Showing posts with label Syariat Islam. Show all posts
Showing posts with label Syariat Islam. Show all posts

Thursday, January 24, 2013

PINTER DIKIT dan MODERN DIKIT I

oleh Hasan Al-Jaizy


Sekarang, selain dituntut 'pinter dikit', ternyata kita kadang tertuntut untuk modern dikit. Kenapa dituntut pinter dikit? Karena zaman sekarang informasi itu bagaikan banjir tak bermusim. Maksudnya, karena tidak ada musimnya, jadi banjir terus. Tiap hari [pagi, siang, sore, malam] Anda bisa menikmati luasnya pemandangan dunia, baik dengan audio maupun visual. Kenapa tertuntut modern dikit? Karena Uwong ndeso saja sudah kenal HP bagus, sewajarnya uwong kuto harus lebih bagus lagi. 

Natijah Tuntutan Pinter

Di antara natijah tuntutan pinter dikit adalah menukil dengan menyebutkan sumber nukilah. Kalau Anda perhatikan buku karya modern, terutama yang berkaitan dengan Syariah [mencakup Aqidah, Al-Qur'an, Hadits, Fiqh, Akhlaq dll], kita mulai terbiasa melihat footnote di hampir tiap halaman. Cobalah Anda beli 5 buku yang semacam itu. Dikit-dikit, ada tulisan H.R. Bukhari, atau nama-nama kitab yang dinukil isinya. Baca buku semacam itu selama 1 bulan. Nah, di bulan kedua, beralihlah ke buku yang kering kerontang akan footnote. Isinya seolah-olah pendapat pribadi penulis, tanpa mengutip dari sumber lain. Anda akan merasa kekeringan. Kenapa? Karena terbiasa bermain di taman yang penuh bunga footnote. Dan ini adalah salah satu bentuk 'pinter dikit'; yaitu tumbuhnya benih kritis dan tidak cepat percaya. 

Tuesday, August 28, 2012

Ustadz dan Thuwailib

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point tentang ustadz-ustadz dan thuwailib-thuwailib:

[1] Daripada engkau-engkau berkicau masalah perselisihan pendapat dan pandangan para ustadz mengenai ustadz fulan atau fulan, lebih baik engkau-engkau membicarakan permasalahan-permasalahan ilmiah fiqhiyyah, aqa'idiyyah, hadiitsiyyah atau apapun ilmu yang kau-kau dapat dari pengajian. Sungguh gharib jika 'ngaji' ke pengajian, pulang-pulang hanya bisa membawa gosip.

[2] Daripada engkau-engkau meracau masalah yang sebenarnya memang bukan bidang kau-kau, seperti bagaimana mendownload hukum pengkafiran terhadap fulan dan fulan sehingga kau-kau bisa mengkafirkan sehingga seakan dianggap sah pengkafirannya, atau bagaimana caranya menemukan celah untuk melabeli ustadz fulan sebagai Ahli Al-Bida', lebih baik engkau-engkau membicarakan tentang kitab-kitab yang dikaji oleh para ustadz, atau bagaimana metode ustadz yang kalian sukai dalam menjelaskan, atau tips-tips untuk menjadi 'better' at reading, writing, understanding, bukan malah ingin menjadi 'better' at judging.

[3] Syaikh Abu Malik Abdul Hamiid Al-Juhany pernah berkata:
[ليس كلُّ من قال قولا وافق فيه بعض المبتدعة يكون مبتدعا]
"Tidak semua pengucap suatu ucapan yang selaras dengan [ucapan] sebagian pelaku bid'ah menjadi pelaku bid'ah [atau dianggap Ahlu Al-Bida'"

[4] Thuwailib shughair [pelajar kecil] yang mengkonsentrasikan diri pada pensegelan label bid'ah terhadap siapa-siapa, ditakutkan terjerumus pada bid'ah itu sendiri. Apakah ada di zaman salaf pelajar kecil yang sudah bisa berkonsentrasi pada pelabelan?

[5] Bahkan jikalau kita ingin berfikir lebih-lebih, pelajar yang meniatkan diri sedari mula untuk menjadi pembantah Ahlu Al-Bida' [segala pembahasannya hanya untuk membantah-bantah saja], ia akan memiliki kekurangan dan erosi di bidang lainnya. Pembahasan dan materi bukan hanya sekedar 'bantah-bantahan'. Jika memang punya hujjah, data dan ilmunya, ada bolehnya membantah. Tapi, apakah ada di zaman salaf seorang alim yang cuma bisa membantah, sementara bidang ilmu lain seperti Hadits, Fiqh, Tazkiyyatun Nufuus dan Akhlak di-ignore begitu saja? Jika jawabannya tidak ada, apakah ini bisa dinamakan bid'ah [sesuatu yang baru; tidak ada contohnya di zaman salaf]?

[6] Jangankan menjadi pelajar kelas tinggi dalam membantah, coba deh jawab pertanyaan ini:

"Apa arti Thuwailib dan kata tersebut merupakan bentuk apa namanya dalam bahasa Arab?"

Jika menjawabnya saja butuh berfikir 5 detik, maka dialah si Thuwailib itu.

Saturday, August 25, 2012

Al-Qabuul wa At-Tasliim

oleh Hasan Al-Jaizy

Satu pondasi penting dalam manhajiyyah istidlaal [mengambil dalil] dan mengimani wahyu adalah Al-Qabuul [menerima] dan At-Tasliim [menyerahkan]. Maksudnya: seorang muslim sebelum segalanya tentang pendalilan atau menarik kesimpulan dari dalil, ia harus membangun rasa nerimo dan tunduk pada dalil. Bukan justru sebaliknya: mencoba mengkritisi dalil dan memang sedari awal sudah suspisius alias super curiga terhadap dalil.

Ingat, lho: Terima dan Menyerah pada dalil. Dalil adalah Al-Qur'an, As-Sunnah dan Ijma. BUKAN terima dan menyerah pada fatwa atau perkataan manusia. Bukankah di sini ada sebuah jebakan yang tidak sedikit dari para thullab al-ilm terperosok tanpa sadar?


Fatwa Ijtihady, apakah dalil?

Tentu saja, dalam

Monday, July 2, 2012

Memahami Materi Beserta Dalilnya?

oleh Hasan Al-Jaizy

Pertanyaan bagus: "Bagaimana cara mudah memahami materi-materi beserta dengan dalilnya itu?"

Sebenarnya ana juga selalu ingin bertanya hal ini kepada para asaatidzah dan masyaayikh dikarenakan ana juga memiliki problematika menyedihkan berkaitan dengan tata cara.

Namun, ana beri beberapa point, semoga berfaedah:

[1] Ikhlaskan niat dan usahalah untuk bertakwa pada Allah [ini nasihat untuk ana juga dan siapapun yang membaca]. Firman Allah: 

واتقوا الله ويعلمكم الله
"Bertakwalah kalian pada Allah, dan Allah pun akan memberimu ilmu"

Karena tidak ada yang disebut bertakwa, melainkan Allah akan memberinya kebaikan. Dan jika Allah hendaki kebaikan pada seseorang, maka Dia akan memberikannya pemahaman akan agama yang sahih. Rasulullah bersabda:

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين
"Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan, maka Dia akan menjadikannya seorang faqih dalam agama."

Jadi, syarat dan cara pertama untuk memudahkan pemahaman terhadap materi dan dalil2 adalah dengan meluruskan niat, tujuan dan bertakwa pada Yang akan Memberimu segala kebaikan>

2. Tinggi harapan, minat dan keyakinan namun tidak rendah semangat dan amalan.

Sebagaimana para ulama hadits di zamannya safar berbulan-bulan hingga muntah darah, kaki terbakar padang pasir dan buang air darah demi mendapatkan satu sanad hadits atau beberapa, maka layaknya kita mengaca pada diri sendiri: betapa rendahnya semangat dan amalan kita.

Tidak akan menjadi mudah dalam mencapai puncak gunung kecuali jika semangat dan gerakannya juga dimaksimalkan.

3. Gunakan waktu untuk membaca.

Dan bukan kuantitas atau jumlah buku terbaca yang ternilai, melainkan seberapa baik kualitas membacamu. Percuma 20 buku sebulan, namun hanya daftar isi satu buku yang teringat. Tak ada faedahnya.

Membacalah sebagian buku dengan cara berfikir keras, mendalami dan menyelami! Bukan hanya skip-skip-skip, cari yang inti saja. Karena seringkali kitab-kitab ilmiah segala kalimat adalah inti dan penting.

4. Bonus: Meringkas apa yang terbaca, lalu baca kembali ringkasannya dan kembangkan sendiri di benak.

Contoh: Setelah kita membaca status ini misalnya, saya telah jabarkan beberapa point, Anda bisa meringkas intinya saja; pahami ringkasannya lalu fikirkan kira2 apa tambahan dari Anda mengenai point2 yang saya berikan dan Anda ringkas.

5. Bonus: Presentasikan secara lisan apa yang Anda ringkas atau baca

Dan ini tidak membutuhkan biaya; hanya membutuhkan benteng malu, waktu dan tempat saja. Yakni, baca ulang ringkasan Anda, kemudian jadikan diri sebagai guru, dosen, ustadz dan kamar adalah kelas. Anda mempresentasikan itu semua sendiri di kamar sendiri. Jika ada papan tulis atau kertas board lebih baik.

Selebihnya, silahkan tambahi. Wallahu a'lam.

Tuesday, June 5, 2012

Koreksi Pemahaman...Korek Si Fikiran

oleh Hasan Al-Jaizy

Koreksi Pemahaman ... Korek si Fikiran

Slogan sekuler: "No Politics in Religion...No Religion in Politics"
Arabnya: [لا سياسة في الدين ولا دين في الساسة]
Indonesianya: "Tidak ada politik dalam ajaran agama...tidak ada agama dalam politik"

Pemikiran di atas tentu saja benar....yeah, benar salahnya.

Kalimat tersebut membatalkan kesempurnaan agama Islam. Kok bisa? Ya, karena Islam juga mengatur politik. Politik adalah darurat dalam kehidupan manusia. Dan tentu saja, Islam tidak mengabaikan perkara darurat. Memangnya seperti agama tetanggamu itu yang pemeluknya sendiri pada ragu berapa jumlah bilangan pihak yang disembah!?

WONG 1

Wong Rabb kita sudah berfirman:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Alquran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang muslim.” [Q.S. An-Nahl: 89]

Dan bukankah di Islam juga adalah istilah As-Siyaasah Asy-Syar'iyyah? Ada toh? Memangnya agama tetanggamu, politiknya hanya mengandalkan nama 'demokrasi' atau semacamnya!?

WONG 2

Wong buang hajat saja di Islam ada aturannya kok....
Wong makan pake tangan apa sudah ada aturannya kok...
Wong kalau lalat kecebur di air minum juga diatur kok...
masak politik yang darurat dan penting bagi ribuan-jutaan orang tak ada aturannya...

Memangnya agama tetanggamu yang ga punya aturan lengkap soal ini itu???
Yo, mbok jangan samakan agama Islam sama agama lain toh ya...! Agama kita ini sudah lengkap, ga usah ditambahi macem2, ga perlu pengurangan!

Jika dibilang tidak ada aturan politik dalam Islam, berarti Islam ga lengkap donk!? Enak aja!

Lha, terus yang namanya politik Islam seperti apa ya? Ada yang tahu?

WONG EDHAN

Wong yang buang hajat nya ga ada aturan
Wong yang makan ga ada aturan...sa'karepe
Wong yang ga tau kalau lalat kecebur harus diapakeun...dimakan apa diminum bareng
Wong yang sudah punya feeling agamanya ga bener ga lengkap, tapi masiiiiih aja ngikut....wong edhan

Sunday, June 3, 2012

Thullab Spesialis Kelas Rendahan

oleh Hasan Al-Jaizy

Spesialis thullab kelas rendahan [tapi kelihatan kelas tinggi]:

1. T̶h̶u̶l̶l̶a̶b̶ ̶s̶p̶e̶s̶i̶a̶l̶i̶s̶ ̶I̶l̶m̶u̶ ̶T̶a̶j̶r̶i̶i̶h̶. Kelihatannya hebat mengutip risalah Syaikh-Ustadz-nya yang berisikan point2 tahdziir. Model bgini kebal sindiran.

2. T̶h̶u̶l̶l̶a̶b̶ ̶s̶p̶e̶s̶i̶a̶l̶i̶s̶ ̶N̶G̶E̶L̶A̶D̶E̶N̶I̶N̶ ̶t̶h̶u̶l̶l̶a̶b̶ ̶n̶o̶m̶o̶r̶ ̶p̶e̶r̶t̶a̶m̶a̶ ̶d̶i̶ ̶a̶t̶a̶s̶. Kelihatannya benar, ber-nahi munkar, tapi intinya jenis kedua ini sama ajah. Model begini bukan kebal sindiran, tapi ga merasa kalau sedang disindir. Soalnya merasa di atas kebenaran yang paling, siiih.



Ada seorang murid, belajar bahasa Arab, dia mahasiswa di sebuah kampus besar, suka ikut pengajian Ust. Abdul Hakim kalau ga ada kegiatan, dan di Bogor juga suka datang ke kajian Ust. Yazid. Masih newbie [baru 2-3 tahun kenalan dengan pengajian2 asaatidzah] dan belum begitu banyak yang dia tahu.

TAPI, dia rendah hati; hingga kadang ane sendiri malu. Dia tetap 'soleh' di tengah komunitas yang lumayan hancur secara dress code dan agama. 

Dalam pandangan ane, dan beberapa teman juga, thalib seperti ini lebih mulia dibanding dua macam thullab di status ini. Katanya Thullab Al-Ilm, tapi kesehariannya getol n semangat ngemengin orang; pake sebut nama plus julukan.

Katanya Facebook kudu digunakan buat dakwah dan sharing ilmu!? Tapi, kok ga keliatan dakwah dan ilmunya, justru keliatan sengak dan songongnya?

Tapi ga papa, toh mereka adalah volunteer untuk menjadi sample thullab kelas rendahan.


 No sorry...just sorrow

Finally, kami ga perlu meminta maaf atau mengatakan 'afwan' jika situ merasa tersuntik atau tersungging. Jika situ merasa tersakiti, ya rasakan saja. Bukannya situ juga yang tiap hari menabur penyakit di tengah umat!?


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/397620876945970

Friday, June 1, 2012

Gandengkan Dua Pemahaman!

oleh Hasan Al-Jaizy

Gandengkan Dua Pemahaman!

Kami tidak menemukan rekan-rekan muda [terutama mahasiswa] yang keseringan ngoceh tentang Fiqhul Waqi [pemahaman realitas] melainkan mereka memilki kualitas yang sangat rendah mengenai Fiqh AN-Nushush [Pemahaman Teks/Tekstual]. Dan buruknya, mereka merasa sudah bisa menegakkan agama dan kepemimpinan hanya bermodal Fiqhul Waqi.

Menceburkan hati dalam kabar dunia Islam, wawasan umum dan tinjauan realitas tentu tidak tercela. Namun ingat, itu TIDAK menjadikan seseorang menjadi faqiih dalam agama. Karena itu, bisa dikatakan wajar ketika mereka mencela kami dengan sebutan 'orang-orang yang terpaku pada teks dan kitab kuning'.

Kami sungguh memaklumi keadaan jiwa mereka yang sebenarnya labil. Jiwa tanpa pegangan tentunya labil; meskipun mereka merasa kuat tertancap di realitas. Namun realitas mewartakan pada kami bahwa mereka adalah kuli fakta dan buta warna. Yeah, kuli fakta namun buta warna hukum syariah.

Fakta realitas dikumpulkan namun di mana warna tekstual? No...hitam-putih. Ke mana pemahaman mereka akan bahasa Sang Pencipta? No...hitam-putih.
Fakta mereka memang banyak terwarta...namun sungguh mengenai syariah, mereka adalah buta.

Apakah ini yang disebut calon pembangun syariah di Indonesia?

Kami tidak ingin tertawa.


Huruf realitas takkan menjadi kalimat tanpa gandengan grammar tekstual [Al-Quran = As-Sunnah]

Karena mereka mencoba menterjemahkan hukum untuk realitas dengan perasaan dan emosi muda [HAMASAH?], namun mereka enggan dan tidak mampu memang untuk menterjemahkan hukum untuk realitas dengan TEKS [ILMU].

Semangat tanpa ilmu? Ceburkan saja diri sendiri pada kali yang keruh.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/396660860375305

Thursday, May 24, 2012

Orang Kafir Menertawai...ITU KATAMU

oleh Hasan Al-Jaizy

Orang Kafir Menertawai...ITU KATAMU

Ketika kita berselisih pendapat, beradu argumen dan mencari mana yang benar, maka jangan langsung disalahkan atau dianggap berpecah belah, selama masih dalam koridor lazim. Diskusi sehat dan saling tukar fikiran itu boleh, toh?

Sekarang menjamur komentar-komentar tak berkualitas. Banyak macamnya. Salah satunya ini akan kudongengkan padamu:

Ketika kita memperbincangkan permasalahan agama dan berbeda pendapat, lalu saling beradu argumen, seakan-akan sedang berkelahi, tiba-tiba ada yang nyeletuk: 'Sudah...sudah! Hentikan ini semua! Orang-orang kafir menertawai kita saat melihat kita seperti ini!'

Selalu saja ada komentar semacam itu!


Taburkan point-point:

--> Tahu darimana mereka tertawai kita ketika kita beradu argumen?
--> Tidak perlu beradu argumen, sebenarnya kita ditertawai sejak lama. 
--> Orang2 Kafir [beberapa atau sebagian besar] di Jakarta juga menertawakan kita wahai kaum muslimin ketika kita merayakan Maulid [atau semacamnya] secara berlebihan. Bukankah sebagian kita berteriak seperti orang kurang waras namun merasa 'berdzikir' dan selawatan? 
--> Sebagian orang kafir juga menertawakan kita ketika ternyata idolanya adalah pemain bola [tidak sekedar menonton, tapi mengidolakan]
--> Sebagian orang kafir juga menertawakan kita ketika adzan berkumandang, namun sebagian besar kita sibuk urusan dunia.

Sebagian setan juga menertawaimu karena kamu berdalih dengan 'Orang2 kafir menertawai kita'.


Lalu dikomentari juga:

"Kalian selalu saja menjustifikasi dan memecah belah!"

Balas pula:

=> Memangnya sebelum kami berbicara, umat sedang bersatu? Sehingga setelah bicaranya kami, umat jadi terpecah belah?
=> Bukannya umat ini memang sudah berpecah belah?
=> Yang saya tahu, kebanyakan dari kita tidak tahu caranya bersatu dan solusinya; karena itulah rata2 orang yang berusaha mempersatukan dan memberi solusi justru dianggap memecah belah.


Sumber atau titik awal berpecah belah umat itu ada 2:

1. Sikap berlebihan. Bisa dalam ibadah, bisa dalam maksiat. Dalam beribadah, berkaitan erat dengan yang namanya bid'ah. Dalam maksiat, berkaitan erat dengan yang namanya kekerasan hati dan pembangkangan.

2. Sikap bermudah-mudah. Bisa dalam ibadah, bisa dalam maksiat. Dalm beribadah, seringkali disebabkan oleh yang namanya bid'ah [ingat: satu bid'ah terlaku, satu sunnah membeku]. Dalam maksiat, seringkali bermuara pada kemalasan dan kebodohan.

Sekarang, siapa sih pemecah belah umat? Take a mirror.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/392227317485326

Friday, February 3, 2012

Katakan Selalu Pada Murid-murid Bahasa

oleh Hasan Al-Jaizy

Kukatakan selalu kepada murid-murid bahasa:

"Kalau kalian mampu [bukan sekedar 'merasa'/'mengaku' mampu] memahami bahasa Arab, tersedia bagi kalian puluhan ribu kitab Arabic. Kalian bisa mendalami ilmu dunia-akhirat, ilmu bahasa, sastra, agama, mulai dari Al-Qur'an+tafsirnya, Hadits+takhrijnya, Ushul Fiqh, Fiqh, dan masih banyak lagi"

"Kalau kalian mampu [bukan sekedar 'merasa'/'mengaku' mampu] memahami bahasa Inggris, terbentang luas bagi kalian pengetahuan dunia. Kalian bisa menunggangi pesawat ke negara manapun, menyeruput ilmu bermacam-macam, terbuka pintu-pintu kerja dengan lebih mudah dan banyak urusan dunia dipermudah"

Tapi ingat:

1. Belajar tidak untuk dianggap 'keren'
2. Seringkali ketidakmampuan akan suatu hal mencetuskan celaan terhadapnya

http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/324675544240504

Thursday, January 5, 2012

Sebuah Rekomendasi

oleh Hasan Al-Jaizy

Kita rekomendasikan:

Bagi yang ingin mulai mendalami agama, maka salah satu wasilahnya adalah membaca buku. Lalu, bacalah buku yang bahasanya paling Anda FAHAMI, bukan bahasa yang sekiranya Anda kira 'keren' atau 'kelihatan-berat-berkualitas'; sesungguhnya semut takkan memasukkan toples gula ke lubang demi bekal masa panceklik.

Yakni, karena Anda Indonesia, maka bacalah buku berbahasa Indonesia;

 sehingga fahamnya Anda tak terkesan dipaksa memaksa. Bukan malah dengan bahasa asing, English misalnya, karena 'keren' atau 'kelihatan-berat-berkualitas', yang justru ditakutkan akan terjadi beberapa kesalahfahaman di titik-titik rawan kecelakaan sehingga kenyataan tak sesuai harapan.

Terkecuali bahasa Arab,

Monday, January 2, 2012

Meneruskan Perjuangan!

oleh Hasan Al-Jaizy

Insya Allah kita teruskan perjuangan para ustadz dan para kyai di pesantren2, juga perjuangan semua dai, tersohor ataupun terpencil. Kita...ya, kita. Jangan tunjuk selain selama kita diberi kemampuan dan amanah. Jangan biasakan tunjuk teman lalu sembunyi muka.

->Namun itu butuh waktu...dan butuh daya fikir ekstra...juga amalan dan keikhlasan
->Namun itu butuh kekuatan...kekuatan batin rohani...karena...

karena, "Kelak perjuangan para dai yang haq, berjalan di atas jalan lurus, akan diserang dari setiap penjuru. Beratnya tak terkira, lebih berat dari beban dai sekarang. Jika tak sedari sekarang kau bekali ilmu yang kuat, juga jiwa yang kuat...kau takkan menjadi...," pesan bapakku.


Status ini untuk...

Status ini untuk siapapun, calon ustadz, penerus kyai-nya, calon dai umat, dan siapapun...

siapapun yang hendak berbekal dengan sebaik-baik bekal. 
Dan tiada bekal terbaik, kecuali bekal taqwa. 
Dan tiada taqwa, kecuali didasari rasa takut pada-Nya. 
Dan tiada yang takut pada-Nya, kecuali ialah orang yang berilmu [ulama].


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/302742233100502

Wednesday, December 28, 2011

Jikalau Listrik Mati...

oleh Hasan Al Jaizy

Jikalau listrik mati selepas Subuh, atau sebelumnya, saya yakin Jakarta lebih damai dan tentram. Kenapa? Tidak terdengar suara bising teriak-teriak beralasan dzikir. Fine, dzikir adalah baik. Namun kebaikan itu dinamakan baik jika tidak 'mengganggu', bukan?

Jikalau listrik mati, akankah mereka tetap berdzikir di kesendirian masing-masing? Atau, [sebagaimana perkara Ahlul Bid'ah] mereka merasa lesu dan enggan berdzikir? Wallahu a'lam.

Allahummaghfir lil muslimiina wal muslimaat



--> Di antara Ahli Dzikir, ia hanya berdzikir tatkala ada kesempatan untuk melakukannya di depan manusia. Artinya: zahir ia berdzikir, dalam kesendiriannya ia tidak berdzikir, karena tidak dilihat manusia.

--> Di antara Juru Dakwah, ia hanya berdakwah ketika medan tampak segar dan banyak imbalan. Artinya: Ketika medan tampak lesu atau sedikit imbalan, enggan ia berdakwah.

--> Di antara Ahli ibadah, ada yang disebut Ahli Bid'ah. Sehingga mayoritas ibadahnya adalah bid'ah. Wal iyaadzubillah.

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات



Adzan disyariatkan oleh Allah salah dua kegunaannya adalah untuk tadzkiir [mengingatkan] dan juga tanbiih [memperingatkan] waktu shalat.

Sementara hal2 itu disyariatkan oleh manusia kegunaannya adalah untuk 'mengingatkan' dan 'memperingatkan' waktu shalat.

Definisi bid'ah oleh Al-Imam Asy-Syathiby rahimahullah dalam kitab Al-I'tisham:

"Suatu istilah untuk suatu jalan/cara dalam agama yang dibuat-buat (tak berdali) yang MENYERUPAI syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika menempuhnya adalah untuk berlebih-lebihan/melebihkan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala."

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات


Monday, December 19, 2011

A Frame of Mind

oleh Hasan Al-Jaizy

 Frame of mind

Description and Solution

a. Description: Syi'ah menyerang [sebagaimana Yahudi laknatullah alaihim] umat Islam Ahlus-Sunnah dengan fisik dan non-fisik. 

Dengan fisik ketika mereka punya daya secara fisik, melukai, menyiksa, membunuh, merampas kehormatan dan menganiaya Ahlus Sunnah di Iraq bekerjasama Iran-Yahudi-USA. Khususnya ahlus Sunnah di Iran.

Dengan non-fisik, ketika mereka belum punya daya secara fisik. Mereka menyebar propaganda ala syi'ah, dengan menyusup ke masyarakat, inteleknya atau awamnya, melalui pengajian2 tersembunyi, yayasan2 tertutup, majelis2 dzikir, ziarah2 makam para wali dan sebagainya. Dan itulah YANG SEDANG digencarkan di Indonesia; sadar atau tidak, kesadaran hanyalah dimiliki oleh yang akal dan hatinya terbuka.

b. Solution:
--> Belajar, terutama Aqidah, makna2 ayat dan hadits, juga bahasa Arab.
--> Mengamalkan ilmu Syariah, dimulai dari praktek pribadi.
--> Menyebarkan ilmu. Jika tidak punya majelis, sebarkan ke teman terdekat. Dan betapa banyak dan berapa juta individu muslimin MEREMEHKAN dakwah via FB.
--> Minimalisir menonton TV

Dan tiada solusi/jalan keluar kecuali untuk DIPRAKTEKKAN. Meskipun ada 1000 solusi namun sekedar teori tanpa usaha praktek, tak berikan perbedaan.

Wallahu a'lam


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/295165930524799

Thursday, December 15, 2011

Wah, Arwah Rasulullah Hadir di Setiap Majelis Ulang Tahunnya [Maulid]?

oleh Hasan Al-Jaizy

Bukan Termasuk AQIDAH Ahlus Sunnah wal Jama'ah [ga pake disingkat Aswaja]:

Keyakinan 'Rasulullah telah wafat dan seringkali hadir di majelis2 dan perayaan Maulid' akan menimbulkan soal-soal di alam fikir; karna Rasulullah adalah manusia dan manusia yang wafat takkan bangkit terbang dari kuburnya; ruhnya atau jasadnya.


 Maka TANYAKAN:
a. Jika beliau hadir di majelis2 dan maulidan2, apakah semua majelis dikunjungi?
b. Jika satu Jakarta ada 150 situs/tempat perayaan maulid SATU MALAM, bagaimana Nabi mengunjungi 150 sekaligus?
c. Jika diyakini bisa kunjungi 150 semalam, apakah itu termasuk mukjizat?
d. Jika itu mukjizat, MANA DALILNYA? Darimana Anda tahu?


Raut muka akan berbeda...

Jika seorang ahli bid'ah [yang mempromo kebid'ahan terang2an] dan tukang jualan cendol khurafat keteteran, terpojok, tersudut dan tidak bisa menjawab, dia akan melawan dengan gerutuan: "Dasar Wahabi! Pembenci Sunnah Nabi!"

Itulah tingkah dai murahan dari klub murahan dengan pemikiran murahan untuk mencari ridho murahan dari manusia.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/292965264078199


Monday, November 28, 2011

Ayat-ayat Al-Qur'an =

oleh Hasan Al-Jaizy

Ayat-ayat Al-Qur'an:
--> adalah Kalam Rabb [Allah Azza wa Jalla], Pencipta segala yang tercipta
--> tiada sebanding dengan kalam apapun dan siapapun yang tercipta
--> tiada setara nilai sehuruf darinya dengan seribu kalam mahluk tercipta
--> tiada seharga kalimat orang bijak dan motivator...sebijak apapun tercipta
--> hanya yang beriman dan berakallah yang merenungi ayat Sang Pencipta


Seutas harapan mulia seorang asing:

"I hope I can UNDERSTAND Arabic and whole Qur'an verses BEFORE I DIE"

[Kuharap aku mampu memaham Arabic dan seluruh ayat Al-Qur'an SEBELUM AKU MATI]


Jangan...

Jangan kau banggakan hafalanmu akan lirik lagu atau seribu kalimat mutiara...dari yang bijak..atau motivator

Jangan kau banggakan indahnya lukisan kata di buku-buku sastra yang berkurun zaman kau renungi

Jangan kau banggakan apa yang tak layak terbanggakan

Bahkan ketika kau memahami ayat-ayat Allah...sesungguhnya kau tak layak membanggakan fahammu di dunia...di depan manusia

Tapi bersyukurlah...lihatlah betapa banyak yang 'mencintai' Al-Qur'an secara zahir...namun cintanya hanya sebatas untaian kata dan lafadz...sedang hati terlabuh di kefanaan dunia terbatas


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/283073788400680