Showing posts with label Salafy. Show all posts
Showing posts with label Salafy. Show all posts

Tuesday, April 16, 2013

TERIMA KASIH, ASWAJA!

oleh Hasan Al-Jaizy


Dahulu, Al-Arify pernah berkata di depan umat manusia, "Terima kasih, Bush!" Kau akan bertanya-tanya, "Aduhai...gerangan mengapakah kau berterima kasih pada penjahat semacamnya? Sudah habiskah insan berbudi di bumi hingga kau berterima kasih pada penjahat ini?"

Tahulah kemudian alasannya, bahwa Bush telah berandil tinggi akan tersohornya Islam di hati-hati hari-hari kemudian. Bush betapa inginnya Islam terjatuh, selagi meredup cahaya dipunya. Namun, rupanya Islam membangkit dan semakin bersinar cahayanya.

Saturday, February 2, 2013

Mari Bersama MENGGALI KUBURAN KERAMAT!

oleh Hasan Al-Jaizy



Saya sangat cemburu, ketika mendengar khutabaa' di masjid-masjid, atau di majelis-majelis, menyampaikan kalimat-kalimat ajaib yang menggugah dan terkesan berlebih, sehingga memacu manusia atau pendengar untuk takjub. Saya cemburu karena rupanya kalimat itu dinisbatkan kepada Al-Mustafha, Muhammad -shallallahu alaihi wa sallam-. Saya cemburu karena dengan keajaiban kalimat itu, tak sedikitpun keterangan sahih atau dhaifnya atau maudhu'nya. Tak sedikitpun penyebutan siapa perawinya. Apa mungkin disebabkan kitab-kitab kuning yang mereka pelajari dan dalami memang tak mencantumkan sedikitpun akan itu? Atau mungkin mereka terlalu longgar, super permisif dan tak peduli sama sekali akan keabsahan dan kepalsuan penisbatan kalam pada Nabi.

Bukan karena benci terhadap para khuthabaa'; melainkan ini kecemburuan yang juga diliputi rasa takut. Lancang mengklaim sesuatu tersambung pada Nabi, sementara tak terbukti dan tercurigai tidak tersambung. Lancang mengklaim bersanad dan berketurunan dari keluarga Nabi, sementara tak menjulurkan bukti bahkan terkesan suspicious bahwa itu hanya sebuah pencitraan semata.

Dan apa hasil dan natijah dari longgarnya manusia pada hal seperti ini? Bid'ah ( baik itu disebut hasanah atau dhalalah), takhayyul, khurafat dan ketidakpedulian akan sunnah.

Tuesday, January 22, 2013

Mengejar Wahabi + Mengeramatkan Kuburan Keramat!


oleh Hasan Al-Jaizy

Ternyata kita ini hebat dan keramat! Lebih keramat dari para wali Allah, yaitu para sahabat, tabi'in dan seterusnya.

Lho, kok bisa? Begini ceritanya:

Seorang salafi mengatakan kepada seorang Sufi:

Salafi: "Saudaraku, usahlah kau dan kawanmu merayakan Prophet's Birthday atau Hari Ultah Nabi 1434. Itu tidak ada syariatnya sama sekali."

Sufi: "Ah, kau ini. Usahlah larang-larang aku dan kawanku. Niatku baik, kau tahu?"

Salafi: "Iya, tapi hal semacam itu baiknya kita tinggalkan, kawan."

Sufi: "Memangnya ada pelarangan Maulid di Al-Qur'an dan Hadits yang berbilang begini: 'Wahai kaum muslimin, janganlah kalian bermaulid!" Ada tak?"

Tuesday, December 25, 2012

CAT : [64] "Ctrl C - Ctrl V VERSUS Rewrite"


oleh Hasan Al-Jaizy


Keduanya sama-sama COPAS, jika copas dimaknai 'nukil'. Dan nukil berasal dari bahasa Arab, yang bermakna 'dipindahkan'. Menukil, dalam bahasa Indonesia, bermakna 'memindahkan'.

Tulisan ini, selain penulisnya ingin menjabarkan pandangannya tentang copas vs rewrite/retype, ditujukan pula sebagai tanggapan atas sebuah foto atau status-status yang mengatakan:

"Para ulama, juga COPY-PASTE ilmu ayat, hadits, faedah melalui para sahabat dll"

-------------------------------------------------------------

Ctrl C dan V adalah cara termudah. Kita tidak layak sebenarnya menuding orang 'bermudah-mudah' karena ia hanya mengandalkan Ctrl C dan V. Seseorang dibebani berdasarkan

Wednesday, December 12, 2012

CAT : [25] "DIMENSI [ANAK PENGAJIAN] SALAFY atau DIMENSI [ANAK KAMPUS] GADO-GADO?"


oleh Hasan Al-Jaizy


Yang ribut soal manhaj itu ya kita, para muqalliduun, para murid yang di luar pengajian berisik soal perpecahan.

Dikira kita, kita bisa men-solving problematika jarh-tajrih, hadzhr-tahdzir dan seterusnya. 

Saya pribadi -segala puji bagi Allah- ya hidup di komunitas pelajar ilmu syar'i. 2 dimensi yang saya lihat bedanya.

1. Dimensi Salafy [komunitas teman2 Salafy -anakpengajian-; terutama di FB]
2. Dimensi Thullab Al-Ilm [komunitas teman2 kampus LIPIA; campuran, gado-gado; tapi mereka memiliki derajat ilmu yang bagus]

Beberapa perbedaan dari pengamatan saya pribadi:

Friday, November 30, 2012

Merebut Lahan Kuburan Keramat


oleh Hasan Al-Jaizy

Ini adalah sebuah risalah dari si miskin untuk siapapun yang juga miskin.

Dulu, dakwah ini tidak terlihat gemilang cahayanya nan megah seperti sekarang. Era 90-an, ketika itu ustadz-ustadz yang kau panuti sekarang, adalah dai-dai 'lugu' dan sederhana. Ikhlasnya mereka berjuang demi ilmu dan amal begitu tebal. Era 90, ketika belum banyak yang membuka mata mengenai Sepilis. Era 90, ketika mungkin Anda [seperti saya] masih ingusan, atau Anda belum kenal apa-apa tentang Muhammad bin Abdul Wahhab.

Gloria millenium. Tahun 2000 datang. Gerakan Sepilis semakin menjadi-jadi. Dan setelah tahun itulah puncak-puncak serangat mereka terhadap syariah. Adapun kaum hijau, tak bersatu lagi semenjak partai di Indonesia tidak 3 lagi. Akhirnya bermunculan lah sempalan-sempalan Islami di negeri ini. Namun, dakwah yang kini disebut 'nyawah' perlahan demi perlahan makin exist. Ustadz-ustadz yang kau kagumi sekarang, baik itu kini menjadi bintang idola podium atau penyenang hatimu melalui siaran radio, ketika itu sebagian mereka masih dalam tahap belajar. Jikalau ada dari mereka yang sudah memiliki majelis, itu hanya beberapa.

Dan dimulai sekira 2005, dunia Internet melesat. Semakin kemari, semakin

Monday, November 12, 2012

Mengejar Wahabi

oleh Hasan Al-Jaizy

Di beberapa daerah, Wahabi dikejar-kejar. Ada juga di suatu daerah, Wahabi diusir. Tapi, mau sampai kapan pun, Wahabi malah tambah nyebar.

Dongkolnya Pak De Su'aid sudah memuncak ketika dia melihat Suyuthi pulang dari ziaroh ke pondok Wahabi yang selama ini ia musuhi. Bahkan koran Terjajah sudah meliput dan menerbitkan hasil wawacandanya terkait pondok itu. 

Suatu hari, Pak De Su'aid berniat berbincang 4 mata dengan beberapa orang kepercayaannya secara terpisah waktu. Dia ingin mendapat masukan bagaimana caranya mengenyahkan Suyuthi tanpa dimarahi Haji Asnawi. Dan juga bagaimana memfitnah pondok sawah itu.

Orang pertama yang ditemui adalah dia yang disebut Syaikh Than, seorang kadzuub [pendusta kelas bawal merah]. Syaikh Than memiliki reputasi buruk sehingga pernah mendapat ban dan blokir dari beberapa admin forum-forum. Ia juga punya link menuju orang-orang Syi'ah, satanis kuburan. Percakapan mereka pun diadakan di bawah rimbunan pohon bambu. Tepat di purnama ke 2 pada bulan ke tujuh.

Pak Su'aid: "Bagaimana ini, gus Than!? Saya sudah tidak punya alih sabar ingin menendang anak itu. Apa hendaknya petuahmu agar aku melakukan sesuatu?"

Syaikh Than: "Tenang saja, Ki Sanak. Jangan gegabah dan terlalu kentara. Pasukan Mataram yang kita tahu, mereka ingin tegakkan NKRI terang-terangan. Mereka terlalu mencolok di mata rakyat. Sementara mereka sendiri tidak punya prinsip yang teguh selain kalimat, 'NKRI harga mati!'. Meskipun kita termasuk dari mereka, tetapi kita pergunakan cara lain!"

Pak Su'aid: "Rupanya aku sedang mendengar sebuah permulaan dari nasihat bijak dari engkau. Gerangan apa yang hendak kau sarankan untuk hamba?"

Syaikh Than: "Kau tahu aku memiliki kemampuan menyihir manusia dengan penaku dan kedustaanku?"

Pak Su'aid: "Maksudmu, tongkat sihirmu semacam pulpen or something?"

Syaikh Than: "Gila lu, Ndro. Tentu saja tidak. Kan sudah saya beri Combantrin. Haduh....fikirkan baik-baik, Ki Sanak. Aku bisa membuat 3 trilogi kitab yang semuanya telah tertata di fikiranku."

Pak Su'aid: "Saya berfikir ide mu pasti HEBAT!"

Syaikh Thann: "Ya iyalah! Masa Ya IAIN. Itu mah kampus anak saya!"

Friday, November 2, 2012

Tidak Bisa Ngarab?

oleh Hasan Al-Jaizy

Anda tidak bisa berbahasa Arab?
Anda tidak bisa membaca kitab?

Jangan bermuram durja ketika mengaca diri dan melihat bahwasanya, 'wah, gue ga bisa berbahasa Arab, lho.' Ketahuilah, bahwa mempelajari dan menguasai Bahasa Arab itu tidak wajib. Tidak wajib. Tidak wajib kecuali:

--> sebagian dzikir dalam shalat dan mana Surat Al-Fatihah. Juga sebagai bonus tambahan ayat-ayat lain.
--> bagi yang BERKONSENTRASI di ilmu syariah.

Jangan minder ketika di pengajian, ternyata teman-teman bisa memahami bahasa Arab. Karena mungkin mereka diberi rizki lebih, yaitu pendidikan di pondok dulu, atau pendidikan kampusnya, atau mengenal bahasa Arab lebih dahulu. Tapi minderlah ketika punya teman dekat, kenal bahasa Arab bareng, satu pengajian, dan bedanya:

Wednesday, September 26, 2012

Jangan Ngamuk Dulu!

oleh Hasan Al-Jaizy

Sebenarnya JANGAN NGAMUK dulu jika ada yang mempertanyakan pada Anda:

--> Ketika kasus penggerebekan Abu Fahd, kok pada semangat sekali membela, hingga ada grup 1.000.000 membela-bela?
--> Ketika kasus penghinaan Rasulullah, mungkin lagi kelelahan membela saudara kita, sehingga tidak sempat membentuk grup 1.000.000 membela Rasulullah [!?]
--> Ketika kasus 'salah-pasang' foto Ust. Muhammad Arifin Badri [yang sedianya adalah jebolan pondok ane juga], kok pada semangat membela? Walau sudah ada konfirmasi permohonan maaf dan klarifikasi online, kok masih mau 'menekan'? Syukur-syukru tidak membuat grup 1.000.000 lagi.

Jangan ngamuk dulu...jangan marah dulu...karena justru ngamuk dan marahnya itu => dipertanyakan

Atau, mungkin karena Rasulullah sudah ma'shum dan tentu saja penghinaan terhadapnya takkan berdampak buruk padanya. Sesuai dengan fatwa Syaikh Shalih Al-Fauzan yang disebar-sebar. Itulah usaha 'maksimal' [selain doa, mungkin] untuk melawan atau me-respond penghinaan terhadap Rasulullah.

Dan tentu saja, kalau ustadz 'gue' atau temen 'gue' yang dihina, karena kita ce-es-an, ya kita bela dan siap kerahkan dana serta pasukan. Kalau perlu, kutukan, hinaan, kata plesetan dan segala keburukan kita lempar untuk 'Justin Habibers' dan 'TV One'.

Gali lubang tutup lubang
Menutup pintu fanatisme di selatan, lalu masuk ke pintu fanatisme di utara...

dan...berdalil...tentu saja

Jangan Ngamuk

Tuesday, September 18, 2012

Setidaknya...Punya Alasan!

oleh Hasan Al-Jaizy

Seseorang berkata: 'Membaca buku banyak-banyak itu ga wajib. Toh tidak sedikit pembaca buku yang candu namun tidak berakhlak mulia dan beragama baik.' Biasanya yang berbicara seperti ini adalah orang yang memang asalnya malas membaca buku. Membaca sedikit langsung down. Dan kalimat di atas sebenarnya adalah 'alesan' buatnya.

Seseorang berkata: 'Ngarabic itu toh gak wajib. Banyak kok orang bisa berbahasa Arab, tapi manhajnya tidak baik. Aqidahnya tidak selamat. Sehari-hari tidak mencerminkan akhlak mulia. Bukannya negara Arab penduduknya memahami bahasa Arab? Tapi, banyak yang manhaj dan aqidahnya tidak lurus, kan?' Nah, kalimat di atas sangat mungkin terucap dari lisan orang yang memang sudah terlanjur tidak mau belajar bahasa Arab [meskipun tiap hari 'berdakwah' dan mengupas masalah bid'ah selali]. Dan juga, sangat mungkin ia berkata sembari berbisik: 'Lihat saja saya, tidak menguasai bahasa Arab tapi manhaj dan aqidah saya insya Allah tidak sebengkok mereka yang menguasai bahasa Arab.'

Kalau memang sisi-sisi eksternal negatif seperti itu dijadikan alasan untuk tidak melakukan sesuatu yang positif, maka semua orang bisa begini:

"Ga mesti muslim itu jadi salafy. Toh yang kita lihat sebagian saudara dari kalangan salafy, meskipun tiap hari baca Al-Qur'an-Hadits, tapi ucapan mereka 'nyelekit' atau 'ngenye'', bikin loro ati. Wes ngono, semuanya disalahi. Juru kunci surgo, po?"

Nah, tentu saja itu bukan alasan yang benar untuk tidak melakukan sesuatu. So, jika memang tidak suka akan sesuatu, maka berikanlah alasan ketidaksukaan dari diri sendiri, jangan berdalil dengan kesalahan orang lain yang berkaitan dengan hal tersebut.

Tapi, setidaknya....punya alasan...mencari sebab serta mencari alasan, supaya tercapai hajatnya.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/441883599186364

Setidaknya...Punya Alasan!

oleh Hasan Al-Jaizy

Seseorang berkata: 'Membaca buku banyak-banyak itu ga wajib. Toh tidak sedikit pembaca buku yang candu namun tidak berakhlak mulia dan beragama baik.' Biasanya yang berbicara seperti ini adalah orang yang memang asalnya malas membaca buku. Membaca sedikit langsung down. Dan kalimat di atas sebenarnya adalah 'alesan' buatnya.

Seseorang berkata: 'Ngarabic itu toh gak wajib. Banyak kok orang bisa berbahasa Arab, tapi manhajnya tidak baik. Aqidahnya tidak selamat. Sehari-hari tidak mencerminkan akhlak mulia. Bukannya negara Arab penduduknya memahami bahasa Arab? Tapi, banyak yang manhaj dan aqidahnya tidak lurus, kan?' Nah, kalimat di atas sangat mungkin terucap dari lisan orang yang memang sudah terlanjur tidak mau belajar bahasa Arab [meskipun tiap hari 'berdakwah' dan mengupas masalah bid'ah selali]. Dan juga, sangat mungkin ia berkata sembari berbisik: 'Lihat saja saya, tidak menguasai bahasa Arab tapi manhaj dan aqidah saya insya Allah tidak sebengkok mereka yang menguasai bahasa Arab.'

Kalau memang sisi-sisi eksternal negatif seperti itu dijadikan alasan untuk tidak melakukan sesuatu yang positif, maka semua orang bisa begini:

"Ga mesti muslim itu jadi salafy. Toh yang kita lihat sebagian saudara dari kalangan salafy, meskipun tiap hari baca Al-Qur'an-Hadits, tapi ucapan mereka 'nyelekit' atau 'ngenye'', bikin loro ati. Wes ngono, semuanya disalahi. Juru kunci surgo, po?"

Nah, tentu saja itu bukan alasan yang benar untuk tidak melakukan sesuatu. So, jika memang tidak suka akan sesuatu, maka berikanlah alasan ketidaksukaan dari diri sendiri, jangan berdalil dengan kesalahan orang lain yang berkaitan dengan hal tersebut.

Tapi, setidaknya....punya alasan...mencari sebab serta mencari alasan, supaya tercapai hajatnya.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/441883599186364

LIPIA = Gado-gado?

oleh Hasan Al-Jaizy

Seseorang berkata: "Saya menolak kuliah di LIPIA, karena seperti kebun binatang. Campur aduk ga jelas; ada JIL, IM, HTI, Salafy dst. Bahkan ada syaikh atau dosennya yang berangkat pakai [celana] jin atau isbal."

Jawaban nyolot:

"Masalah buat loe?"
"Kalo ntu masalah buat loe, trus gue kudu bilang 'wah' gitu?"
"Kalo gue udah bilang 'wah', terus loe bangga gitu ama prinsip dan manhaj loe?"

Jawaban tidak nyolot:

Begitulah orang yang tidak tahu, tidak pernah belajar dan merasakan atmosfir belajar di LIPIA tapi ngoceh bahkan ngejek. Kita perlu memaklumi jika yang bicara adalah anak baru lulus SMA atau pondok kemarin sore, tepatnya pas bedug magrib. Dan mudah-mudahan yang bicara seperti itu bukan anak pengajian yang belum lama kenal Salafiyyah, lalu saking semangatnya menumpas kejahatan, kedunguan dirinya sendiri lupa ditumpas.

"Saya menolak kuliah di LIPIA"

Dan siapa yang

Wednesday, September 12, 2012

Praktek Jarh Tanpa Ta'dil di Kalangan Pelajar

oleh Hasan Al-Jaizy

Ada seorang bapak yang baru mengenal yang namanya 'Islam' karena sebelumnya berkehidupan penuh lalai dan tidak peduli terhadap agama. Lalu ia menemukan di Internet komunitas agamis yang sehari-hari selalu menjadikan wall orang belepotan akan ilmu dan kalimat bermanfaat. Di antara para penebar ilmu, ia cenderung menyukai si X; mungkin karena ada warna beda atau sebab lainnya.

Syukurnya, bapak ini benar-benar mengambil banyak faedah dari X. Dan tak sedikit tanda tanya dalam pikirannya telah dienyahkan oleh si X ini. Nah, suatu ketika si bapak ingin mengetahui banyak tentang X, karena penasaran. Mau bertanya langsung pun rasanya kurang pas. Ia berfikir, 'Lebih baik saya tanya ke orang2 saja.'

Ia pun bertanya pada seseorang ber-ini-sial Y: 'Akh, antum kenal X?'

Tuesday, August 28, 2012

Dan Ehm...

oleh Hasan Al-Jaizy


--> ketika diketahui bahwa kebenaran mutlak itu berada di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah, semuanya mengaku 'peganganku adalah Al-Qur'an dan As-Sunnah'
--> ketika tersiar bahwa kebenaran kandungan keduanya tak bisa diraih dengan benar kecuali dengan pemahaman Salafus Shalih, semuanya mengaku 'aku adalah pengikut Salafus Shalih' atau 'Aku lah seorang Salafy'
--> ketika terlezatkan pandangan bahwa golongan yang benar adalah golongan Ahlus Sunnah wal Jama'ah, semuanya mengklaim 'sesungguhnya kami adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah'

Alhamdulillah jika kebenaran itu terlihat

Ustadz dan Thuwailib

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa point tentang ustadz-ustadz dan thuwailib-thuwailib:

[1] Daripada engkau-engkau berkicau masalah perselisihan pendapat dan pandangan para ustadz mengenai ustadz fulan atau fulan, lebih baik engkau-engkau membicarakan permasalahan-permasalahan ilmiah fiqhiyyah, aqa'idiyyah, hadiitsiyyah atau apapun ilmu yang kau-kau dapat dari pengajian. Sungguh gharib jika 'ngaji' ke pengajian, pulang-pulang hanya bisa membawa gosip.

[2] Daripada engkau-engkau meracau masalah yang sebenarnya memang bukan bidang kau-kau, seperti bagaimana mendownload hukum pengkafiran terhadap fulan dan fulan sehingga kau-kau bisa mengkafirkan sehingga seakan dianggap sah pengkafirannya, atau bagaimana caranya menemukan celah untuk melabeli ustadz fulan sebagai Ahli Al-Bida', lebih baik engkau-engkau membicarakan tentang kitab-kitab yang dikaji oleh para ustadz, atau bagaimana metode ustadz yang kalian sukai dalam menjelaskan, atau tips-tips untuk menjadi 'better' at reading, writing, understanding, bukan malah ingin menjadi 'better' at judging.

[3] Syaikh Abu Malik Abdul Hamiid Al-Juhany pernah berkata:
[ليس كلُّ من قال قولا وافق فيه بعض المبتدعة يكون مبتدعا]
"Tidak semua pengucap suatu ucapan yang selaras dengan [ucapan] sebagian pelaku bid'ah menjadi pelaku bid'ah [atau dianggap Ahlu Al-Bida'"

[4] Thuwailib shughair [pelajar kecil] yang mengkonsentrasikan diri pada pensegelan label bid'ah terhadap siapa-siapa, ditakutkan terjerumus pada bid'ah itu sendiri. Apakah ada di zaman salaf pelajar kecil yang sudah bisa berkonsentrasi pada pelabelan?

[5] Bahkan jikalau kita ingin berfikir lebih-lebih, pelajar yang meniatkan diri sedari mula untuk menjadi pembantah Ahlu Al-Bida' [segala pembahasannya hanya untuk membantah-bantah saja], ia akan memiliki kekurangan dan erosi di bidang lainnya. Pembahasan dan materi bukan hanya sekedar 'bantah-bantahan'. Jika memang punya hujjah, data dan ilmunya, ada bolehnya membantah. Tapi, apakah ada di zaman salaf seorang alim yang cuma bisa membantah, sementara bidang ilmu lain seperti Hadits, Fiqh, Tazkiyyatun Nufuus dan Akhlak di-ignore begitu saja? Jika jawabannya tidak ada, apakah ini bisa dinamakan bid'ah [sesuatu yang baru; tidak ada contohnya di zaman salaf]?

[6] Jangankan menjadi pelajar kelas tinggi dalam membantah, coba deh jawab pertanyaan ini:

"Apa arti Thuwailib dan kata tersebut merupakan bentuk apa namanya dalam bahasa Arab?"

Jika menjawabnya saja butuh berfikir 5 detik, maka dialah si Thuwailib itu.

Tuesday, August 14, 2012

Pelajar Spesialis Ghibah

oleh Hasan Al-Jaizy

MURID: "Ustadz, ana melihat beberapa ikhwah membahas masalah perpecahan, perselisihan dan persenggolan di antara thullab/asaatidzah/masyaayikh yang menisbatkan diri mereka pada manhaj yang haq, terutama di situs laba-laba. Pembahasan mereka sangat informatif; karena mereka tahu banyak hal dan peyimpangan."

USTADZ: "So what...gitu?"

MURID: "Tapi, ana juga melihat beberapa gelintir ikhwah yang sangat minimalis dalam pembahasan itu, atau bahkan tidak pernah sama sekali. Malah mereka ini masih saja ga habis ngaji dan sibuk meneliti hadits-hadits. Kelihatannya kurang punya bahan luas untuk dibahas. Bagusan mana, ya ustadz?"

USTADZ: "Kalau secara keilmiahan, bagusan yang kedua. Kalau secara adab dan akhlak thalib, bagusan yang kedua juga. Bahkan bisa ana bilang: jenis pertama itu tidak ada bagus-bagusnya. Kita seharusnya nyadar bahwa hampir tiap jam serpihan ilmu kita jatuh karena lalai. Dan apakah mereka ini mau nyadar bahwa setiap waktu mereka membicarakan topik-topik tersebut [yang sebenarnya tidak memberi keuntungan ilmu pada mereka] akan membuat mereka lupa akan ilmu!? Mereka pastinya tidak sadar dan kadang diajak sadar tidak mau sadar. Atau pura-pura tidak sadar. Pertanyaan berikut: 'mereka ini sebenarnya siapa, thullab al-ilm atau spesialis urusan seperti itu?' Sementara Syaikh Muqbil saja meminta murid-muridnya untuk tunduk kepala kepada buku dan ilmu dan jangan konsentrasi pada perkara dan sikap ahlul bid'ah dengan kalimat: 'Belajar dulu!', meskipun jika ditanya tentang penyimpangan, beliau akan menjawab."

MURID: "Apakah thullab semacam itu bisa dikatakan 'berilmu'?"

USTADZ: "Berilmu atau tidak, yang namanya thullab al-ilm ya mesti punya ilmu. Masalahnya: ilmunya berkah dan bermanfaat atau tidak? Tidak ada thullab al-ilm di zaman salaf spesialis dalam perkara semacam itu. Itu hanya ada di zaman kita, di saat semua orang, dari alim hingga jahil murakkab-nya, diberi kesempatan bicara, berpendapat dan 'ngoceh'."

Tidak perlu tahu siapa nama murid tersebut dan siapa nama ustadz tersebut. Ditakutkan jika nama mereka diketahui, mereka akan dijadikan bahan obrolan atau bahkan di-ghibahi. Bukankah sekarang jamannya Ghibah Manhajiyyah? Yang diperlukan adalah: 'ask yourself and take a mirror'

...and talk as your size does!


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/430159460358778

Tuesday, July 31, 2012

Sombong Namun Berdalil

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa [minors] ikhwah-akhwat yang menyandarkan dirinya pada 'Salafiyyah' terkesan 'sombong' namun berdalil. Atau berdalil namun sombong!

Juga sifat beberapa: 'tidak menerima kritikan dari orang yang lebih kurang ilmunya'. 
Jika dikritik, akan membalas kritikan atau celaan...dan berdalil!

KATANYA:
--> Katanya harus lemah lembut dalam berdakwah. Tapi ketika ada sindiran sedikit, langsung main hantam, mem-blokir dan enggan melapangkan dada dulu.
--> Katanya bermanhaj yang haq itu bagai menggenggam bara. Artinya: harus sabar. Tapi ketika ada picingan mata sedikit dan kritik sedikit, langsung main hantam.


Apakah benar begini:

"Seorang Salafy, jika ia dikritik karena pribadinya, maka ia menerima, tapi jika ia dikritik karena ke-Salafian-nya, maka ia harus melawan....tanpa ada proses 'ngaca' dulu."

Atau:
"Menjadi seorang Salafy, harus sering2 mengerahkan cermin ke muka orang lain, sementara tak menerima sokongan cermin dari orang lain, karena MERASA sudah cukup dan sudah bisa ngaca sendiri?"

Berdalil...dan sombong. Ada yang mau ngaca?
Ini untuk saya dan Anda...ya Anda...tak pandang apakah Anda bertahta dalam senioritas atau tidak.


Dan tentu saja...

tulisan semacam ini akan membuat seseorang keluar dari anggapan 'Wah, dia Salafy' atau membuat seseorang ditendang dari Grup.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/425540700820654

Monday, July 9, 2012

Pertemuan Jiwa Dengan Salafiyyah

oleh Hasan Al-Jaizy

Beberapa teman kisahkan pertemuan jiwanya dengan Salafiyyah....maka boleh pula kita berbicara serupa.

Sejujurnya, pertama kali saya mengenal Salafiyyah dari pondok pesantren; yang dahulu sebelumnya dipaksa orang tua masuk ke sana. Dan kita -alhamdulillah- mempelajari kitab2 yang dipelajari kaum muslimin di pondok. Namun, meskipun kitab2 ulama Salafy kami pelajari, pondok tak mengajarkan kami untuk melabeli diri kami 'Salafy' di tengah umat begitu saja.

Ketika kami turun dakwah di tengah manusia, kami tidak dibekali nasihat: 'Katakan bahwa kamu adalah Salafy'; tetapi kami dibekali nasihat tak terucap: 'Tunjukkan akhlak muslimmu; terlebih kamu anak pondok!'

Dan setelah lulusnya kami, memang masih tersisa jiwa 'ekstrim' alias agak keras; karena masih begitu belia. Lalu kami belajar dari beberapa kekecewaan masyarakat akan cara dan metode kami. Semua itu adalah pembelajaran menuju kematangan. Lucunya, hingga kini masih saja kami belum matang.


So:

--> Jika memang ingin berdakwah ala manhaj salafy, tawarkan manhaj salafy nya dengan cara 'salafy', bukan dengan mempromosikan label diri bahwa 'mau tau siapa salafy? saya!'

--> Kamu katakan: 'Jangan omong doang, tunjukkan prakteknya'. Yang artinya: Buktikan dulu dengan praktek nyata, bukan sekedar berbicara. Lalu ada problem lagi: 'Kita mempraktekkannya demi diakui bahwa kita adalah seorang xxx?' Nah, serba salah, kan? Maka: do something good with no claiming I'm good is better.

--> Karena being a salafy itu berat; konsekuensi melabeli diri 'salafy' itu tidak semudah tutur lisan.


Kamu tahu ndak?

Ada seekor semut kecil melihat sepotong roti manis. Ia pun berhasrat membawanya dengan mengangkat menuju sarangnya. Tiada ia mengira roti tersebut terlalu berat untuk dirinya. Ia tidak punya akal untuk mengupasnya kecil-kecil satu persatu agar tidak keberatan. Namun karena nafsu dan SEMANGAT, ia langsung mengangkat. Kemudian? Ia pun tertiban dengan bawaan. Artinya: nafsu dan semangat tak diamini kualitas, kelak akan menghancurkan pemiliknya.

Perkataan Syaikhul Islam, atau Syaikh Al-Albany tentu benar: menisbatkan diri pada Salafiyyah itu boleh; karena Salafiyyah itu terpuji dan manis, seperti potongan roti manis bagi semut. Namun ketika si fulan memproklamirkan diri padanya sementara realtas kesehariannya tak tercermin benar, jangan salahkan siapa-siapa jika semut tertiban bawaannya; karena semut tak berfikir sebelumnya.


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/417667111608013

Friday, July 6, 2012

Jangan Belagak

oleh Hasan Al-Jaizy

Seharusnya sebagian dari kita jangan terlalu lantang bersuara begini:

"Begitulah mereka [yang dimaksud: pihak yang dianggap sebagai Ahlul Bida' atau yang menyelisihi], yang tidak pernah mau membuka kitab-kitab ulama; tidak mau mengetahui bagaimana ulama salaf menafsirkan ayat atau memaknai hadits."

Pertanyaan kami untuk siapapun yang berkata seperti ini:

[1] Apakah antum sendiri sebenarnya benar-benar sudah berupaya membuka kitab2 ulama salaf yang sejatinya berbahasa Arab itu?

[2] Apakah antum sendiri sudah mengamati dan membandingkan pendapat2/pemahaman ulama tentang ayat/hadits LANGSUNG dari teks di kitab2 mereka?

Jika tidak atau belum, atau pernah namun hanya sekali, kami mohon jangan terlalu lantang berucap seperti di atas.


Karena:

[1] Mungkin saja mereka [pihak yang menyelisihi atau pihak yang dianggap ahlul bida'] justru juga membuka kitab2 ulama salaf LANGSUNG dan meneliti. Dan lebih tidak asyik lagi, mereka tahu isi kitab2 dan pendalilan, sementara kita tidak...karena kita sekedar menjadi muttabi' atau muqallid.

[2] Mungkin saja mereka salah dalam memahami; namun mereka berusaha meneliti. Ini sudah mendapat satu kebaikan, toh?

[3] Mungkin saja itu adalah perkara khilafiyyah yang mu'tabarah; dan mereka men-tarjih apa yang lebih zahir di mata mereka, tentu dengan dalil. Jikalau mereka salah karena salah memahami, semoga diampuni oleh Allah. Jikalau mereka salah karena 'sengaja' atau sekedar 'pembenaran', sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.

[4] Melihat diri sendiri dulu sebelum mengucapkannya. Sungguh aneh mempertanyakan pihak lain karena tidak membuka literatur klasik namun sendirinya juga belum melakukannya.


Dan merujuk langsung pada kitab2 ulama, lalu mengumpulkan perkataan2 ulama, menimbang satu persatu, mentarjih atau menjama, semua itu BUKAN PERKARA MUDAH.

Terkadang hanya satu permasalahan sepele sekali, seperti permasalahan air 2 kullah saja, untuk melakukan pembahasan ilmiah yang langsung membuka kitab2, mengumpulkan, menimbang, kemudian mentarjih mana yang benar, bisa saja membutuhkan waktu setengah hari penuh.

Itu semua membutuhkan konsentrasi dan penelitian yang mendalam.

Kita semua ingin agar para ustadz dan masyaayikh [terutama Syaikh Al-Albany dengan juhd nya yang sungguh besar] dihargai...

dan seberapa besar apresiasi kita pada upaya, usaha orang yang menyelisihi kita namun ia pun juga menawarkan pembahasan ilmiah?

...terkecuali jika memang ia terkenal akan penyimpangannya dan kesesatannya...


http://www.facebook.com/hasaneljaizy/posts/416645151710209

Wednesday, June 27, 2012

Beberapa Point

Beberapa point yang entah diterima atau tidak:

[1] "Orang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar dengan gangguan mereka lebih baik daripada yang tidak bergaul dengan mereka dan tidak sabar dengan gangguan mereka." [H.R. Ibnu Majah dengan isnad Hasan]

[2] "Banyak dari kalangan Salafi yang cenderung sensitif terhadap perbedaan-perbedaan. Pada sisi tertentu, mereka kurang terlatih untuk bersikap 'tasaamuh' [toleran] dalam perbedaan pendapat. Inginnya bersikap selalu 'tegak lurus'. dengan meniadakan kemungkinan ada 'belokan'." [A.M. Waskito - Bersikap Adil Terhadap Wahabi]

[3] Jika ada sebuah kritikan, tajamnya atau tumpulnya terukur, selama benar dan nyata, maka dahulukan menatap cermin pada wajah sendiri sebelum membalikkan cermin ke wajah orang lain.

[4] "Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya yang mukmin." [H.R. Abu Daud dengan sanad Hasan]

[5] Bukankah mungkin ia tahu apa yang tidak ku tahu tentang aku? Sebagaimana mungkinnya aku tahu apa yang tidak ia tahu tentang dia? Jika diberitahu, maka ketahuilah...karena tidak mau tahu adalah sifat siapapun yang merasa paling benar.