Showing posts with label Masa Depan. Show all posts
Showing posts with label Masa Depan. Show all posts

Friday, January 25, 2013

Kalau Memang Belum Saatnya Married...


oleh Hasan Al-Jaizy

Kalau memang merasa belum saatnya married, karena belum mampu secara finance, atau karena mau konsentrasi belajar dulu, atau faktor lain, ada 2 tarekat:

[1] Tarekat yang baik: jangan main senggol main kenal main senyum-senyum sama perawan donk. Apalagi kalau sudah sengaja komunikasi ga penting.

[2] Tarekat yang jelek: main senggol, colek, genit-genitan, senyum-senyum. Mengicar komunikasi ga penting. Baru ada gadis nanya sedikit, langsung diperhatikan.

[3] Tarekat yang munapik: di depan rakyat menampakkan muka 'galau' karena masih single dan sebagainya. Padahal, diam-diam main senyum di belakang layar, berburu, dan selainnya. 

Kegalauan itu untuk diobati atau dioles. Bukan dipelihara dan dijadikan sebagai topeng. Apalagi dijadikan sebuah kekonyolan dengan kelebayan yang tak berhenti. Obati dengan menikah jika memang merasa sudah waktunya dan mampu. Kalau belum, obati dengan ibadah, cari mulfit an-nadzar [hal yang memalingkan pandangan dan perhatian], contohnya: konsentrasi kerja, menuntut ilmu dengan giat, membantu ortu, membuat karya, membentuk organisasi dan masih banyak lagi.

Friday, January 11, 2013

Belum Kiamat, Tetapi [Kayaknya] Sudah Terlambat

oleh Hasan Al-Jaizy



Tahun-tahun belakangan dan sampai sekarang atau sepertinya masih terus berlanjut, sebut saja mas Justin Habibers dan teman-temannya selalu meledek orang-orangan sawah yang celananya terangkat itu, "Surga sudah kalian pesan ya? Kalian pemegang kunci surga ya? Kalian punya hak menentukan siapa masuk surga siapa masuk neraka ya?"

Tapi, mas Justrin Habibers dan Supi Herandehs juga konco-konco dari perguruan silat sealiran sepertinya hari-hari ini sedang sibuk. Atau mungkin sedang menikmati masa liburan kuliah. Atau memang tutup mata tutup telinga jika ternyata ada seorang sesepuh mengatakan:

"Siapa yang tidak memilih pilihan kita, yaitu Raja Dangdut, ketika dia wafat, dia tidak masuk surga!"

Tuesday, January 1, 2013

NOL!

oleh Hasan Al-Jaizy

Selama kau belum memulainya, kau takkan pernah bisa.

Lebih-lebih kau mengharap tinggi-tinggi untuk masa depanmu, sementara memulai pun kau tak mau.

Lalu kau pun berencana memulai dengan langkah besar, hingga cepat sampai. Ku kira kelak bukanlah puncak yang kau pijak, melainkan dada yang sesak. Orang yang tak biasa melakukan sesuatu namun tergesa, ia akan kehabisan lagu dan raib tujuannya.

Uang sejuta takkan jadi tanpa 100 perak.

Maka, jika punya 100 sekarang, tabunglah ia. Esok kau kan punya uang lebih dan sisihkan terus. Jika menunggu 5000 baru menabung, ketika kau mendapatkan 5000, kau sudah bersyahwat ingin membeli apapun. Dan langkahmu kembali ke:

NOL!

Sunday, December 23, 2012

Kalimat Untuk Anak Manusia

oleh Hasan Al-Jaizy

Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya Pohon tentu lebih besar dari buahnya. Tetapi jika buah itu sehat dan kemudian memohon, bisa saja lebih besar dari pohon sebelumnya.

Anak tak jauh dari bapaknya dari segi karakter, watak, bakat dan sifat. Awalnya bapak lebih besar dari anak. Namun jika anak tumbuh sehat dan berusia panjang, ia bisa lebih besar dari bapak.

Betapa banyak bapak-bapak bernama besar namun anaknya tak meneruskan kebesaran bapaknya. Maka, tumbuhlah wahai anak, menjadi lebih besar dari bapakmu. Harapan bapakmu padamu sangat besar, bahkan lebih besar dari harapannya pada dirinya sendiri. Sebagaimana ibumu banyak mengasihimu dan mendoakanmu, hingga hampir-hampir lupa ia mengasihani dan mendoakan dirinya sendiri.

Bermasa sudah bapak ibu menanam harapan di padang gersang, anakku. Jika kau mematikan harapan itu, maka padang akan tampak gersang selamanya. Bahkan ketika kau melihat oase di mata keduanya, yaitu air mata, kau kira itu adalah tangisan bangga. Sedangkan itu adalah tangisan kekeringan akan harapan yang lama tertanam.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/477582072283183

Tuesday, October 30, 2012

JANGAN Katakan: "Masa Depanku Suram!"


oleh Hasan Al-Jaizy

Karena kau tak tahu sifat masa depanmu kelak. Bahkan kau tak tahu kini apakah nanti kau masih ada. Merupakan hal yang wajib disifati seorang muslim dengannya adalah sabar dan berbaik sangka pada Allah. Tidak berbicara yang tidak-tidak dan tidak menyangka pada Allah yang tidak-tidak. 

Jika kini tempatmu adalah gundukan sampah, maka berupayalah untuk keluar darinya dan angkat tanganmu tuk berdoa. Percayakan kelak Dia akan keluarkanmu darinya. Jangan mendahului takdir dengan mengatakan, 'Betapa suramnya masa depanku!' Karena sama halnya kau menuduh Rabb-mu yang Maha Bijaksana menyuramkan keesokanmu.

Dan sungguh ketika kau merasa terhimpit, bukanlah engkau satu-satunya. Ketika kau merasa paling terhimpit, sesungguhya masih ada manusia yang lebih terhimpit di sana. Ketika berada di ketinggian, jangan merasa tertinggi. Ketika terjelembab di kerendahan, jangan merasa terendah. Namun, berusahalah berpegang teguh entah di angkasa atau di bumi.

Pencipta langit dan bumi berkata, diriwayatkan oleh Rasulnya:

Monday, October 15, 2012

Maka Jadilah Jembatan

oleh Hasan Al-Jaizy

Jika engkau bukanlah sebuah pulau...
dan serasa kau takkan bisa menjadi pulau...
maka setidaknya jadilah jembatan untuk pulau-pulau...
mengantarkan siapapun
kau pun ada manfaatnya

Cerita tentang Karso, datang dari desa ke kota untuk kuliah dengan modal beasiswa. Kuliahnya di bidang teknologi komputer, meski terlahir dan besar di kampung. Namun karena ndesonya, ia sangat keranjingan terhadap teknologi. Well, sebagian wong ndeso memang seperti itu. Makanya, di antara mereka banyak yang maju karena didorong penasaran dan keingin tahuan.

Karso dahulu adalah didikan Islam tradisional [yaitu gabungan antara Islam dan ritual tradisional desanya]. Di kota, ia bertemu teman-teman yang belajar agama, selain belajar teknologi. Karena dia [dan juga teman2nya] adalah newbie dalam bidang agama [dengan pemahaman yang sahih], maka tentu saja ilmu mereka masih sedikit dan belum terlihat.

Berbulan-bulan Karso dan teman-teman belajar agama di pengajian dan Internet. Sebagai calon pakar teknologi, mereka pun merasa harus bisa menggabungkan antara teknologi dan agama. Kemudian, ada takdir di lembaran hayat tertulis: 'Hadirilah! Kajian Ilmiah di Masjid X!

Materi: Menggabungkan Teknologi dan Dakwah
Pemateri: Ust. Abu Komen Al-Statusy, Lc, M.Ag, P.dF

Untuk bro Yosia, jangan kege'eran,

Not Should Always Be The BEST


oleh Hasan Al-Jaizy

Ketika saya berlaku baik pada kalian seringkali, atau bertutur indah pada kalian bertubi-tubi, itu bukan berarti saya terbaik di antara kalian. Bukan pula saya lebih baik di antara siapapun di antara kalian. Bisa jadi, saya adalah terhina di antara kalian jika tiap-tiap kita dikalkulasikan kuantitas dan kualitas amal serta keilmuan. Karena itu, mohon jangan luputkannama saya dalam doa kalian. Semoga saya bisa sebaik kalian. Dan kita semua bersaudara, meski tiap-tiap punya perbedaan.

Ketika engkau merasa bukan yang terbaik, jangan berfikir bahwa kau tak bisa memberikan yang terbaik. Kau bisa. Baiklah, mungkin yang akan kau berikan itu bukanlah yang termegah, bukanlah yang termahal, dan bukan yang terbaik dari segala yang mereka punya. Tapi, itulah yang terbaik darimu. Tabur yang terbaik. Jika hasratmu hanya untuk menjadi yang terbaik di antara mereka, maka berhati-hatilah. Bisa saja kelak dengan hasrat itu kau menjadi pongah. Tetap berikan yang terbaik sembari berusaha untuk tidak merasa tinggi.

Mungkin saja baik bagimu, buruk baginya. Baik baginya, buruk bagimu. Penilaian berbeda-beda. Dan setiap jiwa juga tidak

Thursday, October 11, 2012

Kupu-kupu Dahulunya Adalah Cupu-cupu


oleh Hasan Al-Jaizy

Dahulu Pak Es Be Ye adalah anak kecil punya ingus yang kadang lupa untuk diseka, sebagaimana lazimnya anak kecil. Dahulu Pak Chairul Tanjung adalah anak singkong atau anak kampung yang kadang 'nyeker' di jalanan. Dahulu si fulan adalah teman bermain kelereng yang sering kalah. Dahulu si fulan adalah pemilik upil atau upil-collector masyhur, yang sebagiannya terkumpul untuk disodorkan kembali ke mulut.

Dahulu kupu-kupu adalah sebuah ulat, lalu menjadi kepompong. Sebuah metamorfosa yang wajib terjadi. Jangan kau kira dahulu Syaikh Muhammad bin Abdurrahman Al-Arify, ketika masih menjadi seorang pelajar [mahasiswa] adalah ahli ceramah dan tahu banyak hal. Dahulu beliau juga seorang pelajar biasa, yang ketika menulis huruf Dal [د] sebelum namanya di cover kitab pegangan kampusnya, ia diejek oleh teman-teman, 'Wakakak, lagak ente pake nambahin huruf dal [doktor]. Khayal aja ente!' Namun kini beliau benar-benar seorang Dal, seorang doktor, seorang kreator dan seorang inspirator yang kalimat-kalimatnya didengar jutaan pasang telinga dan ceramahnya dihadiri sudah jutaan raga.

Dahulu ulat yang lelet berjalan, ia hanya diam membisu sembari terus memakan

Sunday, October 7, 2012

Buku Bajakan, Mahasiswa dan Pulsa

oleh Hasan Al-Jaizy

Mahasiswa tidak punya buku? Jadi mahosiswo sajo. Maka jadilah mahasiswa masa kini, biarpun tidak berprestasi, yang penting punya pulsa dan buku. Pulsa harus yang seminim-minim pengeluaran untuknya, namun semax-max penggunaan dengannya. Adapun buku, biar aspal [asli palsu: asli tulisannya, palsu cetakannya] yang penting ada dan 'gue-punya'. Jadi, masalah buat lo?

Fenomena bajak-membajak buku demi kebajikan dan kemaslahatan bersama itu sangat ada. Semakin subur beranjak sepadannya kesuburan artikel dan dokumentasi online. Faktor itu banyak. Salah satunya adalah keinginan keluar modal sedikit, namun bisa meraih intinya. Salah duanya adalah harga buku original yang kelihatannya sengaja 'dinaikkan' sehingga mahasiswa mengatakan 'eman-eman, gan...ada gak yang lebih murah dari Hit? Yang lebih aspal banyak!'.

Kita kupas satu-persatu faktor-faktor itu:

Tuesday, September 18, 2012

KEGALAUAN 'ILMIAH' PELAJAR MUDA ILMU SYAR'I [Risalah Kecil Untuk Pelajar Muda]


oleh Hasan Al-Jaizy

 Kegalauan ILMIAH Pelajar Muda Ilmu Syar'i    [Studi Subjektif Akan Realitas, Kausalitas dan Solusinya]

Kegalauan yang termaksud adalah kegelisahan, entah terukur kecil maupun besar. Dan sifat 'ilmiah' yang tersemat di judul menunjukkan bahwa kegelisahan tersebut berkaitan dengan ILMU syar'i, yang menggaung di dada pelajar muda. Tulisan ini hanyalah pandangan subjektif yang berdasarkan pengamatan realitas, kausalitas [penyebab] dan mencoba menawarkan sedikit dari solusi untuk menanganinya.

Kegelisahan semacam ini belum tentu keburukan, namun bisa pula bibit kebaikan. Seorang pelajar yang mempunyai impian dan cita-cita tinggi, ia akan terbakar rasa iri melihat guru atau temannya yang mengagumkan dari segi ilmu, entah karena kuantitas hafalan atau kualitas pemahaman atau penjabaran jempolan. Dan rasa iri yang menggelisahkan semacam ini bukanlah keburukan; karena ini adalah sinonim 'kecemburuan ilmiah' dan terjemahan dari uluwwul himmah [high desire] untuk ilmu.

Dalam posisi dan juga ketika merasakan gelombang hati seperti ini, seorang pelajar perlu menyeimbangkan [balancing] diri agar tidak terjerumus pada kedengkian, namun juga jangan sampai mematikan impian. Layak ia ketahui bahwa semua ustadz atau syaikh yang ia kagumi, pernah merasakan gelombang ini di fase belajar dahulu. Karena ini adalah kelaziman, modal dan perkakas penting untuk bangkit berdiri dan naik meninggi.

  Bentuk Kegalauan Dalam Realitas   

Karena berkenaan dengan realitas, penulis akan memberikan contoh yang benar-benar terjadi. Meskipun tidak terjadi pada semua pelajar, tapi setidaknya pernah terjadi pada sebagiannya. Inilah di antaranya:

Tuesday, September 11, 2012

Progressive

oleh Hasan Al-Jaizy

Progress adalah kemajuan. Berarti, progresif adalah maju. Dan seperti yang kita ketahui bersama, 'maju' adalah tidak hanya diam di tempat atau bahkan mundur berjengkal-jengkal. Kemajuan, dalam Arabic boleh lah diartikan sebagai 'Hadhaarah', yang berkaitan dengan makna 'present' atau kekinian. Mungkin ini terasa disambung-sambungkan, tapi sebenarnya nyambung kok.

Secara logis, lawan kata progresif adalah konservatif. Saudara-saudara kita yang berpemikiran liberal dan sekular, melabeli pemikiran mereka dengan sifat progresif [maju] dan tidak konservatif [kolot/kuno]. Sementara musuh bebuyutan mereka, yaitu kaum yang menisbatkan diri pada salaf, disebut-sebut sebagai anti-progress, konservatif, fundamental bahkan bisa jadi radikal. Radikalisme, yang saya ketahui dari beberapa penulis, bermakna: suatu pemikiran yang menginginkan perubahan secara ekstrim.

Monday, August 6, 2012

Metode Itu Penting!

oleh Hasan Al-Jaizy

Mungkin akan ada yang bilang:

==> Tidak usah peduli pada banyaknya pembaca tulisan kita. Yang terpenting kita ilmiah dan berdakwah dengan tulisan. Urusan banyaknya pembaca, itu perkara terakhir.

==> Tidak usah peduli pada banyaknya penyimak kalimat atau kajian kita. Yang terpenting kita menyampaikan dan berdakwah. Urusan banyaknya hadirin, itu perkara terakhir. 

Namun, mohon jangan menafikan kepentingan METODE, tatacara dan trik agar menarik massa lebih banyak. Karena semakin banyak yang membaca karyamu atau yang menghadiri kajianmu, maka otomatis peluang tersiarnya manfaat lebih besar lagi. Dan itu bisa menjadi tabungan pahala yang lebih membahara.

XXX Bukan mentang-mentang kita ingin ikhlas, lalu kita tidak peduli metode seraya menuduh bahwa orang yang menggunakan trik agar menarik adalah orang yang dipertanyakan keikhlasannya. Selama metode dan trik tak keluar batasan syar'i, maka tidak ada cela dan tidak usah ada prasangka.

XXX Makanya, mungkin sekali dakwah yang ilmiah namun tidak dengan metode dan trik yang menarik justru tidak menjadikan manusia simpatik; seilmiah apapun. Justru seringkali, yang terawal diperhatikan setelah keilmuan standar dari seorang mubaligh adalah pemikiran: bagaimana message saya bisa 'nyampe' ke manusia.


Untuk apa?

--> Mereka membuat blog atau situs dan men-design sedemikian rupa menariknya agar apa? Agar dikunjungi dan meraup jumlah visitor; sehingga manfaatnya lebih melebar.

--> Beberapa dai yang [sebenarnya bisa dibilang] sukses memeluk hati dan perhatian manusia seperti Aa Gym -hafidzahulah- atau K.H. Zainuddin M.Z. -rahimahullah-, mereka sukses meraup banyak penyimak karena apa? Karena metode, trik dan intonasi yang menarik. Jadinya ==> Manfaat lebih melebar.

[Note: Mungkin akan ada yang mempertanyakan: 'Kenapa kok ada -hafidzahullah- dan -rahimahullah- untuk mereka? Mereka kan bukan bla bla bla?' Jawaban untuk kalian: 'Kita tidak seperti kalian yang hanya mendoakan kebaikan pada ustadz dan ikhwah se-kelompok saja. Selama ia masih muslim dan dikenal muslim, pertanyaan jahil yang sifatnya pengingkaran tersebut layaknya dilenyapkan segera']


Apa yang globalnya umat cari darimu?

Yang umat cari darimu adalah ilmu dan pengetahuan; namun bukan ilmu yang membuat mereka semakin bingung dan merasa ribet. Artinya: Ilmu yang simple dan sederhana juga basic. Juga bukan dengan metode kaku atau bahkan membunuh dalam sekejap. Artinya: dengan tatacara yang merangkul, merakyat dan 'menjaring'.

Seorang pekerja kasar seperti kuli bangunan, tukang material, tukang beling [karena biasanya kulitnya kasar bersisik akibat puasa mandi], perampok hingga pembunuh...tidak mungkin mendatangkan mereka ilmu dengan kerumitan sanad dan pendalilan dengan Kaedah Ushuliyyah, Lughawiyyah dan Fiqhiyyah.

Bahkan kebanyakan orang berdasi yang kerja di gedung pencukur langit [termasuk juga OB ketika berdasi] tidak akan menerima 4 Wajhul Istidlal [sisi pendalilan] mu dari sebuah ayat atau hadits untuk menarik kesimpulan hukum.

Jika semua lapisan di-samarata-kan, maka kebanyakan respon mereka serupa, yaitu kalimat: "Talk to my hand" alias "Ngomong ae karo tanganku".

Sekarang, apa masih berbicara: "Yang penting gue nulis atau ceramah, urusan diterima atau ga, urusan banyak disimak atau ga, itu belakangan."?

Kalau masih seperti itu, ya berarti: "Talk to my hand then go to the sea"


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/427516403956417

Tuesday, July 31, 2012

Cita-cita 02:54

oleh Hasan Al-Jaizy

02:54

Ketika saya melihat mimbar atau meja di dekatnya di suatu masjid besar, hati selalu berkata, 'Suatu saat saya bisa berdiri atau duduk di sana insya Allah pada masanya yang tepat'...dan angan-angan ini bukan kesombongan atau mencari dunia.

Ketika saya melihat rekaman video ustadz pondok yang dulu mendidik dan mengajari saya ilmu, hati bergetar, bergejolak dan berkata: 'Suatu saat saya bisa seperti atau lebih dari mereka insya Allah. Dan saya akan MENYEBUT nama-nama mereka di depan manusia, selagi masih hidup atau setelah wafatnya guru-guru, dan memohon jema'ah untuk mendoakan orang-orang yang berjasa. Insya Allah'...dan cita-cita ini bukan kesombongan atau mengejar dunia.

Ketika saya tahu bahwa menjadi seperti mereka tidak singkat perjalanannya dan berat bebannya, bersyukur sekali hati ini karena setidaknya cita-cita itu masih ada dan belum mati. Dan semoga tidak mati terkubur oleh godaan, ujian dan cobaan materi duniawi. Jikalau matiku melampaui cita-citaku, semoga anak-anakku bisa meneruskan cita-cita bapaknya yang telah tiada. Jikalau matiku sebelum menikahku, semoga...matiku tak sia-sia.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/425221254185932

Monday, July 16, 2012

Kala Asa Terkandasnya

oleh Hasan Al-Jaizy


Ketika Terkandasnya Asa...

Ketika terdamparnya harapan...ketika terhapusnya impian...ketika raibnya kesempatan, maka segeralahber-husnu-dzan...ber-husnu-dzan...ber-husnu-dzan...berbaik sangka pada yang menciptakan harapan, impian dan kesempatan. Karena Dia juga bernama Ar-Rahman, yang begitu merahmati, mengasihi tiap-tiap makhluk, terlebih muslim.

- Mungkin ada satu harapan yang kau bina dan bangun berkala-kala, namun dalam sekejap hancur luluh seketika...
- Bisa saja ada satu mantel impian yang kau rajut sedari ketiadaan menuju hampir sempurnanya, namun dalam sekelip mata hangus terbakar...
- Atau bermil-mil jalan kau tempuh demi meraih kesempatan, namun ternyata curamnya tanjakan melongsor dan menutup segala arah...

Terbentang padamu kemudian hadits ini:

مَا مِنْ مُصِيبَةٍ تُصِيبُ الْمُسْلِمَ إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا عَنْهُ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا

“Tidaklah suatu musibah menimpa seorang muslim [baik itu kepayahan, penyakit, keguncangan, kedukaan, maupun kesulitan] bahkan sampai duri yang menusuknya, melainkan dengannya Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya.” [Muttafaq alaih]

Atau hadits ini:

مَنْ يُرِد اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

“Barang siapa yang Allah menghendaki kebaikan baginya, niscaya akan diujinya dengan musibah/cobaan.” [HR. Al-Bukhari]

Perhatikan baik-baik hadits ini:

[إن عظم الجزاء مع عظم البلاء]

“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung pada besarnya bala/cobaan" 

[وإن الله إذا أحب قوما ابتلاهم ]

"Dan Sesungguhnya Allah Ta'ala jika mencintai suatu kaum maka Dia akan memberikan cobaan kepada mereka."

[ فمن رضي فله الرضا ومن سخط فله السخط]

"Barang siapa yang ridha maka dia akan memperoleh keridhaan-Nya dan barangsiapa yang murka maka dia akan memperoleh kemurkaan-Nya.” [HR. At-Tirmidzi]


PERTANYAAN:
"Apakah musibah adalah hukuman?"

JAWABAN:
Segala musibah dan makaarih [keburukan2] adalah hukuman sekaligus ujian bagi manusia. 

Hukuman atas apa yang manusia kerjakan sendiri; sebagai peringatan juga ujian akankah manusia kembali kepada Allah; karena Dia takkan menzalimi siapapun dari makhluknya. Sementara manusia seringkali menzalimi dirinya juga selainnya.

Seperti firman Allah:

وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٍۢ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا۟ عَن كَثِيرٍۢ

"Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah DISEBABKAN OLEH PERBUATAN TANGANMU SENDIRI, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)." [Q.S. Asy-Syuura: 30]

أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

"Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata: "Dari mana datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah: "Itu dari [KESALAHAN] DIRIMU SENDIRI". Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." [Q.S. Ali Imran: 165]

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

"Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari [KESALAHAN] DIRIMU SENDIRI." [QS. An-Nisaa: 79]

Ketiga ayat di atas merupakan penegasan yang tak tersangkal bahwasanya kita, manusia- seringkali melakukan kesalahan, yang justru menjadi ujian dan fitnah bagi kita sendiri. Wallahu a'lam. Mudah2an bermanfaat.


Hasan Al-Jaizy, 16 Juli 2012

http://www.facebook.com/notes/hasan-al-jaizy/kala-asa-terkandasnya/493791393970420

Tuesday, July 3, 2012

Nama, Gelar, Jabatan Itu Penting!

oleh Hasan Al-Jaizy

Nama itu kelak akan penting. Gelar pun kelak akan penting. Jabatan jua kelak akan penting.

Namun itu penting di masanya nanti. Jadi, jangan meraih terburu sebelum masanya.

Karena, seringkali orang menyesal memetik buah yang belum masa masaknya.

Sementara jika telah ranum buah merekah, banyak orang memandang dengan mata sedap.

==> Di antara mereka ada yang akan menjualmu...seperti televisi menjual para dai di depan umat...memoles dengan racun

==> Di antara mereka ada yang hendak memakanmu...seperti demokrasi memakan dan merampas hak-hak dengan maruknya

==> Di antara mereka ada yang hendak menyedekahkanmu, atau jikalau memakanmu, mereka akan mengambil biji darimu tuk ditumbuhkan kembali


Jadi:

Jangan terburu meraih sebelum masanya
Jangan memetik buah sebelum masaknya
Jangan membangun genting sebelum pasaknya
Jangan melihat Sule hanya dari peseknya


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/415366215171436

IYA, KAN? : "AN!"

oleh Hasan Al-Jaizy


Salah satu cara untuk meneguhkan dan menancapkan tiang-tiang ilmu di benak adalah dengan cara menyampaikan, baik itu dengan lisan maupun tulisan.


2 akhiran AN:

[1] Dengan LISAN, yakni dengan cara ceramah atau mengajar. Ada seorang teman bercerita bahwasanya ia mempunyai teman lulusan kampus saya dan lulusnya berderajat 'kurang-tinggi-nilainya'. Sebut saja namanya Mamat. Ketika masih ngampus, ia tidak maksimal; namun setelah lulus dan mengajar, di situlah justru ia memaksimalkan ilmu dan memperkuatnya. Karena dengan mengajar atau ceramah, dia [sebagaimana normalnya guru dan penceramah] mempersiapkan materi matang2 plus referensi. Lalu disampaikanlah olehnya ilmu hingga mengakar.

[2] Dengan TULISAN, yakni dengan menulis catatan, ringkasan, atau karangan yang selayaknya disebar ke orang lain. Cara ini sebenarnya lebih terbuka untuk masa kini. Setiap orang memiliki kesempatan melakukannya, terlebih di dumay. Tapi masalahnya, tidak banyak yang rajin mencatat, meringkas dan menulis ulang. Yang banyak adalah mengandalkan catatan, ringkasan dan tulisan orang lain; yang kemudian di-foto-copy atau di-copas. Tentu ini kurang bagus jika menjadi kebiasaan dan adat. Karena dependensi [ketergantungan] membunuh daya independensi [ketidaktergantungan dan kebebasan].


 [1] LISAN

Maka, kita lihat para penceramah dan ustadz2 pemateri senior, mereka sangat menguasai materi karena:
a. terbiasa menyampaikan dan
b. terbiasa menyampaikan materi tersebut.

Jika sedari muda, seseorang sudah terbiasa tampil di hadapan umum, ia tak menemukan kesulitan menggunung di masa depan saat diundang tampil sana-sini.

Jika sedari muda, seseorang terbiasa menyampaikan materi kitab Matan Abi Syuja' [misalnya], maka kelak ia malah jadi hafal dan tidak memerlukan buku lagi.

Lihat juga guru2 senior, mereka tidak memerlukan banyak buku dan kertas dalam menyampaikan pelajaran; karena sudah terbiasa menyampaikannya.


[2] TULISAN

Tidak sedikit orang yang mahir menulis, meringkas dan mengungkap apa yang terfikir lewat banjiran tinta pena mampu merangkai kalimat sempurna selalu dengan lisan. Namun rata2 mereka yang mahir menulis memiliki pemikiran dan pemahaman yang lebih dalam dibanding yang mahir berbicara.

Karena tiada orang mahir menulis melainkan karena ia suka membaca. Dan membaca mewariskan daya untuk memahami lebih detail.
Dan tiada orang mahir berbicara melainkan karena ia suka mendengar. Dan mendengar mewariskan cepatnya memahami, namun tidak mendetail.

Dan orang lebih banyak berbicara dibanding menulis; karena tulisan sebenarnya lebih mahal dibanding ucapan lisan. Ucapan lisan tak hendak dijual kecuali jika nyanyian ia dan berirama ia. Sedangkan karya tulisan terjual oleh orang, bisa melegenda dan bisa saja ia terulir hingga akhir zaman diingat manusia.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/415356101839114

Tuesday, June 19, 2012

Bina

oleh Hasan Al-Jaizy

Seringkali kita berkata atau menulis yang dalam kalimat terkata atau tertulis ada kata: 'Membina'. Sebenarnya apa arti atau makna dari 'membina'? Apakah setiap dari kita memahami kata tersebut dengan baik?

Just simple. Bina berasal dari bahasa Arab, yaitu Binaa' [بِناء] yang artinya adalah 
1. 'bangunan' jika dimaknai dengan objeknya [yang terbangun], atau
2. 'pembangunan' jika dimaknai dengan perbuatannya.

Berarti: Membina adalah membangun.


Beberapa penggunaan kata BINA yang sering kita ucapkan/tulis/baca:

1. "Binaraga". Bina: Membangun. Raga: Badan/Jasad. Berarti: Membangun Badan. Maksud tambahan: Membentuk sebuah badan yang atletis dengan cara tertentu, entah dengan tujuan murni untuk kesehatan atau lainnya.

2. "Membina persatuan." Yaitu membangun persatuan. Karena tiap individu dan kelompok memiliki karakteristik dan perbedaan. Jika tiap2 tak memiliknya, maka tidak mungkin ada individu dan kelompok. Dan membangun persatuan sebenarnya adalah majas; kiasan seperti membangun bangunan. Ia memerlukan langkah, metode dan waktu. Tidak secara pragmatis dan dramatis terjadi dan terbangun begitu saja. Tidak ada kuli dapat membangun 1000 candi dalam semalam, bukan?


3. "Membina umat." Yaitu membangun umat. Yang ini tidak mesti bermakna 'membangun persatuan umat'. Karena terkadang pembangunan umat sekedar dengan suapan teori dan propaganda menurut para tokoh dan pemuka saja; tanpa membuka fikiran dan menyempitkannya. Seperti pemimpin majelis yang berusaha membangun member majelis hanya dengan pandangan sepihak. 

Gambaran positif: Ketika seorang istri melahirkan seorang anak, maka itu adalah langkah awal dalam membina umat. Yang berselang tahun-tahun kemudian jumlah anak bertambah, maka frase 'membina umat' cocok bagi pasutri [pasangan Edi Supono dan Fitri]. Bisa juga dengan 'Membina keluarga'.

Dan lainnya:

"Membina cinta"
"Membina persaudaraan"
"Membina kerjasama"
"Bina Tang"
dll


Ada juga 'membina/membangun' yang konyol.

Yaitu membina benteng cinta bagi orang2 yang kasmaran dalam kepalsuan.

Lihat saja gadis-gadis bermerk ababil itu. Ketika baru ditembak kemarin, hari ini ia tak henti berkata: "Aq ga pernah nemuin cowk seromantis km" "Aq cyng km" "CeMuNgUdH...CeMuNgUdH...ea kAkA"

Lalu berbulan berlalu, ketika si jejaka sudah merasa bosan, atau aib masing2 sudah terketahui, putuslah hubungan. Si ababil berbalik berkata: "Dasar cowok munafik!" "Dasar buaya!" "Gue nyesel pacaran ma loe!"

Ababil di sini mencakup segala umur dan segala jenjang. Bisa saja dari segi umur ia bukan teenager, berumur 20 ke atas tapi masih ngababil dengan kepalsuan. Atau jenjangnya bukan SMP-SMU, melainkan mahasiswa atau SARJANA, tapi mulut dan bahasa SMS nya lebih palsu dari kotoran keledai dibungkus daun pisang.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/405824689458922

Monday, June 18, 2012

Beberapa Point

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point selepas Dzuhur-an:

[1] Saya ingin NU di-ishlah-kan [diperbaiki] oleh anak-anak didik NU sendiri; yang kini masih berjalan di marhalah thalib al-ilm. Sehingga mereka bisa mereboisasi dan melakukan penghijauan ulang. 

[2] Karena itulah, kita bersahabat dengan beberapa thalib NU yang sungguh 'moderat' dalam artian sesungguhnya; bukan sekedar slogan 'moderat' namun tingkahnya 'fanatik'. Kita berharap mereka inilah yang justru membangkitkan kembali Nahdhah Al-Ulama [Kebangkitan Ulama] di jalur yang benar-benar 'Ahlus Sunnah wal Jama'ah'.

[3] Jika kita tidak melakukan approaching [pendekatan] dari sekarang, namun cuma bisa mengkritik dan mencela saja, sampai kapanpun ishlah itu tidak akan terbangun. Zaman sekarang banyak yang harus dirangkul; karena semakin luas cakrawala dan arsiran, semakin banyak benih tertabur.

[4] Jangan seperti si fulan atau fulanah yang merasa manhaj-nya 'Wasathiyyah' [pertengahan/adil], namun sebenarnya fanatik dan secara ekstrim tidak pernah mau membuka pintu bagi musafir-musafir ilmu yang kehausan rangkulan.

[5] Apa? Kamu melarang-larang kami untuk bersahabat dengan selain "Ahlus Sunnah"? Baiklah. Bagaimana jika ia jauh lebih berilmu darimu dan dariku? Tidak boleh bersahabat dengan Ahlil Ilm dan boleh bersahabat hanya pada hizb-mu sendiri?


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/405693596138698

Friday, June 1, 2012

Gandengkan Dua Pemahaman!

oleh Hasan Al-Jaizy

Gandengkan Dua Pemahaman!

Kami tidak menemukan rekan-rekan muda [terutama mahasiswa] yang keseringan ngoceh tentang Fiqhul Waqi [pemahaman realitas] melainkan mereka memilki kualitas yang sangat rendah mengenai Fiqh AN-Nushush [Pemahaman Teks/Tekstual]. Dan buruknya, mereka merasa sudah bisa menegakkan agama dan kepemimpinan hanya bermodal Fiqhul Waqi.

Menceburkan hati dalam kabar dunia Islam, wawasan umum dan tinjauan realitas tentu tidak tercela. Namun ingat, itu TIDAK menjadikan seseorang menjadi faqiih dalam agama. Karena itu, bisa dikatakan wajar ketika mereka mencela kami dengan sebutan 'orang-orang yang terpaku pada teks dan kitab kuning'.

Kami sungguh memaklumi keadaan jiwa mereka yang sebenarnya labil. Jiwa tanpa pegangan tentunya labil; meskipun mereka merasa kuat tertancap di realitas. Namun realitas mewartakan pada kami bahwa mereka adalah kuli fakta dan buta warna. Yeah, kuli fakta namun buta warna hukum syariah.

Fakta realitas dikumpulkan namun di mana warna tekstual? No...hitam-putih. Ke mana pemahaman mereka akan bahasa Sang Pencipta? No...hitam-putih.
Fakta mereka memang banyak terwarta...namun sungguh mengenai syariah, mereka adalah buta.

Apakah ini yang disebut calon pembangun syariah di Indonesia?

Kami tidak ingin tertawa.


Huruf realitas takkan menjadi kalimat tanpa gandengan grammar tekstual [Al-Quran = As-Sunnah]

Karena mereka mencoba menterjemahkan hukum untuk realitas dengan perasaan dan emosi muda [HAMASAH?], namun mereka enggan dan tidak mampu memang untuk menterjemahkan hukum untuk realitas dengan TEKS [ILMU].

Semangat tanpa ilmu? Ceburkan saja diri sendiri pada kali yang keruh.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/396660860375305

Wednesday, May 30, 2012

Ada Anak Bertanya Pada Bapaknya

oleh Hasan Al-Jaizy

Ada Anak Bertanya Pada Bapaknya

Kita kembali menengok dan membenamkan pandangan dan fikiran pada realitas sekitar. Cobalah engkau lihat saudaraku di waktu Subuh, siapa dan siapa yang sempatkan diri ke mushalla-masjid tuk tunaikan shalat Jama'ah. Saksikan sendiri mayoritas adalah orang2 tua.

Pertanyaan: "Kenapa mereka sempat2nya berjama'ah?"

Pernyataan: "Kebiasaan membentuk seseorang. Mereka terbiasa sejak lama tuk berjamaah di masjid, meskipun kebanyakan mereka tak meyakini shalat berjamaah itu wajib; tapi habit menuntut diri tuk mewajibkannya. Dan manusia yang tak terbiasa, ia akan merasa berat melakukan sesuatu yang di luar kebiasaan."


Ada Anak Mengangkat Derajat Bapaknya...Ada Pula Anak Menyeret Jasad Bapaknya

Didikan Shalat vs Didikan Tidak Shalat

A. DIDIKAN SHALAT

Anak muda yang terbiasa mencium aroma mushalla, akan ringan kaki tuk pergi berjamaah. Bahkan bisa jadi ia justru mengalungkan hatinya di tiang-tiang mushalla; hingga hari terasa tak nyaman tanpa 'ziarah' ruhani. Seringkali itu karena didikan ORANG TUA di masa kecil, dan mungkin pula didikan sekolah-pesantren.

Orang tua yang mendidik anaknya shalat dan berbakti; kelak akan tersiram getah madu di kubur dan akhirat. Karena anak yang salih berpotensi besar mendoakan selalu setelah wafatnya; dan ganjaran amalan anak salih juga mengucur deras padanya. Sungguh mungkinnya orang tua terselamatkan berkah upayanya mendidik anak tuk tegakkan tiang islam dalam jiwa: SHALAT.


B. DIDIKAN TIDAK SHALAT

Sementara anak muda yang tak terbiasa merasuk ke barisan orang2 yang ruku', akan berat langkah menuju mushalla. Lebih buruk lagi jika wajahnya begitu kering akan basuhan wudhu. Naudzubillah. Seringkali itu karena didikan ORANG TUA di masa kecil, yang tidak peduli akhirat anaknya, akhirat dirinya, namun peduli sangat keduniaan keduanya.

Maka jangan sesali gerangan siapapun kecuali diri sendiri; ketika segala bakti si orang tua pada masyarakat, bangsa dan negara runtuh seketika ketika si anak di akhirat melapor: "Ya Rabb, sungguh tiada dulu ku dididik oleh orang tuaku tuk tunaikan amar-Mu!" Jika itu terlafadzkan, maka sungguh tiada yang lebih tersesali kecuali ketika seorang anak sendiri menyeret orang tuanya sendiri ke api yang menyala-nyala.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/395855140455877