Wednesday, May 30, 2012

Ada Anak Bertanya Pada Bapaknya

oleh Hasan Al-Jaizy

Ada Anak Bertanya Pada Bapaknya

Kita kembali menengok dan membenamkan pandangan dan fikiran pada realitas sekitar. Cobalah engkau lihat saudaraku di waktu Subuh, siapa dan siapa yang sempatkan diri ke mushalla-masjid tuk tunaikan shalat Jama'ah. Saksikan sendiri mayoritas adalah orang2 tua.

Pertanyaan: "Kenapa mereka sempat2nya berjama'ah?"

Pernyataan: "Kebiasaan membentuk seseorang. Mereka terbiasa sejak lama tuk berjamaah di masjid, meskipun kebanyakan mereka tak meyakini shalat berjamaah itu wajib; tapi habit menuntut diri tuk mewajibkannya. Dan manusia yang tak terbiasa, ia akan merasa berat melakukan sesuatu yang di luar kebiasaan."


Ada Anak Mengangkat Derajat Bapaknya...Ada Pula Anak Menyeret Jasad Bapaknya

Didikan Shalat vs Didikan Tidak Shalat

A. DIDIKAN SHALAT

Anak muda yang terbiasa mencium aroma mushalla, akan ringan kaki tuk pergi berjamaah. Bahkan bisa jadi ia justru mengalungkan hatinya di tiang-tiang mushalla; hingga hari terasa tak nyaman tanpa 'ziarah' ruhani. Seringkali itu karena didikan ORANG TUA di masa kecil, dan mungkin pula didikan sekolah-pesantren.

Orang tua yang mendidik anaknya shalat dan berbakti; kelak akan tersiram getah madu di kubur dan akhirat. Karena anak yang salih berpotensi besar mendoakan selalu setelah wafatnya; dan ganjaran amalan anak salih juga mengucur deras padanya. Sungguh mungkinnya orang tua terselamatkan berkah upayanya mendidik anak tuk tegakkan tiang islam dalam jiwa: SHALAT.


B. DIDIKAN TIDAK SHALAT

Sementara anak muda yang tak terbiasa merasuk ke barisan orang2 yang ruku', akan berat langkah menuju mushalla. Lebih buruk lagi jika wajahnya begitu kering akan basuhan wudhu. Naudzubillah. Seringkali itu karena didikan ORANG TUA di masa kecil, yang tidak peduli akhirat anaknya, akhirat dirinya, namun peduli sangat keduniaan keduanya.

Maka jangan sesali gerangan siapapun kecuali diri sendiri; ketika segala bakti si orang tua pada masyarakat, bangsa dan negara runtuh seketika ketika si anak di akhirat melapor: "Ya Rabb, sungguh tiada dulu ku dididik oleh orang tuaku tuk tunaikan amar-Mu!" Jika itu terlafadzkan, maka sungguh tiada yang lebih tersesali kecuali ketika seorang anak sendiri menyeret orang tuanya sendiri ke api yang menyala-nyala.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/395855140455877

JaNgAn MaRaH YaAaCh!

oleh Hasan Al-Jaizy

JaNgAn MaRaH YaAaCh!

Kalau memang situ mengklaim dirinya seorang Salafy, yuk belajar bahasa Arab...minimal faham semua arti ayat Surat Al-Fatihah atau Juz Amma. Soalnya banyak loch yang terlabeli sebagai Ahlu Bida' tapi justru ilmu agama dan Arabic-nya ada...By the way, generasi Salaf pada berbahasa Arab lho. 

Kalau memang situ menisbatkan dirinya pada Salaf di dunia maya, yuk terus sebarkan ilmu, atau mencatatnya atau membaca. Jangan cuma sekedar ketawa, ngecengin kelompok lain di luar batas, atau jualan stempel. By the way, generasi Salaf rajin membaca dan belajar lho, bukan rajin jualan tawa.

Kalau memang situ mau seperti seorang pengikut Salaf, yuk posting yang bermanfaat. Ya, setidaknya ada usaha untuk menyebar kebaikan yang dipunya. Becanda boleh. Tapi, masak seorang pengikut Salaf getol dalam ngomongin orang lain, getol dalam bercanda, getol komentar ga ada cerminan 'thalib'-nya. Itu mah bukan Salaf, tetapi Saraf.

Kalau memang situ ingin menjadi orang yang di tengah, jangan marah ya dengan tulisan ini. Soalnya kalau marah, berarti 'ngerasa'. Ngerasa tanda-tanda bersalah. Nah, kalau bersalah seharusnya bercermin diri atau malah menyerang?


HaTi-hAtI lOcH:

Ketika situ mengklaim dirinya pengikut Salaf di tengah umat, nanti ditanya oleh saudara2 dari suatu kelompok: "Akh, antum bisa bahasa Arab ga?"
Kalau dijawab ga bisa sama sekali, nanti kena ejek lho. [Ini mungkin saja terjadi]. Dalilnya : "Setahuku, orang2 salaf di zamannya menggunakan bahasa Arab."
Bahasa Arab memang ga wajib. Tapi kalau nanti ditanya http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/395695120471879apa arti kata An-Nashr...kalau ga bisa jawab gimana? Bisa ditertawakan 20 pondok 'Salafiyah' yang rata2 pada jago bahasa Arab lho. 
Jadi, lebih baik tidak mengklaim kecuali saat ditanya.

Seenggaknya, yuk buka Al-Qur'an dan coba hafalkan ayat dan artinya. Yang penting ada usaha.



Ada 2 Kesedihan

oleh Hasan Al-Jaizy

Ada 2 kesedihan: Kesedihan Kehilangan dan Kesedihan Harapan tak Kunjung Datang

[1] Kesedihan karena Kehilangan. Gambarannya banyak. Yang tersedih adalah kehilangan orang yang tercinta dan mencinta; seperti orang tua dan anak. Namun berapa banyak orang yang tenggelam dalam kesedihan karena ilmunya hilang? Tidak banyak. 

[2] Kesedihan karena Yang Terharap Tak Kunjung Datang. Gambarannya juga banyak; namun relatif tidak seharu macam pertama. Namun, perlu difikirkan pertnyaan ini: 'Ketika kita sedih karena harapan tak kunjung terwujud, sudahkah kita mengoreksi diri dan berfikir bahwasanya tidak semua harapan terwujud?' atau pertanyaan: 'Sudahkah kita berfikir dan menggali bahwa mungkin saja kita telah diberi sesuatu yang lebih baik dari yang kita harapkan?'

Ulangi dan gaungi pertanyaan2 ini tiap hari:

=> "Berapa banyak ilmu yang hilang dari diriku?"
=> "Mana yang lebih lama pada diriku: berfikir atau berharap?"
=> "Sudahkah kita menatap semua sisi hidup hari ini?"
=> "Sudahkan kita mensyukuri hal-hal yang agung dan terlupa?"

Galilah terus jawaban itu; karena sebenarnya kesedihan itu ada pada kita sendiri dan sangat mungkin kita lupa diri.



Takutlah Karena Berilmu

oleh Hasan Al-Jaizy

Renungan penting dan semoga mewariskan faedah dan kerendahan hati:

Firman Allah Yang Maha Mulia:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

"Sesungguhnya yang [benar-benar] takut pada Allah dari hamba-hambanya adalah para ulama." [Q.S. Fathir: 28]

Ulama adalah bentuk jamak dari Alim. Alim bermakna 'orang yang berilmu'. Ilmu yang dimaksud adalah ilmu agama Islam. Dan landasan utama agama Islam adalah AL-QUR'AN dan HADITS. Jadi:

"Tidak bisa disebut seorang alim kecuali ia mengilmui Al-Qur'an dan Hadits"


Takutlah karena Berilmu

Ibnu Mas'ud dan sebagian salaf berkata [ada beberapa versi]:

كفى بخشية الله علماً، وكفى بالاغترار بالله جهلاً

"Cukuplah takut kepada Allah sebagai ilmu dan cukuplah keterpedayaan dari [mengingat] Allah sebagai kebodohan."

كفى بخشية الله علما وكفى بالاغترار به جهلا

"Cukuplah takut kepada Allah sebagai ilmu dan cukuplah keterpedayaan/tertipu/merasa puas dengan ilmu [yang dimilikinya] sebagai kebodohan."


Sebagian salaf -rahimahumullahu ajmaiin- juga berkata:

ليس العِلْم بكثرة الرواية ولكن العِلْم الخشية

"Bukanlah [yang disebut] ilmu [yang hakiki] itu dengan banyaknya periwayatan, melainkan ilmu [yang hakiki] adalah rasa takut."

من خشي الله فهو عالم ومن عصاه فهو جاهل

"Barangsiapa yang takut kepada Allah, maka dia adalah seorang alim, dan barangsiapa yang durhaka/bermaksiat padaNya maka ia adalah seorang jahil [bodoh]."

Semua kalimat diambil dari Risalah Ibnu Rajab -rahimahullah- Al-Hanbaly yang berjudul 'Fadhlu Ilm As-Salaf ala Ilm Al-Khalaf'.


PERHATIKAN pula teks2 di atas, sebuah kata yang bermakna 'takut' yaitu khosyyah [خشية]. Sekarang ada pertanyaan:

Apa perbedaan antara Khosyyah [خشية] dengan Khouf [خوف], sedangkan keduanya sama berarti: TAKUT???

Yang ana tahu:

1. Khosyyah adalah rasa takut disebabkan mengetahui hakikat sesuatu/dzat yang ditakuti. Sementara Khouf adalah rasa takut yang tidak mesti disebabkan 'pengetahuan' hakikat sesuatu/dzat yang ditakuti.

2. Khosyyah adalah rasa takut yang terbalut 'pengagungan' terhadap pihak yang ditakuti. Sementara Khouf adalah rasa takut yang belum tentu mengandung pengagungan terhadap pihak yang ditakuti.

Maka, yang terpenting bukanlah kuantitas ilmu terkoleksi, namun kualitas ilmu termiliki. Betapa adanya seorang manusia menimba ilmu berkurun masa namun tiada Allah menghinakannya karena tidanya rasa takut dengan ilmunya. Betapa adanya seorang manusia menimba ilmu belum lama, namun Allah karuniai pada hatinya rasa takut dan penghambaan termulia hingga terangkat derajatnya.

Ilmu mengangkat derajat seseorang ketika berkahnya...menghinakan seseorang ketika sombongnya.

Selebihnya, wallahu a'lam. Semoga memberi manfaat.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/395082093866515

2 Trik Berantas Galau

oleh Hasan Al-Jaizy

2 TRIK MEMBERANTAS GALAU

Tidak khusus untuk bujang-perawan saja, namun mencakup siapapun yang merasa 'sepi'. Sepi itu tidak selalu bermakna tanpa teman. Karena bisa pula seseorang banyak teman, namun hatinya tetap kesepian, entah karena teman2nya tak mendukung jalan, atau karena ia tahu teman-temannya munafik.

Saat Anda merasa 'sepi' atau sedih, sementara teman atau pasangan tidak memberikan hingar kehangatan yang menyembuhkan, maka :


TRIK PERTAMA:

STEP 1=> Kunjungilah tempat yang banyak pohonnya. Ingat, tempat yang banyak pohonnya dan berbeda jenis pohon. Sendiri. Dan jangan lupa bawa MUSHAF [Al-Qur'an; kalau mau, yang ada terjemahannya]

STEP 2=> Duduklah dan perhatikan dedaunan yang diam sebagian menari sebagian.

STEP 3=> Lalu renungi bahwa dedaunan itu tidak bergerak sendiri. Pasti ada yang menggerakkannya seakan jemari yang lentik menari-nari. Dan ternyata angin lah yang menggerakkan. Sebagaimana kapal yang bergerak karena pengaruh angin.

STEP 4=> Buka Surat Ar-Ruum ayat 46:
وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَن يُرْسِلَ ٱلرِّيَاحَ مُبَشِّرَٰتٍۢ وَلِيُذِيقَكُم مِّن رَّحْمَتِهِۦ وَلِتَجْرِىَ ٱلْفُلْكُ بِأَمْرِهِۦ وَلِتَبْتَغُوا۟ مِن فَضْلِهِۦ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah bahwa Dia mengirimkan ANGIN sebagai pembawa BERITA GEMBIRA dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari RAHMAT-Nya dan supaya kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya dan (juga) supaya kamu dapat MENCARI KARUNIA-Nya; mudah-mudahan kamu BERSYUKUR."

STEP 5=> Perhatikan dan fikirkan dalam-dalam keseluruhan ayat dan terkhusus kata2 yang saya kapital-kan. Insya Allah akan terjawab.

STEP 6=> Ketika solusi, jawaban dan kehangatan telah membekam hati Anda, bersujudlah. Sesungguhnya Allah mencintai Anda.


 TRIK KEDUA:

STEP 1=> Kunjungi tempat tinggi, seperti bukit, atas pohon, kamar lantai atas atau atap rumah; direkomendasikan tempat yang bisa melihat angkasa dan luasnya bumi. Juga diiringi pohon-pohon. 

STEP 2=> Lihatlah burung2 yang beterbangan, kecil ataupun besar.

STEP 3=> Lalu renungi burung2 itu tidak menciptakan dirinya sendiri, melatih kursus untuk terbang dan induknya tidak pernah melatihnya terbang. Lalu siapa yang seimbangkan mereka? Dan siapa yang seimbangkan keceriaan mereka? Dan siapa yang seimbangkan kondisi hati manusia?

STEP 4=> Buka ayat2 ini satu persatu dan baiknya berurutan:

Al-Mulk: 19
أَوَلَمْ يَرَوْا۟ إِلَى ٱلطَّيْرِ فَوْقَهُمْ صَٰٓفَّٰتٍۢ وَيَقْبِضْنَ ۚ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلَّا ٱلرَّحْمَٰنُ ۚ إِنَّهُۥ بِكُلِّ شَىْءٍۭ بَصِيرٌ

"Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu."

Al-Mulk: 15
هُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلْأَرْضَ ذَلُولًۭا فَٱمْشُوا۟ فِى مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا۟ مِن رِّزْقِهِۦ ۖ وَإِلَيْهِ ٱلنُّشُورُ

"Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan."

Al-Mulk: 21
أَمَّنْ هَٰذَا ٱلَّذِى يَرْزُقُكُمْ إِنْ أَمْسَكَ رِزْقَهُۥ ۚ بَل لَّجُّوا۟ فِى عُتُوٍّۢ وَنُفُورٍ

Atau siapakah dia ini yang memberi kamu rezki jika Allah menahan rezeki-Nya? Sebenarnya mereka terus-menerus dalam KESOMBONGAN dan MENJAUHKAN DIRI?"

Al-Mulk: 23
قُلْ هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنشَأَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ ۖ قَلِيلًۭا مَّا تَشْكُرُونَ

"Katakanlah: "Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati". (Tetapi) amat SEDIKIT kamu BERSYUKUR."

Seberapa banyak kita bersyukur dan bagaimana kesombongan dan jauhnya kita dari Allah menjadikan kita berpedih dan bersedih!?


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/395226833852041

Tuesday, May 29, 2012

Menuju Puncak

oleh Hasan Al-Jaizy

Cara agar hati tertetap kuat dalam menapaki jalan menuju puncak cita dan asa adalah menanamkan fikiran dan keyakinan:

1. Bahwa selama cita dan asaku ini baik, maka Allah pasti menolongku dan memberikan jalan.

2. Bahwa segala goresan luka setelah terjatuh, terjelembab dan terhempas adalah penuh hikmah dan ibrah [pelajaran]; yang kelak akan mewariskan kenangan dan haru ketika sampainya aku di sana.

3. Bahwa kosakata 'berhasil' itu tidak ada jika kosakata 'ujian' tidak ada.

Dan yang terakhir:

4. Jikalau puncak tak kunjung terlihat, ku yakin Allah mengerti batinku dan mungkin ini belum waktunya. Jikalau aku tak pernah bisa melihat puncak, ku yakin Allah telah memberikan aku hal yang lebih baik dari yang terharap.

Hanya saja, lemahku sebagai manusia biasa, tak tahu akan hal itu semua.



Yakin dan Tawakkal

oleh Hasan Al-Jaizy

YAKIN dan TAWAKKAL

Yakin akan keberadaan hikmah dalam setiap lembaran keputusan Sang Hakiim adalah wajib; karena wajibnya kita berbaik sangka pada-Nya. Dan juga, ketika kita punya harapan baik, maka yakinlah bahwa kelak Allah akan meng-istijabah-nya cepat atau lambat. Namun ketika lama berupaya dan berdoa tak kunjung tiba yang terharap, maka tetaplah yakin bahwa Allah menangguhkan demi hikmah atau menggantikan yang lebih baik.

Berusahalah; karena itu bagian dari tawakkal kepada Allah. Menyerahkan perkara pada-Nya selagi berupaya adalah ciri khas seorang muslim yang kuat keimanannya. Ingin menjadi orang yang kuat? Bangunlah keyakinan dan bertawakkal....Bismillah!

Janganlah menjadi orang yang:

1. P̶a̶n̶j̶a̶n̶g̶ ̶h̶a̶r̶a̶p̶a̶n̶,̶ ̶i̶n̶g̶i̶n̶ ̶c̶e̶p̶a̶t̶ ̶d̶a̶p̶a̶t̶ dan ̶m̶u̶d̶a̶h̶ ̶b̶e̶r̶p̶u̶t̶u̶s̶ ̶a̶s̶a̶
2. M̶e̶r̶a̶s̶a̶ ̶b̶a̶h̶w̶a̶ ̶s̶e̶g̶a̶l̶a̶ ̶k̶e̶l̶e̶b̶i̶h̶a̶n̶ ̶d̶a̶n̶ ̶k̶e̶u̶t̶a̶m̶a̶a̶n̶ ̶a̶d̶a̶l̶a̶h̶ ̶m̶u̶t̶l̶a̶k̶ ̶d̶a̶r̶i̶ ̶d̶i̶r̶i̶n̶y̶a̶
3. P̶e̶l̶i̶t̶ ̶d̶a̶l̶a̶m̶ ̶m̶e̶l̶a̶n̶t̶u̶n̶k̶a̶n̶ ̶d̶o̶a̶,̶ ̶m̶e̶s̶k̶i̶ ̶h̶a̶n̶y̶a̶ ̶b̶a̶i̶t̶-̶b̶a̶i̶t̶ ̶d̶i̶ ̶h̶a̶t̶i̶


 Ayat-ayat Sang Rahman:

1. "Dan bertawakkallah kepada Tuhan yang Maha Hidup yang tidak akan mati." [Q.S. Al-Furqan: 58]

2. "Dan kepada Allah, hendaklah orang-orang yang beriman itu sama bertawakkal" [Q.S. Ibrahim: 11]

3. "Jikalau engkau telah bulat tekad -untuk melaksanakan sesuatu- maka bertawakkallah kepada Allah." [Q.S. Ali Imran: 159]

4. "Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, maka Dia pasti mencukupi untuknya." [Q.S. At-Talad: 3]



Thullab Al-Fitan II

oleh Hasan Al-Jaizy

Thullab Al-FITAN II

Dari akun seorang ikhwan, bahwa Ust. Yazid Jawwas menasihati:

"Perbanyaklah menyampaikan 'ilmu dan persedikitlah bantahan, dan para 'ulama' dahulu hingga sekarangpun melakukan hal yang sama. Mereka (para 'ulama) menulis 'ilmu sampai berjilid-jilid dan tebal-tebal, dan mereka menulis kitab rudud (bantahan) umumnya tipis-tipis."

Akhir-akhir ini justru saya menyaksikan beberapa ikhwan [apakah itu termasuk saya sendiri!?] MEMPERJARANG menyampaikan ilmu atau faidah dan MEMPERSERING postingan2 tentang perpecahan yang terjadi di antara asaatidzah atau thullabnya. Dan sembari menyebut nama masing2 orang yang sedang diperbincangkan atau bahkan dighibahi, juga menjulurkan bukti, entah foto hasil screen printing yang berisikan komentar2, atau copas komentar.

Para ulama menulis ilmu berjilid2, sementara ikhwan ini menulis ghibah bercopas-copas. Kembalilah menjadi thullab al-ilm, saudara2ku. Sebelum antum benar2 menjadi Ahli Ghibah wal Jama'ah.


Jika itu termasuk bab nahi munkar, maka apakah sesering itu antum kupas?

Apakah hal seperti itu [mengupas aib-aib, kesalahan dan perpecahan] adalah HOBI? Atau bahkan menjadi wadziifah [pekerjaan/job/tugas] yang wajib?

Kembalilah menjadi thullab al-ilm, saudara2ku.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/394678440573547

Tidak Semua Keadaan Sama

oleh Hasan Al-Jaizy

Tidak semua keadaan itu sama...

Bahkan -ingatlah- pernah suatu ketika Anda menangis hingga seakan kedua pipi adalah gambaran anak-anak sungai yang deras di kala manusia terlelap. Kala itu adalah momen yang tak tergantikan dengan tiara atau mahkota raja jikalau harta dan fisik itu nikmat. Kala itu adalah taburan rasa yang lama terpendam hingga indahnya lebih indah dari pelangi-pelangi bersemi di ufuk selepas badai dan hujan.

Lalu keesokan harinya mencoba kau ulangi yang terjadi di sepertiga malam itu. Namun, kemana...kemana....? Kau pun bertanya-tanya tak henti....kemana perginya tangisanku dan isaknya lantunan itu? Kenapa tak lagi kembali dan hadir mengisi ujung malamku menjelang fajar!?


Bahwa kemudian kau pun ertikan...

tidak semua keadaan itu sama, terkadang serupa, terkadang berbeda, terkadang justru berlawanan!

Bahwa kemudian kau pun sadari...

pernah kau rindukan masa-masa ketika cinta dan harap bersemi dalam bait-bait yang tak terucap namun terukir di hati. Namun ketika kau mencoba memanggil ruh tangis yang menghilang ditelan fajar, ternyata ia benar-benar hilang tak pernah kembali.


Kau pun bertanya-tanya:

Ya Rabb...kemana pergi haru biru itu??? Kemana pergi pesona rasa itu??? Kapankah ia akan kembali merasuk sukmaku???

Sungguh...Dialah Yang Maha Pembalik Hati...ada mungkinnya seseorang beriman sejernih angkasa musim panas di pagi hari...lalu di ujung senja ia kufur segulita langit di tengah malam tak bermusim...

Maka, ingatlah doa ini:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)." [Q.S. Ali-imraan: 8]

Yaa Muqallibal Quluub...Tsabbit Quluubana ala Diinik
Yaa Muqallibal Quluub...Tsabbit Quluubana ala Thaa'atik


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/394641730577218

Monday, May 28, 2012

Tentang Mencintai

oleh Hasan Al-Jaizy

MENCINTAI yang kau CINTAI dengan MENCINTAI berbagi padanya sesuatu yang kau CINTAI

Jika tiada cinta sesama, maka iman itu seakan tiada...

Sang Amiin, Rasulullah Al-Musthafa Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda:

لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه

"Tidak beriman salah seorang di antaramu sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai [bagi] dirinya sendiri." [H.R. Bukhari]


 Penjelasan hadits:

Al-Hafidz Al-Allaamah Ibn Hajar -rahimahullah- mengatakan bahwasanya maksud dari "tidak beriman" adalah "tidak sempurna keimanan"-nya. Dan mencintai saudaranya seperti ia mencintai [bagi] dirinya sendiri dari AL-KHAIR.

Apakah Al-Khair yang dimaksud?
"Al-Khair: Sebuah kata yang mencakup secara umum semua ketaatan dan perkara2 mubah duniawi atau ukhrawi". Dan perkara-perkara terlarang [dalam agama] tidak termasuk Al-Khair [kebaikan]. [Fathul Baary: 1/71]


Penjelasan definisi Al-Khair [kebaikan]

=> "Semua ketaatan" = Yaitu perkara2 wajib ataupun sunnah dalam agama. Wajib seperti menunaikan shalat 5 waktu, mampu membaca Al-Fatihah dan surat lainnya minimal, makan dengan tangan kanandan selainnya. Sunnah seperti melantunkan Al-Qur'an dengan tajwid dan tartil yang bagus, memahami beberapa ayat atau hadits dan selainnya.

=> "Perkara2 mubah" = Yaitu perkara2 yang tidak diwajibkan atau dianjurkan, melainkan diperbolehkan, seperti makan secara umum, berolahraga dan lainnya.

=> "Duniawi" = Yaitu perkara2 yang dasarnya tak berkaitan dengan agama. Namun bisa diniatkan untuk kebaikan tanpa cela. Seperti mencari tambahan penghasilan secara umum.

=> "Ukhrawi" = Yaitu perkara2 yang berkaitan dengan agama, entah diwajibkan, atau dianjurkan.


 Lalu:

Seorang muslim layaknya bersyukur dengan keutamaan yang Allah berikan pada dirinya, entah dari segi fisik atau dari segi makna atau dari segi finansial dan lainnya. Namun bukan berarti dia merasa lebih tinggi derajatnya di atas selainnya yang Allah takdirkan belum memiliki keutamaan tersebut; justru jika ia ingin menjadi orang yang menyempurnakan keimanan, hendaknya ia berharap keutamaan tersebut juga terwujudkan pada saudara seiman.

Seperti ketika ia diberi kemampuan atau keilmuan, maka hendaknya sebagai salah satu rasa syukur pada Allah, ia berusaha menyempatkan diri untuk berbagi pada yang tak tahu. Dan ini salah satu cara untuk meraih berkah dari ilmu. Tentunya juga harus didasari niat yang salih, yaitu ikhlas lillaahi ta'ala dan kemaslahatan muslimiin.

Juga jika ia diberi keutamaan harta, terlebih di AWAL BULAN, maka hendaknya tidak lupa bahwa ketika ada orang kaya di bumi ini, pasti ada juga orang miskin di bumi yang sama. Maka menyempatkan diri tuk menyisihkan harta adalah bentuk rasa syukur, keimanan dan salah satu cara untuk meraih berkah harta.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/394619000579491
oleh Hasan Al-Jaizy

Fiqh Al-Khilaf + Fiqh Al-Waqi'

Kedua fiqh [pemahaman] tersebut seringkali diremehkan, dan bukan berarti layak juga kita kedepankan. Namun, melihat aroma keekstriman menyengat yang terjadi pada kita yang masih bersemangat, tampaknya perlu sekali memahami Khilaafiyyah dan Waaqi'iyyah. Yaitu: Perbedaan dan Realitas.

Don't get me wrong. Jangan mengira saya akan mengajarkan; justru saya pribadi pun masih dan akan selalu belajar bagaimana caranya memahami perkara khilafiyyah, meluruskan dada dengannya, meraup qowaid dan dhowabith sebagai panduan.



[1] Bagaimana caranya agar tidak menjadi ekstrim [meski tidak merasa ekstrim] terhadap perbedaan yang ada?
[2] Bagaimana caranya agar tidak menjadi seorang yang anti Fiqh Al-Waqi' dan hanya terpacu pada teks semata?
[3] Bagaimana kita bisa menimbang yang terbaik demi maslahat dan menjauhi mafsadat serta menunjang pencapaian maqaasid syar'iyyah?
[4] Bagaimana caranya menjadi munshifiin [orang2 menengah dan berlapang] sebagaimana ciri khas Ahlu Sunnah yang di tengah2?

Sungguh dulu tiada kenal saya pada perkara2 khilafiyyah. Yang ada: kebenaran itu ada pada ulama2 ini secara mutlak. Selain yang kuketahui menyimpang: menyimpang. Padahal ternyata belum tentu. Alhamdulillah kuliah syariah di kampus menyembuhkan hal-hal itu.


 Ketika mendengar...

Ketika mendengar 2 kata Fiqh Khilaf [pemahaman tentang Perbedaan/perselisihan pendapat], jangan serta merta mengatakan: "Semua khilaf itu buruk!"
Ketika mendengar 2 kata Fiqh Waqi [pemahaman tentang realitas], jangan serta merta mengatakan: "Sepertinya saya mencium aroma Hizby!"

Justru tingkah seperti itu, jelas sekali jahilnya, ketidaktahuannya, kekurangfahamannya dan saran kami: banyak membaca lagi dan jangan merasa cukup dengan ke-pas-pasan. Kelak celana akan robek jika dipakai terus dari masa kecil hingga besar.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/394548580586533

Kecil Namun Terasa Berat

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa amalan keciiiil terasa berat dan sulit atau malah tidak bisa dilakukan sama sekali.

Seperti sabda Rasulullah yang artinya: "Dan janganlah [ditambah penekanan saking dilarangnya] kamu meremehkan suatu dari perbuatan baik [ma'ruuf] sedikitpun." Ya, meskipun hanya sebatas senyum dari seorang teman atau tetangga.

Sebelumnya, "ma'ruuf" itu bermakna apapun dari perkara baik yang dikenal dan sesuai dengan syariat; seperti senyum, sedekah, membantu, menasihati dll. Jadi, jikalau ada perkara baik namun terjadi iltibaas [kamuflase] dan pemalsuan lahir penyembunyian asal batin, maka ini bukan 'ma'ruuf'.

Begitu juga dengan sabda Sang Mustafa: "Senyummu di wajah saudaramu adalah sedekah", karena dengan itu kita memberi sebuah arti positif dan pesan baik.

Namun seringkali itu terasa beraaat, bukan?


Atau, tersebab kekerasan hati kita sebagai muda-mudi?

Ada di antara teman atau kerabat berusaha menasehati dengan kalimat standar, namun kita menampik dengan sombongnya, meskipun tiada merasa diri kita sombong. Tapi itu termasuk sombong.

Kecil sekali amalan ini, namun jika terbiasa, sungguh luar biasa kelak dampaknya.

Bukankah menyingkirkan duri, halangan atau sesuatu yang menyakitkan dari jalan kaum muslimin adalah amalan kecil bagian dari iman? Nah, seberapa sering kita berjalan di jalan umum dan merasa berat ketika melihat ada batu atau lubang yang kemungkinan mencelakakan pejalan kaki atau pengendara motor? Jangankan perkara melakukan, berfikir ke sana seringkali jaraaaang, bukan?

Atau, ketika berjalan di gang, tampak ada jemuran orang jatuh meski satu pakaian, bersediakah kita merelakan tangan terulur tuk kembalikan ia pada tempatnya? Atau, kita menunggu ada yang melihat? Allah al-musta'aan [pada Allah lah kita meminta pertolongan]


 Terakhir:

Tidak ada yang lebih ikhlas manusia mendoakan manusia lain kecuali seorang ibu atau ayah pada buah hatinya.

Selagi ada kesempatan, maka jangan tunggu hingga di akhir sempatnya. Karena ketika tiada sempat terwujud, maka menangis dan menyesal takkan menghadirkan kesempatan. Separuh nafas bait doa ibu untuk anaknya lebih berharga dibanding sebanyak apapun air mata keluar dari anak ketika kesempatan berbakti telah tiada.

Selagi orang tua masih hidup, marilah kita hadirkan kehangatan bagi mereka. Karena kehangatan itu....semoga hangatkan pula kondisi kita dunia akhirat. Amiiin.

==================

Beberapa amalan kecil terhadap orang tua, juga teremehkan. Karena terkadang kita merasa lebih pintar atau lebih sukses atau lebih maju dari mereka berdua?

Ingat siapa dulu yang mengajari ABC dan Alif Ba Ta ... jikalau itu adalah orang lain selain mereka berdua, maka ingat juga siapa yang derita menanggung berbulan, mengasuh bertahun dan menafkahkan bermasa-masa?


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/394301480611243

Untuk Yang Sibuk Dengan Aib Orang

oleh Hasan Al-Jaizy

[1] Risalah untuk Kawan Yang Menyibukkan Diri Pada Aib-aib Ahli Ilm
[2] Risalah Untuk Kawan Yang Menyibukkan Diri Pada Ikhwan Yang Menyibukkan Diri Pada Aib-Aib Ahli Ilm 

اتقوا الله

Sangat tidak baik jika kita menyibukkan diri pada aib-aib orang2 yang memang punya aib; sehingga kita mengumpulkan data-data dan info. Sebenarnya kedua jenis kawan ini sama saja. Yang satu pencela ulama, yang satunya lagi peneliti pencela ulama, lalu menyiarkan-mewartakan-mengabarkan dengan bangga kepada orang2...at-tatabbu' bi al-uyuub [menguntit dan mengekori aib-aib].

Kembalilah menjadi thullab al-ilm.


 Risalah Untuk Kawan Yang Menyibukkan Diri Pada Ikhwan Yang Menyibukkan Diri Pada Aib-Aib Ahli Ilm

Apakah antum thullab al-fitan?
Apakah antum wartawan?
Apakah antum pengoleksi data aib manusia?
Apakah antum merasa tidak SAMA dengan mereka: thullab yang suka men-jarh ulama dan melabeli Sururi, Hizby dll?

Tidak...antum tidak sama, ya ikhwah...namun hanya 'serupa'

Kembalilah menjadi thullab al-ilm; sebelum Allah benar2 mencabut ilmu-ilmu yang dulu kau pelajari.

Pertanyaan dari kami: "Apa definisi Tauhid?"

Jika menjawab tidak lancar, berarti sungguh ilmu antum telah rontok hingga ke akar2nya. Klaim sebagai penegak Tauhid hanyalah kekosongan belaka. 

Kembalilah menjadi thullab al-ilm.