Showing posts with label Ekonomi. Show all posts
Showing posts with label Ekonomi. Show all posts

Sunday, July 14, 2013

Menata Kehidupan Dengan Akal

ORANG berakal mengatur kehidupannya di dunia dengan akalnya. Jika ia miskin, ia akan bersungguh-sungguh bekerja dan mencari uang agar ia tak terhina di mata makhluk. Lalu ia pun mengurangi jumlah pengeluarannya dan memuaskan diri dengan apa yang ada. Karena itu, ia pun hidup dalam keadaan terbebas dari budi orang lain dan terhormat di tengah masyarakat. Sedang jika ia kaya, ia wajib mengatur pengeluarannya, karena ia bisa saja jatuh miskin, lalu ia mesti menghinakan diri kepada orang lain. Salah satu bentuk bencana adalah boros dan melampaui batas dalam berbelanja karena ingin menghina musuk. Padahal, tindakannya ini sejatinya justru bisa membuat musuh menyihirnya.

Seseorang seyogyanya mengambil jalan tengah dalam segala situasi, serta menutupi sesuatu yang tak layak diceritakan kepada orang lain.

Suatu saat, seorang petugas yang memandikan jenazah menemukan uang yang banyak. Ia lantas membelanjakannya sesuka hati. Ketika cerita penemuan uang itu diketahui orang banyak, harta yang ada di tempatnya disita. Ia pun kembali menjadi tak punya apa-apa.

Thursday, December 27, 2012

CAT : [78] "FALSAFAH RUPIAH"

oleh Hasan Al-Jaizy


Sesungguhnya gambar uang kita [rupiah] bisa menunjukkan pemiliknya jika memang hanya itulah sisa yang ia punya. 

[a] Awal bulan, banyak manusia masih menyimpan uang 100.000 rupiah. 
[b] Ketika pertengahan, ia mulai menghargai uang 10.000 rupiah. 
[c] Menjelang akhir bulan, ia mulai mengumpulkan uang 1.000 rupiah dari saku-saku dan meja. 
[d] Pas masuk akhir bulan, ia baru ingat bahwa di Indonesia, uang 100 rupiah masih ada harganya.

Kalau kata teman di pondok dulu, 'Hargailah uang 100, tanpanya 10 juta pun tak jadi 10 juta.'

Sekarang, cobalah tengok uang-uang kertas Anda.

[1] Uang 100.000. Point: PECI.
Lihat, ada gambar 2 orang memakai PECI hitam.

Tuesday, December 4, 2012

CAT : [3] "SENGSARAMU INSPIRASI TUK SELAINMU"

oleh Hasan Al-Jaizy

Ini untuk orang-orang yang merasa dirinya sengsara. Kasihan sekali orang-orang semacam ini. Atau yang lebih kasihan adalah yang merasa paling sengsara, paling miskin dan paling menderita. Padahal ia hidup di negara aman. Ia tidak sedang dikejar hewan-hewan. Rumahnya tidak sembarangan digrebek Densus 88. Tetapi kenapa merasa paling besar ia punya kesengsaraan?

Padahl semua dari kita adalah orang kaya. Boleh kaya akan makna, tapi pastinya kaya akan fisik. Ada percakapan Haji Asnawi dan Suyuthi:

Haji Asnawi: "Ada apa, anakku?"

Suyuthi: "Pak Haji, hidup saya seolah paling sengsara. Saya kere sekali. Mau menikah dengan manusia, namun modal tidak ada. Mau beli laptop, namun uang tidak ada. Bayar kredit pun tak mampu. Mau beli baju pun tidak ada. Padahal saya pengen sekali membeli ketiganya: manusia, laptop dan baju. Tapi yang saya dapat malah gundukan puntung rokoknya Pak De Su'aid. Pak Haji, saya miskin sekali. Berikanlah solusi."

Haji Asnawi: "Baiklah, kamu bisa bahasa Arab, kan? Dan kamu suka baca kitab juga, kan? Lalu kamu mudah menghafal Al-Qur'an, Hadits dan matan-matan, kan?"

Suyuthi: "Yoi, Pak Haji."

Haji Asnawi: "Baiklah. Nanti saya doakan supaya Allah mencabut ketiganya dari dirimu: bahasa Arab, hasrat baca kitab, dan kemampuan menghafal. Saya doakan pula agar Allah mengganti ketiganya dengan manusia, laptop dan baju."

Suyuthi: "Wah, tidak bisa, Pak Haji. Sadis sekali. Saya ga mau kehilangan itu semua. Itu semua juga modal saya buat masa depan."

Haji Asnawi: "Baiklah. Saya memaklumi. Sekarang saya punya tabungan 300 juta. Itu bisa menjadi modal kamu nikah, beli buku segudang dan menambah nafsu baca bukumu. Saya akan serahkan 300 juta untukmu siang nanti. Gimana??"

Suyuthi: "Waaah, makasih Pak Haji! Senaaang!"

Haji Asnawi: "Tapi, ya ada syaratnya lah."

Suyuthi: "Wah, syaratnya apa itu, Pak Haji?"

Haji Asnawi: "300 juta itu sebagai bayaran tunai pembelian kedua matamu. Saya ingin membeli matamu. Kamu korbankan matamu saja lah demi 300 juta."

Suyuthi: "Yaaah, tidak mungkin juga. Waduh."

Haji Asnawi: "Berarti, mahalan mana: penglihatanmu atau 300 juta?"

Suyuthi: "Ya mataku lah, Pak Haji."

Haji Asnawi:

"Nah, di situlah bagaimana kau harus merenung tentangnya. Kamu punya mata dan anggota tubuh lainnya masih berfungsi dengan baik. Jika satu saja dari matamu cacat, maka bagimu itu lebih mahal dari 300 juta. Sementara sekarang pun kau mengeluh miskin; sedangkan sebenarnya sedari lahir kau sudah diciptakan kaya dan memiliki kekayaan. Lihat sekujur tubuhmu. Lihat kakimu, seberapa kilo sudah digunakan untuk berjalan. Lihat tangan dan jemarimu, seberapa banyak tulisan yang kau buat yang bisa menjadi modal untuk dunia dan akherat? Lihat lisanmu, seberapa banyak ia bisa memberi manfaat?

Ketika pahitmu, jangan kiaskan pahitnya dengan manisnya hidup orang lain. Karena ketika kau nanti hidup dalam kemanisan, kau pun tak ingin orang berpahit hidup menuntut dirimu untuk memaniskan hidupnya.

Tetapi, jadilah orang yang memberi kemanisan pada selainnya meski hidup sendiri ditakdirkan pahit. Jadikan pahitmu adalah manis untuk orang lain. Betapa banyak orang yang bermanis hidup namun memahitkan hidupnya dan hidup orang lain. Jadilah manusia yang berguna dengan kesederhanaan kekayaan yang kamu miliki.

Jangan jadikan kesulitan hidup alasan untuk tidak memberi kebaikan pada manusia. Jika punya harta, berikan secukupnya. Jika punya ilmu, berikan sebanyaknya. Jika tidak punya keduanya, berikan jasa. Jika tidak punya harta, ilmu dan jasa, berikan mereka salam dan doa. Jangan pernah ingin hidup jika tidak memberi manfaat pada manusia. Karena terkadang hewan pun memberi manfaat pada manusia."

Suyuthi pun merinding. Sementara anak perempuannya Haji Asnawi mengintip dari tirai kamar.

Mengintip-intip status orang. Rupanya ia terinspirasi dengan status ini. Ehm.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/469925333048857

Friday, November 30, 2012

Merebut Lahan Kuburan Keramat


oleh Hasan Al-Jaizy

Ini adalah sebuah risalah dari si miskin untuk siapapun yang juga miskin.

Dulu, dakwah ini tidak terlihat gemilang cahayanya nan megah seperti sekarang. Era 90-an, ketika itu ustadz-ustadz yang kau panuti sekarang, adalah dai-dai 'lugu' dan sederhana. Ikhlasnya mereka berjuang demi ilmu dan amal begitu tebal. Era 90, ketika belum banyak yang membuka mata mengenai Sepilis. Era 90, ketika mungkin Anda [seperti saya] masih ingusan, atau Anda belum kenal apa-apa tentang Muhammad bin Abdul Wahhab.

Gloria millenium. Tahun 2000 datang. Gerakan Sepilis semakin menjadi-jadi. Dan setelah tahun itulah puncak-puncak serangat mereka terhadap syariah. Adapun kaum hijau, tak bersatu lagi semenjak partai di Indonesia tidak 3 lagi. Akhirnya bermunculan lah sempalan-sempalan Islami di negeri ini. Namun, dakwah yang kini disebut 'nyawah' perlahan demi perlahan makin exist. Ustadz-ustadz yang kau kagumi sekarang, baik itu kini menjadi bintang idola podium atau penyenang hatimu melalui siaran radio, ketika itu sebagian mereka masih dalam tahap belajar. Jikalau ada dari mereka yang sudah memiliki majelis, itu hanya beberapa.

Dan dimulai sekira 2005, dunia Internet melesat. Semakin kemari, semakin

Monday, November 26, 2012

Senin Pagi


oleh Hasan Al-Jaizy

Menggabungkan ngampus dan ngegawe adalah hal yang tidak mudah. Tugas kampus dan amanat gawe. Atau dalam makna lain: mencari ilmu sembari mencari duit.

Teman-teman yang hidup di rumah kos berfikir, 'Apa yang musti dikeluhin, Tong? Bukannya loe tinggal bareng keluarge? Ga perlu bayar kos dan biaya makan, kan?'

Ah, begitulah fikiran mereka. Tidak berfikir bahwa orang yang hidup di rumah bersama keluarga juga harus ikut memikirkan problematika dalam keluarga. Kalau mahasiswa perantau, meskipun jauh dari kampung halaman, rata-rata uang dikirim pula dari ortu. Mau pinjam uang, banyak teman siap memaklumi dan membantu. Dan tidak perlu mikirin rumah di kampung.

Kudu-kudu sabar kuliah di atas 4 tahun. Kalau mahasiswa umumnya, usia belajar 3 tahun di kampus sudah membuat hati gatal-gatal ingin cepat lulus lalu kerja dan beranak. Duh, gimana jadinya kalau mereka kuliah hingga 5 tahun atau 7? Seberapa besar hati untuk bersabar!?

Senin Pagi, Senin berkah insya Allah. Mencari ilmu di paginya, mencari uang setelah paginya.


Monday, November 12, 2012

HIDUPMU INSPIRASIMU : [12] "Ketersembunyian Yaitu Kelembutan"


oleh Hasan Al-Jaizy

Di masa itu, adalah masa-masa ujian hidup yang harus saya jalani. Hidup adalah ujian, bukan? Anda pun juga punya masa-masa yang paling menguji. Dan kalimat pertama tadi bukanlah menampakkan sulitnya hidup. Tidak. Itu sebagai kalimat pembuka yang terhubung pada realita berikutnya.

Ya, masa itu adalah masa sedang terujinya hidupku. Kekurangan akan sesuatu. Lalu tiba-tiba hari-hari itu, seekor kucing sering kunjungi rumahku. Kucing itu berwarna hitam. Pekat. Adakah kalian pernah saya perlihatkan seperti apa ia? Ya, itulah kucing 'aneh' yang ziarahi rumah selalu. Sebelumnya, saya belum pernah melihatnya. Entah darimana ia berasal. Tiba-tiba ada begitu saja. Tiba-tiba memangkali beranda rumah begitu saja. Sebagaimana terkadang sebuah musibah tiba-tiba menghardik begitu saja.

Lalu saya bertanya-tanya apakah ada suatu jawaban dari Allah mengenai kehadiran kucing ini? Tentu kucing ini tidak datang melainkan Allah lah yang mendatangkannya. Dan sekali lagi, ia

Saturday, November 10, 2012

Sebuah Renungan


oleh Hasan Al-Jaizy

Untuk saat ini, penghasilan berjuta-juta masih angan-angan. Insya Allah ... mudah-mudahan ketika ternyata angan-angan itu malah menjadi kenyataan, saya berharap bisa bertemu dengan orang yang kondisinya sama seperti ketika saya masih berangan-angan. 

Jika kau punyai harta, maka berbagilah dengannya...
Jika tidak kau punyai itu, namun punyai ilmu, maka berbagilah dengannya...
Jika tidak kau punyai keduanya, namun punyai jasa, maka berbagilah jasa...

...bahkan membantu orang memindahkan barang, sekecil apapun itu, adalah sebuah jasa.

Jadilah orang yang berbagi selagi memiliki...
insya Allah ketika kau sudah tak punya lagi,
setidaknya kau masih punya pahala investasi berbagimu dulu.

Dan orang yang tak punya, takkan memberi
sebagaimana orang yang tak bisa, biasanya mencaci

Friday, November 9, 2012

HIDUPMU INSPIRASIMU : [5] "Biarkan Angin dan Badai Menyerangmu; Karena Kamu Adalah Kamu!"


oleh Hasan Al-Jaizy

Di Andalusia pernah ada seorang saudagar kaya nan terkenal. Ia terlibat persaingan bisnis dengan 4 orang saudagar lainnya di negara itu. Mereka semua membencinya dan berniat mengganggunya.

Suatu pagi saudagar itu keluar rumah menuju tokonya. Ia memakai baju putih dan juga surban putih. Di jalan, ia berpapasan dengan salah satu dari 4 pesaingnya. Dipandanginyalah surban itu dan berkata, "Duhai...alangkah bagusnya surban kuning ini!"

Saudagar: "Di mana matamu? Surban ini putih warnanya. Bukan kuning!"

Pesaing 1: "Tidak. Ia berwarna kuning. Kuning dan bagus."

Saudagar itu meninggalkannya dan berlalu. Beberapa langkah kemudian ia bertemu pesaing kedua. Pesaing 2 ini ucapkan salam padanya dan memandang surbannya. Lalu berkata, "Sungguh tampannya Anda hari ini. Pakaian Anda bagus sekali. Terlebih surban hijau ini."

Saudagar: "Ayolah...surban ini berwarna putih."

Pesaing 2: "Bukan! Hijau ia punya warna."

Saudagar: "Putih! Enyahlah kau dari pandanganku!"

Lalu ia pun berlalu sambil menggerutu dalam hati. Berulang kali ia pandangi ujung surbannya yang menjuntai di pundak. Ia memastikan dengan pasti putihnya warna surban.

Ia tiba di tokonya dan hendak memutar gembok. Tiba-tiba pesaing 3 menghampiri dan berkata," Hey, Anda tampan sekali pagi ini. Pakaian Anda bagus sekali. Semakin sempurnalah Anda dengan surban biru ini."

Saudagar itu memandangi surbannya dan mengucek-ucek matanya. Ia berkata, "Kawan, surban ini berwarna putiiiiiiih!"

Pesaing 3: "Oh, tidak. Warnanya biru. Tapi bagaimanapun ia adalah surban yang bagus. Jadi, janganlah bersedih." Lalu pesaing 3 pun pergi meninggalkan saudagar itu yang kemudian memekik:

"Surban ini putiiiiiiiiih!"

Ia duduk sejenak di dalam tokonya. Masih terpaku matanya pada surban. Mendadak pesaing 4 masuk ke dalam toko. Lalu berkatalah ia, "Hai, fulan! Masya Allah! Di mana Anda membeli surban merah ini?"

Saudagar berteriak: "SURBANKU PUTIH!"

Pesaing 4: "Tidak, merah!"

Saudagar: "Tidak, hijau. Bukan! Tetapi putih! Tidak! Ia biru! Bukan! Hitam!" Lalu tertawa. Kemudian menjerit. Tak lama kemudian menangis. Lalu berdiri sambil melompat.

Tak berselang banyak hari kemudian, saudagar tersebut terlihat di jalanan Andalusia. Ia menjadi gila dan dilempari kerikil oleh anak-anak.

[cerita ini dihikayatkan oleh Syaikh Al-Arify dalam Istamti' bihayaatik yang bersumber dari kitab Thauq Al-Hamamah karya Ibnu Hazm]

====================

Opini manusia terhadapmu bisa menjadi penajam kehebatanmu. Tapi, bisa pula menjadi penghancur jiwamu. Tidak semua pandangan mereka kau telan dan cerna begitu saja. Karena ada saja di antara teman bahkan saudara yang hendaki jatuhnya dirimu. Meskipun kalimat mereka dihias dengan keindahan hingga pujian.

Ketika kau pergi mendaki gunung, angin semakin kencang dan udara semakin dingin. Jika pendakianmu di musim dingin, kabut dingin akan menyelimuti dan menihilkan pandangan ke depan dan ke atas. Semakin ke atas, kau akan bertemu badai.

Kau mungkin akan berfikir tuk berhenti sejenak menunggu badai berlalu. Namun, sampai kapan kau berhenti? Sementara badai pun belum tentu hendak berlalu esok hari. Terlebih perbekalanmu tak mencukupi kehidupan berpanjang zaman. Kau akan mati dalam rehat perjuangan.

Maka, teruskanlah perjuangan dan pendakian. Karena bisa saja badai itu dari jauh tampak ganas, namun rupanya tak seganas yang terkira.

================

Kau adalah kau yang bukanlah dia atau mereka. Jika kau menuruti semua opini dia dan mereka, maka kau kehilangan dirimu dan potensimu. Dan inilah problematika orang-orang yang terlalu dihantui ucapan dan kritik orang lain.

Yang ku ingin pesankan padamu: Jika kau sudah yakin sorbanmu berwarna putih dan nyata sangat, maka jangan biarkan seratus opini lawanmu menumbangkan keyakinanmu. Mereka akan katakan ia berwarna jingga, violet, ungu dan seratus warna lain.

Jika kritik dan tudingan tidak bersifat membangun atau berlawanan dengan kenyataan yang nyata kau yakini, maka enyahkan buah lisan mereka. Teguhlah dan biarkan badai sibuk sendiri.

Orang-orang yang sudah menegakkan panji di puncak kesuksesan adalah mereka yang dahulu bercumbu dengan badai kritik. Mereka bisa memilih mana kritik yang benar mengasah dan mana kritik yang murni mendengki.

Jika kau merasa lemah dan takut akan kritik, maka jangan pernah membawa panji dan jangan pernah memulai apapun dari kaki gunung. Karena kau takkan sampai di puncak.

....

Hidupmu...inspirasimu...hidupmu...inspirasi untuk selainmu...maka lihatlah ayat-ayat, di sanalah berjuta inspirasi untukmu.

Di Andalusia pernah ada seorang saudagar kaya nan terkenal. Ia terlibat persaingan bisnis dengan 4 orang saudagar lainnya di negara itu. Mereka semua membencinya dan berniat mengganggunya. Suatu pagi saudagar itu keluar rumah menuju tokonya. Ia memakai baju putih dan juga surban putih. Di jalan, ia berpapasan dengan salah satu dari 4 pesaingnya. Dipandanginyalah surban itu dan berkata, "Duhai...alangkah bagusnya surban kuning ini!" Saudagar: "Di mana matamu? Surban ini putih warnanya. Bukan kuning!" Pesaing 1: "Tidak. Ia berwarna kuning. Kuning dan bagus." Saudagar itu meninggalkannya dan berlalu. Beberapa langkah kemudian ia bertemu pesaing kedua. Pesaing 2 ini ucapkan salam padanya dan memandang surbannya. Lalu berkata, "Sungguh tampannya Anda hari ini. Pakaian Anda bagus sekali. Terlebih surban hijau ini." Saudagar: "Ayolah...surban ini berwarna putih." Pesaing 2: "Bukan! Hijau ia punya warna." Saudagar: "Putih! Enyahlah kau dari pandanganku!" Lalu ia pun berlalu sambil menggerutu dalam hati. Berulang kali ia pandangi ujung surbannya yang menjuntai di pundak. Ia memastikan dengan pasti putihnya warna surban. Ia tiba di tokonya dan hendak memutar gembok. Tiba-tiba pesaing 3 menghampiri dan berkata," Hey, Anda tampan sekali pagi ini. Pakaian Anda bagus sekali. Semakin sempurnalah Anda dengan surban biru ini." Saudagar itu memandangi surbannya dan mengucek-ucek matanya. Ia berkata, "Kawan, surban ini berwarna putiiiiiiih!" Pesaing 3: "Oh, tidak. Warnanya biru. Tapi bagaimanapun ia adalah surban yang bagus. Jadi, janganlah bersedih." Lalu pesaing 3 pun pergi meninggalkan saudagar itu yang kemudian memekik: "Surban ini putiiiiiiiiih!" Ia duduk sejenak di dalam tokonya. Masih terpaku matanya pada surban. Mendadak pesaing 4 masuk ke dalam toko. Lalu berkatalah ia, "Hai, fulan! Masya Allah! Di mana Anda membeli surban merah ini?" Saudagar berteriak: "SURBANKU PUTIH!" Pesaing 4: "Tidak, merah!" Saudagar: "Tidak, hijau. Bukan! Tetapi putih! Tidak! Ia biru! Bukan! Hitam!" Lalu tertawa. Kemudian menjerit. Tak lama kemudian menangis. Lalu berdiri sambil melompat. Tak berselang banyak hari kemudian, saudagar tersebut terlihat di jalanan Andalusia. Ia menjadi gila dan dilempari kerikil oleh anak-anak. [cerita ini dihikayatkan oleh Syaikh Al-Arify dalam Istamti' bihayaatik yang bersumber dari kitab Thauq Al-Hamamah karya Ibnu Hazm] ==================== Opini manusia terhadapmu bisa menjadi penajam kehebatanmu. Tapi, bisa pula menjadi penghancur jiwamu. Tidak semua pandangan mereka kau telan dan cerna begitu saja. Karena ada saja di antara teman bahkan saudara yang hendaki jatuhnya dirimu. Meskipun kalimat mereka dihias dengan keindahan hingga pujian. Ketika kau pergi mendaki gunung, angin semakin kencang dan udara semakin dingin. Jika pendakianmu di musim dingin, kabut dingin akan menyelimuti dan menihilkan pandangan ke depan dan ke atas. Semakin ke atas, kau akan bertemu badai. Kau mungkin akan berfikir tuk berhenti sejenak menunggu badai berlalu. Namun, sampai kapan kau berhenti? Sementara badai pun belum tentu hendak berlalu esok hari. Terlebih perbekalanmu tak mencukupi kehidupan berpanjang zaman. Kau akan mati dalam rehat perjuangan. Maka, teruskanlah perjuangan dan pendakian. Karena bisa saja badai itu dari jauh tampak ganas, namun rupanya tak seganas yang terkira. ================ Kau adalah kau yang bukanlah dia atau mereka. Jika kau menuruti semua opini dia dan mereka, maka kau kehilangan dirimu dan potensimu. Dan inilah problematika orang-orang yang terlalu dihantui ucapan dan kritik orang lain. Yang ku ingin pesankan padamu: Jika kau sudah yakin sorbanmu berwarna putih dan nyata sangat, maka jangan biarkan seratus opini lawanmu menumbangkan keyakinanmu. Mereka akan katakan ia berwarna jingga, violet, ungu dan seratus warna lain. Jika kritik dan tudingan tidak bersifat membangun atau berlawanan dengan kenyataan yang nyata kau yakini, maka enyahkan buah lisan mereka. Teguhlah dan biarkan badai sibuk sendiri. Orang-orang yang sudah menegakkan panji di puncak kesuksesan adalah mereka yang dahulu bercumbu dengan badai kritik. Mereka bisa memilih mana kritik yang benar mengasah dan mana kritik yang murni mendengki. Jika kau merasa lemah dan takut akan kritik, maka jangan pernah membawa panji dan jangan pernah memulai apapun dari kaki gunung. Karena kau takkan sampai di puncak. .... Hidupmu...inspirasimu...hidupmu...inspirasi untuk selainmu...maka lihatlah ayat-ayat, di sanalah berjuta inspirasi untukmu.

Monday, November 5, 2012

HIDUPMU INSPIRASIMU : [2] "Mengejar Angin"



oleh Hasan Al-Jaizy



Seorang gadis di suatu negeri telah wafat ayahnya. Terwariskan untuknya harta yang membuatnya dijuluki 'gadis terkaya' di zamannya. Tiada tandingi jumlah hartanya. 

Suatu waktu, ia menikah dengan seorang Amerika. Hiduplah mereka berdua beberapa masa. Kemudian berakhir bauran keduanya dengan talak. Lalu, ia teruskan perburuan dan menikah dengan seorang Yunani. Hiduplah keduanya berbaur beberapa masa. Namun datang kemudian masalah dan problem yang mewariskan talak dan perpisahan.

Maka, menikahlah kemudian ia dengan seorang Rusia yang atheist. Bapaknya adalah milyuner di negara itu. Hasil dari regukan sistem ekonomi sosialis atheis. Seorang wartawan mewawancarai wanita kaya ini:

"Bagaimana pula kau menikahi seorang anak milyuner dengan harta hasil

Friday, November 2, 2012

KALIMAT HIKMAH II


oleh Hasan Al-Jaizy

Berikut adalah bait-bait beliau mengenai kehidupan yang semoga memberi manfaat meski sedikit:

[1] فَلا تَمشِ يَوْماً في ثِيابِ مَخيلَةٍ ** فإنَّكَ من طينٍ خلقتَ ومَاءِ

Maka janganlah kau suatu hari
berjalan dengan baju kesombongan
Sesungguhnya engkau dari tanah
dahulu tercipta dan dari air

[2] لَقَلّ امرُؤٌ تَلقاهُ لله شاكِراً ؛ ** وقلَّ امرؤٌ يرضَى لهُ بقضَاءِ

Maka akan sedikit manusia
kau temui bersyukur pada Allah
Dan sedikit manusia ridha
pada qadha-Nya

[3] وفي النّاسِ شرٌّ لوْ بَدا ما تَعاشَرُوا ** ولكِنْ كَسَاهُ اللهُ ثوبَ غِطَاءِ

Dan pada [tiap] manusia keburukan
Jikalau ia tertampak
takkan mereka saling bergaul
Tetapi Allah tutup buruknya
dengan pakaian penutup

[4] ولاَ شَيءَ إلاَّ لَهُ آفَةٌ ** وَلاَ شَيْءَ إلاَّ لَهُ مُنْتَهَى

Dan tiada sesuatu melainkan
baginya ada kekurangan
Dan tiada sesuatu melainkan
baginya ada akhiran

[5] وليْسَ الغِنَى نشبٌ فِي يَدٍ ** ولكنْ غِنى النّفس كلُّ الغِنى

Dan tidaklah kekayaan itu
yang terkumpul lekat di tangan
Tetapi kekayaan jiwa adalah
segala-gala kekayaan

[Dari Diwan Abi Ataahiah. Mohon koreksi jika terdapat kesalahan pemaknaan. Semoga bermanfaat]

Wednesday, October 24, 2012

Pelipur Lara Bagi Yang Teruji Oleh Kurangnya Harta


oleh Hasan Al-Jaizy

Sebagian besar manusia menilai bahagia tercermin dari gemuknya badan dan banyaknya harta. Gemuk menandakan melebihi standar dan begitu pula dengan banyaknya harta. Dan memang, manusia yang berbadan bagus, kekar dan kuat akan cenderung memamerkan itu pada manusia. Ia akan lebih suka memakai kaos yang menzahirkan besarnya tangan. Juga, manusia bergelimang harta, akan cenderung menunjukkan adanya pada manusia. Ia akan lebih suka memakai pakaian yang mendeklarasikan bahwa 'saya berada'. Semua itu adalah perkara mubah, selama tidak berbalut dengan kesombongan, meski sebiji dzarrah.

Namun, sungguh banyak yang berbadan besar lupa bahwa ia akan diminta pertanggung jawaban lebih banyak perihal kekuatan dibanding yang berbadan kecil. Terlebih yang berharta berlimpah, bukankah fitnah umat ini terletak pada harta?

إن لكل أمة فتنة و فتنة أمتي المال

"Sesungguhnya pada setiap umat ada fitnah (yang merusak/menyesatkan mereka) dan fitnah (pada) umatku adalah harta." [H.R. Tirmidzy dan Bukhary dalam At-Taarikh Al-Kabiir-nya]

Orang kaya berpotensi terfitnah dengan

Tuesday, October 16, 2012

Beberapa Point

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point yang berupa sabda Al-Amiin -shallallahu alaihi wa sallam-:

[1] "Akan datang kepada manusia suatu zaman (ketika itu) seorang tidak lagi perduli dengan apa yang dia dapatkan, apakah dari yang halal atau haram?!" [H.R. Bukhary]

[2] "Sesungguhnya setiap umat mendapatkan fitnah dan fitnah umat ini adalah harta" [H.R. Tirmidzy]

[3] "Seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta; pasti ia menginginkan yang ketiga, sedangkan perut anak Adam tidaklah dipenuhi kecuali dengan tanah, dan Allah memberi taubat-Nya kepada yang bertaubat." [H.R. Bukhary dan Muslim]

[4] "Tidaklah dua ekor srigala yang lapar dilepas pada seekor kambing lebih merusak baginya dari ketamakan seorang terhadap harta dan kehormatan terhadap agamanya." [H.R. Tirmidzy dan Ahmad]

[5] "Sesungguhnya tidak berkembang daging yang tumbuh dari makanan yang haram kecuali Neraka yang lebih pantas baginya" [H.R. Tirmidzy]

[6] "Sesungguhnya banyak orang beraktifitas pada harta Allah dengan tidak benar maka mereka berhak mendapatkan neraka di hari kiamat" [H.R. Bukhary]

...credit to almanhaj.or.id dan Ust. Khalid Syamhudi, jazaahullahu khaira



Sunday, October 14, 2012

Sedekah Untuk Yang Butuh


oleh Hasan Al-Jaizy

Jika Anda punya dan bisa, maka sisihkan ia untuk yang tidak punya.

Sungguh ada di antara saudara-saudari Anda seiman, yang ingin punya dan mampu seperti Anda, lalu berharap bisa menyumbang dan sedekah untuk umat. Hanya saja, mereka berbeda. Jika Anda tinggal tekan tombol, mereka hanya mampu tekan hati dan jiwa. 

Di antara mereka yang bersedekah, ada yang sebenarnya sedang terhimpit hajat. Namun rela sisihkan sebagian untuk selainnya.
Di antara mereka yang bersedekah, ada yang cepat melupakan amalan yang mulia ini; karena saking gampangnya 'uang' baginya.

Maka sisihkan yang terpunya jika memang bisa; sebelum Anda menjadi seperti mereka yang ditakdirkan hanya mampu bermimpi dan berharap.

Biarpun Anda pernah merasakan tidur di atas tanah dan tidak enaknya, Anda tidak akan pernah benar-benar tepat merasakan rasanya sebagai tanah; karena memang Anda tidak pernah menjadi tanah.

Pula begitu Anda pernah merasakan tidur di pemukiman kumuh dan miskin, Anda tidak akan pernah benar-benar tepat merasakan rasanya sebagai mereka; karena memang Anda tidak pernah menjadi mereka.

Tapi, setidaknya, jika Anda pernah merasa benar seperti mereka, itu sebuah rasa yang mahal. Semua orang mengaku iba pada sandal dan lilin, namun iba mereka hampir semuanya sebatas pengakuan. Pengakuan itu murah, namun perasaan murni itu mahal.

Sunday, October 7, 2012

Buku Bajakan, Mahasiswa dan Pulsa

oleh Hasan Al-Jaizy

Mahasiswa tidak punya buku? Jadi mahosiswo sajo. Maka jadilah mahasiswa masa kini, biarpun tidak berprestasi, yang penting punya pulsa dan buku. Pulsa harus yang seminim-minim pengeluaran untuknya, namun semax-max penggunaan dengannya. Adapun buku, biar aspal [asli palsu: asli tulisannya, palsu cetakannya] yang penting ada dan 'gue-punya'. Jadi, masalah buat lo?

Fenomena bajak-membajak buku demi kebajikan dan kemaslahatan bersama itu sangat ada. Semakin subur beranjak sepadannya kesuburan artikel dan dokumentasi online. Faktor itu banyak. Salah satunya adalah keinginan keluar modal sedikit, namun bisa meraih intinya. Salah duanya adalah harga buku original yang kelihatannya sengaja 'dinaikkan' sehingga mahasiswa mengatakan 'eman-eman, gan...ada gak yang lebih murah dari Hit? Yang lebih aspal banyak!'.

Kita kupas satu-persatu faktor-faktor itu:

Tuesday, October 2, 2012

Gajian?

oleh Hasan Al-Jaizy

Bagi yang sudah berkeluarga, pihak yang pertama tertoleh dan terpedulikan adalah istri dan anak, kemudian orang tua. Atau sebaliknya. Disesuaikan dengan kondisi dan mana yang lebih berhajat.

Bagi yang belum menikah, tentu pihak pertama yang tertengok dan terpedulikan adalah orang tua; sebagaimana orang tuanya ketika mendapat rizki, pihak yang pertama terpedulikan adalah dia, sebagai anak.

Kelaziman tersebut kurang berlaku bagi dia yang pacaran atau berselingkuh, karena sila pertama adalah kepedulian terhadap pacar atau selingkuhan. Pacaran atau berselingkuh memudahkan seseorang untuk mendurhakai orang tua atau anak istri. Meskipun tidak selalu, namun jangan merasa aman dari ketidakselaluan yang negatif, wahai pelaku.

Sunday, September 30, 2012

1 Oktober 2012, Dua Lembar Pattimura Siap Dijadikan Tumbal

oleh Hasan Al-Jaizy

Dan saya harus bilang WOW atas keputusan PT KAI Commuter Line Jakarta yang menetapkan kenaikan harga karcis Kereta Commuter Line sebesar Rp. 2000 mulai 1 Oktober 2012. Kuantitas ditekankan untuk para penumpang, sementara kualitas tidak dinaikkan. 

Saya lebih harus bilang WOW lagi ketika seakan memang ada pengalihan pandangan. Apa itu? Isu Gender. Jadi, ada penetapan jadwal kereta khusus untuk Wanita. Kemarin hari sudah saya lihat pengumuman jadwalnya di Stasiun Pasar Minggu Baru. Ridiculous menurut saya.

Seakan-akan wanita adalah satu-satunya kaum yang 'disiksa' oleh PT KAI ketika terhimpit di sela-sela 'tumpukan hewan' dalam gerbong. Padahal di antara tumpukan tersebut, ada saya juga. Dan bukan sebuah kebetulan saya adalah pria. Pria pun ingin KENYAMANAN dan sesuatu yang SESUAI dengan harga. Jika harga karcis 6.000, maka jangan sampai para penumpang merasa dimasak di atas kompor, mendidih bermenit-menit disebabkan AC yang kualitasnya tak memadai. Percampurbauran keringat manusia, apakah tidak dilihat oleh mereka? Belum lagi nafas-nafas saling berpagutan. Dan unyu-unyu-nya, esok akan menjadi 8.000? Bijak sekali sungguh terlalu.

Suara saya takkan didengar. Karena tentu bapak-bapak tersebut sudah bulat keputusannya. Alasan bapak-bapak: "kenaikan tarif ini demi meningkatkan sarana dan prasarana transportasi kereta api yang ada saat ini."

Bukankah tahun 2011 kemarin sudah ada semacam kenaikan? Adakah peningkatan kualitas? I dunno. Kelihatannya justru seperti mencari sebab serta mencari alasan supaya tercapai kekayaannya.

Tapi, untuk sementara ini, saya percaya kok dengan kenaikan tarif dan ketentuan beberapa set kereta khusus untuk kaum hawa tidak akan menunjukkan dan tidak akan mencerminkan sebuah upaya untuk memanusiakan penumpang di jam pergi kerja dan jam pulang kerja. Memang, kadang penumpang bertingkah tidak manusiawi; tapi biasanya itu disebabkan ketidakberperikemanusiaannya bapak-bapak. You've got it!


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/446270722080985

Wednesday, September 26, 2012

Captain Pattimura di Tanggal Senja

oleh Hasan Al-Jaizy

Yaitu ketika 1000 rupiah masih ada harganya. Bagi mayoritas pekerja yang sedang mengundi peruntungan dan nasib, Captain Pattimura mewakili perasaan mereka. Kalau dahulu, jika uang kertas 500-an masih banyak ditemukan, Orang Utan menjadi wakil dari kondisi ekonomi. Sejak 1992 [uang kertas 500 bergambar Orang Utan tercetak] hingga diakhiri masa aktifnya di beberapa tahun lalu, Orang Utan yang santai nangkring itu menjadi teman curhat.

Di tanggal senja, Orang Utan terasa dekat sekali. Di tanggal fajar, ketika mayoritas pekerja sudah terima gaji, sebagian melupakan orang utan, namun sebagian lagi menziarahi Orang Utan di Kebun Binatang, sebagai ajang 'memperingati jasa orang utan di tanggal senja'.

Kini, setelah harga-harga naik, padahal kualitas pun tak naik, 500-an hanya untuk membeli 1 bulatan somay. Dan jika kita membeli hanya 1 biji, tukang somay akan mencibir. Mukanya tak secerah orang utan 500-an. Kini, Captain Pattimura masih berlaku dan exist. Mulai tanggal 1 Oktober nanti, tarif kereta AC Commuter Line dinaikkan senilai dua lembar muka Pattimura. Padahal, kualitas tidak didongkrak ke atas. Karena tak hanya sekali dua kali, justru naik kereta AC lebih panas dibanding naik kereta Ekonomi. Tanya kenapa? Kenapa harus bertanya?

Dan...Captain Pattimura di tanggal senja. Sebagian kita mungkin masih punya uang biru atau merah. Namun, sebagian mahasiswa sudah mulai terjulur lidahnya. Ada yang karena menunggu kiriman dari ortu di desa; ada pula yang menunggu dead time untuk menerima gaji, bagi yang bekerja dengan gaji per bulan. Ada yang tidak memikirkan masalah itu; entah karena pulang-pergi sudah dijamin bonyok [bokap-nyokap], atau memang dalam sebulan mereka dihujani uang saku berjuta-juta adanya.

Captain Pattimura, sahabat pedagang kecil, sahabat orang kere dan bidikan remeh orang gedongan.

Monday, September 24, 2012

Berdagang Herbal, Memangnya Rendahan?

oleh Hasan Al-Jaizy

Saya punya kenalan, seorang mahasiswa lulusan sebuah kampus ternama di negeri ini, berbicara mengenai kemajuan ekonomi masyarakat. Ada satu pemikiran darinya yang membuat saya harus membantahnya. Kira-kira begini kesimpulannya: "Kita harus membangun sektor perekonomian yang kuat agar bisa menyaingi kedigdayaan orang non-muslim. Yaitu dengan bisnis [trading/berniaga/berdagang atau semacamnya]. Tapi BUKAN dengan cara menjual HERBAL seperti mereka-mereka itu."

Kalimat terakhir tentu saya fahami mengarah ke mana atau ke siapa. Untuk saat ini, penjual herbal biasanya digambarkan di benak sebagai seorang berjenggot dan bercelana unik serta terkesan kurang 'maju'. Saya fikir, pemahaman anak ini agak sempit. Dan saya tengok rupanya anak ini memiliki latar belakang keluarga yang berpenghasilan tinggi. Ah, wajar pula ia berfikir begitu. Tapi, harus ada bantahannya [dan sudah kita bantah/nasihati baik2].

Sebelumnya, di kampus saya sendiri, ada beberapa mahasiswa yang mencari peruntungan rizki dengan cara

Friday, September 21, 2012

Tus-Tus-Tus...Jut-Jut-Jut...Mil-Mil-Mil...Bisnis Deh

oleh Hasan Al-Jaizy

Kalimat tersebut saya dengar dari lisan seorang aktor sebuah sinetron di SCTV tadi selepas Isya. Kebetulan melirik sedikit pada TV yang sedang on di rumah teman. Kalimat tersebut seharusnya menjadi sindiran yang super sarkastik bagi ustadz-ustadz komersil yang ilmunya hanya dibayar oleh uang ataupun pamor. Tidak cukup untuk ustadz, tapi untuk seluruh artis yang memainkan peran saleh ataupun bejat di film, yang konon dianggap sebagai dakwah dan berhikmah, namun sebenarnya bertujuan cari duit.

Bapak saya pernah menyimpulkan sebuah kesimpulan setelah melihat beberapa kejadian di bumi ini: 'Seorang yang awalnya idealis, ketika disuguhi duit, atau pamoritas, idealisme nya akan teruji dahsyat. Dan rata-rata akan terkikis.' Benar saja, mungkin sample seperti itu berkali-kali terlihat oleh mata kita. Seseorang yang dulunya keras dalam melawan arus, namun akhirnya lemas ejakulatif setelah ditodong oleh tuntutan uang dan kemasyhuran.

Uang dan Kemasyhuran 
Kenapa Uang? Karena kita membeli apa yang dibutuhkan atau yang tidak dibutuhkan dengan uang, meskipun dalam beberapa kondisi, kebahagiaan dan rasa sayang tidak akan bisa dibeli dengan uang. Dan sifat manusia umumnya tidak cepat puas. Jikalau ia puas, maka itu

Thursday, August 30, 2012

Mengapa Kau Harus Menoleh dan Mengasihi?

oleh Hasan Al-Jaizy

Sungguh beruntung hamba yang diberi kelebihan kekayaan harta. Kemana-mana ia percaya diri. Biarpun salah atau tidak mengerti, ia bisa mengatakan, 'Whatever. I have money.' Sekali ia ingin sesuatu, tinggal pencet tombol atau ambil kunci.

Ada sebuah keutamaan yang sering dilalaikan oleh yang bergelimang harta. Yaitu bahwa mereka bisa memanen pahala hingga hari di dunia berakhir, sehingga meskipun mereka sudah wafat, pahala terus mengalir.


Di antara pencari ilmu...

Di antara para pencari ilmu, ada yang hari-harinya terhujani oleh tangis sedih; karena hidup terhimpit tekanan ekonomi. 

Di antara mereka, ada yang rajin pergi ke perpustakaan, rajin membaca kitab, lalu sebelum beranjak keluar, ia sempatkan untuk mengendus bagian dalam kitab untuk merasakan aromanya, sembari berkhayal sedih andainya ia punya kitab itu. Lalu ia berjalan keluar sembari bergumam, 'Andainya aku punya harta cukup untuk membeli.'

Di antara mereka, ada yang tengah sibuk menata serpihan-serpihan atau pecahan harapan yang sebagiannya hancur; karena keluarga tak mampu membiayai sekolah/kuliahnya. Sementara asa dan cita dia membumbung tinggi, menunggu untuk dijemput.

Di antara mereka, ada yang sehari-hari keletihan naik sepeda, atau rela berjalan kaki jauh. Dia hanya mampu menunduk ketika di parkiran sekolah/kampusnya, berjejer motor atau bahkan mobil teman-temannya. 

Di antara mereka, ada yang selalu terpecah konsentrasinya. Satu sisi ingin mendalami ilmu, satu sisi ia tak habis berfikir karena terlilit utang dan kekurangan materi berlebih. Sementara zaman menuntutnya untuk menjadi orang yang 'berada'.


Maka Tengoklah dan Ibalah...

...wahai yang sehari-hari senang membeli....wahai yang setiap bulan selalu punya koleksi...

daripada Anda sibuk dengan khayalan untuk mendapat koleksi barang baru, cobalah diri untuk menyembuhkan rasa sedih dan menuntaskan khayalan mereka

daripada Anda habiskan karunia Rabb untuk kesenangan pribadi atau keluarga, sisihkanlah karunia itu demi kesenangan pribadi-pribadi yang murung dan sedih

daripada Anda terkekeh dan terbahak tiap hari sembari berkumpul bersama teman atau rekan di kafe atau restaurant, cobalah mengingat bahwa di ujung sana ada orang yang aliran air matanya seperti akar-akar melekat di pipi

daripada Anda mencari tanah kosong dan baru untuk digarap demi bisnis, lebih baik Anda mencari hati-hati kosong harapan akan terjadinya impian lalu Anda meraih tangan-tangan hampa dengan genggaman peduli

Bukan tidak mungkin kemalangan-kemalangan itu akan menimpa keturunan sepeninggal Anda,, karena sang kakek-nenek dahulu terkisah hidup tiada peduli pada yang malang.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/435201636521227