Showing posts with label Pemuda. Show all posts
Showing posts with label Pemuda. Show all posts

Wednesday, February 6, 2013

Galau Dulu...


oleh Hasan Al-Jaizy

Kau harus galau dulu sebelum sukses.
Kau harus menangis dulu sebelum tertawa.
Kau harus berpahit dulu sebelum bermanis.
Kau harus susah dulu sebelum senang.

Jika sukses, tawa, kemanisan dan kesenangan didapat secara percuma tanpa bayaran, maka semua itu cuma-cuma yang percuma...sehingga:

semua itu seolah tak berharga karena cuma-cuma. 

Manusia belajar dan dapat ilmu karena awalnya tidak tahu. Jika sudah tahu, buat apa upaya menggali ilmu?

Jika kau ingin mendapatkan segala senang begitu saja tanpa membayar, lebih baik tidur saja. Mimpi saja sana. Mimpi boleh manis, namun kala terjaga, semuanya terputus. Hilang. Yang kemudian kau sesal sendiri kenapa ia tidak abadi.

Maka, berpahitlah. Selama hidup berjalan, semua ada urutan. Jika semua berurutan, percayakan bahwa kesulitan bukanlah keabadian.

Wednesday, January 30, 2013

Wakakakak...Ngustad Kok Masih Bujang?

oleh Hasan Al-Jaizy


Wakakakak...Ngustad Kok Masih Bujang?

Atau, beri judul lain: Masih Bujang Kok Ngustad?

Untuk membalikkan 'ejekan' di atas, cukup dengan kalimat: "Anda yang sudah tidak membujang kok belum bisa jadi ustadz?"

Dan jika ternyata ia adalah seorang ustadz, maka cukup dengan kalimat: "Anda yang sudah ustadz kok menertawai ustadz lain karena bujangnya?"

====================================

Berawal dari status sahabat saya malam ini, Ust. Zarkasih [tanpa tag], yang Jum'at kemarin mendapat peran berdakwah di mimbar hari Jum'at. Beliau sudah biasa khutbah Jum'at. Dan beliau masih 'single'. Bagi yang mau daftar, silahkan untuk tidak mendaftar ke saya; karena saya sendiri menutup pendaftaran, bagi diri sendiri, maupun bagi orang lain.

Nah, sahabat saya ini ditanya oleh seorang pegawai di kantor tempat masjid ia khutbah, "Anak sudah berapa, ustadz?"

Menjadi Yang Terharap...Game Kekerasan

oleh Hasan Al-Jaizy


Menjadi Yang Terharap...Game Kekerasan

Menjadi Yang Terharap

Menjadi Yang Terharap

Selagi saya tahu bahwa menggapai cita-cita dan harapan itu bukanlah mimpi semata tanpa upaya menyicil tabungan langkah dan bergerak menunjunya, maka saya mengajak diri sendiri serta diri selain saya sendiri untuk tidak 'ngemeng' saja atau 'ngarep' saja.

Bahwa suatu asa akan terwujud secara absolut jika Allah wujudkannya. Namun, Allah takkan merubah suatu kaum hingga kaum tersebut berupaya merubahnya jua. Sementara, keadilan-Nya tertuang di fakta bahwa Dia takkan membebani hamba di luar batas kadar dan kodratnya. Artinya: Teruskan perjalanan entah sendirimu atau bersama kafilahmu dan berusahalah. Mungkin kau akan terombang-ambing sebelum tiba di dermaga, namun Dia lah yang akan sampaikan jasadmu menujunya.

Seperti seorang yang mempunyai cita sebagai penulis kelak. Tentu ia harus mencicil sedari benih cita-cita masih kecil tabungan-tabungan karya, asahan-asahan dan latihan-latihan. Konyol sekali jika ia berharap kelak mampu menjadi penulis handal sementara kesehariannya lebih suka mencokolkan mata pada TV dan mengaibaikan panggilan-panggilan buku, kertas dan pena. Oh, kini sudah modern...panggilan laptop dan gatalnya jemari.
 

Sunday, January 27, 2013

Kerennya Ilmu Perbandingan

oleh Hasan Al-Jaizy

Ilmu paling keren itu ya ilmu perbandingan. Seperti ilmu perbandingan agama [Muqaaranah Al-Adyaan], atau ilmu fiqh perbandingan [Fiqh Al-Muqaaranah] atau lainnya kalau ada lagi. Kok paling keren:

Karena seolah-olah pelajarnya atau pegiatnya itu TAHU banyak. Tahu sana sini. Tahu ushul agama seberang. Tahu metode istinbath madzhab-madzhab. Nama yang cukup keren: Kristologi! Beuh. Lalu ada tulisan, Pak Fulan, pakar Kristologi. Keren sekali. Lalu, beberapa anak muda jadi ingin menyelami Kristologi karena 'kerennya'. Dalam bayangannya, kelak ia akan jadi orang besar dan tahu agama lain, seluk beluknya hingga mampu membantah hujjah agama lain.

Tapi, ngakaknya, ternyata ushul agama sendiri belebek-belebek. Ketika ditanya Rukun Islam dan Iman, mikir dulu. Ketika ditanya perkara lainnya yang dharury [yakni: yang tidak layak seorang muslim tidak tahu], jawabnya ngaco. Ditanya: "Allah itu ada di mana?"

Jawabannya malah: "Allah ada di mana? Allah ya ada di mana-mana!"

Saturday, January 26, 2013

Menjaga Kuburan Keramat


oleh Hasan Al-Jaizy

Para gadis yang disebut akhwat itu, selama berselancar di situs ini, setidaknya menjaga diri agar jangan sampai kekagumannya terhadap seorang lawan jenis terendus, tercium dan tersebar begitu saja di tengah warga. Simpan baik-baik jika memang punya rasa. Jangan menabur cerita. Bahkan kisi-kisinya pun tidak perlu diwarta. Simpan saja. 

Karena meskipun tidak semua, tetapi banyak gadis [baik disebut akhwat, ikhwit, ikhwan atau gaswat] yang sudah mencapai usia 22 ke atas, apalagi menjelang 30 dan belum menemukan teman bobo, rentan pada fikiran-fikiran ke penyebaran undangan. 

Baru kagum sebentar, mungkin sudah berfikir 'sepertinya dia jodohku'. 
Tambah kagum, jadi berdoa 'Ya Allah, jadikanlah ia pasanganku'.
Muhawalah [berusaha] interaksi, lalu diladeni, jadi berfikir 'Kyaaa, jangan-jangan dia memang benar jodohku'

Lalu mencari cara bagaimana agar perasaan di hatinya tertuang dalam kehidupan nyata. Entah bicara pada teman perihal manusia yang dikagumi. Atau sekadar bikin status mujmal [global atau tidak jelas dan tidak tertentu menuju ke siapa] yang menghembuskan kekaguman. Atau yang lebih terasa 'salehah', berdoa, "Ya Allah, jadikanlah ia jodohku. Jikalau ia bukan jodohku, maka jadikanlah aku jodohnya."

Friday, January 25, 2013

Kalau Memang Belum Saatnya Married...


oleh Hasan Al-Jaizy

Kalau memang merasa belum saatnya married, karena belum mampu secara finance, atau karena mau konsentrasi belajar dulu, atau faktor lain, ada 2 tarekat:

[1] Tarekat yang baik: jangan main senggol main kenal main senyum-senyum sama perawan donk. Apalagi kalau sudah sengaja komunikasi ga penting.

[2] Tarekat yang jelek: main senggol, colek, genit-genitan, senyum-senyum. Mengicar komunikasi ga penting. Baru ada gadis nanya sedikit, langsung diperhatikan.

[3] Tarekat yang munapik: di depan rakyat menampakkan muka 'galau' karena masih single dan sebagainya. Padahal, diam-diam main senyum di belakang layar, berburu, dan selainnya. 

Kegalauan itu untuk diobati atau dioles. Bukan dipelihara dan dijadikan sebagai topeng. Apalagi dijadikan sebuah kekonyolan dengan kelebayan yang tak berhenti. Obati dengan menikah jika memang merasa sudah waktunya dan mampu. Kalau belum, obati dengan ibadah, cari mulfit an-nadzar [hal yang memalingkan pandangan dan perhatian], contohnya: konsentrasi kerja, menuntut ilmu dengan giat, membantu ortu, membuat karya, membentuk organisasi dan masih banyak lagi.

Membangun Perpustakaan

oleh Hasan Al-Jaizy


Anda tidak bisa membangun perpustakaan pribadi dalam satu hari atau bahkan satu tahun. Tetapi, dimulai sejak Anda muda; membeli kitab satu persatu. Tiap mendapat uang saku ataupun gaji, sisihkan sekian persen untuk kitab. Lalu abadikan namamu di dalamnya. Baca meskipun tidak seluruhnya. Garis bawahi dan berikan ta'liq, komentar, tanggapan, ralat dan semacamnya dengan pensil[atau apapun]. 

Nanti, ketika Anda sudah menua, berusia 50 atau lebih, ketika anak-anak Anda sudah besar, ketika Anda sudah menjadi pengayom para murid, ketika Anda sudah menjadi murabbi umat, perpustakaan Anda tersedia. Dan semua kitab adalah milik Anda. Di tiapnya tertera nama, tanggal beli/diberi, tanda tangan dan tentu saja: tiapnya memiliki sejarah hidup Anda meski tak tertulis. 

Bisa jadi sekarang Anda memiliki sebuah kitab yang sulit dibaca, entah karena bahasanya yang begitu tinggi, atau karena memang Anda belum memiliki kapasitas. Tapi, seperti nasehat Ust. Wahyuddin Bakhtiar di tahun 2002, ketika saya mengawali masa SMA, jangan pernah kau buang kitab itu. Simpan! Karena suatu saat, kau akan benar-benar mampu membaca dan memahaminya. Percayakan itu.

Sunday, January 13, 2013

REALLY! JANGAN BACA INI! [1]


oleh Hasan Al-Jaizy

Kalau sampeyan punya waktu kosong dan bersedia 'capek' sedikit, namun ingin mendapat pahala insya Allah dengan upaya sedikit, tak sarani sampeyan ambil buku yang isinya bermanfaat, baik ukhrawi maupun duniawi, lalu ambil faedah atau kalimat bagus yang telah sampeyan garis bawahi atau terpesona akannya, lalu:

Ketik ulang dan jadikan status. Tentu niatkan sebelumnya sebagai amalan saleh yang ikhlas. Dan...selama itu bukan karya sampeyan, maka usahakan sebutkan sumbernya atau minimal, isyaratkan pada pembaca bahwa itu bukan karya sampeyan, melainkan...

...sampeyan 'hanya' menulis ulang demi faedah untuk manusia. 

Kalau sampeyan lebih punya kekuatan dan keilmuan, terlebih masih muda, tak sarani sampeyan LATIHAN membuat karya sendiri. Ga enak toh, jika dikatakan, 'Wah, masih muda...masih seger...masih banyak waktu kosong...ternyata, enggan berkarya...'

Karya itu ga mesti dalam bentuk tulisan, kok. Sampeyan membentuk majelis kecil-kecilan di masjid, merupakan karya. Mengadakan event bermanfaat meskipun sedikit, merupakan karya. Kalau begitu, masing-masing bergelut di bidang atau jenis berkarya yang ia sukai.

Tapi, saya katakan begini buat sampeyan:

REALLY! JANGAN BACA INI! [1]

oleh Hasan Al-Jaizy

Kalau sampeyan punya waktu kosong dan bersedia 'capek' sedikit, namun ingin mendapat pahala insya Allah dengan upaya sedikit, tak sarani sampeyan ambil buku yang isinya bermanfaat, baik ukhrawi maupun duniawi, lalu ambil faedah atau kalimat bagus yang telah sampeyan garis bawahi atau terpesona akannya, lalu:

Ketik ulang dan jadikan status. Tentu niatkan sebelumnya sebagai amalan saleh yang ikhlas. Dan...selama itu bukan karya sampeyan, maka usahakan sebutkan sumbernya atau minimal, isyaratkan pada pembaca bahwa itu bukan karya sampeyan, melainkan...

...sampeyan 'hanya' menulis ulang demi faedah untuk manusia. 

Kalau sampeyan lebih punya kekuatan dan keilmuan, terlebih masih muda, tak sarani sampeyan LATIHAN membuat karya sendiri. Ga enak toh, jika dikatakan, 'Wah, masih muda...masih seger...masih banyak waktu kosong...ternyata, enggan berkarya...'

Karya itu ga mesti dalam bentuk tulisan, kok. Sampeyan membentuk majelis kecil-kecilan di masjid, merupakan karya. Mengadakan event bermanfaat meskipun sedikit, merupakan karya. Kalau begitu, masing-masing bergelut di bidang atau jenis berkarya yang ia sukai.

Tapi, saya katakan begini buat sampeyan:

Thursday, January 3, 2013

FALSAFAH PENSIL II


oleh Hasan Al-Jaizy


Pensil itu kemampuanmu dan bakatmu

Sebelum memulainya, kututurkan padamu bahwasanya orang merugi adalah orang yang tidak tahu apa yang bisa ia lakukan demi dirinya atau orang lain. Orang merugi adalah orang yang tidak tahu bahkan enggan mencari tahu bakat apa yang Allah titipkan pada dirinya. Betapa banyak orang melalui masa mudanya masih dalam ketidaktahuan apa bakat yang ia miliki. Dan alangkah sedihnya jika ia baru mengetahui bakatnya di masa tua; sehingga ketika ingin memulai mengasahnya, kemustahilannya seperti mencabut beringin tua dari tempatnya. Maka, galilah potensi sedari dini, sebelum potensi itu sudah tak mungkin digali lagi.

[1] Pensil itu terwujud; merupakan senjata dan modalmu menulis. Awal membelinya, pensil itu tumpul. Dan kau tak mampu menggunakannya sebelum ia diraut.

==> Sebagaimana bakat dalam dirimu. Ia adalah modal yang dititipkan oleh Penciptamu. Merupakan keadilan dan hikmah dari-Nya, kau diberi kemampuan yang tidak semua manusia bisa melakukannya. Namun, bakat di awal-awal masih begitu mentah dan tumpul. Ia tidak serta merta menjadikan pemiliknya hebat dan bisa berkarya dengan bakatnya itu. Melainkan:

[2] Pensil harus diraut terlebih dahulu; sehingga ia pun menajam dan melancip. Semakin tajamnya ia, semakin baik tulisan terwujud.

G.A.L.A.U.


oleh Hasan Al-Jaizy

G.A.L.A.U.

[Bacaan Untuk Manusia; Yang Bukan Manusia, Jangan Pura-pura Bisa Baca!]

Orang yang punya cita-cita tinggi, adalah seorang yang berbeda. Ia memiliki karakteristik yang tidak kau temukan pada semua manusia. Jangankan pada kesuksesannya kelak, bahkan pada penyesalan hingga kegalauannya adalah sesuatu! Orang bercita tinggi menyesal banyak habiskan waktu tidak untuk membangun mimpi menjadi nyata. Dan itulah salah satu bentuk kegalauan mereka.

Galau adalah awal mula dari iradah. Sedangkan kesuksesan adalah akhir dari iradah, sekaligus natijah [hasil] dari ikhtiar [usaha].

Kenapa manusia galau? Karena ia menginginkan sesuatu! Dan menginginkan sesuatu bermakna ia ingin mencapai sesuatu yang ia inginkan/harapkan.

Kegalauan itu relatif dan nisbi. Ia dihukumi tergantung pada bentuk iradah, bukan bentuk kegalauan itu sendiri. Jika ia galau karena iradahnya adalah ingin mendapat pacar segera atau karena diputuskan pacar baru saja, maka ini adalah galau yang bodoh dan tercela. Namun, jika ia galau karena iradahnya adalah ingin segera menikah, namun ditolak oleh banyak incaran, atau belum punya modal, atau merasa kurang pede, maka ini adalah galau yang wajar dan bahkan bagus.

Sunday, December 30, 2012

DAHULU DAN KINI


oleh Hasan Al-Jaizy

Dahulu sangat jamak terkesan bahwa pemuda berkacamata itu pintar dan suka membaca buku.
Kini? Tidak. Kacamata banyak dijual. Murah. Dan banyak dibeli bukan karena hajat darurat untuk melihat, melainkan perkakas unik untuk dilihat. Gaya-gayaan. Tentu tidak boleh kita menghakimi siapapun yang berkacamata hanya sekadar bergaya dengannya. Salah satu ciri khas mayoritas orang berkacamata yang memang karena kekurangan kualitas penglihatan dan karena kebutuhan adalah ketika ia melepas kacamatanya, ia akan langsung sedikit menyipitkan mata. Bisa dibuktikan. Dan ciri khas orang yang berkacamata karena style saja adalah suka gonta ganti frame, kadang dengan corak atau bentuk menarik, tidak konstan memakainya, hanya saat keluar rumah saja, dan sebagainya. Tidak 100% seperti ini, namun bisa kau buktikan sendiri di lapangan.

Dahulu yang namanya sebutan sarjana muda adalah sebuah kebanggaan betul-betul. Di tanah Betawi saja, jika seorang gadis dilamar seorang sarjana, keluarga gadis bangga bukan main.

Kini, sebutan sarjana muda sudah lumrah. Bahkan anak-anak muda ingin cepat-cepat jadi sarjana, sebodo teuing lah dengan ilmu selama 4 tahun. Yang penting dapat gelar dulu. Setelah sarjana muda membuih di samudera, mulailah magister muda bertebaran. Magister muda lama-lama tidak menyilaukan lagi saking bertaburnya di padang-padang pasir. Seterusnya akan merambat ke doktor-doktor muda. Suatu saat, kita akan benar-benar berharap manusia tak mudah silau dengan gelar akademik. Sehingga yang kurang beruntung di ranah akademik, entah karena faktor finansial ataupun kondisional, namun memiliki potensi dan kualitas memadai, menjadi manusia yang lebih layak dipandang dan dihormati.

Saya Sering Galau


oleh Hasan Al-Jaizy

Ya, saya adalah orang galau. Karena memang sering galau. Bukan galau karena mencari saluran yang halal untuk dijadikan pelampiasan. Atau galau karena belum mendapatkan guling yang bisa dimain-mainkan, baik di kasur, kamar mandi, hingga di ruang tamu. 

Itu kecil. Insya Allah ada masanya. 

Tapi, kegalauan terbesar saya ada di kenyataan sekarang. Di kamar banyak sekali kitab. Tergeletak di atas kasur, lantai, meja, rak dan lemari. Galau sangat ketika melihat mereka. Tiapnya seolah memanggil-manggil, 'Ayo, bedahlah aku...bukalah aku!'

Belum lagi 'koleksi' E-book di PC. Entah itu berupa PDF Scanned [ribuan], hingga kitab2 Shamela [lebih banyak lagi]. Di sini justru tidak bermksud pamer. Justru membuat saya galau dan sedih. Ternyata saya ini bergelimangan kitab dan maraji' namun rendah sekali masih dan sedikit terlalu yang saya seruput.

Thursday, December 20, 2012

CAT : [45] "KESOMBONGAN TAK TERSADAR"

oleh Hasan Al-Jaizy


Apakah seorang alim [berilmu] bisa berlaku sombong?

Jawabannya: Bisa. Bahkan potensi untuk menjadi sombong besar sekali. Lebih besar dari potensi kesombongan pada orang jahil. Terutama jika sang alim tersebut adalah pelajar pemula, atau sedang keenakan bertingkah bagai 'ayam kaget'; yaitu kaget dan takjub dengan kemampuan diri, atau bergelimangnya kitab atau mashaadir ilmiyyah, atau kesenangan berada di tengah orang-orang berilmu. Sehingga kekagetan dan ketakjuban itu membuat lidah dan jemarinya membusurkan panah-panah tak layak terbang di angkasa.

Jadikan tulisan ini nasehat untukmu, saudara-saudari. Dan sebelum tulisan ini tertulis, penulisnya pun juga berusaha membenamkan diri pada cermin. Bila memang ini pahit untuk yang

Sunday, November 25, 2012

HIDUPMU INSPIRASIMU : [14] "Pilih Mana: Kepala atau Ekor?"

oleh Hasan Al-Jaizy

Saya mempunyai seorang teman sekampus. Saya mengenalkan sebagai mahasiswa yang begitu berambisius dan bercita tinggi. Dan ia tidak main-main dalam bercita-cita. Sekarang ia sedang membangun tangga-tangga dalam kehidupan mudanya. Anak muda ini begitu mengagumkan dengan ambisinya. Bisa menjadi contoh dan spirit penyemangat bagi yang mimpinya rendah.

Teman saya ini, dikenal sebagai calon pemimpin. Ia sendiri yang mendeklarasikan mimpinya, 'Insya Allah, suatu saat ana akan jadi ulama di tengah umat ini, kawan.' Dan kami tentu mengamininya. Semoga ia menjadi ulama umat ini, di tanah air ini. Sekali lagi, ia tidak bermain-main dalam bermimpi. Seminar, kajian, rapat dan berbagai hal ia hadiri demi membangun tangga-tangga itu. Bahkan pernah ia menghadap ke orang-orang MUI dan bertanya langsung, "Bagaimana caranya agar saya bisa menjadi ulama seperti Anda!?"

Dalam perkara ini, penulis bukanlah apa-apanya. Perlu juga kau ingat, bahwa tiap manusia

Wednesday, November 21, 2012

Jika Yakinmu Kau Tak Bisa, Kau Takkan Bisa


oleh Hasan Al-Jaizy

Seorang santri, telah dinyatakan lulus dari pendidikan pesantrennya secara resmi. Yang kini ia lakukan sebagai amanah teremban adalah keluar gerbang pondoknya dan menyiarkan apa yang telah terbekali selama belajar di sana. Apa lagi selain ilmu? 

Rupanya ia tergolong santri rajin dan pintar. Nilai hasil ujiannya mengagumkan. Dan jika kau berbicara dengannya, ibarat berbicara dengan seorang sarjana agama era 80-an. Dan jika kau berbicara dengannya, kau seakan adalah seorang sarjana agama pasca 2000. Kenapa sarjana agama pasca 2000? Karena kesarjanaan banyak sarjana kini ibarat kiamat ilmiah. Setelah lulus, tidak lagi menggali ilmu lebih, namun mencari uang semata dengan bekal sederhana. Dan banyak ilmu-ilmu dilupakan. Ditinggalkan. Yang terpandang sekarang adalah bagaimana mendapatkan uang, jabatan dan martabat di mata manusia. Bukankah begitu, wahai aku?

Remaja ini pun diutus ke sebuah kampung. Untuk berdakwah. Ia dibekali uang dan

Saturday, November 10, 2012

Untuk Para Bujang


oleh Hasan Al-Jaizy

Jika memang itu galaumu bercerita kenai kekasih yang idamkan itu, maka itu wajarmu. Tapi tenggelam di dalamnya pada malam-malam adalah suatu kekonyolan yang takkan terbitkan pelangi setelah derasnya hujan. 

Jika galaumu itu kau tuangkan dalam kalimat status, jagalah kalimatnya agar tetap sahaja kau terlihat berjiwa. Dan usahakan meskipun kau bersenandung sedih, berikan dari rasamu itu sebuah inspirasi untuk pembacanya. Jangan biarkan lagu berlirik hampa tunaikan tawa mereka atasmu.

Ada wanita yang sekarang lebih layak kau fikirkan. Dan selalu layak kau fikirkan ia.

Ibumu

Selagi takdir belum tunaikan harapanmu itu, sudikah kau bertanya,'Sudahkan ku tunaikan harapan ibuku padaku?'

Harapan ibumu padamu adalah kau menjadi pembakti. Seberapa ukuran baktimu?

Harapan ibumu padamu agar kau bisa berkhidmat padanya sebelum habis masa lajangmu. Dan seberapa besar khidmatmu padanya?

Kasihlah ibumu kasih yang ia harap, semoga kelak ibu anak-anakmu akan mengasihimi sebaik-baik pengasih memberi kasih. Jangan tenggelam dalam gelombang kasih yang belum terwujud adanya. Selama gelombang kasihmu pada ibu masih bernada, maka jangan hentikan nada itu....hingga terputus tali hayat...entah meninggalnya kamu atau ia. Jangan hilangkan ia sebelum masa tertepatnya. Ridhanya jadikan ridha-Nya pula. Wujudkan.


Petromak Di Langit Gulita

oleh Hasan Al-Jaizy

Manusia yang sekadar bisa membaca kitab terjemahan dengan niatan belajar dan berusaha beri yang ia dapatkan dari ilmu dengan ikhlas, itu jauh jauh jauh sekali lebih baik dibanding orang yang mampu membaca kitab aslinya (arabic) dengan baik namun kemampuannya itu justru menjadi fitnah bagi dirinya dan umat. Bagi dirinya karena sombongnya, tau ujubnya, atau ketidakikhlasannya. Bagi orang lain karena pembenaran terhadap penyimpangan, atau jidal tanpa faedah, atau menikam ulama, atau menginjak awam dan lainnya.

Membaca buku bukanlah tujuan. Tetapi mengambil faedah, menerapkan dan menyiarkannya adalah tujuan. Siapa yang menjadikan membaca sebagai tujuan, ia bagaikan menjadikan gelar sebagai pencapaian akhir, bukan service terhadap umat. Karena itulah, orang yang hanya ingin kelihatan 'banyak baca buku' entah dengan cara apapun, Anda akan melihat mereka sebenarnya tidak tahu apa yang dibaca dengan baik. Atau bahkan nihil. Karena tujuan akhirnya: membaca, bukan mengambil faedah. Sama juga yang hanya ingin dapat gelar. Kau akan laksana melihat pepesan kosong. Tidak berisi. Bobotjya hanya bungkus yang ditumpang tindih.

Orang-orang yang sebenarnya tidak suka membaca tapi ingin dipandang suka membaca

Friday, November 2, 2012

Tidak Bisa Ngarab?

oleh Hasan Al-Jaizy

Anda tidak bisa berbahasa Arab?
Anda tidak bisa membaca kitab?

Jangan bermuram durja ketika mengaca diri dan melihat bahwasanya, 'wah, gue ga bisa berbahasa Arab, lho.' Ketahuilah, bahwa mempelajari dan menguasai Bahasa Arab itu tidak wajib. Tidak wajib. Tidak wajib kecuali:

--> sebagian dzikir dalam shalat dan mana Surat Al-Fatihah. Juga sebagai bonus tambahan ayat-ayat lain.
--> bagi yang BERKONSENTRASI di ilmu syariah.

Jangan minder ketika di pengajian, ternyata teman-teman bisa memahami bahasa Arab. Karena mungkin mereka diberi rizki lebih, yaitu pendidikan di pondok dulu, atau pendidikan kampusnya, atau mengenal bahasa Arab lebih dahulu. Tapi minderlah ketika punya teman dekat, kenal bahasa Arab bareng, satu pengajian, dan bedanya:

Tuesday, October 30, 2012

SALATIGA, SELALU DALAM KENANGAN : [2] "Brigade Life Skill"


oleh Hasan Al-Jaizy

Ayah ibu mengirim anaknya ini karena ada rasa kekhawatiran terhadap pergaulan anak kota ini. Terlebih, ibunya bapakanya ibu saya [buyut saya dari Betawi] ketika masih hidupnya dahulu dan kecilnya saya, mendoakan, 'Semoga anak ini menjadi ulama [kyai].' Doa yang diriwayatkan oleh ibu saya ini, begitu melegenda. Doa biasa, sebagaimana doa saya untuk teman-teman pencari ilmu. Namun, seperti ada pesan luar biasa...seakan itu adalah wasiat dari beliau: 'Lu kudu jadi orang, tong!'

Kemudian saya pun merelakan diri mengubur harapan kanak-kanak untuk melanjutkan sekolah bersama teman-teman dekat. Dengan bekal seadanya, saya dan pak lik [adiknya bapak saya] berangkat ke Salatiga untuk mendaftar di pendaftaran gelombang pertama. Untuk masa pendaftaran+tes, sekiranya membutuhkan waktu 1 minggu.

Sesampai di sana, hawa masih sangat dingin. Seingat saya,