Showing posts with label Sekolah. Show all posts
Showing posts with label Sekolah. Show all posts

Wednesday, October 31, 2012

SALATIGA, SELALU DALAM KENANGAN : [3] "Mas Boy"


oleh Hasan Al-Jaizy

Para calon santri baru gelombang pertama, harus tinggal di dalam pondok berhari-hari. Hampir seminggu. Syukurlah, mudahnya little Hasan bergaul pada manusia semenjak masih es de, menjadikan ia mudah mendapat teman-teman baru. Tanpa harus canggung dan main gunung es dulu. 

Kami, para calon santri baru, ditempatkan di sebuah ruangan yang normalnya atau aslinya adalah kelas ITQ [sebuah jenjang untuk anak SD yang dipesantrenkan]. Ruangan itu terletak di depan pondok, dekat dengan pos satpam dan gerbangnya. Ia juga berada di depan lapangan bola takraw. Lapangan itu bisa dijadikan tempat bermain takraw. Bisa pula tempat bermain badminton. Kadang, malah bisa dijadikan tempat bermain bola [dengan bola plastik]. Jadi, flexible...connected to anyone's will.

Mas Boy, adalah seorang pria Jawa berperawakan tinggi. Usianya ketika itu di atas 20, menurut perkiraan penulis. Beliau adalah orang pertama yang kami [calon santri baru] kenal. Ramahnya

Tuesday, October 30, 2012

SALATIGA, SELALU DALAM KENANGAN : [2] "Brigade Life Skill"


oleh Hasan Al-Jaizy

Ayah ibu mengirim anaknya ini karena ada rasa kekhawatiran terhadap pergaulan anak kota ini. Terlebih, ibunya bapakanya ibu saya [buyut saya dari Betawi] ketika masih hidupnya dahulu dan kecilnya saya, mendoakan, 'Semoga anak ini menjadi ulama [kyai].' Doa yang diriwayatkan oleh ibu saya ini, begitu melegenda. Doa biasa, sebagaimana doa saya untuk teman-teman pencari ilmu. Namun, seperti ada pesan luar biasa...seakan itu adalah wasiat dari beliau: 'Lu kudu jadi orang, tong!'

Kemudian saya pun merelakan diri mengubur harapan kanak-kanak untuk melanjutkan sekolah bersama teman-teman dekat. Dengan bekal seadanya, saya dan pak lik [adiknya bapak saya] berangkat ke Salatiga untuk mendaftar di pendaftaran gelombang pertama. Untuk masa pendaftaran+tes, sekiranya membutuhkan waktu 1 minggu.

Sesampai di sana, hawa masih sangat dingin. Seingat saya,

SALATIGA, SELALU DALAM KENANGAN : [1] "Muqaddimah"


oleh Hasan Al-Jaizy

Tiada akibat tanpa sebab. Tiada sebab tanpa akibat. Jika akibat tiada, maka pasti tiada pula sebab. Yaitu ketika saya lulus SD, ayah dan ibu ternyata punya rencana 'baik'. "Kamu akan dikirim ke pesantren!" tegas ayah-ibu. Sebagai manusia yang punya rencana, saya berontak. "Saya punya rencana sendiri! Saya mau masuk ke SMP 182 atau di sekolah lain bersama teman2!"

"Tidak bisa!" ayah menggebrak.

"Tidak tahu!" saya menimpali. Dalam kalimat dewasa, diterjemahkan, "Entahlah....". Setelah penegasan ayah saya itu, hari-hari terasa sendu dan beku. Karena jika dikirim ke pondok [Salatiga, Jawa Tengah], teman-teman lama, baik di sekolah atau teman bermain gundu dan bola akan saya tinggal jauh.

Tertekan. Ketika itu saya tertekan. Setelah era World Cup 1998 yang membuat saya mengenal sepakbola, permainan itu sangat addictive di hati. Dahulu, rela sekali tidak jajan demi beli koran untuk membaca isinya. Masa bodohlah biar tidak faham semuanya. Terutama halaman sepakbola. Bahkan jajaran penghuni tiap grup, dari grup A hingga H, sampai sekarang masih tahu. Dan tiap pertandingan masih teringat berapa skornya. Ketika itu, setiap ada siaran ulang sepakbola World Cup di TVRI,

Friday, October 19, 2012

Mata Sipit Mendanau

oleh Hasan Al-Jaizy


[1] Anak-anak sedang bermain bola di jalanan beraspal dengan kaki telanjang. Di tengah kota Jakarta. Lapangan sudah penuh. Hanya jalan aspal satu-satunya lahan menuntaskan nafsu bermain bola. Sore itu, dia adalah anak yang dikenal mahir bermain, meski kecil. Ia berebut berkali-kali bersama anak-anak besar, para ABG. Di masa itu, mereka tak terbiasa dengan kata-kata busuk. Jika mencela, celaan mereka tak sengaja dikeras-keraskan seperti ABG sekarang. Dia sekali menendang bola. Oh, rupanya kakinya kesaruk aspal. Tersaruk hingga merobek sedikit dari kulit di dekat kuku jempolnya. Merah. Berdarah. Cukup deras. Lalu ia menekan luka itu. Berharap darah tak mengalir lagi. Kembali ia bermain dengan senang hati. Bergulat lagi dengan para ABG. Semua itu sudah biasa.

[2] ABG kemudian ia menjadi. Sore itu, ia hendak bermain bola di lapangan sekolahnya yang berdebu tebal. Jika kau injak tanah lapangan, kakimu akan tenggelam dalam debu. Lalu kau dapatkan warna coklat pekat memekati kakimu. Anak ABG itu pun berlari ke lapangan. Menyeruak ke dalam permainan yang asal serang. Dua gawang, tanpa kesebelasan. Semua boleh bermain. Semua boleh memilih mana yang dibela. Semua pasti akan tersiram debu-debu intan. Semua akan menghirup debu-debu itu. Semua senang. Yang penting semua senang. Semua itu sudah biasa.

[3] Ada beberapa anak kecil di sebuah desa pulang dari sekolahnya. Masing-masing menenteng tas. Mereka menyusuri sawah, yang berderetan dengan rel kereta api. Mereka berjalan berbaris. Dengan bahasa daerah, tiap-tiap mulut berkicau. Dari kejauhan, terdengar suara klakson kereta. Tiap-tiap mereka menoleh. Satu berteriak, diikuti teman-temannya. Kereta melaju mendekat dengan cepat. Dan ketika kereta melewati jasad-jasad mereka, mereka berteriak dan sebagian melompat-lompat. Kesenangan sementara. Mereka senang, meskipun belum merasakan naik kereta.

[4] Seorang pemuda dari pintu kereta melihat anak-anak itu. Ia sedari lama terduduk di sana. Sengaja. Ingin rasanya melahap pemandangan langsung dari pintu kereta yang terbuka. Kereta ekonomi antar kota antar provinsi. Pemuda itu membalikkan muka, selagi gerbong yang ia tumpangi mulai melewati jauh anak-anak itu. Lalu ia tersenyum sembari melambai tangan pada mereka. Mereka semakin bersorak. Kegirangan. Sementara hati pemuda memadu antara girang dan sedih. Gumamnya:

'Seandainya ketika itu aku bersekolah, memakai seragam seperti mereka...tentu tempatku bukan di sini.'

Tiba-tiba air matanya menetes, beberapa titiknya membentur kacang-kacang yang ia pegang di tangan kanannya.

==========================

Sekolah itu sudah biasa.
Mengharumkan nama sekolah itu luar biasa.
Mengingat mereka yang tidak bersekolah?
Itu bukan kebiasaan anak sekolah, atau lulusannya.

Wednesday, October 17, 2012

Membongkar Kuburan Keramat

oleh Hasan Al-Jaizy

Jika melihat beberapa kasus negatif di sektor edukasi formal negeri ini, rasanya cukup mengiris hati. Terlebih apa yang tercerita tentang pendidikan banyak sekolah di kotaku ini. Menengok ke pasar, ada rasa sakit di hati dan keputusasaan tercetus, karena rupanya banyak sekali praktek riba, kecurangan takaran dan penipuan di sana. Menengok ke sekolah, rasa sakit itu bertambah. Trend LKS [Lembar 'Kerjaan' Sekolah, atau Lembar Kerjain Siswa] atau semacamnya malah berpotensi memperbodoh anak-anak dan adik-adik kita.

Saya beri satu contoh yang sudah jamak tersebar. Di bidang bahasa Inggris [English]. Guru-guru English di banyak sekolah, entah swasta atau negeri, justru menjadi pihak yang paling idle [offline/malas/lemah]. Kerjaan mereka di kelas hanya memberi lembar kerja pada siswa; tanpa menerangkan secara sistematis atau efektif pada anak akan materi-materi. Bahkan, buku panduan sekolah dianggurkan. Padahal para orang tua membelinya dengan anggaran bukan untuk dianggurkan. Harapan orang tua, buku itu untuk dipelajari, dibahas isinya.

Namun, rupanya guru-guru tersebut lebih suka menjadi seperti setan edukatif. Meski sudah tahu buku pegangan ada dan terbeli, tetap saja mereka mencari celah untuk dua hal: 1. Bagaimana supaya gue bisa nyantai dan ga perlu kerja keras, 2. Bagaimana supaya gue bisa membuat proyek bisnis di sini. Akhirnya, tercetuslah ide najis seperti:

Monday, October 8, 2012

Beberapa Point


oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point untuk Senin pagi ini:

[1] Barangsiapa menabur angin, ia akan menuai badai. Barangsiapa bermain badai, ia akan masuk angin. Barangsiapa masuk angin, ia akan merasa hidup berbadai. Barangsiapa hidupnya berbadai, maka mintalah keluasan pada Yang Menciptakan angin dan badai.

[2] Pelantikan Gubernur DKI belum jelas. Menunjukkan sifat keangin-anginan orang-orang atas. Karena memang asalmulanya tidak tegas. Dikecualikan jika memang ada tekanan atau darurat, baru pada nge-gas. Jika pelantikan resmi yang penting saja belum jelas, apakah kita boleh menyatakan, 'kita sama-sama culas dan malas' !?

[3] Mengais dunia demi akhirat, bukan menjual akhirat dengan dunia. Jika iman berkurang, dunia serasa mahligai di tengah surga. Namun kala iman sedang bertambah, dunia terasa tidak ada apa-apanya. Yang terbijak: imbangi keduanya selagi raga menanggung jiwa.

[4] Tanpa mengenal hari apakah itu, burung-burung tetap pergi pagi demi mencari makan. Hingga menjelang petang, mereka pastikan belly dalam keadaan terisi. Maka kamu, duhai manusia: tanpa mengenal hari apakah itu, tamasyakan fikiranmu demi mencari penghasilan terlebih ilmu. Karena di sini pembeda antara mu dan mereka [para burung]. Jikalau hanya makan dan senang kau cari tanpa kenal hari, kubangan lumpur sehari-hari disukai babi.

[5] Seorang bocah berjalan menenteng tas tak berkualitas menuju sekolah. Sementara semua teman sekelasnya, tas ditenteng oleh bapak atau ibu. Jikalau ada yang menentengnya, tentu tetap nyaman; karena semuanya diboncengi di atas motor atau bahkan mobil. Bocah itu memang masih polos; namun sepolos-polosnya manusia berhati, ia pasti punya rasa iri. Ketahuilah, bukan materi yang menjadi pengukur kesuksesan di masa depan, melainkan semangat dan ketekunan. Semakin keras perjuangan, semakin belajar seseorang. Semakin dielus kucing, semakin manja ia dan ketergantungan.

Who cars?
Who nose?http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/448947911813266

Tuesday, July 3, 2012

Nama, Gelar, Jabatan Itu Penting!

oleh Hasan Al-Jaizy

Nama itu kelak akan penting. Gelar pun kelak akan penting. Jabatan jua kelak akan penting.

Namun itu penting di masanya nanti. Jadi, jangan meraih terburu sebelum masanya.

Karena, seringkali orang menyesal memetik buah yang belum masa masaknya.

Sementara jika telah ranum buah merekah, banyak orang memandang dengan mata sedap.

==> Di antara mereka ada yang akan menjualmu...seperti televisi menjual para dai di depan umat...memoles dengan racun

==> Di antara mereka ada yang hendak memakanmu...seperti demokrasi memakan dan merampas hak-hak dengan maruknya

==> Di antara mereka ada yang hendak menyedekahkanmu, atau jikalau memakanmu, mereka akan mengambil biji darimu tuk ditumbuhkan kembali


Jadi:

Jangan terburu meraih sebelum masanya
Jangan memetik buah sebelum masaknya
Jangan membangun genting sebelum pasaknya
Jangan melihat Sule hanya dari peseknya


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/415366215171436

Tuesday, January 31, 2012

That Was My School, btw

oleh Hasan Al-Jaizy

Kalau Anda pernah kunjungi Pesantren Al-Irsyad Tengaran, Anda kan menganggap letaknya sangat pas karena memiliki scenery alam yang sangat indah [di kaki gunung Merbabu] dengan udara segar dan air yang bersih.

Kalau Anda pernah nyantri di sana, Anda kan ucapakan 'Alhamdulillah' dan ada setidaknya setitik sesal mengapa dahulu kala nyantri tak bersungguh-sungguh; karena materi pelajarannya lebih baik dan lebih berat dari sebagian besar Jurusan religius di kampus-kampus.

Kalau Anda belum pernah nyantri di sana atau mengunjungi lokasi, gambaran itu masih 'blur'. That was my school, btw.

http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/320477711326954