Showing posts with label Spiritual. Show all posts
Showing posts with label Spiritual. Show all posts

Thursday, October 22, 2015

Kekeramatan Yang Kurang Diimpikan

oleh Hasan al-Jaizy

Kemarin sempat interview beberapa calon pegawai. Selain miris pada diri sendiri yang masih belum seberapa, ternyata ada kemirisan tambahan melihat para calon. Calon-calon guru di beragam disiplin ilmu dunia, seperti matematika, kimia, biologi, bahasa Indonesia sampai English. Saya tidak mempertanyakan keahlian mereka di bidang duniawi, tapi standar baca al-Qur'an dan wawasan keislaman teman-teman kita ini masih minim. Ini tanpa perasaan kelak di endingnya saya lebih baik dari mereka.

Sebagaimana menjadi rahasia umum yang sudah menjadi konsumsi bibir publik, banyak dari dokter sekarang, menakut-nakuti ibu hamil apalagi yang masih belia usianya dan belum punya experience cukup dalam kehamilan. Ujung-ujungnya rekomendasikan supaya bayi terlahir dengan cara Caesar. Penyakit demi penyakit atau gejala negatif dijabarkan dengan semangat oleh dokter beserta bidan asistennya. Bahkan kadang diceritakan, sang dokter terkesan maksa. Rupa-rupanya tidak sedikit kasus kongkalikong. Apalagi kalau mengejar duit? Bumil panik mendengar dor dor dari dokter. Saya pernah menyaksikan ini sebagai suami bumil.

Saya pikir, ini dokter apa teroris? Tahu ini orang lagi mengandung, kok malah main dor dor begitu saja. Lembut dikit kek. Ngarti dikit kek perasaan bumil ini. Saat dokter ngoceh terus berentetan sebut kasus-kasus parah, saya tatap tajam muka beliau. Saya pernah melihat Didier Drogba lari sana-sini kejar bola meneror para pemain yang sedang pegang bola, demi cari apresiasi pelatih dan penonton, yang ujung-ujungnya duit. Kok mirip ya ngototnya. Vonis penyakit dan harus langsung dibelek perutnya di awal cek kedokteran, dengan bahasa semaunya tanpa mikir perasaan, adalah hal yang jauh dari kamus kebijakan.

Kenapa mengejar Caesar, wahai dokter? Padahal Caesar kan sudah meninggalkan program lamanya. Apakah Anda mau sama dengan para penyelenggara tematik yang berburu Caesar dan yang semacamnya supaya hadirin dan duitnya banyak?

Akhirnya, saya pindah pilihan. Tidak mau ke dokter itu lagi. Saya browsing Inet, ditemukan beragam cerita kenakalan sebagian dokter. Mirip-mirip. Intinya kejar duit.

Alhamdulillah, ketemu RS yang profesional. Swasta dan biayanya lumayan membuat saya semakin tersadar bahwa saya harus lebih mendekatkan diri pada Allah. Pelayanannya memuaskan secara psikologis. Para dokter dan pasukannya sampai satpamnya membuat kami merasa comfort. Tempatnya juga nyaman dan wangi. Tak apa soal biaya kan soal rizki. Yang penting kita usaha supaya istri dan anak lebih tenang. Safety first, money later. Setelah dapat safety, giliran money bill, baru kita menangis later. Hehe.

Walaupun dari sisi profesionalisme dokter-dokter dan bawahannya ini saya acungi jempol tapi ada saja yang kurang buat saya. Vital. Apa itu? Sisi religiusitas!!! Ini nih. Mereka bekerja secara profesional duniawi. Andai mereka terpoles ke agama, saya akan senang menemukan suster-suster itu sering menyebut nama Allah, tidak hanya memberikan advice of health melainkan dibalut juga dengan menekankan sisi tawakal pada Allah. Tapi sayangnya tidak. Karena mereka tidak dididik untuk itu.

Inilah. Kita butuh Rumah Sakit Islam lebih banyak lagi. Bukan label Islam semata, tapi nilai moral pegawainya sangat islami.

Nah, kembali ke interview itu, saya berhadapan dengan para calon guru baik ikhwan maupun akhwat, dengan membawa otak Biologi, Kimia dan lain-lain. Di tempat saya kerja, nilai religiusitas sesuai pemahaman Salaf sangat diusahakan. Kinerja para pegawai relatif stabil. Prestasi demi prestasi terbangun. Meski saya sendiri belumlah seberapa mampu memperbaiki diri. Tapi wajib bersyukur kalau kita sudah mulai berusaha menanamkan jiwa religiusitas di tempat kita bekerja.

Saya iri sama teman-teman yang mahir Biologi. Kepingin kuasai Biologi. Miris hati kalau naik motor lihat pepohonan atau jalan di jalanan lihat hewan, tapi nothing to say tentang spesies, kehidupan, anatomi dan anything about them. Hanya bisa berkata mereka ciptaan Allah. Tapi apakah teman-teman anak Biologi sendiri, iri sama teman-teman yang faham baca kitab, mahir baca al-Qur'an?
Padahal di dalam al-Qur'an, disebutkan beberapa nama hewan, disebutkan beberapa macam tumbuhan. Selemah-lemah rumah adalah rumah laba-laba. Secara scientific, bagaimana membuktikannya? Kita sama-sama imani ayat itu, tapi secara keduniaan dan pembalutan sains, saya belum mengerti detail dan saya berharap mengerti.

Siapapun pegawai, kalau menjunjung nilai religiusitas di bidangnya, insya Allah akan lebih disukai.
Karena pegawai yang tak religius, dia hanya dapat dunia. Adapaun pegawai yang menjaga agamanya di gaweannya, dia dapat dunia dan dia punya saham di akhirat.



Wednesday, March 27, 2013

Kepentingan Apreasiasi Dari Pendidik Terhadap Yang Dididik


oleh Hasan Al-Jaizy

Apresiasi, menurut thefreedictionary.com adalah "an expression of gratitude". Itu salah satu pengertian apresiasi menurut mereka. Maksudnya adalah 'sebuah ekspresi atau ungkapan atas sikap berterima kasih'. 

Apresiasi bisa diwartakan dengan 'tongue language' atau 'body language'. Misal dari bahasa lisan adalah mengatakan 'Thank you', atau 'That's great' dan selainnya. Misal dari bahasa tubuh adalah memberi isyarat seperti mengacungkan jempol, tersenyum, dan lainnya. Akan kita kupas contoh lain setelah membahas:

"Kepentingan Apreasiasi Dari Pendidik Terhadap Yang Dididik"

Apresiasi adalah sebuah ekspresi yang banyak diabaikan dan diremehkan para pendidik, mulai dari orang tua, guru sekolah, guru les/kursus/bimbel, hingga para atasan, mulai dari presiden, menteri, direktur, bos dan seterusnya. Padahal, pengungkapan apresiasi, terdapat makna positif dan efek yang bagus terhadap manusia. Pendidik yang kaku dan menyeramkan adalah makhluk yang paling sulit mengapresiasi suatu usaha dan karya pihak yang dididik. Begitu juga dengan atasan yang tidak mau tahu kinerja dan proses -yang ia inginkan hanya hasil terwujud-. 

Thursday, January 3, 2013

FALSAFAH PENSIL II


oleh Hasan Al-Jaizy


Pensil itu kemampuanmu dan bakatmu

Sebelum memulainya, kututurkan padamu bahwasanya orang merugi adalah orang yang tidak tahu apa yang bisa ia lakukan demi dirinya atau orang lain. Orang merugi adalah orang yang tidak tahu bahkan enggan mencari tahu bakat apa yang Allah titipkan pada dirinya. Betapa banyak orang melalui masa mudanya masih dalam ketidaktahuan apa bakat yang ia miliki. Dan alangkah sedihnya jika ia baru mengetahui bakatnya di masa tua; sehingga ketika ingin memulai mengasahnya, kemustahilannya seperti mencabut beringin tua dari tempatnya. Maka, galilah potensi sedari dini, sebelum potensi itu sudah tak mungkin digali lagi.

[1] Pensil itu terwujud; merupakan senjata dan modalmu menulis. Awal membelinya, pensil itu tumpul. Dan kau tak mampu menggunakannya sebelum ia diraut.

==> Sebagaimana bakat dalam dirimu. Ia adalah modal yang dititipkan oleh Penciptamu. Merupakan keadilan dan hikmah dari-Nya, kau diberi kemampuan yang tidak semua manusia bisa melakukannya. Namun, bakat di awal-awal masih begitu mentah dan tumpul. Ia tidak serta merta menjadikan pemiliknya hebat dan bisa berkarya dengan bakatnya itu. Melainkan:

[2] Pensil harus diraut terlebih dahulu; sehingga ia pun menajam dan melancip. Semakin tajamnya ia, semakin baik tulisan terwujud.

FALSAFAH PENSIL I

oleh Hasan Al-Jaizy


Pensil itu seperti dirimu dan kehidupanmu.

[1] Pensil itu berbentuk panjang tersedia. Ketika kau membelinya dari toko, ia masih tumpul, belum bisa digunakan secara utuh. Sebagaimana hidupmu di awal umur. Dahulu, setelah kau dikeluarkan dan keluar dari perut ibumu, belumlah kau menjadi siapa-siapa. Kau hanya disebut anak manusia. Kau belum menciptakan apapun selain tangisanmu itu, keharuan kedua orang tuamu dan apalagi? Kala itu, kau masih tumpul tak berbekal. Bahkan kau keluar dengan ketelanjangan, ketidaktahuan dan ketidakpunyaan.

[2] Pensil kemudian akan diraut perlahan-lahan, hingga mulailah ia melancip.

==> Sebagaimana kemudian di masa balita, kau mulai dilatih oleh ibumu berbicara. Perlahan-lahan kau mulai berbahasa. Kau pula dilatih berdiri perlahan-lahan. Zaman pun bercerita bahwa hari demi hari terambil demi les berdiri. Setelah itu, kau pun mulai pandai berbahasa dan berdiri.

Thursday, December 20, 2012

3


oleh Hasan Al-Jaizy

Ada 3 yang sulit kau jaga:

1. Pandangan
2. Hati 
3. Lisan 

Bisa pula kau bebas dari memandang yang haram, tapi jika mempunyai pandangan yang mengharamkan persaudaraan, maka keburukannya terus memburuk. 

Karena pandangan tersebut berasal dari...

Hati yang tak lepas dari prasangka buruk atau dengki. Dan hatimu yang menghitam itu kemudian menyetir...

Lisan untuk menaburkan kalimat-kalimat meranjau, yang jika tiap-tiap baitnya terucap, kau telah terkena ranjau-ranjau dosa.

Dan belum tentu kau menyadarinya...

betapa sulit mengenyahkan keburukan yang merasuk tanpa tersadarkan.

CAT : [46] "AIR TUBA DIBALAS AIR SUSU"


oleh Hasan Al-Jaizy


Ada seorang nenek berdagang dengan anaknya di pasar. Namun, anaknya tidak selalu ikut berdagang. Mereka menyewa tempat di depan rumah Pak Haji. Rumahnya rupanya di pasar itu dan ia pun juga menjual buah-buahan depan rumahnya. Namun, Pak Haji satu ini, meskipun sehari-hari ramah, ternyata memang 'tegaan'. 

Nenek ini berdagang makanan lauk. Di sampingnya pun ada pedagang tahu, seorang ibu-ibu. Sang nenek beberapa kali 'dianggap' telat membayar uang sewa tempat. Ia ditegur dengan kalimat tidak menyenangkan oleh Pak Haji. Kadang menyakitkan hati. Suatu hari, Pak Haji mengusirnya dengan kalimat pedas karena memang sang nenek telat membayar entah sehari atau selebihnya.

Nenek itu pun pulang ke rumah dengan sakit hati. Ia menceritakan itu semua pada anaknya dengan sedih. Mereka kemudian berembug mencari tempat lain untuk berniaga. Beberapa hari lamanya, mereka tak terlihat lagi di pasar hingga akhirnya mereka menemukan tempat lain yang cocok untuk berjualan padanya.

Namun, meski sakit hati, mereka tetap menyapa Pak Haji jika berpapasan di jalan. Dan itu membuatnya malu sendiri. Belum lagi, si anak kadang shalat di mushalla yang mana Pak Haji

CAT : [45] "KESOMBONGAN TAK TERSADAR"

oleh Hasan Al-Jaizy


Apakah seorang alim [berilmu] bisa berlaku sombong?

Jawabannya: Bisa. Bahkan potensi untuk menjadi sombong besar sekali. Lebih besar dari potensi kesombongan pada orang jahil. Terutama jika sang alim tersebut adalah pelajar pemula, atau sedang keenakan bertingkah bagai 'ayam kaget'; yaitu kaget dan takjub dengan kemampuan diri, atau bergelimangnya kitab atau mashaadir ilmiyyah, atau kesenangan berada di tengah orang-orang berilmu. Sehingga kekagetan dan ketakjuban itu membuat lidah dan jemarinya membusurkan panah-panah tak layak terbang di angkasa.

Jadikan tulisan ini nasehat untukmu, saudara-saudari. Dan sebelum tulisan ini tertulis, penulisnya pun juga berusaha membenamkan diri pada cermin. Bila memang ini pahit untuk yang

Wednesday, December 19, 2012

CAT : [44] "LUCUTI SEBELUM MENDARAH DAGING"

oleh Hasan Al-Jaizy


Jika seorang muda terbiasa mutaladzdzidz [menikmati] sensasi keangkuhan dalam dirinya ketika baru bisa menguasai suatu ilmu atau memahami suatu perkara atau 'merasa' keduanya, ditakutkan hingga tua ia terus menikmati rasa itu hingga hilang berkah ilmu dan fahamnya. Sungguh miskin jika seseorang mengerahkan segala juhd [daya dan upaya] untuk ilmu, namun ternyata tidak berkah ke depannya. Bahkan, seorang yang miskin ilmu namun senang berbagi dan lebih menikmati kerendahan hati, itu lebih memicu hadirnya keberkahan.

Karena ilmu tidak hanya tentang hafalan, pemahaman, banyaknya kitab, terkurasnya tinta pena, besarnya upaya dan frekuensi standar ikut kajian. Bahkan semua itu, jika tidak menghadirkan rasa takut [khasyyah] terhadap Yang Maha Tahu dan Yang Menelaah hati tiap

Kita Adalah Pemula


Kita masih adalah penuntut ilmu tingkat pemula. Padahal sudah banyak buku yang kita baca. Padahal sudah banyak maraji' yang kita merujuk padanya. Padahal sudah belajar mendalami bertahun lamanya.

Tapi, kita masih adalah penuntut ilmu tingkat pemula.

Kenapa?

Karena masih ada panah kesombongan di hati kita...terhujam dari jemari dan lisan kita.

Kita masih adalah penuntut ilmu tingkat pemula. 

Monday, December 17, 2012

CAT: [38] "MATA LETIH PICIK TERPICING"


oleh Hasan Al-Jaizy


Merupakan penyakit yang bisa saja menimpa kita tanpa kecuali adalah memandang seseorang hanya pada sisi negatifnya, padahal masih besar celah untuk bersangka baik. Atau hanya mengingat negatifnya manusia sementara kebaikan telah banyak berlaku darinya.

Terutama jika sudah berakar hasad.

Lalu ketika kita terbetik kalimat tentang keburukan, kita menggambarkan si fulan dan fulanah yang kita sangka seburuk itu. Padahal bisa jadi kita memilikinya dalam diri.

Atau ketika teringat akan perkara baik, kita mengingat dan menggali memori dahulu pernah berlakunya pada diri sendiri.

Kenapa ketika wujudnya buruk, kita menyuguhkan cermin pada selain kita seraya berkata,

Thursday, December 13, 2012

Di Manakah Kecondongan Anda?

oleh Hasan Al-Jaizy

Tiap kita punya kecondongan senang mendalami suatu cabang ilmu. 

Tiap penuntut ilmu syar'i, baik formal atau non-formal juga begitu. Ada cabang disiplin ilmu yang paling digemari.

Ada yang condong suka membongkar aliran sesat, sehingga gemar menimba ilmu aqidah. Ada yang cinta Al-Qur'an sedari kecil hingga akhirnya mempelajari qira'at atau tafsir. Ada yang diberi kesenangan meneliti hadits, sehingga rela berjam-jam memeriksa jalur-jalur periwaatan. Ada yang hobi bermain akal, lalu merasa Ushul Fiqh adalah bidang paling lezat. Ada yang merasa materi Fiqh adalah yang paling menarik, karena mencakup tiap amalan hidup, baik untuk individu atau ramai. Ada yang senang berbicara masalah akhlak, adab dan penyejuk hati. Ada yang kecanduan dengan ilmu bahasa.

Kalau memang itu kecondongannya, maka galilah dan ambillah. Jika tidak bisa merengkuh semua, maka jangan tinggalkan semua. At least, ada satu yang paling dominan.

Maka, dimanakah kecondongan Anda?


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/473660799341977

Tuesday, December 11, 2012

CAT : [19] "MENILAI RENDAH KALA TINGGI"


oleh Hasan Al-Jaizy


Ini adalah cerita tentang kita-kita, yang kadang sadar begitu tinggi rasanya dan tidak sadar betapa masihnya kita di kerendahan. Ini adalah karakter pada kita-kita -setidaknya pernah kita seperti ini-, yang merasa senang dan bangga dengan apa atau siapa kini lalu menoleh tertawai yang belumlah apa-apa atau siapa-siapa.

Kadang kita menilai orang lain dengan kiasan diri kita sekarang yang rasanya lebih tinggi darinya ditinjau dari segi tertentu yang karenanya ada penilaian.

Padahal bisa jadi dahulu ketika kita serendah itu, kita lebih buruk dari itu.
Padahal bisa jadi jikalau kita serendah itu, kita lebih jelek dari itu.

[1]

Seorang yang dalam keadaan sehat jasmani, setidaknya ibalah melihat siapa yang dalam keadaan sakit. Yang pertama adalah iba. Tunaikan eksistensi perasaan mengasih. Lalu

Tuesday, December 4, 2012

CAT : [3] "SENGSARAMU INSPIRASI TUK SELAINMU"

oleh Hasan Al-Jaizy

Ini untuk orang-orang yang merasa dirinya sengsara. Kasihan sekali orang-orang semacam ini. Atau yang lebih kasihan adalah yang merasa paling sengsara, paling miskin dan paling menderita. Padahal ia hidup di negara aman. Ia tidak sedang dikejar hewan-hewan. Rumahnya tidak sembarangan digrebek Densus 88. Tetapi kenapa merasa paling besar ia punya kesengsaraan?

Padahl semua dari kita adalah orang kaya. Boleh kaya akan makna, tapi pastinya kaya akan fisik. Ada percakapan Haji Asnawi dan Suyuthi:

Haji Asnawi: "Ada apa, anakku?"

Suyuthi: "Pak Haji, hidup saya seolah paling sengsara. Saya kere sekali. Mau menikah dengan manusia, namun modal tidak ada. Mau beli laptop, namun uang tidak ada. Bayar kredit pun tak mampu. Mau beli baju pun tidak ada. Padahal saya pengen sekali membeli ketiganya: manusia, laptop dan baju. Tapi yang saya dapat malah gundukan puntung rokoknya Pak De Su'aid. Pak Haji, saya miskin sekali. Berikanlah solusi."

Haji Asnawi: "Baiklah, kamu bisa bahasa Arab, kan? Dan kamu suka baca kitab juga, kan? Lalu kamu mudah menghafal Al-Qur'an, Hadits dan matan-matan, kan?"

Suyuthi: "Yoi, Pak Haji."

Haji Asnawi: "Baiklah. Nanti saya doakan supaya Allah mencabut ketiganya dari dirimu: bahasa Arab, hasrat baca kitab, dan kemampuan menghafal. Saya doakan pula agar Allah mengganti ketiganya dengan manusia, laptop dan baju."

Suyuthi: "Wah, tidak bisa, Pak Haji. Sadis sekali. Saya ga mau kehilangan itu semua. Itu semua juga modal saya buat masa depan."

Haji Asnawi: "Baiklah. Saya memaklumi. Sekarang saya punya tabungan 300 juta. Itu bisa menjadi modal kamu nikah, beli buku segudang dan menambah nafsu baca bukumu. Saya akan serahkan 300 juta untukmu siang nanti. Gimana??"

Suyuthi: "Waaah, makasih Pak Haji! Senaaang!"

Haji Asnawi: "Tapi, ya ada syaratnya lah."

Suyuthi: "Wah, syaratnya apa itu, Pak Haji?"

Haji Asnawi: "300 juta itu sebagai bayaran tunai pembelian kedua matamu. Saya ingin membeli matamu. Kamu korbankan matamu saja lah demi 300 juta."

Suyuthi: "Yaaah, tidak mungkin juga. Waduh."

Haji Asnawi: "Berarti, mahalan mana: penglihatanmu atau 300 juta?"

Suyuthi: "Ya mataku lah, Pak Haji."

Haji Asnawi:

"Nah, di situlah bagaimana kau harus merenung tentangnya. Kamu punya mata dan anggota tubuh lainnya masih berfungsi dengan baik. Jika satu saja dari matamu cacat, maka bagimu itu lebih mahal dari 300 juta. Sementara sekarang pun kau mengeluh miskin; sedangkan sebenarnya sedari lahir kau sudah diciptakan kaya dan memiliki kekayaan. Lihat sekujur tubuhmu. Lihat kakimu, seberapa kilo sudah digunakan untuk berjalan. Lihat tangan dan jemarimu, seberapa banyak tulisan yang kau buat yang bisa menjadi modal untuk dunia dan akherat? Lihat lisanmu, seberapa banyak ia bisa memberi manfaat?

Ketika pahitmu, jangan kiaskan pahitnya dengan manisnya hidup orang lain. Karena ketika kau nanti hidup dalam kemanisan, kau pun tak ingin orang berpahit hidup menuntut dirimu untuk memaniskan hidupnya.

Tetapi, jadilah orang yang memberi kemanisan pada selainnya meski hidup sendiri ditakdirkan pahit. Jadikan pahitmu adalah manis untuk orang lain. Betapa banyak orang yang bermanis hidup namun memahitkan hidupnya dan hidup orang lain. Jadilah manusia yang berguna dengan kesederhanaan kekayaan yang kamu miliki.

Jangan jadikan kesulitan hidup alasan untuk tidak memberi kebaikan pada manusia. Jika punya harta, berikan secukupnya. Jika punya ilmu, berikan sebanyaknya. Jika tidak punya keduanya, berikan jasa. Jika tidak punya harta, ilmu dan jasa, berikan mereka salam dan doa. Jangan pernah ingin hidup jika tidak memberi manfaat pada manusia. Karena terkadang hewan pun memberi manfaat pada manusia."

Suyuthi pun merinding. Sementara anak perempuannya Haji Asnawi mengintip dari tirai kamar.

Mengintip-intip status orang. Rupanya ia terinspirasi dengan status ini. Ehm.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/469925333048857

Friday, November 16, 2012

HIDUPMU INSPIRASIMU : [9] "Kelembutan Tersembunyi"

oleh Hasan Al-Jaizy

Diceritakan pada suatu serpihan lembut zaman, hiduplah seorang pemuda ahli ibadah kehabisan bekal dan tertikam oleh rasa lapar di kota Makkah. Hingga ia tak mampu berdiri tegak atau berjalan baik disebabkan perihnya serangan lapar. Di sebuah jalan kecil, ia melihat sebuah kalung emas yang zahirnya tampak mahal. Diambillah kalung itu dan disimpan di sakunya.

Tak lama masa bergulir, seorang lelaki setengah abad kira usianya mengumumkan bahwa ia kehilangan sebuah kalung berharga. Rupanya ciri-ciri yang dibentangkan selaras persis dengan yang ditemukan si pemuda. Ia pun menyahut:

"Ku temukan kalungmu dan ku kembalikan padamu." Setelah itu, ia pergi meninggalkan pemilik kalung yang terkesiap. Tiada patah kata lagi dari pemuda; tiada pinta imbalan darinya. Dengan segenap kerahan rasa laparnya, pemuda itu berdoa, "Ya Rabb, aku lakukan itu semua untuk-Mu. Ku tinggalkan kalung itu demi-Mu. Maka berilah ganti yang lebih baik dari itu semua untukku."

Suatu hari, ia melaut dengan menumpang sebuah kapal barang. Di tengah perjalanan, badai menerjang. Kapal pun terombang-ambing dan akhirnya menyerah pada amuk badai dan jilatan samudera. Tiada seorang pun selamat melainkan si pemuda. Ia terkatung-katung di atas sebuah kayu. Hingga akhirnya angin, gelombang dan kayu mengantarkan jasadnya yang sudah lemah itu ke sebuah pulau.

Ia pun bangkit dan tertatih berjalan. Dilihatnya ada masjid tua. Menujulah ia ke sana. Didapatkan orang-orang sedang shalat di dalamnya dan kemudian ia turut

HIDUPMU INSPIRASIMU : [8] "Menunduklah!"


oleh Hasan Al-Jaizy

Tahun 2008 saya punya seorang dosen di mapel bahasa [Nahwu]. Beliau adalah Pak Prof Al-Basyiry, berasal dari Mesir. Seorang yang kalimat dan nasehatnya sangat berhikmah dan ngena. Beberapa kali jam pelajaran habis untuk mendengarkan nasihat beliau. Dan kami merasakan waktu begitu cepat. Berharap ingin mendengar lagi nasehat beliau.

Tahun 2009 beliau sudah tak mengajar di kampus lagi. Kembali ke negerinya. Tapi, banyak kalimat dan makna yang kami ingat. Dan menginspirasi beberapa tulisan saya.

Pernah beliau menasehati kami untuk banyak membaca kitab/buku. Ya, masyhur sudah bahwa buku adalah teman yang tak menuntutmu apapun. Namun, kata Syaikh Al-Munajjid, buku adalah teman yang bisa membuatmu merunduk selalu. Buku pun merendah selalu. Ketika kau

Monday, November 5, 2012

HIDUPMU INSPIRASIMU : [2] "Mengejar Angin"



oleh Hasan Al-Jaizy



Seorang gadis di suatu negeri telah wafat ayahnya. Terwariskan untuknya harta yang membuatnya dijuluki 'gadis terkaya' di zamannya. Tiada tandingi jumlah hartanya. 

Suatu waktu, ia menikah dengan seorang Amerika. Hiduplah mereka berdua beberapa masa. Kemudian berakhir bauran keduanya dengan talak. Lalu, ia teruskan perburuan dan menikah dengan seorang Yunani. Hiduplah keduanya berbaur beberapa masa. Namun datang kemudian masalah dan problem yang mewariskan talak dan perpisahan.

Maka, menikahlah kemudian ia dengan seorang Rusia yang atheist. Bapaknya adalah milyuner di negara itu. Hasil dari regukan sistem ekonomi sosialis atheis. Seorang wartawan mewawancarai wanita kaya ini:

"Bagaimana pula kau menikahi seorang anak milyuner dengan harta hasil

Sunday, October 28, 2012

Setitik Kecil Berbalas Api

oleh Hasan Al-Jaizy

Setitik Kecil Berbalas Api 

Ketika itu, Umar bin AL-Khaththab -radhiyallahu anh- keluar dari rumahnya. Setelah menempuh langkah-langkah, ia melihat Muadz sedang berlinang air matanya menangis di sisi kuburan Rasulullah.

"Wahai Muadz, apa yang buatmu menangis?" tanya Umar.

Muadz pun menjawab: "Yang membuatku menangis adalah sebuah hadits. Aku mendengar beliau [Rasulullah] berkata:

اليسير من الرياء شركٌ

"Yang kecil dari riya adalah kesyirikan" [H.R. Ibnu Majah, Baihaqi, dan Al-Haakim]

Ketika para sahabat ketakutan amalannya tertolak disebabkan sebiji riya yang mewariskan adzab kelak, apakah kita berlaku sama? Banyak sudah amaln-amalan kita perbuat, namun ke manakah praktek yang termakna dari kalimat Rasul ini:

إن الله لا يقبل من العمل إلا ما كان خالصاً وابتغي به وجهه

"Sesungguhnya Allah tidak menerima amalan kecuali apa yang diikhlaskan dan diharap dengan [amalan tersebut] wajah-Nya." [H.R. Nasaa'i]

Bahkan Rasulullah sendiri pernah mengutarakan langsung pada sahabatnya tentang isi hatinya; yakni apa yang paling beliau takutkan dari kengerian menjangkiti umatnya.

أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر

"Yang paling menakutkan dari apa yang aku takutkan [menimpa] atas kalian adalah Syirik Kecil!"

Para sahabat yang dimuliakan Allah pun bertanya: "Apakah syirik kecil itu, wahai Rasulullah?"

Jawab beliau:

الرياء

Adakah di antara kita yang menegaskan bahwa hatinya telah terbebas dari syirik kecil? [semoga bermanfaat dan dijadikan sebagai pengingat, terutama untuk penulis sendiri]

[4] : "Sibukkan Koreksi Aib Sendiri"


oleh Hasan Al-Jaizy

Memulai nasehat ini, kembali penulis mengingatkan bahwa risalah ini adalah untuk mengingatkan penulis sendiri dan juga siapapun yang membacanya. Sebuah faedah akan benar menjadi faedah bagi yang mengambil faedah darinya, dan tidak akan menjadi faedah jika tidak diambil darinya faedah. Bermula dari sebuah hadits:

كل بني آدم خطاء و خير الخطائين التوابون

"Setiap anak Adam banyak salahnya. Dan sebaik-baik orang-orang yang banyak salahnya adalah mereka yang [sering] bertaubat." [H.R. Tirmidzy]

Perhatikan lafadz 'khattaa'', yang menunjukkan bahwa sifat tiap manusia, siapapun itu, sering berbuat kesalahan. Dan perhatikan pula lafadz 'tawwaabuun'. Kenapa bukan 'taa'ibuun'? Karena Tawwab, menunjukkan seringnya ia bertaubat. Tidak hanya sekali. Bahkan berkali-kali. Dan semakin sering bertaubat hamba, semakin disayang Sang Pencipta.

Jika ada yang merasa dirinya sesuci malaikat tak bernoda, maka berhentilah dari tulisan ini dibaca. Hanya bagi manusia yang ingin selalu memeriksa dirinya. Duhai saudara, tiap-tiap kita benar-benar tahu secara zahir dan benderang aib-aib masing-masing terpunya. Biar sejuta manusia tak tahu yang kita sembunyikan dari aib, tapi kita benar-benar tahu dimana ia berada.

Men-jarh, menikam atau menurunkan nama seseorang terkadang bisa menjadi bagian dari nasehat dan ranting dakwah. Dan itu bukan satu-satunya bagian, bukan pula satu-satunya ranting. Terkadang, atau bahkan seringkali, hal itu justru adalah ghibah, namimah dan memperbesar mafsadah. Kita mungkin pernah melihat ada seorang hamba Tuhannya tak pernah mau berbicara kecuali membicarakan para dai atau para asaatidzah. Dan rupanya seringkali kalimat-kalimatnya menusuk banyak persona tertentu dari belakang. Lebih dekilnya lagi, jikalau yang ditusuk adalah orang-orang shalih, atau orang-orang bersalah namun tak mempromosikan kesalahannya dengan sengaja. Kita mungkin pernah merasa bahwa kita seperti itu dulu. Jadi, melihat pemandangan, seakan melihat cerminan masa lalu. Jika sekarang sudah membaik dan berusaha tak ulangi lagi, maka segala puji adalah bagi Allah.

Bukanlah kalimat berikut potongan puisi yang dipuitiskan, melainkan ia adalah ucapan manusia pilihan, yang tak perlu berpuisi untuk menjadi yang paling dalam kalimatnya:

يبصر أحدكم القذى في عين أخيه و ينسى الجذع في عينه

"Ada salah seorang diantara kalian yang bisa melihat debu di mata saudaranya namun ia lupa akan batang yang ada di pelupuk matanya." [H.R. Ibnu Hibban, disahihkan oleh Syaikh Al-Albany]

Duhai saudaraku, ketika engkau melihat adanya setitik debu di ujung mata saudaramu, apakah mampu kau melihat sebiji peluru di tengah matamu? Bahkan ketika kita mampu melihat orang lain secara keseluruhan, dari depan hingga belakangnya. Namun, kita rupanya tak mampu melihat belakang kepala kita sendiri, atau punggung sendiri.

Bagaimana mungkin kita sibukkan bicara kekurangan orang selain kita, sementara kekurangan kita sendiri tak pernah menyembuh?

عجبت لمن يبكي على موت غيره ... دموعًا ولا يبكي على موته دما
وأعجب من ذا أن يرى عيب غيره ... عظيمًا وفي عينيه عن عيبه عمى

"Aku heran pada siapapun yang menangisi kematian temannya dengan air mata
namun rupanya ia tak bisa tangisi kematiannya sendiri dengan darah"
"Dan aku heran pada siapapun yang melihat aib temannya begitu besar
namun pada aibnya sendiri matanya membuta"

Ibnu Abbas -radhiyallahu anhuma- pernah berkata:

إذا أردت أن تذكر عيوب صاحبك؛ فاذكر عيوبك

"Jika kamu ingin menyebut aib-aib temanmu, maka sebutlah [pula] aibmu."

Bukan berarti beliau meminta kita tuk sebutkan aib teman dan aib kita. Tapi, fikirkanlah pula, maukah kita menyebut-nyebut aib kita di depan manusia? Jika tidak mau, maka tahanlah penyebutan aib orang lain dari lisan kita.

Aun bin Abdillah berkata:

لا أحسب الرجل ينظر في عيوب الناس إلا من غفلة، قد غَفَلها عن نفسه

"Aku tidak menganggap seseorang yang menatap pada aib-aib manusia kecuali ia adalah termasuk dari orang-orang lalai. [Dan] ia [justru] lalai akan aib yang ada pada dirinya." [Sifatu Ash-Shafwah: 3/101]

Pernah juga seseorang berkata pada seorang alim, "Wahai saudaraku, sesungguhnya aku MENCINTAIMU di jalan Allah [Uhibbuka fillaah]."

Kemudian sang alim tersebut menjawab, "Demi Allah, wahai saudaraku, sekiranya engkau tahu seperti apa aku ini, kau akan mengatakan : 'sesungguhnya aku MEMBENCIMU di jalan Allah' padaku."

Sekarang, wahai penasehat yang mulia, apakah kau dan aku benar-benar semulia para penasehat? Terlebih ketika kita membicarakan aib manusia, apakah benar itu bagian dari nasehat? Jikalau memang itu bagian dari nasehat, apakah benar sebenarnya niat kita untuk menasehati?

Perhatikan bait-bait berikut:

شر الورى مَن بعيب الناس مشتغلاً ... مثلُ الذباب يُراعي موضعَ العِلَلِ

"Seburuk-buruk makhluk adalah yang sibuk dengan aib manusia
laksana lalat berkeliaran di sekitar kotoran-kotoran"

Mari koreksi diri kita. Ketika kita bermajelis, entah di masjid, entah di kampus, entah di FB bahkan, atau di grup dunia maya, kita meneliti aib-aib saudara, ustadz, syaikh, ulama dan siapapun. Apakah memang itu tugas kita? Atau justru kita 'menugaskan' diri? Apakah memang itu kepentingan kita? Atau justru kita 'mementingkan' diri?

Demi ALLAH, Sang Pembolak-balik hati, takutlah akan sesuatu yang tak terharap namun tersyahwat untuk memperbincangkannya. Perhatikan ucapan seorang alim:

إني لأرى الشيء مما يعاب، ما يمنعني من غيبته إلا مخافة أن اُبتلى به

"Sesungguhnya aku melihat sesuatu yang dianggap aib dan dicela, tidaklah ada yang mencegahku untuk meng-ghibahi [aib tersebut] kecuali rasa takut kelak aku akan diuji dengan [tertimpanya aku dengannya]."

Bisa sekarang kita tertawai fulan dan fulan yang begini begitu...
Bisa sekarang kita membahas fulan dan fulan yang menyimpang dan ekstrimis...

bisakah sekarang kita pastikan kelak kita tidak seburuk fulan dan fulan yang kita bincangkan aibnya????

Nasehat Untuk Para Penasehat...

Monday, October 22, 2012

Dogma Agama? Dogma Kelompok? Dogma Rasio?


oleh Hasan Al-Jaizy

Dogma adalah sistem keyakinan, bisa terkonstruksi oleh banyak hal. Di antaranya: dogma agama, dogma kelompok dan dogma rasio. 

A. Dogma Agama 

Dogma agama adalah sistem keyakinan berdasar dan bersandar pada agama. Dogma Islam, tentu saja mengacu pada dua sumber, yaitu Al-Qur'an dan Sunnah Nabi. Namun, apakah sesederhana itu sehingga semua pemeluk dogma Islam dapat menabur keyakinannya berdasar yang tampak dari keduanya? Tidak cukup. Masih memerlukan beberapa alat.

Al-Qur'an adalah sumber pengetahuan dunia akhirat. Bagaikan sebuah alam yang di dalamnya terlukis segala keindahan serta coraknya. Sinar dan efek keindahannya terasa, namun bagi yang ingin menyelami, harus membuka banyak pintu-pintu besar. Tiap-tiap pintu membutuhkan kunci-kunci besar tuk membukanya. Maka, dibutuhkanlah banyak kunci.

Itulah Al-Qur'an. Anda boleh membacanya

Wednesday, September 19, 2012

Memaknai Makna Dewasa


oleh Hasan Al-Jaizy

Mencoba untuk memahami makna kata 'dewasa' atau maksudnya, TANPA langsung menjadi hero dadakan dengan cara mengetik kata 'Dewasa' di search enginer seperti Google, atau melihat KBBI.

Beberapa makna dewasa dari beberapa orang dewasa:

a. Dewasa adalah kepribadian yang tinggi

b. Dewasa adalah kemapanan dari segi emosional dan keseimbangannya

c. Dewasa adalah kemandirian dan ketidakmain-mainan

d. Dewasa adalah yang tidak menganggap orang lain lebih kekanak-kanakan [rendah] dari dirinya

e. Dewasa adalah kebijakandan budi pekerti

f. Dewasa adalah ketika kamu tahu sikap apa yang layak dan yang tidak layak

g. Dewasa adalah 'jawa' [jaga wibawa]

g. Dewasa adalah 'gue banget gitoh...secara lu sendiri kan tau gue orangnya apa adanya baanget. Gue tu orangnye care, tau ga sih lo? Plis deh...gue tu cape' bangeeet ngurusin beginian. Gue ude anggep ni semua berakhir.'

Yang manakah yang menurut Anda tepat?
Jika tidak ada yang tepat, yang manakah yang menurut Anda mendekati kebenaran?
Jika tidak ada yang mendekati kebenaran, apakah Anda merasa sudah paling benar? Itu menunjukkan ketidakdewasaan Anda! [lho...lho]