondok lainnya bernama Mu'min Aziz.

Ketika Iqbal Mu'ammar masih di kelas 1 SMP, ia dekat sekali dengan Topeng. Karena kedekatan itulah, keduanya identical. Setelah si Topeng lulus pondok, julukan 'Topeng' diwariskan ke Iqbal. Dan untuk 2000 kemari, Iqbal Mu'ammar dikenal dengan sebuat 'Iqbal Topeng'. Begitulah

Thursday, November 1, 2012

SALATIGA, SELALU DALAM KENANGAN : [6] "Iqballers"

oleh Hasan Al-Jaizy

Mulai episode ini, saya insya Allah akan membahas teman-teman yang paling TERAWAL saya kenal di pondok. Yaitu ketika masih di masa pendaftaran calon santri baru. Di antara mereka adalah Iqbal Mu'ammar Rosyad, seorang anak kecil asal Madiun. Dia adalah salah satu teman pondok pertama dan terakhir yang terdekat dengan saya. Pertama, kenal saat masa pendaftaran. Terakhir, beberapa tahun kemarin, sebelum dia hijrah ke Solo.

Sebelum lanjut membahas teman saya ini, saya hendak sampaikan para Iqballers pondok. Mereka adalah makhluk-makhluk bernama Iqbal yang saya kenal selama mondok. Berikut daftarnya:

Wednesday, October 31, 2012

SALATIGA, SELALU DALAM KENANGAN : [5] "Sepak Takraw"


oleh Hasan Al-Jaizy

"Sepak Takraw adalah jenis olahraga campuran dari sepak bola dan bola voli, dimainkan di lapangan ganda bulu tangkis, dan pemain tidak boleh menyentuh bola dengan tangan." [Wikipedia]

Benar sekali. Di pondok ada lapangan khusus voli, yang setengahnya masuk ke area lapangan sepakbola. Sepakbola + voli = takraw. Namun, kami tidak punya lahan khusus takraw. Akhirnya jadilah lapangan bulu tangkis sebagai lahan bermain takraw.

Saya mengenal takraw di pondok ini. Di masa calon siswa baru, saya suka menikmati pertandingan sepak takraw. Tepatnya menonton di pinggir lapangan bulu tangkis, di depan kamar tidur calon santri baru. Saya teringat seorang santri bernama Siradjuddin, senior jauh, lulusan SMA/I'dad Mu'alimin tahun 1999. Beliau seangkatan bersama Ust. Rijal Yuliar Putananda, Ust. Agung Wahyu Adi dan lainnya. Beliau berasal dari Bogor.

Yang membuat saya teringat akan beliau adalah kaosnya. Sore itu ia memakai kaos Bologna, sebuah klub papan tengah Serie A Italia. Baju Bologna mirip Barcelona. Merah-biru. Bertuliskan di depan: Granarolo. Bologna adalah tim jagoan teman saya di SDIT dulu. Namanya Farhan Islami, adiknya teman sekelas saya. Di bagian belakang tertera nama 'Signori'. Wah, Giuseppe Signori ketika itu adalah salah satu pemain masyhur dari Italia. Terkenal akan kaki kirinya yang tajam. Tajam di klubnya [Bologna], namun kurang tajam di timnas Italia. Ciri khasnya adalah menendang penalti hanya dengan satu langkah.

Yang juga menarik perhatian saya adalah seorang santri lama bertubuh kecil dari Semarang. Namanya Abdurrahman Al-Ghifari. Suaranya selaras dengan ukuran tubuhnya. Lumayan cempreng. Dia sering sekali saya lihat menjadi wasit. Saat saya sudah menjadi santri beneran, dia suka meledek-ledek. Tapi, ledekannya itu adalah candaan ala Tengaran. Oh ya, sebenarnya anak-anak Tengaran suka sekali melucu [ketika di pondok]. Serius dikit, tapi lucunya banyak. Akan dikupas kapan-kapan insya Allah.

Terkadang kita dapatkan santri-santri bermain takraw memakai sarung; sehingga ketika menendang tinggi, mereka harus memegang sarungnya. Mau lari-lari mengejar bola malah ribet sendiri. Atau ada yang memakai peci/kopiah; sehingga ketika bola di atas dan harus menyundul, mulut mereka menganga lalu des. Menyundul. Peci dan bola sama-sama terbang. Bayangkan saja sendiri.

Ketika saya masih SMP, sepak takraw sangat populer. Namun, kemudian pamoritas takraw terkikis di era 2002 ke sininya lagi. Ketika saya masih kelas 1 SMP, santri-santri kelas 3 SMA [3 Mua'limin] mempopulerkan sepak takraw di kelasnya. Tapi, yang ini unik. Karena bukan memakai bola takraw, melainkan kok untuk badminton. Jadi, mereka bermain di kelas. Mengatur meja-meja kelas. Tanpa modal jaring, namun jaring bisa diganti dengan deretan kursi-kursi atau sekadar taruh sapu panjang di antara dua meja. Mereka bermain itu dengan asyiknya. Dan banyak di antara kami, anak-anak SMP meniru-niru kemudian.

Di antara pemain takraw pondok masa lalu adalah Yasir Abdul Hakim atau Achink [Jakarta, lulusan 2000], Kudus [Balikpapan], Aso [Makkah-sar], Fathullah atau Atul [Sinjai Sulsel, lulusan 2004], Muhammad Haekal Aula [Pontianak, lulusan 2000], Abdurrahman Hamzah [Balikpapan, lulusan 2001], Muhammad Kholis [Balikpapan, lulusan 2002] dan sebenarnya masih banyak lagi.

Di zaman saya SMA/Mu'alimiin, sepak takraw sudah redup. Bulutangkis masih populer. Juga voli tak senyaring dulu lagi suara dentuman bolanya.

http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/457768877597836

GELAP TANPA LISTRIK : [2] Situs-situs Gelap di Pondok dan Sekitarnya

oleh Hasan Al-Jaizy

Sebenarnya pembahasan ini suatu saat insya Allah akan dituturkan secara jujur kelak di salah satu episode dari serial SALATIGA, SELALU DALAM KENANGAN. Tapi, boleh lah pagi ini iseng-iseng menuliskan beberapa darinya di sini. Setelah sebelumnya membahas Jakarta, kini merambat ke Salatiga, dan yang berikutnya akan menyosor ke Pontianak.

Di pondok saya, ada beberapa situs gelap dan remang-remang. Ketika masih kelas 1 SMP [Mutawasithah/Tsanawiyyah], situs gelap yang memiliki reputasi buruk terdekat adalah di bawah tangga asrama blok Khoibar. Letaknya persis di antara perpustakaan dan blok Hudaibiyyah . Di dekat kamar saya. Perpustakaan ketika itu on 24 jam. Tidak ada pengurus yang mengatur dengan baik; padahal bukunya banyak. Nah, bawah tangga itu adalah daerah berlantai namun kotor. Gelap tak diterangi. Banyak sampah dan pakaian bekas dibuang di sana pada waktu itu.

Suatu larut malam, saya terjaga mendengar seseorang berjalan di tangga. Suara langkahnya keras dan beraturan. DUG....DUG...DUG....Hati saya pun dag....dig....dug...der....DAIAAAA!

Lalu pemilik langkah itu berjalan

SALATIGA, SELALU DALAM KENANGAN : [3] "Mas Boy"


oleh Hasan Al-Jaizy

Para calon santri baru gelombang pertama, harus tinggal di dalam pondok berhari-hari. Hampir seminggu. Syukurlah, mudahnya little Hasan bergaul pada manusia semenjak masih es de, menjadikan ia mudah mendapat teman-teman baru. Tanpa harus canggung dan main gunung es dulu. 

Kami, para calon santri baru, ditempatkan di sebuah ruangan yang normalnya atau aslinya adalah kelas ITQ [sebuah jenjang untuk anak SD yang dipesantrenkan]. Ruangan itu terletak di depan pondok, dekat dengan pos satpam dan gerbangnya. Ia juga berada di depan lapangan bola takraw. Lapangan itu bisa dijadikan tempat bermain takraw. Bisa pula tempat bermain badminton. Kadang, malah bisa dijadikan tempat bermain bola [dengan bola plastik]. Jadi, flexible...connected to anyone's will.

Mas Boy, adalah seorang pria Jawa berperawakan tinggi. Usianya ketika itu di atas 20, menurut perkiraan penulis. Beliau adalah orang pertama yang kami [calon santri baru] kenal. Ramahnya

Saturday, June 16, 2012

Risalah Untuk Wali Santri

oleh Hasan Al-Jaizy


Bagi para wali santri, yang menyantrenkan anaknya di pondok kami, dikarenakan melihat dan mengagumi beberapa lulusannya, kami senantiasa doakan buat anak-anaknya. Mudah-mudahan bisa lebih hebat dari beberapa lulusan yang mereka kagumi; dan lebih baik dari yang diharapkan.

Adapun jika ternyata selama mondok, ia justru menjadi buronan dan suka melanggar hingga tidak naik kelas, jangan langsung berputus asa sehingga mengira masa depannya jauh dari harapan. Jangan pernah menyangka seperti ini. Berbaik sangkalah pada Dzat yang takkan menzalimi makhluk.

Bahwa masa remaja penuh godaan, terpaan, ujian, jua keindahan. Orang-orang yang dikagumi karena ilmunya atau keutamaannya kini, belum tentu dulu ketika mondok adalah santri terbaik. Tidak mesti. Bisa saja di antara mereka dulu justru termasuk santri buronan satpam. Dan tidak sedikit...benar, tidak sedikit...yang dulunya adalah santri baik-baik, adem ayem, kalem dan tersayang, kini tak berbekas...tak terlihat adanya tanda-tanda kesantrian dalam tingkahnya. Yang ada justru tanda-tanda kiamat sudah dekat pada dirinya.

Maka, bagi yang anaknya mondok, atau baru lulus, tetap beri arahan dan doakan. Warna itu banyak sekali; sementara manusia dalam hidupnya berwarna-warni. Maka, ketika terlihat hitam ia, jangan hakimi ia hitam selama-lamanya.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/404646856243372

Risalah Untuk Wali Santri

oleh Hasan Al-Jaizy


Bagi para wali santri, yang menyantrenkan anaknya di pondok kami, dikarenakan melihat dan mengagumi beberapa lulusannya, kami senantiasa doakan buat anak-anaknya. Mudah-mudahan bisa lebih hebat dari beberapa lulusan yang mereka kagumi; dan lebih baik dari yang diharapkan.

Adapun jika ternyata selama mondok, ia justru menjadi buronan dan suka melanggar hingga tidak naik kelas, jangan langsung berputus asa sehingga mengira masa depannya jauh dari harapan. Jangan pernah menyangka seperti ini. Berbaik sangkalah pada Dzat yang takkan menzalimi makhluk.

Bahwa masa remaja penuh godaan, terpaan, ujian, jua keindahan. Orang-orang yang dikagumi karena ilmunya atau keutamaannya kini, belum tentu dulu ketika mondok adalah santri terbaik. Tidak mesti. Bisa saja di antara mereka dulu justru termasuk santri buronan satpam. Dan tidak sedikit...benar, tidak sedikit...yang dulunya adalah santri baik-baik, adem ayem, kalem dan tersayang, kini tak berbekas...tak terlihat adanya tanda-tanda kesantrian dalam tingkahnya. Yang ada justru tanda-tanda kiamat sudah dekat pada dirinya.

Maka, bagi yang anaknya mondok, atau baru lulus, tetap beri arahan dan doakan. Warna itu banyak sekali; sementara manusia dalam hidupnya berwarna-warni. Maka, ketika terlihat hitam ia, jangan hakimi ia hitam selama-lamanya.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/404646856243372

Tuesday, January 31, 2012

That Was My School, btw

oleh Hasan Al-Jaizy

Kalau Anda pernah kunjungi Pesantren Al-Irsyad Tengaran, Anda kan menganggap letaknya sangat pas karena memiliki scenery alam yang sangat indah [di kaki gunung Merbabu] dengan udara segar dan air yang bersih.

Kalau Anda pernah nyantri di sana, Anda kan ucapakan 'Alhamdulillah' dan ada setidaknya setitik sesal mengapa dahulu kala nyantri tak bersungguh-sungguh; karena materi pelajarannya lebih baik dan lebih berat dari sebagian besar Jurusan religius di kampus-kampus.

Kalau Anda belum pernah nyantri di sana atau mengunjungi lokasi, gambaran itu masih 'blur'. That was my school, btw.

http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/320477711326954