oleh Hasan Al-Jaizy
Saya sangat
cemburu, ketika mendengar khutabaa' di masjid-masjid, atau di majelis-majelis,
menyampaikan kalimat-kalimat ajaib yang menggugah dan terkesan berlebih,
sehingga memacu manusia atau pendengar untuk takjub. Saya cemburu karena
rupanya kalimat itu dinisbatkan kepada Al-Mustafha, Muhammad -shallallahu
alaihi wa sallam-. Saya cemburu karena dengan keajaiban kalimat itu, tak
sedikitpun keterangan sahih atau dhaifnya atau maudhu'nya. Tak sedikitpun
penyebutan siapa perawinya. Apa mungkin disebabkan kitab-kitab kuning yang
mereka pelajari dan dalami memang tak mencantumkan sedikitpun akan itu? Atau
mungkin mereka terlalu longgar, super permisif dan tak peduli sama sekali akan
keabsahan dan kepalsuan penisbatan kalam pada Nabi.
Bukan karena
benci terhadap para khuthabaa'; melainkan ini kecemburuan yang juga diliputi
rasa takut. Lancang mengklaim sesuatu tersambung pada Nabi, sementara tak
terbukti dan tercurigai tidak tersambung. Lancang mengklaim bersanad dan
berketurunan dari keluarga Nabi, sementara tak menjulurkan bukti bahkan
terkesan suspicious bahwa itu hanya sebuah pencitraan semata.
Dan apa hasil dan
natijah dari longgarnya manusia pada hal seperti ini? Bid'ah ( baik itu disebut
hasanah atau dhalalah), takhayyul, khurafat dan ketidakpedulian akan sunnah.