Showing posts with label Kuburan. Show all posts
Showing posts with label Kuburan. Show all posts

Saturday, February 2, 2013

Mari Bersama MENGGALI KUBURAN KERAMAT!

oleh Hasan Al-Jaizy



Saya sangat cemburu, ketika mendengar khutabaa' di masjid-masjid, atau di majelis-majelis, menyampaikan kalimat-kalimat ajaib yang menggugah dan terkesan berlebih, sehingga memacu manusia atau pendengar untuk takjub. Saya cemburu karena rupanya kalimat itu dinisbatkan kepada Al-Mustafha, Muhammad -shallallahu alaihi wa sallam-. Saya cemburu karena dengan keajaiban kalimat itu, tak sedikitpun keterangan sahih atau dhaifnya atau maudhu'nya. Tak sedikitpun penyebutan siapa perawinya. Apa mungkin disebabkan kitab-kitab kuning yang mereka pelajari dan dalami memang tak mencantumkan sedikitpun akan itu? Atau mungkin mereka terlalu longgar, super permisif dan tak peduli sama sekali akan keabsahan dan kepalsuan penisbatan kalam pada Nabi.

Bukan karena benci terhadap para khuthabaa'; melainkan ini kecemburuan yang juga diliputi rasa takut. Lancang mengklaim sesuatu tersambung pada Nabi, sementara tak terbukti dan tercurigai tidak tersambung. Lancang mengklaim bersanad dan berketurunan dari keluarga Nabi, sementara tak menjulurkan bukti bahkan terkesan suspicious bahwa itu hanya sebuah pencitraan semata.

Dan apa hasil dan natijah dari longgarnya manusia pada hal seperti ini? Bid'ah ( baik itu disebut hasanah atau dhalalah), takhayyul, khurafat dan ketidakpedulian akan sunnah.

Wednesday, December 26, 2012

HASAN AL-JAIZY


oleh Hasan Al-Jaizy

Yang paling perlu dicabut dari akar bumi dan kehidupan masyarakat ini adalah tradisi peringatan di kuburan sambil solawatan keras malam-malam. Makin kemari praktisi ritual yang bid'ah (kalau mau jujur) ini smakin membuat agama terlihat menyunat akal sehat dan mengganggu ketenangan umum. 

Tapi kalau sudah mengakar susah. Kalau kita ucap halus-halus, dicurigai secara halus. Kalau memakai kalimat ngena, kena tuduhan. Kalau mau tegakkan Khilafah ala Muwahhid sekarang juga tidak mungkin.

Selain mengakar, tradisi ini dibumbui nama-nama bagus, sehingga menjadi hasanah. Habib, Ahlu Bait, Shalawat, Ziarah dan nama lainnya. Sebaliknya, yang menentang malah kena tudungan dhalalah. Kalau mau ditimbang dengan keseimbangan akal sehat, siapa sebenarnya yang dhalalah di-hasan-kan dan siapa yang sebenarnya hasanah di-dhalah-kan.

Sesuatu yang dhalal jika disebut hasanah, maka anggapannya menjadi HASAN. Kalau sudah dianggap Hasan, hukumnya menjadi JAIZ (boleh). Maka jadilah:

HASAN AL-JAIZY

Baiklah. Itu salah saya.


Friday, November 30, 2012

Memupuk Kuburan Keramat


oleh Hasan Al-Jaizy

Jika sedang 'sayang' sama teman dekat, saya akan mengajaknya ngobrol ringan. Pertanyaan yang saya keluarkan berkisar sesuatu yang teman harapkan. Karena mendengar atau membaca harapan teman itu -selama itu positif- menambah erat ikatan batin. Jika yang dihadapi adalah pekerja atau pedagang, obrolan santai berkenaan apa rencana ke depan dan harapannya. Bagaimana pendapatan atau kondisi kerjaannya sekarang. Jika yang dihadapi seorang muda yang beristri, bisa ditanya berharap dapat anak laki atau perempuan. Kenapa dan apa harapannya.

Kalau yang dihadapi bujangan tulen, pertanyaan klasik, 'Kapan ente nikah?' yang tentu saja bukan bermaksud mengejek. Wongs saya juga belums koks.

Seperti beberapa menit tadi pagi di kelas. Saya sempatkan duduk di samping teman saya dari Lamongan, Jawa Timur. Tahun 2008 saya pernah kunjungi kampungnya. Sebenarnya cukup lama tidak bercengkrama dengan anak satu ini.

Detik itu, ia sedang menatap kertas ringkasan pelajaran Tarbiyah. Tatapannya kosong. Saya

Tuesday, November 27, 2012

Adzab Kubur dan Fitnah Kubur, Adakah Bedanya?

Adzab Kubur dan Fitnah Kubur, Adakah Bedanya?

Syaikh ABdul Aziz Ar-Rajihy ditanya seperti itu di sebuah kajian Syarh Kitab As-Sunnah karya Imam Al-Barbahary. Ini jawaban beliau [dengan pengalihan bahasa dan sedikit tambahan dari pemilik status ini]:

"Ya, ada bedanya. 

Adzab Kubur --> Diazabnya manusia, dipukulnya di kubur dan dibukakan baginya pintu neraka.

Fitnah Kubur --> Diuji/Ditanyakannya manusia mengenai siapakah Rabbnya, agamanya dan nabinya.

Adzab adalah siksaan
Fitnah adalah ujian
Di dunia, adzab bisa berupa ujian
Di kubur, adzab bukan lagi ujian, melainkan 'natijah' [nilai/hasil] dari ujian"

Wallahu a'lam

Thursday, November 1, 2012

Penunggu Makam Keramat

oleh Hasan Al-Jaizy

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa Sallam- bersabda:

الأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلاَّ الْحَمَّامَ وَالْمَقْبَرَةَ

"Bumi semuanya masjid [tempat sah bersujud] kecuali kamar mandi dan kuburan." [H.R. Ibnu Hibban]

Dan setan perlahan-lahan menyeret manusia untuk mengubur masjid-masjid dan memasjidkan kuburan-kuburan. Yakni, ketika tersaksikan oleh mata sendiri, saudara-saudara kita yang semoga diberi hidayah oleh Allah, menjadikan masjid seakan kuburan yang begitu angker dan pantang diziarahi. Sementara kuburan para wali seakan masjid yang harus disucikan dan beribadah di atasnya.

Jika sudah begitu menjijikan di pandangan,

Friday, October 12, 2012

Bayangkan Jika Memang Ini Terbayang [Untuk Sebagian Teman ASWAJA]


oleh Hasan Al-Jaizy

Bayangkan jika kuburanmu disucikan, melebihi sucinya tempat ibadah [mushalla, langgar atau masjid]...tidak terbayang? Kalau begitu:

Bayangkan jika kuburan ibumu kau sucikan, melebihi sucinya masjid. Lalu kau tambah nisan dan ubin. Tidak puas, lalu kau jadikan sebuah atap di atasnya. Fikirmu, ibumu akan 'kehujanan' di musim hujan dan 'kepanasan' di musim panas.

Bayangkan itu...

Bayangkan jika kuburanmu dibentuk seperti rumah, bertembok, beratap, berkaca, padahal kau hanyalah bangkai...BANGKAI....mayat di tanah yang sedang menerima adzab ataupun nikmat, sesuai dengan amalmu di dunia. Tidak terbayang? Atau terlalu lucu untuk dibayangkan? Kalau begitu:

Tuesday, June 19, 2012

Apakah Muslim Menyembah Ka'bah?

Pertanyaan dari Atheists: "Apakah Muslim menyembah Ka'bah dan Black Stone [Hajar Aswad]?"

Jawaban dari Syaikh Shalih AL-Fauzan:

Ini jelas kebohongan yang nyata, kami sama sekali tidak menyembah batu (Hajar Aswad), melainkan kami menyentuhnya dan menciumnya sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan. Ini artinya kami lakukan hal tersebut dalam rangka ibadah dan mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mencium Hajar Aswad adalah bagian dari ibadah sebagaimana kita wuquf di ‘Arofah, bermalam di Muzdalifah dan thawaf keliling baitullah (Ka’bah). Juga kita mencium Hajar Aswad dan menyentuhnya atau memberi isyarat padanya, itu semua adalah bentuk ibadah pada Allah, bukan berarti menyembah batu tersebut.


 Lebih dari itu...

Lebih dari itu, kita bisa beralasan dengan apa yang dilakukan oleh Umar bin Al Khattab radhiyallahu ‘anhuu ketika mencium Hajar Aswad. Ketika itu beliau mengatakan:

“Memang aku tahu bahwa engkau hanyalah batu, tidak dapat mendatangkan manfaat atau bahaya. Jika bukan karena aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, aku tentu tidak akan menciummu.” (HR. Bukhari 1597 dan Muslim 1270)


Oleh karena itu...

Oleh karena itu, masalah ini adalah berkaitan dengan bagaimana umat Islam mengikuti tuntunan Nabinya dan bukan menyembah batu (Hajar Aswad). Jadi, sebenarnya mereka yang menyebarkan isu demikian telah merencanakan kebohongan atas umat Islam, kita sama sekali tidak menyembah Ka’bah. Bahkan yang kita sembah adalah Rabb pemilik Ka’bah. Begitu pula kita melakukan thawaf keliling Ka’bah dalam rangka ibadah pada Allah ‘azza wa jalla karena Allah-lah yang memerintahkan kita untuk melakukan seperti itu. Kita melakukan demikian hanya menaati Allah ‘azza wa jalla dan mengikuti tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sumber: 'Aqidatul-Haaj Fi Dhouil Kitaab was Sunnah, Syaikh Sholeh Al Fauzan, hal.22-23.



Copas Total dari sebuah artikel Rumaysho


Nah, sekarang bagaiamana jika ada orang berkata:

"Kalian menyebut kami Quburiy atau Penyembah Kubur. Kami tidak terima dinisbatkan kepada Qubur, sebagaimana kalian juga sebenarnya tidak sudi dinisbatkan kepada Wahhab. Kami tidak menyembah kubur; karena kuburan tentu saja bukan tuhan kami; sebagaimana muslim tidak menyembah Ka'bah. Kami sekedar berziarah dan mendoakan sebagaimana syariat Islam menetapkan ziarah."

Bagaimana menjawabnya?