Showing posts with label Hadits. Show all posts
Showing posts with label Hadits. Show all posts

Monday, July 15, 2013

Pembagian Ulama Umat dan Siapakah 'Ulil Amri'?

DAKWAH kepada Allah dan menyampaikan sunnah Rasul-nya merupakan syiar bagi golongan yang beruntung (para ulama) dan para pengikutnya, sebagaimana firman-Nya:

قُلْ هَٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ أَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِى ۖ وَسُبْحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ

"Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik"." [Q.S. Yusuf: 108]

Yakni mereka yang menyampaikan apa-apa yang datang dari Rasulullah berupa penyampaian kata-kata (dan maknanya), perbuatan dan ketetapan beliau. Berdasarkan hal itu, ulama dibagi menjadi 2 golongan:

[PERTAMA] = AHLI HADITS

Mereka adalah pemelihara hadits yang menjaga dan memelihara, serta mengamalkannnya. Mereka adalah para imam dan pemuka-pemuka agama Islam yang memelihara pondasi-pondasi agama dan ajarannya dari penyelewengan dan perubahan isinya. Mereka adalah golongan yang disebutkan Imam Ahmad dalam khutbahnya yang terkenal ketika membantah golongan Zindiq dan Jahmiyyah.

[KEDUA] = AHLI FIQH

Friday, February 1, 2013

500.000 --> 4.800 --> 4

oleh Hasan Al-Jaizy


"500.000 --> 4.800 --> 4"

Syu'aib bin Al-Asy'ats As-Sijistaany atau yang dikenal Abu Daud [w. 275 H] berkata:

"Aku telah menulis tentang Rasulullah -Shallallahu alaihi wa Sallam- 500.000 hadits, aku saripatikan dari kesemua itu menjadi apa yang terkandung di kitab ini (kitab Sunan) dan kukumpulkan di dalamnya 4.800 hadits. Aku menyebutkan hadits-hadits yang shahih, atau yang mendekatinya. Dan mencukupi bagi seorang manusia demi agamanya dari hadits-hadits tersebut 4 hadits:

[1] Hadits إنما الأعمال بالنيات : "Sesungguhnya amalan-amalan tergantung pada niat"

[2] Hadits مِنْ حُسنِ إسلام المرء تِركهُ ما لا يعنيه : "Sebagian tanda dari baiknya keislaman seseorang ialah ia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya."
 

Monday, January 28, 2013

Kenapa Mesti Fathul Bary dan Al-Umm?


oleh Hasan Al-Jaizy

Bukan sekali saya dapatkan beberapa kawan yang beraliran Ahlus Sunnah wal Jama'ah [ga pake disingkat] atau langsung saja saya sebut: Salafiyyuun, menuturkan bahwa kitab impian mereka adalah Fathul Bary karya Ibnu Hajar. Kalau tidak Fathul Bary, maka beralih ke kitab Al-Umm karya Asy-Syafi'i.

Yang sejujurnya, kok ketika diamati, kawan-kawan kita tersebut justru ga ngerti atau kurang faham manzilah, derajat atau seberapa keramatnya kedua karya agung itu. Tidak tahu persis apa isinya. Bukan berarti saya tahu persis. Tapi:

Fathul Bary itu berjumlah 15 jilid tebal-tebal. Di cetakan lain, ada pula sampai 17 jilid. Ada pula 13 jilid.

Al-Umm itu berjumlah 11 jilid tebal-tebal. 

Sementara, membaca Fathul Bary itu tidak semudah kita membaca Matan Abi Syuja' atau kitab Al-Mulakhkas Al-Fiqhy. Tidak se-simple kitab Al-Wajiiz karya Al-Badawy. Fathul Bary itu cukup rumit. Ilmu Hadits benar-benar terpasang di sana. Banyak Penjabaran riwayat ini dan itu. Ushul Fiqh juga masuk, karena yang namanya syarh nash wahyu ya sangat membutuhkan ilmu tersebut. Dan banyak lagi. 

Thursday, January 10, 2013

Cabang Ilmu Pengaruhi Kepribadian


oleh Hasan Al-Jaizy


Jalaluddin As-Suyuuthy [w. 911 H] adalah seorang alim besar berilmu besar berkarya besar dan sangat besar perhatiannya pada SEMUA cabang disiplin ilmu syar'i. Beliau juga memperhatikan perkara bahasa dan memiliki karya padanya. 

As-Suyuuthy, dalam fiqh, bermadzhab Syafi'iyyah. Di setiap jurusan atau cabang ilmu Syariat, dia pasti memiliki peran. Di sini kita contohkan dalam ilmu Hadits saja, beliau memiliki kitab Al-Jaami' Al-Kabiir, ada pula Al-Jaami' Ash-Shaghiir. Pula kitab Tadriib Ar-Rawy, yang jamak terdapat di rak-rak buku para pelajar ilmu Hadits. Kitab tersebut tercetak tak henti-henti. Syaikh Mazin Sarsaawy -hafidzahullah-, seorang doktor dan ahli hadits Mesir, beberapa tahun kemarin selesai men-tahqiq kitab ini. Sebelumnya sudah dilakukan Syaikh Abu Mu'ad Thariq Awadhullah, namun tahqiq beliau -dikabarkan- memiliki kekurangan sana-sini dan terkesan tergesa-gesa. Wallahu a'lam.

Syaikh Badraan Al-Iyaari -hafidzahullah-, dalam kajian dirasat ilmu Ushul At-Takhrij yang diselenggarakan oleh channel Majd di seri ke 2 mengatakan bahwa As-Suyuuthy, jika dibandingkan dengan As-Sakhaawy [w. 902 H] dalam ilmu Hadits, ia [Suyuthy] akan kalah.

Wednesday, January 9, 2013

SOLEH TAPI DIANGGAP DUSTA


oleh Hasan Al-Jaizy


Dalam ilmu Al-Jarh wa At-Ta'dil, ada sebuah kata yang digunakan untuk ta'dil persona atau perawi. Yaitu: aabid [عابد]. Jika dimaknai, ia bermakna hamba, atau orang yang ahli ibadah. Namun kata aabid ini ternyata tidak bisa menguatkan kredibilitas seorang perawi, tetap membutuhkan lafadz lainnya yang menguatkan, berkenaan dengan Dhabt, seperti Tsiqah, Hafidz atau Hujjah dan lainnya.

Dan ternyata tidak sedikit orang-orang soleh yang ahli ibadah, yang dilemahkan oleh para Ahlul Jarh wat Ta'dil. Contohnya: Abaan bin Abi Ayyasy, Abdullah bin Umar Al-Umary dan banyak lagi. Mereka ini orang-orang soleh, tetapi Yahya bin Sa'id berkata:

ما رأيت الصالحين أكذب منهم في الحديث

"Aku tak [pernah] melihat [ada] orang-orang saleh yang lebih berdusta dari mereka dalam hadits." [1]

An-Nawawi menjelaskan: "Karena mereka tidak begitu mengerti perkara Ahlul Hadits, maka terjadilah kesalahan dalam periwayatan mereka sedangkan mereka tidak mengetahuinya. Lalu mereka meriwayatkan kedustaan sedangkan mereka tidak mengetahui bahwa itu adalah kedustaan."[2] [3]

26 Shafar 1434
9 Januari 2013

Footnote:

[1] Al-Ilal wa Ma'rifah Ar-Rijaal, 2/448, no. 2989. Juga Muslim dalam Muqaddimah Shahih-nya, 1/17, dengan lafadz sedikit berbeda.

[2] Muqaddimah Ash-Shahih, 1/18


[3] Lihat: Mu'jam Mushthalahaat Al-Hadiits wa Uluumihi wa Asyhar Al-Mushannafaati Fiih, Dr. Muhammad Abu Laits Khair Abady, hal. 95

Thursday, November 8, 2012

RISALAH UNTUK THULLAB AL-ILM : [1] Muqaddimah

oleh Hasan Al-Jaizy

Kalau antum di dunia maya ini menyengajakan diri berkonsentrasi di bidang dakwah DAN pembantahan terhadap pihak-pihak penyimpang....
Kalau antum di dunia maya ini sengaja mempunyai blog kelolaan sendiri dan berbicara agama dengan dalil-dalil....
Kalau antum di dunia maya ini benar-benar ingin mengerahkan dakwah agama Islam pada manusia dengan kerahan besar...

maka konsekuensinya adalah:

Antum harus bisa bahasa Arab, minimal memahami bacaan.
Antum harus belajar Ushul Fiqh, TIDAK dengan kitab terjemahan.
Antum harus belajar Mustalah Hadits.

Kenapa banyak kawan-kawan yang tidak melapangkan dada dan mudah menyerang tetapi ketika dilawan justru tidak bisa menjelaskan? Tidak menghargai ijtihad pihak lain yang sebenarnya masih bisa dimaklumi dan diterima. Bahkan mengeluarkan jurus delete-remove atau langsung saja cap Ahlul Bida'!? Dan kadang malah dengan tidak beradabnya menampar seorang ustadz yang belajar berpuluh tahun dan mempelajari kitab2 tak terhitung!?

Jawabannya adalah:

--bersambung--


Tuesday, October 16, 2012

Beberapa Point

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point yang berupa sabda Al-Amiin -shallallahu alaihi wa sallam-:

[1] "Akan datang kepada manusia suatu zaman (ketika itu) seorang tidak lagi perduli dengan apa yang dia dapatkan, apakah dari yang halal atau haram?!" [H.R. Bukhary]

[2] "Sesungguhnya setiap umat mendapatkan fitnah dan fitnah umat ini adalah harta" [H.R. Tirmidzy]

[3] "Seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta; pasti ia menginginkan yang ketiga, sedangkan perut anak Adam tidaklah dipenuhi kecuali dengan tanah, dan Allah memberi taubat-Nya kepada yang bertaubat." [H.R. Bukhary dan Muslim]

[4] "Tidaklah dua ekor srigala yang lapar dilepas pada seekor kambing lebih merusak baginya dari ketamakan seorang terhadap harta dan kehormatan terhadap agamanya." [H.R. Tirmidzy dan Ahmad]

[5] "Sesungguhnya tidak berkembang daging yang tumbuh dari makanan yang haram kecuali Neraka yang lebih pantas baginya" [H.R. Tirmidzy]

[6] "Sesungguhnya banyak orang beraktifitas pada harta Allah dengan tidak benar maka mereka berhak mendapatkan neraka di hari kiamat" [H.R. Bukhary]

...credit to almanhaj.or.id dan Ust. Khalid Syamhudi, jazaahullahu khaira



Wednesday, October 3, 2012

Bagaimana Kau Berbicara Agama Dengan Dalil?

oleh Hasan Al-Jaizy

Semua dai berbicara agama. Entah dai menuju kebenaran atau kesesatan. Dan secara umum dai mendatangkan dalil penguat apa yang dibincangkan. Dalil adalah petunjuk, penguat, burhan ataupun tameng. 

Namun apakah semua dalil adalah dalil? Dan apakah semua hasil simpulan dari dalil adalah dalil yang berhasil? Tidak.

Adakalanya seorang dai berdalil namun ia tak tahu, salah atau bahkan sengaja menabur dalil dhaif untuk masalah halal haram atau aqidah. Adakalanya seseorang menabur dalil sahih, namun ia tidak tahu atau tidak mau tahu bagaimana ia bisa menyimpulkan hukum atau faedah dari dalil tersebut, sehingga ia mengambil cara pragmatis dan instan. You know what I mean?

Asasnya, dua asas inilah

Thursday, September 6, 2012

Lari Dari Fitnah

oleh Hasan Al-Jaizy

Sedari awal punya kitab Shahih Al-Bukhary yg harga 100.000, tulisannya kecil-kecil namun memuaskan, saya tak bisa lupakan hadits ini [ada di Kitab Iman dan lainnya]:

""Hampir saja bahwasanya sebaik-baik harta seorang Muslim itu ialah kambing yang diikutinya sampai ke puncak gunung serta tempat-tempat hujan -yaitu tempat-tempat yang banyak rumputnya-. Orang itu lari ke sana dengan membawa agamanya karena takut adanya beberapa macam fitnah.""

Kalimat terakhir yang sering terngiang. Why?

Setelah melihat kenyataan kita sekarang. Di mana-mana fitnah. Fitnah itu bisa berbentuk

Thursday, August 30, 2012

Kadzib - Muttaham Bil Kadzib

oleh Hasan Al-Jaizy

Kadzib - Muttaham Bil Kadzib

Kita kadang mendapatkan seorang perawi disifati sebagai 'kadzib' [pembohong], dan terkadang pula kita dapatkan ada perawi yang disifati 'muttaham bil kadzib' [tertuduh berdusta]

Syaikh Abdul Karim Al-Khudhair dalam syarh Ikhtishar Ulumil Hadiits menjelaskan bahwa ada perbedaan antara 'kadzib' dan 'muttaham bil kadzib'.

Jika seorang perawi disifati 'kadzib', berarti dia diketahui sebagai orang yang [pernah] berdusta dalam hadits Nabi.
Jika seorang perawi disifati 'muttaham bil kadzib', berarti ia diketahui [pernah] berdusta dalam percakapan biasa dengan manusia.

Selebihnya...wallahu a'lam


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/434718486569542

Tuesday, January 31, 2012

Masuk Surga Karena Membuang Duri

oleh Hasan Al-Jaizy

Rasùlullàh shallallàhu ‘alayhi wa sallam bersabda,

“Ada seseorang laki-laki yang melewati ranting berduri berada di tengah jalan. Ia mengatakan, ‘Demi Allàh, aku akan menyingkirkan duri ini dari kaum muslimin sehingga mereka tidak akan terganggu dengannya.

’ Maka Allàh pun memasukkannya ke dalam syurga.”

Dalam riwayat lain, juga dari sahabat Abu Hurairah radhiallàhu ‘anhudari Nabi shallallàhu ‘alayhi wa sallam, beliau bersabda,

“Sungguh, aku telah melihat seorang laki-laki yang tengah menikmati kenikmatan di syurga disebabkan ia memotong duri yang berada di tengah jalan, yang duri itu mengganggu kaum muslimin.”





Perlu dimaknai lebih tentang kata 'DURI' di hadits tersebut.

Karena imaatathul adza adalah memungut duri [kemudian membuangnya], dan ADZA memiliki unsur makna 'menyakiti/mengganggu'.

Dari makna tersebut, kita bisa simpulkan bahwa menyingkirkan segala sesuatu yang menyakiti/mengganggu kaum muslimin dari jalan adalah bagian dari iman dan bisa menjadi salah satu SEBAB pelakunya MASUK SYURGA. Amalah kecil dengan ganjaran besar.





Salah satu kehebatan Nabi adalah 'jawaami'ul kalim', yaitu mampu menuai banyak makna tersirat dalam kalimat singkat yang tersurat. Sehingga dari ribuan hadits, bisa terhampar jutaan faedah. 

Kita perhatikan kembali teks hadits: الأذى yang zahirnya kebanyakan diterjemahkan sebagai 'duri'.

Indonesia: DURI. Duri bisa bermakna fisik, maupun maknawi terkias. Jika bermakna fisik, maka jelas itu adalah duri tajam yang memberikan bahaya relatif. Jika bermakna kias, maka bermacam-macam, bisa saja 'duri' ditafsirkan sebagai rintangan apapun bentuknya di jalan. Batu-batu, kerusakan jalan dan sebagainya, itu semua bisa dikiaskan sebagai duri di jalan; karena bisa menjadi penghalang dan relatif membahayakan. Juga ada makna duri yang non-fisik, seperti duri kehidupan, melayu-nya: onak. Duri ini bisa bermakna fitnah, dugaan, cobaan, prahara dsb.

Arabic: ADZA [الأذى ] juga bisa bermakna fisik, pun maknawi. Bahkan dasarnya di kamus, Adza bermakna 'bahaya ringan atau sesuatu yang merugikan/menyakitkan'. 

Untuk bermakna fisik: apapun yang merintangi dan membahayakan jalan, seperti duri, paku, beling, batu, kerusakan jalan dll. 

Untuk bermaknan non-fisik: fitnah, celaan, cercaan, hinaan dll. Seperti dalam hadits Nabi:

من كان يؤمن بالله واليوم الاخر فلا يؤذي جاره

"Barangsiapa yang beriman pada Allah dan Hari Akhir maka janganlah ia MENYAKITI [YU'DZII] tetangganya"





Nah, berangkat dari tinjauan bahasa di atas, kita bisa fahami bahwa hadits tersebut tidak membatasi rintangan jalan pada 'duri' saja, tetapi pada apapun bentuknya rintangan yang membahayakan/menyakitkan bagi pengguna jalan.

Kemudian, kita bedah pula maksud dari kalimat hadits: "sehingga mereka tidak akan terganggu dengannya"

Itu bisa difahami sebagai SYARAT dalam niat/tujuan penyingkiran duri.

Jika menyingkirkan duri tanpa ada niatan, maka ini tidak termasuk amal. Namun jika terniat agar pengguna jalan tak terganggu dengan duri tersebut, maka ini termasuk amal. Dan amal baik [ibadah] adalah bentuk keimanan. Karena iman tidak sebatas keyakinan, namun juga mencakup juluran lidah dan laku anggota tubuh.





Kemudian, ketika kita dapati bahwa imaathatul adza [memungut duri] adalah perbuatan yang kecil dan tingkat keimanan terbawah, kita simpulkan bahwa:

"Apapun bentuk amalan dan ukurannya, selama ia adalah ibadah, maka ia adalah bagian dari iman [syu'bah minal iimaan]"

Wallahu a'lam





Saturday, December 31, 2011

Terompet

oleh Hasan Al-Jaizy

Suatu ketika Rasulullah pernah ditanya mengenai terompet, maka beliau pun menjawab:

هو من أمر اليهود

"Itu [terompet] adalah perkara/perbuatan Yahudi"

Meniup terompet tidak diperbolehkan dalam Islam; terlebih di perayaan yang cenderung diadakan oleh orang2 non-muslim. Ini menurut banyak para ulama berdasarkan hadits di atas. 

Jika meniupnya saja dihukumi haram, apalagi menjualnya!? Menjualnya juga haram, karena menjual barang haram. Dan siapapun yang menjual barang yang dikenal haram, maka hasil dari penjualan adalah haram. Dan hasil haram bukanlah rizki yang halal.

Dan hasil haram takkan menjadikan berkah. Jika tidak berkah, maka tidak bahagia. Dan itulah yang semakin banyak terjadi kini.

Namun semoga Allah memaafkan para pedagang karena mungkin mereka tidak tahu hukumnya. Hanya saja, kadang-kadang kita pura-pura tidak tahu hukum dan berusaha menjadi 'moderat'. Dan jikalau manusia sudah menganggap kita moderat dalam hal-hal yang haram, maka Sang Pencipta manusia sebaliknya.

Dan kita tetap mendoakan diri masing2 dan juga kaum muslimin, karena bagaimanapun pertalian saudara keimanan itu sangat agung, terlepas dari perbedaan-perbedaan. Semoga pula keluarga2 muslim diberi kebahagiaan tidak dengan cara haram; dan diberi hidayah selalu. Allahumma aamiin.

http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/301582706549788

Tuesday, December 27, 2011

Apa Itu Ukuran Kekayaan?

oleh Hasan Al-Jaizy

Kekayaan

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

"Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup" [H.R. Bukhari dan Muslim


Faedah:

--> Dasarnya sesuatu yang maknawi lebih berarti dari materi
--> Dunia tak selalu memberikan kecukupan rasa di hati
--> Kekayaan iman di hati, tak selalu tercermin di gelimang materi
--> Dunia tak sebesar atau semahal rasa di hati
--> Silahkan sebarkan/copas hadits dan faedah status ini


 Yang paling tampak miskin...

Orang yang paling tampak miskin adalah yang tak henti mengejar dunia selagi lidahnya terjulur bagai anjing kehausan sedangkan dunia tak berikan apa-apa kecuali fana.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/299369086771150

Friday, December 23, 2011

Diam-diam Mencintai

oleh Hasan Al-Jaizy

Beristighfar dan juga meminta maghfirah/ampunan bagi saudara seimanmu secara sembunyi, adalah bentu cintamu pada diri sendiri dan juga saudara seimanmu.

Ingat pula hadits ini:

لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه

"Tidak [sempurna] keimanan seorang dari kalian, hingga ia mencintai untuk temannya apa yang ia sukai bagi dirinya." [H.R. Bukhari]

Wajh Dilaalah:

Jika seorang mukmin senang dan berharap untuk diampuni oleh Allah, maka kesempurnaan imannya menjadikan ia juga senang dan berharap saudaranya diampuni oleh Allah.

Ini adalah salah satu bentuk kecintaan tertinggi seorang mukmin terhadap saudaranya; dan bentuk kesempurnaan iman.

Contoh lain:

[1] Jika seorang mukmin senang dan memiliki ilmu bermanfaat, maka kesempurnaan imannya menjadikan ia juga senang dan berharap saudaranya memiliki ilmu tersebut, sehingga ia tak berpelit dengannya.

[2] Jika seorang mukmin senang dan mendapat rizki yang begitu besar, maka kesempurnaan imannya menjadikan ia juga senang dan berharap saudaranya mendapatkan dan merasakannya. Salah satu caranya adalah dengan bersedekah.

http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/296823123692413

Tuesday, December 20, 2011

Jangan Lupakan Hadits Ini!

oleh Hasan Al-Jaizy

Jangan lupakan hadits ini:

لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه

"Tidaklah beriman/sempurna keimanan seseorang dari kalian sehingga dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri". [H.R. Bukhari]

Ranting-ranting makna terfaham:

--> Jika terpunyai ilmu bermanfaat dalam diri, jangan segan tuk sebarkan selama dalam kebaikan.
--> Jika terpunyai harta lebih, jangan segan tuk sedekahkan selama ada kesempatan
--> Jika termiliki apapun yang bermanfaat, jangan bosan tuk berbagi pada yang juga membutuhkan.

Jika asamu adalah gerbang surga terbuka kelak, maka ingatlah surga tak ditempati kecuali oleh mu'miniin yang suka berbagi...dan bagaimana layak jika seorang kikir disebut beriman?

http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/295692233805502

Tuesday, December 6, 2011

Tangan Kanan Tak Terketahui Tangan Kiri

oleh Hasan Al-Jaizy

Tentang sedekah tangan kanan tak terketahui tangan kiri

"Adalah sebuah keutamaan: Menyembunyikan sedekah; karena ia menjaga diri dari faktor-faktor RIYA'; KECUALI jika dia ketahui bahwa dengan menzahirkan sedekahnya, itu akan bisa membuat manusia terdorong untuk mengikuti amalnya [bersedekah]"

[sebuah faedah dari kitab Subulus Salam]


Tak tercela pula jika dikiaskan dengan beberapa amal kebaikan.

Ulama salaf menganjurkan, "Sembunyikanlah amal baikmu sebagaimana kau sembunyikan amal burukmu", agar neraca keikhlasan tak tergoyahkan. 

Tapi, jika sebuah amal kebaikan yang jika kita zahirkan depan manusia dapat menjadi motivasi, contoh dan panduan orang lain untuk melakukannya, maka justru menzahirkan lebih baik dari menyembunyikan amalan.


Beberapa contoh yang insya Allah bisa dijadikan kiasan:

--> Seorang Imam melakukan shalat sunnah di mushalla/masjid. Shalat sunnah rawatib awalnya disunnahkan di rumah, bukan? Tapi ketika sang imam [yang terpandang] melakukannya di masjid, akan dilihat banyak orang dan diikuti. Maka pahala bisa berlipat insya Allah.

--> Status FB juga terkadang bisa dimasukkan dalam bab amar ma'ruf nahi munkar; meskipun bagi sebagian orang hal ini diremehkan

--> Baju koko, baju takwa, sarung dan peci. Betapa banyak orang yang tadinya enggan shalat, justru ketika mereka melihat Anda memakai baju takwa [maknawi dan materi], mereka merasa malu dan akhirnya mengikuti Anda....!?

Wallahu a'lam


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/287756244599101

Friday, November 11, 2011

Amalan Dilipatgandakan!!!

oleh Hasan Al-Jaizy

Faedah yang berfaedah:

إِذَا أَحْسَنَ أَحَدُكُمْ إِسْلَامَهُ فَكُلُّ حَسَنَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ لَهُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ وَكُلُّ سَيِّئَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ لَهُ بِمِثْلِهَا

"Jika salah seorang dari kalian telah memperindah/memperbagus Islamnya, maka setiap kebaikan yang diamalkannya akan dicatat baginya dengan sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus lipat. Dan setiap kejelekan yang ia kerjakan akan dicatat baginya satu kejelekan semisalnya".

[H.R. Bukhari-Muslim]


 Ibnu Rajab Al-Hanbaly rahimahullah berkata tentang hadits di atas :

"Pelipatgandaan kebaikan dengan sepuluh kali lipat pasti terjadi. Sedangkan tambahan yang lebih dari itu tergantung pada kebaikan nilai Islam seseorang, dan keikhlasan niatnya, serta urgensi dan keutamaan amalan tersebut"

[Kitab Jaami'ul Uluum wal Hikam karya Ibnu Rajab rahimahullah]


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/274497159258343

Semakin-makin

oleh Hasan Al-Jaizy

Semakin zaman membentangkan tangannya
dan semakin jauh manusia dari lingkaran risalah Islam, 
maka ... semakin keringlah mereka akan ilmu
dan semakin terkurunglah mereka dalam kabut ketidaktahuan


Tidaklah beliau -shallallahu alaihi wa sallam- berkata, kecuali itulah yang benar:

من يعش منكم؛ فسيرى اختلافا كثيرا 

"Siapa yang hidup setelah kalian [para sahabat], maka ia akan melihat perselisihan yang banyak"

[H.R. Abu Daud dan Tirmidzy]


Setidaknya kini...

Mari berusaha hayati risalah Ilahi 
Karena hidup hanya sekali
Biar pahit letih sebelum mati
tapi surga itu dikabarkan abadi

Jangan seperti yang tertipu
lengah lalai habiskan waktu
dan ketika ajal tiba, usia tersapu
tinggal sesal...tak ada waktu mengadu


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/274482272593165