Showing posts with label Kitab. Show all posts
Showing posts with label Kitab. Show all posts

Sunday, October 25, 2015

Jangan Bicara Politik Dulu Deh

oleh Hasan al-Jaizy


Di antara nasehat murabbi saya yaitu bapak saya sendiri: Jangan bicara politik umat dulu. Teruskan saja track ngaji kitab. Istiqamah saja dulu di situ. Biarkan orang-orang itu bicara, padahal mereka bisa saja ga ngerti gimana politik Indonesia.

Begitu.

Termasuk politik: hizb hizb yang ada sekarang.

Soal politik negeri dan kengeriannya, saya lebih percaya sama beliau, karena tergolong kabir jiddan sejak era 80an mengamati dan mengoleksi data. Wartawan jaman dulu beda dengan era kini. Dulu kejar satu berita saja bisa safar. Valid dan berharga. Lebih kenal. Hizb hizb yang exist sekarang bertalian sama politik.

Makanya saya diam ah tentang politik, selain ikut petuah bapak, ya karena saya jahil memang tentang itu.




Monday, January 28, 2013

Kenapa Mesti Fathul Bary dan Al-Umm?


oleh Hasan Al-Jaizy

Bukan sekali saya dapatkan beberapa kawan yang beraliran Ahlus Sunnah wal Jama'ah [ga pake disingkat] atau langsung saja saya sebut: Salafiyyuun, menuturkan bahwa kitab impian mereka adalah Fathul Bary karya Ibnu Hajar. Kalau tidak Fathul Bary, maka beralih ke kitab Al-Umm karya Asy-Syafi'i.

Yang sejujurnya, kok ketika diamati, kawan-kawan kita tersebut justru ga ngerti atau kurang faham manzilah, derajat atau seberapa keramatnya kedua karya agung itu. Tidak tahu persis apa isinya. Bukan berarti saya tahu persis. Tapi:

Fathul Bary itu berjumlah 15 jilid tebal-tebal. Di cetakan lain, ada pula sampai 17 jilid. Ada pula 13 jilid.

Al-Umm itu berjumlah 11 jilid tebal-tebal. 

Sementara, membaca Fathul Bary itu tidak semudah kita membaca Matan Abi Syuja' atau kitab Al-Mulakhkas Al-Fiqhy. Tidak se-simple kitab Al-Wajiiz karya Al-Badawy. Fathul Bary itu cukup rumit. Ilmu Hadits benar-benar terpasang di sana. Banyak Penjabaran riwayat ini dan itu. Ushul Fiqh juga masuk, karena yang namanya syarh nash wahyu ya sangat membutuhkan ilmu tersebut. Dan banyak lagi. 

Islamic Book Fair 2012 = Kuburan Keramat I

oleh Hasan Al-Jaizy


Islamic Book Fair 2012 = Kuburan Keramat I

Seorang sahabat saya, sekelas di kampus, berasa dari Sunda, beberapa minggu yang lalu menanyakan sesuatu pada saya. Pertanyaan itu yang kembali menguak memori masa silam di tahun 2012. Kenangan berharga, yang ingin saya ceritakan di sini. Bukan bermaksud merendah atau berbangga. Tetapi, kenangan ini spesial sekali untuk saya.

Pertanyaan sahabat saya adalah, "Gimana Maret nanti, mau ke Book Fair bareng lagi ga?"

Saya terkejut dengan pertanyaan itu. Karena sudah lama tak mengingat IBF. Tentu saja saya berharap bisa datang ke event penting -bagi saya- itu. Bukan sekedar datang, namun mengais kitab-kitab yang lama saya idamkan. Itu pun kalau punya duit. :hammer

Brrr...selepas pertanyaan itu, saya termangu. Mengingat kenangan spesial. Sesuatu yang amat berharga.

Begini ceritanya:

Friday, January 25, 2013

Membangun Perpustakaan

oleh Hasan Al-Jaizy


Anda tidak bisa membangun perpustakaan pribadi dalam satu hari atau bahkan satu tahun. Tetapi, dimulai sejak Anda muda; membeli kitab satu persatu. Tiap mendapat uang saku ataupun gaji, sisihkan sekian persen untuk kitab. Lalu abadikan namamu di dalamnya. Baca meskipun tidak seluruhnya. Garis bawahi dan berikan ta'liq, komentar, tanggapan, ralat dan semacamnya dengan pensil[atau apapun]. 

Nanti, ketika Anda sudah menua, berusia 50 atau lebih, ketika anak-anak Anda sudah besar, ketika Anda sudah menjadi pengayom para murid, ketika Anda sudah menjadi murabbi umat, perpustakaan Anda tersedia. Dan semua kitab adalah milik Anda. Di tiapnya tertera nama, tanggal beli/diberi, tanda tangan dan tentu saja: tiapnya memiliki sejarah hidup Anda meski tak tertulis. 

Bisa jadi sekarang Anda memiliki sebuah kitab yang sulit dibaca, entah karena bahasanya yang begitu tinggi, atau karena memang Anda belum memiliki kapasitas. Tapi, seperti nasehat Ust. Wahyuddin Bakhtiar di tahun 2002, ketika saya mengawali masa SMA, jangan pernah kau buang kitab itu. Simpan! Karena suatu saat, kau akan benar-benar mampu membaca dan memahaminya. Percayakan itu.

Friday, January 11, 2013

Teruslah Membaca Kitab, Kawan


oleh Hasan Al-Jaizy

Berkata penyair padang pasir:

نعم المحدث والرفيق كتاب .... تلهو به إن خانك الأصحاب 

لا مفشياً للسر إن أودعته ..... وينال منه حكمة وصواب 

Sebaik-baik pembicara dan teman adalah kitab
kau terhibur dengannya meskipun
teman-teman telah khianatimu

Ia tidak menebar aibmu jika kau
titipkannya padanya
Kau [justru] mendapatkan darinya
hikmah dan kebenaran

BUKAN seorang pembaca yang baik jika ia tidak dapat pengaruh apapun dari apa yang ia baca.

Thursday, January 10, 2013

Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i


oleh Hasan Al-Jaizy


Al-Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i [w. 204 H] hafal Al-Qur'an di umur 7 tahun. Ia pun telah khatam menghafal Al-Muwattha' karya Al-Imam Malik [w. 179 H] di usia 10 tahun. Dan di usia belasan tahun, ia menjadi sandaran fatwa. Banyak manusia mengambil manfaat darinya.

Ketika di Makkah, Beliau telah menulis sebuah risalah ilmiah penting yang kemudian beliau kirim ke Abdurrahman bin Mahdy, seorang hakim di Iraq. Risalah itu adalah cikal bakal pembuktian kehebatan seorang Asy-Syafi'i dan keberkahan ilmunya. Lalu setelah berada di Mesir, beliau mendikte kembali risalah tersebut pada Al-Muraady. Risalah yang serupa dengan sebelumnya. Awalnya, tiada judul. Namun, setelah tersebarnya, barulah diberi judul Ar-Risalah.

Ar-Risalah adalah kitab fenomenal disebabkan pengaruhnya terhadap perkembangan ilmu syariat, terutama Fiqh. Karena kitab tersebut adalah kitab Ushul Fiqh pertama! Masih murni dan asli ala Asy-Syafi'i. Tidak tercampur baur dengan pengaruh ilmu Kalam, atau Mantiq. Baku dan bertaburan ayat-ayat Al-Qur'an. Tidak bertele-tele, berbelit-belit, berbahasa lugas meski tidak mencakup seluruh materi Ushul Fiqh.

Tidak hanya Ushul Fiqh, bahkan banyak ulama mengatakan bahwa dalam kitab tersebut, tumbuhlah bibit-bibit ilmu Ushul Hadits!

Dan sekarang, jutaan kitab telah tercetak dengan sandaran label 'Fiqh Syafi'i'. Nama Asy-Syafi'i begitu hidup, meski pemiliknya sudah tiada.

Lalu, apa yang kita fikirkan ketika melihat satu rak berisikan kitab-kitab Fiqh bermadzhab Syafi'i? Tiap membuka kitab, pasti tercantum berpuluh-puluh kali...tidak, beratus-ratus kali nama beliau.

Seolah-olah beliau hidup...beliau sudah tidak hidup berkurun masa berlalu.

Ilmu, upaya dan karya, bisa menjadikan nama seorang alim hidup. Jika namanya hidup dikenal baik di tengah manusia, itu adalah alamat betapa berkahnya ilmu pemilik nama. Itu adalah keutamaan dari Allah yang tidak terberi untuk semua manusia. Maukah kau menjadi seperti mereka?

Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i


oleh Hasan Al-Jaizy


Al-Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i [w. 204 H] hafal Al-Qur'an di umur 7 tahun. Ia pun telah khatam menghafal Al-Muwattha' karya Al-Imam Malik [w. 179 H] di usia 10 tahun. Dan di usia belasan tahun, ia menjadi sandaran fatwa. Banyak manusia mengambil manfaat darinya.

Ketika di Makkah, Beliau telah menulis sebuah risalah ilmiah penting yang kemudian beliau kirim ke Abdurrahman bin Mahdy, seorang hakim di Iraq. Risalah itu adalah cikal bakal pembuktian kehebatan seorang Asy-Syafi'i dan keberkahan ilmunya. Lalu setelah berada di Mesir, beliau mendikte kembali risalah tersebut pada Al-Muraady. Risalah yang serupa dengan sebelumnya. Awalnya, tiada judul. Namun, setelah tersebarnya, barulah diberi judul Ar-Risalah.

Ar-Risalah adalah kitab fenomenal disebabkan pengaruhnya terhadap perkembangan ilmu syariat, terutama Fiqh. Karena kitab tersebut adalah kitab Ushul Fiqh pertama! Masih murni dan asli ala Asy-Syafi'i. Tidak tercampur baur dengan pengaruh ilmu Kalam, atau Mantiq. Baku dan bertaburan ayat-ayat Al-Qur'an. Tidak bertele-tele, berbelit-belit, berbahasa lugas meski tidak mencakup seluruh materi Ushul Fiqh.

Tidak hanya Ushul Fiqh, bahkan banyak ulama mengatakan bahwa dalam kitab tersebut, tumbuhlah bibit-bibit ilmu Ushul Hadits!

Dan sekarang, jutaan kitab telah tercetak dengan sandaran label 'Fiqh Syafi'i'. Nama Asy-Syafi'i begitu hidup, meski pemiliknya sudah tiada.

Lalu, apa yang kita fikirkan ketika melihat satu rak berisikan kitab-kitab Fiqh bermadzhab Syafi'i? Tiap membuka kitab, pasti tercantum berpuluh-puluh kali...tidak, beratus-ratus kali nama beliau.

Seolah-olah beliau hidup...beliau sudah tidak hidup berkurun masa berlalu.

Ilmu, upaya dan karya, bisa menjadikan nama seorang alim hidup. Jika namanya hidup dikenal baik di tengah manusia, itu adalah alamat betapa berkahnya ilmu pemilik nama. Itu adalah keutamaan dari Allah yang tidak terberi untuk semua manusia. Maukah kau menjadi seperti mereka?

Ushul dan Furuu'


oleh Hasan Al-Jaizy


Boleh saya jujur? Boleh! Harus malah! Daripada saya bohong, kan?

Sejujurnya, saya lebih menyukai diskusi suatu perkara atau beberapanya, dengan orang-orang yang berlatar belakang berbeda. Itu lebih enak SELAMA orang tersebut berlapang dada. Paling minimal, ia tidak memaksa kita harus setuju dengan argumennya. Tapi, argumen syaadz dan gharib [aneh dan beda sendiri] juga diizinkan untuk dileweki. Jangan itu, argumen masyhuur pun tidak apa-apa untuk dijadikan sasaran sarkasme [sindiran].

Itu yang kadang kami lakukan di kelas. Diskusi sambil bercanda, ngenyek, ngece, nyindir, lewek-lewekan, mempertanyakan manhaj golongan masing-masing tetapi tidak memutuskan tali pertemanan dan persahabatan. Kalau masih mahasiswa saja sudah main putus-putusan, nanti saat sudah jadi orang mau main apaan? Hehe...

Kalau berdiskusi dengan 'lawan' bicara yang berlapang dada dan tidak keberatan mendengar pendapat lawan, rasanya enak. Meskipun sebenarnya kita saling bertentangan dalam topik bahasan. Tetapi, kalau sudah tidak suka dan tidak mau diajak duduk berbincang, ya tidak akan pernah enak.

Friday, January 4, 2013

Di Zaman Kita Nanti II


oleh Hasan Al-Jaizy


oleh Hasan Al-Jaizy

Di zaman kita nanti, kajian-kajian sudah layak dipoles dengan sentuhan dan pendekatan modern. Kalau penulis pribadi, lebih memilih ke asal [tradisional; gaya lama], namun tidak berarti menolak gaya modern.

Bagi penulis, pengkaji / pemateri lebih bagus membawa buku banyak lalu ditaruh di meja dan nanti dibuka satu-satu ketika dibutuhkan. Dibanding membawa laptop atau tablet atau semacamnya. Tentu saja laptop lebih enak, atau notebook atau netbook. Tapi, penulis sendiri -jika hadir di depan kumpulan manusia- lebih suka membuat para hadirin lebih semangat membaca kitab melalui kitab langsung, bukan laptop. Meskipun tidak salah juga baca kitab via laptop atau HP atau lainnya.

Bagus juga jika membuat manusia sadar, 'Wah, dia saja yang sudah ngustadz dan ngehabib, masih rela bawa buku banyak ke pengajian. Kok saya yang masih kolot dan super duper awam ini cuma mau baca artikel di laptop atau buku elektronik ya?'

...biar toko-toko buku ga sepi.
...biar sering-sering tu idung merasakan lezatnya aroma buku.

Kalau misalnya pemateri bawa laptop yang lebih besar dari kepalanya, kendala atau problemnya adalah mukanya terhalang jasad laptop. Apalagi jika laptopnya jangkung dan gempal. Kasihan atuh pra hadirin masa harus melihat lambang Apple, atau Acer, atau lainnya?

Mengkaji langsung pada kitab, tiap hadirin membawa kitab, itu jauh lebih enak, lho. Itu menurut penulis. Dan memang itulah aslinya. Bisa corat-coret. Kalau sudah bosan dengan penjelasan ustadz, bisa cari kerjaan pura-pura coret di kitab padahal sedang gambar muka Ultraman Taro.

Bagusnya kita tidak terlalu kolot, namun tidak juga mengandalkan teknologi. Sehingga kajian serasa tidak lengkap tanpa laptop, tanpa projector, tanpa ini tanpa itu.

Ustadz-nya juga jangan gengsi gede-gede-an. Maunya dijemput antar memakai mobil. Kalau pakai Vespa ga terima. Wong dulu gurumu saja datang ke pondok jalan kaki kok; muridnya kalau sudah besar ya belajar terus dari sirah gurunya.