Showing posts with label [Serial IYA KAN?]. Show all posts
Showing posts with label [Serial IYA KAN?]. Show all posts

Tuesday, July 3, 2012

IYA, KAN? : "AN!"

oleh Hasan Al-Jaizy


Salah satu cara untuk meneguhkan dan menancapkan tiang-tiang ilmu di benak adalah dengan cara menyampaikan, baik itu dengan lisan maupun tulisan.


2 akhiran AN:

[1] Dengan LISAN, yakni dengan cara ceramah atau mengajar. Ada seorang teman bercerita bahwasanya ia mempunyai teman lulusan kampus saya dan lulusnya berderajat 'kurang-tinggi-nilainya'. Sebut saja namanya Mamat. Ketika masih ngampus, ia tidak maksimal; namun setelah lulus dan mengajar, di situlah justru ia memaksimalkan ilmu dan memperkuatnya. Karena dengan mengajar atau ceramah, dia [sebagaimana normalnya guru dan penceramah] mempersiapkan materi matang2 plus referensi. Lalu disampaikanlah olehnya ilmu hingga mengakar.

[2] Dengan TULISAN, yakni dengan menulis catatan, ringkasan, atau karangan yang selayaknya disebar ke orang lain. Cara ini sebenarnya lebih terbuka untuk masa kini. Setiap orang memiliki kesempatan melakukannya, terlebih di dumay. Tapi masalahnya, tidak banyak yang rajin mencatat, meringkas dan menulis ulang. Yang banyak adalah mengandalkan catatan, ringkasan dan tulisan orang lain; yang kemudian di-foto-copy atau di-copas. Tentu ini kurang bagus jika menjadi kebiasaan dan adat. Karena dependensi [ketergantungan] membunuh daya independensi [ketidaktergantungan dan kebebasan].


 [1] LISAN

Maka, kita lihat para penceramah dan ustadz2 pemateri senior, mereka sangat menguasai materi karena:
a. terbiasa menyampaikan dan
b. terbiasa menyampaikan materi tersebut.

Jika sedari muda, seseorang sudah terbiasa tampil di hadapan umum, ia tak menemukan kesulitan menggunung di masa depan saat diundang tampil sana-sini.

Jika sedari muda, seseorang terbiasa menyampaikan materi kitab Matan Abi Syuja' [misalnya], maka kelak ia malah jadi hafal dan tidak memerlukan buku lagi.

Lihat juga guru2 senior, mereka tidak memerlukan banyak buku dan kertas dalam menyampaikan pelajaran; karena sudah terbiasa menyampaikannya.


[2] TULISAN

Tidak sedikit orang yang mahir menulis, meringkas dan mengungkap apa yang terfikir lewat banjiran tinta pena mampu merangkai kalimat sempurna selalu dengan lisan. Namun rata2 mereka yang mahir menulis memiliki pemikiran dan pemahaman yang lebih dalam dibanding yang mahir berbicara.

Karena tiada orang mahir menulis melainkan karena ia suka membaca. Dan membaca mewariskan daya untuk memahami lebih detail.
Dan tiada orang mahir berbicara melainkan karena ia suka mendengar. Dan mendengar mewariskan cepatnya memahami, namun tidak mendetail.

Dan orang lebih banyak berbicara dibanding menulis; karena tulisan sebenarnya lebih mahal dibanding ucapan lisan. Ucapan lisan tak hendak dijual kecuali jika nyanyian ia dan berirama ia. Sedangkan karya tulisan terjual oleh orang, bisa melegenda dan bisa saja ia terulir hingga akhir zaman diingat manusia.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/415356101839114

Sunday, June 24, 2012

IYA, KAN? : Bahasa!

oleh Hasan Al-Jaizy

Iya, kan?

Inti atau tujuan dalam dakwah itu bukan PUJIAN audiens bahwa:
--> kamu [dianggap] bisa berbahasa asing [entah Arabic, entah English, entah Javanese, entah Ngapakish]
--> kamu pintar atau luar biasa

Tapi, dakwah itu ya untuk MEMAHAMKAN orang lain akan suatu perkara, demi meraih maslahat [kebaikan] dan mencegah mafsadat [kerusakan]. Dan untuk memahamkan, ada beberapa perkara asasi yang penting bagi pelayar untuk memperhatikannya, salah satunya:


BAHASA

Jika medan dakwah berisikan orang-orang berbahasa sepertimu, ya gunakanlah bahasamu. Medan Indonesia? Ya gunakan bahasa Indonesia; bukan malah menyampaikan dengan bahasa Inggris atau Arab ke mereka. Karena tujuannya bukan: 'Hey, saya memakai bahasa asing lho!'.

Meskipun dia beralasan: 'Saya menggunakan bahasa asing agar para pendengar tergebu untuk mempelajari bahasa asing sehingga tidak ketinggalan'. LOL

Justru selawannya, dampak negatif seperti ini akan nampak:

--> Yang tidak suka pelajaran bahasa asing, semakin tidak suka
--> Yang niatnya mencari faedah, justru terhalang dan terkendala
--> Yang memang tahu bahasa asing, malah jadi sombong [karena merasa tahu di antara orang2 yang tak tahu]

Maka, gunakan BAHASA SETEMPAT dan tercocok dalam menyampaikan. Selain itu, layak pula diperhatikan alunan dan paduan kata dalam bahasa. Bahasa yang celemotan, cemong dan tak tertutur rapi menunjukkan 'siapa' si pembicara. 

Bahkan, jika seorang dai asal Bangil, misalnya, ketika dia berdakwah di tengah-tengah bapak-bapak di Solo, ia tidak layak menggunakan bahasa Bangil kelas menengahnya di ceramah. Padahal sama-sama bahasa Jowo.


Lalu, bagaimana....

jika si dai tetap bersikukuh, berkeras hati dan diri untuk tetap menggunakan bahasa yang membuat muka penduduk setempat bertambah kusam?

Ya, jangan salahkan penduduk jika:

--> Mereka mencibiri si dai
--> Mereka meninggalkan si dai ngoceh 
--> Mereka berburuk sangka bahwa si dai ini nyari pamor dan perhatian saja atau sekedar pujian

Karena YOU berdakwah, bukan untuk maslahat pribadi YOU di dunia, melainkan untuk maslahat semuanya dunia akhirat.


Thursday, June 14, 2012

IYA, KAN? : Bangga!

oleh Hasan Al-Jaizy


Every generation is proud of theirs. Setiap generasi akan bangga pada miliknya; walau sebenarnya generasi berikutnya itu lebih gaul, lebih terbuka, lebih banyak pengetahuannya dan lebih...lebih...tapi tetap saja, orang-orang tua akan mengenang masa-masa mudanya dan menjempolbawahkan muda-mudi pada masa tuanya ia. Penilaian orang tua seringkali tidak fair terhadap anak muda. Dan ketidakfair-an ini wajar dan lazim terjadi.

Setiap generasi akan bangga pada miliknya...dan tidak membanggakan milik setelahnya. Selaksana seorang tua bangga pada anaknya, dan tidak membangga-banggakan anak orang lain. Untuk apa 'mengelus' milik lain, toh sudah punya sendiri toh?


Merangkai Contoh

Kalau kita amati, ada satu bahasa tubuh orang-orang tua yang mengekspresikan kesuksesan masa muda kala ia bercerita, yaitu menepuk-nepuk paha sendiri sambil duduk santai bercerita. Ini tak terjadi pada semua orang tua; tapi terjadi pada banyak dari mereka.

Ketika orang tua membandingkan generasi muda masanya dengan masa kini, tentu saja ia akan berpihak pada masanya. Biasanya orang-orang tua yang 'sukses' berkeluarga akan seperti ini. Tapi orang-orang tua yang kurang sukses kekeluargaan atau perekonomian atau pekerjaan, biasanya enggan membanding-bandingkan. Dan jika terpaksa membandingkan, tentu saja ia memihak pada masanya.

Seperti Pele, legenda sepakbola Brazil, sampai sekarang mengatakan bahwa klub Santos yang dulu ia bermain untuknya, adalah yang terbaik sejak dulu. Padahal permainan bola zaman dulu tidak sekeras dan seketat sekarang. 

Seperti halnya kuli-kuli bangunan dan tukang sampah yang kadang saya berbicara dengan mereka mengenai anak-anak zaman sekarang, mereka akan mengatakan masa muda mereka lebih baik. Padahal dulu mereka juga sama malasnya, sama bolosnya...hanya saja keadaan masa kuno tak seperti sekarang. Dan anak sekarang, meskipun malas, bolos dan bodonya minta ampun, setidaknya sudah bisa main Internet, juga menggunakan HP untuk SMS geje seperti:

'Cemungudh...cemungudh...ea...cemungudh yaaa kakaaa"


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/403650396343018

Wednesday, June 13, 2012

IYA, KAN? : Takjub!

oleh Hasan Al-Jaizy

Ada kiranya seseorang menyembunyikan rasa takjubnya pada 'kelebihan' orang lain dengan cara men-standarkan nilai atau bahkan menjatuhkan nilai kelebihan tersebut. Ku bentangkan padamu contoh-contoh yang sebenarnya tergerai di sekitarmu.

A. Takjub Namun Standarkan Nilai

Contoh 1: Sebut saja Bang @#, ia takjub, kagum dan terpesona oleh kemampuan anak berusia 18 tahun dalam membaca Al-Qur'an. Selain lantunannya yang merdu, huruf-huruf yang diterjemahkan dengan suara terkesan sangat paseh dan merundukkan kekerasan hati. Namun ketika Bang @# ditanya, "Bang, menurut Abang gimana bacaan dia?", ia pun menjawab: "Hmm...lumayan lah." Dan dalam hati menggaung bisikan-bisikan iri...berharap dan mengandai seandainya ia menjadi ia.

Contoh 2: Dalam pergaulan umum, hal yang biasa si 'anu' melihat wajah si 'anuah' dan sebaliknya. Suatu saat si 'anu' [sebut saja namanya @#] melihat si 'anu' [sebut saja namanya !?] berjalan bersama 'anuah' [sebuat saja namanya %$]. Si @# pun terpana, tercengang, terbelalak, menjulur mata tergiur lidah melihat keindahan %$. Lalu si !? bertanya pada @#: "Gimana, bro...cakep ga si %$?" Si @# pun menjawab: "Biasa sih, bro."


B. Takjub Namun Jatuhkan Nilai 

Contoh 1: Ada seorang mahasiswa bernama @# yang sejatinya playboy; hidup tak terfokus kecuali ikutan playgroup untuk memburu playgirl. Ia punya teman sekelas [sebut saja ia <+>] yang pandai bersyair. Syairnya sering dibaca manusia dan disukai. Kadangkala gadis-gadis jatuh-bangun-naik-turun-serong-kanan-serong-kiri membaca syair-syair romantisnya. Tak ayal lagi, @# pun sirik terhadapnya. Dan sirik itu tanda tak mampu atau tanda mampu namun merasa tersaingi. Ketika ia ditanya: "Bro, menurut lu gimana syair-syair nya <+>.Gokil abis kan?", ia pun menjawab: "Alaaah, palingan cuman copas. Hare gene kan apa-apa gampang coy."

Contoh 2: Ada seorang anak muda biasa dipanggil  oleh warga sekitar. Ia rajin shalat di mushalla, mengaji dan tak pernah lupa gosok gigi. Semua orang menyayanginya dan menjaga namanya karena kesalihan [dan mungkin juga kebersihan giginya]. Namun ada seorang mbah-mbah, sebut saja namanya . Ia sebenarnya takjub dengan pemuda ini. Namun ketika kawan-kawannya yang seumuran membicarakan kebaikannya,  langsung menyela: 'Anak kemaren sore napa pada nyenengin si? Emang dia udah ngelakuin apa aja di kampung kite!?"


Iya, kan?

Kadang orang takjub akan kelebihan orang lain namun ia enggan mengutarakannya secara langsung, entah di depan orang yang bersangkutan atau di depan rekan-rekan. Itu bisa disebabkan karena beberapa hal:

--> Gengsi. Merasa dirinya tidak lebih rendah darinya.
--> Malu. Merasa dirinya tak pantas memuji secara langsung.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/403355306372527