Showing posts with label Taqlid. Show all posts
Showing posts with label Taqlid. Show all posts

Thursday, September 6, 2012

Menilai Siapa dan Seperti Apa Dia

oleh Hasan Al-Jaizy

Bolehlah kau kagumi siapapun yang berucap baik dan bijak, entah dari lisannya atau tulisannya. Dari lisannya, seperti temanmu atau siapapun yang kau lihat selalu berbicara baik dan jauh dari kata kotor atau mencederai. Dari tulisannya, seperti teman dunia mayamu atau siapapun yang kau perhatikan bagus dan bermakna ia terukir.

Namun, terkhususkan pada tulisan di dunia maya, ketika anggapanmu bahwa ia bagus, baik, bijak dan berfaedah, jangan memastikan bahwa kepribadiannya setepat yang tertulis. Jika dikatakan, 'Seseorang tersifati dengan [gaya atau suratan] tulisannya.' Itu bisa benar, bisa pula salah. Bisa dikatakan benar ketika kau berusaha berbaik sangka terhadap pemilik tulisan bagus. Bisa dikatakan salah jika kau merasa PASTI bahwa pemilik tulisan bagus adalah cerminan mutlak pemiliknya.

Jika wajah hingga garis-garis di tangan berbeda, maka

Friday, July 27, 2012

Beberapa Point

Beberapa point dari Al-Haafidz Syamsuddin Adz-Dzahaby [w. 748 H]:

[1] "Ushul Fiqh bukan sesuatu yang kau butuhkan wahai Muqallid"
[Yakni: jika kamu hanya ingin bertaqlid semata dalam beragama]

[2] "Dan wahai yang mengatakan bahwa bab ijtihad telah tertutup, ilmu Ushul Fiqh tidak memberikanmu faedah" 
[karena salah satu faedah/tujuan pembelajaran ilmu Ushul Fiqh adalah untuk membuka pintu ijtihad dalam diri seorang thalib dan mengenyahkan taqlid secara global]

[3] "Jika kamu mempelajarinya dan ternyata kamu tetap bertaklid [buta] pada imam-mu, maka kamu telah berbuat hampa dan sekedar mencapek-capekkan diri"

[4] "Jika kamu membacanya hanya untuk mendapatkan pekerjaan atau agar disebut [sebagai seorang alim, misalnya], maka ini hanyalah kesia-siakan dan contoh sebuah khayalan semata."

---Zaghal Al-Ilm: hal.41
---Lihat: Kitab 'Dhawabith at-Tarjih inda Wuquu' At-Ta'aarudh lada Al-Ushuliyyin'

Friday, July 6, 2012

Jangan Belagak

oleh Hasan Al-Jaizy

Seharusnya sebagian dari kita jangan terlalu lantang bersuara begini:

"Begitulah mereka [yang dimaksud: pihak yang dianggap sebagai Ahlul Bida' atau yang menyelisihi], yang tidak pernah mau membuka kitab-kitab ulama; tidak mau mengetahui bagaimana ulama salaf menafsirkan ayat atau memaknai hadits."

Pertanyaan kami untuk siapapun yang berkata seperti ini:

[1] Apakah antum sendiri sebenarnya benar-benar sudah berupaya membuka kitab2 ulama salaf yang sejatinya berbahasa Arab itu?

[2] Apakah antum sendiri sudah mengamati dan membandingkan pendapat2/pemahaman ulama tentang ayat/hadits LANGSUNG dari teks di kitab2 mereka?

Jika tidak atau belum, atau pernah namun hanya sekali, kami mohon jangan terlalu lantang berucap seperti di atas.


Karena:

[1] Mungkin saja mereka [pihak yang menyelisihi atau pihak yang dianggap ahlul bida'] justru juga membuka kitab2 ulama salaf LANGSUNG dan meneliti. Dan lebih tidak asyik lagi, mereka tahu isi kitab2 dan pendalilan, sementara kita tidak...karena kita sekedar menjadi muttabi' atau muqallid.

[2] Mungkin saja mereka salah dalam memahami; namun mereka berusaha meneliti. Ini sudah mendapat satu kebaikan, toh?

[3] Mungkin saja itu adalah perkara khilafiyyah yang mu'tabarah; dan mereka men-tarjih apa yang lebih zahir di mata mereka, tentu dengan dalil. Jikalau mereka salah karena salah memahami, semoga diampuni oleh Allah. Jikalau mereka salah karena 'sengaja' atau sekedar 'pembenaran', sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.

[4] Melihat diri sendiri dulu sebelum mengucapkannya. Sungguh aneh mempertanyakan pihak lain karena tidak membuka literatur klasik namun sendirinya juga belum melakukannya.


Dan merujuk langsung pada kitab2 ulama, lalu mengumpulkan perkataan2 ulama, menimbang satu persatu, mentarjih atau menjama, semua itu BUKAN PERKARA MUDAH.

Terkadang hanya satu permasalahan sepele sekali, seperti permasalahan air 2 kullah saja, untuk melakukan pembahasan ilmiah yang langsung membuka kitab2, mengumpulkan, menimbang, kemudian mentarjih mana yang benar, bisa saja membutuhkan waktu setengah hari penuh.

Itu semua membutuhkan konsentrasi dan penelitian yang mendalam.

Kita semua ingin agar para ustadz dan masyaayikh [terutama Syaikh Al-Albany dengan juhd nya yang sungguh besar] dihargai...

dan seberapa besar apresiasi kita pada upaya, usaha orang yang menyelisihi kita namun ia pun juga menawarkan pembahasan ilmiah?

...terkecuali jika memang ia terkenal akan penyimpangannya dan kesesatannya...


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/416645151710209

Wednesday, July 4, 2012

Dewi Fortuna? Nothing!

oleh Hasan Al-Jaizy

Kalimat yang berbau kufur dan bahaya:

"Dewi Fortuna belum berpihak pada...." [seringkali diucapkan oleh presenter berita olahraga atau ditaburkan oleh wartawan koran]

[1] Sejak kapan ada yang namanya Dewi Keberuntungan? Dewi adalah Goddess, berwujud female [betina]. Sedangkan untuk pejantan, menjadi Dewa [God]. Dan ini semua adalah keyakinan agama berhala; agama yang diperangi oleh Islam; karena kandungan kesyirikan yang sangat buruk.

[2] Sejak kapan dalam agamamu [Islam] mengenal adanya Dewa dan Dewi? Dan yakin sekali kita sebenarnya para presenter dan komentator bola yang otaknya sekeras dengkul para pemain bola itu, benar-benar tidak mengerti kalimat tersebut. Beginilah akibat dari menuhankan kulit bundar, kok dan televisi.

[3] Sejak kapan kau mengenal seorang Dewi yang mengkhususkan diri pada pemberian keberuntungan? Segala yang terjadi adalah kehendak Allah Ta'ala; semuanya juga mengandung hikmah. Dan kau tahu itu; namun pengetahuanmu tak memberi arti dan manfaat; selama comberan masih hitam...yang merupakan lukisan pemikiranmu.

[4] Sejak kapan kau membeo, membebek dan mengekor dalam berkata seperti itu? Jika di sana ada Dewi Fortuna atau Dewi Keberuntungan, apakah di sini juga ada Dewa Unfortuna atau Dewa Kesialan? Beruntungnya, kau hanyalah presenter atau wartawan, bukan pemuka agama. Sialnya, kalimatmu tersiar di televisi atau tersebar di cetakan koran.



Friday, June 8, 2012

Taqlid

oleh Hasan Al-Jaizy

Secara bahasa, taqlid memiliki beberapa makna. Sebelumnya, kita layak ketahui bahwa taqliid bermaterikan huruf 'qaf' 'laam' dan 'dal' yang nantinya juga bisa dijadikan kata 'qilaadah' [kalung]. Jadi, taqlid secara bahasa bermakna menggantungkan atau mengalungkan.

Beberapa ulama juga membahas sebab mengapa dinamakan 'taqliid'. Imam Asy-Syaukani -rahimahullah- menjabarkan penyebabnya : karena seorang muqallid menjadikan hukum yang diwartakan oleh seorang imam/mujtahid/syaikh nya sebagai kalung yang tergantung di lehernya.

Sementara Ibnu Qudamah mengatakan pengalungan [taqliid] adalah kiasan, karena seakan-akan seorang muqallid yang lemah itu menggantungkan perkara pada imam/mujtahid/syaikh dan bersandar pada mereka. Dan ada juga pendapat2 lain; tapi itu semua tidak terlalu penting.

===================

Secara istilah, para ulama juga berbeda pendefinisian dalam jumlah yang sangat banyak. Yang terpilih oleh Syaikh Sa'd Asy-Syatsry [seorang ahli Ushul Fiqh dari Saudi dan salah satu mufti besarnya]:

"Menerapkan diri dalam perkara syariat madzhab orang yang perkataannya bukanlah hujjah secara dzat."

"Madzhab" = perkataan, perbuatan dan keyakinan
"yang perkataannya bukanlah hujjah secara dzat" = perkataan manusia biasa, bukan perkataan Nabi bukan pula sahabat [jika perkataan sahabat diangga hujjah]


Jadi, seorang muqallid adalah orang yang mengikuti madzhab orang lain yang perkataannya bukan hujjah.

Dan kita semua adalah muqallid.

Apakah taqliid itu mutlak tercela? Tidak.

Taqlid yang mutlak tercela adalah taqlid buta yang tidak peduli kesahihan dalil atau kesahihan pendalilan atau yang didasari kefanatikan golongan atau individu dan semacamnya.

Wallahu a'lam