Showing posts with label Kisah. Show all posts
Showing posts with label Kisah. Show all posts

Monday, January 28, 2013

Islamic Book Fair 2012 = Kuburan Keramat II


oleh Hasan Al-Jaizy

Islamic Book Fair 2012 = Kuburan Keramat II

Hari itu, semua teman sekelas saya terlihat ceria sekali. Dari yang biasa tidur di kelas, menjelang jam pembagian uang, ia tegak dan sigap. Jangan-jangan itu saya sendiri. Kita pun ke maktabah [perpustakaan], tempat di mana pesangon 2 juta itu dibagi-bagi.

Dan entah siang itu atau esoknya, tapi sepertinya siang itu juga, saya berencana ke IBF. Sebelumnya, saya mencari teman perjalanan yang juga berencana mau ke sana siang itu. Ternyata sahabat saya yang master hurup F dan P ini berencana sama. Kalau begitu, siang ini kita akan berdua ke IBF. Sebelumnya, saya harus mengunjungi rumah kosnya terlebih dahulu. Kita makan bareng di sana.

Maka, pergilah kita berdua. Naik Busway. 

Maka, sampailah kita berdua. Turun Busway.

Maka, berjalanlah kita berdua. Menjauhi Shelter Busway.

Maka, sampailah kita berdua. 

Pengunjungnya banyak juga. Kita berdua keliling-keliling. Sahabat saya ini rupanya selain mencari beberapa kitab Arab, ia mencari beberapa kitab terjemahan bidang Aqidah/Tauhid buat kurikulum di sekolah yang dahulu ia belajar di sana. Dia sudah menjadi 'tokoh' kecil di daerahnya. 

Islamic Book Fair 2012 = Kuburan Keramat I

oleh Hasan Al-Jaizy


Islamic Book Fair 2012 = Kuburan Keramat I

Seorang sahabat saya, sekelas di kampus, berasa dari Sunda, beberapa minggu yang lalu menanyakan sesuatu pada saya. Pertanyaan itu yang kembali menguak memori masa silam di tahun 2012. Kenangan berharga, yang ingin saya ceritakan di sini. Bukan bermaksud merendah atau berbangga. Tetapi, kenangan ini spesial sekali untuk saya.

Pertanyaan sahabat saya adalah, "Gimana Maret nanti, mau ke Book Fair bareng lagi ga?"

Saya terkejut dengan pertanyaan itu. Karena sudah lama tak mengingat IBF. Tentu saja saya berharap bisa datang ke event penting -bagi saya- itu. Bukan sekedar datang, namun mengais kitab-kitab yang lama saya idamkan. Itu pun kalau punya duit. :hammer

Brrr...selepas pertanyaan itu, saya termangu. Mengingat kenangan spesial. Sesuatu yang amat berharga.

Begini ceritanya:

Saturday, January 12, 2013

Cerita Pendek Kenangan Masa Itu

oleh Hasan Al-Jaizy


2005 dulu, ada seorang murid bernama Zubaidah. Ia dijuluki Benyet. Umurnya kisaran 14 kala itu. Mungkin kelahiran 1991. Ia adalah anak Dayak. Keluarganya penganut Kristen. Ia, bersama adiknya yang lugu namun nakal, masuk Islam. 

Keduanya tinggal bersama kami, di Pondok pelosok Parit Sembin, Kalbar. 

Zubaidah, suatu hari dalam masa haid, berkata kepada Bu Ina, pengasuh asrama putri, yang terbuat dari kayu dipenuhi anak-anak miskin dan yatim piatu, "Bu Ina, aku kangen membaca Al-Qur'an."

*******

Masih 2005, ada seorang murid putri bernama Hosna. Ia pelajar berusia 14 tahunan. Anak Madura. Bersekolah di pondok kami, namun tidak tinggal di asrama. Ia pulang balik tiap hari ke rumah. Letaknya beberapa kilo. Perlu lewati beberapa hutan karet. Yang jikalau saya bayangkan gadis-gadis kota ini bernasib seperti dia, mungkin celana-celana akan cepat basah.

Sunday, January 6, 2013

YAHUDI, PERGURUAN HIJAU DAN PENOLAK KEBENARAN!!!


oleh Hasan Al-Jaizy


Sebelum meneruskan membaca tulisan ini, penulis menghimbau pembacanya agar berusaha melapangkan dada. Selain itu, penulis juga menganjurkan agar pembaca tidak berpura-pura berlapang dada, yakni: 'ngakunya' berlapang dada namun rupanya ada kesumat mendendam di dalamnya.

Abdullah bin Salaam dikenal dahulu sebelum keislamannya sebagai seorang tokoh dan alim Yahudi. Ia mengenal tepat kitab yang disucikan oleh kaum Yahudi. Ia mengenal tepat sifat dan zaman kemunculan Nabi terakhir dalam agama Tauhid.

Diceritakan oleh Muhammad bin Ishaq, bahwa beliau telah diceritakan oleh keluarga Abdullah bin Salaam perihal dirinya dan keislamannya. Ia [Abdullah bin Salam] pernah mengakui, "Ketika aku mendengar tentang Rasulullah -Shallallahu alaihi wa Sallam-, aku sudah mengetahui namanya, sifatnya dan zamannya [1]."

Wednesday, January 2, 2013

"Aqil Ahli Andalus"


oleh Hasan Al-Jaizy

Diriwayatkan ada seorang bernama Yahya bin Yahya melakukan safar untuk mencari ilmu menuju kediaman Imam Malik. Dan ia (Yahya) saat itu masih kecil. Lalu ia pun mendengarkan Imam Malik hingga memahami banyak perkara agama. Imam Malik kagum akan kepribadian dan kepintaran Yahya. 

Diriwayatkan suatu hari Imam Malik sedang duduk bersama beberapa temannya di suatu majelis. Lalu ada seseorang berkata, "Hey, ada gajah!" Maka, kawan-kawan Imam Malik pun keluar untuk melihatnya. Kecuali Yahya, ia tetap terduduk di tempatnya.

Imam Malik bertanya padanya, "Kamu tidak [ikut] melihat gajah itu? Gajah tidak ada di Andalus!"

Maka Yahya berkata pada beliau, "Aku datang ke sini jauh dari negeriku untuk melihatmu, belajar dari ilmumu, dan aku bukan datang untuk melihat gajah."

Seketika Imam Malik takjub dengan jawabannya. Beliau pun menjulukinya:

عاقل أهل الأندلس

********

Tamparan untuk kita.

Kita datang ke sana dari rumah untuk trend, sembari menikmati wajah penceramah.

Kita datang ke sana dari rumah untuk diketahui bahwa kita ce-esan.

Kita datang ke sana dari rumah agar jumlah dan hitungan absensi nama kita tak melebihi batas yang ditentukan manajer akademik.

Kita datang ke sana dari rumah agar melihat teman-teman, bisa ngumpul atau bisa kopdar.

Kita datang ke sana berharap menyimak sang ustadz mengomentari kejadian-kejadian terbaru, fitnah teranyar dan pembahasan tentang kelompok lain.

Kita datang ke sana karena apalagi............................?

Kita banyak-banyak bicara kita harus menimba ilmu dan mengamalkannya, dan ternyata.....

kita tidak seperti Aqil Ahli Andalus, kita seolah Aqil Akal Bulus.

Tuesday, December 18, 2012

CAT : [42] "CERITA PERJALANAN MENUJU TAMAN MINI"


oleh Hasan Al-Jaizy


Ini adalah cerita NYATA yang terjadi hari Ahad kemarin. Tatkala saya dan adik saya berangkat pergi menuju ke Taman Mini. Niat awalnya adalah berdagang. Niat akhirnya adalah cari duit. Tidak ada niatan lain.

Ini adalah bukti NYATA bahwa ucapan orang tua, biarpun tidak serius, bisa jadi 'sesuatu' yang NYATA terjadi.

Saya dan adik saya berangkat jam 9 pagi. Adik saya memakai motor. Saya di belakangnya sambil membawa 'bakul' berisikan pepes karya emak saya, seorang emak-emak paling emak-emak dari emak-emak yang pernah saya lihat di bumi ini.

Saya membawa uang sekitar 60 ribuan. Adik saya beberapa puluh ribu terbawa olehnya. Sebelum saya keluar rumah, saya sempat ribet sendiri memakai sarung di kamar. Emak saya seperempat teriak dari bawah, "Cepetan ente, gan! Entar nyampe sana jam 12 [baca: DUA BELAS] lho!"

Dalam hati, saya bergumam sambil tergesa menata yang seharusnya ditata, 'Ah, masak segitunya perjalanan sampai 3 jam!?' Lalu kami berdua [saya dan adik] pun cabut. Serrrr!

Monday, December 10, 2012

SALATIGA, SELALU DALAM KENANGAN : [9] "Majlas" (2)

oleh Hasan Al-Jaizy


Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, bahwa makanan afdhal untuk majlas di pondok kami adalah keripik kartini. Tidak masalah jika itu bukan keripik kartini. Boleh kripik Kembangsari atau Salatiga dll. Yang penting murah meriah. Dan cukup lama habisnya. 

Untuk majlas, biasanya santri-santri urunan/patungan. Lalu salah satu atau beberapanya pergi ke warung membeli semua makanan dan minuman. Kembali ke tempat majlas, makanan digelar biasanya dengan cara menumpahkan kripik ke lantai.

Topik Majlas

Topik majlas macam-macam dan apapun semaunya, selama bukan topik pelajaran di kelas atau muhadharah. Makanya, majlas dengan

Tuesday, November 6, 2012

HIDUPMU INSPIRASIMU : [3] "Rumput Takkan Tumbuh Kala Derasnya Hujan"

oleh Hasan Al-Jaizy

Di sebuah desa, ada seorang guru ngaji yang miskin. Perekonomiannya hanya bersandar pada warung kecilnya yang sehari-hari ia bergantian dengan istrinya menjaga. Hanya itu yang ia andalkan tuk penuhi kebutuhan keluarganya. Aktivitasnya hanyalah menjadi guru ngaji selepas ashar dan maghrib.

Ia mengajar di TPA desanya. Lokasi mengajarnya di mushalla desa. Ia ajari anak-anak kecil cara bersuci, seperti wudhu, tayammum, shalat dan puasa. Dan tentu saja anak-anak diajari membaca Al-Qur'an. Itu semua adalah ilmu warisan kyai-nya yang sudah lama wafat. Dulu, sang kyai berwasiat padanya secara khusus, "Kamu harus tetap tegakkan agama dan ajarkan apa yang aku ajar di desa ini. Ajarkan anak-anak. Teman-temanmu berguguran dan berlari ke kota mencari dunia. Tapi, pesanku untukmu, carilah akhirat dengan mengajar anak-anak, kelak insya Allah pada masanya Allah akan membuatmu kaya...lebih kaya dari teman-temanmu yang meninggalkanmu sendiri mengajar di desa ini."

Guru ini pun benar-benar mengingat dan

Wednesday, October 31, 2012

SALATIGA, SELALU DALAM KENANGAN : [5] "Sepak Takraw"


oleh Hasan Al-Jaizy

"Sepak Takraw adalah jenis olahraga campuran dari sepak bola dan bola voli, dimainkan di lapangan ganda bulu tangkis, dan pemain tidak boleh menyentuh bola dengan tangan." [Wikipedia]

Benar sekali. Di pondok ada lapangan khusus voli, yang setengahnya masuk ke area lapangan sepakbola. Sepakbola + voli = takraw. Namun, kami tidak punya lahan khusus takraw. Akhirnya jadilah lapangan bulu tangkis sebagai lahan bermain takraw.

Saya mengenal takraw di pondok ini. Di masa calon siswa baru, saya suka menikmati pertandingan sepak takraw. Tepatnya menonton di pinggir lapangan bulu tangkis, di depan kamar tidur calon santri baru. Saya teringat seorang santri bernama Siradjuddin, senior jauh, lulusan SMA/I'dad Mu'alimin tahun 1999. Beliau seangkatan bersama Ust. Rijal Yuliar Putananda, Ust. Agung Wahyu Adi dan lainnya. Beliau berasal dari Bogor.

Yang membuat saya teringat akan beliau adalah kaosnya. Sore itu ia memakai kaos Bologna, sebuah klub papan tengah Serie A Italia. Baju Bologna mirip Barcelona. Merah-biru. Bertuliskan di depan: Granarolo. Bologna adalah tim jagoan teman saya di SDIT dulu. Namanya Farhan Islami, adiknya teman sekelas saya. Di bagian belakang tertera nama 'Signori'. Wah, Giuseppe Signori ketika itu adalah salah satu pemain masyhur dari Italia. Terkenal akan kaki kirinya yang tajam. Tajam di klubnya [Bologna], namun kurang tajam di timnas Italia. Ciri khasnya adalah menendang penalti hanya dengan satu langkah.

Yang juga menarik perhatian saya adalah seorang santri lama bertubuh kecil dari Semarang. Namanya Abdurrahman Al-Ghifari. Suaranya selaras dengan ukuran tubuhnya. Lumayan cempreng. Dia sering sekali saya lihat menjadi wasit. Saat saya sudah menjadi santri beneran, dia suka meledek-ledek. Tapi, ledekannya itu adalah candaan ala Tengaran. Oh ya, sebenarnya anak-anak Tengaran suka sekali melucu [ketika di pondok]. Serius dikit, tapi lucunya banyak. Akan dikupas kapan-kapan insya Allah.

Terkadang kita dapatkan santri-santri bermain takraw memakai sarung; sehingga ketika menendang tinggi, mereka harus memegang sarungnya. Mau lari-lari mengejar bola malah ribet sendiri. Atau ada yang memakai peci/kopiah; sehingga ketika bola di atas dan harus menyundul, mulut mereka menganga lalu des. Menyundul. Peci dan bola sama-sama terbang. Bayangkan saja sendiri.

Ketika saya masih SMP, sepak takraw sangat populer. Namun, kemudian pamoritas takraw terkikis di era 2002 ke sininya lagi. Ketika saya masih kelas 1 SMP, santri-santri kelas 3 SMA [3 Mua'limin] mempopulerkan sepak takraw di kelasnya. Tapi, yang ini unik. Karena bukan memakai bola takraw, melainkan kok untuk badminton. Jadi, mereka bermain di kelas. Mengatur meja-meja kelas. Tanpa modal jaring, namun jaring bisa diganti dengan deretan kursi-kursi atau sekadar taruh sapu panjang di antara dua meja. Mereka bermain itu dengan asyiknya. Dan banyak di antara kami, anak-anak SMP meniru-niru kemudian.

Di antara pemain takraw pondok masa lalu adalah Yasir Abdul Hakim atau Achink [Jakarta, lulusan 2000], Kudus [Balikpapan], Aso [Makkah-sar], Fathullah atau Atul [Sinjai Sulsel, lulusan 2004], Muhammad Haekal Aula [Pontianak, lulusan 2000], Abdurrahman Hamzah [Balikpapan, lulusan 2001], Muhammad Kholis [Balikpapan, lulusan 2002] dan sebenarnya masih banyak lagi.

Di zaman saya SMA/Mu'alimiin, sepak takraw sudah redup. Bulutangkis masih populer. Juga voli tak senyaring dulu lagi suara dentuman bolanya.

http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/457768877597836

SALATIGA, SELALU DALAM KENANGAN : [4] "Mas Boy, Dai Teladan"


oleh Hasan Al-Jaizy

Status ini adalah episode selanjutnya tentang Mas Boy. Ada cerita yang bertahun-tahun terkubur tak tersiar di telinga manusia tentang perjalanan dakwah Mas Boy yang one in a million. Jarang ditemukan orang seperti beliau. Rela berkorban, ikhlas dan diridhai manusia.

Saya pribadi 'menganjurkan' pembaca, jika bisa men-share cerita ini, agar tidak berat hati untuk men-share nya. Jika bisa meng-copas nya ke blog atau apapun wadahnya, agar ringan hati untuk men-share-nya. Dan saya meminta para pembaca, jika sedianya ada yang bisa ditiru dari beliau dari metode atau inspirasi, maka MOHON DOAKAN beliau. Semoga Allah meninggikan derajat beliau. Tulisan ini dibuat tanpa sepengetahuan beliau sama sekali. Dan mungkin beliau sudah lupa akan penulis ini.

MAS BOY, DAI TELADAN YANG TERKENANG

Tahun 2000, Mas Boy dikirim oleh pondok saya untuk mengabdi di MTS Al-Irsyad desa Wonosari, Kabupaten Ngawi. Letaknya di kaki Gunung Lawu. Di pondok saya, tiap santri yang lulus akan kena jatah mengabdi, yaitu menjadi dai. Disebar atau dikirim ke pondok-pondok atau daerah-daerah untuk mengajar apapun yang dibutuhkan di sana. Namun,

SALATIGA, SELALU DALAM KENANGAN : [3] "Mas Boy"


oleh Hasan Al-Jaizy

Para calon santri baru gelombang pertama, harus tinggal di dalam pondok berhari-hari. Hampir seminggu. Syukurlah, mudahnya little Hasan bergaul pada manusia semenjak masih es de, menjadikan ia mudah mendapat teman-teman baru. Tanpa harus canggung dan main gunung es dulu. 

Kami, para calon santri baru, ditempatkan di sebuah ruangan yang normalnya atau aslinya adalah kelas ITQ [sebuah jenjang untuk anak SD yang dipesantrenkan]. Ruangan itu terletak di depan pondok, dekat dengan pos satpam dan gerbangnya. Ia juga berada di depan lapangan bola takraw. Lapangan itu bisa dijadikan tempat bermain takraw. Bisa pula tempat bermain badminton. Kadang, malah bisa dijadikan tempat bermain bola [dengan bola plastik]. Jadi, flexible...connected to anyone's will.

Mas Boy, adalah seorang pria Jawa berperawakan tinggi. Usianya ketika itu di atas 20, menurut perkiraan penulis. Beliau adalah orang pertama yang kami [calon santri baru] kenal. Ramahnya

...dan Orang-orang Tua Pun Menangis III


oleh Hasan Al-Jaizy


4

Ada seorang ayah yang hidup tak berkecukupan dan terlilit hutang. Ia hanya memiliki harta hayati, yaitu seorang anak laki-laki. Keduanya tinggal serumah dan tiada siapa-siapa lagi. 

Suatu hari, terdengar suara gedoran dari pintu depan. Sang putra pun bukakan pintu menjawabnya. Tiba-tiba, penggedor itu, seorang laki-laki, mendorong pintu dan langsung merasuk ke rumah tanpa salam ataupun penghormatan wajar. Lalu menghampiri sang ayah dan memegang kerahnya keras-keras.

"Bayarlah hutang-hutangmu. Tidak malukah engkau!? Aku sudah menunggu di luar batas kewajaran! Habis sudah kesabaran! Apa kamu sedang menunggu apa yang akan aku perbuat padamu???"

...dan Orang-orang Tua Pun Menangis II


oleh Hasan Al-Jaizy


3

Tentang seorang remaja berumur 18 tahun. Baru lulus sekolah rupanya. Sedari kecil tak dididik benar-benar meski dirawat benar-benar. Ia tinggal serumah seatap dengan kedua orang tua kandungnya di daerah seberang Volvo, dekat Kalibata. Ibunya, yang dahulu berletih penuh sejarah payah selama berbulan mengandung, sekian menit melahirkan, dan berpeluh tahun mengasihi, adalah seorang pekerja di sebuah rumah sakit daerah Salemba, Jakarta. Sementara bapaknya adalah teman lama ibu saya. Bapaknya bekerja sehari-hari menjadi tukang ojek.

Bukanlah keluarga kecil itu keluarga bergelimang rupiah dan benda diharta. Namun, serasa rumah hanyalah tempat singgah bermalam. Seakan ia adalah penginapan untuk satu keluarga. Pagi hingga menjelang matahari tutup umur hari, tiap penginap [ayah-ibu-anak] keluar rumah. Sibuk dengan kesibukan masing-masing. Sang ibu sibuk dengan kerjaan di Rumah Sakit. Bapak pun tak sempat banyak membelai hati si anak. Tentu ia lebih sering merawat motornya yang menghasilkan uang cukup dibanding merawat hati anak. Sementara si anak, tak mau peduli dengan siapa yang melahirkan dan siapa yang membiayai kehidupan. Yang ia tahu hanyalah, 'Segala yang kuhasratkan harus teradakan'.

Anak ini adalah anak muda yang hidupnya berlumuran sejarah setan. Budi pekerti terhadap orang tua tercabut hingga sirna tak berjejak. Atau memang sedari kecil tiada sama sekali. Karena tumbuhan takkan tumbuh jika tiada penumbuh atau penanamnya. Pernah dulu ia memaksa orang tua untuk membelikan motor.

Sehari-hari, jika ada saja yang salah dari orang tua, atau tidak diberi uang untuk melampiaskan syahwat duniawinya, ia tega mencaci maki orang tua. Berlakon-lakon sudah wayang setan berlidah api neraka ia peragai di rumah.

Hari itu bukanlah hari luar biasa. Si anak durhaka ini hendak keluar rumah, sepertinya selepas maghrib atau jam-jam setelahnya. Ia meminta sesuatu namun tiada terkabul dari pihak yang dipinta. Siapa lagi kalau bukan orang tua. Akhirnya terlafadzkan kalimat ini di depan muka mereka:

"Setan luh!"

Lalu ia bergegas keluar dan melaju bersama motornya menuju kegelapan dan kesuraman. Tak lama kemudian, terdengar dering telepon. Diangkat oleh salah satu dari kedua orang tua. Terkesiap tak berkejap-kejap mereka mendengar kabar. Anaknya kecelakaan di jalan. Terkirimlah jasad di sebuah rumah sakit. Dan kabar itu dipastkan benar.

Betapapun durhaka anak pada orang tua, masih ada beberapa bait kasih tersisa dalam hati mereka. Berdua bergegas ke rumah sakit yang dimaksud. Duhai malangnya nasib satu keluarga. Hati telah hancur. Tulang-tulang si anak remuk namun ia masih tetap hidup. Ia lumpuh. Lumpuh tak berdaya. Terbaring menghitung masa. Hingga kini, sudah berbulan lamanya, terkabari seperti itu adanya.

Apa yang kemudian bisa didapat jika tiada bertaubat dari durhaka terhadap kedua orang tua? Namun, orang tua pun bisa pula durhaka terhadap anaknya. Jika apa? Jika mereka tak mendidik keduanya adab dan agama....dan orang-orang tua pun menangis.

Tuesday, October 30, 2012

...dan Orang-orang Tua Pun Menangis I

oleh Hasan Al-Jaizy


1

Ada seorang anak muda [laki-laki] yang saya kenal. Kira-kira berusia 20 tahun kini. Kuliah di Gundar. Ia tinggal di sekitar pinggiran Kali Ciliwung. Ibunya penjaga warung yang juga merupakan rumahnya. Anak muda ini tidak terdidik religius dengan baik. Ayahnya adalah tukang ojek di stasiun. Pulang malam ke rumah itu dan kadang di malam lain ke rumah istri mudanya.

Anak ini memiliki kakak perempuan, 22 tahun. Berjilbab namun tidak begitu religius. At least: berjilbab. Keluarga ini bukan keluarga religius. Baiklah, kembali ke si anak laki-laki. Saya mengenal keluarga ini sejak masih mondok di pondok. Yaitu berawal ketika liburan dahulu, selepas shalat Jum'at, saya membeli sebuah minuman murah berasa jeruk, namanya Fruitang. Itu sekitar tahun 2004. Ketika saya sodorkan uang 1000 [harga normal Fruitang yang saya tahu di seantero Jakarta], pemilik warung ini memanggil saya setelah saya berpaling muka seolah-olah tiada apa. Saya pun berusaha bertanya sebab serta bertanya alasan, 'Kenapa, bu?'

SALATIGA, SELALU DALAM KENANGAN : [1] "Muqaddimah"


oleh Hasan Al-Jaizy

Tiada akibat tanpa sebab. Tiada sebab tanpa akibat. Jika akibat tiada, maka pasti tiada pula sebab. Yaitu ketika saya lulus SD, ayah dan ibu ternyata punya rencana 'baik'. "Kamu akan dikirim ke pesantren!" tegas ayah-ibu. Sebagai manusia yang punya rencana, saya berontak. "Saya punya rencana sendiri! Saya mau masuk ke SMP 182 atau di sekolah lain bersama teman2!"

"Tidak bisa!" ayah menggebrak.

"Tidak tahu!" saya menimpali. Dalam kalimat dewasa, diterjemahkan, "Entahlah....". Setelah penegasan ayah saya itu, hari-hari terasa sendu dan beku. Karena jika dikirim ke pondok [Salatiga, Jawa Tengah], teman-teman lama, baik di sekolah atau teman bermain gundu dan bola akan saya tinggal jauh.

Tertekan. Ketika itu saya tertekan. Setelah era World Cup 1998 yang membuat saya mengenal sepakbola, permainan itu sangat addictive di hati. Dahulu, rela sekali tidak jajan demi beli koran untuk membaca isinya. Masa bodohlah biar tidak faham semuanya. Terutama halaman sepakbola. Bahkan jajaran penghuni tiap grup, dari grup A hingga H, sampai sekarang masih tahu. Dan tiap pertandingan masih teringat berapa skornya. Ketika itu, setiap ada siaran ulang sepakbola World Cup di TVRI,

Terkenang Yang Terbalap


oleh Hasan Al-Jaizy

Saya teringat salah satu kenangan masa remaja. Sebelum lulus sekolah menengah atas [I'dad Mu'alimiin], saya berdoa moga-moga pondok mengirim saya ke daerah terpencil untuk mengais pengalaman. Dan rupanya doa itu terkabul. Ust Ali Saman, ketika kami berkumpul bareng di sebuah pemandian kaki gunung mengumumkan nama santri dan tempat dakwahnya kelak. 

Gembira sangat hati ini ketika nama Kalimantan Barat disebut sebagai tempat tinggal saya untuk setahun ke depan. Bersama 4 sahabat yang akan selalu terkenang, Ust. Numair Mikail Al-Jamhuri [anak pontianak], Ali Aazad Sadad Safaraz [anak Bogor], Aziz Hadromi [anak Semarang], dan Taqiuddin [anak Makkah-sar], kami berkelana jauh ke Pontianak. Masa itu ada di tengah 2005. Dan hampir semua santri pondok kami belum begitu melek terhadap HP di kala itu.

Ust. Mikail, bersama beliau banyak sekali kenangan; karena kebetulan akhirnya kita berdua berduet di pondok yatim piatu dan faqir miskin warisan ayahnya -rahimahullah-. Dahulu pondok ini beraliran Sufi Tarekat, namun sekarang -alhamdulillah- kabarnya sudah

Sunday, October 14, 2012

Hujannya Kederasan

oleh Hasan Al-Jaizy

Anak-anak kucing beserta induknya di tengah pusat kota. Kardus AQUA di depan sebuah toko. Sore-sore berdebu untuk kota. Banyak sekali hewan berlalu lalang sebagaimana saban hari. Keramaian dan kebisingan. 

Anak bertanya: "Mak, kenapa rumah kita di sini?"
Induk: "Emak sudah tak tahu lagi harus kemana. Kalian sudah emak bawa ke beberapa tempat. Selalu diusir."
Anak bertanya lagi: "Tidak adakah lorong di sekitar sini?"
Induk: "Lorong-lorong sering dijamahi preman-preman yang mengincar kamu dan ketiga saudaramu, sayang. Ibu tak sudi mereka mengintip kita semua dan mengintai setiap saat."

Sore-sore seperti saban sore. Anjing-anjing berlalu lalang. Banyak pula para tetikus got raksasa berdasi keluar masuk toko. Mereka semua bertaring dan masih ada sisa darah di tiap-tiap mulut mereka. Anak-anak kucing selalu ketakutan melihat mereka semua.

Di antara semuanya, ada beberapa makhluk putih yang beda. Jarang sekali lewat.

Saturday, October 6, 2012

Klowor-klowor [Cerita Sedih]


oleh Hasan Al-Jaizy

Kucing Betina itu...ketika hadir masa berkawin, jantan-jantan memangsa. Ada 2 jantan berebut. Untuk tentukan siapa yang berhak meniduri, keduanya beradu, bergulat, saling cakar dan terkam. Oh, rupanya si Garong Kuning kalah. Lihatlah cakaran-cakaran itu di kepalanya.

Si hitam abu-abu menang. 2 hari ia mendekati si betina. Namun betina selalu melawan. Selalu....selalu...selalu melawan. Begitulah sejatinya perkawinan kucing. Complicated dan urusan tidak cepat beres. Betina pula mikir-mikir. Tak mudah enaknya jantan dapat menyuntik tubuhnya. Ia pun punya antibodi dan firewall. Adakah ia berbeda dengan manusia pelacur, atau mucikari ataupun germo?

Jantan Hitam Abu-abu tak kunjung berhasil. Datang jantan lain. Warnanya mirip. Ia datang untuk menjadi pemenang. JHA pun minder karena 2 hari hasratnya tak kunjung terpenuhi. Serahkan kepada jagoan yang baru datang.

==============================

Perkawinan selesai. Tak perlu kulukis dengan kalimat atas apa yang terjadi. Cukup bayangan di benakmu yang memfitnah bibirmu untuk tersenyum. Tak perlu pula ku-pasang foto mesra kenangan perkawinan. Cukup fikiranmu saja yang menjadi mesiu senyuman bibirmu.

Beberapa minggu kemudian si Betina Hitam

Thursday, September 13, 2012

Dua Cerita Nyata Layak Dibaca

oleh Hasan Al-Jaizy

Dua CERITA Nyata yang layak Antum BACA [Full]:

[1] Dari Pak Faqih Gedangan Wajak: "semoga Allah memudahkan Anda dan kita semua untuk memahami bahasa Arab dan memanfaatkannya dalam perkara2 yang diridlai Allah. di daerah kami ada seorang Bapak berusia 65 tahun lebih, baru belajar bahasa Arab, dan Alhamdulillah setelah 2 TAHUN akhirnya beliau bisa memahami kitab2 berbahasa Arab."

[2] Dari pengalaman ana sendiri [Hasan Al-Jaizy]:

"Tahun 2005 ana ke Pontianak dan alhamdulillah diberi kesempatan [belajar] dakwah di sana untuk setahun. Semoga sedikit dari cerita ini memberi semangat atau kemauan untuk belajar bagi yang membaca. Di akhir 2005 atau di awal 2006, sebuah masjid di kota Pontianak mengadakan daurah, pengisinya Ust. Abu Qotadah dan ustadz2 lain. Ana tinggal di ujung desa yang jauh terpencil.

Tadinya, SEMUA jema'ah di masjid tersebut buta akan bahasa Arab. Nol. Saat daurah, seorang ustadz -hafidzahullah- [ana lupa namanya] mengatakan ini di tengah kajian, "Antum mungkin terkadang kebingungan ketika mendengar ana seringkali mengucapkan istilah2 atau nama2 Arabic yang asing. Itu BUKAN salah ana. Tetapi itu salah antum karena tidak belajar Arabic padahal itu salah satu alat terpenting dalam memahami agama antum."

Dan kalimat itulah yang menjadi petir di tengah ketermanguan jemaah. Hadirin masjid tersebut langsung terpincut. Akhirnya setelah daurah selesai, jema'ah asli masjid tersebut bersepakat untuk mengadakan pembelajaran bahasa Arab. Kala itu -alhamdulillah- ana [tanpa tazkiyyah terhadap diri sendiri] bersama Ust. Numair Al-Jamhuri [beliau teman angkatan di pondok dan teman dakwah juga kala itu] menjadi pengajar Arabic.

Ini yang Paling BERKESAN:

Ini yang paling berkesan: Ada seorang kakek tua, berumur 60 tahunan yang selalu hadir di kajian kami. Bayangkan, 60 tahun atau kurang-lebih. Sekali lagi, 60 tahunan dan bukan 25 atau 35 dst. Beliau selalu hadir dan paling lamban dalam memahami materi. Selalu bertanya dan butuh bimbingan pelan-pelan demi memahami. Biasanya kajian dihadiri 15-an orang, dan hanya beliau-lah yang butuh perawatan lebih. Selebihnya adalah anak muda, rata2 sekitar 20-30 tahunan berumur. 

Dan yang juga menarik:
--> Di majelis tersebut si kakek belajar dan juga cucunya yang saat itu masih sekolah SMA. Jadi, kakek dan cucu semajelis.
--> Sang kakek rumahnya jauh, dan ia ke pengajian BERSEPEDA. Kajian pun diselenggarakan di malam hari. Beliau berpayah-payah jauh bersepeda demi belajar BAHASA ARAB di USIA SENJA.
--> Sementara si cucu, mengendarai motor. Entah kenapa. Tapi, mungkin saja karena memang sang kakek terbiasa dengan perjuangan masa lalunya. [Karena semakin kemari manusia semakin pengen enak]



OH YA!

Oh ya...di sini kita tidak menawarkan jasa belajar pada pembaca. Tidak.

Oh ya...di sini kita tidak meminta siapapun dan memaksanya untuk belajar bahasa Arab. Tidak.

Oh ya...di sini kita hanya menyampaikan cerita yang sebenarnya ada pesan di sebalik cerita.

Oh ya...bukan berarti yang sudah belajar bahasa Arab berarti ia terjamin kemuliaan. Tidak.

Oh ya...berapa umur Anda? 20? 30? 40? 50? Berapapun itu, selama Anda tidak ada upaya melihat dan belajar bahasa Arab, meskipun sedikit, Anda ya masih kalah oleh sang kakek. Terlebih Anda TIAP HARI membuka FB, membaca + menulis status/blog, diskusi kesana-kemari, BBM-an dan seterusnya. Tapi, pastinya Anda tidak punya waktu untuk belajar bahasa Arab, meskipun sekedar menghafal ayat dan maknanya, kan? 

Kami memaklumi kesibukan Anda....no time for Arabic. Great. Waktu untuk BBM-an, mentahdzir dan menilai ustadz2 begitu banyak, sampai-sampai no time for Arabic. Sungguh sebuah gambaran pencari ilmu. 

Arabic bukan kewajiban...tapi 'sadar' akan [kepentingan] Arabic adalah kewajiban.

Dua Cerita Nyata Layak Dibaca

oleh Hasan Al-Jaizy

Dua CERITA Nyata yang layak Antum BACA [Full]:

[1] Dari Pak Faqih Gedangan Wajak: "semoga Allah memudahkan Anda dan kita semua untuk memahami bahasa Arab dan memanfaatkannya dalam perkara2 yang diridlai Allah. di daerah kami ada seorang Bapak berusia 65 tahun lebih, baru belajar bahasa Arab, dan Alhamdulillah setelah 2 TAHUN akhirnya beliau bisa memahami kitab2 berbahasa Arab."

[2] Dari pengalaman ana sendiri [Hasan Al-Jaizy]:

"Tahun 2005 ana ke Pontianak dan alhamdulillah diberi kesempatan [belajar] dakwah di sana untuk setahun. Semoga sedikit dari cerita ini memberi semangat atau kemauan untuk belajar bagi yang membaca. Di akhir 2005 atau di awal 2006, sebuah masjid di kota Pontianak mengadakan daurah, pengisinya Ust. Abu Qotadah dan ustadz2 lain. Ana tinggal di ujung desa yang jauh terpencil.

Tadinya, SEMUA jema'ah di masjid tersebut buta akan bahasa Arab. Nol. Saat daurah, seorang ustadz -hafidzahullah- [ana lupa namanya] mengatakan ini di tengah kajian, "Antum mungkin terkadang kebingungan ketika mendengar ana seringkali mengucapkan istilah2 atau nama2 Arabic yang asing. Itu BUKAN salah ana. Tetapi itu salah antum karena tidak belajar Arabic padahal itu salah satu alat terpenting dalam memahami agama antum."

Dan kalimat itulah yang menjadi petir di tengah ketermanguan jemaah. Hadirin masjid tersebut langsung terpincut. Akhirnya setelah daurah selesai, jema'ah asli masjid tersebut bersepakat untuk mengadakan pembelajaran bahasa Arab. Kala itu -alhamdulillah- ana [tanpa tazkiyyah terhadap diri sendiri] bersama Ust. Numair Al-Jamhuri [beliau teman angkatan di pondok dan teman dakwah juga kala itu] menjadi pengajar Arabic.

Ini yang Paling BERKESAN:

Ini yang paling berkesan: Ada seorang kakek tua, berumur 60 tahunan yang selalu hadir di kajian kami. Bayangkan, 60 tahun atau kurang-lebih. Sekali lagi, 60 tahunan dan bukan 25 atau 35 dst. Beliau selalu hadir dan paling lamban dalam memahami materi. Selalu bertanya dan butuh bimbingan pelan-pelan demi memahami. Biasanya kajian dihadiri 15-an orang, dan hanya beliau-lah yang butuh perawatan lebih. Selebihnya adalah anak muda, rata2 sekitar 20-30 tahunan berumur. 

Dan yang juga menarik:
--> Di majelis tersebut si kakek belajar dan juga cucunya yang saat itu masih sekolah SMA. Jadi, kakek dan cucu semajelis.
--> Sang kakek rumahnya jauh, dan ia ke pengajian BERSEPEDA. Kajian pun diselenggarakan di malam hari. Beliau berpayah-payah jauh bersepeda demi belajar BAHASA ARAB di USIA SENJA.
--> Sementara si cucu, mengendarai motor. Entah kenapa. Tapi, mungkin saja karena memang sang kakek terbiasa dengan perjuangan masa lalunya. [Karena semakin kemari manusia semakin pengen enak]



OH YA!

Oh ya...di sini kita tidak menawarkan jasa belajar pada pembaca. Tidak.

Oh ya...di sini kita tidak meminta siapapun dan memaksanya untuk belajar bahasa Arab. Tidak.

Oh ya...di sini kita hanya menyampaikan cerita yang sebenarnya ada pesan di sebalik cerita.

Oh ya...bukan berarti yang sudah belajar bahasa Arab berarti ia terjamin kemuliaan. Tidak.

Oh ya...berapa umur Anda? 20? 30? 40? 50? Berapapun itu, selama Anda tidak ada upaya melihat dan belajar bahasa Arab, meskipun sedikit, Anda ya masih kalah oleh sang kakek. Terlebih Anda TIAP HARI membuka FB, membaca + menulis status/blog, diskusi kesana-kemari, BBM-an dan seterusnya. Tapi, pastinya Anda tidak punya waktu untuk belajar bahasa Arab, meskipun sekedar menghafal ayat dan maknanya, kan? 

Kami memaklumi kesibukan Anda....no time for Arabic. Great. Waktu untuk BBM-an, mentahdzir dan menilai ustadz2 begitu banyak, sampai-sampai no time for Arabic. Sungguh sebuah gambaran pencari ilmu. 

Arabic bukan kewajiban...tapi 'sadar' akan [kepentingan] Arabic adalah kewajiban.