Showing posts with label dakwah. Show all posts
Showing posts with label dakwah. Show all posts

Monday, October 26, 2015

P.H.P.

oleh Hasan al-Jaizy

Jika kamu diajak maju oleh orang yang cuma jalan di tempat selalu, maka jangan ikut. Karena kamu ga bakal maju-maju malah. Malah kamu bakal bisa lebih maju sendiri dengan jalan ke depan, bukan jalan di tempat.

Jika kamu di-PHP-in sama ikhwan yang ga ngerti gimana caranya step up dan following up, maka jangan masukin hati PHP dia. Kalau kamu masukin ke hati, dia ga bakal maju, kamu menderita menunggu.

Jika kamu dikomporin ngaji sama pihak yang maunya cuma ngaji tematik aja dan terus, kamu cari kajian kitab. Banyak para pemburu tematik gagal move on ke kajian kitab, karena memang niat step up aja ga ada, maka setelah ngaji, ga ada following up. Still walking di tempat, mau dihias apapun posternya.

Monday, July 15, 2013

Pembagian Ulama Umat dan Siapakah 'Ulil Amri'?

DAKWAH kepada Allah dan menyampaikan sunnah Rasul-nya merupakan syiar bagi golongan yang beruntung (para ulama) dan para pengikutnya, sebagaimana firman-Nya:

قُلْ هَٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ أَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِى ۖ وَسُبْحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ

"Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik"." [Q.S. Yusuf: 108]

Yakni mereka yang menyampaikan apa-apa yang datang dari Rasulullah berupa penyampaian kata-kata (dan maknanya), perbuatan dan ketetapan beliau. Berdasarkan hal itu, ulama dibagi menjadi 2 golongan:

[PERTAMA] = AHLI HADITS

Mereka adalah pemelihara hadits yang menjaga dan memelihara, serta mengamalkannnya. Mereka adalah para imam dan pemuka-pemuka agama Islam yang memelihara pondasi-pondasi agama dan ajarannya dari penyelewengan dan perubahan isinya. Mereka adalah golongan yang disebutkan Imam Ahmad dalam khutbahnya yang terkenal ketika membantah golongan Zindiq dan Jahmiyyah.

[KEDUA] = AHLI FIQH

Sunday, January 27, 2013

DAKWAHMU = SEDEKAHMU

Oleh Hasan Al-Jaizy

Dakwahmu = Sedekahmu

Jika merasa jahil [tidak tahu], maka itu bagus. Jika merasa masih standar atau kurang, maka itu ada bagusnya. Merupakan sebuah upaya tawadhu' adalah merasa diri belum seberapa memberi, belum banyak memiliki, dan belum hebat melampaui. Betapa banyak para masyaayikh dan asaatidzah yang mengatakan, "Saya hanyalah pencari ilmu [thalib]", bahkan mengatakan, "Saya hanyalah thuwalib al-ilm [penuntut ilmu yang kecil]."

Dan tak sekali dua kali mendengar seseorang berucap, "Ilmu saya masih cetek, ragu berdakwah disebabkannya. Lebih baik saya menjadi penyimak saja."

Amat disayangkan. 

Seorang muslim, selama dia merasa dirinya muslim dan selama dia memang muslim, telah Allah berikan kesempatan untuk berdakwah. Amat disayangkan jika seseorang merendah diri namun menafikan kesempatan yang terjulur di depan wajahnya. Mungkin ia berfikir bahwa berdakwah itu adalah seperti apa yang dilakukan para ustadz dengan ceramah, menulis kitab, atau seperti yang dilakukan para pencari ilmu yang pintar menulis status dan menjelaskan beberapa hukum.

Gambaran di atas benar. Namun, dakwah itu tidak hanya gambaran tersebut berupa! 

Jika seseorang copas sebuah ayat yang agung semisal ayat pertama surat Al-Ikhlas ke statusnya, lalu tekan post dengan niatan ibadah disertai harapan:

Berdakwah di Dua Dunia

oleh Hasan Al-Jaizy

Jika Anda tidak berdaya berdakwah di dunia nyata, maka budidayakan berdakwah di dunia maya. Namun, jika Anda berdaya di keduanya, utamakan di dunia nyata. Dan jika dakwah Anda berjaya di kedua dunia, wasiat terbaik adalah tetaplah istiqamah dan jangan takabbur.

Manusia yang tak berdaya di dunia nyata, belum tentu ketidakberdayaannya disebabkan oleh dirinya. Kadang Allah menguji manusia dengan kenyataan pahit dan kesempitan yang nyata. Dan inilah rahmat Allah. Ketika seolah segalanya tersumbat di dunia nyata, dunia maya Dia ciptakan. Untuk memberikan kesempatan belajar mengajar bagi siapapun yang di dunia nyata kesulitan.

Beberapa gadis 'dikurung' orang tuanya dan dilarang keluar mencari ilmu, meskipun hanya ke pengajian. Mereka mengeluh dan iri pada siapapun yang bebas terbang ke masjid atau kampus manapun. Namun, Allah membuka bagi mereka pintu kesempatan di dunia maya. Di sana, ia bisa temukan taman-taman, yang di dalamnya ada jembatan persaudaraan bahkan jembatan menuju surga.

Dan beberapa manusia, jelas tak punya nama besar di lingkungannya, tak terpandang dan tak teranggap. Bahkan, sekali ucapan dan seruan dari mulutnya selalu berbalas penolakan. Namun, Allah membuka bagi mereka pintu kesempatan di dunia maya.

Jika Anda bisa merengkuh keduanya, yakni dua dunia, maka Anda mampu memanen pahala tiap kala.

Friday, January 25, 2013

Kekuatan Gado-gado!


oleh Hasan Al-Jaizy

Mungkin kelak banyak asaatidzah berfikiran begini:

"Biarlah mereka menilai saja bermanhaj gado-gado, bersahabat dengan lawan dan lain-lain. Mereka takkan meraup jasa dari saya dan takkan melihat ilmu terlebih upaya yang saya coba kerahkan. Tetapi, itu adalah problematika mereka. Manusia bukan hanya mereka saja dan Allah Maha Adil. Ketika mereka tak mengambil manfaat dari saya, ketahuilah sesungguhnya orang-orang awam mengambil manfaat dari saya. Dan saya bersyukur."

Kalimat semacam di atas [meskipun tak sama persis] pernah saya dengar langsung dari seorang dai.

Really, sekarang atau mungkin terus-menerus, beberapa manusia akan hanya mengamalkan kalimat ini:

انظر من قال ولا تنظر ما قال

"Lihatlah SIAPA yang berbicara, jangan lihat APA yang ia bicarakan"

Meskipun kalimat di atas penting diamalkan, namun tidak di semua kondisi. Dan lucunya, akan banyak muntasib ke jema'ah tertentu (meskipun ngakunya tak ber-hizb atau anti-hizb malah), tapi ketika gurunya atau manusia rekomendasian gurunya yang berbicara, kalimat inilah yang diamalkan:

انظر ما قال ولا تنظر من قال

Monday, January 14, 2013

REALLY! JANGAN BACA INI! [2]


oleh Hasan Al-Jaizy


I

'Anda pernah sekolah? Jika pernah, saya tanya: apakah kita harus berterima kasih pada guru yang mengajari kebaikan pada kita?'

Anda jawab, "Tentu saja harus!"

'Tetapi, bukankah mereka sudah dibayar? Sudah digaji, bukan? Untuk apa berterima kasih lagi?'

Anda jawab, "Karena bayaran itu untuk upah upaya dan tenaga. Sedangkan berterima kasih itu di lisan saja, tidak berbentuk materi."

'Baiklah...kalau begitu pernah ikut majelis ta'lim or sumting like dad?'

Anda jawab, "Tentu saja pernah. Rutin malah!"

'Anda membayar ustadznya?'

Anda jawab, "Tentu tidak. Kan sudah saya beri Combantrin...lho?"

'Berarti gratis?'

Anda jawab, "Tentu saja gratis."

'Kalau begitu, mana yang lebih layak diucapkan terima kasih padanya, guru bayaran atau guru relaan?'

II

'Oh ya, Anda pesbukan?'

Sunday, January 13, 2013

BELUM BERAKHIR!


oleh Hasan Al-Jaizy


Asalnya begini: Menyesal karena tidak diam itu berkali-kali terjadi, sedangkan menyesal karena diam itu jarang terjadi.

Tetapi, kita seringkali menyesal karena diam. Diam karena ketidakmampuan kita. Ketidakmampuan dalam hal apa? Ini:

[1] Amar Ma'ruf. Ketika di manapun, termasuk di lingkungan sendiri, juga dalam rumah, kita ternyata belum maksimal menegakkan hal ini.

[2] Nahi Munkar. Ini lebih berat lagi. Nahi Munkar, hampir seluruh wujud prakteknya akan mendapat perlawanan, meskipun hanya sebatas kalimat tidak setuju. Sudah berapa kilo kaki kita berjalan? Lihatlah orang sekitar dengan kemunkaran yang mereka lakukan. Ketika kita ingin sekali dalam hati mengungkap pengingkaran dengan kalimat atau isyarat, kita teringat diri sendiri yang juga melakukan kemunkaran lebih buruk dari itu [jika memang], atau kita juga melakukan yang sama di kesendirian. Hal ini salah satu faktor pencegah kelemahan kita dalam menasihati secara langsung. Ada lagi faktor eksternal, yaitu lingkungan, psikologi manusia, dan sosiologi masyarakat.

Saturday, December 29, 2012

Apakah...?


oleh Hasan Al-Jaizy

Apakah kita penebar manfaat melalui status, catatan dan lainnya di sini?

Jika jawabannya 'Ya', maka syukurlah pantas kita rasakan. Setelah jawaban 'ya', masih ada soalan lain:

"Apakah memang kita ikhlas murni melakukannya untuk kebaikan atau ketinggian diri semacam pencitraan?"

Maka, jawablah dengan suara hati dan gaungkan di jiwa sendiri.

Kenapa kita bertanya seperti itu?

Karena bukan tidak mungkin seorang yang mengawali pagi hari dengan kesempurnaan ikhlas, lalu di siang hari tergiur pujian, menjelasng sore letih dipuji dan ketika malam berbangga diri sambil mengingat kebaikan sendiri sebelum tidur.

Yakni, awalnya bisa jadi kita begitu tulus menebar manfaat, kemudian dipuji karenanya, merasa senang dengan pujian [yang ini tidak salah], namun terlena dan merasa bahwa pujian manusia lah upah baginya hingga ia puas sendiri.

Mana yang lebih 'mengena' di jiwa kita?

a. Ilmu yang kita sebarkan, atau
b. Komentar manusia

?

Rahasiakan jawaban. Sungguh ini hanya diperuntukkan untuk bercermin saja. Semoga jalan kita tetap melurus.

Wednesday, December 5, 2012

CAT : [7] "MENYEMBUNYIKAN ITU MEMALUKAN...MALUAN YANG DISEMBUNYIKAN"

oleh Hasan Al-Jaizy

Ada seseorang menulis di situs ini sebuah ungkapan rasa syukur diperkenalkan oleh-Nya teman-teman dunia maya yang rajin update status 'ilmu' atau 'nasihat' atau 'motivasi' dan lain-lain. Sebelum berlanjut tulisan ini, mohonnya agar tiada seorang pun yang gede rasa karena makna tulisan statusnya diumbar di mari.

Status:

"Gue mau apdet cetatus, tapi rupanya hanya bica baca cetatus-cetatus ceman-ceman. Bagus-bagus. Jadi, caya cuma bica ucapkan raca cukur caja bica berceman dengan ceman-ceman yang coleh."

Lalu ada yang berkomentar:

"Ho'oh ki, dab. Beruntung bianget punya konco-konco berilmu. Status2 mereka manfaat bianget. Gara-gara beruntung dan manfaat bianget, jadi kadang kita malu kalau mau bagi status ilmu agama. Soale, rasane konco lainnya keto' berilmu bianget. Pada berilmu bianget. Aku jadi minder bianget. Gila lu, Ndro!"

Begini:

Ketika di sekitarmu ada orang-orang berilmu, bolehlah simak perbincangan mereka. Manut mendengar sembari berfikir dan mencerna.

Tetapi ketika di sekitarmu ada orang-orang yang 'kelihatan' berilmu, namun belum tentu, maka jangan minder begitu saja. Tetap dengarkan, berfikir dan cerna.

Perasaan minder karena merasa dikelilingi orang-orang berilmu atau terkesan berilmu itu

Friday, November 30, 2012

Merebut Lahan Kuburan Keramat


oleh Hasan Al-Jaizy

Ini adalah sebuah risalah dari si miskin untuk siapapun yang juga miskin.

Dulu, dakwah ini tidak terlihat gemilang cahayanya nan megah seperti sekarang. Era 90-an, ketika itu ustadz-ustadz yang kau panuti sekarang, adalah dai-dai 'lugu' dan sederhana. Ikhlasnya mereka berjuang demi ilmu dan amal begitu tebal. Era 90, ketika belum banyak yang membuka mata mengenai Sepilis. Era 90, ketika mungkin Anda [seperti saya] masih ingusan, atau Anda belum kenal apa-apa tentang Muhammad bin Abdul Wahhab.

Gloria millenium. Tahun 2000 datang. Gerakan Sepilis semakin menjadi-jadi. Dan setelah tahun itulah puncak-puncak serangat mereka terhadap syariah. Adapun kaum hijau, tak bersatu lagi semenjak partai di Indonesia tidak 3 lagi. Akhirnya bermunculan lah sempalan-sempalan Islami di negeri ini. Namun, dakwah yang kini disebut 'nyawah' perlahan demi perlahan makin exist. Ustadz-ustadz yang kau kagumi sekarang, baik itu kini menjadi bintang idola podium atau penyenang hatimu melalui siaran radio, ketika itu sebagian mereka masih dalam tahap belajar. Jikalau ada dari mereka yang sudah memiliki majelis, itu hanya beberapa.

Dan dimulai sekira 2005, dunia Internet melesat. Semakin kemari, semakin

Tuesday, November 13, 2012

HIDUPMU INSPIRASIMU : [6] "Mengelus Hati dengan Hati"


oleh Hasan Al-Jaizy

Ada manusia yang Allah ciptakan hatinya lembut sekali; sehingga mudah memperhatikan sesuatu yang baik baginya dengan sedalam-dalam perhatian. Seakan banyak dari sesuatu di dunia ini adalah kekasihnya. Ketika temannya diterpa musibah, ia adalah orang pertama yang mendoakan kebaikan, bahkan mendahului doa-doa sang korban. 

Tiap-tiap manusia Allah citakan berbeda kualitas kelembutan hatinya. Jangan dipungkiri bahwa ada pula manusia yang Allah berikan tabiat hati meninggi, keras dan angkuh. Bisa disebabkan keturunan, bisa pula karena lingkungan. Karena itu, sungguh ada orang muslim berilmu yang keras hatinya, padahal ia tahu agamanya melarang itu. Dan ada orang Budha yang lembut hatinya [dalam bermu'amalah sesama manusia], padahal ajaran Islam sempurna mengatur hati. Budhisme tidak.

Akhir Ramadhan kemarin, saya sempat menonton kajian Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid. Kala itu temanya adalah 10 hari terakhir Ramadhan. Kukatakan padamu bahwa beliau adalah syaikh besar, dai besar, yang tidak pernah sekalipun ku ketahui menangis di hadapan audiens. Baik itu di kajian masjid, kampus-kampus atau televisi. Di kajian bertema 10 hari terakhir Ramadhan itu, saya menatap muka beliau lekat-lekat. Setelah muqaddimah [hamdalah dan shalawat], beliau memulai menyebut beberapa dalil tentang hari-hari terakhir Ramadhan. Saya melihat langsung dan merasakan seakan perasaan ini tepat, beliau sedang menahan tangisan. Sulit memang dilukiskan dengan kalimat. Tetapi, saya benar-benar merasakan syaikh Al-Munajjid sedang menahan sesuatu yang ingin menyeruak keluar.

Beberapa minggu sebelum Ramadhan kemarin,

Monday, November 12, 2012

"Kalau Sudah Tua..." II

oleh Hasan Al-Jaizy

Kalau sudah tua seharusnya memberi contoh baik pada yang muda. 

Kalau sudah tua seharusnya ketika diskusi di sebuah forum menunjukkan senioritas dan wibawanya. Kata-kata tercela, kekanak-kanakan dan membodoh-bodohi manusia lain dengan frase-frase kotor justru akan merendahkan derajatmu di mata anak-anak muda.

Kalau sudah tua dan berpengalaman, seharusnya mengajak yang muda meniti umur dan pengalaman dengan bahasa dewasa. Penggunaan bahasa remaja jalanan dan preman-preman tanpa saringan hanya menunjukkan kekanak-kanakanmu.

Kalau sudah tua seharusnya ingat masa muda telah berakhir. Rangkullah anak-anak muda, naungi mereka dan beri pencerahan. Jangan justru menambah kekeruhan.

Kalau sudah tua seharusnya malu dengan anak muda yang progresif. Bukan malah meledek dan mencela-cela. Atau bahkan mencari-cari kesalahannya. Apa mungkin karena iri?

Tuesday, November 6, 2012

HIDUPMU INSPIRASIMU : [3] "Rumput Takkan Tumbuh Kala Derasnya Hujan"

oleh Hasan Al-Jaizy

Di sebuah desa, ada seorang guru ngaji yang miskin. Perekonomiannya hanya bersandar pada warung kecilnya yang sehari-hari ia bergantian dengan istrinya menjaga. Hanya itu yang ia andalkan tuk penuhi kebutuhan keluarganya. Aktivitasnya hanyalah menjadi guru ngaji selepas ashar dan maghrib.

Ia mengajar di TPA desanya. Lokasi mengajarnya di mushalla desa. Ia ajari anak-anak kecil cara bersuci, seperti wudhu, tayammum, shalat dan puasa. Dan tentu saja anak-anak diajari membaca Al-Qur'an. Itu semua adalah ilmu warisan kyai-nya yang sudah lama wafat. Dulu, sang kyai berwasiat padanya secara khusus, "Kamu harus tetap tegakkan agama dan ajarkan apa yang aku ajar di desa ini. Ajarkan anak-anak. Teman-temanmu berguguran dan berlari ke kota mencari dunia. Tapi, pesanku untukmu, carilah akhirat dengan mengajar anak-anak, kelak insya Allah pada masanya Allah akan membuatmu kaya...lebih kaya dari teman-temanmu yang meninggalkanmu sendiri mengajar di desa ini."

Guru ini pun benar-benar mengingat dan

Wednesday, October 31, 2012

SALATIGA, SELALU DALAM KENANGAN : [4] "Mas Boy, Dai Teladan"


oleh Hasan Al-Jaizy

Status ini adalah episode selanjutnya tentang Mas Boy. Ada cerita yang bertahun-tahun terkubur tak tersiar di telinga manusia tentang perjalanan dakwah Mas Boy yang one in a million. Jarang ditemukan orang seperti beliau. Rela berkorban, ikhlas dan diridhai manusia.

Saya pribadi 'menganjurkan' pembaca, jika bisa men-share cerita ini, agar tidak berat hati untuk men-share nya. Jika bisa meng-copas nya ke blog atau apapun wadahnya, agar ringan hati untuk men-share-nya. Dan saya meminta para pembaca, jika sedianya ada yang bisa ditiru dari beliau dari metode atau inspirasi, maka MOHON DOAKAN beliau. Semoga Allah meninggikan derajat beliau. Tulisan ini dibuat tanpa sepengetahuan beliau sama sekali. Dan mungkin beliau sudah lupa akan penulis ini.

MAS BOY, DAI TELADAN YANG TERKENANG

Tahun 2000, Mas Boy dikirim oleh pondok saya untuk mengabdi di MTS Al-Irsyad desa Wonosari, Kabupaten Ngawi. Letaknya di kaki Gunung Lawu. Di pondok saya, tiap santri yang lulus akan kena jatah mengabdi, yaitu menjadi dai. Disebar atau dikirim ke pondok-pondok atau daerah-daerah untuk mengajar apapun yang dibutuhkan di sana. Namun,

Friday, October 26, 2012

[03] "Hizby Teriak Hizby"

oleh Hasan Al-Jaizy

Menuding golongan lain sesat dan melabeli mereka sebagai ahlul bida' dan ahwa', sementara sendirinya tak sadar telah terjerumus dalam kesesatan dan mencerminkan kebid'ahan serta pengekor hawa nafsu. Ini adalah sebuah gambaran ngeri yang tiap-tiap kita berlindung pada Allah darinya. Di sini, saya pribadi berusaha mengingatkan diri melalui tulisan ini serta pembaca sekalian, yang harapnya menjadi para penasehat bagi hati sendiri dan orang lain.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- berkata:

الواجب على كل مؤمن أن يحب ما أحب الله ورسوله؛ وأن يبغض ما أبغضه الله ورسوله مما دل عليه في كتابه، فلا يجوز لأحد أن يجعل الأصل في الدين لشخص إلا لرسول الله - صلى الله عليه وسلم - ؛ ولا لقول إلا لكتاب الله عز وجل

"Yang wajib atas setiap mukmian adalah ia mencintai apapun yang Allah dan Rasul-Nya cintai, dan membenci apapun yang Allah dan Rasul-Nya benci bersandar dari apa yang tertunjuk dalam kitab-Nya. Maka TIDAK BOLEH bagi seseorang menjadikan ASHL [Sandaran] agama dengan seorang manusia kecuali Rasulullah; dan dengan perkataan kecuali kitabullah Azza Wa Jalla" [Majmu Al-Fatawa: 20/8]

Maka, beliau pun

[02] "Dakwah Kita Untuk Semua"

oleh Hasan Al-Jaizy

Maka, jadilah penyeru kebaikan untuk semuanya. Berusahalah tuk menjadi seorang yang maqbuul [diterima] untuk semua manusia. Meskipun takkan mungkin semua manusia menerima kita. Namun, upayakan berhias dengan kebaikan yang diridhai fitrah manusia, baik itu melalui tutur, ataupun pekerti. Menjaga lisan untuk bertutur baik selalu dan berhikmah selamanya bukan sesuatu yang mudah. Menghias diri dengan pekerti berbudi juga perkara yang perlu dilaku berhari-hari.

Syaikh ibn Baaz -rahimahullah-, seperti yang diceritakan salah seorang muridnya, yaitu Syaikh Al-Ariify, dahulu berbondong manusia menuju kajiannya. Di antara mereka ada yang menyandarkan diri [muntasib] kepada golongan2 ini dan itu. Tiap-tiap mereka beragam corak dan latar belakang. Namun, beliau [Syaikh ibn Baaz] berhasil mempersatukan mereka dalam majelis ilmu. Inilah majelis impian; karena dakwah kebenaran adalah untuk semua. Semua berhak mereguk kebenaran; meski tidak semua hendak menerimanya.

Maka, apa jadinya jika dakwah hanya untuk kalangan tertentu saja!? Bagi yang berdakwah atas nama Salaf, lalu mengkhususkan audiens untuk bermanhaj salaf terlebih dahulu. Jika tidak, maka tidak boleh ikut kajian. Harus bersih dari pemasangan foto makhluk hidup, jika tidak, maka harus segera dibersihkan keberadaannya dri grup. Seakan selain golongannya adalah kotoran yang harus dienyahkan dari pandangan. Atau yang berdakwah atas nama partai dan ormas, mensyaratkan seragam dan tanda tertentu tanpa kepentingan darurat. Orang luar yang ingin ikut serta menimba ilmu, jika belum memenuhi syarat keorganisasian atau tidak recommended, maka dilarang ikut.

Apa gunanya dakwah jika seperti itu?

Sekarang, ada beberapa tanda tanya untuk para penasehat, termasuk penulis:

[A] Ketika ada gereja atau kumpulan kaum Kristen mengundang Anda [anggap saja Anda adalah tokoh agamis terpandang di masyarakat] untuk ceramah di depan mereka, dengan topik BEBAS, apakah Anda bersedia hadiri dan mempromosikan Islam tepat di depan mereka?

Jika Anda berfikir jauh dan berhasrat tinggi ingin menjadi pengantar hidayah Allah untuk kaum tersesat, maka Anda takkan sia-siakan itu, bukan? Satu orang saja mendapat hidayah Islam melalui lisan Anda, maka itu lebih baik dari barang termewah sedunia. Pahala berlipat-lipat.

[B] Sekarang, jujurlah saja. Ketika ada yayasan, ormas, atau kelompok tertentu yang 'Islami' mengundang Anda untuk ceramah di depan mereka dengan topik bebas, apakah Anda menghadirinya?

Apakah Anda menghadirinya?
Apakah Anda berkenan menjadi penebar kebaikan di sana?

Subhanallah...betapa terbaliknya banyak manusia. Ketika kita mencela sebagian dai televisi, 'Dai televisi mata duitan. Mencari dan mengejar dunia semata. TIDAK AKAN MAU CERAMAH KECUALI IMBALANNYA BESAR!' ternyata tingkah kita seperti ini:

"Tidak akan mau ceramah/menyampaikan kebenaran kecuali pada kelompok/golongannya sendiri"

Maka, jadilah seorang penasehat dan penyeru untuk umat, bukan untuk golongan sendiri. Dakwah pun tak terbatas di antara tiang dan tembok masjid atau di dalam kelas. Dengan tutur dan pekerti, bisa pula kita berdakwah dan menjadi perantara hidayah bagi manusia.

Contohlah para masyaayikh dan ustadz yang merangkul banyak audiens dari berbagai corak mereka. Jangan contoh sebagian penyeru yang hanya ingin merangkul yang setuju, menendang yang tidak setuju. Menjadi penyeru berarti bertugas sebagai penyampai, bukan sebagai penentu eksekusi penalti. Dakwah kita adalah untuk semua.

[01] "Setan Pun Takkan Mengupahi"


oleh Hasan Al-Jaizy

Risalah ini untuk siapapun yang berusaha menebar manfaat dan hikmah dalam berdakwah, entah itu sekadar klaim semata, atau memang cerminan realita. Bahwa sebagian lisan berpedang kalimat memerangi pengkotak-kotakan dan hizbiyyah, namun keberadaan dan tingkah mereka justru menjadi sebuah kekentalan hizbiyyah baru. Dan ketika kita mengiba-iba mengidam-idam mengharap-harap di depan umat bahwa inginnya kita adalah persatuan umat, justru kita sehari-hari menikam umat dan menambah perpecahannya. Jikalau ada penyembah setan melihat kondisi kita seperti itu, mereka tambah jumawa dengan tanduk-tanduk kambing Baphomet. Jikalau kaum atheis mengerti gejolak perpecahan yang kita buat, niscaya kemenangan mereka diterjemahkan oleh bahak-bahak.

Berusahalah dalam berdakwah untuk tidak man-tashniif dan mengkotak-kotakkan muslimin, terlebih mengencingi martabat mereka. Padahal mereka adalah bagian dari kaum muslimiin. Jika ketika bersuanya kita dengan seorang Kristiani, lalu kita langsung mengumbar perbedaan dan aib agamanya atau pemimpin agamanya, maka sehentak detik ia akan marah terhadap kita. Maka, apa fikirmu jika yang kita tikam adalah juga seorang muslim? Dan di mana akal pergi jika yang tertikam adalah orang-orang shalih yang hanya berbeda pendapat di beberapa perkara?

Jika pernah kita berlaku seperti itu, maka

Wednesday, October 17, 2012

Terlanjur Keren


oleh Hasan Al-Jaizy

Bukan bermaksud mengumbar keganjilan atau keganjalan, tapi sekadar menggambarkan yang ada dalam realita. Karena ada jadinya akhwat semangat ikut kajian karena sudah terlanjur melihat pematerinya adalah orang keren. Tafsiran keren di sini: bisa 'ganteng', bisa 'terkenal'.

Dulu, ketika penulis masih mondok di kaki gunung Merbabu, bersama pendekar-pendekar lain yang bersabuk hitam, Ki Fityan Amali Lc pernah berpesan kepada kami. Pesan itu merupakan salah satu bekal untuk kami ngajar ABG di Bogor ketika liburan. "Murid-muridku, jika rupanya nanti ada yang suka pada rupa kau punya, jangan sekali patahkan hatinya seketika. Kau bimbinglah mereka. Beri mereka pemahaman. Jangan jadikan mereka sakit hati dan anti terhadap ilmu yang kau bawa. Sekarang, pergilah, anak muda. Aku doakan kalian tuk bisa menyebarkan ilmu yang kalian timba di perguruan ini."

Lalu kami jawab, "Siap, guru!"

Tuesday, October 16, 2012

Taring Kobra

oleh Hasan Al-Jaizy

Saya teringat dan selalu akan teringat insya Allah perkataan Syaikh Ahmad bin Umar Al-Hazimy -hafidzahullah- perihal salah satu point penting manhajiyyah mencari ilmu, yang artinya:

"Janganlah kamu tergesa-gesa dan ingin cepat sampai dalam menuntut ilmu. Orang yang tergesa dan ingin cepat sampai, pasti ada khalal [kecacatan/aib] dalam hatinya, yang biasanya berupa hubb adz-dzuhuur [ingin tampak] atau lainnya."

Bolehlah kalimat itu menjadi salah satu wadah cermin untuk kita masing-masing. Kalaulah kemudian kita mau menoleh ke reality sekarang, banyak pula anak-anak muda hendak cepat-cepat. Belum habis ikan terjaring di kolam, hendak cepat menjaring di danau. Dan belum lama menjaring di danau, hendak kemudian langsung berlayar melaut di samudera.

Itulah kita...

Saya teringat beberapa

Monday, October 15, 2012

Maka Jadilah Jembatan

oleh Hasan Al-Jaizy

Jika engkau bukanlah sebuah pulau...
dan serasa kau takkan bisa menjadi pulau...
maka setidaknya jadilah jembatan untuk pulau-pulau...
mengantarkan siapapun
kau pun ada manfaatnya

Cerita tentang Karso, datang dari desa ke kota untuk kuliah dengan modal beasiswa. Kuliahnya di bidang teknologi komputer, meski terlahir dan besar di kampung. Namun karena ndesonya, ia sangat keranjingan terhadap teknologi. Well, sebagian wong ndeso memang seperti itu. Makanya, di antara mereka banyak yang maju karena didorong penasaran dan keingin tahuan.

Karso dahulu adalah didikan Islam tradisional [yaitu gabungan antara Islam dan ritual tradisional desanya]. Di kota, ia bertemu teman-teman yang belajar agama, selain belajar teknologi. Karena dia [dan juga teman2nya] adalah newbie dalam bidang agama [dengan pemahaman yang sahih], maka tentu saja ilmu mereka masih sedikit dan belum terlihat.

Berbulan-bulan Karso dan teman-teman belajar agama di pengajian dan Internet. Sebagai calon pakar teknologi, mereka pun merasa harus bisa menggabungkan antara teknologi dan agama. Kemudian, ada takdir di lembaran hayat tertulis: 'Hadirilah! Kajian Ilmiah di Masjid X!

Materi: Menggabungkan Teknologi dan Dakwah
Pemateri: Ust. Abu Komen Al-Statusy, Lc, M.Ag, P.dF

Untuk bro Yosia, jangan kege'eran,