Showing posts with label Manhaj. Show all posts
Showing posts with label Manhaj. Show all posts

Friday, October 23, 2015

Konsultan Saya Adalah Ayah

oleh Hasan al-Jaizy

Konsultan utama saya dalam masalah belajar dan dakwah adalah ayah saya sendiri. 

Konsultan utama saya dalam masalah perasaan, manajemen keluarga dan kebaktian adalah ibu saya sendiri. 

Walaupun pekerjaan sebagai seorang konsultan, tapi saya tak bisa lepas dari Nyak dan Babeh. Mau sekeren apapun di hadapan siapapun, sowan ke Nyak Babeh itu harus. Sowan ke Nyak Babeh itu wajib, sampai kapanpun. Sementara sowan ke orang-orang besar yang bukan murabbi saya itu tidak wajib, bahkan kadang saya malah khawatir sowan karena kepingin dianggap 'wah, muridnya wah ternyata dikenal oleh orang besar'.

Ada hal yang perlu kita bertanya-tanya dan tidak usah pura-pura. Kamu dulu lahir di rahim siapa? Yang biayakan sekolah kamu itu ayah atau tetangga atau ustadz yang baru ketemu setelah dewasa? Sekarang, komunikasi kamu dengan ustadz atau ayah kamu yang lebih intens?

Juga hal yang perlu diingat, ayah dan ibu kamu lebih kenal tentang kamu daripada guru kamu ketemu besar. Apalagi kalau guru tersebut kamu hadiri majelisnya sepekan atau sebulan sekali. Apalagi kalau cuma nyimak tanpa konsultasi dekat ngobrol dekat. Jadi please, jangan merasa sudah paling punya naungan. Ayah dan ibu kamu lebih tahu latar belakang kamu, spirit kamu, kemauan kamu, konyolnya kamu, lucunya kamu, nangisnya kamu, sampai kalahnya kamu pas maen kelereng dulu. Ayah dan ibu kamu!

Kalau memang ayah dan ibu kamu ga bisa dijadikan konsultan, ga bakal kasih solusi karena dunia kamu beda, minimal pijitin bahu ayah, atau kasih Nyak berapa duit buat belanja, lalu bilang hajat kamu apa. Bilang kamu mau apa. Bilang kamu suka sama siapa. Bilang aja. Bilang aja. Malah kok kamu lebih getol bilang hajat kamu ke teman, atau ustadz, yang kenal kamu saja baru kemarin. Kamu lupa ya kalau pertama kali kamu mengenal matahari, kamu ada sama ayah ibu, bukan sama teman atau ustadz?

Kamu lupa ya kalau sebesar-besar harapan teman atau ustadz sama kamu, lebih besar lagi harapan ayah ibu sama kamu? Kamu lupa ya jeritan Nyak dan cakarannya ke Babeh pas ngeluarin kamu? Kamu lupa ya pas kecil kamu lari hampiri ayah kamu sore-sore nyambut kedatangannya yang capek berpeluh kerja cari nafkah sambil tergopoh-gopoh gopong tasnya?

Kamu ga tau ibu nangisin kamu di doa beliau? 

Kamu ga tau ayah di jalanan nangis karena kebingungan cari duit?

Sebenarnya kamu emang ga tau. Dan ga mau tau. Karena mungkin bagi kamu, ayah ibu udah jadul. Ga tau dunia kamu. Ga punya solusi.

Dan alhamdulillah kalau saya, tidak begitu. Kadang ayah ibu saya memang ga kasih solusi lewat kata. Tapi bagi saya mah, salaman tangan baik-baik pas mau pamit dari rumah ayah ibu adalah solusi. Bagi saya mah, mereka konsultan tak tergantikan. Saya cerita apapun, mereka dengarkan.

Bagi saya mah, melihat mereka berdua berdiri depan pintu lihat saya naik motor pamit pergi dan mereka lambaikan tangan jawab salam, adalah solusi.

Solusi yang ga bisa saya dapatkan di siapapun guru saya yang terpintar.

Solusi problematika apapun buat saya mah: berbuat ihsan pada ayah ibu.

Solusi dari the best consultant. Ridha ayah ibu saat saya udah gede gini udah cukup membuat saya yakin dan berdoa: semoga Allah Ta'ala meridhai kami... dan kamu.


Thursday, October 22, 2015

Kekeramatan Yang Kurang Diimpikan

oleh Hasan al-Jaizy

Kemarin sempat interview beberapa calon pegawai. Selain miris pada diri sendiri yang masih belum seberapa, ternyata ada kemirisan tambahan melihat para calon. Calon-calon guru di beragam disiplin ilmu dunia, seperti matematika, kimia, biologi, bahasa Indonesia sampai English. Saya tidak mempertanyakan keahlian mereka di bidang duniawi, tapi standar baca al-Qur'an dan wawasan keislaman teman-teman kita ini masih minim. Ini tanpa perasaan kelak di endingnya saya lebih baik dari mereka.

Sebagaimana menjadi rahasia umum yang sudah menjadi konsumsi bibir publik, banyak dari dokter sekarang, menakut-nakuti ibu hamil apalagi yang masih belia usianya dan belum punya experience cukup dalam kehamilan. Ujung-ujungnya rekomendasikan supaya bayi terlahir dengan cara Caesar. Penyakit demi penyakit atau gejala negatif dijabarkan dengan semangat oleh dokter beserta bidan asistennya. Bahkan kadang diceritakan, sang dokter terkesan maksa. Rupa-rupanya tidak sedikit kasus kongkalikong. Apalagi kalau mengejar duit? Bumil panik mendengar dor dor dari dokter. Saya pernah menyaksikan ini sebagai suami bumil.

Saya pikir, ini dokter apa teroris? Tahu ini orang lagi mengandung, kok malah main dor dor begitu saja. Lembut dikit kek. Ngarti dikit kek perasaan bumil ini. Saat dokter ngoceh terus berentetan sebut kasus-kasus parah, saya tatap tajam muka beliau. Saya pernah melihat Didier Drogba lari sana-sini kejar bola meneror para pemain yang sedang pegang bola, demi cari apresiasi pelatih dan penonton, yang ujung-ujungnya duit. Kok mirip ya ngototnya. Vonis penyakit dan harus langsung dibelek perutnya di awal cek kedokteran, dengan bahasa semaunya tanpa mikir perasaan, adalah hal yang jauh dari kamus kebijakan.

Kenapa mengejar Caesar, wahai dokter? Padahal Caesar kan sudah meninggalkan program lamanya. Apakah Anda mau sama dengan para penyelenggara tematik yang berburu Caesar dan yang semacamnya supaya hadirin dan duitnya banyak?

Akhirnya, saya pindah pilihan. Tidak mau ke dokter itu lagi. Saya browsing Inet, ditemukan beragam cerita kenakalan sebagian dokter. Mirip-mirip. Intinya kejar duit.

Alhamdulillah, ketemu RS yang profesional. Swasta dan biayanya lumayan membuat saya semakin tersadar bahwa saya harus lebih mendekatkan diri pada Allah. Pelayanannya memuaskan secara psikologis. Para dokter dan pasukannya sampai satpamnya membuat kami merasa comfort. Tempatnya juga nyaman dan wangi. Tak apa soal biaya kan soal rizki. Yang penting kita usaha supaya istri dan anak lebih tenang. Safety first, money later. Setelah dapat safety, giliran money bill, baru kita menangis later. Hehe.

Walaupun dari sisi profesionalisme dokter-dokter dan bawahannya ini saya acungi jempol tapi ada saja yang kurang buat saya. Vital. Apa itu? Sisi religiusitas!!! Ini nih. Mereka bekerja secara profesional duniawi. Andai mereka terpoles ke agama, saya akan senang menemukan suster-suster itu sering menyebut nama Allah, tidak hanya memberikan advice of health melainkan dibalut juga dengan menekankan sisi tawakal pada Allah. Tapi sayangnya tidak. Karena mereka tidak dididik untuk itu.

Inilah. Kita butuh Rumah Sakit Islam lebih banyak lagi. Bukan label Islam semata, tapi nilai moral pegawainya sangat islami.

Nah, kembali ke interview itu, saya berhadapan dengan para calon guru baik ikhwan maupun akhwat, dengan membawa otak Biologi, Kimia dan lain-lain. Di tempat saya kerja, nilai religiusitas sesuai pemahaman Salaf sangat diusahakan. Kinerja para pegawai relatif stabil. Prestasi demi prestasi terbangun. Meski saya sendiri belumlah seberapa mampu memperbaiki diri. Tapi wajib bersyukur kalau kita sudah mulai berusaha menanamkan jiwa religiusitas di tempat kita bekerja.

Saya iri sama teman-teman yang mahir Biologi. Kepingin kuasai Biologi. Miris hati kalau naik motor lihat pepohonan atau jalan di jalanan lihat hewan, tapi nothing to say tentang spesies, kehidupan, anatomi dan anything about them. Hanya bisa berkata mereka ciptaan Allah. Tapi apakah teman-teman anak Biologi sendiri, iri sama teman-teman yang faham baca kitab, mahir baca al-Qur'an?
Padahal di dalam al-Qur'an, disebutkan beberapa nama hewan, disebutkan beberapa macam tumbuhan. Selemah-lemah rumah adalah rumah laba-laba. Secara scientific, bagaimana membuktikannya? Kita sama-sama imani ayat itu, tapi secara keduniaan dan pembalutan sains, saya belum mengerti detail dan saya berharap mengerti.

Siapapun pegawai, kalau menjunjung nilai religiusitas di bidangnya, insya Allah akan lebih disukai.
Karena pegawai yang tak religius, dia hanya dapat dunia. Adapaun pegawai yang menjaga agamanya di gaweannya, dia dapat dunia dan dia punya saham di akhirat.



Wednesday, July 17, 2013

Halo? Apakah Saya Ada? 3

oleh Hasan Al-Jaizy

Saya agak khawatir jika memerangi Syi'ah itu hanya karena trend. Yakni: ketika teman-teman dumay nya riuh mempermasalahkan Syi'ah, ikut-ikutan berkoor.

Mentalnya ada mirip dengan kasus maling di keramaian stasiun. Ketika ada yang teriak maling, serempak pada ikut-ikutan. Padahal tahu jelas kasusnya pun tidak. Syukur jika ada informan yang jujur. Namun, rata-rata pengunjung stasiun menang di teriak ramai-ramai dan mencelanya. Lalu memukul senafsu-nafsunya saat sudah ketemu 'maling'nya.

Mentalnya ada mirip juga dengan kebiasaan masyarakat yang ketika para jurnalis membentangkan berita hot, langsung para pemirsa pada angkat bicara. Semua mengutuk. Setelah berita hot habis, para pemirsa tenang kembali. Lupa semua itu. Nunggu hal lain yang akan menjadi masyhur atau trend.

Saya agak khawatir jika memerangi Syi'ah itu hanya karena ikut-ikutan, sehingga secara normal enggan menggali pengetahuan tentang Syi'ah. Menunggu informan. Atau hanya ingin meramaikan saja.

Sunday, July 14, 2013

Manhaj Takut-takutan...Manhaj Ridha Manusia

oleh Hasan Al-Jaizy



[1]

Beberapa orang takkan pernah mau membagi pengetahuan yang dinisbatkan pada orang-orang berilmu seperti Aidh Al-Qarny, Salman Al-Audah, Sayyid Quthb dan lain-lain. Seolah tak pernah sebait pun mendapat faedah dari mereka. Padahal, ada semacam ini yang diam-diam membaca karya mereka. Namun, tidak pernah mau berbagi dan tak hendak mengkaitkan hal pada orang seperti mereka.

Alasan dibuatnya: mereka punya ketergelinciran.

Alasan sebenarnya: saya takut ditahdzir.

Karena jika kelompok Anda (sebenarnya bukan kelompok, namun tetap saja layak disebut kelompok di sisi lain) sudah menumbangkan nama seseorang ramai-ramai, sebagiannya akan ikut-ikutan. Membeo dan membebek.

Dibanding menukil kalam emas dari pemilik nama-nama yang tersebut di atas, sepertinya lebih baik menukil kalam abangan Mario Teguh, Pak Presiden, Pak Menteri dan lainnya. Kenapa? Karena nama-nama tersebut 'aman' dari penumbangan.

[2]

Saturday, February 2, 2013

Ku Tahu Yang Ku Mau

oleh Hasan Al-Jaizy


 Ku Tahu Yang Ku Mau

2013, tahun terakhir saya ngampus di Kampus Biru mudah-mudahan. Sebelum lulus, kudu meninggalkan jejak di beberapa sektor, terutama sektor dunia maya ini. Kenapa mematok sebelum lulus kuliah? Karena alam lulus kuliah itu tak selonggar alam kuliah, dari segi tanggung jawab, pekerjaan dan waktu. Karena itu, mahasiswa yang merasa punya kemampuan, skill atau kelebihan di satu sektor, ia HARUS mengexplore, bereksperimen, mengasah dan mendalaminya sebelum kesibukan dan raungan tangis anak bayi mengaburkan konsentrasinya. Lalu tuangkan itu semua ke berbagai tempat.

Seperti istilah yang berkali-kali diucapkan Syaikh Al-Arify, Dha' Bashmatak, atau enaknya diterjemahkan: "Cetak cap jempolmu!", "Taruh Jejakmu!"

Seperti beliau yang mencetak jejak di Somalia, Libya, Meskir, Saudi apalagi, Yaman, Suriah, Palestina, Amerika, Malaysia, dan mana-mana. Ah, beliau kan sudah punya nama. Sudah bergelar doktor dan senior. Mau cetak jejak di mana-mana tinggal masuk jadwal saja.

Tapi, bagi kita yang belum mampu sedahsyat beliau, setidaknya cetaklah jejak di sektor yang kita mampu. Kalau tidak mampu di dunia maya, ya di dunia nyata. Kalau tidak mampu di dunia nyata, ya di dunia maya. Tapi, kalau mencetak jejak di dunia maya, akan ada yang kritik begini: 'Cuma bisa di dunia maya ajah!' Kritik ini benar dan bagus. Karena memang dunia nyata selayaknya lebih diporsikan. Namun, baiknya fahami pula bahwa keberadaan dua dunia ini tidak semua orang bisa menguasai keduanya dengan seimbang. Tidak semua orang berdaya sehingga bisa berjaya di dunia nyata.

Friday, February 1, 2013

Lapang Dada Omongan Saja

oleh Hasan Al-Jaizy


"Lapang Dada Omongan Saja"

Seperti mengatakan bahwa hukum shalat berjama'ah adalah wajib dengan dalil-dalil yang sah, namun menyebut orang yang tidak mengatakan wajibnya shalat berjamaah berarti munafik. Ini sama dengan menyebut jumhur ulama adalah munafik. Abu Hanifah, Malik, Asy-Syafi'i, secara tidak langsung (atau langsung?) disebut munafik! Begitu pula ulama madzhab ketiganya.

Namun, jika dikatakan bahwa enggan shalat berjama'ah atau membencinya (bukan karena meyakini ketidakwajibannya) adalah ciri orang munafik, maka ini tepat.

Dan, bukankah yang munafik itu, yang meyakini wajibnya shalat berjama'ah tapi ketika malas dan tidak ketahuan orang yang sependapat dengannya, ia meninggalkan shalat berjama'ah? Ini juga nyata. Meyakini kewajibannya, membela keyakinannya, membantah atau menggugat yang berseberang dengan keyakinannya, namun dalam beberapa kondisi tak termaafkan, mengamalkan apa yang berlawanan dengan keyakinannya.

Wednesday, January 30, 2013

Menyimak Kuburan Keramat

oleh Hasan Al-Jaizy


Pertanyaan keramat hari ini adalah "Pak Ustadz, apa hukumnya mendengarkan lantunan Al-Qur'an dari seorang Qari HIZBI? Seperti Syaikh XX yang terkenal itu?"

Pak Ustadz: "Baiknya antum mendengar lantunan dari Qari Ahlus Sunnah saja! Tapi, sebenarnya tidak apa-apa."

*^%^$&*$%$%#%^*^

"Pak Ustadz, apa hukumnya diimami seorang imam hizby?"

Pak Ustadz: "Baiknya antum cari imam Ahlus Sunnah saja, seperti saya misalnya."

"Pak Ustadz, apa hukumnya tidak menghizbikan orang hizby?"

Pak Ustadz: "Berarti orang itu hizby."

===================================

Cari versi lain saja. Begini:

"Pak Ustadz, apa hukumnya mendengar bacaan Qari Hizby?"

Pak Ustadz: "Hukumnya maklum, tatacaranya masyhur, dan bertanya tentangnya adalah bid'ah"

"Pak Ustadz, apa hukumnya diimami seorang imam hizby?"

Pak Ustadz: "Selama kehizbian tidak membatalkan keislaman, shalat dan imamah, maka pertanyaan ini jawabannya jelas."

"Pak Ustadz, apa hukumnya tidak menghizbikan orang hizby?"

Pak Ustadz: "Berarti antum ga ada kerjaan lain."

"Pak Ustadz, apakah boleh menimba ilmu dari seorang guru yang manhajnya ga jelas?"

Pak Ustadz: "Yang ga jelas itu manhaj gurunya atau antum? Kalau manhaj gurunya ga jelas bagi antum, bisa jadi karena antum sendiri yang ge jelas. Kalau antum merasa manhajnya sudah jelas dan menilai manhaj guru antum ga jelas, maka jelaskan manhaj antum pada guru tersebut, setelah jelas manhajnya, barulah berguru padanya. Repot, kan?"

"Pak Ustadz, apakah antum hizby?"

Pak Ustadz: "Inilah pertanyaan yang ga jelas maunya apa."

=================================

Hizbiyyah (dalam artian: fanatisme) bisa menghalangi seseorang dari kebenaran. Sibuk dalam pelabelan hizbiyyah juga bisa menghalangi seseorang dari pembelajaran.

Hizby Bak Mandi...eh...Hizby Bak Oase

oleh Hasan Al-Jaizy



Berkali-kali, entah di dunia nyata atau selainnya, saya dengar ikhwah hizbiyyuun (langsung saja saya cap 'Hizbiyyun' karena kita -saya dan mereka- sama-sama tahu bahwa mereka ber-tahazzub secara nyata; meskipun jangan-jangan saya sendiri juga Hizby karena bersahabat dengan mereka) mengutip perkataan emas yang baru:

"Kalian seharusnya contoh saudara kalian [baca: golongan kalian] di Mesir! Mereka kini lebih terbuka wawasannya. Mereka sudah punya partai sekarang. Dahulu, bukankah mereka dan juga kalian paling anti dengan partai!? Sekarang, justru karena situasi dan ijtihad non-kolektif (dalam artian: tidak disepakati semua kalangan dari berbagai negara), mereka punya partai. Namanya sudah jelas: HIZB. Hizb Cahaya. Hizby. Tak apa-apa toh ngizby?"

Tanggapan saya (sebagai orang kecil tidak masalah jika dituduh Hizby) adalah:

[1] Kalian berfikir bahwa seluruh kaum S di Mesir itu sepakat atas pembangunan Hizb tersebut; padahal tidak! Mereka terbagi menjadi 2. Satu mendukung, dan satu mengkritisi. Saya pribadi -karena bukan orang sana dan tidak punya keahlian- tidak mendukung tidak pula mengkritisi. Tetapi, berusaha menghormati karena itu adalah hasil ijtihad 'sebagian' dari ulama mereka.

Saturday, January 26, 2013

Lelucon Konyol Saat Ini

oleh Hasan Al-Jaizy

Membuat status, bagi saya, tidak hanya belajar menulis saja, tapi setelahnya mempelajari reaksi manusia. Setelah menulis tulisan humor, bagaimana reaksi manusia. Begitu pula dengan tulisan full-sarkastik. Dan saya berusaha mempelajari siapa-siapa yang mengomentari, bentuk reaksinya, gelombang emosinya, susunan kalimatnya dan seterusnya. Hal semacam ini menarik, bagi saya pribadi. 

Dan berbulan belajar, saya banyak menarik kesimpulan. Biarlah itu disebut subjektif. I tell you this: Jika penilaian Anda disebut oleh orang lain 'subjektif', maka ketahuilah bahwa penilaian dia terhadap penilaian Anda bisa juga sendirinya 'subjektif'. Jadi, belum tentu penuding 'subjektif' lepas dari subjektifitas tudingannya.

Tulisan yang murni ilmu dan ilmiah tentu kurang laku. Bandingkan saja dengan tulisan humor atau sarkastik atau nyolot dan sebagainya. Satu sisi, ini wajar. Sementara di sisi lain, ini tidak wajar. Kita, yang 'katanya' atau klaim kita sendiri, mengagungkan ilmu, ternyata tidak sesuai klaim kita. Dan ini juga cerminan untuk saya pribadi. Kita ini kadang-kadang konyol kesumat. Melawak tanpa sadar. Sadar ilmu tapi kok gemar lawakan dan loyo akan ilmu.

Friday, January 25, 2013

Kekuatan Gado-gado!


oleh Hasan Al-Jaizy

Mungkin kelak banyak asaatidzah berfikiran begini:

"Biarlah mereka menilai saja bermanhaj gado-gado, bersahabat dengan lawan dan lain-lain. Mereka takkan meraup jasa dari saya dan takkan melihat ilmu terlebih upaya yang saya coba kerahkan. Tetapi, itu adalah problematika mereka. Manusia bukan hanya mereka saja dan Allah Maha Adil. Ketika mereka tak mengambil manfaat dari saya, ketahuilah sesungguhnya orang-orang awam mengambil manfaat dari saya. Dan saya bersyukur."

Kalimat semacam di atas [meskipun tak sama persis] pernah saya dengar langsung dari seorang dai.

Really, sekarang atau mungkin terus-menerus, beberapa manusia akan hanya mengamalkan kalimat ini:

انظر من قال ولا تنظر ما قال

"Lihatlah SIAPA yang berbicara, jangan lihat APA yang ia bicarakan"

Meskipun kalimat di atas penting diamalkan, namun tidak di semua kondisi. Dan lucunya, akan banyak muntasib ke jema'ah tertentu (meskipun ngakunya tak ber-hizb atau anti-hizb malah), tapi ketika gurunya atau manusia rekomendasian gurunya yang berbicara, kalimat inilah yang diamalkan:

انظر ما قال ولا تنظر من قال

Sunday, January 13, 2013

Bagaiman Hindari Syubhat Ini?

Seseorang bertanya, "Bagaimana caranya menghindari syubhat perihal radio yang ana dengar dituduh begini begitu, dapat sumbangan dari ini itu dan ada kecacatan di beberapa individu?"

Seharusnya dijawab, "Menghindari syubhat tersebut ada beberapa cara:

[1] Menghindari topik semacam itu. Cuek.
[2] Meyakini bahwa membahas murni ilmu itu baik, sedangkan membahas hal itu menambah syubhat.
[3] Melihat kenyataan bahwa mereka para pendekar yang membahas syubhat semacam itu tidak pernah selesai BAHKAN mereka sendiri kemudian terjerumus dalam perbincangan sia-sia dan ketagihan.
[4] Mengingat kita diminta beribadah dan mencari ilmu. Dan mengupas syubhat semacam itu, jika bukan ahlinya, justru menghalangi kita dari ibadah dan bisa menjauhkan diri dari ilmu.

Cara di atas bisa dipilih satu saja."

============

Seseorang bertanya, "Bagaimana caranya menenangkan diri dari syubhat perihal jema'ah ustadz fulan dicap begini dan begitu."

Seharusnya dijawab, "Caranya adalah berlari darinya dan tidak membahasnya. Api jika dipegang akan membakar. Jika kian didekati kian terasa panas. Jika ditonton takkan memberimu ilmu. Jika kau pergi ke hutan lain, kau selamat. Jika kau tetap di sana asyik menonton, kau pasti akan kena percikan. Berlarilah dan cari ketenangan dengan Al-Qur'an dan Hadits, serta kembali menelaah ilmu. Lihat para pemadam kebakaran amatiran itu, mereka bertindak seolah mampu memadamkan api yang sungguh besar. Namun, yang terjadi, mereka justru menambah kobaran dan terkena sendiri."

Cukup menyuntik rasa iri dan kagum saya jika mendengar seseorang berkata, "Maaf, saya tidak punya waktu membahas hal semacam itu."


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/487510151290375

Friday, January 11, 2013

Belum Kiamat, Tetapi [Kayaknya] Sudah Terlambat

oleh Hasan Al-Jaizy



Tahun-tahun belakangan dan sampai sekarang atau sepertinya masih terus berlanjut, sebut saja mas Justin Habibers dan teman-temannya selalu meledek orang-orangan sawah yang celananya terangkat itu, "Surga sudah kalian pesan ya? Kalian pemegang kunci surga ya? Kalian punya hak menentukan siapa masuk surga siapa masuk neraka ya?"

Tapi, mas Justrin Habibers dan Supi Herandehs juga konco-konco dari perguruan silat sealiran sepertinya hari-hari ini sedang sibuk. Atau mungkin sedang menikmati masa liburan kuliah. Atau memang tutup mata tutup telinga jika ternyata ada seorang sesepuh mengatakan:

"Siapa yang tidak memilih pilihan kita, yaitu Raja Dangdut, ketika dia wafat, dia tidak masuk surga!"

Thursday, January 10, 2013

PAIN IN THE ASS!


oleh Hasan Al-Jaizy


Disimpulkan oleh Ibnul Qayyim [w. 751 H]bahwa membuka pintu Ta'wil [yang rusak] adalah penyebab kehancuran alam serta kerusakan diin [agama] dan dunia. [Ash-Shawaa'iq Al-Mursalah, 1/348]

Ta'wil yang dimaksud bukanlah ta'wil bermakna tafsir yang sesuai dengan pemahaman salaf; melainkan sebuah aplikasi memahami teks dengan cara menyimpangkan makna zahir hakikat menuju makna yang tidak zahir atau tidak sebenarnya TANPA dalil yang sah. Bahkan terkadang dimaknai dengan makna yang tidak dikenal sama sekali pencocokannya dalam bahasa.

Contoh:

Jika saya katakan, "Saya melihat singa di hutan"
Ta'wil yang rusak adalah memahami kata 'singa' tersebut adalah kelinci berwarna kuning. Hal ini tidak pernah dijadikan penggunaan sama sekali dalam bahasa, baik formal ataupun keseharian.

Dan ta'wil yang melenceng tanpa disertai dalil yang sah, tidak lain dilahirkan oleh penyakit hati; yaitu ittiba' al-hawa. Apa lagi selain ini? Jika seorang liberal memaknai jilbab dalam Al-Qur'an bukan jilbab sebenar penutup aurat, melainkan jilbab hati, maka ia WAJIB mendatangkan qarinah atau dalil untuk menguatkan pemaknaan tersebut. Jika tidak mendatangkan apapun selain pendapat pribadi dan kelompok, maka ia telah:

Monday, January 7, 2013

Untuk Tiapnya BERDERAJAT!

oleh Hasan Al-Jaizy


Semester satu ketika itu...

Seorang mahasiswa presentasi di kelas. Mata kuliah Fiqh Muqaranah [perbandingan madzhab] dalam dirasat Fiqh Ibadah. Tepatnya dalam bab shalat. Dosen kami, Ust. Bakrun Asy-Syafi'i MA, melatih murid-murid kecilnya untuk punya kebiasaan presentasi dan menelaah ke kitab asal.

Mahasiswa tersebut membahas suatu permasalahan fiqh [dalam bab shalat]. Ia mulai menjabarkan beberapa pendapat dari berbagai madzhab Fiqh. Selesai membocorkan pandangan madzhab Syafi'i, si murid dihadang sang guru.

"Ente tau darimana Syafi'iyyah berpendapat seperti itu?" tanyanya dengan bahasa 'padang pasir'.

"Ane tau dari kitab-kitab mereka, Ustas!"

"Sebutkan kitab-kitab tersebut juga pengarangnya!"

Lalu si murid menyebutkan satu persatu kitab-kitab madzhab terkait dan pengarangnya. Sang guru angguk-angguk.

Saturday, January 5, 2013

Senior Tetapi Hakikatnya JUNIOR

oleh Hasan Al-Jaizy


Mungkin seorang yang 'baru' bisa mengulik dan menerbitkan sebuah artikel ilmiah, ketika melihat orang lain hanya menulis tulisan ringan, hatinya bercerita, 'Hehe. Punyamu masih kalah jauh dari punyaku. Punyamu hanya kalimat biasa, sedangkan punyaku adalah upayaku menggali kitab ulama, menyusun dan mendalaminya.'

Atau seorang yang 'baru' bisa men-takhrij hadits-hadits, pintar menggunakan perpustakaan elektronik dan membuka kitab-kitab tebal, ketika melihat orang lain hanya bermodal 'nukilan' pragmatis, hatinya bercerita, 'Punyamu bukanlah apa-apa dibanding punyaku.'

Mungkin juga seorang yang 'baru' bisa memahami bahasa Arab dan kaget dengan gemerlapnya kitab2 elektronik atau ebook, ketika melihat orang lain hanya bisa memahami terjemahan fatwa, terjemahan kitab dan sebagainya, ia akan bergumam, 'Jangan cuma bisa baca terjemahan. Kalian itu bukan apa-apa. Belum seberapa. Hargailah saya yang tidak [mau] baca terjemahan, tetapi harus ke sumber asli dengan bahasa Arabnya.'

Friday, January 4, 2013

Memasang Kompor Di Atas Kuburan Keramat

oleh Hasan Al-Jaizy


Kalau saya perhatikan, situs forum ilmu syariah terbagus itu -sebatas pengetahuan saya- adalah ahlalhdeeth. Pernah saya melakukan komparasi atau perbandingan kecil-kecilan antara ahlalhdeeth dengan forum ilmu syariah lainnya. 

Kesimpulan sementara: Forum ahlalhdeeth memang benar-benar untuk thullab al-ilm. Sementara ada satu dua forum lainnya bukan untuk thullab al-ilm, melainkan lintah-lintah dan lalat-lalat penjilat bangkai. Wah, buruk sekali penyifatan dari saya. Kok begitu?

Karena perbandingannya begini:

Coba perhatikan di antara Muntada dalam Ahlalhdeeth, apa yang paling banyak/laris?

[1] Muntada Rehat/Istirahat, berjumlah 16.000 thread lebih.
[2] Muntada Syar'i Aam, berjumlah 35.000 thread lebih.
[3] Muntada Khizanah Kutub/Abhaats, berjumlah 33.000 thread lebih.

Tuesday, January 1, 2013

Seringkali Kangen Masa Itu

oleh Hasan Al-Jaizy

Sering sekali saya pribadi rindu akan masa itu. Yaitu masa-masa di mana saya, sebagai seorang thuwailib pemula [dan masih hingga kini], belum mengenal istilah semacam 'Tahdzir', 'Hizbiyyah', dan seterusnya. Dahulu -mungkin karena memang pergaulan kami hanya di dalam pondok- kami tidak begitu mengenal kalimat semacam itu. Mungkin pernah dengar, namun sangat asing.

Malam ini, iseng-iseng membuka sebuah forum Islami yang insya Allah semuanya bermanhaj sahih dan berilmu. Berharap mendapat ilmu dan pemahaman baru di dalamnya yang bermanfaat dan bisa dimanfaatkan. Namun, yang rupanya membekas kini bukanlah atsar [bekas] dari ilmu, melainkan sakit di hati dan kesedihan kecil namun mendalam. Bukan bermaksud melukiskan seberapa putihnya hati sendiri; karena tidaklah penulis lebih baik dari pembaca tulisannya.

Beberapa thread dengan judul-judul menarik menarik saya untuk membukanya. Dan saya lihat sang syaikh hingga murid-muridnya [baca: pengikutnya] men-jarh [menikam] beberapa nama bertubi-tubi tanpa henti. 

Thursday, December 27, 2012

CAT : [76] "PENCARI KEBENARAN = PENGUMBAR BANTAHAN?"


oleh Hasan Al-Jaizy


[1]
Teman sekelas saya tinggal di rumah kos, di mana temannya berjualan kitab Arab dan Indo, serta berbagai barang lainnya. Rumah kos ini kerap dikunjungi mahasiswa LIPIA. Ada yang hendak membeli kitab, atau sekadar melihat-lihat dagangan, atau memang ziarah saja. 

Ada seorang mahasiswa suatu hari masuk ke toko ini [kos]. Ia melihat-lihat sejumlah buku. Tiba-tiba ia nyeletuk ke penjual yang didengar beberapa ikhwan, "Akh, kitab/pengarang ini bukannya sudah terbit buku BANTAHAN-nya?" Seketika, teman saya menjadi 'sebal' dengan kalimat itu.

[2]
Saya mempunyai sebuah tulisan di status. Itu adalah susunan kalimat motivatif dan inspiratif yang dikemas dengan style puitis. Di dalamnya saya bubuhkan beberapa nama orang terkenal. Di antaranya SBY, Chairul Tandjung, dan Syaikh Muhammad Al-Arify, kemudian ada seorang yang

Wednesday, December 26, 2012

CAT : [73] "KERUGIAN ILMIAH"


oleh Hasan Al-Jaizy


[1] Di antara kerugian ilmiah adalah berilmu tetapi tidak memanfaatkan dan tidak memberi manfaat dengan ilmunya. Tidak memanfaatkan adalah tidak mengamalkan dan tidak menerapkan pada dirinya. Tidak memberi manfaat adalah menyimpan untuk dirinya, entah selamanya ataupun baru mau membagi jika diimbali.

Karena ilmu bukan untuk koleksi, baik itu koleksi pribadi atau koleksi museum manusiawi. Koleksi pribadi hanya akan disimpan dalam-dalam diri; yang kelak akan mengeruh, atau mengaku, atau mengikis, atau menghilang. Koleksi museum manusiawi hanya menjadi pameran-pameran agar manusia melihatnya, memandangnya, mengaguminya, memujinya, memujanya, lalu tiada ia sampai menuju-Nya.

--> Jika ilmu hanya untuk koleksi pribadi, ia akan pelit berbagi untuk orang lain.

--> Jika ilmu hanya untuk museum manusiawi, ia akan senang berbagi untuk orang lain namun

Tuesday, December 25, 2012

CAT: [68] "METODE MEMBACA BUKU"


oleh Hasan Al-Jaizy


Sebagian orang -atau bahkan mayoritas manusia- kesulitan dalam mengkhatamkan sebuah kitab. Entah itu kitab berukuran sedang atau berjilid-jilid. Sebenarnya, itu juga problematika saya. Tapi, setidaknya, di sini saya hendak menyampaikan sesuatu yang insya Allah kalau dijalani dengan baik, akan menuntaskan harapan lama. 

Sebelumnya, tidak perlu Anda ketahui bahwa karakter saya dalam membaca adalah merunut dari awal. Musti rapih dan tertib. Saya tidak suka loncat-loncat. Tapi, Anda tidak perlu tahu itu. Makanya, saya tidak pernah memberitahu itu pada orang lain.

Nah, karakter seperti ini -runut, tertib dari awal-, meskipun zahirnya terkesan positif dan baik, tetapi berpotensi terjegal kendala. Apa kendalanya? Putus di tengah jalan, entah karena bosan, atau tertarik dengan buku lain, atau lainnya. Putus di tengah buku adalah problematika banyak