Showing posts with label Persaudaraan. Show all posts
Showing posts with label Persaudaraan. Show all posts

Monday, January 28, 2013

Persaudaraan dalam Islam

oleh Hasan Al-Jaizy


Fawaid 0026: "Persaudaraan Dalam Islam"

Persaudaraan yang dimaksud di sini adalah persaudaraan dari segi agama, yaitu Islam. Bukan yang termaksud: persaudaraan nasab, atau persaudaraan mukhtalaq [dibuat-buat] yang murni bersifat duniawi, seperti persaudaraan antar pecinta suatu permainan, buku, olahraga, musik dan selebihnya. Persaudaraan ini yang kita sebut: Al-Ukhuwwah Al-Islamiyyah.

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌۭ

"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara." [Q.S. Al-Hujurat : 10]

Merupakan sifat persaudaraan Islam terindah adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah. Ketika Anda memiliki seorang sahabat, tentu Anda akan berusaha menyukai apa yang disukai sahabat Anda, atau membenci yang ia benci. Ini adalah gambaran persahabatan secara umum. Namun, persahabatan dalam Islam, tidak membebaskan kesukaan dan kebencian akan sesuatu begitu saja; melainkan harus di dalam aturan yang Allah tetapkan, yakni tidak menyukai perkara yang diharamkan meskipun sahabatnya menyukai, dan tidak membenci perkara yang dipandang baik oleh syariat.

Persaudaraan antar muslimin adalah perkara penting, berdasarkan ayat di atas. Bahkan Syaikh Abu Hamid Al-Ghazali -rahimahullah- mengkiaskan tali persaudaraan itu bagaikan tali ikatan [akad] pernikahan. [Ihya' Uluum Ad-Diin, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali, 2/173] 

Karena dalam akad pernikahan, ada hal-hal dan hak-hak yang wajib ditunaikan juga dijaga. Maka, saudaramu pun memiliki hak yang wajib ditunaikan atau dijaga, baik itu harta, jiwa, lisan, hati, doa, ketulusan, dan lain-lain. 

Monday, January 7, 2013

Tidakkah Ini Mungkin?


oleh Hasan Al-Jaizy

Dulu, ketika masih sekolah, teman saya ini belajar mengaji dengan guru ngaji di kampungnya di tanah Sunda. 

Dulu, awal saya mengenal dia, ketika ia membaca Al-Qur'an, khas sekali didikan kampung. Ia mempunyai problem pada huruf Qaf; karena terlalu sulit untuk mengatur tenggorokan memberi hak huruf ini. Qaf nya terlalu besar; sehingga kadang mahasiswa yang sudah berlatar pendidikan pondok atau sudah lancar ngaji, mendengar dengan perasaan lucu sendiri. Namun bukan berarti mengejek.

Dulu, dia bukan seorang yang mahir berbahasa Arab. Masuk kampus dengan bekal kulit yang tidak putih dan logat Sunda yang masih ketara.

Sekarang, saya berguru padanya; menimba banyak pengetahuan darinya. Banyak bertanya padanya, entah tentang pengalamannya berdakwah di kampungnya, organisasinya dan sebagainya.

Sekarang, dia sudah mahir bicara bahasa Arab. Dan dalam waktu setahun, ia sudah bisa meninggalkan pelafalan Qaf yang memiriskan hati. Ia sudah bagus bacaannya.

Suatu saat, ia pulang ke kampungnya. Sudah banyak ilmu yang diseruput di kampus. Ia pun mengunjungi guru ngajinya dulu; orang yang berjasa. Apa cerita pendek darinya:

"Ane menemukan guru ngaji ane ga bisa bahasa Arab sama sekali. Padahal beliau dulu yang ngajarin ane ngaji. Hurup-hurupnya pake bahasa Arab. Sekarang ane pulang udah bisa bahasa Arab. Sebagai balas jasa, ane ajari guru ane bahasa Arab."

Orang besar insya Allah adalah yang bisa lebih baik dari gurunya.

Boleh jadi seorang guru akan sebal dengan seorang murid yang dipandangnya nakal atau hadirnya bagai gaibya atau tidak berkesan. Tapi, hati bisa berbalik dan jalan bisa berbelok. Tidak menutup kemungkinan murid itu kelak justru menjadi lebih hebat dari sang guru. Ia menyesali masa lalunya ketika masih berguru. Lalu ia berusaha membalas jasa sang guru.

Tidakkah itu mungkin?

Guru-guru TPA, atau SD, atau semacamnya, untuk sekarang hari, mungkin tak bisa memprediksi apa nantinya anak-anak menjadi.

Tapi, tetap mungkin anak-anak itu kelak menjadi orang-orang besar; yang mengingat guru TPA atau SD nya dahulu dan mendoakannya. Meskipun sang guru hanya tinggal kenangan dan nama...

Sunday, December 30, 2012

Bingkisan Untuk Saudara Nun Jauh Di Sana


oleh Hasan Al-Jaizy


Jika diperkenan memberi bingkisan, inilah isinya yang sederhana:

[1] Jadikan ikhlas adalah asas ibadah jemarimu kala mengetik, kakimu kala berjalan, matamu kala membaca, lisanmu kala menasihati, segalamu kala beribadah. Nyalakan pelita itu; sesungguhnya tidak sedikit yang beribadah, namun hati menggulita.

[2] Ilmumu akan dijamah berkah jika kau dengannya bersedekah; sebagaimana hartamu akan diberkati jika dengannya kau suka berbagi. Maka, ketika kau senang dengan ilmu yang kau punya, buktikan rasa syukurmu dengan membaginya.

[3] Dahulu menulis ulang di catatan terasa hadirkan ingatan dan keberkahan; kini kau bisa menulis ulang di status; dan jika kau ikhlas berbagi, insya Allah ilmu semakin menancap di hati.

Saturday, December 29, 2012

Istighfar, Kawan

oleh Hasan Al-Jaizy

Istighfar, Kawan

[a] Hari begitu cerah. Matahari bersinar. Tiba-tiba kau katakan, "Ah, jangan tertipu akan cerahan sinar. Ini takkan abadi. Kelak malam akan hadir dan gelap membumi."

[b] Hujan begitu lebat. Manusia bersuka cita. Banyak tumbuhan riang menyambut; tampak bersorak sorai bergerak kesana-kemari. Dedaunan tak luput bersyukur. Tiba-tiba kau katakan, "Mengapa mereka begitu senang!? Belum tentu pula hujan ini rahmat. Bisa saja tak lama lagi kita tenggelam akan banjir!?"

[c] Anak-anak begitu riang. Mereka bermain di taman. Tiada beban terukir di wajah mereka. Panorama ceria. Tiba-tiba kau katakan, "Belum tentu anak-anak ini kelak menjadi orang bahagia. Jangan kau kira riang sekarang adalah dalil bahagia esok."

Friday, December 28, 2012

Ternyata Orang Asing Itu Mencintaimu

oleh Hasan Al-Jaizy


Ternyata Orang Asing Itu Mencintaimu

Ia tidak mengenalmu
Kamu tidak mengenalinya
Ia pun merasa kamu tidak wajib mengenalinya
Tetapi ia mencintaimu sungguh-sungguh; bahkan melebihi cinta teman-teman dekatmu padamu.
Ia mencintaimu karena ia menasihatimu...dalam kerimbaan dan ketidak-saling-kenalan.

Ingat, ia bukan siapa-siapamu
Ia hanyalah manusia di ujung sana...jauh dari rumahmu
Ia hanya menulis beberapa kalimat, yang ia nukil dari buku yang ia beli, dengan batin menggumam, 'Semoga ada di antara saudara-saudaraku yang membacanya; lalu ia mendapat faedah sebagaimana aku bahagia mendapatkannya'.

Atau ia hanya rajin mengutip ayat-ayat...atau hadits-hadits...atau kalam ulama...yang kemudian ada beberapa jarum menghujam menujunya, di tiap jarum itu ada pesan, 'Kamu hanya mampu copas!'

...yang membuat sakit hatinya
...yang bisa saja membuatnya berhenti berharap saudara-saudaranya dimanapun bisa mengambil manfaat dari usahanya

Yang ia sendiri akui ia bukanlah orang pintar...ia tahu ia bukan penceramah...ia tahu ia bukan penulis handal...namun ia hanya ingin semoga ia menjadi orang yang bermanfaat bagi manusia...ia hanya berusaha...ia hanya berikhtiar...ia hanya menterjemahkan kasih sayangnya kepadamu, tanpa perlu kau mengenalinya...dan ia pun tak bermaksud mengenalimu...

Ia bukan siapa-siapamu...namun bisa jadi ia menjadi wasilah hidayahmu...pengetahuanmu...penambah imanmu

Bayangkan teman-temanmu, mereka belum tentu mau memberi hikmah kecuali kau meminta
Namun ia rela menuliskan hikmah untukmu, tanpa pernah sebait pun kau pinta

Betapa sebenarnya ia menyayangimu
namun mengapa kau membencinya?

Karena sungguh ada manusia yang mengerti dirinya tak bisa melakukan apapun dari kebaikan untuk umat ini kecuali ia meniup pluit di tengah jalan dan mengatur arus, dengan kecacatan yang ia miliki...hanya itu yang bisa ia lakukan untuk manusia...dengan harapan diimbali....kau pun iba melihatnya...

Kenapa kau tak syukuri para penasehatmu yang asing itu?

=========================

Kau mungkin takkan tahu
dan tak pernah menyangka
satu kutipan ayat terjemahan yang kau tulis di dinding dekat rumahmu
dilalaikan beratus pengguna jalan
namun ada satu pengguna jalan
yang membacanya
lalu mengingatnya
merenunginya
meresapinya
hingga ternyata Allah beri melaluinya hidayah
akhirnya ia bertaubat
dan kembali pada-Nya
yang ternyata engkau
menjadi perantara hidayah
tanpa engkau ketahui
ia mendoakanmu
ia memintakan ampunan-Nya untukmu
meskipun kau dan dia tak saling kenal
tak pernah bertemu di dunia ini

Betapa teramat cintanya seseorang
yang doakan kebaikan
atau memberi kebaikan
pada saudaranya
sedangkan ia sendiri
tak mengenalinya
dan takkan bertemu dengannya

Apakah benar kau saudara?
Apakah benar kau mencintainya?



Tuesday, December 25, 2012

CAT: [66] "PERMASALAHKANLAH YANG DIPERMASALAHKAN!"


oleh Hasan AL-Jaizy

Pernah suatu ketika seorang alim di zaman dahulu mendapati sekumpulan pemuda sedang duduk berbincang. Ia pun duduk di dekat mereka. Sementara perbincangan panas mereka tetap berlanjut. Salah satu pemuda membuat perhatiannya tertarik padanya. Karena ia tak henti-hentinya membicarakan, "Fulan adalah begini begitu, fulan keburukannya begini begitu, fulan dst..."

Selesai perbincangan mereka, sang alim memanggil anak muda tersebut. "Kemarilah engkau." Ia pun mendekat.

"Aku kagum dengan cerita-ceritamu. Kau mengetahui banyak tentang saudara-saudaramu!" tukas sang alim.

Lalu ia bertanya, "Apakah kau pernah mendebat seorang musyrik?"

"Tidak pernah."

Lalu ia bertanya lagi, "Kau pernah ikut perang memerangi orang kafir?"

Thursday, December 20, 2012

CAT : [47] "INSIDE FACEBOOK: FROM NO ONE TO BE SOMEONE"


oleh Hasan Al-Jaizy


"Dari bukan siapa-siapa menjadi siapa"

Seorang yang menyumbang atau sedekah ilmu, ide, inspirasi atau motivasi lewat status, photo, notes dan lainnya di situs ini, bisa jadi awalanya BUKAN SIAPA-SIAPA. Tapi, mungkin saja selang beberapa waktu Anda akan menganggapnya seseorang yang spesial; karena berhasil merubah pola fikir Anda, manhaj agama Anda, menjadi sumber inspirasi, penggerak dan motivator Anda, menambah pengetahuan Anda ataupun lainnya yang membuat Anda teringat bahwa dia punya 'jasa'.

Awal 2010, adalah awal masa saya tiap Sabtu mengajar di Margonda. Seberang Universitas Indonesia. Tiap hari itu, selalu saya menggunakan kereta dan turun di stasiun UI. Dan tiap turun di stasiun UI, selalu timbul harapan moga-moga kelak bisa mendapat teman seorang mahasiswa UI. Pulang mengajar di sore hari, saya kembali ke stasiun untuk menunggu kereta ekonomi datang. Selalu berseliweran anak-anak muda, baik laki maupun lawan jenisnya, di sekitar. Yakinnya saya, mereka adalah mahasiswa. Ingin sekali menyapa satu atau dua atau tiga dan

Tuesday, November 20, 2012

HIDUPMU INSPIRASIMU : [11] "Bingkisan Doa dan Harapan Untuk Saudara Di Sana"

oleh Hasan Al-Jaizy

Bermula kucuran renyuh di hati itu mengalir dari sebuah video di YouTube. Sebenarnya bukan pertama kali iba menggentayangi hati. Sudah lama. Namun, video sederhana itu memperlihatkan seorang anak kecil belum mencapai usia baligh berjalan di sebuah jalan. Rupanya ada beberapa tentara Yahudi terlaknat dari negara penjajah, yaitu negara Israel, menjaga jalan. Mereka pun memeriksa anak itu luar dalam. Dengan kasar. Anak itu membawa tas, sepertinya hendak pergi ke sekolah. Tasnya dikobok-kobok. Pemandangan itu menjadi tradisi di sana.

Yang membuat fikirku hingga kini adalah judul video itu. Berbahasa Arab. Maknanya: "Bayangkan jika dia adalah adik kecilmu".

Bayangkan jika anak kecil yang digorok lehernya hingga putus di Suriah itu adalah adik kecilmu, atau anakmu.
Bayangkan jika mulut Bakkour yang dipreteli hingga hancur dan hilang, hingga yang terlihat hanya darah dan daging dari bawah hidung menuju leher, hingga gigi pun sudah hilang, adalah

Kelak Kau akan Ditinggalkan Teman

oleh Hasan Al-Jaizy

Friends come and pass. Times come and pass. Wind comes and passes. Kelak kau akan ditinggalkan teman atau kau meninggalkan teman. Padahal kau belum tentu mau seperti itu.

Kau sudah tinggalkan teman masa kecilmu di kampung. Kau pun dapati teman baru di kota. Lalu kau dapati teman hidup tuk berpasangan dengannya berdua. Tak lama berselang, lahirlah anak-anak yang kelak akan menemanimu di usia senja. Kemudian yang terakhir, kau akan meninggalkan yang menemanimu. Bisa jadi tanpa ucapan salam, bisa jadi dengan perpisahan. Tiada menahu.

Sekarang boleh jadi hidupmu terasa hingar meramai. Teman di mana-mana. Namun

Friday, October 26, 2012

Selmat Bersatu!

oleh Hasan Al-Jaizy

Selamat berhari raya kurban dan selamat bergembira untuk seluruh saudara-saudari muslimin, di manapun engkau berada, baik sedang di puncak gunung ataupun di tepi padang pasir. Ini adalah hari yang kita berbangga akan pembuktian betapa indahnya syariat Allah. 

Persatuan itu adalah ketika kita bersatu dalam barisan-barisan, meskipun tidak saling kenal nama dan tak memandang darimana tiap-tiap pemilik kaki berasal atau dari kelompok mana ia. Jika selalu dalam satu negeri, kaum muslimin merapatkan barisan di waktu yang sama, tanpa ada perbedaan-perbedaan yang terkesan 'disengaja' dan dicari-cari, maka siapa yang gemetar ketakutan? Kuffar. Dan siapa yang terbakar kedengkian? Munaafiquun.

Jangan umbar perkara-perkara beda dan kesalahan-kesalahan tak henti-henti. Sudah patut disyukuri tiada kericuhan di hari ini. Sudah bersyukur anak-anak muda mau beranjak dari kasur menuju lapangan terbuka untuk menunaikan sunnah di atas sejadah. Sudah bersyukur kita semua berkumpul. Jika selalu saja kita umbar perbedaan dan kesalahan, lalu kapan kita mensyukuri keseragaman?


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/455568141151243

Wednesday, September 12, 2012

Praktek Jarh Tanpa Ta'dil di Kalangan Pelajar

oleh Hasan Al-Jaizy

Ada seorang bapak yang baru mengenal yang namanya 'Islam' karena sebelumnya berkehidupan penuh lalai dan tidak peduli terhadap agama. Lalu ia menemukan di Internet komunitas agamis yang sehari-hari selalu menjadikan wall orang belepotan akan ilmu dan kalimat bermanfaat. Di antara para penebar ilmu, ia cenderung menyukai si X; mungkin karena ada warna beda atau sebab lainnya.

Syukurnya, bapak ini benar-benar mengambil banyak faedah dari X. Dan tak sedikit tanda tanya dalam pikirannya telah dienyahkan oleh si X ini. Nah, suatu ketika si bapak ingin mengetahui banyak tentang X, karena penasaran. Mau bertanya langsung pun rasanya kurang pas. Ia berfikir, 'Lebih baik saya tanya ke orang2 saja.'

Ia pun bertanya pada seseorang ber-ini-sial Y: 'Akh, antum kenal X?'

Saturday, September 8, 2012

Rihlah Ke Kebun Raya Bogor


oleh Hasan Al-Jaizy

Selagi luang, tadi sempatkan diri pergi ke luar kota. Ke Bogor bertujuan Kebun Raya Bogor sendirian. Terakhir ke sana tahun 2002/03 bersama beberapa teman pondok saat liburan, Ali, Aziz, Dover, Ibenk. Sayang kali ini sendirian.

Pengunjung untuk hari ini sedikit sekali [selain karena Hari Jum'at, saya juga baru masuk jam 3 sore alias kesorean]. Tapi, meskipun sendirian, saya merasa kesepian. Mau ngobrol entah sama siapa. Mau bercanda juga sepertinya tidak ada manusia yang bersedia. Di sana memang banyak juga pohon-pohon beringin dengan tali-tali dan akar-akaranya yang kurang bagus kalau dijadikan tempat bengong. Tapi, sayang sekali, tidak ada penampakan.

Di beberapa situs, ada tempat sepi [namun masih dilewati orang] yang pas untuk dijadikan tempat memadu kasih atau mengasih madu satu sama lain. Syukur-syukur saya tidak memergoki pasangan-pasangan ilegal di sana. Kalaupun mereka kepergok, mereka juga akan ketakutan. Anehnya, saya juga kayaknya bakal ikut ketakutan. Ah, sudahlah....

Sempat tadi melihat ular berukuran sejari. Tidak berbisa namun menyerang. Ia awalnya kabur ketika merasakan hawa kedatangan saya. Meski tak sempat mengambil, cuma syukurlah sudah bisa melihat dia. Tadi, kedua pandangan mata kita saling beradu. Cuma, dia kemudian kabur ke atas pohon besar. Mungkin, dia sudah punya pasangan, sehingga mencueki saya. Atau, mungkin saja ia bukan betina, sehingga tidak tertarik dengan jenggot saya. Ah, biarlah...

Ada satu situs yang sebuburnya saya kurang berani [padahal tidak berani] untuk memasukinya; karena terlihat cukup liar dan bukan jalanan untuk manusia. Atau sudah lama tidak dijamah manusia. Kapan-kapan insya Allah kita akan ke sana kembali.

However, pergi sendiri dan pulang sendiri. Suatu saat insya Allah saya tidak pergi sendiri dan pulang sendiri. Ini bukan status kegalauan; hanya reportase rihlah saja. Jika dianggap status kegalauan, justru saya bisa balik bertanya: 'Anda sendiri sedang galau ya?'


Thursday, September 6, 2012

Sebelum Terjadi...


oleh Hasan Al-Jaizy

Sebelum terjadi, mohon diingat nasihat ini:

--> Sembunyikanlah atau berusaha lah tuk sembunyikan amalan tersebut; jika dengan menyiarkannya sedikit saja, dapat membuat tidak sedikit orang menganggapmu 'berjasa' atau 'berkontribusi'.
--> Usahakan untuk tidak memporsikan suatu perkara berlebih dari kadar sewajarnya. Jika posisi kita hanyalah penonton di stadion, perkara kita hanya 'membayar' karcis dan menonton. Pemin yang cedera, itu sudah ada yang mengurusi. Tidak usah mengalihkan tugas orang pada diri sendiri.
--> Berlebihan dalam beryel-yel dan berkoar di stadion bisa mengakibatkan rasa sebal di sesama penonton terjadi.

Sebelum terjadi, mudah-mudahan ada yang faham maksud dan sasaran status ini ke mana. Yang tahu, tidak usah banyak komentar, silahkan diterapkan saja. Yang tidak tahu, tidak perlu bertanya.

Sebelum terjadi...sebelum terjadi...sebelum terjadi...terjadi apa? Terjadi perpecahan di satu tubuh yang dikira sedang 'bersatu', padahal sebenarnya tidak. Jika melihat dari nafas-nafasnya, tidak. Karena sebagian adalah nafas nafsu dan gerakan agar seragam atau diakui. Berikhlaslah.

...just think...ketika kau berfikir kau mungkin akan menjadi hero, namun ternyata di tribun eksekutif, mereka tertawa dengan tingkah konyolmu yang jenaka dan penuh tanda tanya. Kita hitung sampai 3 hari, pergesekan apa yang akan terjadi karena kasus yang dilebih-lebihkan.

Tuesday, August 28, 2012

Tanah Indonesia

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point terkait tanah masyarakat Indonesia:

[1] Tanah kita sangat subur, berpotensi makmur, namun dibalas dengan kufur. Banyak dari penduduk tertipu oleh kekayaan sehingga hilang rasa syukur. Karena itulah, datang tsunami dan puting beliung menjadikan banyak yang lebur. Orang2 terserang ketakutan dan mencari jalan tuk kabur. Bangunan-bangunan dan hati-hati banyak yang hancur? Apakah kau masih berpura-pura tidak melihat banyak yang kufur?

[2] Sementara alam bersaksi bahwa dasarnya kita adalah muka-muka berseri. Ingatlah, Maghrib dulu banyak kodok di sini bernyanyi. Ingat juga dulu di siang hari masih banyak capung menari. Gali kembali memori dahulu di tengah kelurahan masih ada rawa bermisteri. Lalu sekarang, yang tersisa hanya kenangan dan sesal untuk kota ini.

[3] "Pancasila yang menjadi dasar negara ini, yang oleh kelompok sekular kerap dibenturkan dengan kelompok Islam, sebenarnya tidak berurat berakar dari nilai-nilai yang tertanam di negeri ini. Justru Islamlah, seperti yang dikatakan Buya Hamka, yang mengakar kuat di tanah ini. "Islam adalah dasar yang asli di tanah air kita dan pribadi sejati bangsa Indonesia," tegas Hamka. Sementara Pancasila, kata Hamka, tidak mempunyai dasar sejarah yang kuat di negeri ini." [Indonesia Tanpa Liberal, Artawijaya, hal. 154]

[4] "Tokoh Masyumi, Mohammad Natsir, juga mengatakan bahwa dasar negara haruslah sesuatu yang sudah mengakar di masyarakat. Islamlah yang sebenarnya cukup mengakar di mayoritas rakyat Indonesia. Islam mempunyai sumber yang jelas berasal dari wahyu. Sementara Pancasila, kata Natsir, meskipun masuk di dalamnya sila tentang Ketuhanan, tapi pijakan dasarnya adalah 'laa diiniyyah' [netral agama]." [ibid, ha. 155]

Laa Diiniyyah = netral agama atau bahkan tanpa agama sekalian

[5] Lalu 'kita' pun berpura-pura untuk menganggap itu wajar-wajar dan biasa saja. Karena memang susah jadi 'kita' ini. Mau menentang dan mengangkat suara, tapi takut disebut bibit teroris atau dikira sudah terkontaminasi pemikiran Khawarij. Mau diam dan tunduk demi maslahat, tapi ini menggemaskan dan apakah hanya diam dan tunduk?

[6] Tapi mungkin ada jalan yang lebih 'selamat' dan bermaslahat: diam, pura-pura tidak tahu, tunduk 90%, dan kalau mau angkat suara: suaranya harus selaras dengan pemikiran golongannya.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/434129176628473

Sunday, August 19, 2012

Kamu Adalah Sahabat Terdekatmu!

oleh Hasan Al-Jaizy

Seperti juga kata mereka: "You are what you eat! You are what you do!" yaitu segala yang kau makan atau segala yang kau perbuat mencerminkan kamu banget. Karena itulah, ada alasannya mengapa hewan bertaring dan buas atau semacamnya dilarang untuk dimakan, karena bisa jadi...bisa jadi itu akan berpengaruh pada tingkah pemakan. Juga, kebiasaan/adat akan membentuk karakter. Sebagaimana adat sebagian kita menggunakan jam karet, maka...jangan salahkan gaji dipotong karena terlambat datang.

Nabi bersabda:

الرجل على دين خليله، فلينظر أحدكم من يخالل

"[Kualitas agama] seseorang itu

Saturday, August 18, 2012

Bukan Menggelapkan Yang Cerah

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point yang jangan sampai menggelapkan yang cerah:

[1] Apakah manhaj itu berbeda dengan aqidah? Ada dua kubu yang berpendapat. Kubu pertama: keduanya tidak berbeda; karena memang tidak ada dalil pembedanya dan aqidah adalah manhaj/jalan hidup muslim juga sebaliknya. Kubu kedua: keduanya berbeda. Manhaj lebih umum dari aqidah.

[2] Penjelasan. Manhaj adalah jalan/metode/tatacara dan semacamnya; sementara aqidah adalah keyakinan. Jalan lebih umum dari keyakinan. Iya kan? Manhaj mencakup segala tata cara atau peraturan dan batasan amalan semua anggota tubuh. Ia mencakup adab, akhlak, muamalah dan lain-lain. Sementara aqidah adalah keyakinan, dan keyakinan tempatnya di hati. Pemilik status ini condong mengamini kubu kedua.

[3] Lalu, yang manakah lebih didahulukan bagi seorang pencari ilmu baru [newbie/nubie]: manhaj atau aqidah? Jawabannya: Aqidah terlebih dahulu. Keyakinan dulu, baru manhaj.

[4] Manhaj itu tidak sekedar pelabelan semata. Beberapa dari kita -secara tidak langsung- menganggap bahwa manhaj itu adalah how to play group and how to labelize people. Karena itulah, ada saja yang mudah melabeli "si fulan bukan salafi, si fulan khariji, si fulan sururi, sementara gue? Lu bisa liat sendiri deh...". Tadinya 'bermaksud' memurnikan manhaj, namun justru manhajnya lah yang rusak.

[5] Termasuk cakupan manhaj: adab atau akhlak. Sedikit saja terjadi ketergelinciran akhlak, maka nama bisa rusak dan aroma permusuhan menjadi pekat. Jika ini terjadi pada seorang thalib seperti kita, mungkin kerusakannya tak seberapa besar [relatif]. Namun, ada jua cerita tentang ustadz yang memang diberi kelebihan intelegensi sehingga punya banyak hafalan dan orang menganggap manhajnya benar, rupanya ketika namanya terangkat, ia menjadi sombong. Mentang2 nahi munkar, orang tua yang juga berilmu seenaknya dituding langsung di depan muka.

Alaa kullin, kita semua tak luput dari salah dan masing-masing kita punya kecacatan spesial. Harapnya, semoga Allah membantu kita untuk terus konsisten memperbaiki diri, entah dengan cara bertahap atau langsung mengenyahkan keburukan. Semua ada kadar bijaknya.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/431386106902780

Thursday, August 9, 2012

Doakan Mereka...

oleh Hasan Al-Jaizy

Doakan mereka...

--> Para muadzin di mushalla/masjid tempat Anda tinggal. Meskipun mungkin sebagian mereka ada yang seringkali melakukan sesuatu tak tersyariatkan namun menganggapnya ibadah, namun bagaimanapun juga, semoga pahala adzan dan mengingatkan orang akan shalat menghapus kesalahan-kesalahan mereka. Bayangkan jika puluhan orang tiap hari datang ke rumah Allah karena melalui suara mereka lah orang-orang terpanggil.

--> Para pengurus mushalla/masjid, yang tiap hari merawat segalanya tentang bangunan tersebut; sehingga manusia sempat mengunjungi dan betah beribadah di sana. Semoga kesalahan-kesalahan mereka terhapuskan dan pahala mereka berlipat karena jasa atau kontribusi mereka akan umat ini.

--> Siapapun dari jema'ah yang shalat di mushalla/masjid, entah rutin atau sekali-kali. Semoga hidayah dan naungan keamanan selalu beserta mereka; selagi tiap mereka keluar mushalla/masjid, seakan di tiap kepala mereka ada mahkota tanda kemuliaan mereka.

--> kaum muslimin seumumnya, mencakup saya, Anda dan mereka. Semoga Allah mengampuni muslimin dan muslimat. Dan semoga Allah mengumpulkan kita dalam naungan-Nya kelak...di hari kala tiada naungan kecuali naungannya. Sesungguhnya tiap kita pasti akan berpisah, entah untuk sementara...atau untuk selamanya.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/428430247198366

Tuesday, July 10, 2012

Selalu Saja Kamu Bertanya

oleh Hasan Al-Jaizy

Kamu tanya padaku, 'Tidakkah sedihmu akan terbantainya saudara kita di Suriah?' yang tentu kujawab: 'Tentu sedihku!'
Kamu tanya lagi padaku, 'Tidakkah ibamu akan saudara kita terbantai di Burma?' yang tentu kujawab: 'Tentu ibaku!'

Tak henti kau bertanya, menanyakan, mempertanyakan aku...lalu kau berkata: 'Lalu mengapa kamu diam saja? Mengapa kamu tidak bergerak? Mengapa kamu sekedar main hati?'

Enggan ku menjawab yang sebenar. Sungguh kau tak mampu pastikan apa kesedihanmu lebih besarkah dari milikku? Gerangan mengapa kau tanyai aku dan kau tak tanyai dirimu sendiri?

Sungguh kita pun dalam penjara bingung...ingin sekali membantu. Daya tak punya. Uang pun jua kita butuh karena terhimpitnya. Jika ingin bergerak, kami bergerak semampunya membantu dari jauh. Dan kenapa kamu selalu berteriak seakan merasa paling berandil jasa?

Tentu lebih baik aku terbisu dalam isak namun bergerak...dibanding teriak dalam fanatisme kelompok, meski bergerak namun 'mencari-hati'.



Friday, June 8, 2012

Aswaja Layak Bersyukur

oleh Hasan Al-Jaizy

Sebagian warga Nahdlah seharusnya bersyukur atas keberadaan Salafi-Wahabi; karena dengan bertubi kritisasi dari SW kepada beberapa pemikiran mereka [terutama berkaitan dengan masalah Heresy], membuat sebagian warga kembali sadar bahwa mereka harus banyak membuka referensi dan turats. Itu adalah suatu gejala positif [sunda: positip]

Hal ini toh diakui beberapa individu hasil didikan An-Nahdlah. Tidak mengakui? Setidaknya, pura-pura lah tidak mengakui.

Begitu juga dengan beberapa warga SW; kritis itu boleh...bagus malah, jika itu ada manfaat yang membangun. Tapi, bibir tetap tersungging senyum dalam keseharian. Perkara ia telah melakukan heretic [selama bukan yang berbau kufur] itu sebaiknya tidak dijadikan topik di setiap detik setiap hari setiap masa. Ada masa-masanya juga kita saling merapat dan berjabat tangan.


Kalau ada yang bilang:
"Bubarkan Nahdlah! Penyebar heretics!"

Justru saya juga bisa katakan:
"Nahdlah itu besar dan andilnya juga besar. Yang ada, pengajianmu yang umurnya masih muda dan belum besar yang justru bakal dibubarkan."

Jika memang titik tengah itu ada, kenapa kita harus memaksakan diri melengsong kanan atau kiri? Bukankah keseimbangan itu ada di tengah? Bukankah fanatisme dan extrimisme itu ada di sisi-sisi?


Tuntutan ilmiah seperti ini setidaknya membangun raghbah, hasrat dan kecemburuan ilmiah dengan membuka kembali kitab2. Meskipun terkadang membuka-buka kitab untuk mencari-cari 'pembenaran', bukan 'kebenaran' atau spesifiknya: 'pembenaran untuk kelompok sendiri' bukan 'kebenaran untuk semua'.

Tapi, sudah patut disyukuri ada gerakan membuka-buka kitab. Karena semakin habis waktu membuka kitab, semakin sedikit waktu untuk berteriak. Semakin sedikit waktu untuk berteriak, semakin minimal pertengkaran yang 'tak-ilmiah'.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/401189786589079

Tuesday, May 29, 2012

Thullab Al-Fitan II

oleh Hasan Al-Jaizy

Thullab Al-FITAN II

Dari akun seorang ikhwan, bahwa Ust. Yazid Jawwas menasihati:

"Perbanyaklah menyampaikan 'ilmu dan persedikitlah bantahan, dan para 'ulama' dahulu hingga sekarangpun melakukan hal yang sama. Mereka (para 'ulama) menulis 'ilmu sampai berjilid-jilid dan tebal-tebal, dan mereka menulis kitab rudud (bantahan) umumnya tipis-tipis."

Akhir-akhir ini justru saya menyaksikan beberapa ikhwan [apakah itu termasuk saya sendiri!?] MEMPERJARANG menyampaikan ilmu atau faidah dan MEMPERSERING postingan2 tentang perpecahan yang terjadi di antara asaatidzah atau thullabnya. Dan sembari menyebut nama masing2 orang yang sedang diperbincangkan atau bahkan dighibahi, juga menjulurkan bukti, entah foto hasil screen printing yang berisikan komentar2, atau copas komentar.

Para ulama menulis ilmu berjilid2, sementara ikhwan ini menulis ghibah bercopas-copas. Kembalilah menjadi thullab al-ilm, saudara2ku. Sebelum antum benar2 menjadi Ahli Ghibah wal Jama'ah.


Jika itu termasuk bab nahi munkar, maka apakah sesering itu antum kupas?

Apakah hal seperti itu [mengupas aib-aib, kesalahan dan perpecahan] adalah HOBI? Atau bahkan menjadi wadziifah [pekerjaan/job/tugas] yang wajib?

Kembalilah menjadi thullab al-ilm, saudara2ku.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/394678440573547