Showing posts with label Hikmah. Show all posts
Showing posts with label Hikmah. Show all posts

Tuesday, July 16, 2013

Tidak Memprotes Hikmah Ilahi

[Risalah Ibnul Jauzy: “Tidak Memprotes Hikmah Ilahi”]

MASALAH ini telah dibahas berkali-kali, namun mengulanginya secara permanen sangat penting untuk mengingatkan hati.

Seorang mukmin wajib ketahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Pemilik Yang Mahabijaksana yang tak melakukan kesia-siaan, dan pengetahuan ini melarangnya memprotes takdir-Nya.

Sejumlah makhluk telah memprotes Allah dan hikmah-Nya. Itu adalah tindakan yang menjadikan seseorang kafir. Makhluk pertama yang memprotes hikmah Allah adalah Iblis dengan mengatakan, “Aku lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan aku dari api sedang ia Engkau ciptakan dari tanah.” [Q.S. Al-A’raf: 12], yakni tindakan-Mu mengunggulkan tanah atas api adalah tindakan yang tidak sesuai dengan hikmah!!!

Tuesday, February 5, 2013

Kisah Haru Tanpa Hikmah?


oleh Hasan Al-Jaizy

Kisah-kisah haru tanpa hikmah tetaplah sampah yang bukannya menambah kaedah dan faedah malah menambah susah.

Nama-nama jumawa tanpa jasa tetaplah nama semata yang pemiliknya takkan berikan upaya jika merasa takkan dipuji manusia.

Air beriak tetaplah air beriak yang ia mengira manusia takut akan suara riaknya. Sementara manusia justru tahu dengan riaknya akan kedangkalannya. Ibarat anjing kecil menyalak tiada henti, mengira dengan kegalakan itu ia akan diakui dan ditakuti. Sementara banyak manusia tertawai kepalsuan-kepalsuan sampul dagangan berisi bangkai karena mereka tahu dari busuknya tercium bahwa ada bangkai di balik sampul.

Kenapa bersandiwara selagi manusia tahu kau bukanlah kau yang kau tampilkan?

Monday, January 7, 2013

Pelangi Payungi Bumi


oleh Hasan Al-Jaizy


Air mata itu lebih terasa mengalir jika manusia merundukkan kepalanya. Jarang ada manusia menangis dan menumpahkan isi hatinya dalam kondisi kepala menengadah.

Si keras kepala dan si sombong jarang menangis. Kepalanya terlalu sering menengadah. Merasa di atas siapa-siapa.

Kepala yang tegak itu baik ditampilkan depan makhluk.
Namun selamanya di depan khalik, tundukkan kepala.

Tegar adalah ketika ia menegak wajar di hadapan manusia selagi badai mempermainkan lembaran-lembaran sirah hayat, selagi merunduk di depan Sang Pencipta manusia. Jika Dia hendaki badai berganti pelangi, pelangi akan mengganti. Jika Dia hendaki pelangi terhapus badai, badai menghapus.

Lihatlah hujan-hujan atau gerimis itu. Tiap titisannya turun ke bawah, tiada ke atas. Dan setelah hujan terbit garis-garis pelangi, seperti setelah menangisnya manusia, terbit harapan-harapan baru.

Maka bangkitlah wahai manusia dari keterpurukan; karena selama roda kehidupan berjalan, tiap sulit dan mudah hadir silih berganti. Tiap sakit ada obatnya. Dan tiap obat ada kadarnya. Jika begitu adanya, mengapa ada manusia merasa putus asa dengan qadar?


Thursday, January 3, 2013

FALSAFAH PENSIL II


oleh Hasan Al-Jaizy


Pensil itu kemampuanmu dan bakatmu

Sebelum memulainya, kututurkan padamu bahwasanya orang merugi adalah orang yang tidak tahu apa yang bisa ia lakukan demi dirinya atau orang lain. Orang merugi adalah orang yang tidak tahu bahkan enggan mencari tahu bakat apa yang Allah titipkan pada dirinya. Betapa banyak orang melalui masa mudanya masih dalam ketidaktahuan apa bakat yang ia miliki. Dan alangkah sedihnya jika ia baru mengetahui bakatnya di masa tua; sehingga ketika ingin memulai mengasahnya, kemustahilannya seperti mencabut beringin tua dari tempatnya. Maka, galilah potensi sedari dini, sebelum potensi itu sudah tak mungkin digali lagi.

[1] Pensil itu terwujud; merupakan senjata dan modalmu menulis. Awal membelinya, pensil itu tumpul. Dan kau tak mampu menggunakannya sebelum ia diraut.

==> Sebagaimana bakat dalam dirimu. Ia adalah modal yang dititipkan oleh Penciptamu. Merupakan keadilan dan hikmah dari-Nya, kau diberi kemampuan yang tidak semua manusia bisa melakukannya. Namun, bakat di awal-awal masih begitu mentah dan tumpul. Ia tidak serta merta menjadikan pemiliknya hebat dan bisa berkarya dengan bakatnya itu. Melainkan:

[2] Pensil harus diraut terlebih dahulu; sehingga ia pun menajam dan melancip. Semakin tajamnya ia, semakin baik tulisan terwujud.

FALSAFAH PENSIL I

oleh Hasan Al-Jaizy


Pensil itu seperti dirimu dan kehidupanmu.

[1] Pensil itu berbentuk panjang tersedia. Ketika kau membelinya dari toko, ia masih tumpul, belum bisa digunakan secara utuh. Sebagaimana hidupmu di awal umur. Dahulu, setelah kau dikeluarkan dan keluar dari perut ibumu, belumlah kau menjadi siapa-siapa. Kau hanya disebut anak manusia. Kau belum menciptakan apapun selain tangisanmu itu, keharuan kedua orang tuamu dan apalagi? Kala itu, kau masih tumpul tak berbekal. Bahkan kau keluar dengan ketelanjangan, ketidaktahuan dan ketidakpunyaan.

[2] Pensil kemudian akan diraut perlahan-lahan, hingga mulailah ia melancip.

==> Sebagaimana kemudian di masa balita, kau mulai dilatih oleh ibumu berbicara. Perlahan-lahan kau mulai berbahasa. Kau pula dilatih berdiri perlahan-lahan. Zaman pun bercerita bahwa hari demi hari terambil demi les berdiri. Setelah itu, kau pun mulai pandai berbahasa dan berdiri.

Wednesday, January 2, 2013

"Aqil Ahli Andalus"


oleh Hasan Al-Jaizy

Diriwayatkan ada seorang bernama Yahya bin Yahya melakukan safar untuk mencari ilmu menuju kediaman Imam Malik. Dan ia (Yahya) saat itu masih kecil. Lalu ia pun mendengarkan Imam Malik hingga memahami banyak perkara agama. Imam Malik kagum akan kepribadian dan kepintaran Yahya. 

Diriwayatkan suatu hari Imam Malik sedang duduk bersama beberapa temannya di suatu majelis. Lalu ada seseorang berkata, "Hey, ada gajah!" Maka, kawan-kawan Imam Malik pun keluar untuk melihatnya. Kecuali Yahya, ia tetap terduduk di tempatnya.

Imam Malik bertanya padanya, "Kamu tidak [ikut] melihat gajah itu? Gajah tidak ada di Andalus!"

Maka Yahya berkata pada beliau, "Aku datang ke sini jauh dari negeriku untuk melihatmu, belajar dari ilmumu, dan aku bukan datang untuk melihat gajah."

Seketika Imam Malik takjub dengan jawabannya. Beliau pun menjulukinya:

عاقل أهل الأندلس

********

Tamparan untuk kita.

Kita datang ke sana dari rumah untuk trend, sembari menikmati wajah penceramah.

Kita datang ke sana dari rumah untuk diketahui bahwa kita ce-esan.

Kita datang ke sana dari rumah agar jumlah dan hitungan absensi nama kita tak melebihi batas yang ditentukan manajer akademik.

Kita datang ke sana dari rumah agar melihat teman-teman, bisa ngumpul atau bisa kopdar.

Kita datang ke sana berharap menyimak sang ustadz mengomentari kejadian-kejadian terbaru, fitnah teranyar dan pembahasan tentang kelompok lain.

Kita datang ke sana karena apalagi............................?

Kita banyak-banyak bicara kita harus menimba ilmu dan mengamalkannya, dan ternyata.....

kita tidak seperti Aqil Ahli Andalus, kita seolah Aqil Akal Bulus.

Monday, December 31, 2012

Mengingat Kuburan Keramat


oleh Hasan Al-Jaizy

Sabtu sore. Turun dari kereta ekonomi. Lalu turun tangga peron. Stasiun Pasar Minggu Baru. Saya melihat seekor kucing. Kaki belakang sebelah kanannya buntung. Iba. Lebih mengiba dari pengemis jalanan atau orang sesat.

Sebelum Jum'atan Jum'at kemarin, saya sempatkan diri melewati kuburan keramat dan masjid besar di sampingnya. Di kedai depan masjid, beberapa nenek-nenek sudah nongkrong. Berikut cucu-cucu mereka. Apa yang akan mereka lakukan?

Game Online! Bukan. Melainkan sekadar permainan tangan. Maksudnya? Maksudnya, kau akan menyaksikan kala Jum'atan mereka mulai menebar pesona dan aura kemiskinan. Memasang muka memelas kasih. Memamerkan perut tangan mengemis asih. 

Monday, December 24, 2012

CAT: [61] "KARENA HUJAN ADA MUSIMNYA"

oleh Hasan Al-Jaizy


Jangan kiramu seorang yang lantang dan kuat di luar selalu seperti itu; karena bisa jadi di dalam ia sering menangis, mengadu dan mengaduh.

Jangan sangkamu seorang yang selalu ceria riang tampak berseri di muka; karena bisa jadi dalam kesendirian ia sering menangis...hati teriris.

Jangan merasa pasti desamu tak pernah tercurah hujan meski berintik ketika terjagamu; karena bisa jadi ketika terlelapmu tak sadarkan turun gerimis.

Sekuat-kuat hamba adalah yang tetap tegar di keramaian, meskipun di kesendirian wajahnya

Sunday, December 23, 2012

Kalimat Untuk Anak Manusia

oleh Hasan Al-Jaizy

Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya Pohon tentu lebih besar dari buahnya. Tetapi jika buah itu sehat dan kemudian memohon, bisa saja lebih besar dari pohon sebelumnya.

Anak tak jauh dari bapaknya dari segi karakter, watak, bakat dan sifat. Awalnya bapak lebih besar dari anak. Namun jika anak tumbuh sehat dan berusia panjang, ia bisa lebih besar dari bapak.

Betapa banyak bapak-bapak bernama besar namun anaknya tak meneruskan kebesaran bapaknya. Maka, tumbuhlah wahai anak, menjadi lebih besar dari bapakmu. Harapan bapakmu padamu sangat besar, bahkan lebih besar dari harapannya pada dirinya sendiri. Sebagaimana ibumu banyak mengasihimu dan mendoakanmu, hingga hampir-hampir lupa ia mengasihani dan mendoakan dirinya sendiri.

Bermasa sudah bapak ibu menanam harapan di padang gersang, anakku. Jika kau mematikan harapan itu, maka padang akan tampak gersang selamanya. Bahkan ketika kau melihat oase di mata keduanya, yaitu air mata, kau kira itu adalah tangisan bangga. Sedangkan itu adalah tangisan kekeringan akan harapan yang lama tertanam.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/477582072283183

Friday, December 21, 2012

CAT : [49] "BELUM TENTU KAU BETAH DI DALAMNYA"


oleh Hasan Al-Jaizy


Yang zahirnya kau begitu senang melihatnya, atau berharap memiliknya, belum tentu setelah kau ketahui dan selami isinya, atau setelah memiliknya, kau masih menyenanginya.

Karena banyak hal-hal yang dari zahir atau kejauhan tampak indah, namun ketika mendekat hingga merasukinya, semuanya tiada istimewa.

Lihatlah gunung atau bebukitan dari kejauhan. Kau akan menyukai lukisan terpandang itu. Lihatlah pepohonan dari jarak jauh. Sepertinya mereka memiliki daya tarik yang jika

Thursday, December 20, 2012

CAT : [46] "AIR TUBA DIBALAS AIR SUSU"


oleh Hasan Al-Jaizy


Ada seorang nenek berdagang dengan anaknya di pasar. Namun, anaknya tidak selalu ikut berdagang. Mereka menyewa tempat di depan rumah Pak Haji. Rumahnya rupanya di pasar itu dan ia pun juga menjual buah-buahan depan rumahnya. Namun, Pak Haji satu ini, meskipun sehari-hari ramah, ternyata memang 'tegaan'. 

Nenek ini berdagang makanan lauk. Di sampingnya pun ada pedagang tahu, seorang ibu-ibu. Sang nenek beberapa kali 'dianggap' telat membayar uang sewa tempat. Ia ditegur dengan kalimat tidak menyenangkan oleh Pak Haji. Kadang menyakitkan hati. Suatu hari, Pak Haji mengusirnya dengan kalimat pedas karena memang sang nenek telat membayar entah sehari atau selebihnya.

Nenek itu pun pulang ke rumah dengan sakit hati. Ia menceritakan itu semua pada anaknya dengan sedih. Mereka kemudian berembug mencari tempat lain untuk berniaga. Beberapa hari lamanya, mereka tak terlihat lagi di pasar hingga akhirnya mereka menemukan tempat lain yang cocok untuk berjualan padanya.

Namun, meski sakit hati, mereka tetap menyapa Pak Haji jika berpapasan di jalan. Dan itu membuatnya malu sendiri. Belum lagi, si anak kadang shalat di mushalla yang mana Pak Haji

Tuesday, December 18, 2012

CAT : [42] "CERITA PERJALANAN MENUJU TAMAN MINI"


oleh Hasan Al-Jaizy


Ini adalah cerita NYATA yang terjadi hari Ahad kemarin. Tatkala saya dan adik saya berangkat pergi menuju ke Taman Mini. Niat awalnya adalah berdagang. Niat akhirnya adalah cari duit. Tidak ada niatan lain.

Ini adalah bukti NYATA bahwa ucapan orang tua, biarpun tidak serius, bisa jadi 'sesuatu' yang NYATA terjadi.

Saya dan adik saya berangkat jam 9 pagi. Adik saya memakai motor. Saya di belakangnya sambil membawa 'bakul' berisikan pepes karya emak saya, seorang emak-emak paling emak-emak dari emak-emak yang pernah saya lihat di bumi ini.

Saya membawa uang sekitar 60 ribuan. Adik saya beberapa puluh ribu terbawa olehnya. Sebelum saya keluar rumah, saya sempat ribet sendiri memakai sarung di kamar. Emak saya seperempat teriak dari bawah, "Cepetan ente, gan! Entar nyampe sana jam 12 [baca: DUA BELAS] lho!"

Dalam hati, saya bergumam sambil tergesa menata yang seharusnya ditata, 'Ah, masak segitunya perjalanan sampai 3 jam!?' Lalu kami berdua [saya dan adik] pun cabut. Serrrr!

Tuesday, December 11, 2012

CAT : [21] "PEMIMPIN KAFIR NAN ZALIM!"


oleh Hasan Al-Jaizy


Sebelumnya, ia adalah hamba yang taat menghambakan diri pada Rabb-nya. Namun kemudian suatu saat, dalam sekejap, ia beralih menjadi satu makhluk ciptaan yang membangkang terhadap perintah Allah! Itu disebabkan hasad [iri] yang lahirkan kesombongan meninggi diri! Nama makhluk ini adalah Iblis.

Telah tertabur di beberapa kitab ulama Tarikh tentangnya. Menyatakan bahwa sebelum membangkang, makhluk ini adalah hamba yang taat sebagaimana malaikat. Seperti di kitab Tarikh Ath-Thabary, ataupun Al-Bidayah wa An-Nihaayah.

Beberapa riwayat menyatakan tentang Iblis sebelum ke-iblis-annya bukanlah sabda Nabi yang menjadi hujjah kebenaran. Namun itu semua berupa perkataan para salaf, terlebih

CAT : [19] "MENILAI RENDAH KALA TINGGI"


oleh Hasan Al-Jaizy


Ini adalah cerita tentang kita-kita, yang kadang sadar begitu tinggi rasanya dan tidak sadar betapa masihnya kita di kerendahan. Ini adalah karakter pada kita-kita -setidaknya pernah kita seperti ini-, yang merasa senang dan bangga dengan apa atau siapa kini lalu menoleh tertawai yang belumlah apa-apa atau siapa-siapa.

Kadang kita menilai orang lain dengan kiasan diri kita sekarang yang rasanya lebih tinggi darinya ditinjau dari segi tertentu yang karenanya ada penilaian.

Padahal bisa jadi dahulu ketika kita serendah itu, kita lebih buruk dari itu.
Padahal bisa jadi jikalau kita serendah itu, kita lebih jelek dari itu.

[1]

Seorang yang dalam keadaan sehat jasmani, setidaknya ibalah melihat siapa yang dalam keadaan sakit. Yang pertama adalah iba. Tunaikan eksistensi perasaan mengasih. Lalu

Monday, December 10, 2012

CAT : [18] "HUJAN AIR"

oleh Hasan Al-Jaizy

 : [18] "HUJAN AIR"

Hujan sedianya adalah air yang tercurah dari langit. Sebagaimana firman Sang Rahman:

Ù‡ُÙˆَ الَّذِÙŠ Ø£َنزَÙ„َ Ù…ِÙ†َ السَّÙ…َاء Ù…َاء Ù„َّÙƒُÙ… 

"Dialah Yang Menurunkan dari as-samaa' [langit] air untuk kalian."

Kata 'samaa' secara bahasa bermakna ketinggian. Para ulama berbeda pendapat apakah samaa' di atas dimaksudkan langit yang tinggi secara umum, atau sahaab [awan]. Karena hujan adalah kucuran berasal dari gumpalan-gumpalan awan yang membentuk mendung.

Bagaimanapun, hujan adalah air. Dan hujan adalah rahmat bagi bumi beserta penghuninya. Tidak hanya rahmat, melainkan bisa jadi ia adalah bala dan musibah. Dahulu, di negeri ini, hujan adalah sesuatu yang pasti berkahnya. Sehingga berita tentang banjir sulit terwarta. Sekarang, banjir bukan lagi sebuah berita, melainkan kabar sederajat gosip. Biasa dan tidak ada getaran istimewa.

Dahulu, orang-orang tertawa jika ada kabar desa X kebanjiran. Sekarang, orang-orang bosan mendengar kabar banjir, baik itu di kota Y, ataupun di desa X.

Perlu kau tanyakan pula, mengapa Allah menurunkan hujan air? Kenapa tidak hujan kerikil emas saja agar manusia mengumpulkan dan menjualnya?

Karena Allah lebih tahu apa yang terbaik bagimu, wahai manusia. Dan Allah tahu apa yang

Tuesday, December 4, 2012

CAT : [3] "SENGSARAMU INSPIRASI TUK SELAINMU"

oleh Hasan Al-Jaizy

Ini untuk orang-orang yang merasa dirinya sengsara. Kasihan sekali orang-orang semacam ini. Atau yang lebih kasihan adalah yang merasa paling sengsara, paling miskin dan paling menderita. Padahal ia hidup di negara aman. Ia tidak sedang dikejar hewan-hewan. Rumahnya tidak sembarangan digrebek Densus 88. Tetapi kenapa merasa paling besar ia punya kesengsaraan?

Padahl semua dari kita adalah orang kaya. Boleh kaya akan makna, tapi pastinya kaya akan fisik. Ada percakapan Haji Asnawi dan Suyuthi:

Haji Asnawi: "Ada apa, anakku?"

Suyuthi: "Pak Haji, hidup saya seolah paling sengsara. Saya kere sekali. Mau menikah dengan manusia, namun modal tidak ada. Mau beli laptop, namun uang tidak ada. Bayar kredit pun tak mampu. Mau beli baju pun tidak ada. Padahal saya pengen sekali membeli ketiganya: manusia, laptop dan baju. Tapi yang saya dapat malah gundukan puntung rokoknya Pak De Su'aid. Pak Haji, saya miskin sekali. Berikanlah solusi."

Haji Asnawi: "Baiklah, kamu bisa bahasa Arab, kan? Dan kamu suka baca kitab juga, kan? Lalu kamu mudah menghafal Al-Qur'an, Hadits dan matan-matan, kan?"

Suyuthi: "Yoi, Pak Haji."

Haji Asnawi: "Baiklah. Nanti saya doakan supaya Allah mencabut ketiganya dari dirimu: bahasa Arab, hasrat baca kitab, dan kemampuan menghafal. Saya doakan pula agar Allah mengganti ketiganya dengan manusia, laptop dan baju."

Suyuthi: "Wah, tidak bisa, Pak Haji. Sadis sekali. Saya ga mau kehilangan itu semua. Itu semua juga modal saya buat masa depan."

Haji Asnawi: "Baiklah. Saya memaklumi. Sekarang saya punya tabungan 300 juta. Itu bisa menjadi modal kamu nikah, beli buku segudang dan menambah nafsu baca bukumu. Saya akan serahkan 300 juta untukmu siang nanti. Gimana??"

Suyuthi: "Waaah, makasih Pak Haji! Senaaang!"

Haji Asnawi: "Tapi, ya ada syaratnya lah."

Suyuthi: "Wah, syaratnya apa itu, Pak Haji?"

Haji Asnawi: "300 juta itu sebagai bayaran tunai pembelian kedua matamu. Saya ingin membeli matamu. Kamu korbankan matamu saja lah demi 300 juta."

Suyuthi: "Yaaah, tidak mungkin juga. Waduh."

Haji Asnawi: "Berarti, mahalan mana: penglihatanmu atau 300 juta?"

Suyuthi: "Ya mataku lah, Pak Haji."

Haji Asnawi:

"Nah, di situlah bagaimana kau harus merenung tentangnya. Kamu punya mata dan anggota tubuh lainnya masih berfungsi dengan baik. Jika satu saja dari matamu cacat, maka bagimu itu lebih mahal dari 300 juta. Sementara sekarang pun kau mengeluh miskin; sedangkan sebenarnya sedari lahir kau sudah diciptakan kaya dan memiliki kekayaan. Lihat sekujur tubuhmu. Lihat kakimu, seberapa kilo sudah digunakan untuk berjalan. Lihat tangan dan jemarimu, seberapa banyak tulisan yang kau buat yang bisa menjadi modal untuk dunia dan akherat? Lihat lisanmu, seberapa banyak ia bisa memberi manfaat?

Ketika pahitmu, jangan kiaskan pahitnya dengan manisnya hidup orang lain. Karena ketika kau nanti hidup dalam kemanisan, kau pun tak ingin orang berpahit hidup menuntut dirimu untuk memaniskan hidupnya.

Tetapi, jadilah orang yang memberi kemanisan pada selainnya meski hidup sendiri ditakdirkan pahit. Jadikan pahitmu adalah manis untuk orang lain. Betapa banyak orang yang bermanis hidup namun memahitkan hidupnya dan hidup orang lain. Jadilah manusia yang berguna dengan kesederhanaan kekayaan yang kamu miliki.

Jangan jadikan kesulitan hidup alasan untuk tidak memberi kebaikan pada manusia. Jika punya harta, berikan secukupnya. Jika punya ilmu, berikan sebanyaknya. Jika tidak punya keduanya, berikan jasa. Jika tidak punya harta, ilmu dan jasa, berikan mereka salam dan doa. Jangan pernah ingin hidup jika tidak memberi manfaat pada manusia. Karena terkadang hewan pun memberi manfaat pada manusia."

Suyuthi pun merinding. Sementara anak perempuannya Haji Asnawi mengintip dari tirai kamar.

Mengintip-intip status orang. Rupanya ia terinspirasi dengan status ini. Ehm.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/469925333048857

Tuesday, November 27, 2012

HIDUPMU INSPIRASIMU : [15] "Yang Takkan Berubah Adalah Adanya Perubahan"


oleh Hasan Al-Jaizy

Seorang pria sedang menonton televisi bersama beberapa temannya di rumah sewaan. Rupanya mereka sedang menyantap sebuah program yang disukai bersama. Lalu tibalah masa iklan terlampir. Jeda acara sementara. Ia mengambil remote TV. Hendak mengganti channel. Siapa tahu ada yang menarik. Dan inilah yang bisa kau gali dari manusia modern. Ketika kegiatan mereka terjeda, pasti mereka akan mencari sesuatu lain sebagai pengisi senggang. Kelihatannya bagus. Namun, bagaimana jika pengisi jeda itu berdampak negatif? Negatif, entah dari segi kandungan sesuatu, atau dari mereka sendiri. Seperti menonton program informatif religius, lalu ketika jedanya menonton program anti-religius. Atau banyak-banyak menyelang-nyeling akhirnya tidak satupun faedah terdapat. Manusia modern, banyak jelajahannya, sedikit mengambil ibrahnya.

Sedang asyik merunut channel2 satu persatu, ia memakukan layar pada satu channel. Rupanya program religius. Tampak ada pembawa acara dan pembicara. Oh, rupanya pembicara itu seorang ustadz. Terlihat ngustadz karena memakai peci dan baju taqwa. Lalu pria itu nyengir sendiri. Nyengir mengejek.

"Ada apa, bos?" tanya temannya.

"Kamu tahu ustadz itu? Dia adalah teman sekelas saya. Apa pula yang ia lakukan di sana? Dulu kami berteman. Yang aku kenal, dia dulu bengal, suka begadang dan senang bermaksiat di

Thursday, November 22, 2012

HIDUPMU INSPIRASIMU : [13] "Falsafah Roda"


oleh Hasan Al-Jaizy

Seorang anak tunggal dimanjakan kedua orang tuanya. Semua hajat materi terpenuhi. Anak itu pun membesar dan membesar. Dan turut pula usia orang tuanya yang menua. Suatu hari, keduanya berkata dengan serius pada si anak:

"Jika kelak ayah dan ibu sudah tiada, maka kamu satu-satunya yang akan menjadi pewaris harta kami. Kekayaan ibu dan bapak akan menjadi milkmu."

Maka semakin senanglah anak manja ini. Lama berlama melamun membayangkan betapa kelaknya ia akan menjadi raja berharta. Ia teringat teman-teman kampusnya di kampus ternama. Ia teringat teman-teman nongkrongnya. Yang kemudian ia teringat satu pertanyaan: 'Kapan ayah dan ibu akan meninggal?'

Pertanyaan itu kemudian terjawab suatu hari, keduanya meninggal. Entah karena

Sunday, November 18, 2012

Sesuai Kadar Termampumu dan Jangan Berlebih

oleh Hasan Al-Jaizy

Menghadapi kenyataan pahit, tentu perlu solusi untuk memaniskan kembali hembusan realita. Sebagainya pahit dan sakitnya hati mendengar kabar-kabar dunia Islam, tentu perlu solusi untuk memaniskannya kembali. Atau sebelum menjadi manis, jadikan ia tawar terlebih dahulu.

Kita semua diminta untuk membantu sesuai kadar yang termampukan. Jika tidak mampu menjadi yang terbaik, maka jadilah yang baik. Jika kesulitan menjadi yang baik, maka jangan pernah menjadi yang buruk. Intinya: tetaplah baik.

Jika yang dibutuhkan adalah kerahan pasukan, lalu kau ditunjuk untuk ikut serta dan kau memang mampu, maka pergilah. Dan jangan wartakan kepergianmu pada manusia sedunia. Atau kau ingin membatalkan amalan sebelum amalan? Karena pergimu itu adalah perjalanan menuju jihad. Bukankah kelak macam orang yang pertama diseret ke neraka adalah ia yang pergi ke medan kemudian mati terbunuh namun rupanya hatinya kotor!? Padahal manusia dari timur ke barat menyangka ia seorang syahid.

Dan ternyata yang dibutuhkan adalah senjata. Maka, alam pun meminta keping-kepingmu di

Friday, November 16, 2012

HIDUPMU INSPIRASIMU : [9] "Kelembutan Tersembunyi"

oleh Hasan Al-Jaizy

Diceritakan pada suatu serpihan lembut zaman, hiduplah seorang pemuda ahli ibadah kehabisan bekal dan tertikam oleh rasa lapar di kota Makkah. Hingga ia tak mampu berdiri tegak atau berjalan baik disebabkan perihnya serangan lapar. Di sebuah jalan kecil, ia melihat sebuah kalung emas yang zahirnya tampak mahal. Diambillah kalung itu dan disimpan di sakunya.

Tak lama masa bergulir, seorang lelaki setengah abad kira usianya mengumumkan bahwa ia kehilangan sebuah kalung berharga. Rupanya ciri-ciri yang dibentangkan selaras persis dengan yang ditemukan si pemuda. Ia pun menyahut:

"Ku temukan kalungmu dan ku kembalikan padamu." Setelah itu, ia pergi meninggalkan pemilik kalung yang terkesiap. Tiada patah kata lagi dari pemuda; tiada pinta imbalan darinya. Dengan segenap kerahan rasa laparnya, pemuda itu berdoa, "Ya Rabb, aku lakukan itu semua untuk-Mu. Ku tinggalkan kalung itu demi-Mu. Maka berilah ganti yang lebih baik dari itu semua untukku."

Suatu hari, ia melaut dengan menumpang sebuah kapal barang. Di tengah perjalanan, badai menerjang. Kapal pun terombang-ambing dan akhirnya menyerah pada amuk badai dan jilatan samudera. Tiada seorang pun selamat melainkan si pemuda. Ia terkatung-katung di atas sebuah kayu. Hingga akhirnya angin, gelombang dan kayu mengantarkan jasadnya yang sudah lemah itu ke sebuah pulau.

Ia pun bangkit dan tertatih berjalan. Dilihatnya ada masjid tua. Menujulah ia ke sana. Didapatkan orang-orang sedang shalat di dalamnya dan kemudian ia turut