ORANG
berakal mengatur kehidupannya di dunia dengan akalnya. Jika ia miskin, ia akan
bersungguh-sungguh bekerja dan mencari uang agar ia tak terhina di mata
makhluk. Lalu ia pun mengurangi jumlah pengeluarannya dan memuaskan diri dengan
apa yang ada. Karena itu, ia pun hidup dalam keadaan terbebas dari budi orang
lain dan terhormat di tengah masyarakat. Sedang jika ia kaya, ia wajib mengatur
pengeluarannya, karena ia bisa saja jatuh miskin, lalu ia mesti menghinakan
diri kepada orang lain. Salah satu bentuk bencana adalah boros dan melampaui
batas dalam berbelanja karena ingin menghina musuk. Padahal, tindakannya ini
sejatinya justru bisa membuat musuh menyihirnya.
Seseorang
seyogyanya mengambil jalan tengah dalam segala situasi, serta menutupi sesuatu
yang tak layak diceritakan kepada orang lain.
Suatu
saat, seorang petugas yang memandikan jenazah menemukan uang yang banyak. Ia
lantas membelanjakannya sesuka hati. Ketika cerita penemuan uang itu diketahui
orang banyak, harta yang ada di tempatnya disita. Ia pun kembali menjadi tak
punya apa-apa.