Showing posts with label Wahaby. Show all posts
Showing posts with label Wahaby. Show all posts

Tuesday, April 16, 2013

TERIMA KASIH, ASWAJA!

oleh Hasan Al-Jaizy


Dahulu, Al-Arify pernah berkata di depan umat manusia, "Terima kasih, Bush!" Kau akan bertanya-tanya, "Aduhai...gerangan mengapakah kau berterima kasih pada penjahat semacamnya? Sudah habiskah insan berbudi di bumi hingga kau berterima kasih pada penjahat ini?"

Tahulah kemudian alasannya, bahwa Bush telah berandil tinggi akan tersohornya Islam di hati-hati hari-hari kemudian. Bush betapa inginnya Islam terjatuh, selagi meredup cahaya dipunya. Namun, rupanya Islam membangkit dan semakin bersinar cahayanya.

Tuesday, January 22, 2013

Mengejar Wahabi + Mengeramatkan Kuburan Keramat!


oleh Hasan Al-Jaizy

Ternyata kita ini hebat dan keramat! Lebih keramat dari para wali Allah, yaitu para sahabat, tabi'in dan seterusnya.

Lho, kok bisa? Begini ceritanya:

Seorang salafi mengatakan kepada seorang Sufi:

Salafi: "Saudaraku, usahlah kau dan kawanmu merayakan Prophet's Birthday atau Hari Ultah Nabi 1434. Itu tidak ada syariatnya sama sekali."

Sufi: "Ah, kau ini. Usahlah larang-larang aku dan kawanku. Niatku baik, kau tahu?"

Salafi: "Iya, tapi hal semacam itu baiknya kita tinggalkan, kawan."

Sufi: "Memangnya ada pelarangan Maulid di Al-Qur'an dan Hadits yang berbilang begini: 'Wahai kaum muslimin, janganlah kalian bermaulid!" Ada tak?"

Monday, November 12, 2012

Mengejar Wahabi

oleh Hasan Al-Jaizy

Di beberapa daerah, Wahabi dikejar-kejar. Ada juga di suatu daerah, Wahabi diusir. Tapi, mau sampai kapan pun, Wahabi malah tambah nyebar.

Dongkolnya Pak De Su'aid sudah memuncak ketika dia melihat Suyuthi pulang dari ziaroh ke pondok Wahabi yang selama ini ia musuhi. Bahkan koran Terjajah sudah meliput dan menerbitkan hasil wawacandanya terkait pondok itu. 

Suatu hari, Pak De Su'aid berniat berbincang 4 mata dengan beberapa orang kepercayaannya secara terpisah waktu. Dia ingin mendapat masukan bagaimana caranya mengenyahkan Suyuthi tanpa dimarahi Haji Asnawi. Dan juga bagaimana memfitnah pondok sawah itu.

Orang pertama yang ditemui adalah dia yang disebut Syaikh Than, seorang kadzuub [pendusta kelas bawal merah]. Syaikh Than memiliki reputasi buruk sehingga pernah mendapat ban dan blokir dari beberapa admin forum-forum. Ia juga punya link menuju orang-orang Syi'ah, satanis kuburan. Percakapan mereka pun diadakan di bawah rimbunan pohon bambu. Tepat di purnama ke 2 pada bulan ke tujuh.

Pak Su'aid: "Bagaimana ini, gus Than!? Saya sudah tidak punya alih sabar ingin menendang anak itu. Apa hendaknya petuahmu agar aku melakukan sesuatu?"

Syaikh Than: "Tenang saja, Ki Sanak. Jangan gegabah dan terlalu kentara. Pasukan Mataram yang kita tahu, mereka ingin tegakkan NKRI terang-terangan. Mereka terlalu mencolok di mata rakyat. Sementara mereka sendiri tidak punya prinsip yang teguh selain kalimat, 'NKRI harga mati!'. Meskipun kita termasuk dari mereka, tetapi kita pergunakan cara lain!"

Pak Su'aid: "Rupanya aku sedang mendengar sebuah permulaan dari nasihat bijak dari engkau. Gerangan apa yang hendak kau sarankan untuk hamba?"

Syaikh Than: "Kau tahu aku memiliki kemampuan menyihir manusia dengan penaku dan kedustaanku?"

Pak Su'aid: "Maksudmu, tongkat sihirmu semacam pulpen or something?"

Syaikh Than: "Gila lu, Ndro. Tentu saja tidak. Kan sudah saya beri Combantrin. Haduh....fikirkan baik-baik, Ki Sanak. Aku bisa membuat 3 trilogi kitab yang semuanya telah tertata di fikiranku."

Pak Su'aid: "Saya berfikir ide mu pasti HEBAT!"

Syaikh Thann: "Ya iyalah! Masa Ya IAIN. Itu mah kampus anak saya!"

Monday, October 29, 2012

Cingkrangen...Jenggoten = Momok? Soleh?

oleh Hasan Al-Jaizy

Cingkrangen / Jenggoten...Momok?
Cingkrangen / Jenggoten...Soleh?

Pertama: Momok. Apa itu momok? Momok adalah sifat menghantui. Asalnya digunakan untuk mensifati sesuatu yang mengerikan dan berdampak buruk. 

Kedua: Soleh. Apa itu soleh? Soleh adalah baik atau benar. Dalam penggunaan bahasa kita, soleh bersinonim alim. 

Apakah cingkrangen itu wajib? Sebagian ulama mengatakan wajib, sebagian lagi mengatakan tidak wajib, namun menjadi wajib jika ketidak-cingkrangennya berdasar pada kesombongan. Kedua kubu memiliki dalil, alasan dan pendalilan.

Apakah jenggoten itu wajib? Zahir dari nash menghukumi wajib, karena diminta untuk 'membiarkan'. Ada juga yang memahami ketidakwajibannya. Tapi, perkara tersebut berlaku bagi yang punya. Bagi yang tidak punya, jangan

Kiranya Bermanfaat, Namun Rupanya Pendulang Dosa

oleh Hasan Al-Jaizy

Orang-orang merugi adalah yang tertipu dengan amalan baik mereka sendiri. Yakni, amalan tersebut dikiranya baik dan bermanfaat, padahal justru sia-sia atau bahkan mendatangkan mafsadat.

Ada hikmah dari 2 ayat ini:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِٱلْأَخْسَرِينَ أَعْمَٰلًا * ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

"Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya." [Q.S. Al-Kahfi: 103-104]

Diriwayatkan bahwa ayat ini berkenaan

Sunday, September 30, 2012

Logikanya Gus Su'aid


oleh Hasan Al-Jaizy

Rupanya, kebiasaan ngeritik orang yang dimiliki oleh Purnomo adalah turunan karakter bapaknya, yaitu Gus Su'aid. Gus Su'aid adalah orang terkenal; karena berprestasi dan jenius. Banyak hafalan, dapat gelar akademik di negeri padang pasir, pintar bicara dan 'nyelekit'. Kalau Purnomo suka sekali mengkritik orang2 atasan, seperti mudir, direktur, ketua organisasi dan lainnya, Gus Su'aid lebih suka mengkritik aliran-aliran yang menurut dia keras dan tidak sesuai pemikiran kelompoknya.

Mungkin ada yang bertanya, Sketsa II kemarin kok ga ono terusane? Malah buka lapak baru. Nah, yang bertanya begitu dalam fikirannya, berarti kena jebakan batman. Anyway....

Gus Su'aid ini dongkol sekali dengan ajaran dari pondok sebelah. Bukan karena ia dulu punya kenangan pahit bersama pengurus pondok tersebut, melainkan sekadar sebal karena pondok sebelah dia pandang begitu keras dan kaku. Dulu, terorisme yo ga ono. Sekarang, sikit-sikit tersiar kabar bom, tawuran, pelecehan pemeluk aliran lain dan sebagainya. Nah, Gus Su'aid ini kepingin semua orang tidak ekstrim dan harus sesuai pemikirannya. Bagi Gus Su'aid, semua aliran dalam Islam yo podo mlebu surgo; cuma caranya ya different-different [beda-beda...wkwk].

Akhir-akhir ini Gus Su'aid diwawacandai oleh beberapa wartawan utusan dari koran Terjajah. Kesempatan emas. Terlebih topik wawacanda mengenai ekstrimisme dan radikalisme yang terjadi. Berikut cuplikan singkatnya:

--> Terjajah: "Gus, sampeyan pernah bilang, pondok sebelah itu radikal dan ekstrim. Dasarnya apa?"

--> Gus Su'aid: "Dasarnya ya ga berdasar. Cuma sebal aja. Mosok pondok saya ngadain marawisan, langsung dibilang bid'ah. Pondok saya ngadain ziaroh ke makam Wali Band, langsung dibilang syirik atau pro-maksiat. Ntar jangan-jangan kalau saya ikut tawuran SMA, dibilang khowarij pula."

--> Terjajah: "Kalau dari sisi ilmiah atau dari tinjauan histroris?"

--> Gus Su'aid: "Ini cuma sisi perasaan saja kok. Kita kan sesama manusia kudu jaga perasaan antar kota antar provinsi. Kalau memang mereka beda kota beda provinsi secara adat atau ideologi, mbok yo jangan seudele ngecap kami bid'ah dan syirik gitu. Kalau tinjauan historis, se'...tunggu 2 hari lagi. Saya belum tahu jawabannya gimana. Ntar tak tanya anak sulungku, Purnomo. Dia lebih mahir soal merekayasa histroi. Sekarang dia lagi rapat di Forum Tahdzir Islamy [FTI]."

--> Terjajah: "Adakah kaitan radikanya mereka dengan luar negeri?"

--> Gus Su'aid: "Ada. Ya, karena dana pembangunan dan segalanya mereka dari negara padang pasir yang memiliki aliran air keras. Jadi, pendanaan juga memberi influence pada ideologi. Belum lagi, lulusan negeri minyak banyak yang ngajar dan mengajari faham radikal."

--> Terjajah: "Bukannya sampeyan juga ambil gelar doktor di negeri minyak?"

--> Gus Su'aid: "Itu dhulluuu..."

--> Terjajah: "Apakah Anda juga melabeli Raja Minyak sebagai pendana ekstrimis?"

--> Gus Su'aid: "Oh, tentu tidak. Harus dibedakan. Saya cuma melawan radikalisme, bukan individu tertentu terlebih Raja Minyak. Saya menghormatinya kok. Kamu tahu sendiri toh, saya dulu lulus di sana? Jangan sampai nanti ada pemberitaan bahwa saya mencaci Raja Minyak lho!"

--> Terjajah: "Tenang, Gus. Kira-kira, ada berapa pesantren beraliran ekstrimis radikal di negeri ini?"

--> Gus Su'aid: "Yang baru terdata, ada 12. Di antaranya: Al-Amak, Al-Jabar, Al-Kalin, Al-pukat, Al-Umni, Al-Asan dan lainnya. Biasanya ustadznya memakai nama Abu-abu gitu."

--> Terjajah: "Apakah di pondok yang Anda asuh sekarang ini, ada ustadz atau santri yang berpaham condong pada radikalisme?"

--> Gus Su'aid: "Ada, tapi jangan kasih tahu siapa-siapa ya. Ini rahasia! Jangan direkam. Saya bisiki saja."

"Namanya Suyuthi. Dia pintar membantah kami-kami para senior dan sesepuh. Makanya, kami berusaha buat dia tidak betah dengan cara memotong gajinya dengan alasan rasional."

Tuesday, August 21, 2012

MERACAU : Orang Yang Paling Banyak Musuhnya!

oleh Hasan Al-Jaizy

[Orang Yang Paling Banyak Musuhnya]

Orang yang paling banyak musuh atau calon musuhnya ada dua macam yang dipandang dari dua sisi: 

[1] Sisi Duniawi. Orang yang paling banyak musuhnya adalah orang yang terkenal dan tersohor. Semakin ia terkenal, akan semakin banyak musuh dan pembenci. Baik ia terkenal akan kebaikan atau keburukan. Karena kemasyhuran akan menawarkan rasa iri hingga dengki pada sebagian orang. Terlebih jika rupanya ia berprestasi, maka jumlah pendengki semakin banyak.

[2] Sisi Religius. Orang yang paling banyak musuhnya adalah orang yang berusaha mengamalkan Sunnah [jalan hidup] Nabi. Untuk saat ini, seringkali orang semacam ini dilabeli 'Wahabi' dengan alasan: celana terangkat, berjenggot, tidak ikut beberapa ritual umum yang diadakan dan diada-adakan mayoritas. Memang benar, ada perselisihan ulama mengenai hukum celana di bawah-atas mata kaki; namun yang mengamalkan celana di atas mata kaki, mereka mengamalkan hadits Nabi. Jika mengejek hal ini, sama saja mengejek sebuah hukum yang zahir. Ditakutkan ini justru menjadi tanda kekufuran.



Thursday, July 12, 2012

Humor Sufi...Lelucon Pak Habib

oleh Hasan Al-Jaizy

Humor Sufi...Lelucon Pak Habib

Humor Sufi, bersama Pak Habib -semoga Allah memberi hidayah padanya, kita, serta semua penghadir atau fansnya atau kolektor fotonya-:

[1] "[Salah satu] pemimpin Salafi-Wahabi sekarang adalah Abdurrahman assudaisiy [?] yg suaranya banyak di stel oleh masjid masjid ahlussunnah waljamaah. Ia adalah seorang wahabi yg telah mengarang suatu buku yg menjatuhkan hadits hadits shahih pada Shahih Bukhari."

[2] "banyak muslimin ahlussunnah waljamaah tidak tahu itu, dan menganggapnya suaranya bagus dan merdu, padahal Rasul saw sudah memperingatkan bahwa kelak akan muncul mereka yg membaca alqur;an dg baik namun hanya sampai tenggorokan saja, (hatinya tidak tersentuh kemuliaan dan kesucian Alqur;an) ........"

[3] "semoga Allah swt memberikan mereka hidayah, kita terus MEMERANGI mereka, bukan dg senjata tentunya, karena mereka adalah saudara muslimin kita namun salah arah karena KEDANGKALANNYA dalam syariah, kita berusaha membenahinya semampunya."


Kalau Anda semua membuka forum Majelis Rasulullah, rata2 tanya jawab dijawab dengan bahasa dan tulisan anak sekolahan yang tak tampak keilmuannya sama sekali. Kelihatan jelas tak terbiasa nulis. Kelihatan jelas asal-asalannya. 

Atau, kadang mirip bahasa SMS anak sekolahan. Jadi begitu ya ciri khas gaya penulisan seorang Habib? 

Tapi, sepertinya: jawaban2 di forum tersebut bukanlah sang Habib yang menjawabnya, melainkan orang2 suruhan yang memiliki background pendidikan bagus dalam pengetahuan Islam; meskipun apa yang mereka ketahui dan yakini belum tentu bagus. Dan kemungkinan besar, orang2 suruhan ini memang ada ilmunya, melebihi keilmuan beliau.

Saking berlimunya, MENGECER IJASAH ke orang2 awam...sepertinya mereka ini tiap hari dikunjungi 'wali murid' untuk bagi-bagi ijasah.

'Selama dibayar, ijasah ngalir terus....saldo berkurang ==> Ijasah ngadat."



Friday, June 15, 2012

MENGEJAR WAHABI : "Definisi Wahabi?"

oleh Hasan Al-Jaizy


[Definisi Wahabi?]

"Di kampung ane parah. Ada penceramah [baca: kyai] kondang diundang ke kampung buat ceramah. Ceramahnya emosional. Sampai di akhir ia berdoa: 'ALLAAHUMMAL'AN WAHHABIYYIIN' [Ya Allah, laknatlah orang2 Wahabi]. Masalahnya, ia adalah kyai terkenal, tapi kok melaknat begitu!?"

Di atas adalah seonggok cerita dari seorang teman sekelas di kampus, yang ia bukan seorang Wahaby [juga saya dan Anda], tentu saja muslim [juga saya dan Anda].

Pertanyaan ini selalu ada:

--> Apakah Wahaby itu?
--> Siapakah Wahaby itu?

Ada beberapa kisi-kisi:


1. "Wahabi adalah orang yang jenggoten"
Dalil: Ada ustadz pengajian dan majelis ta'lim menjelek-jelekkan lelaki yang berjenggot ; karena itu adalah ciri khas orang2 Wahaby.

Tanggapan: Rusak sekali. Bahwa Nabi, para sahabat, tabiin sampai beberapa kyai NU di masa lampau itu masyhur jenggoten. Ngakak berguling-guling lah kita kalau mereka semua disebut 'Wahabi'.


2. "Wahabi adalah orang yang cingkrangen"
Dalil: Masyhuur

Tanggapan: Tetap rusak. Karena ikhwan2 Jama'ah Tabligh juga memenuhi persyaratan ke-Wahabi-an: jenggoten dan cingkrangen. Namun mereka tidak tahu apa itu Wahabisme. Yang di fikirannya sebatas khuruj untuk dakwah, bagaimana caranya tinggal di masjid orang, dan...apa lagi?
Plus, beberapa tokoh Dragon Ball tidak pernah tahu Wahabisme. Ninja Hatori, dalam perjalanan mendaki gunung lewati lembah tak pernah disangka sebagai seorang Wahaby. Apalagi Wiro Sableng 212. Alih-alih disebut Wahabi, wong ngaji aja belum tentu bisa kok. Tapi, mereka semua cingkrangen!


3. "Wahabi adalah yang jenggoten, cingkrangen, suka membid'ahkan dan mengkafirkan kaum muslimiin"

Tanggapan: Mau berapapun persyaratan untuk masuk ke definisi Wahabi, tetap saja rusak. Wong otak orang2 anti-Wahabi saja sebenarnya sudah mulai rusak; cuma ga sadar saja. Nah, karena rusaknya itu, jadi lebay. Lebay dalam beribadah dan lebay dalam memahami perkataan orang.

Jadi, ketika ada orang yang mengatakan Maulid itu bid'ah [misalnya], langsung disebut 'Wahabi'? Lho, sebagian teman2 Ikhwani juga mengatakan 'Merayakan hari Ulang Tahun Nabi itu bid'ah' [meskipun bagi mereka: merayakan hari ulang tahun partai itu tidak bid'ah =DOR!]. Apakah mereka Wahabi? Tentu saja tidak!

Dan mengkafirkan ini seperti apa maksudnya ya? Kalau mengatakan: 'Orang2 Syi'ah [Imamiyyah] itu kafir; karena mereka menuhankan Ali dan para imam, mencela sahabat dan menuduh Al-Qur'an telah dirubah', ini adalah perkataan orang2 muslim keseluruhan. Oh iya, saya lupa kalau dedengkotnya sampeyan itu 11-12 dengan Syi'ah.


4. "Wahabi adalah yang berseberangan dengan Aswaja"

Tanggapan: Nah, ini dia yang kudu lebih digali lagi. Aswaja di sini Ahlus Sunnah versi siapa? 
Jangan sampai ada monyet mengaku-ngaku sebagai nenek moyang manusia demi mengangkat harkat-martabat monyet. 

Masalahnya, sekarang ada kelompok orang-orang yang merasa PALING BENAR, PALING BERILMU dan PALING BERKUASA UNTUK BERIBADAH mengaku-ngaku sebagai Ahlus Sunnah, padahal mereka ini Ahlul Bid'ah wal Jama'ah [Abwaja]. 
=> Mereka ini merasa paling benar sendiri; karena ga mau diprotes, dikritik padahal kritikannya disertai ayat Al-Qur'an dan Hadits.
=> Mereka juga merasa paling berilmu. Ada juga yang mengklaim berilmu karena mendapat sanad langsung; atau mendapat mimpi dari Rasul dsb. Benar, mereka adalah orang berilmu; karena mengilmui bagaimana caranya menipu.
=> Mereka juga paling berkuasa untuk beribadah. Lihat saja majelis dzikir dan ta'lim nya. Sudah mirip konser dzikir; ilmunya ga dapet. Kelihatannya berkuasa sekali di malam-malam berisik, gaduh, kampungan dan songong.

Apakah Aswaja yang dimaksud adalah yang tersifati seperti di atas ini?

Jika 'iya', maka banyak sekali orang2 Wahaby di dunia ini. Karena saya, keluarga saya, teman2 saya dan puluhan ribu orang berakal lainnya, mual melihat kelompok di atas. Dan kita semua berseberangan dengan mereka.


Beberapa kalimat:

STEP 1 => "Wahabi adalah orang2 yang merasa paling benar!"
STEP 2 => "ASW menyalahkan semua Wahabi!"
STEP 3 => "Orang yang menyalahkan orang yang merasa paling benar adalah orang merasa lebih benar daripada orang yang merasa paling benar"
STEP 4 => "ASW merasa lebih benar dari Wahabi yang merasa paling benar [menurut mereka]"

KESIMPULAN: "ASW adalah jenis orang yang merasa paling benar...merasa lebih benar dari siapapun"


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/404194039621987

Friday, June 8, 2012

Aswaja Layak Bersyukur

oleh Hasan Al-Jaizy

Sebagian warga Nahdlah seharusnya bersyukur atas keberadaan Salafi-Wahabi; karena dengan bertubi kritisasi dari SW kepada beberapa pemikiran mereka [terutama berkaitan dengan masalah Heresy], membuat sebagian warga kembali sadar bahwa mereka harus banyak membuka referensi dan turats. Itu adalah suatu gejala positif [sunda: positip]

Hal ini toh diakui beberapa individu hasil didikan An-Nahdlah. Tidak mengakui? Setidaknya, pura-pura lah tidak mengakui.

Begitu juga dengan beberapa warga SW; kritis itu boleh...bagus malah, jika itu ada manfaat yang membangun. Tapi, bibir tetap tersungging senyum dalam keseharian. Perkara ia telah melakukan heretic [selama bukan yang berbau kufur] itu sebaiknya tidak dijadikan topik di setiap detik setiap hari setiap masa. Ada masa-masanya juga kita saling merapat dan berjabat tangan.


Kalau ada yang bilang:
"Bubarkan Nahdlah! Penyebar heretics!"

Justru saya juga bisa katakan:
"Nahdlah itu besar dan andilnya juga besar. Yang ada, pengajianmu yang umurnya masih muda dan belum besar yang justru bakal dibubarkan."

Jika memang titik tengah itu ada, kenapa kita harus memaksakan diri melengsong kanan atau kiri? Bukankah keseimbangan itu ada di tengah? Bukankah fanatisme dan extrimisme itu ada di sisi-sisi?


Tuntutan ilmiah seperti ini setidaknya membangun raghbah, hasrat dan kecemburuan ilmiah dengan membuka kembali kitab2. Meskipun terkadang membuka-buka kitab untuk mencari-cari 'pembenaran', bukan 'kebenaran' atau spesifiknya: 'pembenaran untuk kelompok sendiri' bukan 'kebenaran untuk semua'.

Tapi, sudah patut disyukuri ada gerakan membuka-buka kitab. Karena semakin habis waktu membuka kitab, semakin sedikit waktu untuk berteriak. Semakin sedikit waktu untuk berteriak, semakin minimal pertengkaran yang 'tak-ilmiah'.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/401189786589079

Thursday, June 7, 2012

Asawah vs Sawah

oleh Hasan Al-Jaizy

ASW: "Mereka memang gemar menuduh kaum muslim melakukan perbuatan syirik"
SW: "Mereka memang gemar 'merasa' dituduh kaum muslim melakukan perbuatan syirik"

ASW: "Kami memegang teguh Fiqh Syafi'i dan mempelajarinya."
SW: "Benar; sekaligus pihak yang pertama melanggar atau tidak mengamalkan sebagian materi."

ASW: "Kalian merasa paling benar sendiri!!!"
SW: "Dan dengan kalimat itu, kalian merasa lebih benar dari kami. Lebih parah mana!?"

ASW: "Kalian adalah fitnah zaman ini!"
SW: "Tentu saja, itu bagi kalian = yang merupakan fitnah zaman lalu, kini dan seterusnya."

Label? No....just do what it is good...no need for labels

Wednesday, May 30, 2012

JaNgAn MaRaH YaAaCh!

oleh Hasan Al-Jaizy

JaNgAn MaRaH YaAaCh!

Kalau memang situ mengklaim dirinya seorang Salafy, yuk belajar bahasa Arab...minimal faham semua arti ayat Surat Al-Fatihah atau Juz Amma. Soalnya banyak loch yang terlabeli sebagai Ahlu Bida' tapi justru ilmu agama dan Arabic-nya ada...By the way, generasi Salaf pada berbahasa Arab lho. 

Kalau memang situ menisbatkan dirinya pada Salaf di dunia maya, yuk terus sebarkan ilmu, atau mencatatnya atau membaca. Jangan cuma sekedar ketawa, ngecengin kelompok lain di luar batas, atau jualan stempel. By the way, generasi Salaf rajin membaca dan belajar lho, bukan rajin jualan tawa.

Kalau memang situ mau seperti seorang pengikut Salaf, yuk posting yang bermanfaat. Ya, setidaknya ada usaha untuk menyebar kebaikan yang dipunya. Becanda boleh. Tapi, masak seorang pengikut Salaf getol dalam ngomongin orang lain, getol dalam bercanda, getol komentar ga ada cerminan 'thalib'-nya. Itu mah bukan Salaf, tetapi Saraf.

Kalau memang situ ingin menjadi orang yang di tengah, jangan marah ya dengan tulisan ini. Soalnya kalau marah, berarti 'ngerasa'. Ngerasa tanda-tanda bersalah. Nah, kalau bersalah seharusnya bercermin diri atau malah menyerang?


HaTi-hAtI lOcH:

Ketika situ mengklaim dirinya pengikut Salaf di tengah umat, nanti ditanya oleh saudara2 dari suatu kelompok: "Akh, antum bisa bahasa Arab ga?"
Kalau dijawab ga bisa sama sekali, nanti kena ejek lho. [Ini mungkin saja terjadi]. Dalilnya : "Setahuku, orang2 salaf di zamannya menggunakan bahasa Arab."
Bahasa Arab memang ga wajib. Tapi kalau nanti ditanya http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/395695120471879apa arti kata An-Nashr...kalau ga bisa jawab gimana? Bisa ditertawakan 20 pondok 'Salafiyah' yang rata2 pada jago bahasa Arab lho. 
Jadi, lebih baik tidak mengklaim kecuali saat ditanya.

Seenggaknya, yuk buka Al-Qur'an dan coba hafalkan ayat dan artinya. Yang penting ada usaha.



Monday, April 30, 2012

MERABA MEDAN: [7] ASWAJA: Kegoncangan Trinitas Tauhid?

oleh Hasan Al-Jaizy

Serial MERABA MEDAN VII

[ASWAJA: Kegoncangan Trinitas Tauhid?]

[A] Beberapa ulama dan kyai Aswaja, beserta murid-muridnya [semoga Allah merahmati mereka dan kaum muslimin keseluruhan] mengatakan bahwa Salafi-Wahabi memiliki "konsep trinitas dalam Tauhid". Dan seakan mereka mengkiaskan konsep Tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah dan Asma wa Sifat seperti konsep ketuhanan versi Katolik.

[B] Kyai yang paling Aswaja di antara mereka, Prof. Said Agil Siradj -semoga Allah memberi hidayah kepadanya dan kaum muslimiin keseluruhan-, pernah suatu ketika mengkiaskan 'Aqidah Agama Kristen Suriah [atau sekitarnya] seperti Aqidah Umat Islam', dengan mengkiaskan ke-Rububiyyah-an, ke-Uluhiyyah-an dan Sifat dan Nama-nama.


Bukan Trinitas Tauhid yang Goncang...

Tentu saja fakta A dan B begitu kontradiktif. 

Kenapa Aswaja menolak pembagian Tauhid menjadi 3? Tidak lain tidak bukan karena sentimen terhadap Salafi-Wahabi. Period!
Kenapa Pak Said justru mengatakan secara tidak langsung 'Aqidah Umat Islam adalah 3 Pembagian Tauhid', padahal ulama Aswaja lain justru menentang pembagian tersebut? Apakah antara Aswaja yang satu dengan lainnya saling bertentangan?

Jawaban: Selama bukan melawan Salafi-Wahabi, kita boleh berbeda dalam satu nama: Aswaja. Namun, selama dalam penentangan terhadap Salafi-Wahabi, kita harus bersatu dalam satu nama: Aswaja.

Saya berfikir seperti ini:
"Bukan Trinitas Tauhid yang Goncang...
Tetap Aswaja sendiri lah yang Goncang"


Perkataan dia: 'Salafi-Wahabi adalah bentukan Nashara' sudah bisa dipastikan berasaskan kejahilan, ketidaktahuan dan kemerasa-tahuan.

Karena statement di atas membutuhkan bukti ilmiah yang bersifat historis. Jika hanya berlandaskan sebatas fakta bahwa ikhwah Salafi-Wahabi mengatakan Tauhid terbagi menjadi 3, dan ada kemiripan dengan ketuhanan Katolik yang 3, maka ini merupakan bentuk kebodohan di puncak kedunguan; tak peduli apapun titelnya.

Karena para ulama dalam membagi tauhid menjadi 3 berlandaskan istiqra' [research] terhadap ayat-ayat dan jua hadits2. Plus, pemahaman pembagian 3 ini sama sekali tidak menabrak, bahkan menggesek panas Aqidah Islamiyyah sedikitpun. Pasalnya, jika kita membaca cermat penjabaran ulama tentang ketiga pembagian Tauhid, kita dapati hal tersebut benar-benar benar.

Penyangkalan itu sebenarnya terlahir dan terpusat dari hati mereka yang sudah terlanjur sentimen saja. 

===========================

Jika salafi-wahabi adalah bentukan Nashara, maka Aswaja adalah bentukan musyrikiin. Kenapa? Karena sebagian besar umat Aswaja adalah liker of 40 harian dan haulan. Tanyakan pada orang2 musyrik, apakah mereka melakukan ritual serupa berlandaskan ketepatan waktu dari hari kematian? Jika dijawab "Ya", maka kesamaan ritual haulan dengan ritual musyrik adalah ada!

Namun, tentu saja kita tidak mengatakan Aswaja adalah bentukan musyrikiin, Budha ataupun Hindu. Aswaja adalah bentukan kaum muslimiin, namun ada beberapa penyimpangan.


Dan kita semua -ulama atau awamnya- TIDAK MEMAKSA seseorang untuk mengamini pembagian tersebut, karena mungkin saja seseorang tidak bersedia membagi Tauhid menjadi 3, namun di hati dan amalannya mengamini segalanya tentang Tauhid.

Dalilnya: Para sahabat tidak ada yang mengatakan Tauhid menjadi 3, namun di hati dan amalan mereka -ridhwaanullahi anhum- mengamini ketiganya dengan sebenar-benar cerminan.

Sementara Ibnu Qayyim sendiri membagi Tauhid menjadi 2: Tauhid Khabary dan Tauhid Thalaby [dengan nama yang berbeda2], namun intinya sama dengan ketiga pembagian Tauhid. Wallahu a'lam.



Sunday, April 8, 2012

Mengais Kedustaan di Padang Kehabiban

oleh Hasan Al-Jaizy

Petikan dari sebuah forum Habib yang copas dari Majalah Cahaya Nabawy:

"Sejak hadirnya Wahabi, dunia Islam tidak pernah tenang penuh dengan pergolakan pemikiran, sebab kelompok ekstrem itu selalu menghalau pemikiran dan pemahaman agama Sunni-Syafi'i yang sudah mapan."


Tendang saja:

1. Sejak hadirnya Hwahabib2 trendy, tetangga sering terganggu ketenangan karena menyebarkan amar: "Sholawatanlah keras-keras!" Mereka tidak merasa ekstrim sama sekali. 

2. Sejak hadirnya Hwahabib2 trendy, pada baliho-baliho jalan seringkali terpasang wajah-wajah artis 'agamis'. Hebatnya, mereka berhasil mengalahkan trend orang2 partai soal pemasangan muka.

3. Pergolakan pemikiran itu sudah ada sejak keberadaan Khawarij. Kini ditambah lagi dengan berjamurnya Habib-habib yang sangat tidak 'habib'.

4. Tukang ngobral ijasah dan bid'ah pasti menganggap siapapun yang menentangnya sebagai 'ekstirimis'. Itu wajar, karena keberadaan penghalau/penentang menyebabkan rekening tak lancar mengalir lagi dan pamor akan hancur.

5. Agama Sunni [Islam yang sahih] yang sudah mapan? Jika sudah mapan, KERJAKAN yang SUNNAH, dan jangan semaunya MENGHASANKAN yang BID'AH. Lucunya, Pak Habib terbalik, bukan?

6. Memangnya yang Sunni cuma Syafi'iyyah saja? Ke mana Hanafiyyah, Malikiyyah dan Hanbaliah? Ups, jangan-jangan Syi'ah nanti disebut Sunni. Habiiis, mahkota di kepalanya hampir sama siiii.



Monday, March 26, 2012

Syi'ah Memang Licik!

oleh Hasan Al-Jaizy

Siapa sebenarnya penyebab kerusakan umat ini: Wahabi atau si anti-Wahabi!?

Fakta berbicara:

Wahabi dan ulamanya di Indonesia sendiri tidak berkenan mengganggu orang2 dan tetangga dengan shalawatan keras2 hingga terik gelap malam kelam. Sementara, majelis Rekening atau sejenisnya, bergetol-getol teriak di atas kuburan hingga malam sehingga mengganggu manusia. Ini kerusakan, bukan? FACT!!

Wahabi dan ulamanya di Indonesia mengatakan ini halal itu haram berdasarkan dalil qath'ie atau dzannie; jikalau itu sebuah ijtihad, insya Allah dimaafkan. Sementara, yang anti-Wahabi terkadang straight, namun terkadang geje...mengatakan ini bid'ah chasanah sembari terus menggali-gali dalil sampai ketemu...asal ketemu yang penting kena dan pas sesuai selera majelis, selera syahwat, selera rekening, selera ormas sampai ujung2nya menghisap 'Pria-Punya-Selera'

Wahabi dan ulamanya di Indoensia mengadakan majelis rata2 tenang, damai, adem, tentram, adil dan sejahtera tanpa adanya embel-embel bendera partai atau ormas, atau foto besar-besaaar di pertigaan jalan. Sementara yang anti-Wahabi mengadakan majelis motor-tanpa-helm, campur baur laki-perempuan sebelumnya, cekakak-cekikik, berisik atas nama shalawatan/qasidahan, tidak damai, dengan embel-embel bendera, dan tak lupa foto jepretan muka salon dengan bedak dan celak hitam di mata.

Saturday, February 18, 2012

Wah...Habib Bersanad!

oleh Hasan Al-Jaizy

Habib 'bersanad' yang mencela para ulama karena tak 'bersanad'; padahal ulama-ulama tersebut sudah mewariskan ratusan kitab ilmiah tak terbantah, hafal Al-Qur'an dan ribuan hadits serta ratusan kaedah. Ironi! Justru terbalik.

Justru terbalik. Yang tidak kelihatan ilmunya malah mencela yang benar-benar kelihatan ilmunya hanya karena satu alasan: SANAD. What a joke.

Kita tinggal menunggu sang habib -semoga Allah memberinya hidayah dan kita semua- jatuh dan dijatuhkan oleh diri sendiri. Kelak manusia akan meninggalkan individu2 yang mengaku berilmu/bersanad namun tong kosong. Kelak trend2 itu tak lagi laku; setiap trend ada masa expired-nya.

http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/332705383437520

Wednesday, February 8, 2012

Kutipan Kalam Syaikh Tentang Sikap Sebagian Salafi

oleh Hasan Al-Jaizy

 Menitip perkataan Syaikh ibn Utsaimin:

لكن بعض من انتهج السلفيَّة في عصرنا هذا صار يضلِّل كل من خالفه ولو كان الحق معه ، واتَّخذها بعضهم منهجاً حزبيّاً كمنهج الأحزاب الأخرى التي تنتسب إلى الإسلام ، وهذا هو الذي يُنكَر ولا يُمكن إقراره

"Tetapi sebagian dari yang mengambil manhaj Salafiyyah di zaman kita ini menjadi suka mengatakan 'sesat' SETIAP yang menyelisihi mereka meskipun kebenaran ada di pihak tersebut. Sebagian mereka [malah] menjadikannya manhaj HIZBY seperti manhajnya Hizb-hizb lainnya yang menisbatkan diri pada Islam. Inilah dia yang [patut] diingkari." 

[Liqo Al-Baab aL-Maftuuh: soal 1322]

http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/326134960761229

Thursday, January 19, 2012

Petantang Petenteng

oleh Hasan Al-Jaizy

Ada yang menentang dengan meng-klaim dirinya mencukupkan pada Fiqh Imam Madzhab 4 seraya mencakar nama-nama ulama fulan dan fulan.

Ada pula yang mengaku dalam ranah Fiqh mengambil madzhab Syafi'i dan dalam bidang aqidah mengambil aliran Asy'ary.

Kisi-kisi dariku: "Orang memakai baju bagus, salah dua tujuannya adalah agar tidak kelihatan aib/auratnya dan agar dianggap bagus"

Jika klaim boleh dikiaskan dengan baju, maka tanyakan padanya 'baju itu milik siapa? Punya sendiri atau sekedar memakai punya orang lain?" 

Jangan memakai baju bagus tapi bukan milik sendiri agar dilihat 'wah'
Jangan mengklaim diri sendiri begini begitu tapi nyatanya tidak agar dianggap 'wah'


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/312844765423582

Monday, January 16, 2012

LEARN FROM LIFE : 'Melihat Realitas"

oleh Hasan Al-Jaizy

Sungguh kita layak MEMAKLUMI keberadaan perkataan2 ini:

--> "Dakwahnya orang S-W keras dan tidak mengundang simpatik manusia"
--> "Orang2 S-W mudah membid'ahkan ini itu"
--> "Dakwahnya orang2 S-W cuma di FB dan cuma bisa COPAS. Listrik mati, ilang lah ilmu"
--> "Orang2 S-W paling suci sendiri; merasa paling benar"

Kenapa layak memaklumi? Kita tinjau dari 2 pihak:


PIHAK PERTAMA: [Tingkah sebagian]

a. Siapa mau pungkiri banyak dari ikhwan/akhwat yang baru kenal langsung masang petasan dan main keras-kerasan?

b. Embel-embel nama As-Salafy namun dakwah dengan petasan, mengundang emosi tetangga [kelompok lain]. Kalau dakwahnya sesuai dan dirinya memang berhak, it's fine.

c. Ketika keberadaan 'title'/jabatan As-Salafy tersebut, orang LANGSUNG MELIHAT DAN MENILAI begitulah dakwah Salafiyyah. Api jauh dari kembang.

d. Bertabur segala hasil copas, namun BELUM TENTU memahami keseluruhan saking semangatnya. Akhirnya, ketika ditanya, tak tahu jawaban. Ketika ditentang, mengumpat di balik tabir dalil atau menghapus comment atau me-remove daftar teman.

e. Newbie, ilmu dasar [ushul] belum mateng langsung mengangkat masalah khilaf, bid'ah, dan yang panas2.

f. Sebagian lempar tuduh sembunyi lidah. Melarang ber-hizb sendirinya hizby. 

g. Ahlu At-Tahdzir wal Jama'ah atau Ahlu Al-Jarh wa At-Tarjiih?

h. Sebagian anggap:'Semua yang beda warna, meskipun sedikit, tebas!'

i. Memasang status panas dan mengundang debat; tetapi ketika orang lain jadi kepanasan dan ngajak debat, langsung berlindung di balik ayat/hadits hasil COPAS yang melarang perdebatan.

j. Menghapus komentar2 yang berisi kritik pada dakwahnya. Ga mau dikritisi. Pokoknya ga boleh menyelisihi yang dianggap benar.

Sebagian seperti ini. Jangan salahkan manhajnya. Manhaj Salafy adalah pure Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Tapi, air keruh karena debunya dan sampahnya, bukan karena air aslinya.

Protes? Tidak terima? 
Silahkan. Mungkin karena terbiasa memprotes dan tak terima pandangan orang yang tak sesuai miliknya, segalanya kena protes.

Masih ga terima?
Ga terima?
Ga terima?
Ga terima?
Marah? Marah?
Ayo, keluarkan semua tuduhannya. Beli cap stempel sekalian. 

Tolak semua realitas lapangan, you could be a king of fanatic kingdom!


PIHAK KEDUA: [Tingkah Sebagian]

a. Fanatik golongan/ras/ormas/partai/keluarga

b. Buta mata buta hati tuli telinga picing mata besar mulut

c. Kesambet setan kuburan kebanyakan solawatan tahlilan langitan di kuburan

d. Nuduh orang sok benar sendirinya merasa sudah benar atau golongannya paling benar

e. Belagak moderat, pura-pura tidak tahu akan kepura-puraan golongan/ras/ormas/partai di tengah umat

f. Mata kelilipan maksiat, telinga kesumbat musik tahlilan, otak mampet, hati ketutup fanatisme, jiwa kerasukan bid'ah...cuma mulut doang yang terbuka

g. Trend...ibadah jadi trend...ormas jadi trend...majelis jadi trend...dzikir jadi trend...nasab Rasul jadi trend...ibadah jadi trend...kuburan jadi trend...

h. Bid'ah dibela-bela dengan tabir 'Bidngah Khasanah'...Yang jelas-jelas sunnah diejek

i. Bibir pada item...jantung juga mungkin

j. Kuburan pade bersihin, pade ramein...alesan tahlil, ngalap berkah, bakti wali...masjid dijadiin bioskop mingguan...hadir Jum'at aja

k. Disuguhin ayat/hadits, ngebayar pake kalimat manusia biasa

l. Memalsukan slogan Cinta Rasul atau Cinta Dzikir...inget Rasul cuma pas maulidan...dzikir cuma pas ngumpul ama orang banyak aja

m. Ntar ente kalo dikubur, jangan salahin orang injek2 kuburan ente, masang petasan di pemakaman ente, itu yang ente lakuin pas lagi idup.

Sebagian seperti ini. Siapa yang salah? Siapa yang salah? Kyainya? Syekhnya? Habibnya? Ustadnya? Atau...ormasnya?

Protes? Tidak terima? 
Silahkan. Mungkin karena hati tertutup baja fanatisme, semua fakta dan realitas ditolak mentah2. Bahkan jikalau matahari mendekat membakar kulitmu, kau kan tetap sangkal bahwa itu matahari.

Masih ga terima?
Ga terima?
Ga terima?
Ga terima?
Marah? Marah?
Ayo, keluarkan semua tuduhannya. Beli cap stempel sekalian.

Tolak semua realitas lapangan, you could be a king of fanatic kingdom!


Jadilah seorang yang fanatik, maka Anda akan menjadi orang yang merasa paling benar dan dianggap merasa paling benar!

Saya tidak memerintahkan siapapun untuk tersinggung, karena TIDAK ADA NAMA khusus disebut.

Bagi yang ngamuk, atau panas hatinya, berarti 'merasa'...barangsiapa yang 'merasa', berarti 'melakukan'....barangsiapa yang 'melakukan', maka ia HARUS 'merasa'...barangsiapa yang 'melakukan' tapi tidak 'merasa', maka mungkin ia orang gila


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/311084592266266