Showing posts with label Sosial. Show all posts
Showing posts with label Sosial. Show all posts

Monday, October 26, 2015

When Nothing Consumes Everything


Oleh Hasan al-Jaizy

Ada seorang pakar Biologi bernama Thomas Lovejoy. Bekerja di hutan Amazon selama 50 tahun. Dia berkata begini: "Saya melihat banyak pemimpin baru yang muncul. Kita perlu membuat orang-orang muda itu memikirkan masa depan mereka. Kita perlu menyadarkan mereka sehingga mereka bisa membuat perubahan. Karena merekalah yang akan menjalani dengan konsekuensinya.

Meanwhile, ada seorang pakar Syariah bernama Muhammad bin Shalih al-Utsaimin. Mengabdi sebagai guru ngaji selama 50 tahun, sejak beliau berusia 25 tahun sampai 75. Beliau memikirkan para pemuda dan berkata suatu ketika begini soal pekerjaan pemuda:

فهم يقحمون النساء الآن بالوظائف الرجالية ويدعون الشباب، ليفسد الشباب وليفسد النساء. 

"Mereka (Barat) berusaha merendahkan perempuan di zaman ini dengan pekerjaan-pekerjaan ala laki-laki dan mereka menelantarkan para pemuda laki-laki. Ini agar para pemuda dan para perempuan jadi rusak. "

P.H.P.

oleh Hasan al-Jaizy

Jika kamu diajak maju oleh orang yang cuma jalan di tempat selalu, maka jangan ikut. Karena kamu ga bakal maju-maju malah. Malah kamu bakal bisa lebih maju sendiri dengan jalan ke depan, bukan jalan di tempat.

Jika kamu di-PHP-in sama ikhwan yang ga ngerti gimana caranya step up dan following up, maka jangan masukin hati PHP dia. Kalau kamu masukin ke hati, dia ga bakal maju, kamu menderita menunggu.

Jika kamu dikomporin ngaji sama pihak yang maunya cuma ngaji tematik aja dan terus, kamu cari kajian kitab. Banyak para pemburu tematik gagal move on ke kajian kitab, karena memang niat step up aja ga ada, maka setelah ngaji, ga ada following up. Still walking di tempat, mau dihias apapun posternya.

Thursday, October 22, 2015

Kekeramatan Yang Kurang Diimpikan

oleh Hasan al-Jaizy

Kemarin sempat interview beberapa calon pegawai. Selain miris pada diri sendiri yang masih belum seberapa, ternyata ada kemirisan tambahan melihat para calon. Calon-calon guru di beragam disiplin ilmu dunia, seperti matematika, kimia, biologi, bahasa Indonesia sampai English. Saya tidak mempertanyakan keahlian mereka di bidang duniawi, tapi standar baca al-Qur'an dan wawasan keislaman teman-teman kita ini masih minim. Ini tanpa perasaan kelak di endingnya saya lebih baik dari mereka.

Sebagaimana menjadi rahasia umum yang sudah menjadi konsumsi bibir publik, banyak dari dokter sekarang, menakut-nakuti ibu hamil apalagi yang masih belia usianya dan belum punya experience cukup dalam kehamilan. Ujung-ujungnya rekomendasikan supaya bayi terlahir dengan cara Caesar. Penyakit demi penyakit atau gejala negatif dijabarkan dengan semangat oleh dokter beserta bidan asistennya. Bahkan kadang diceritakan, sang dokter terkesan maksa. Rupa-rupanya tidak sedikit kasus kongkalikong. Apalagi kalau mengejar duit? Bumil panik mendengar dor dor dari dokter. Saya pernah menyaksikan ini sebagai suami bumil.

Saya pikir, ini dokter apa teroris? Tahu ini orang lagi mengandung, kok malah main dor dor begitu saja. Lembut dikit kek. Ngarti dikit kek perasaan bumil ini. Saat dokter ngoceh terus berentetan sebut kasus-kasus parah, saya tatap tajam muka beliau. Saya pernah melihat Didier Drogba lari sana-sini kejar bola meneror para pemain yang sedang pegang bola, demi cari apresiasi pelatih dan penonton, yang ujung-ujungnya duit. Kok mirip ya ngototnya. Vonis penyakit dan harus langsung dibelek perutnya di awal cek kedokteran, dengan bahasa semaunya tanpa mikir perasaan, adalah hal yang jauh dari kamus kebijakan.

Kenapa mengejar Caesar, wahai dokter? Padahal Caesar kan sudah meninggalkan program lamanya. Apakah Anda mau sama dengan para penyelenggara tematik yang berburu Caesar dan yang semacamnya supaya hadirin dan duitnya banyak?

Akhirnya, saya pindah pilihan. Tidak mau ke dokter itu lagi. Saya browsing Inet, ditemukan beragam cerita kenakalan sebagian dokter. Mirip-mirip. Intinya kejar duit.

Alhamdulillah, ketemu RS yang profesional. Swasta dan biayanya lumayan membuat saya semakin tersadar bahwa saya harus lebih mendekatkan diri pada Allah. Pelayanannya memuaskan secara psikologis. Para dokter dan pasukannya sampai satpamnya membuat kami merasa comfort. Tempatnya juga nyaman dan wangi. Tak apa soal biaya kan soal rizki. Yang penting kita usaha supaya istri dan anak lebih tenang. Safety first, money later. Setelah dapat safety, giliran money bill, baru kita menangis later. Hehe.

Walaupun dari sisi profesionalisme dokter-dokter dan bawahannya ini saya acungi jempol tapi ada saja yang kurang buat saya. Vital. Apa itu? Sisi religiusitas!!! Ini nih. Mereka bekerja secara profesional duniawi. Andai mereka terpoles ke agama, saya akan senang menemukan suster-suster itu sering menyebut nama Allah, tidak hanya memberikan advice of health melainkan dibalut juga dengan menekankan sisi tawakal pada Allah. Tapi sayangnya tidak. Karena mereka tidak dididik untuk itu.

Inilah. Kita butuh Rumah Sakit Islam lebih banyak lagi. Bukan label Islam semata, tapi nilai moral pegawainya sangat islami.

Nah, kembali ke interview itu, saya berhadapan dengan para calon guru baik ikhwan maupun akhwat, dengan membawa otak Biologi, Kimia dan lain-lain. Di tempat saya kerja, nilai religiusitas sesuai pemahaman Salaf sangat diusahakan. Kinerja para pegawai relatif stabil. Prestasi demi prestasi terbangun. Meski saya sendiri belumlah seberapa mampu memperbaiki diri. Tapi wajib bersyukur kalau kita sudah mulai berusaha menanamkan jiwa religiusitas di tempat kita bekerja.

Saya iri sama teman-teman yang mahir Biologi. Kepingin kuasai Biologi. Miris hati kalau naik motor lihat pepohonan atau jalan di jalanan lihat hewan, tapi nothing to say tentang spesies, kehidupan, anatomi dan anything about them. Hanya bisa berkata mereka ciptaan Allah. Tapi apakah teman-teman anak Biologi sendiri, iri sama teman-teman yang faham baca kitab, mahir baca al-Qur'an?
Padahal di dalam al-Qur'an, disebutkan beberapa nama hewan, disebutkan beberapa macam tumbuhan. Selemah-lemah rumah adalah rumah laba-laba. Secara scientific, bagaimana membuktikannya? Kita sama-sama imani ayat itu, tapi secara keduniaan dan pembalutan sains, saya belum mengerti detail dan saya berharap mengerti.

Siapapun pegawai, kalau menjunjung nilai religiusitas di bidangnya, insya Allah akan lebih disukai.
Karena pegawai yang tak religius, dia hanya dapat dunia. Adapaun pegawai yang menjaga agamanya di gaweannya, dia dapat dunia dan dia punya saham di akhirat.



Wednesday, October 21, 2015

Kita Malah Tertawa

oleh Hasan al-Jaizy


Kalian malah tertawa dan tidak menangis. Sebagaimana kita baca akhiran Surat an-Najm. Kata Nabi, kalau kita melihat apa yang telah beliau lihat, maka kita akan lebih banyak menangis daripada tertawa.


Obati kekerasan bahkan kegundahan hati dengan sujud, dzikir, sedekah, atau baca karya ulama. Adakalanya hati seorang muslim kian mengeras karena baca status. Nafas-nafas manusia adalah asap buat hati. Semakin sering dihirup omongan manusia, semakin menambah sakit dan penyakit hati.



Wednesday, July 17, 2013

Mental Miskin dan Bodoh

oleh Hasan Al-Jaizy



Jika di sana ada yang disebut 'miskin', maka pastilah ada lawannya: 'kaya'. Pula jika ada yang disebut 'bodoh', maka pastilah ada tandingannya: 'pintar'. Karena hampir segala sifat tak bisa diketahui kecuali karena ada lawan dan tandingannya. Seperti: baik dan buruk, atau sehat dan sakit, atau hitam dan putih.

Orang miskin dan bodoh tergolong orang rendahan. Jika engkau tak terima ku katakan mereka 'rendahan', maka apalah yang kau inginkan? Kau ingin katakan mereka berkelas tinggi, sementara orang kaya dan pintar berkelas rendah? Jika iya, maka itu akibat dari memiliki kadar otak yang rendah.

Mental kebanyakan orang miskin adalah culas, malas, kurang pandai usaha, dan sebagian lain: curang, sehingga tidak berkah sama sekali usaha mereka. Orang-orang miskin seringkali mendengki pada orang-orang kaya; padahal mereka tidak ada urusan dengan kaum miskin. Namun, karena kegagalan hidup kaum miskin, melihat kaum kaya yang sewajarnya menikmati kekayaan mereka, dengki membara-bara. Ingin seperti mereka namun tak bisa. Seperti kata banyak orang, "Iri tanda tak mampu". Orang miskin sering menuntut orang kaya agar bermurah hati. Itu jika di depan. Di belakang, orang miskin sering mencaci orang kaya, entah karena pelit, atau karena dianggap tidak peduli rakyat kecil, atau lainnya. Dasar dari semua itu sebenarnya iri dan ketidakmampuan.

Mental miskin juga adalah mental mengeluh. Miskin kekuatan jiwa, sehingga mendapat kesulitan sepetak, keluhannya capai sehektar, mendapat musibah sejengkal, keluhannya hingga selangkah. Mengeluh, kemudian berusaha sedikit, gagal mendatangi, mengeluh lagi, lalu mengutuk-ngutuk kondisi ketika melihat orang kaya sedang menikmati keutamaan hidupnya.

Mahasiswa Pelayar Comberan!

oleh Hasan Al-Jaizy

Budaya ngospek para plonco (calon maba yang sedang ikut kegiatan pengenalan terhadap kampus) dengan tarekat-tarekat HINA, meskipun atas nama 'Pengenalan Kampus' atau semacamnya, adalah budaya mahasiswa-mahasiswa rendahan yang sedang kuliah di kampus rendahan. Mahasiswa dan kampus yang menjunjung tinggi nilai pendidikan, moral dan kualitas didikan, tidak akan rela calon-calon penghuninya dihinakan, oleh mereka sendiri.

Syukur, tidak pernah di kampus saya ada planca-ploncoan. Bagi kami, hanya mahasiswa bodoh yang seperti itu. Menjadikan para maba terlihat bodoh, padahal mereka sendiri juga tergolong bodoh.

Selain itu, para mahasiswa yang merasa senior dan mengenal kampus, lagaknya seperti sudah layak dianggap senior dari segi kualitas. Mirip mayoritas mahasiswa pendemo; rata-rata mereka itu yang hobi tidur di kelas, main game di lingkungan kos, begadang dan hidup kesehariannya cuma bernilai lawakan rendah saja. Dan, menjelang hari ospek, mereka tiba-tiba menjadi orang paling sibuk dan paling terlihat seolah ingin 'mendidik'.

Andai memang mereka belajar sungguh-sungguh dan punya ilmu tinggi, takkan rela mereka mencoret-coret muka para calon mahasiswa, menyebut mereka binatang, menjadikan mereka serendah binatang, meminta memakan hal yang tak layak dimakan, memaksa mereka memakai aksesoris yang memicu gelak tawa dan banyak lagi. Para mahasiswa senior yang bodoh senang dan girang melakukan ini. Dan jika dosen-dosen mereka menjadikan hal semacam ini hal yang wajar, biasa, atau malah hiburan, maka...begitulah. Like dosen like mahasiswanya.

Sunday, July 14, 2013

Menata Kehidupan Dengan Akal

ORANG berakal mengatur kehidupannya di dunia dengan akalnya. Jika ia miskin, ia akan bersungguh-sungguh bekerja dan mencari uang agar ia tak terhina di mata makhluk. Lalu ia pun mengurangi jumlah pengeluarannya dan memuaskan diri dengan apa yang ada. Karena itu, ia pun hidup dalam keadaan terbebas dari budi orang lain dan terhormat di tengah masyarakat. Sedang jika ia kaya, ia wajib mengatur pengeluarannya, karena ia bisa saja jatuh miskin, lalu ia mesti menghinakan diri kepada orang lain. Salah satu bentuk bencana adalah boros dan melampaui batas dalam berbelanja karena ingin menghina musuk. Padahal, tindakannya ini sejatinya justru bisa membuat musuh menyihirnya.

Seseorang seyogyanya mengambil jalan tengah dalam segala situasi, serta menutupi sesuatu yang tak layak diceritakan kepada orang lain.

Suatu saat, seorang petugas yang memandikan jenazah menemukan uang yang banyak. Ia lantas membelanjakannya sesuka hati. Ketika cerita penemuan uang itu diketahui orang banyak, harta yang ada di tempatnya disita. Ia pun kembali menjadi tak punya apa-apa.

Saturday, February 2, 2013

Nyesel Masa Kecil...20 Tahun...Kecewa Karena Cinta

oleh Hasan Al-Jaizy


Nyesel Masa Kecil...20 Tahun...Kecewa Karena Cinta

Nyesel Masa Kecil

Nyesel Masa Kecil

Ketika itu kami berbincang empat mata, dua hidung, dua lidah, dua mulut dan delapan jempol, mengenai kemampuan kami masing-masing. Saya sedang berbicara dengan seorang teman sekelas yang Allah beri berkah dan rahmat baginya, yaitu berupa hafalan 30 juz. Kita berdua berbincang. Ia ingin menjadi seperti saya. Saya juga ingin menjadi seperti dia. Tak sekali ia menanyakan bagaimana konsisten menulis. Tak sekali pula saya menanyakan bagaimana konsisten menghafal Al-Qur'an.

Yang paling membuat saya menyesal adalah setelah saya bertanya begini, "Karena ente sudah hafal semuanya, ketika ceramah atau kajian atau apapun itu, apakah dalil-dalil langsung terfikir?"

Ia jawab, "Iya, alhamdulillah. Mengalir. Tiba-tiba hadir gitu aja di fikiran. Jadi, enak sekali."
 

Wednesday, January 30, 2013

Menjadi Yang Terharap...Game Kekerasan

oleh Hasan Al-Jaizy


Menjadi Yang Terharap...Game Kekerasan

Menjadi Yang Terharap

Menjadi Yang Terharap

Selagi saya tahu bahwa menggapai cita-cita dan harapan itu bukanlah mimpi semata tanpa upaya menyicil tabungan langkah dan bergerak menunjunya, maka saya mengajak diri sendiri serta diri selain saya sendiri untuk tidak 'ngemeng' saja atau 'ngarep' saja.

Bahwa suatu asa akan terwujud secara absolut jika Allah wujudkannya. Namun, Allah takkan merubah suatu kaum hingga kaum tersebut berupaya merubahnya jua. Sementara, keadilan-Nya tertuang di fakta bahwa Dia takkan membebani hamba di luar batas kadar dan kodratnya. Artinya: Teruskan perjalanan entah sendirimu atau bersama kafilahmu dan berusahalah. Mungkin kau akan terombang-ambing sebelum tiba di dermaga, namun Dia lah yang akan sampaikan jasadmu menujunya.

Seperti seorang yang mempunyai cita sebagai penulis kelak. Tentu ia harus mencicil sedari benih cita-cita masih kecil tabungan-tabungan karya, asahan-asahan dan latihan-latihan. Konyol sekali jika ia berharap kelak mampu menjadi penulis handal sementara kesehariannya lebih suka mencokolkan mata pada TV dan mengaibaikan panggilan-panggilan buku, kertas dan pena. Oh, kini sudah modern...panggilan laptop dan gatalnya jemari.
 

Monday, January 28, 2013

Jangan Banyak Tawa!


oleh Hasan Al-Jaizy

Fawaid 0028: "Jangan Banyak Tawa"

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa Sallam- bersabda:

لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ , فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

"Janganlah kalian banyak tertawa. Sesungguhnya banyak tertawa itu mematikan hati." [H.R. Ibnu Majah, no. 4191 dan 4193]

أَقِلَّ الضَّحِكَ ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

"Sedikitkanlah tawa. Sesungguhnya banyak tertawa itu mematikan hati." [Adabul Mufrad, no.246]

Al-Munawi mengatakan:

وهو كيفية يحصل منها انبساط في القلب مما يعجب الإنسان من السرور ويظهر ذلك في الوجه والإكثار منه مضر بالقلب منهي عنه شرعا وهو من فعل السفهاء والأراذل مورث للأمراض النفسانية 

"Dan (tertawa) itu adalah tata cara mendapatkan perluasan di hati dari apa yang dikagumi oleh manusia perihal kesenangan. Hal itu terpancar di wajah manusia. Dan memperbanyak tertawa berbahaya bagi hati. Ia terlarang secara syar'i. Itu adalah perbuatan sufahaa' [orang-orang bodoh] dan rendahan yang dapat mewariskan penyakit-penyakit kejiwaan." [Faidhul Qadiir Syarh Al-Jami' Ash-Shaghiir, Zainuddin Al-Munawi, 1/162]

At-Thiiby berkata:

Persaudaraan dalam Islam

oleh Hasan Al-Jaizy


Fawaid 0026: "Persaudaraan Dalam Islam"

Persaudaraan yang dimaksud di sini adalah persaudaraan dari segi agama, yaitu Islam. Bukan yang termaksud: persaudaraan nasab, atau persaudaraan mukhtalaq [dibuat-buat] yang murni bersifat duniawi, seperti persaudaraan antar pecinta suatu permainan, buku, olahraga, musik dan selebihnya. Persaudaraan ini yang kita sebut: Al-Ukhuwwah Al-Islamiyyah.

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌۭ

"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara." [Q.S. Al-Hujurat : 10]

Merupakan sifat persaudaraan Islam terindah adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah. Ketika Anda memiliki seorang sahabat, tentu Anda akan berusaha menyukai apa yang disukai sahabat Anda, atau membenci yang ia benci. Ini adalah gambaran persahabatan secara umum. Namun, persahabatan dalam Islam, tidak membebaskan kesukaan dan kebencian akan sesuatu begitu saja; melainkan harus di dalam aturan yang Allah tetapkan, yakni tidak menyukai perkara yang diharamkan meskipun sahabatnya menyukai, dan tidak membenci perkara yang dipandang baik oleh syariat.

Persaudaraan antar muslimin adalah perkara penting, berdasarkan ayat di atas. Bahkan Syaikh Abu Hamid Al-Ghazali -rahimahullah- mengkiaskan tali persaudaraan itu bagaikan tali ikatan [akad] pernikahan. [Ihya' Uluum Ad-Diin, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali, 2/173] 

Karena dalam akad pernikahan, ada hal-hal dan hak-hak yang wajib ditunaikan juga dijaga. Maka, saudaramu pun memiliki hak yang wajib ditunaikan atau dijaga, baik itu harta, jiwa, lisan, hati, doa, ketulusan, dan lain-lain. 

Sunday, January 27, 2013

Kerusakan Di Muka Bumi Adalah Kemaksiatan Terhadap-Nya

oleh Hasan Al-Jaizy


Fawaid 0024: "Kerusakan Di Muka Bumi Adalah Kemaksiatan Terhadap-Nya"

Allah Ta'ala berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ قَالُوٓا۟ إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ

"Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan." [Q.S. Al-Baqarah: 11]

Abu Al-Aaliyah [w. 93 H] berkata tentang ayat di atas: "Yakni janganlah kau bermaksiat di muka bumi, karena orang yang bermaksiat kepada Allah di muka bumi atau menyeru kepanya, maka ia benar-benar telah membuat kerusakan di muka bumi Allah. Perbaikan bumi dan langit hanyalah dengan taat kepada Allah dan Rasul-Nya." [Tafsir Ibn Abi Hatim no. 121]

Jika banyak manusia yang hidup kota berharap lebih sehat hidupnya, mereka serukan slogan "Back To Nature". Namun, seorang mukmin yang benar-benar beriman, demi ishlah dan maslahat hayat, ia akan serukan "Back To Al-Kitab and Sunnah".

Allah Ta'ala telah mengabarkan pada kita tentang saudara-saudara Yusuf alaihissalam dalam firman-Nya:

Sunday, January 13, 2013

BELUM BERAKHIR!


oleh Hasan Al-Jaizy


Asalnya begini: Menyesal karena tidak diam itu berkali-kali terjadi, sedangkan menyesal karena diam itu jarang terjadi.

Tetapi, kita seringkali menyesal karena diam. Diam karena ketidakmampuan kita. Ketidakmampuan dalam hal apa? Ini:

[1] Amar Ma'ruf. Ketika di manapun, termasuk di lingkungan sendiri, juga dalam rumah, kita ternyata belum maksimal menegakkan hal ini.

[2] Nahi Munkar. Ini lebih berat lagi. Nahi Munkar, hampir seluruh wujud prakteknya akan mendapat perlawanan, meskipun hanya sebatas kalimat tidak setuju. Sudah berapa kilo kaki kita berjalan? Lihatlah orang sekitar dengan kemunkaran yang mereka lakukan. Ketika kita ingin sekali dalam hati mengungkap pengingkaran dengan kalimat atau isyarat, kita teringat diri sendiri yang juga melakukan kemunkaran lebih buruk dari itu [jika memang], atau kita juga melakukan yang sama di kesendirian. Hal ini salah satu faktor pencegah kelemahan kita dalam menasihati secara langsung. Ada lagi faktor eksternal, yaitu lingkungan, psikologi manusia, dan sosiologi masyarakat.

Saturday, January 12, 2013

Mengangkat Kuburan Keramat


oleh Hasan Al-Jaizy

Keterkenalan orang, jangan salahkan keterkenalannya. Jangan salahkan orangnya yang terkenal itu. Jangan salahkan orang-orang yang mengenalnya. Tapi, salahkan dirimu, kok orang lain yang terkenal, kamu yang mempermasalahkan!? Memangnya situ siapa ya?

Banyak orang miskin mencibir melihat orang-orang kaya. Padahal orang-orang kaya tersebut tidak menindas mereka. Menyenggol mereka pun tidak. Tapi, kenapa si miskin sebal sendiri?

Memangnya orang kaya atau orang terkenal salah ya karena mereka kaya atau karena terkenal?

Tadinya tidak terlihat salah sama sekali...

Tapi rata-rata orang yang berada di ketinggian akan dianggap bersalah dan dituntut oleh orang-orang di bawahnya. Meskipun mereka belum tentu bersalah.

Ketidakpantasan


oleh Hasan Al-Jaizy


[1] Saya tidak pantas memakai kaos tak berkerah.
[2] Saya tidak pantas mengajar kursus English.
[3] Saya tidak pantas bertapa di pasar.
[4] Saya tidak pantas banyak bercanda, baik di sini atau di sana.

Saya tidak pantas begini begitu....karena saya begini begitu...saya, saya, saya, saya....kenapa selalu berucap 'saya'!?

Friday, January 11, 2013

Belum Kiamat, Tetapi [Kayaknya] Sudah Terlambat

oleh Hasan Al-Jaizy



Tahun-tahun belakangan dan sampai sekarang atau sepertinya masih terus berlanjut, sebut saja mas Justin Habibers dan teman-temannya selalu meledek orang-orangan sawah yang celananya terangkat itu, "Surga sudah kalian pesan ya? Kalian pemegang kunci surga ya? Kalian punya hak menentukan siapa masuk surga siapa masuk neraka ya?"

Tapi, mas Justrin Habibers dan Supi Herandehs juga konco-konco dari perguruan silat sealiran sepertinya hari-hari ini sedang sibuk. Atau mungkin sedang menikmati masa liburan kuliah. Atau memang tutup mata tutup telinga jika ternyata ada seorang sesepuh mengatakan:

"Siapa yang tidak memilih pilihan kita, yaitu Raja Dangdut, ketika dia wafat, dia tidak masuk surga!"

Wednesday, January 9, 2013

Keturunan Orang Hebat/Kaya Itu CUCIAN


oleh Hasan Al-Jaizy


[1] Keturunan Orang Hebat 

Cucian sekali jadi keturunan orang hebat. Jika bapaknya adalah Ahli Hadits, misalnya, lalu kelak saat anaknya juga menjadi Ahli Hadits, maka orang-orang akan berkata, "Wajar toh yo!? Wong bapake Ahli Hadits koq. Anake ya ga jauh-jauh. Di rumah pasti banyak buku berjejer. Tiap hari anake pasti disuruh telan satu persatu. Yo biasa baek lah anake jadi Ahli Hadits!"

Tetapi, jika bapaknya Ahli Hadits, sementara anaknya jadi penjahat, orang-orang berkata, "Loe tuh ye!? Gaya loe emang keren...loe tuh ye!? keluarga loe emang beken!? Tapi otak loe kagak loe pake! Bapak loe tu ulama, loe malah begajulan begini."

[2] Keturunan Orang Kaya

Keturunan orang kaya juga ada cuciannya. Jika ortunya wong Kraton, misalnya, ketika dia jadi seorang pangeran, orang-orang berkata, "Ra istimewa! Nepotisme! Jadi raja cuma berkat keturunan. Belum tentu layak."

Tetapi, jika bapaknya raja/presiden yang kaya, anaknya tiap hari having fun di diskotik, orang-orang berkata, "Gila lu, bro. Lu kan anaknye raja dangdut ngeraja dan muka para habaib yang ngedukung bokap lu itu. Bonyok [bokap-nyokap] lu bisa tengsin abis, bro!"

[3] Keturunan Orang Ndeso

Keturunan wong ndeso, datang dari deso dengan ke-ndeso-an tak terampuni, menuju kota besar. Sampai di kota, ia buka usaha dagang beras. Bertahun lamanya hingga ia sukses dan tidak kelihatan ndeso lagi. Suatu saat, sebuah channel TV mendatangi toko besanya dan hendak mewawancarai. Setelah wawancara, pihak TV memuji, "Inilah si Paimin. Datang dari desa, ke kota, keturunan desa, rejeki kota, dulu dilangkahi orang kota, sekarang mengangkangi orang kota. Hebat! Respect! Visca Barca! Vamos La Liga!"

Tetapi, ternyata si Kartiman [31 tahun], datang ke kota dengan mengerahkan segala ke-ndesoan-nya, memasuki sebuah gedung untuk melamar kerja. Ia pun mendapati lift. Baru kali itu ia melihat ada lift. Di dekat lift, ada tombol sirine kebakaran. Karena kepingin tahu, dan berharap pintu lift terbuka, akhirnya ia pun memencetnya dengan ketulusan yang tak tertandingi. Sirine menggema. Semua orang panik. Lha, dianya malah ketawa sendiri. 'Wong kuto edan kabeh. Koyo ga pernah ngerungo'ke bunyi klakson ae! Dasar kuto ijo!' batinnya mengejek.

Nah, kalau diceritakan seperti ini, orang-orang akan berkata, 'Wajar, wong ndeso!"

[4] Keturunan Orang Miskin

Saya orang kaya, jadi tidak tahu seperti apa cerita orang miskin. 

Manusia Paling Ngepot

oleh Hasan Al-Jaizy


Manusia paling repot adalah yang ngepot di sana di sini; dan kelak justru akan jatuh sendiri. Manusia yang paling repot dan ngepot adalah yang mengurusi manusia, bukan kebaikannya, namun keburukan dicarinya.

Penelitian terburuk adalah penelitian terhadap keburukan orang lain. Semakin sering waktu dihabiskan untuk meneliti keburukan orang lain, semakin sempit waktu tersempat melihat keburukan sendiri.

Manusia-manusia ngepot adalah yang tak henti berburuk sangka pada manusia, entah manusia tertentu, atau umumnya.

==> Ketika kita mengatakan sesuatu atau menulis sesuatu yang baik, mengapa manusia katakan, "Jangan mudah tertipu dengan kalam atau tulisan yang baik; Belum tentu empunya baik."

Tuesday, January 8, 2013

Pengajian N.A.T.O. [No Amplop Thanks Only]


oleh Hasan Al-Jaizy


Bukan kata 'mungkin' yang saya sematkan, tetapi kata 'pasti'. Ya, itu untuk kalimat ini:

"Pasti ada di antara manusia yang berfikiran bahwa ustadz-ustadz pengajian itu tidak usah diberi apapun, melainkan kalimat: Syukran, Jazaakallahu khaira dan Barakallahu fiik."

Karena ternyata memang itu terwujud. Beberapa ikhwah yang -alhamdulillah- berilmu tinggi, saking mendetailnya dalam menyelami perkara halal dan haram, akhirnya mengharamkan gaji guru agama, ustadz pengajian, hingga menafikan keberadaan yayasan pendidikan agama. Alasannya banyak dan dalilnya bertabur. Tapi, wallahu a'lam, memang bukan perkara mudah untuk memampukan diri menggabungkan antara teks dan konteks.

Seorang ustadz, ataupun guru agama yang sedang magang menjadi Habib, adalah manusia, yang juga membutuhkan sandang, pangan dan papan. Ia juga mempunyai tanggungan. Istri dan anak. Mengkonsentrasikan diri pada ilmu agama dan memusatkan ihtimam [perhatian] padanya bukanlah perkara mudah dan simple. Lebih-lebih jika ia merangkap, sebagai explorer ilmu agama dan ilmu umum. Perlu kecerdasan, tenaga dan motivasi yang kuat.

Jika meninjau secara nalar, justru guru agama itu seharusnya orang yang paling berhak dibantu jika kesulitan secara finansial. Tetapi, di wajah lain, sungguh hinanya guru agama/dai mengandalkan orang lain dalam menghidupi diri dan keluarganya. Bukan mentang-mentang berjasa dan berilmu, lantas hanya menunggu uang datang.

Sunday, January 6, 2013

Mencuci Kompor Di Kuburan Keramat


oleh Hasan Al-Jaizy


Ada baiknya para perjaka berterima kasih pada para pengompor yang menganjurkan mereka untuk menikah, atau memancing-mancing pembahasan. Karena ini adalah bab nasehat SELAMA tidak mengganggu, merong-rong atau menyakitkan. 

Karena kompor, jika tidak berhenti mengompori, bukannya justru memberi maslahat, melainkan mafsadar. Bayangkan saja panci putih yang terus dikompori tak henti-henti. Ia akan menghitam sebelum waktu yang tepat.

Mengompori boleh dengan candaan, bukan melulu kekakuan. Api kompor kadang bergoyang kesana-kemari, bukan. Tetapi, bukan berarti merendahkan kemudian, mengejek kemudian, hingga bahkan menghina terang-terangan.

Anda sudah memiliki pekerjaan dan penghasilan, bukan?