Showing posts with label Pria. Show all posts
Showing posts with label Pria. Show all posts

Monday, July 15, 2013

Rumah Bata dan Rumah Kaca

oleh Hasan Al-Jaizy

[Risalah Jaiziyyah: “Rumah Bata dan Rumah Kaca”]

Sepertinya rumahmu adalah rumah bata. Yang kau saksikan hanyalah kekerasan dzatnya. Jika kau memukulnya berkali-kali, semakin tahumu akan kekerasannya. Melunakkannya adalah igauan tak bermakna. Hendakkah kau akan mengganti kayu daripada bata? Orang-orang akan mencela. ‘Apa kau tidak bersyukur?’ dan ‘Apa kau tak suka kokohnya rumah semula?’ tubi mereka.

Sepertinya kau perlu juga membangun rumah kaca. Kaca, tidak sembarang kaca. Melainkan cermin ia adanya. Agar terlihat dirimu benar-benar sebagai penghuninya. Di mana-mana, terlihat ragamu. Kau tahu rapih atau tidaknya kau berbaju. Kau tahu di mana letak kekurangan agar bisa tampil kemudian tanpa ragu. Efek rumah kaca. Bata takkan menjawab engkau seperti apa. Namun, cermin selalu menjawab sejujur-jujurnya. Kecuali...

Jika engkau memecahkan kaca-kaca. Meskipun kau menangis darah sembari menyusun tiap kepingnya, takkan pernah ia kembali mulus seperti semula. Teledornya engkau berbuah penyesalan. Kaca takkan jujur menggambar siapa kamu kemudian. Seperti pula kau punya istri. Duhai engkau, yang berjasad bata, berhati baja dan berjiwa ksatria, kau tercipta kuat, gagah dan berani. Jika hati kekasihmu kau pecahkan sekali dengan sepecah-pecahnya pecahan, ia takkan kembali. Jika dahulu ia berbicara tulus dengan sayangnya, setelah hancurnya ia berbicara dengan air mata.

Sebaik-baikmu adalah sebaik-baikmu pada keluargamu. Dan Rasulullah adalah sebaik-baik manusia pada keluarganya.

Kau ibarat rumah bata. Dia ibarat rumah kaca. Jika segenggam bata kau lempar ke kaca, pecahlah kaca. Jika segenggam beling kau lempar ke bata, tanganmu terluka dan bata tak berubah adanya. Maka, rawatlah kaca-kaca dan jangan kiaskan kaca dengan bata. Bekerjasamalah keduanya. Bata akan tahu kekerasannya ketika ia bercermin pada kaca. Kaca akan tahu kelemahannya ketika ia dipertemukan dengan bata.  

Bata seringkali tak tahu diri. Ia berwujud kasar lalu berjalan di atas kaca. Kaca tergores. Rusak satu kali. Kemudian, dua kali. Kemudian, tiga kali. Dan seterusnya. Kaca pun seringkali lebih mengingat kekurangan bata dan seolah tiada ia berjasa.

Aku pernah diceritakan oleh seorang cermin perihal satu kalimat yang diucapkan oleh pasangannya, yaitu seorang bata yang ceroboh bicara. Dahulu, di awal mereka bersatu, diujilah mereka dengan kemiskinan. Lalu, si bata berkata pada si cermin, “Sepertinya aku miskin karena berpasangan denganmu.” Hancur hancurlah hati si cermin. Ia pun melayu. Permukaannya menjadi lembab seolah baru saja melewati malam berembun. Menangis. Bertahun-tahun ia mengingat kalimat itu. Dan selama itu pula, ia tak bisa memaafkannya.

Aku pernah diceritakan oleh seorang bata perihal satu kalimat yang dihikayatkan penyebab cermin-cermin banyak yang dipanggang di lembah Jahannam. Dahulu, si bata telah bekerja keras mencari kayu bakar agar kepulan asap dapur tetap terjaga. Lalu, hiduplah ia dengan pasangannya, seorang cermin, dengan bahagia. Si bata berlarut-larut dalam pelukan zaman berbuat baik pada si cermin dan memuliakannya. Namun, suatu kala, ketika si bata terjatuh, kebahagiaan pun surut seketika. Berganti kesengsaraan. Si cermin, yang terlanjur terbiasa dibahagiakan sebelumnya, tidak terima dengan keadaan. Ia meminta dibelikan ini dan itu untuk mempermulus permukaannya. Si bata menolak. Tak punya apa-apa ia. Itu alasannya. Bukan karena tiada cinta. Namun, si cermin berkata, “Kamu selalu begitu. Tak pernah kamu berbuat baik padaku.” Maka, marahlah si bata. Dan kalimat semacam itulah yang menambah kobaran dan jilatan api Jahannam semakin seram.

Andai bata dan kaca sama-sama tahu, ia adalah pakaian bagi ia, dan ia adalah pakaian bagi ia. Bata pelindung kaca kala terancam oleh serangan luar. Kaca pelindung bata kala ada yang mencari-cari kesalahan atau aibnya. Bata menjaga fisik kaca agar senantiasa halus. Kaca menjaga rahasia bata agar senantiasa berwibawa.

Di balik kekokohan sebuah rumah berbata, di dalamnya pasti ada cermin-cermin.

Saturday, January 26, 2013

Menjaga Kuburan Keramat


oleh Hasan Al-Jaizy

Para gadis yang disebut akhwat itu, selama berselancar di situs ini, setidaknya menjaga diri agar jangan sampai kekagumannya terhadap seorang lawan jenis terendus, tercium dan tersebar begitu saja di tengah warga. Simpan baik-baik jika memang punya rasa. Jangan menabur cerita. Bahkan kisi-kisinya pun tidak perlu diwarta. Simpan saja. 

Karena meskipun tidak semua, tetapi banyak gadis [baik disebut akhwat, ikhwit, ikhwan atau gaswat] yang sudah mencapai usia 22 ke atas, apalagi menjelang 30 dan belum menemukan teman bobo, rentan pada fikiran-fikiran ke penyebaran undangan. 

Baru kagum sebentar, mungkin sudah berfikir 'sepertinya dia jodohku'. 
Tambah kagum, jadi berdoa 'Ya Allah, jadikanlah ia pasanganku'.
Muhawalah [berusaha] interaksi, lalu diladeni, jadi berfikir 'Kyaaa, jangan-jangan dia memang benar jodohku'

Lalu mencari cara bagaimana agar perasaan di hatinya tertuang dalam kehidupan nyata. Entah bicara pada teman perihal manusia yang dikagumi. Atau sekadar bikin status mujmal [global atau tidak jelas dan tidak tertentu menuju ke siapa] yang menghembuskan kekaguman. Atau yang lebih terasa 'salehah', berdoa, "Ya Allah, jadikanlah ia jodohku. Jikalau ia bukan jodohku, maka jadikanlah aku jodohnya."

Friday, January 25, 2013

Kalau Memang Belum Saatnya Married...


oleh Hasan Al-Jaizy

Kalau memang merasa belum saatnya married, karena belum mampu secara finance, atau karena mau konsentrasi belajar dulu, atau faktor lain, ada 2 tarekat:

[1] Tarekat yang baik: jangan main senggol main kenal main senyum-senyum sama perawan donk. Apalagi kalau sudah sengaja komunikasi ga penting.

[2] Tarekat yang jelek: main senggol, colek, genit-genitan, senyum-senyum. Mengicar komunikasi ga penting. Baru ada gadis nanya sedikit, langsung diperhatikan.

[3] Tarekat yang munapik: di depan rakyat menampakkan muka 'galau' karena masih single dan sebagainya. Padahal, diam-diam main senyum di belakang layar, berburu, dan selainnya. 

Kegalauan itu untuk diobati atau dioles. Bukan dipelihara dan dijadikan sebagai topeng. Apalagi dijadikan sebuah kekonyolan dengan kelebayan yang tak berhenti. Obati dengan menikah jika memang merasa sudah waktunya dan mampu. Kalau belum, obati dengan ibadah, cari mulfit an-nadzar [hal yang memalingkan pandangan dan perhatian], contohnya: konsentrasi kerja, menuntut ilmu dengan giat, membantu ortu, membuat karya, membentuk organisasi dan masih banyak lagi.

Sunday, January 6, 2013

Mencuci Kompor Di Kuburan Keramat


oleh Hasan Al-Jaizy


Ada baiknya para perjaka berterima kasih pada para pengompor yang menganjurkan mereka untuk menikah, atau memancing-mancing pembahasan. Karena ini adalah bab nasehat SELAMA tidak mengganggu, merong-rong atau menyakitkan. 

Karena kompor, jika tidak berhenti mengompori, bukannya justru memberi maslahat, melainkan mafsadar. Bayangkan saja panci putih yang terus dikompori tak henti-henti. Ia akan menghitam sebelum waktu yang tepat.

Mengompori boleh dengan candaan, bukan melulu kekakuan. Api kompor kadang bergoyang kesana-kemari, bukan. Tetapi, bukan berarti merendahkan kemudian, mengejek kemudian, hingga bahkan menghina terang-terangan.

Anda sudah memiliki pekerjaan dan penghasilan, bukan?

Thursday, January 3, 2013

G.A.L.A.U.


oleh Hasan Al-Jaizy

G.A.L.A.U.

[Bacaan Untuk Manusia; Yang Bukan Manusia, Jangan Pura-pura Bisa Baca!]

Orang yang punya cita-cita tinggi, adalah seorang yang berbeda. Ia memiliki karakteristik yang tidak kau temukan pada semua manusia. Jangankan pada kesuksesannya kelak, bahkan pada penyesalan hingga kegalauannya adalah sesuatu! Orang bercita tinggi menyesal banyak habiskan waktu tidak untuk membangun mimpi menjadi nyata. Dan itulah salah satu bentuk kegalauan mereka.

Galau adalah awal mula dari iradah. Sedangkan kesuksesan adalah akhir dari iradah, sekaligus natijah [hasil] dari ikhtiar [usaha].

Kenapa manusia galau? Karena ia menginginkan sesuatu! Dan menginginkan sesuatu bermakna ia ingin mencapai sesuatu yang ia inginkan/harapkan.

Kegalauan itu relatif dan nisbi. Ia dihukumi tergantung pada bentuk iradah, bukan bentuk kegalauan itu sendiri. Jika ia galau karena iradahnya adalah ingin mendapat pacar segera atau karena diputuskan pacar baru saja, maka ini adalah galau yang bodoh dan tercela. Namun, jika ia galau karena iradahnya adalah ingin segera menikah, namun ditolak oleh banyak incaran, atau belum punya modal, atau merasa kurang pede, maka ini adalah galau yang wajar dan bahkan bagus.

Sunday, December 30, 2012

DAHULU DAN KINI


oleh Hasan Al-Jaizy

Dahulu sangat jamak terkesan bahwa pemuda berkacamata itu pintar dan suka membaca buku.
Kini? Tidak. Kacamata banyak dijual. Murah. Dan banyak dibeli bukan karena hajat darurat untuk melihat, melainkan perkakas unik untuk dilihat. Gaya-gayaan. Tentu tidak boleh kita menghakimi siapapun yang berkacamata hanya sekadar bergaya dengannya. Salah satu ciri khas mayoritas orang berkacamata yang memang karena kekurangan kualitas penglihatan dan karena kebutuhan adalah ketika ia melepas kacamatanya, ia akan langsung sedikit menyipitkan mata. Bisa dibuktikan. Dan ciri khas orang yang berkacamata karena style saja adalah suka gonta ganti frame, kadang dengan corak atau bentuk menarik, tidak konstan memakainya, hanya saat keluar rumah saja, dan sebagainya. Tidak 100% seperti ini, namun bisa kau buktikan sendiri di lapangan.

Dahulu yang namanya sebutan sarjana muda adalah sebuah kebanggaan betul-betul. Di tanah Betawi saja, jika seorang gadis dilamar seorang sarjana, keluarga gadis bangga bukan main.

Kini, sebutan sarjana muda sudah lumrah. Bahkan anak-anak muda ingin cepat-cepat jadi sarjana, sebodo teuing lah dengan ilmu selama 4 tahun. Yang penting dapat gelar dulu. Setelah sarjana muda membuih di samudera, mulailah magister muda bertebaran. Magister muda lama-lama tidak menyilaukan lagi saking bertaburnya di padang-padang pasir. Seterusnya akan merambat ke doktor-doktor muda. Suatu saat, kita akan benar-benar berharap manusia tak mudah silau dengan gelar akademik. Sehingga yang kurang beruntung di ranah akademik, entah karena faktor finansial ataupun kondisional, namun memiliki potensi dan kualitas memadai, menjadi manusia yang lebih layak dipandang dan dihormati.

Monday, December 24, 2012

CAT : [62] "SURTI TEGO"

oleh Hasan Al-Jaizy


Surti begitu tega; memutuskan hubungan dengan Purnomo begitu saja. Padahal Purnomo sudah banyak-banyak memberikan hadiah padanya. Mulai dari kunci gantung berbentuk laba-laba pohon hingga cincin terbuat dari tali pohon beringin. 

Purnomo kecewa berat. Alasan yang dikemukakan Surti di pengadilan tak bisa diterima oleh akalnya dan cenderung dibuat-buat. Surti beralasan bahwa dirinya sedang ingin konsentrasi kursus menjahit. Padahal, menurut Purnomo, alasan Surti menceraikan hubungan gelap dan tidak resmi itu hanyalah karena ia [Surti] mulai tertarik dengan penampakan orang-orang perguruan sawah.

"Surti tega sekali padaku," ujarnya di kedai perempatan, tempat singgah para pendekar hijau.

"Kenapa, Pur?" tanya teman dekatnya. Mereka berdua rupanya sedang menikmati pepes buatan

Wednesday, December 12, 2012

CAT : [26] "ABABIL"


oleh Hasan Al-Jaizy


Sebuburnya, saya tidak bisa menertawai tingkah Ababil terus menerus. 
Sekujurnya, saya dahulu juga pernah merasakan sebagai Ababil sebagaimana normalnya manusia dalam fase itu.
Sebujurnya, saya juga memiliki murid-murid ababil yang benar-benar suka melempar batu panas lewat mulut.
Sekuburnya, saya tentu teringat masa-masa sebagaimana mereka jalani...

...dan dahulunya saya belum tentu lebih baik dari sekarangnya sebagian Ababil.

Ababil adalah singkatan dari ABG Labil. ABG adalah singkatan dari Anak Baru Gede. Seorang dewasa boleh geleng-geleng atau tertawai tingkah-tingkah Ababil. Tapi wajarnya ia harus ingat dahulu ia juga mengarungi masa labil.

Jika ada pembaca tidak pernah merasa menjadi labil di suatu tahap kehidupannya, maka

CAT : [23] "CUCI MATA"

oleh Hasan Al-Jaizy


Mata saya dua biji. Berapapun yang Anda punya, saya nggak nanya. Mata saya terpejam ketika tidur. Saya tidak tahu, mungkin saja mata Anda tetap terbuka ketika tidur.

Mata, kata orang, adalah jendela dunia. Dengannya, kita melihat alam. Kita bisa melihat penampakan huruf-huruf di buku, paras cantik wanita, nampannya wajah sebagian pria, dan betapa mengerikannya waria.

Seseorang akan condong melihat ulang apa yang ia suka. Pria-pria suka curi-curi pandang. Fitrahnya, mereka sukai wajah cantik menarik atau kebeningan. Tapi, penyalahgunaan itu tetap dipermasalahkan. Karena tidak memfungsikannya sebagaimana wajarnya jika ditinjau dari segi agama dan sosial. Sedangkan wanita, objek pandang, adalah makhluk yang paling mudah merasa dipandang. Perasaan mereka peka sekali. Jadi matching, cocok dan serasi. Pria peka

Tuesday, December 11, 2012

CAT : [20] "PERAWAN"


oleh Hasan Al-Jaizy

Seorang gadis -single-perawan- lebih 'gengsian' dibanding emak-emak. Statistik hasil pengamatan pribadi [masalah buat ente?] mengatakan begono. Gengsian yang saya maksud bercondong pada masalah 'blak-blakan' kepada lawan jenis.

Sebelum saya melanjutkan paragraf kedua dari tulisan ini, saya ingin memberitahu beberapa hal dahulu [sebagai pemanasan]:
1. Non-emak-emak [alias single-perawan] tidak perlu mencontohkan bagaimana mempraktekkan kegengsiannya dengan berkomentar melawan, menuding, menuduh,

Wednesday, December 5, 2012

CAT : [9] "YANG TERDALAM"


oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa hari lalu, lebih dari seminggu, saya 'iseng' menonton klip atau cuplikan kajian Ust. Abdullah Taslim -hafidzahullah wa rahimah-. Tentang hubungan Jokowi dengan Megawati. Haiyah. Bukan. Tentang hubungan seorang gadis [baca: akhwat] dengan seorang pemuda [baca: ikhwan]. 

Diceritakan oleh si gadis perihal hubungannya bersamanya. Hingga kemudian sepakat 'bertaubat'. Keduanya ingin meneruskan trayek dengan cara menikah. Karena sebelumnya, keduanya adalah TTM [Teman Tapi Mmuahh]. Meskipun setelah saling diam beberapa masa, si gadis masih berupaya menekan 'send message' dengan alasan 'silaturrahmi' dan seterusnya.

Is it funny? Yes, it is. Itu lucu. Tetapi, ada yang seharusnya lebih kita perhatikan dari kelucuan itu. Dan belum tentu juga semua hadirin kajian yang tertawa, benar-benar menertawai curhatan si gadis itu. Bisa jadi di antara mereka yang tertawa, sebenarnya menertawai

Tuesday, December 4, 2012

CAT : [5] "HALO, APAKAH SAYA ADA?"

oleh Hasan Al-Jaizy


Purnomo : "Assalamualaikum, ukhti. Kaipa haluk?"

Badriyah : "Waalaikumussalam. Ngafwan, ini siapa?"

Purnomo : "Ana Purnomo, ukhti. Ngafwan, ana dapat nope anti dari sohib. Ana tadi ngeliat anti ikut lomba cerdas camat. Ana kagum dengan kecepatan anti menjawab tadi."

Badriyah : "Alhamdulillah, sesuatu. Tapi ngafwan jiddan. Ana ga kenal antum."

Purnomo : "Ya ga napa-napa, ukht. Mudah2an kali ini anti kenal ana siapa."

Badriyah: ----

3 hari kemudian....

Saturday, December 1, 2012

Mengelus Kuburan Keramat


oleh Hasan Al-Jaizy

Sanjunglah wanita secara umum dan tuturkanlah kelebihan wanita, niscaya akan banyak wanita tersanjung dan mendukung tuturanmu. Padahal belum tentu sifat yang kau sanjung itu ada dalam kepribadian si wanita yang tersanjung.

Katakanlah tentang kejelekan wanita secara umum dan tuturkan kekurangannya, niscaya akan banyak wanita yang tidak terima. Seakan sifat-sifat kurang itu ada pada mereka sang pemrotes.

Maka begitulah jika makhluk tercipta dahulukan rasa dibanding akalnya. Karena itulah dalam

Wednesday, October 31, 2012

GADIS 23


oleh Hasan Al-Jaizy

Gadis berusia sekitar 23 relatif rentan dengan perasaan menggebu untuk segerakan tersampainya jodoh padanya. Ini wajar; tersebab jiwa keibuannya. 

Cukuplah waspada jika bermuamalah dengan gadis seumur itu; ditakutkan salah kata sedikit, yang terbayang di benaknya kemudian hanyalah gaun putih. Atau, jangan pernah sedikit pun menyenggolnya. Takutnya: Senggol sedikit, berarti membeli....perhatian.

Makanya, jangan engkau heran melihat sebagian gadis2 seumuran itu memasang status2 yang jika kita cermati:

--> Sebagai representasi atau ekspresi batinnya yang sedang menunggu colekan, codetan dan ulekan dari seorang pendekar.
--> Secara tidak langsung mengatakan "I'm single; in the waiting of a man to come" dengan bahasa khas mereka yang bertalu-talu mengumandangkan beberapa teori tentang jodoh.
--> Adalah harapan-harapan berbunga mekar; selagi memilih-memilah kata dan kalimat tuk pulihkan lagi semangat yang tadinya layu, mereka selalu berfikir bagaimana caranya agar manusia tahu ia sedang panas menunggu teduhan.
--> Ungkapan2 tentang kesendirian, harapan dan masa depan.

Saturday, October 27, 2012

Women


oleh Hasan Al-Jaizy

Women, they like poetic and romantic words. Nothing's wrong if they love handsome boys. 

Man, when you try to be so poetic forcefully (cause you're actually not into it) and just for the sake of being center of attention, women will not be closer to you. But if you try to be poetic naturally as you are, they will respect you closer. 

If it's fine to me to blow some of them with poetic promising words...I think I'm able to do it. Especially through Facebook, when you are able easily hide words of secret between you and her. You can blow up her mind with your gun (words). Promise her that you will get married with her one day. Make her sure that you are the luckiest one when you know her. Show that you are a straight and strict religious person.

You can choose many akhwats you want to shoot. Man, really...that is relatively easy if you know how to do it.

But beware of consequences. Being hypocrite won't give you any advantage at all.

I'm afraid to do that, but I always think that I'm able to do that. I mean: I know how to draw dreams on her canvas of mind, and how to betray those dreams when I get bored of her.

Don't ruin your dreams by drawing dreams on her.

Friday, October 19, 2012

Akhwat + Ikhwat = Khalwat/Ikhtilat [?]


oleh Hasan Al-Jaizy

Saya merasa wah-wah sendiri ketika menemukan sebuah akun FB bernama 'Akhwat Tangguh' atau semacamnya. Wah-wah = takjub + ngeri. Seram juga. Kalau bagi para akhwat dan ikhwit, mungkin nama 'Snake-Hunter' itu serasa mengerikan. Begitu pula sebaliknya bagi saya untuk 'Akhwat Tangguh'. Yang terbayang di benak, ia adalah akhwat jago silat, atau karate, atau....'permainan' apa lagi?

Game? Akal saya belum nyampe. Mohon mangap semuanya.

Atau akhwat yang tangguh dalam berorganisasi? Selalu hadir untuk semua event Islami. Dari bedah buku, seminar dan apapun dihabek. Menyantroni kegiatan-kegiatan 'bermanfaat'. Waktu habis di event dan jalanan. Good job, akhwat!

Akhwat tangguh seperti ini, tidak akan

Tuesday, October 2, 2012

Gajian?

oleh Hasan Al-Jaizy

Bagi yang sudah berkeluarga, pihak yang pertama tertoleh dan terpedulikan adalah istri dan anak, kemudian orang tua. Atau sebaliknya. Disesuaikan dengan kondisi dan mana yang lebih berhajat.

Bagi yang belum menikah, tentu pihak pertama yang tertengok dan terpedulikan adalah orang tua; sebagaimana orang tuanya ketika mendapat rizki, pihak yang pertama terpedulikan adalah dia, sebagai anak.

Kelaziman tersebut kurang berlaku bagi dia yang pacaran atau berselingkuh, karena sila pertama adalah kepedulian terhadap pacar atau selingkuhan. Pacaran atau berselingkuh memudahkan seseorang untuk mendurhakai orang tua atau anak istri. Meskipun tidak selalu, namun jangan merasa aman dari ketidakselaluan yang negatif, wahai pelaku.

Tuesday, September 18, 2012

Manusia Akhir Zaman


oleh Hasan Al-Jaizy

Prophecy Sang Prophet tercermin sudah di muka zaman ini. Kejahilan, perzinahan, kefasikan bertebar di mana-mana. Yang dianggap kuno wajib disingkirkan, meskipun kekunoan itu adalah kunci sukses membuka gerbang kebahagiaan dan kewarasan. Sementara manusia banyak yang menjadi anjing dadakan yang liar mengejar-ngejar mangsa, dengan lidah terjulur dan nafas tersengal. Dunia...keterbalikan dunia.

Keterbalikan itu kini jamak tertemukan di pandangan mata. Tatkala kebancian merupakan sebuah kelaziman tontonan dan hiburan. Ketika suatu kesalehan adalah wacana yang layak ditertawakan. Lihatlah lelaki dan perempuan di ujung zaman.

Jika dahulu, ketika perawannya ibumu, selalu kau dikisahi bahwa kakek-nenekmu begitu pantang melihat ibumu di luar rumah selepas Maghrib, kini kau saksikan perawan-perawan bergentayangan dari selepas Maghrib, hingga entah kapan masanya. Di sebagian mereka tertata rias rona pelacur dan berlenggak-lenggok seperti anjing bisul.

Jika dahulu, ketika perjakanya ayahmu, selalu kau diceritakan banting tulang kerja ayahmu. Sedari muda ayahmu adalah prajurit jantan yang giat memburu cita-cita dan....perawan. Yang kini kau saksikan, lelaki akhir zaman seperti koala-koala dungu dan pemalas. Yang mereka ingin gapai bukan cita-cita, hanyalah perawan.

Saksikan Lelaki dan Perempuan Ujung Zaman 

Tidak sedikit kau temukan lelaki muda sekarang, bermain gitar di jalanan, mengamen, menjadi penjaga gedung, mengatur jalanan, game-online player, generasi bobo pagi...hidup tak teratur. Sebagian mereka menitikberatkan hidup pada sekedar hobi, olahraga atau seni. 

Dan banyk kau temukan nona-nona muda sekarang, dengan keberanian mereka meramaikan jalan raya malam-malam, bis-bis kota berdesakan, mereka mencari uang dan penghasilan. Seakan mereka oleh agama atau keluarga atau budaya dibebani mencari nafkah. Dan mereka kelak melaju maju jauh di depan lelaki yang sebagiannya telah bertransformasi menjadi koala atau keledai dungu.

Isa Alimusa [seorang penulis] berkata:

"Ada semacam pergeseran. Kaum pria semakin feminin, sebaliknya wanita semakin maskulin. Batasan lelaki dan perempuan menjadi amat tipis. Sepertinya, kita tidak puas dengan pembagian peran tradisional pria dan wanita. Dulu, pria adalah pencari nafkah dan wanita pengayom rumah tangga. Kini, perempuan sudah lazim jadi penopang keluarga dan laki-laki pun tak merasa tersingkir atau 'dipermalukan' dengan situasi ini."

If it is true, don't make a shame to deny the truth

Thursday, September 13, 2012

Advantage And Loss


oleh Hasan Al-Jaizy

Mudah kege'erannya wanita ketika dipuji, terutama pujian terhadap fisiknya, bisa menjadi sebuah advantage [keuntungan], bisa juga menjadi sebuah loss [kerugian]. 

Ego pria juga bisa menjadi sebuah modal untuk menjadi pemimpin, namun bisa juga dengannya menjadi seorang diktator yang keji.

Ketika wanita dipuji salah satu bagian fisiknya, ia akan senyum senang, dan bisa pula ia bangga dengannya.
Pula pria ketika dipuji tentang prestasi atau hasil kekuatannya, ia akan senyum senang, dan bisa jadi bangga dengannya.

Jika dibalik: Pria kege'eran dipuji akan bentuk fisiknya.
Jika dibalik: Wanita kege'eran dipuji akan kekuatannya menjelajah tantangan.

Kiranya pria tersebut lebih layak tinggal seharian di rumah dan sang wanita bekerja di luar?


Tuesday, August 7, 2012

Cerminan Ikhwan Sempurna

oleh Hasan Al-Jaizy

Cerminan 'ikhwan' sempurna:

Ikhwan + Haroky + Materialis + Senang Bermajelis dan Bercanda dengan Akhwat Harokiyyah

...sempurna 'nggaTELnya'

Sehari tidak indah tanpa bercanda dengan akhwat atau ikhwit, entah via sms, call, online Inet atau langsung di majelis. Pokoknya ada waktu kosong ==> kudu tersaji dan terjadi.

Ikhwatnya juga podo nggatele...

Come on...stop that thing, my friend. Mungkin hanya nge-joke satu kalimat itu masih wajar. Tapi kalau dijadikan habit?


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/427680050606719