Showing posts with label Hasad. Show all posts
Showing posts with label Hasad. Show all posts

Wednesday, December 26, 2012

Terbakar Hasad


oleh Hasan Al-Jaizy

Ada makhluk sekitarmu yang benci sangat jua terbakar sendiri kala kau tertawa riang bersama teman-temanmu. Atau ketika kau bercengkrama dengan banyak manusia.

Dan semakin banyak temanmu atau semakin suksesnya kamu, adalah semakin pekat kebenciannya dan semakin besar bakaran apinya.

Sehingga ia berharap moga-moga suatu saat ia bisa membunuh namamu di tengah manusia, entah dengan cara apapun. Yanglebih sohor adalah dengan cara memfitnah.

Atau cukuplah dengan menunggu kesalahanmu ketika berbincang depan teman-temanmu; kemudian menjatuhkanmu dengannya. Berharap namamu terjatuh di depan teman-temanmu.

Makhluk semacam itu, jikalau kau merasa tidak ada di sekitarmu, berarti menandakan kamu memang benar-benar tidak tahu bahwa dia ada.

Tuesday, December 18, 2012

CAT : [39] "SESUATU UNTUK PENULIS STATUS"


oleh Hasan Al-Jaizy


Setelah 'belagak' mengamati, saya mempunyai kesimpulan bahwa di bulan ini [Desember], teman-teman FB yang mulai menulis tulisan status panjang berjamak paragraf meningkat. Dan itu adalah hasil fikiran sendiri. Bukan seperti 2010 atau 2011, di masa ketika semuanya beralasan 'ilmiah dan menjauhi sok-tahu' tetapi mengumpulkan paragraf-paragraf tulisan orang lain di status dengan pragmatisnya. Itu tidak buruk. Bagus. Tetapi menciptakan milik sendiri dengan menggali dari yang dipunyai dalam diri adalah S.E.S.U.A.T.U..

Bahkan frekuensi status panjang bulan ini lebih sering dibanding bulan sebelumnya (November). Kalau sampeyan memang menyadarinya, perbedaan itu sungguh terasa. Sangat bagus jika kita yang punya kesempatan usia ekspresikan sesuatu dengan tulisan; karena teman-teman kita di dunia lain, yaitu penganut Sepilis atau Epilepsi, bisa menulis dan ekspresikan syubhat dalam fikiran mereka dengan tulisan. Nah, sekarang baiknya kita banyak-banyak membaca, baik itu membaca kitab atau gejala alam, lalu diresapi, dimaknai, digali, diramu, diracik dan

Saturday, December 15, 2012

CAT : [32] "IRI AKAN JAYA"

oleh Hasan Al-Jaizy


Saya tidak ingin menceritakan pada siapapun bahwa saya iri dengan banyak orang, terutama para lulusan non-pesantren tapi Allah beri ilmu dan semangat menggebu. Apalagi jika ternyata mereka terlihat mustaqim dan multazim; mengamalkan maksimal ilmu mereka. Bahkan, saya terbakar cemburu disebabkan saya melihat seseorang yang -menurut saya- ilmunya tidak seberapa tetapi ia benar-benar mengamalkan ilmunya. Kalau sudah melihat seperti itu, minder-minderlah diri ini; berilmu sedikit beramal jika terjepit saja. Saya tidak akan menceritakan hal-hal di atas; karena itu adalah rahasia yang tidak layak diketahui selain saya.

Bolehkah kita iri? Boleh dan bahkan wajar terbilang dan tersifat jika iri akan kebaikan orang namun tidak menginginkan keburukan dari pihak yang diirikan. Bahkan, iri akan kegantengan atau kecantikan teman tergolong wajar. Hanya, iri -sekecil apapun ia dan dalam bidang apapun- adalah bekal untuk mendengki.

Kalau situ iri sama saya, agar tidak menjadi dengki dan membenci, maka doakan saya supaya

Monday, November 26, 2012

You Know Your Heart


oleh Hasan Al-Jaizy

Kadang...kadang...kadang iri hati [kedengkian] dalam diri seseorang di situs ini mencegah ia untuk menerima sesuatu yang benar atau bagus atau bermanfaat. Sehingga ketika ada tulisan, catatan dalam foto atau apapun yang baik, hatinya berbisik, 'Alah, lagak aja loe! Munafik!' Sehingga ketika kebenaran ada pada orang yang didengki, ia murka sendiri. Namun ketika kebenaran yang sama ditabur oleh orang lain, ia tidak mempermasalahkannya di hati.

Lalu ketika orang yang didengki terpeleset, tergelincir dan berlaku salah, si pendengki merasa mendapat kesempatan besar untuk menjegal atau menambah keterpelesetan.

Yang kemudian disadari bahwa ia takkan muncul berkomentar kecuali jika ada kesempatan menjatuhkan.

Ketahuilah pula bahwa seseorang yang didengki bisa saja mengerti siapa-siapa yang mendengki. Dengki itu memang penyakit hati. Benar. Namun, lisan, ucapan dan perbuatan bisa sangat mencerminkan.

You know your heart

Thursday, November 15, 2012

IRI


oleh Hasan Al-Jaizy

Kamu berbuat baik...
lalu diejek...
Tentu saja tidak enak diejek...
Tapi, fikirkan saja...
mereka mengejekmu...
karena 2 hal:
[1] Karena mereka memperhatikanmu
[2] Karena mereka tidak bisa sepertimu

Ini tidak berarti meninggikan diri...
mengasah tuk jadi sombong...
Tetapi ketahuilah...
jika memang mereka ingin mengkritik...
mereka harus berikan saran dan solusi...
bukan sekadar ejekan...

Manusia mengejek manusia yang berbuat baik...
tiada maksud selain ingin...
merendahkan yang tinggi...
Terutama jika diejek di depan manusia lainnya...

Saya pernah mengejek orang baik...
sekarang saya malah menyesal...
karena saya sadar...

rupanya dia memang benar-benar...
lebih baik dari saya...

Maka, jika kamu hendak mengejek...
dia yang berbuat baik...
periksa lagi hatimu...
karena itu adalah...

IRI

Hasad

"Hasad"

Beliau berkata:

الحسد يأكل الحسنات كما تأكل النار الحطب

"Hasad [Dengki] melahap kebaikan-kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar."

Karena mayoritas pendengki akan menzalimi orang yang didengki dengan cara menyiarkan keburukannya sehingga manusia lari darinya. Dan hal ini termasuk dari dosa-dosa besar, yang kadang bisa meruntuhkan kebaikan-kebaikan diri pendengki.

Setiap seorang pendengki melihat kenikmatan yang diperoleh mahsuud [orang yang didengki] bertambah, semakin bertambahlah kekesalannya dan semakin menyempitlah hati.

[Kitab Al-Ilm, hal. 78]

Jika pendengki itu adalah

Friday, November 9, 2012

HIDUPMU INSPIRASIMU : [5] "Biarkan Angin dan Badai Menyerangmu; Karena Kamu Adalah Kamu!"


oleh Hasan Al-Jaizy

Di Andalusia pernah ada seorang saudagar kaya nan terkenal. Ia terlibat persaingan bisnis dengan 4 orang saudagar lainnya di negara itu. Mereka semua membencinya dan berniat mengganggunya.

Suatu pagi saudagar itu keluar rumah menuju tokonya. Ia memakai baju putih dan juga surban putih. Di jalan, ia berpapasan dengan salah satu dari 4 pesaingnya. Dipandanginyalah surban itu dan berkata, "Duhai...alangkah bagusnya surban kuning ini!"

Saudagar: "Di mana matamu? Surban ini putih warnanya. Bukan kuning!"

Pesaing 1: "Tidak. Ia berwarna kuning. Kuning dan bagus."

Saudagar itu meninggalkannya dan berlalu. Beberapa langkah kemudian ia bertemu pesaing kedua. Pesaing 2 ini ucapkan salam padanya dan memandang surbannya. Lalu berkata, "Sungguh tampannya Anda hari ini. Pakaian Anda bagus sekali. Terlebih surban hijau ini."

Saudagar: "Ayolah...surban ini berwarna putih."

Pesaing 2: "Bukan! Hijau ia punya warna."

Saudagar: "Putih! Enyahlah kau dari pandanganku!"

Lalu ia pun berlalu sambil menggerutu dalam hati. Berulang kali ia pandangi ujung surbannya yang menjuntai di pundak. Ia memastikan dengan pasti putihnya warna surban.

Ia tiba di tokonya dan hendak memutar gembok. Tiba-tiba pesaing 3 menghampiri dan berkata," Hey, Anda tampan sekali pagi ini. Pakaian Anda bagus sekali. Semakin sempurnalah Anda dengan surban biru ini."

Saudagar itu memandangi surbannya dan mengucek-ucek matanya. Ia berkata, "Kawan, surban ini berwarna putiiiiiiih!"

Pesaing 3: "Oh, tidak. Warnanya biru. Tapi bagaimanapun ia adalah surban yang bagus. Jadi, janganlah bersedih." Lalu pesaing 3 pun pergi meninggalkan saudagar itu yang kemudian memekik:

"Surban ini putiiiiiiiiih!"

Ia duduk sejenak di dalam tokonya. Masih terpaku matanya pada surban. Mendadak pesaing 4 masuk ke dalam toko. Lalu berkatalah ia, "Hai, fulan! Masya Allah! Di mana Anda membeli surban merah ini?"

Saudagar berteriak: "SURBANKU PUTIH!"

Pesaing 4: "Tidak, merah!"

Saudagar: "Tidak, hijau. Bukan! Tetapi putih! Tidak! Ia biru! Bukan! Hitam!" Lalu tertawa. Kemudian menjerit. Tak lama kemudian menangis. Lalu berdiri sambil melompat.

Tak berselang banyak hari kemudian, saudagar tersebut terlihat di jalanan Andalusia. Ia menjadi gila dan dilempari kerikil oleh anak-anak.

[cerita ini dihikayatkan oleh Syaikh Al-Arify dalam Istamti' bihayaatik yang bersumber dari kitab Thauq Al-Hamamah karya Ibnu Hazm]

====================

Opini manusia terhadapmu bisa menjadi penajam kehebatanmu. Tapi, bisa pula menjadi penghancur jiwamu. Tidak semua pandangan mereka kau telan dan cerna begitu saja. Karena ada saja di antara teman bahkan saudara yang hendaki jatuhnya dirimu. Meskipun kalimat mereka dihias dengan keindahan hingga pujian.

Ketika kau pergi mendaki gunung, angin semakin kencang dan udara semakin dingin. Jika pendakianmu di musim dingin, kabut dingin akan menyelimuti dan menihilkan pandangan ke depan dan ke atas. Semakin ke atas, kau akan bertemu badai.

Kau mungkin akan berfikir tuk berhenti sejenak menunggu badai berlalu. Namun, sampai kapan kau berhenti? Sementara badai pun belum tentu hendak berlalu esok hari. Terlebih perbekalanmu tak mencukupi kehidupan berpanjang zaman. Kau akan mati dalam rehat perjuangan.

Maka, teruskanlah perjuangan dan pendakian. Karena bisa saja badai itu dari jauh tampak ganas, namun rupanya tak seganas yang terkira.

================

Kau adalah kau yang bukanlah dia atau mereka. Jika kau menuruti semua opini dia dan mereka, maka kau kehilangan dirimu dan potensimu. Dan inilah problematika orang-orang yang terlalu dihantui ucapan dan kritik orang lain.

Yang ku ingin pesankan padamu: Jika kau sudah yakin sorbanmu berwarna putih dan nyata sangat, maka jangan biarkan seratus opini lawanmu menumbangkan keyakinanmu. Mereka akan katakan ia berwarna jingga, violet, ungu dan seratus warna lain.

Jika kritik dan tudingan tidak bersifat membangun atau berlawanan dengan kenyataan yang nyata kau yakini, maka enyahkan buah lisan mereka. Teguhlah dan biarkan badai sibuk sendiri.

Orang-orang yang sudah menegakkan panji di puncak kesuksesan adalah mereka yang dahulu bercumbu dengan badai kritik. Mereka bisa memilih mana kritik yang benar mengasah dan mana kritik yang murni mendengki.

Jika kau merasa lemah dan takut akan kritik, maka jangan pernah membawa panji dan jangan pernah memulai apapun dari kaki gunung. Karena kau takkan sampai di puncak.

....

Hidupmu...inspirasimu...hidupmu...inspirasi untuk selainmu...maka lihatlah ayat-ayat, di sanalah berjuta inspirasi untukmu.

Di Andalusia pernah ada seorang saudagar kaya nan terkenal. Ia terlibat persaingan bisnis dengan 4 orang saudagar lainnya di negara itu. Mereka semua membencinya dan berniat mengganggunya. Suatu pagi saudagar itu keluar rumah menuju tokonya. Ia memakai baju putih dan juga surban putih. Di jalan, ia berpapasan dengan salah satu dari 4 pesaingnya. Dipandanginyalah surban itu dan berkata, "Duhai...alangkah bagusnya surban kuning ini!" Saudagar: "Di mana matamu? Surban ini putih warnanya. Bukan kuning!" Pesaing 1: "Tidak. Ia berwarna kuning. Kuning dan bagus." Saudagar itu meninggalkannya dan berlalu. Beberapa langkah kemudian ia bertemu pesaing kedua. Pesaing 2 ini ucapkan salam padanya dan memandang surbannya. Lalu berkata, "Sungguh tampannya Anda hari ini. Pakaian Anda bagus sekali. Terlebih surban hijau ini." Saudagar: "Ayolah...surban ini berwarna putih." Pesaing 2: "Bukan! Hijau ia punya warna." Saudagar: "Putih! Enyahlah kau dari pandanganku!" Lalu ia pun berlalu sambil menggerutu dalam hati. Berulang kali ia pandangi ujung surbannya yang menjuntai di pundak. Ia memastikan dengan pasti putihnya warna surban. Ia tiba di tokonya dan hendak memutar gembok. Tiba-tiba pesaing 3 menghampiri dan berkata," Hey, Anda tampan sekali pagi ini. Pakaian Anda bagus sekali. Semakin sempurnalah Anda dengan surban biru ini." Saudagar itu memandangi surbannya dan mengucek-ucek matanya. Ia berkata, "Kawan, surban ini berwarna putiiiiiiih!" Pesaing 3: "Oh, tidak. Warnanya biru. Tapi bagaimanapun ia adalah surban yang bagus. Jadi, janganlah bersedih." Lalu pesaing 3 pun pergi meninggalkan saudagar itu yang kemudian memekik: "Surban ini putiiiiiiiiih!" Ia duduk sejenak di dalam tokonya. Masih terpaku matanya pada surban. Mendadak pesaing 4 masuk ke dalam toko. Lalu berkatalah ia, "Hai, fulan! Masya Allah! Di mana Anda membeli surban merah ini?" Saudagar berteriak: "SURBANKU PUTIH!" Pesaing 4: "Tidak, merah!" Saudagar: "Tidak, hijau. Bukan! Tetapi putih! Tidak! Ia biru! Bukan! Hitam!" Lalu tertawa. Kemudian menjerit. Tak lama kemudian menangis. Lalu berdiri sambil melompat. Tak berselang banyak hari kemudian, saudagar tersebut terlihat di jalanan Andalusia. Ia menjadi gila dan dilempari kerikil oleh anak-anak. [cerita ini dihikayatkan oleh Syaikh Al-Arify dalam Istamti' bihayaatik yang bersumber dari kitab Thauq Al-Hamamah karya Ibnu Hazm] ==================== Opini manusia terhadapmu bisa menjadi penajam kehebatanmu. Tapi, bisa pula menjadi penghancur jiwamu. Tidak semua pandangan mereka kau telan dan cerna begitu saja. Karena ada saja di antara teman bahkan saudara yang hendaki jatuhnya dirimu. Meskipun kalimat mereka dihias dengan keindahan hingga pujian. Ketika kau pergi mendaki gunung, angin semakin kencang dan udara semakin dingin. Jika pendakianmu di musim dingin, kabut dingin akan menyelimuti dan menihilkan pandangan ke depan dan ke atas. Semakin ke atas, kau akan bertemu badai. Kau mungkin akan berfikir tuk berhenti sejenak menunggu badai berlalu. Namun, sampai kapan kau berhenti? Sementara badai pun belum tentu hendak berlalu esok hari. Terlebih perbekalanmu tak mencukupi kehidupan berpanjang zaman. Kau akan mati dalam rehat perjuangan. Maka, teruskanlah perjuangan dan pendakian. Karena bisa saja badai itu dari jauh tampak ganas, namun rupanya tak seganas yang terkira. ================ Kau adalah kau yang bukanlah dia atau mereka. Jika kau menuruti semua opini dia dan mereka, maka kau kehilangan dirimu dan potensimu. Dan inilah problematika orang-orang yang terlalu dihantui ucapan dan kritik orang lain. Yang ku ingin pesankan padamu: Jika kau sudah yakin sorbanmu berwarna putih dan nyata sangat, maka jangan biarkan seratus opini lawanmu menumbangkan keyakinanmu. Mereka akan katakan ia berwarna jingga, violet, ungu dan seratus warna lain. Jika kritik dan tudingan tidak bersifat membangun atau berlawanan dengan kenyataan yang nyata kau yakini, maka enyahkan buah lisan mereka. Teguhlah dan biarkan badai sibuk sendiri. Orang-orang yang sudah menegakkan panji di puncak kesuksesan adalah mereka yang dahulu bercumbu dengan badai kritik. Mereka bisa memilih mana kritik yang benar mengasah dan mana kritik yang murni mendengki. Jika kau merasa lemah dan takut akan kritik, maka jangan pernah membawa panji dan jangan pernah memulai apapun dari kaki gunung. Karena kau takkan sampai di puncak. .... Hidupmu...inspirasimu...hidupmu...inspirasi untuk selainmu...maka lihatlah ayat-ayat, di sanalah berjuta inspirasi untukmu.

Thursday, November 1, 2012

Jika Itu Bisamu...


oleh Hasan Al-Jaizy

Jika itu bisamu untuk manusia, bisakanlah bisamu...

Betapa banyak mereka yang lebih bisa darimu, namun enggan mereka...

Betapa banyak mereka yang tidak bisa sepertimu, namun cela mereka...

Apa yang termampu, gunakannya tuk memberi. Kelak kau akan semakin diberi. 

Yang punya dan enggan memberi, adalah yang tak punya dan takkan diberi kemudian.
Yang tak punya dan hanya mencela? Bahkan debu pun punya warna namun tak mencela pelangi.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/458097747564949

Wednesday, October 10, 2012

Beberapa Point


oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point untuk Kamis pagi ini:

[1] Kau memang bisa bersikap strict, keras, kaku dan seakan mengharuskan orang lain setubuh dengan fikiranmu. Percayalah kelak manusia akan berlaku serupa padamu, atau lebih tidak diperkenankan. Hukum itu sudah lazim teralami. Dan ketika itu ku merasa kenapa ada saja orang berlaku setidak menyenangkan itu padaku. Setelah mengais-ngais jawaban di lembaran kisah lama, rupanya ku temukan bahwa aku memang pernah seperti itu.

[2] Apa yang menjadi timbal balik bisa menjadi kenangan atau pelajaran untukmu, bukan? Ketika senyum tertabur di berlembar-lembar hari; maka manusia akan membalikkan senyum tersebut pada kita. Dan jikalau pentungan dan muram yang kau sinari dari wajahmu pada manusia, kau akan mengerti kelak wajah mereka adalah pantulan dan cerminan wajahmu dahulu. Kenanglah baik dan burukmu, yang kemudian menjadi pelajaran bagimu.

Thursday, September 6, 2012

Dengki Terbungkus Nasehat


oleh Hasan Al-Jaizy

Dengki Terbungkus Nasihat

Yaitu ketika kau melihat ia berbicara benar dan diamini manusia, kau picingkan mata dan hati menajam, lalu kau katakan: 'Wahai manusia, jangan mudah menilai seorang pembicara benar karena sekali ia berkata benar sementara kau tak tahu jelas hidupnya.' Sedangkan ia sendiri tak kenal keseharian si pembicara benar.

Yaitu ketika kau membaca tulisan seseorang tentang sebuah kebenaran dan disetujui manusia, kau angkat bibir bawahmu dan hati menajam, lalu kau ucapkan: 'Wahai manusia, jangan tertipu akan tulisan seseorang. Tulisan bisa menipu, dan kalian belum tentu tahu kejahatan apa dalam kehidupan nyatanya.' Sedangkan ia sendiri pun tak tahu kehidupan nyata si penulis.

Jika kau pandang secara zahir ia baik, maka jangan mencari dan menggali apa keburukan yang tersembunyi; terlebih kau tak perlu membedah dadanya hingga kau tahu apa warna hatinya.

Jika kau lihat ia terang-terangan berlaku atau berucap buruk, maka tidak salah kau menilainya buruk; karena kita hanya memandang dan menilai apa yang tersurat dari zahir, bukan yang tersirat dalam batin.

....namun jangan mengira bahwa segala anggapanmu terhadap orang adalah benar selamanya tak melenceng.

Saturday, September 1, 2012

Tentang Iri

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point tentang iri:

[1] Kita iri ketika melihat daftar muhsiniin, nama-nama penyumbang untuk yayasan atau apapun itu yang baik. Juga saya iri dengan jumlah uang yang mereka sumbang. Karena mungkin mereka sebenarnya tidak berilmu tinggi, namun dengan harta yang terberi, pahala bagi mereka mengalir tak henti. Belum lagi jika: dari sumbangsih mereka, tercipta para ulama masa depan. Saya iri sekali.

[2] Kita iri dengan teman-teman yang mencari ilmu dalam kesulitan ekonomi. Mereka tetap tegar dan berjalan menginspirasi. Betapa banyak orang miskin namun tegar, kisah hidupnya memberi inspirasi. Betapa banyak orang kaya namun kikir, kisah hidupnya diiringi benci. Iri sekali dengan mereka yang konsisten dalam keterbatasan, atau kefakiran. Imam Syafi'i, Imam Bukhari dan banyak lagi para ulama yang terhimpit ekonomi ketika belajar, sementara warisan mereka bukanlah dinar atau dirham, melainkan ilmu yang jika ia di langit, dinar dan dirham berada di kerak bumi.

[3] Kita sama sekali tidak iri dengan yang bermewah hidupnya namun tangannya kering akan memberi. Cukuplah namanya diingat oleh dirinya, keluarga dan teman terdekatnya. Setelah matinya, biarlah segala tentangnya terlupa.

[4] Kita sama sekali tidak iri dengan seorang pencari ilmu yang jenius, berprestasi dan penuh karya namun sombong; dan terlihat dari tingkahnya bahwa ia mencari semua itu demi pandangan dan penyebutan manusia akan namanya. Justru inilah yang paling mengerikan. Hati sendiri malah menipu hati sendiri. Menipu orang itu adalah keburukan. Namun menipu diri sendiri adalah keburukannya keburukan.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/435784139796310

Wednesday, August 22, 2012

Hasad Adalah IRI

oleh Hasan Al-Jaizy

 Hasad itu adalah SINONIM nya iri. Hasad berasal dari bahasa Arab, yang diartikan dalam bahasa Indonesia mutlak menjadi IRI.

Namun, vocab HASAD/IRI memiliki makna dan maksud tidak hanya satu. Karena hasad bisa diartikan rasa iri semata, bisa juga dimaksudkan sebagai 'dengki'.

Begini kaedahnya:

[1] Tidak semua bentuk hasad/iri tercela, sementara segala bentuk dengki pasti tercela.
[2] Segala jenis kedengkian adalah termasuk iri/hasad, karena ialah pemicunya. Sementara tidak semua bentuk iri/hasad adalah kedengkian.

Karena dalam syariat, iri/hasad terbagi menjadi 2.

[1] Hasad yang terpuji/baik. Seperti iri akan kelebihan seseorang, dari segi ilmu ataupun materi [harta] yang digunakan dengan baik di jalan Allah.
[2] Hasad yang tercela/buruk. Seperti iri akan kelebihan seseorang, apapun bentuknya, namun disertai rasa benci dan harapan agar kelebihan tersebut sirna dari pemiliknya dan menjadi miliknya. Ini adalah kedengkian.


Manusia Tak Lepas Dari Rasa Iri?

Benar dan tentu saja. Rasa iri itu wajar dan bahkan bisa dikatakan tabiat. Karena manusia memiliki harapan dan keinginan untuk menjadi lebih baik atau memiliki sebuah keutamaan. Ketika manusia melihat manusia lain memiliki kelebihan, secara wajar ia juga ingin menjadi sepertinya. Ini adalah kewajaran.

Namun tidak semua kewajaran terbebaskan tanpa ikatan dan batasan; sebagaimana rasa cinta manusia akan lawan jenisnya adalah kewajaran, dan harus ada ikatan juga batasan.

Di sinilah perannya agama...dalam mengikat manusia dan membatasi gerak-gerik, sehingga lubang dan jurang bukan menjadi tempat terakhir manusia sembari membawa penyesalan.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/432046790170045

Monday, August 20, 2012

MERACAU : Ketika Kamu Terkenal!

oleh Hasan Al-Jaizy

Ketika kamu terkenal....

Ikuti langkah-langkah berikut:

[1] Ketika kamu terkenal, orang-orang mengenalmu.

[2] Ketika orang2 mengenalmu, mereka pasti menilaimu -sadar-tidak-sadar-.

[3] Penilaian manusia tidak mungkin seragam, tapi pasti beragam.

[4] Karena beragam, maka akan ada penilaian positif dan negatif. 

[5] Biarpun kamu dikenal baik, orang2 buruk akan menilaimu buruk. Biarpun kamu dikenal buruk, orang2 baik akan menilaimu buruk.

[6] Manusia akan iri pada ketinggian dan hendak menujunya. Namun tidak semuanya mampu. Yang tidak atau belum mampu, akan iri.

[7] Iri adalah bibit dari dengki. Jika rasa iri tidak dimoderasi, maka yang tumbuh pasti dengki.

[8] Jika sudah mendengki, manusia takkan memandang kebaikan manusia yang didengki. Gunung kebaikan di depan mata tak tersaksi, namun titik keburukan di ufuk langit selalu tersaksi. Itulah tingkah pendengki.

[9] Ketika kamu terkenal, banyak yang memandangmu miring.

[10] Semakin kamu terkenal, semakin banyak yang pandangannya miring dan mabuk kedengkian kesumat.



Tuesday, August 14, 2012

Pelajar Spesialis Ghibah

oleh Hasan Al-Jaizy

MURID: "Ustadz, ana melihat beberapa ikhwah membahas masalah perpecahan, perselisihan dan persenggolan di antara thullab/asaatidzah/masyaayikh yang menisbatkan diri mereka pada manhaj yang haq, terutama di situs laba-laba. Pembahasan mereka sangat informatif; karena mereka tahu banyak hal dan peyimpangan."

USTADZ: "So what...gitu?"

MURID: "Tapi, ana juga melihat beberapa gelintir ikhwah yang sangat minimalis dalam pembahasan itu, atau bahkan tidak pernah sama sekali. Malah mereka ini masih saja ga habis ngaji dan sibuk meneliti hadits-hadits. Kelihatannya kurang punya bahan luas untuk dibahas. Bagusan mana, ya ustadz?"

USTADZ: "Kalau secara keilmiahan, bagusan yang kedua. Kalau secara adab dan akhlak thalib, bagusan yang kedua juga. Bahkan bisa ana bilang: jenis pertama itu tidak ada bagus-bagusnya. Kita seharusnya nyadar bahwa hampir tiap jam serpihan ilmu kita jatuh karena lalai. Dan apakah mereka ini mau nyadar bahwa setiap waktu mereka membicarakan topik-topik tersebut [yang sebenarnya tidak memberi keuntungan ilmu pada mereka] akan membuat mereka lupa akan ilmu!? Mereka pastinya tidak sadar dan kadang diajak sadar tidak mau sadar. Atau pura-pura tidak sadar. Pertanyaan berikut: 'mereka ini sebenarnya siapa, thullab al-ilm atau spesialis urusan seperti itu?' Sementara Syaikh Muqbil saja meminta murid-muridnya untuk tunduk kepala kepada buku dan ilmu dan jangan konsentrasi pada perkara dan sikap ahlul bid'ah dengan kalimat: 'Belajar dulu!', meskipun jika ditanya tentang penyimpangan, beliau akan menjawab."

MURID: "Apakah thullab semacam itu bisa dikatakan 'berilmu'?"

USTADZ: "Berilmu atau tidak, yang namanya thullab al-ilm ya mesti punya ilmu. Masalahnya: ilmunya berkah dan bermanfaat atau tidak? Tidak ada thullab al-ilm di zaman salaf spesialis dalam perkara semacam itu. Itu hanya ada di zaman kita, di saat semua orang, dari alim hingga jahil murakkab-nya, diberi kesempatan bicara, berpendapat dan 'ngoceh'."

Tidak perlu tahu siapa nama murid tersebut dan siapa nama ustadz tersebut. Ditakutkan jika nama mereka diketahui, mereka akan dijadikan bahan obrolan atau bahkan di-ghibahi. Bukankah sekarang jamannya Ghibah Manhajiyyah? Yang diperlukan adalah: 'ask yourself and take a mirror'

...and talk as your size does!


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/430159460358778

Friday, August 10, 2012

Teruslah Berjalan!

oleh Hasan Al-Jaizy

[1] Ibarat seorang ayah akan dicela selagi ia tunggangi unta, dan anaknya berjalan iringi keduanya.
[2] Bagaikan seorang anak akan dicela selagi ia tunggangi unta, dan ayahnya berjalan iringi keduanya.
[3] Bak ayah dan anak akan dicela selagi keduanya tunggangi unta, dan tampak ia terbebani berat keduanya.

Laksana ketiganya, takkan habis berujung celaan dan kritikan, selagi kaki masih mampu berpijak...selagi hayad dikandung jasad...dan...selagi pusara belum mengandung jasad

Maka, jangan berhenti berjalan karena celaan takkan terhenti. Jikalau kau berhenti, celaan semakin cepat alirnya menghantui. Selama yakinnya engkau meniti jalan lurus, maka lurus tetaplah.
Mengikuti hasrat semua insan akan buatmu kehilangan arah.


Karena:

Hati pendengki takkan irinya berhenti
Lisan pelaknat takkan berisitirahat
Jika sabar dan keteguhan bukanlah keistimewaan
Lalu, apalah arti sebuah kemenangan?

Sementara kemenangan takkan hadir tanpa jerih
Biar tersiram cela...meski luka-luka terasa perih
Bukankah malam adalah selimut gelap adanya?
Lalu terbitlah kemudian mentari setelah berakhirnya

Tiada akhiran jika tiada awalan
Tiada perjalanan tanpa tepian
Tiada temu jika tiada berpisah
Tiada riang tanpa diselingi gelisah


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/428609173847140

Monday, July 23, 2012

Betapa Hasadnya!

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point kejikaan dan keniscayaan yang layak difikirkan:

[1] Jika kau membaca/mendengar kalimat tausiyyah yang indah dengan sedalam HATI, niscaya dirimu sendiri lah yang kau tatap. Kemudian kau akan tahu lemahnya diri sendiri.

[2] Jika kau membaca/mendengar kalimat tausiyyah yang indah dengan rasa IRI, niscaya kau hanya menatap miring si penulis atau pembicara, lalu mulutmu mencibir. Kemudian, kau akan menganggapnya lemah, dan tak sadar lemahnya diri sendiri.

[3] Jika kau kemudian mengoreksi diri setelah dikritisi, niscaya akan hadir rasa kasih dan takjub, 'Aduhai, ternyata ia menasihatiku...inginkan aku baik'.

[4] Jika kau kemudian balik melawan setelah dikritisi, niscaya akan timbul rasa tinggi dan takjub, 'Aduhai, aku...bagaimana mungkin aku dikritik seperti itu!?'


 4 hal di atas, pernah kita rasakan bersama

Karena kita pernah mengagumi
juga kita pernah iri
Karena kita pernah rasakan derajat diri begitu rendahnya
juga kesombongan indah masa muda


Juga:

Betapa banyak ayat terbaca, terdengar dan terlantun, namun bekasnya tak nyata terlihat dalam diri...karena memang tidak mendalaminya dengan hati

Belum lagi berapa banyak hadits-hadits terpelajari, namun dimanakah segala makna terkandung bersembunyi? Sungguh seakan belajar tiada arti...karena memang tidak mendalaminya dengan hati

Atau betapa banyak kalimat berfaedah atau indah yang tertera dalam layar kehidupan...tepat di hadapan muka...namun semua seperti kumpulan huruf mati...atau bagai dedaunan di musim gugur...bertaburan banyak, indah, namun tiada makna terserap.

Berapa besar kadar IRI kita yang menjadi dengki sehingga seringkali kita tidak menerima 'kebenaran' dari orang yang kita dengki? 
Terkadang rasa iri itu begitu halus tak terdeteksi.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/422226831152041

Monday, July 9, 2012

Emang Gue Pikirin?

oleh Hasan Al-Jaizy

Kalau ada orang yang irinya minta ampun, tak henti mencela-mengkritik tanpa solusi, men-jarh bertubi-tubi, segalanya tentang aku adalah salah baginya, katakan:

"Saya ada di sini tak bermaksud merepotkan. Segala tikaman kalian tak membuat saya repot. Tapi, sepertinya...keberadaan saya membuat kalian repot. Kasihan sekali kalian, repot mengurus diri saya, padahal saya tidak membayar kalian. Kalian adalah relawan manhaj kerepotan."

Dan bagaimana jika mereka menikamku dengan berita palsu? Jawab saja:

"Oh, ternyata cuma hoax...berasal dari 'alamat-palsu'...yang akhirnya menjadi: 'status-palsu'"


Kehadiran RadRod?

Tentu saja RadRod merepotkan. Bagaimana tidak? Wong banyak dari kalangan awam mulai mengenal Radrod sehingga keluar dari pengajian khurafat. Yang kerepotan karena RadRod siapa? Ya mereka itu. RadRod mah ga repod-repod...tetapi mereka repod-repod ngepod di jalan yang mereka sebut 'manhaj'.

Tapi, by the way, kita bukan pendukung RadRod fanatik kok. Jika salah ya salah jika bener ya bener. Satu kalimat yang boleh kita lantunkan bersama: "Jika seseorang menjadi besar-terkenal-hebat, penghancurnya sebenarnya ada pada dirinya sendiri."

Seperti kata pengamat bola pasca Euro 2012: "Spanyol bisa mengalahkan tim internasional yang mereka mau; namun mereka bisa dikalahkan oleh diri mereka sendiri."

Atau untuk Barca pra-El-Clasico-2012: "Musuh utama Barca adalah mereka sendiri." Yang kemudian akhirnya kalahlah oleh Madrid, karena apa? Karena ke-pede-an; karena sudah merasa mapan; karena sudah tinggi namanya; karena sudah dikenal hebat-berkualitas...namun perasaan-perasaan itulah yang justru menghancurkan pemiliknya sendiri.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/417631318278259

Sunday, July 8, 2012

Bibit Hasad

oleh Hasan Al-Jaizy

...dan disebabkan rasa iri, si X selalu memandang kebaikan si A penuh kritisasi. Padahal ketika si A berbuat baik dan dicintai manusia akan perbuatannya serta tiada cela maupun aib tertera darinya, tetap saja si X mencari-cari aib dari perbuatan itu.

...dan disebabkan rasa iri terpendam, si X selalu menunggu momen tepat untuk menghancurkan nama atau martabat si X, entah langsung di depan atau tikaman di belakang. Namun tentu saja tikaman di belakang lebih baik bagi X.

...dan disebabkan rasa iri terpendam, setiap teringat akan si A, maka X selalu saja berusaha menggemakan aib dan kekurangan si A. Panas telinga ketika mendengar orang2 bicara kebaikannya. Padahal dalam hati X sendiri, kekaguman akan A tak terhindarkan!

Orang iri takkan enyah...mata-mata dengaki takkan tertutup...lisan-lisan hasad takkan kelu...namun jika ternyata kamu dibenci oleh mereka, apakah kamu berhenti dan ketakutan?

Ku tahu jawabmu adalah tidak.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/417424978298893