Showing posts with label Pelajar. Show all posts
Showing posts with label Pelajar. Show all posts

Wednesday, July 17, 2013

Mahasiswa Pelayar Comberan!

oleh Hasan Al-Jaizy

Budaya ngospek para plonco (calon maba yang sedang ikut kegiatan pengenalan terhadap kampus) dengan tarekat-tarekat HINA, meskipun atas nama 'Pengenalan Kampus' atau semacamnya, adalah budaya mahasiswa-mahasiswa rendahan yang sedang kuliah di kampus rendahan. Mahasiswa dan kampus yang menjunjung tinggi nilai pendidikan, moral dan kualitas didikan, tidak akan rela calon-calon penghuninya dihinakan, oleh mereka sendiri.

Syukur, tidak pernah di kampus saya ada planca-ploncoan. Bagi kami, hanya mahasiswa bodoh yang seperti itu. Menjadikan para maba terlihat bodoh, padahal mereka sendiri juga tergolong bodoh.

Selain itu, para mahasiswa yang merasa senior dan mengenal kampus, lagaknya seperti sudah layak dianggap senior dari segi kualitas. Mirip mayoritas mahasiswa pendemo; rata-rata mereka itu yang hobi tidur di kelas, main game di lingkungan kos, begadang dan hidup kesehariannya cuma bernilai lawakan rendah saja. Dan, menjelang hari ospek, mereka tiba-tiba menjadi orang paling sibuk dan paling terlihat seolah ingin 'mendidik'.

Andai memang mereka belajar sungguh-sungguh dan punya ilmu tinggi, takkan rela mereka mencoret-coret muka para calon mahasiswa, menyebut mereka binatang, menjadikan mereka serendah binatang, meminta memakan hal yang tak layak dimakan, memaksa mereka memakai aksesoris yang memicu gelak tawa dan banyak lagi. Para mahasiswa senior yang bodoh senang dan girang melakukan ini. Dan jika dosen-dosen mereka menjadikan hal semacam ini hal yang wajar, biasa, atau malah hiburan, maka...begitulah. Like dosen like mahasiswanya.

Wednesday, January 30, 2013

Menjadi Yang Terharap...Game Kekerasan

oleh Hasan Al-Jaizy


Menjadi Yang Terharap...Game Kekerasan

Menjadi Yang Terharap

Menjadi Yang Terharap

Selagi saya tahu bahwa menggapai cita-cita dan harapan itu bukanlah mimpi semata tanpa upaya menyicil tabungan langkah dan bergerak menunjunya, maka saya mengajak diri sendiri serta diri selain saya sendiri untuk tidak 'ngemeng' saja atau 'ngarep' saja.

Bahwa suatu asa akan terwujud secara absolut jika Allah wujudkannya. Namun, Allah takkan merubah suatu kaum hingga kaum tersebut berupaya merubahnya jua. Sementara, keadilan-Nya tertuang di fakta bahwa Dia takkan membebani hamba di luar batas kadar dan kodratnya. Artinya: Teruskan perjalanan entah sendirimu atau bersama kafilahmu dan berusahalah. Mungkin kau akan terombang-ambing sebelum tiba di dermaga, namun Dia lah yang akan sampaikan jasadmu menujunya.

Seperti seorang yang mempunyai cita sebagai penulis kelak. Tentu ia harus mencicil sedari benih cita-cita masih kecil tabungan-tabungan karya, asahan-asahan dan latihan-latihan. Konyol sekali jika ia berharap kelak mampu menjadi penulis handal sementara kesehariannya lebih suka mencokolkan mata pada TV dan mengaibaikan panggilan-panggilan buku, kertas dan pena. Oh, kini sudah modern...panggilan laptop dan gatalnya jemari.
 

Monday, January 28, 2013

Sebutan Faqih, Untuk Siapakah?

oleh Hasan Al-Jaizy


Fawaid 0027: "Sebutan Faqih, Untuk Siapakah?"

Saya akan memulai catatan kecil ini dengan sebuah hadits yang sudah lama sekali -alhamdulillah- saya hafal:

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

"Barangsiapa yang Allah kehendaki padanya kebaikan, maka Dia akan menjadikannya seorang Faqih dalam agama." [H.R. Bukhary (1/27), (4/103), (6/152) dan (9/125), Muslim (3/95), Ahmad (4/101), Ad-Darimy (230). Lihat: Jaami' Al-Ushuul fi Ahaadiits Ar-Rasuul, oleh Majd Ad-Diin Ibn Al-Atsiir, 3/8, Tahqiiq Syaikh Abdul Qadir Al-Arna'uth dengan Ta'liq dan Takhrij Syaikh Ayman Shalih Sya'ban, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah.] 

Hadits di atas adalah hadits PERTAMA yang saya hafal dalam mata pelajaran Hadits saat baru duduk di bangku Muthawassithah [setingkat SMP] kelas 1 di Pondok Pesantren Islam Al-Irsyad Tengaran. Guru saya kala itu adalah Ust. Naharuddin Syuhada -hafidzahullah-. Beliau lah yang mengajarkan saya beberapa hadits. Kami masih ingat ketika itu kitab hadits yang sangat sederhana, bersampul jingga dengan faedah yang semoga teringat selamanya.

Hadits ini sangat agung. Makna yang terkandung sangat patut direnungi; sehingga diharapkan menghasilkan motivasi ataupun iradah [kemauan] bagi pembaca yang belum menuntut ilmu syar'i sama sekali agar memulainya, dan bagi yang sudah menuntutnya -baru atau sudah lama- terus melakukannya hingga akhir hayat.

Sunday, January 27, 2013

Kerennya Ilmu Perbandingan

oleh Hasan Al-Jaizy

Ilmu paling keren itu ya ilmu perbandingan. Seperti ilmu perbandingan agama [Muqaaranah Al-Adyaan], atau ilmu fiqh perbandingan [Fiqh Al-Muqaaranah] atau lainnya kalau ada lagi. Kok paling keren:

Karena seolah-olah pelajarnya atau pegiatnya itu TAHU banyak. Tahu sana sini. Tahu ushul agama seberang. Tahu metode istinbath madzhab-madzhab. Nama yang cukup keren: Kristologi! Beuh. Lalu ada tulisan, Pak Fulan, pakar Kristologi. Keren sekali. Lalu, beberapa anak muda jadi ingin menyelami Kristologi karena 'kerennya'. Dalam bayangannya, kelak ia akan jadi orang besar dan tahu agama lain, seluk beluknya hingga mampu membantah hujjah agama lain.

Tapi, ngakaknya, ternyata ushul agama sendiri belebek-belebek. Ketika ditanya Rukun Islam dan Iman, mikir dulu. Ketika ditanya perkara lainnya yang dharury [yakni: yang tidak layak seorang muslim tidak tahu], jawabnya ngaco. Ditanya: "Allah itu ada di mana?"

Jawabannya malah: "Allah ada di mana? Allah ya ada di mana-mana!"

Pengangkatan Derajat Orang Alim

oleh Hasan Al-Jaizy


Fawaid 0025: "Pengangkatan Derajat Orang Alim"

Allah Ta'ala mengabarkan secara khusus tentang diangkatnya derajat orang berilmu dan beriman. Allah Ta'ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا۟ فِى ٱلْمَجَٰلِسِ فَٱفْسَحُوا۟ يَفْسَحِ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟ يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍۢ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌۭ

"Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." [Q.S. Al-Mujaadilah: 11]

Rasulullah -Shallallahu alaihi wa Sallam- bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

"Sesungguhnya Allah mengangkat dengan Al-Qur'an beberapa kaum dan Allah pun merendahkan beberapa kaum dengannya." [H.R. Muslim, no.817 dan Ahmad no.232]

Saturday, January 26, 2013

Lelucon Konyol Saat Ini

oleh Hasan Al-Jaizy

Membuat status, bagi saya, tidak hanya belajar menulis saja, tapi setelahnya mempelajari reaksi manusia. Setelah menulis tulisan humor, bagaimana reaksi manusia. Begitu pula dengan tulisan full-sarkastik. Dan saya berusaha mempelajari siapa-siapa yang mengomentari, bentuk reaksinya, gelombang emosinya, susunan kalimatnya dan seterusnya. Hal semacam ini menarik, bagi saya pribadi. 

Dan berbulan belajar, saya banyak menarik kesimpulan. Biarlah itu disebut subjektif. I tell you this: Jika penilaian Anda disebut oleh orang lain 'subjektif', maka ketahuilah bahwa penilaian dia terhadap penilaian Anda bisa juga sendirinya 'subjektif'. Jadi, belum tentu penuding 'subjektif' lepas dari subjektifitas tudingannya.

Tulisan yang murni ilmu dan ilmiah tentu kurang laku. Bandingkan saja dengan tulisan humor atau sarkastik atau nyolot dan sebagainya. Satu sisi, ini wajar. Sementara di sisi lain, ini tidak wajar. Kita, yang 'katanya' atau klaim kita sendiri, mengagungkan ilmu, ternyata tidak sesuai klaim kita. Dan ini juga cerminan untuk saya pribadi. Kita ini kadang-kadang konyol kesumat. Melawak tanpa sadar. Sadar ilmu tapi kok gemar lawakan dan loyo akan ilmu.

Friday, January 25, 2013

Tak Kasih Tahu Step-stepnya


oleh Hasan Al-Jaizy

Tak kasih tahu step-step-nya:

[1] Tanam kecintaan atau fanatisme tersembunyi pada suatu golongan. Kemudian:

[2] Kritik pedas-pedas terus mereka yang belajar, mengamalkan dan mendakwahkan Sunnah, tapi lembek terhadap bid'ah dan pelakunya. Kemudian:

[3] Bongkar zallat dan kesalahan para asatidzah dari golongan itu. Kemudian:

[4] Mulai belajar kritik Al-Albany dan semacamnya. Bisa dimulai dengan sindir-sindiri dulu, not straight, tidak langsung. Tapi, kelamaan akan berani jika sudah 'merasa' cukup ilmu dan senjata pembantahnya. Jika Al-Albany sudah bisa dikritik, otomatis yang 'selevel' di bawahnya sangat lebih bisa. Kemudian:

[5] Telaah karya 3 mastero: Ibn Taimiyyah, Ibn Qayyim dan Ibn Abdul Wahhab. Pelajari sejarah hayat mereka dan karya-karya mereka. Untuk apa? Untuk mencari apa yang perlu dikritisi. Kalau ketemu, catat dan kumpulkan bahan bantahan. Atau pakai trik sebelumnya, boleh pakai sindir-sindir dulu, tidak langsung dan tidak sharih. Kemudian...

...kemudian...pertanyaan kita adalah, "Apakah benar kita mencari ilmu?"

Mungkin langkah-langkah di atas tak Anda lihat gejalanya pada manusia kini. Dan betapa banyak kini yang mencari ilmu. Tapi...

"Apakah benar kita mencari ilmu?"

Thursday, January 24, 2013

PINTER DIKIT dan MODERN DIKIT I

oleh Hasan Al-Jaizy


Sekarang, selain dituntut 'pinter dikit', ternyata kita kadang tertuntut untuk modern dikit. Kenapa dituntut pinter dikit? Karena zaman sekarang informasi itu bagaikan banjir tak bermusim. Maksudnya, karena tidak ada musimnya, jadi banjir terus. Tiap hari [pagi, siang, sore, malam] Anda bisa menikmati luasnya pemandangan dunia, baik dengan audio maupun visual. Kenapa tertuntut modern dikit? Karena Uwong ndeso saja sudah kenal HP bagus, sewajarnya uwong kuto harus lebih bagus lagi. 

Natijah Tuntutan Pinter

Di antara natijah tuntutan pinter dikit adalah menukil dengan menyebutkan sumber nukilah. Kalau Anda perhatikan buku karya modern, terutama yang berkaitan dengan Syariah [mencakup Aqidah, Al-Qur'an, Hadits, Fiqh, Akhlaq dll], kita mulai terbiasa melihat footnote di hampir tiap halaman. Cobalah Anda beli 5 buku yang semacam itu. Dikit-dikit, ada tulisan H.R. Bukhari, atau nama-nama kitab yang dinukil isinya. Baca buku semacam itu selama 1 bulan. Nah, di bulan kedua, beralihlah ke buku yang kering kerontang akan footnote. Isinya seolah-olah pendapat pribadi penulis, tanpa mengutip dari sumber lain. Anda akan merasa kekeringan. Kenapa? Karena terbiasa bermain di taman yang penuh bunga footnote. Dan ini adalah salah satu bentuk 'pinter dikit'; yaitu tumbuhnya benih kritis dan tidak cepat percaya. 

Saturday, January 12, 2013

Cerita Pendek Kenangan Masa Itu

oleh Hasan Al-Jaizy


2005 dulu, ada seorang murid bernama Zubaidah. Ia dijuluki Benyet. Umurnya kisaran 14 kala itu. Mungkin kelahiran 1991. Ia adalah anak Dayak. Keluarganya penganut Kristen. Ia, bersama adiknya yang lugu namun nakal, masuk Islam. 

Keduanya tinggal bersama kami, di Pondok pelosok Parit Sembin, Kalbar. 

Zubaidah, suatu hari dalam masa haid, berkata kepada Bu Ina, pengasuh asrama putri, yang terbuat dari kayu dipenuhi anak-anak miskin dan yatim piatu, "Bu Ina, aku kangen membaca Al-Qur'an."

*******

Masih 2005, ada seorang murid putri bernama Hosna. Ia pelajar berusia 14 tahunan. Anak Madura. Bersekolah di pondok kami, namun tidak tinggal di asrama. Ia pulang balik tiap hari ke rumah. Letaknya beberapa kilo. Perlu lewati beberapa hutan karet. Yang jikalau saya bayangkan gadis-gadis kota ini bernasib seperti dia, mungkin celana-celana akan cepat basah.

Monday, January 7, 2013

Untuk Tiapnya BERDERAJAT!

oleh Hasan Al-Jaizy


Semester satu ketika itu...

Seorang mahasiswa presentasi di kelas. Mata kuliah Fiqh Muqaranah [perbandingan madzhab] dalam dirasat Fiqh Ibadah. Tepatnya dalam bab shalat. Dosen kami, Ust. Bakrun Asy-Syafi'i MA, melatih murid-murid kecilnya untuk punya kebiasaan presentasi dan menelaah ke kitab asal.

Mahasiswa tersebut membahas suatu permasalahan fiqh [dalam bab shalat]. Ia mulai menjabarkan beberapa pendapat dari berbagai madzhab Fiqh. Selesai membocorkan pandangan madzhab Syafi'i, si murid dihadang sang guru.

"Ente tau darimana Syafi'iyyah berpendapat seperti itu?" tanyanya dengan bahasa 'padang pasir'.

"Ane tau dari kitab-kitab mereka, Ustas!"

"Sebutkan kitab-kitab tersebut juga pengarangnya!"

Lalu si murid menyebutkan satu persatu kitab-kitab madzhab terkait dan pengarangnya. Sang guru angguk-angguk.

Saturday, January 5, 2013

Senior Tetapi Hakikatnya JUNIOR

oleh Hasan Al-Jaizy


Mungkin seorang yang 'baru' bisa mengulik dan menerbitkan sebuah artikel ilmiah, ketika melihat orang lain hanya menulis tulisan ringan, hatinya bercerita, 'Hehe. Punyamu masih kalah jauh dari punyaku. Punyamu hanya kalimat biasa, sedangkan punyaku adalah upayaku menggali kitab ulama, menyusun dan mendalaminya.'

Atau seorang yang 'baru' bisa men-takhrij hadits-hadits, pintar menggunakan perpustakaan elektronik dan membuka kitab-kitab tebal, ketika melihat orang lain hanya bermodal 'nukilan' pragmatis, hatinya bercerita, 'Punyamu bukanlah apa-apa dibanding punyaku.'

Mungkin juga seorang yang 'baru' bisa memahami bahasa Arab dan kaget dengan gemerlapnya kitab2 elektronik atau ebook, ketika melihat orang lain hanya bisa memahami terjemahan fatwa, terjemahan kitab dan sebagainya, ia akan bergumam, 'Jangan cuma bisa baca terjemahan. Kalian itu bukan apa-apa. Belum seberapa. Hargailah saya yang tidak [mau] baca terjemahan, tetapi harus ke sumber asli dengan bahasa Arabnya.'

Friday, January 4, 2013

Memasang Kompor Di Atas Kuburan Keramat

oleh Hasan Al-Jaizy


Kalau saya perhatikan, situs forum ilmu syariah terbagus itu -sebatas pengetahuan saya- adalah ahlalhdeeth. Pernah saya melakukan komparasi atau perbandingan kecil-kecilan antara ahlalhdeeth dengan forum ilmu syariah lainnya. 

Kesimpulan sementara: Forum ahlalhdeeth memang benar-benar untuk thullab al-ilm. Sementara ada satu dua forum lainnya bukan untuk thullab al-ilm, melainkan lintah-lintah dan lalat-lalat penjilat bangkai. Wah, buruk sekali penyifatan dari saya. Kok begitu?

Karena perbandingannya begini:

Coba perhatikan di antara Muntada dalam Ahlalhdeeth, apa yang paling banyak/laris?

[1] Muntada Rehat/Istirahat, berjumlah 16.000 thread lebih.
[2] Muntada Syar'i Aam, berjumlah 35.000 thread lebih.
[3] Muntada Khizanah Kutub/Abhaats, berjumlah 33.000 thread lebih.

Wednesday, January 2, 2013

"Aqil Ahli Andalus"


oleh Hasan Al-Jaizy

Diriwayatkan ada seorang bernama Yahya bin Yahya melakukan safar untuk mencari ilmu menuju kediaman Imam Malik. Dan ia (Yahya) saat itu masih kecil. Lalu ia pun mendengarkan Imam Malik hingga memahami banyak perkara agama. Imam Malik kagum akan kepribadian dan kepintaran Yahya. 

Diriwayatkan suatu hari Imam Malik sedang duduk bersama beberapa temannya di suatu majelis. Lalu ada seseorang berkata, "Hey, ada gajah!" Maka, kawan-kawan Imam Malik pun keluar untuk melihatnya. Kecuali Yahya, ia tetap terduduk di tempatnya.

Imam Malik bertanya padanya, "Kamu tidak [ikut] melihat gajah itu? Gajah tidak ada di Andalus!"

Maka Yahya berkata pada beliau, "Aku datang ke sini jauh dari negeriku untuk melihatmu, belajar dari ilmumu, dan aku bukan datang untuk melihat gajah."

Seketika Imam Malik takjub dengan jawabannya. Beliau pun menjulukinya:

عاقل أهل الأندلس

********

Tamparan untuk kita.

Kita datang ke sana dari rumah untuk trend, sembari menikmati wajah penceramah.

Kita datang ke sana dari rumah untuk diketahui bahwa kita ce-esan.

Kita datang ke sana dari rumah agar jumlah dan hitungan absensi nama kita tak melebihi batas yang ditentukan manajer akademik.

Kita datang ke sana dari rumah agar melihat teman-teman, bisa ngumpul atau bisa kopdar.

Kita datang ke sana berharap menyimak sang ustadz mengomentari kejadian-kejadian terbaru, fitnah teranyar dan pembahasan tentang kelompok lain.

Kita datang ke sana karena apalagi............................?

Kita banyak-banyak bicara kita harus menimba ilmu dan mengamalkannya, dan ternyata.....

kita tidak seperti Aqil Ahli Andalus, kita seolah Aqil Akal Bulus.

Tuesday, January 1, 2013

Pencarian Ilmu dan Ikhlasmu

oleh Hasan Al-Jaizy

Sesungguhnya mencari ilmu syar'i adalah seagung-agung amalan; karena dengan ilmu syar'i, amalan syar'i akan tertegak dengan baik. Mencari ilmu syar'i adalah sebuah ibadah yang membutuhkan pula asas. Asas pertama ada di hati. Yaitu keikhlasan.

Sebagaimana masyhur sudah firman Allah yang mulia ini:

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ

"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan (IKHLAS) kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus." [Q.S. Al-Bayyinah: 5]

Maka sudah bukan asing lagi bahwa keikhlasan adalah sepenting-penting kepentingan sebagai asas dari segala amalan, baik itu pentingnya maupu tidaknya. 

Friday, December 28, 2012

HARAPAN Seorang Guru Di DEPAN Murid-muridnya [Sebuah Renungan]

oleh Hasan Al-Jaizy


Suatu hari, di tahun 1414 Hijriyyah, [hitung berapa tahun yang lalu], di negeri Saudi Arabia, ada seorang guru yang rutin mengajar murid-muridnya. Di sebuah majelis yang rutin digelar di hari tertentu. Majelis Mingguan.

Guru ini dahulu -di awal masa mengajar-, hanya dihadiri segelintir orang. Bahkan pernah hanya 1 murid. Namun tetapbersabar hingga berdatangan di bulan dan tahun berikutnya banyak dari murid.

Di suatu hari, tahun 1414 Hijriyyah, beliau mengucapkan ini:

الآن كتاب رياض الصالحين يُقرأ في كل مجلس ، ويُقرأ في كل مسجد ، وينتفع الناس به انتفاعاً عظيماً ، وأتمنى أن يجعل الله لي كتاباً مثل هذا الكتاب ، كلٌ ينتفع به في بيته ومسجده

"Sekarang, kitab Riyadhus Shalihin [karya An-Nawawy] dibaca di setiap majelis [ta'lim], dibaca di semua masjid, dan manusia mengambil manfaat darinya. Manfaat yang sangat besar! Aku BERHARAP Allah menjadikan untukku satu kitab seperti kitab Riyadhus Shalihin ini; sehingga semua orang mengambil manfaat darinya...di rumah...dan masjid..."

Siapakah guru ini?

Beliau adalah

Thursday, December 27, 2012

CAT : [76] "PENCARI KEBENARAN = PENGUMBAR BANTAHAN?"


oleh Hasan Al-Jaizy


[1]
Teman sekelas saya tinggal di rumah kos, di mana temannya berjualan kitab Arab dan Indo, serta berbagai barang lainnya. Rumah kos ini kerap dikunjungi mahasiswa LIPIA. Ada yang hendak membeli kitab, atau sekadar melihat-lihat dagangan, atau memang ziarah saja. 

Ada seorang mahasiswa suatu hari masuk ke toko ini [kos]. Ia melihat-lihat sejumlah buku. Tiba-tiba ia nyeletuk ke penjual yang didengar beberapa ikhwan, "Akh, kitab/pengarang ini bukannya sudah terbit buku BANTAHAN-nya?" Seketika, teman saya menjadi 'sebal' dengan kalimat itu.

[2]
Saya mempunyai sebuah tulisan di status. Itu adalah susunan kalimat motivatif dan inspiratif yang dikemas dengan style puitis. Di dalamnya saya bubuhkan beberapa nama orang terkenal. Di antaranya SBY, Chairul Tandjung, dan Syaikh Muhammad Al-Arify, kemudian ada seorang yang

Monday, December 24, 2012

CAT : [63] "EMBUN PAGI UNTUK GURU"


oleh Hasan Al-Jaizy


Tiada sebutan 'mantan guru' bagi guru yang ajarimu kebenaran, asahmu kebijakan dan asihmu kebaikan. Guru masa lalu tetaplah adalah gurumu. Guru adalah gurumu seterusnya. Karena melaluinya, kau ketahui ini itu.

Gurumu dahulu berangkat berjuang memperjuangkan ilmu dengan kayuhan sepeda. Atau ia rela menafkahkan keringat untuk bumi berjubel tubuhnya dengan kumpulan manusia dalam bis kota. Sebelum menjadi guru, gurumu belajar bertahun lamanya untuk membelai akalmu dengan sentuhannya.

Dan sungguh bangganya gurumu jika kelak mendapatimu menjadi orang mulia. Guru akan merasa mulia ketika asuhannya dimuliakan. Guru akan merasa sedih ketika didikannya dihinakan. Jika guru dan murid sejiwa sehati, maka itulah maqom tertinggi.

Guru telah terjaga sebelum subuh. Ketika itu kamu masih pulas di atas tempat tidur terkulai dalam pelukan akar-akar mimpi. Bunga tidur. Guru telah memikirkan tentangmu ketika kamu belum sempat mengingatnya. Guru kerahkan tenaga, upaya dan suara sebelun kau punya ketiganya. Guru letih sebelum kau letih.

Yaitu guru masa kecilmu. Entah ia guru mengaji atau madrasah. Jika kau di desa kala itu, masih ingatkah sepeda yang tiap hari dikendarainya? Jika kau di kota saat itu, kau pun belum tahu seberapa gajinya.

Sekarang, anggaplah kau bukanlah seorang guru. Kau membatin, 'Jika aku jadi guru, seberapa kelak gajiku?' Dan kau sadari gaji guru tak sebanding dengan keringatnya, jasanya, peirhnya, suaranya hingga tangisannya.

Betapa tidak mudah menjadi guru. Terlebih ketika dituntut agar kau mampu kuasai ini itu. Ketika kau gagal, guru menunduk. Wali murid hanya bisa mempertanyakan, mempermasalahkan dan mengkiaskan.

Tahukah apa di antara kepahitan guru? Yaitu ketika kau gagal atau tak memuaskan ibu bapakmu di madrasah, guru dianggap pencetusnya. Lebih pahit lagi jika kemudian guru tersebut dibanding-bandingkan dengan guru di madrasah lain. Sakit hati disakiti murid masih bisa dibasuh kemaafan. Tapi sakit hati disakiti wali murid tiada kiasan.

Guru-gurumu itu kini sudah menua. Kulit tangan mereka bergelombang. Wajah-wajah mereka tak secerah dulu lagi. Kau takkan melihat luka di sorot mata mereka; padahal dahulu mereka adalah orang-orang terluka.

Guru-guru akan merasa berharga jika murid kecilnya menjadi orang berharga. Guru-guru bahagia termuliakan jika ia mengetahui murid lamanya menjadi orang yang dimuliakan.

Sebelum wafat mereka, jika memang tak sempat kunjungi rumah mereka, kunjungilah kuburan kenangan. Di dalamnya ada kisah-kisah antaramu dan gurumu. Yang bisa menjadi pelajaran dan teks doamu untuk mereka....para guru!

Friday, December 21, 2012

CAT : [50] "BENDERA TAK LAYAK DIHORMATI!"


oleh Hasan Al-Jaizy


Tidak mesti orang yang keberatan menjawab 'Ngafwan, ana ga tahu' adalah orang yang berusaha berbicara melebihi kadarnya atau sok tahu atau lainnya yang bersifat negatif.

Karena bisa jadi ia keberatan mengucapkan itu setelah ditanya perihal suatu permasalahan, karena ia dahulu tahu jawabannya namun terlupa. Dan ia berusaha mengingat keseluruhan jawaban atau berusaha menata kalimat.

Kadang kita menyesal mengapa lebih banyak lupa dibanding lebih banyak tahu.
Lebih menyesal lagi jika ternyata kita tidak tahu bahwa kita banyak lupa.

Kadar kemampuan tiap orang dalam menghafal dan mengingat itu berbeda, seperti yang

Thursday, December 20, 2012

CAT : [45] "KESOMBONGAN TAK TERSADAR"

oleh Hasan Al-Jaizy


Apakah seorang alim [berilmu] bisa berlaku sombong?

Jawabannya: Bisa. Bahkan potensi untuk menjadi sombong besar sekali. Lebih besar dari potensi kesombongan pada orang jahil. Terutama jika sang alim tersebut adalah pelajar pemula, atau sedang keenakan bertingkah bagai 'ayam kaget'; yaitu kaget dan takjub dengan kemampuan diri, atau bergelimangnya kitab atau mashaadir ilmiyyah, atau kesenangan berada di tengah orang-orang berilmu. Sehingga kekagetan dan ketakjuban itu membuat lidah dan jemarinya membusurkan panah-panah tak layak terbang di angkasa.

Jadikan tulisan ini nasehat untukmu, saudara-saudari. Dan sebelum tulisan ini tertulis, penulisnya pun juga berusaha membenamkan diri pada cermin. Bila memang ini pahit untuk yang

Wednesday, December 19, 2012

Kita Adalah Pemula


Kita masih adalah penuntut ilmu tingkat pemula. Padahal sudah banyak buku yang kita baca. Padahal sudah banyak maraji' yang kita merujuk padanya. Padahal sudah belajar mendalami bertahun lamanya.

Tapi, kita masih adalah penuntut ilmu tingkat pemula.

Kenapa?

Karena masih ada panah kesombongan di hati kita...terhujam dari jemari dan lisan kita.

Kita masih adalah penuntut ilmu tingkat pemula.