Showing posts with label Nawawi. Show all posts
Showing posts with label Nawawi. Show all posts

Friday, January 4, 2013

Memilah-milah Kuburan Keramat


oleh Hasan Al-Jaizy


Begini, bro. Kebenaran itu bisa menjadi bersifat relatif karena dirimu sendiri. Bisa jadi, aslinya kamu mengakui itu benar, tetapi karena beberapa faktor, kamu tidak 'membenarkannya', atau bahkan mencari-cari celah agar ia tidak tampak benar.

Gambaran:

[1] Pak De Su'aid ini sudah berumur 40 lebih. Suatu hari, ia membaca status Nawawi yang cukup panjang. Tanpa sepengetahuan siapapun, Pak De Su'aid memang suka 'mengintip-intip' tulisan orang. Tidak usah tekan 'like', apalagi sampai komentar. Alasannya? Banyak. Di antaranya: Jaga Wibawa, Jaga Gengsi dan seterusnya. Karena kalau sekali terlihat nge-like status orang, ia merasa gengsinya merendah. Bahkan, sekadar ikut komentar saja pun enggan; karena takut diketahui bahwa ia membaca tulisan orang.

Monday, December 17, 2012

CAT : [36] "TIDAK SEMUA? ALASAN SAJA!"


oleh Hasan Al-Jaizy


[1]

Nawawi: "Perguruan sebelah lebih megang soal Nahwu atau apapun tentang Arabic. Ane jadi iri."

Syirozi: "Ah, ingat juga, kawan, bahwa tidak semua manusia yang ahli Nahwu dan bahasa Arab itu manhajnya benar."

Nawawi: "Iya juga sih."

Syirozi: "hAhAhAy..."

[2]

Nawawi: "Perguruan sebelah, selain dibekali ilmu agama -meskipun kadang menyimpang-, mereka juga dibekali ilmu 'merakyat'. Jadi, calon-calon pendekar diberi kesempatan ziarah

Friday, November 23, 2012

Sketsa XVII


Mereka bertiga [Suyuthi, Syirozi dan Nawawi] pun menonton kembali apa yang tersaksi di sana. Kelihatan jelas kegugupan Ki Joko melihat kedua pendatang baru itu, Ust. Zururi dan Ust Hisby. 

"Apa kau masih mau mencari perkara pada kami, Ki Joko?" tanya Ust. Hisby dengan tatapan halilintar.

"Kau menantang aku?" Rupanya Ki Joko masih terselimuti gengsi. Ia tak hendak mengalah. Kiranya masih ada sisa tenaga dalam yang terpunya. Dan Ust. Hisby juga Zururi yakin bahwa Ki Joko sebenarnya begitu lemah. Pula Haji Asnawi. Beliau sangat yakin Ki Joko takkan mampu menghancurkan kedua orang ini, penghafal Al-Qur'an dan ribuan hadits.

Diam-diam Ki Joko merogoh sesuatu di dada bawahnya. Oh, bukan! Di balik badannya atau di punggung bawah. Seperti ada sesuatu di balik pakaian Ki Joko. Ust. Zururi dan Ust. Hisby sudah memasang ancang-ancang, kuda-kuda, benteng-benteng dan pion-pion sebagai persiapan menahan serangan atau menyerang. Ki Joko masih merogoh sesuatu di punggung sebelah bawah. Lalu ia pun mengeluarkan sesuatu. Rupanya itu adalah...

secarik kertas! Ki Joko pun membacanya dalam-dalam. Tiba-tiba, "Tuk!"

"Adaw!" teriak Ki Joko kesakitan sambil mengelus botak batoknya. Ada yang menimpuk kepalanya.

"Makanya, baca teks sebelumnya! Udah baca belom!??? Main-main!" Rupanya dalang lah yang menimpuk Ki Joko dengan kenari. Ia sedang mengamati sandiwara di atas pohon. "Ayo, mulai! Bikin lama ajah! Saya mau kondangan nih!"

Ki Joko pun berubah menjadi serius wajahnya. Lalu ia memberi isyarat sesuatu pada Ki Lambad dan kedua pembantunya. Isyarat yang hanya diketahui mereka.

Tiba-tiba...

Keempat satanis itu lari secepat kilat ke balik pohon besar dan menghilang dalam kegelapan. Serentak dan kompak sekali.

Semuanya terkaget! Tidak menyangka mereka akan kabur. Terutama Ust. Hizby dan Ust. Zururi. Keduanya tersentak dengan kecepatan mereka kabur. Bahkan si dalang pun mulai buka teks, sambil bertanya dalam batin, 'Emangnya di teks mereka disuruh kabur!?' Tiba-tiba...

"Tak!"

Sesuatu menyambar kepala dalang. Blangkonnya pun hampir jatuh. Dalang mengelus-elus separuh ndasnya. Penulis pun terkekeh-kekeh. Rupanya ia yang melempar bata ke kepala dalang.

========================

"Apa yang harus kita lakukan, Ki Haji?" tanya Ust. Zururi. "Mereka telah ditelan kegelapan. Kita tak mungkin mengejar mereka!"

"Adalah Purnomo dan anak-anak perguruan ku yang harus dibereskan!" tegas Haji Asnawi. Purnomo makin bergidik. Gigi tonggosnya yang cukup menjulang ke depan itu tak bisa mem-balance rasa takutnya. Sementara Haji Asnawi menatapnya marah sekali. Kedua matanya bagaikan mengeluarkan busur-busur panah yang menghujam di tiap lirikan.

4 pendekar muda dari perguruan hijau, mau bagaimanapun tidak akan berkutik. Karena kesaktian Haji Nawawi jauh di atas mereka. Tenaga dalamnya juga tak sebanding dengan milik mereka. Terutama jika Ki Haji baru saja melahap makanan, tenaga dalamnya bisa mengalahkan tenaga listrik. Jika engkau duduk bersamanya dan dia mengeluarkan sepersekian dari tenaga dalamnya, kau akan merasakan getaran yang membuatmu terkaget. Lebih-lebih, aroma tenaga dalamnya beracun. Terutama setelah memakan telur. SuNgGuH tErLaLu!!!

"Kalian berempat! Pulanglah segera sekarang!" seru Haji Asnawi. "Aku tak mau berdiskusi dan berdebat apapun di sini dengan kalian!"

Haji Asnawi memang paling benci berdebat tanpa keperluan. Karena itu, ia tidak pernah mau mengeluarkan perkataan yang menimbulkan perdebatan. Berbeda dengan beberapa Facebooker temannya Nawawi. Teman-temannya beberapa kali menulis status yang menimbulkan perdebatan, namun ketika dilawan dan diajak debat, langsung berlindung di balik gapura hadits dan perkataan para ulama. Kadang Nawawi juga dongkol sendiri. Nyuruh orang tidak berdebat tapi kok mancing-mancing? Sama seperti beberapa gadis desa di sekitar pondok. Memakai busana menor memancing pandangan pria. Tapi, ketika ditatap, mereka marah. Cuma bedanya, mereka tidak berlindung kemudian di balik dalil. Selain karena mereka tidak tahu dalilnya, mereka juga -setidaknya- merasa bahwa penyebab jelalatan mata lelaki adalah mereka sendiri. Tiba-tiba...

"Tek!"

Sesuatu mengenai kepala penulis. Penulis mengelus-elus kepalanya.. Dilihatnya dalang sudah di bawah pohon kenari sambil berkacak pinggang. Mukanya suram, muram dan kelam. Rupanya ia tadi melempar batu ke kepala penulis. "Benang merah!" teriaknya.

Baiklah. Akhirnya keempat pendekar itu pulang seketika itu juga. Sementara Haji Asnawi, Ust. Hisby dan Ust. Sururi tetap di sekitar pohon. Mereka memporak-porandakan semuanya. Termasuk makanan yang disaji untuk para setan. Nawawi, Syirozi dan Suyuthi masih memperhatikan dari semak-semak. Mereka masih bersembunyi.

Sebelumnya, Nawawi berencana untuk menampakkan diri. Tapi, Suyuthi mencegahnya. 'Biarkan saja! Kita tidak tahu siapa tahu tahu-tahu nanti tanpa sepengetahuan mereka ada sesuatu terjadi."

Tak lama kemudian, Haji Asnawi, dan kedua ustadz pergi berpaling. Mereka berpulang. Ketiga pendekar muda menguntit dari belakang. Menjaga jarak agar tidak ketahuan. Sekitar 25 tombak jarak terjaga.

Syirozi tiba-tiba mendengar suara gesekan-gesekan di belakang mereka. Ia mencolek kedua pendekar. "Ssst. Aku mendengar sesuatu di belakang."

Ya...ada suara gesekan di belakang! Mereka pun menoleh dengan penasaran dan kengerian ke belakang....

.....

Leher Jerapah


oleh Hasan Al-Jaizy

...bahwasanya seseorang jika sudah punya 'nama' di mata umat, maka semakin mudah baginya meraih pahala dan semakin deras mengalir. Bandingkan dengan yang tidak punya 'nama' di mata umat, meskipun pintar sekali. Punya 'nama', yang dimaksud adalah 'masyhur' dan dikenal baik. 

...juga, seseorang jika sudah punya 'gelar' di bidangnya, maka ia relatif lebih didengar dan dipermudah untuk banyak urusan. Dan ini adalah kekhususan zaman sekarang.

Posisikan pandangan di tempat yang benar. Ketika seseorang membangun pencitraan, selama ia jadikan itu sebagai wasilah demi kelancaran kebaikan, maka tidak tercela. Juga, ketika seseorang mengejar gelar, selama ia jadikan itu sebagai wasilah untuk kebaikan di masa depan, maka tidak tercela.

Juga, jangan ketika memandang pencitraan dan gelar selalu negatif.

Leher Jerapah


oleh Hasan Al-Jaizy

...bahwasanya seseorang jika sudah punya 'nama' di mata umat, maka semakin mudah baginya meraih pahala dan semakin deras mengalir. Bandingkan dengan yang tidak punya 'nama' di mata umat, meskipun pintar sekali. Punya 'nama', yang dimaksud adalah 'masyhur' dan dikenal baik. 

...juga, seseorang jika sudah punya 'gelar' di bidangnya, maka ia relatif lebih didengar dan dipermudah untuk banyak urusan. Dan ini adalah kekhususan zaman sekarang.

Posisikan pandangan di tempat yang benar. Ketika seseorang membangun pencitraan, selama ia jadikan itu sebagai wasilah demi kelancaran kebaikan, maka tidak tercela. Juga, ketika seseorang mengejar gelar, selama ia jadikan itu sebagai wasilah untuk kebaikan di masa depan, maka tidak tercela.

Juga, jangan ketika memandang pencitraan dan gelar selalu negatif.

Monday, November 19, 2012

Sketsa XVI


"Hmm...kalimat sombongmu akan berhenti di situ. Kupanggil saja mereka. Ayo, keluarlah kalian dari ilalang," seru Haji Asnawi.

Lalu terdengarlah suara gesekan dan terlihat ada ilalang yang bergoyang dari suatu sudut....Ki Joko menunggu dengan sedikit kecemasan...siapakah itu????

Eng Ing Eng. Keluarlah dua pemuda gagah berbaju taqwa putih. Syukur-syukur celana yang dipakainya bukan celana maksiat, jadi matching dengan baju mereka. Dua pemuda tersebut berusia sekitar 30 tahunan. Mereka berdua berjenggot dan terlihat shalih.

Melihat mereka berdua, Ki Joko Bedon gentar bukan main. Ia ingat sekali mereka berdua adalah yang meruqyah banyak dari para murid perguruan sawah. Mereka berdua juga pernah mendatangi langsung ke rumah Ki Joko dan menempelengnya dengan kasar di depan orang-orangan sawah. Ki Joko seketika merasa ciut. Semua jin khadamnya juga ngumpet di balik pohon. Ada pula yang langsung nyungsep ke lubang. Mereka pernah dibakar rupanya oleh kedua pendekar putih tersebut. Siapakah mereka?

"Ha? Ustadz Zururi dan Ustadz Hisby???" bisik Nawawi dan Syirozi keras-keras. Suyuthi terkaget, "Kalian kenal 2 orang itu?"

"Tentu saja kami kenal! Kedua ustadz itu adalah mantan guru di perguruan kami! Mereka berdua pernah mengalahkan makar Ki Joko dengan telak!" jawab Nawawi masih berbisik. Namun nada emosinya dan sensasinya teriring jelas.

"Mantan guru? Mereka sudah keluar dari perguruanmu?" tanya Suyuthi.

"Ya. Mereka telah keluar beberapa bulan lalu," jawab Nawawi.

"Sebabnya apa?" selidik Suyuthi.

"Aku tak tahu semuanya, kawan. Tapi yang ku tahu penyebabnya adalah Ustadz Zururi pernah menerima dana dari sebuah kerajaan di negeri minyak. Dana itu untuk pembangunan beberapa unit gubuk untuk dihuni beberapa murid. Juga untuk memperkaya koleksi kitab warisan ulama. Nama kerajaan itu adalah Uripken Warisan. Tapi, beberapa sesepuh dan pendekar di perguruan kami menyatakan bahwa kerajaan itu sesat dan dananya haram. Barangsiapa menerima dana itu, maka ia akan dicela. Ustadz Zururi bersikeras demi maslahat gubuk dan kitab. Namun salah satu sepuh kami, Syaikh Mubaddi' At-Tahdziiry mengusirnya dari perguruan," terang Nawawi.

"Waw, perpecahan di perguruan kalian sendiri," tanggap Suyuthi tersenyum kecil. "Lalu, bagaimana dengan yang satu lagi, Ustadz Hizby?"

"Ustadz Hisby?" sergah Syirozi. "Hehe, dia karena punya banyak teman dan beberapa kali duduk santai dengan beberapa orang kerajaan di kedai-kedai. Itulah akibatnya."

"Hush, jaga mulutmu, Syiro. Ini malam satu Suro. Ojo golek perkoro. Ojo golek goro-goro!" sergah Nawawi. "Ustadz Hisby itu orang baik dan saleh. Wong sesama saudara, sedulur seluhur, mosok dilarang duduk santai bareng!? Kaedahnya agak aneh iki: barangsiapa yang duduk dengan wong kerajaan, maka ia serupa tingkahnya dengan wong kerajaan. Aku dan kau kini duduk dan ngintip bareng, aku dari perguruan murni, kau dari perguruan hijau, apa kemudian aku juga akan dikeluarkan dari perguruan jika ketahuan berteman dekat denganmu, Suyuthi? Ganjil dan janggal, bukan?"

"Bukan, tapi aneh!" tandas Suyuthi.

Mereka bertiga pun menonton kembali apa yang tersaksi di sana. Kelihatan jelas kegugupan Ki Joko melihat kedua pendatang baru itu, Ust. Zururi dan Ust Hisby.

"Apa kau masih mau mencari perkara pada kami, Ki Joko?" tanya Ust. Hisby dengan tatapan halilintar.

"Kau menantang aku?" Rupanya Ki Joko masih terselimuti gengsi. Ia tak hendak mengalah. Kiranya masih ada sisa tenaga dalam yang terpunya. Dan Ust. Hisby juga Zururi yakin bahwa Ki Joko sebenarnya begitu lemah. Pula Haji Asnawi. Beliau sangat yakin Ki Joko takkan mampu menghancurkan kedua orang ini, penghafal Al-Qur'an dan ribuan hadits.

Diam-diam Ki Joko merogoh sesuatu di dada bawahnya. Dan kapan-kapan kau akan tahu apa yang terjadi kemudian....

....

Sketsa XV

Rupanya Purnomo tidak puasa mutih selama 3 hari sebelum malam ritual. Ia membatalkan puasa mutihnya dengan melahap pepes bawal 3 hari berturut-turut di kedai tanpa sepengetahuan para sesepuh golongan hitam. 

Geram Ki Joko memuncak. Tiba-tiba ia berseru keras, "Bukan kau satu-satunya penghalang ritual ini! Ada pihak lain yang berupaya menggagalkannya!!!!" 

"KALIAN YANG BERSEMBUNYI DI BALIK ILALANG, KELUARLAH! Sebelum kucincang kalian semua!!!" teriak Ki Joko Bodo keras sekali.

Serentak 7 pasang mata lainnya menatap ke arah ilalang yang ditunjuk Ki Joko....!!!

Siapa? Ada siapa di balik ilalang????

Beberapa helai ilalang itu pun bergerak; menandakan ada kehidupan di sana. Belum sempat menampakkan diri, terdengar suara keras dan

Sketsa XV

Rupanya Purnomo tidak puasa mutih selama 3 hari sebelum malam ritual. Ia membatalkan puasa mutihnya dengan melahap pepes bawal 3 hari berturut-turut di kedai tanpa sepengetahuan para sesepuh golongan hitam. 

Geram Ki Joko memuncak. Tiba-tiba ia berseru keras, "Bukan kau satu-satunya penghalang ritual ini! Ada pihak lain yang berupaya menggagalkannya!!!!" 

"KALIAN YANG BERSEMBUNYI DI BALIK ILALANG, KELUARLAH! Sebelum kucincang kalian semua!!!" teriak Ki Joko Bodo keras sekali.

Serentak 7 pasang mata lainnya menatap ke arah ilalang yang ditunjuk Ki Joko....!!!

Siapa? Ada siapa di balik ilalang????

Beberapa helai ilalang itu pun bergerak; menandakan ada kehidupan di sana. Belum sempat menampakkan diri, terdengar suara keras dan

Saturday, November 17, 2012

Sketsa XIV

Mata Ki Joko Bedon terbelalak tak percaya. Semuanya hancur seketika. Padahal ayam pun belum saatnya berkokok. Dan tidak ada yang mendengar ayam berkokok. Bukan saatnya. Lalu apa sebab kegagalan? Lalu ia menoleh ke Purnomo yang terkulai kesakitan terbentur akar besar. Purnomo merasa tubuhnya hancur. Ia merasakan rasa sakit itu tidak hanya karena terbentur. Tetapi ada semacam energi-energi yang menyakitinya dari dalam.

Terbujur Purnomo digenggam para peritual. Ki Joko Bedon terlihat murka dengan apa yang ada. "Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan padamu, anak muda!" tukasnya ngeri tertuju pada Purnomo. Purnomo ketakutan setengah mati, setengahnya hidup. Ia menggigil. Mata Ki Joko Bedon yang mengerikan itu seolah-olah hendak menelan ia bulat-bulat.

"Apakah kau telah laksanakan puasa mutih selama 3 hari sebelum hari ini???" tanya Ki Joko geram.

"B...bb...belum, KKKiii," jawab Purnomo terbatu bata. Kali ini ia siap dilempar bata. Padahal ia adalah newbie yang secendol pun belum terpunya.

"Anak muda bodoh! Apa yang kau lakukan sehingga tidak mutih???"

"A..a...aku diam-diam m..mmma...kan di kedai. A..a..ku memakan pepes bawal, Ki. Ammpun, Ki," jawab Purnomo ketakutan.

Geram Ki Joko memuncak. Tiba-tiba ia berseru keras, "Bukan kau satu-satunya penghalang ritual ini! Ada pihak lain yang berupaya menggagalkannya!!!!"

"KALIAN YANG BERSEMBUNYI DI BALIK ILALANG, KELUARLAH! Sebelum kucincang kalian semua!!!" teriak Ki Joko Bodo keras sekali.

Serentak 7 pasang mata lainnya menatap ke arah ilalang yang ditunjuk Ki Joko....!!!

Sketsa XIII



"Apa yang kau cari, Ki?" Ki Lambad memberanikan diri tuk bertanya.

"Aku sedang mencari sumber energi yang menghalangi pencabutan pusaka. Kita gagal karena itu!" jawab Ki Joko marah. Ia berkali-kali menggeram dan berbisik tak menentu.

"AAAAARGHHH...." tiba-tiba salah seorang dari pendekar silat hijau mengaum. Ia kesurupan. Meronta dan memberontak. Kawan-kawannya panik. Ki Joko semakin marah. Malam ini benar-benar tak semulus rencananya. Pendekar kesurupan itu masih meronta tak jelas. Tidak ada kalimat dari bahasa manusia terdengar dari geraman ngerinya.

Ketiga pendekar masih mengintip sembari terus membaca wirid dengan bisikan-bisikan. Mereka benar-benar berazam membatalkan ritual itu. Asa mereka betapa tinggi adanya. Ki Joko pun memegang bahu dan leher belakang pendekar kesurupan. Komat-kamit mulutnya membaca SMS...eh, membaca mantra. Nawawi hampir saja merogoh HP nya. Tadinya ia mau mengabadikan peristiwa ini dengan merekam videonya lalu mengomentari, "Ada yang kesurupan nih, ciiin," tapi lagi-lagi ia teringat dalang yang suka menjitak sembarangan.

Pendekar kesurupan itu berhenti kesurupan. Ki Joko Bedon terduduk

Sketsa XII

Pengambilan atau pencabutan pusaka dilakukan di tempat itu juga. Ki Joko berkali-kali menatap Purnomo dalam-dalam. Purnomo yang merasa ditatap berkali-kali bukannya kege'eran, malah ketakutan. 

Dua orang yang berpakaian serba hitam menata penempatan semua bahan ritual. Sebuah kendi berisi air diletakkan tepat di atas tanah yang sebelumnya ditaruh makanan. Tempat makanan sudah disingkirkan; karena Ki Joko Bedon menaruhnya di sebuah tempat gelap. Yaitu di rerimbunan rerumputan yang berdempetan dengan pohon. Sangat mungkin dia memanfaatkan momen penyimpanan itu untuk mencicipinya. Tadi ketika menaruhnya, sempat ia hampir muntah, "Hueekkk!" Ah, sepertinya ia lupa kalau makanan itu sudah dilumuri darah ayam. Sungguh terlalu...

Kendi itu dikelilingi beberapa telur ayam. Ditancapkan kemudian beberapa potong bambu di sekitarnya. Lalu kemenyan mulai dibakar.Mereka semua kemudian duduk bersila.

"Kalian semua jangan berkata sepatah apapun dan jangan berfikir apapun kecuali memusatkan pandangan pada benda-benda ini. Jika kalian memikirkan selain itu semua, akan butuh waktu panjang. Sementara tak lama lagi fajar akan menyapa bumi. Jika ayam sudah berkokok, hilang sudah kesempatan kita," kata Ki Joko Bedon.

Purnomo gemetaran sendiri. Ia merasa seakan dibebani dosa dan kesalahan segunung. Mereka pun kembali duduk bersila dan berkeliling. Beberapa obor sudah dimatikan. Yang ada tinggal 2 obor. Keadaan semakin

Sketsa XI


Tiba-tiba tubuh Purnomo terpental....ia menjerit, "AAAAAAA!" Purnomo terpental membentur akar yang besar. Dan sosok putih itu menghilang tiba-tiba.

Semua hadirin pun kaget. Ketujuh orang itu kaget. Suyuthi, Nawawi dan Syirozi pun bertaklid buta. Mereka ikut-ikutan kaget tanpa dalil yang jelas. Bahkan dalang pun ikut kaget pula. Dan Deddy Mizwar dalam film Kiamat Sudah Dekat pun tercekat karena giginya menggigit lidahnya sendiri, seraya berkata, "Kayaknye ada yang ngomongin gue nih!"

Ki Joko Bedon pun menatap Purnomo dan bertanya keras, "Apa kamu belum mandi kembang sebelum berangkat kemari, anak muda?"

"B...b...b...belum, Ki," jawab Purnomo ketakutan.

"Dasar bocah bodoh. Berapa nilai ijasahmu? Sudah kukatakan sebelumnya. Semua peritual harus menunaikan persyaratan-persyaratan yang kuberikan saat pertemuan malam purnama terakhir. Kau bisa menggagalkan ritual kita jika kau melanggar syarat! Kau merepotkanku kini. Aku harus mengorbankan beberapa jurus tenaga dalamku untuk mengimbanginya. Ini sangat

Sketsa X

Hingga kemudian perjalanan 4 orang itu berakhir di sebuah pohon yang amat besar. Akarnya meraksasa, bahkan ada yang menjulang hingga membentuk beberapa ayunan. Tubuh pohon itu dirantai oleh tumbuhan menjalar liar. Ada sedikit tanah lapang di antara akar-akar besar. Di sana mereka terhenti....

Apa yang akan mereka lakukan????

Suyuthi dan kedua temannya menyelinap pelan-pelan dari satu sektor ilalang ke lainnya demi mendekati Tempat Calon Kejadian Perkara. Akhirnya mereka sampai di sebuah sudut yang membuat pemandangan terlihat sempurna.

4 orang itu masih berdiri di sana. Salah satu dari mereka kemudian menyalakan obor. Tidak hanya 1. Tapi berobor-obor. Lalu disematkan di beberapa tempat yang ditunjuk oleh Ki Joko Bedon. Mereka kemudian berbincang sementara waktu. Suyuthi penasaran sekali dengan isi pembicaraan mereka. Ia bahkan punya keinginan melemparkan telinganya sendiri ke sana, namun tidak bisa.

Percakapan 4 orang itu dihentikan oleh kedatangan 4 orang lainnya. 2 di antaranya berambut panjang berpakaian

Wednesday, November 14, 2012

Sketsa VIII



Suyuthi, Syirazi dan Nawawi komat-kamit membaca ayat Kursi namun suara tangisan tak kunjung usai. Sepertinya baterainya belum lama di-cas. 

Suyuthi mengepalkan tangan. Ia harus membalikkan badan dan melihat apa dan siapa gerangan di makam itu. Apakah benar itu temannya yang sedang menangis? Namun itu suara tangisan wanita. Atau lebih tepatnya, bersuara seolah nenek-nenek. Atau, malah nenek temannya?

Sembari menggamit tangan Nawawi untuk mendapatkan energi kekuatan hati untuk membalikkan badan, Suyuthi membalikkan badan....

DAN...

Suyuthi dalam kesamaran pandangan melihat ada seonggok tubuh di bawah beringin. Suara tangisan nenek-nenek dari sana. Berbaju putih. "Nawawi, Syirozi, balikkan badan. Kau lihat itu sekarang!" bisiknya dengan suara yang amat rendah namun tergesa.

Perlahan Nawawi dan Syirozi membalikkan badan sembari komat-kamit. Entah sudah berapa juz terlampaui namun hanya Ayat Kursi ia berisi.

Mereka bertiga memandang putih-putih di sana. Syirozi menelan ludahnya. Dan berharap ludah yang sudah ditelan kembali lagi agar stok ludahnya tidak habis. "Apakah itu temanmu, kawan?" tanyanya pada Suyuthi.

"Sungguh aku tiada mengerti. Aku pun tak hendak memastikannya. Butuh banyak nyawa dan tenaga dalam agar beraniku ke sana," tukas Suyuthi. Matanya tak jera memandang. Rasa penasaran dan ketakutan saling bercumbu satu sama lain. Belum ada pemenangnya. Ia membatin kemudian, 'Apakah benar itu Basuki, temanku yang ditanam di tempat ini malam ini? Aku dengar kabar dari para pendekar bahwa ia sedang mencari salah satu cabang ilmu hitam. Kiranya malam ini ia ingin menyempurnakan sesuatu dengan ritual. Tetapi mengapa suaranya semacam nenek-nenek berpunya? Aku tak kuasa menahan adanya penasaran.'

"Kawan, bagaimana jikalau kita lempar ia dengan kerikil atau semacamnya?" kata Nawawi. Ide bagus. Suyuthi menyetujui. Namun Syirozi agak keberatan, "Aku kurang mampu sempurnakan beraniku tuk tunaikannya. Biarlah kalian berdua mewakiliku."

Suyuthi pun terawal melempar beberapa butir kerikil dengan nekadnya. Bermodal nekad dan bismillah. Begitu pula dengan Nawawi. Namun mereka tak mampu memastikan apakah lemparan itu kena sasaran.

Tiba-tiba tangisan itu berhenti. Putih-putih itu terlihat bergerak sedikit. Hening. Sepi. Ngeri. Cekam. Keempatnya tergantikan kini dengan suara geraman. Geraman yang kuat.

"Mau apa kalian menggangguku?" teriak makhluk di bawah beringin. Tak perlu mencari tanda tanya, ketiga pendekar muda itu pun lari kocar-kacir ke jalan yang

Sketsa VII


"Ora ono wonge!" teriak Suyuhti menyeruak keluar dari gubuk. 

"Lho, kok iso???" seru Syirozi dan Nawawi berbarengan sembari melepaskan tangan yang sebelumnya saling bergandeng.

"Yo, mbuh ra ngerti. Jan tenan. Anyep tenan neng jero, dhes. Wedhi aku," tuksa Suyuthi.

TIBA-TIBA Nawawi mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Kat! Kat! Kat! Kok jadi bahasa Jawa sih? Nanti pembaca pada ga ngerti lho?"

AKhirnya penulis status ini pun mengembalikan bulu-bulu yang berdiri pada pendiriannya.

=====================

"Lalu, kita hendak ke mana, kawan? Aku sudah mulai merasakan angin yang tidak baik di sini," ujar Nawawi. Matanya gentayangan ke sana ke mari. Sesekali ia menatap gubuk yang terlihat semakin gelap saja isinya.

"Kita ke makam pemilik gubuk ini. Di sana ada temanku. Ia sedang mendalami suatu ilmu hitam diam-diam. Aku tahu itu. Aku uji ingatan kalian kini. Berapa jarak antara gubuk ini dan makam pemiliknya?" tanya Suyuthi menguji.

"40 tombak!" jawab Nawawi dan Syirozi serempak ga pake pegangan tangan lagi.

"Ah, bagus! Rupanya kalian berdua tidak seperti sebagian teman perguruan kalian yang ditanya sedikit langsung ruju ke Mbah Gagal. Lalu salin tempel seolah-olah tahu banyak. Ikut aku. Kita akan lewati beberapa pohon-pohon besar. Ketika kau lewati itu semua, jangan lepaskan lisan kalian dari ayat Kursi!" ucap Suyuthi dengan mantap.

Mereka menyusuri semak-semak dan beberapa pohon beringin. Nawawi merasa seakan ada yang memanggil-manggil namanya dari sebuah pohon beringin. Tapi, ia melawan perasaan itu dengan membaca ayat dan berusaha

Sketsa VI

...berdebar jantung mereka bertiga. Tadinya Syirozi ingin memegang tangan Nawawi karena ada rasa takut hinggap di hatinya. Tapi, ia mengurungkan niatnya. Sebagai calon pendekar, ia harus kuat dan tegar.

Mereka melewati hutan bambu. Di sana-sini, bambu-bambu seakan berubah menjadi kuntilanak. Bambu-bambu terkekeh-kekeh. Kayu-kayunya bergesekan menimbulkan bunyi tawa berirama mengejek yang membuat bulu-bulu berdiri. Itu bukan masalah bagi penulis jika pembaca membayangkan bulu-bulu berdiri. Bulu apakah yang berdiri? Tafsiran ada di masing-masing otak. Hanya pemilik bibir tersenyum lah yang fikirannya 'reget'. Sepertinya itu kamu!

"15 tombak dari sini, adalah gubuk Mbah Maherjaen!" bisik Suyuthi perlahan dan hati-hati. Kedua temannya menyimak.

"Sungguh, kawan...aku tidak tahu siapa itu Mbah Maherjaen. Kau yang sudah bermasa lamanya tinggal di kampung ini, tentulah tahu gerangan siapa ia," bisik Syirozi.

Mereka bertiga berhenti sejenak di dekat sebuah pohon besar sekali. "Aku ceritakan sedikit mengenai legenda Mbah Maherjaen itu. Ia dahulu adalah tokoh di dunia persilatan suara. Tidaklah ia mampu berkelahi. Ia hanya mampu menyihir manusia dengan suara emasnya. Dulu, semua manusia tercandu akan suaranya dan menunggu selalu ia keluarkan suara. Bahkan, ketika berdehem pun, mereka menyukainya. Lebih parahnya, ia adalah seorang yang dikenal mubadzir dalam mengeluarkan tenaga dalamnya. Karena itu, ia dikenal sering sekali buang angin dengan suara merintih."

"Oouhh," kedua temannya menganga dengan polos. "Lalu, mengapa gubuknya dikenal angker atau malah dikeramatkan?"

"Aku juga tidak begitu tahu, kawan. Dikabarkan ia mati dalam keadaan bernyanyi. Itu disebabkan saking cintanya ia akan nyanyian. Lalu para dukun setempat menyuruh penduduk banyak-banyak mengorbankan hewan ternaknya. Penduduk diminta sembelih hewan-hewan itu di malam tertentu di dalam gubuk itu. Dikatakan, itu untuk meringankan dosa Mbah Maherjein yang selama hayatnya dikutuk untuk terus 'merintih' melalui jalur alternatif Pantura."

Sketsa III

oleh Hasan Al-Jaizy

Kedai di perempatan desa itu adalah tempat berkumpulnya banyak pendekar. Terkadang kau lihat beberapa pendekar yang sedang safar dari negeri jauh mengaso di sana. Semua pendekar dari perguruan di mana Suyuthi baru saja lulus, menjadikan kedai itu markas dan pusat transaksi barang-barang selundupan. 

Suyuthi jarang sekali ke sana. Dahulu ketika masih menjadi murid, ia pernah diajak teman-temannya kabur ke kedai. Saat itu paa guru meminta semua muridnya tuk puasa mutih. Hanya makan nasi saja. Jika ada yang tertangkap memakan selain nasi, seperti lauk, atau buah, atau tanah, akan dihukum. Hukumannya tidak tanggung punya rasa. Pelaku akan diminta membangun gapura dalam semalam suntuk tanpa bantuan ifrit atau setan. Tapi siang itu Suyuthi dan teman2 rupanya terburu nafsu ingin membatalkan puasa mutihnya.

Dengan jurus Bayangan Badai, mereka pergi secepat kilat. Saking cepatnya, Suyuthi sempat menabrak seorang nenek jelata di kebun. Nenek itu pun menggerutu sendiri melihat tingkah calon pendekar.r

Tapi itu kenangan masa lalu Suyuthi. Kita kembali ke kedai masa sekarang. Siang sedang di puncak terik. Matahari sedang memalu ubun-ubun petani. Beberapa pendekar sedang

Sketsa IV


oleh Hasan Al-Jaizy

"Ah, kau ini! Kau ibarat kutu di kepalaku atau kutu di kasurku. Senang pula menghisap milikku. Sudah separuh hartaku kau sedot sedari dulu." bisik Purnomo dengan emosi. Pendekar muda ini memang cukup mudah terpancing emosi. Dan hal yang paling membuat emosinya menggeludug adalah sawah dan rokok.

"hehe," temannya tersenyum. Ia sudah mendengar gerutuan itu berkali-kali. Ia sudah mempersiapkan Benteng Takeshi setiap meminta rokok dari Purnomo. Karena pasti kemarahannya muncrat dan menyembur. Tapi, akhir-akhirnya akan dikasih pula.

Kedua bola mata Purnomo masih tertuju pada pendekar muda cingkrangen itu. Ia sedang berbicara sesuatu pada pemilik kedai. Seperti memesan sesuatu. Beberapa pendekar yang duduk di dalam kedai juga mengamati. Mereka siap berkelahi jika memang merasa harus.

Pendekar Cingkrang menoleh kemana-mana. Ia mencari bangku yang kosong. 'Hmm...di sana ada bangku kosong. Aku akan duduk di sana," niatnya dalam bergumam. Tentu saja niatnya itu tidak ia lafadzkan; karena takut dianggap berbuat bid'ah. Ia pun bergegas ke bangku kosong itu. Bangku kosong, yang beberapa tahun kemudian menjadi nama sebuah film horror. Ya, bangku kosong.

Ternyata bangku yang dimaksud adalah kursi di meja Purnomo dan temannya. Dengan tanpa rasa apapun, ia duduk di sana. Purnomo menjadi salah tingkah. Tapi, tentu saja ia menganggapnya benar. Karena didikan perguruannya adalah 'jika kamu seolah-olah melakukan sesuatu yang salah, maka jadikan ia benar dan carilah dalil penguat!' Karena itu,